Anda di halaman 1dari 2

REAKTUALISASI PANCASILA Mencermati gegap gempita reformasi sejumlah pandangan bermunculan tentang bagaimana memosisikan pancasila dalam kehidupan

berbangsa dan bernegara saat ini. Mereka yang tidak sabar dan tidak setuju dengan demokrasi sebagai jalan terbaik bagi Indonesia dengan mudah menuduh demokrasi liberal sebagai penyebab keterpurukam Indonesia. Menurut kelompok ini semua masalah kebangsaan yang sedang dihadapi Indonesia bermuara kepada telah ditinggalkannya Pancasila oleh bangsa Indonesia. Solusi bagi persoalan ini adalah kembali kepada Pancasila sebagimana masa Orde Baru atau masa sebelumnya, tanpa memerinci bagaimana seharusnya Pancasila di pandangan dan diperlakukan di era demokrasi saat ini. Sebaiknya, kelompok lain yang meyakini demokrasi sebagai pilihan tepat, realitas yang tengah dihadapi Indonesia merupakan proses wajar bagi negeri yang telah memilih demokrasi sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi kelompok ini kedudukan Pancasila sebagai dasar negara tetaplah penting bagi Indonesia yang plural. Bahkan menurut mereka nilai-nilai Pancasila sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Sebagai landasan etik dan pandangan bersama (common platform), pancasila sebagai substantif tidak bertentangan dengan demokrasi yang menitikberatkan proses bernegara melalui mekanisme dari, oleh , dan untuk rakyat. Bagi kelompok ini, sejarah berdirinya NKRI menempatkan Pancasila tentang penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia. Alih-alih kembali kepada tafsir atas Pancasila ala Orde baru yang manipulatif, melakukan aktualisasi atas Pancasila adalah jauh lebih penting daripada kembali ke masa lalu. Demokrasi sebagai pilihan terbaik bagi Indonesia , tanpa harus dikontraskan dengan Pancasila, yang sebenarnya sangat akomodatif terhadap prinsip-prinsip universal demokrasi. Dalam konteks ini, demokrasi yang dikehendaki Pancasila tidak lain adalah demokrasi yang memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan sebaliknya. Banyak ahli menggulirkan gagasan perlunya menafsir ulang Pancasila sebagai obat penawar bagi beragam persoalan kebangsaan yang dihadapi Indonesia dan di era Reformasi ini. Satu diantaranya apa yang digagas oleh Profesor Azyumardi Azra dengan gagasan revitalisasi Pancasila dengan menghangatkan kembali Pancasila sebagai haluan bersama bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun tidak cukup sampai di sini, komitmen ini harus dilanjutkan dengan tindakan nyata untuk mendekonstruksi Pendidikan Pancasila. Predikat Pancasila sebagai ideologi terbuka seyogianya dibarengi dengan

pengajaran Pendidikan Pancasila melalui model-model pembelajaran dengan pendekatan kritis (critical thingking) bagi pengajar dan peserta didik. Alih-alih menjadikan Pancasila sebagai sesuatu yang sudah jadi (taken for granted), Pancasila harus diposisikan sebagai sesuatu yang terbuka sepanjang masa untuk di tafsirkan dan dimaknai sepanjang situasi yang terus berubah. Sebagai bangsa yang besar, rakyat indonesia seyogianya merasa bangga dan percaya diri untuk menjadikan Pancasila yang lahir dari kawah kebudayaan sebagai paduan dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaannya. Pancasila harus segera dibumikan dari posisinya yang elitis bahkan nyaris dilupakan. Sebelumnya, pada masa awal gerakan reformasi kegelisahan terhadap aktualisasi Pancasila telah diungkapkan oleh cemdekiawan Kuntowijoyo. Seperti diungkapkan yudi Latif dalam karyanya tentang Pancasila, Negara Paripurna, pada 2001 kuntowijoyo memunculkan gagasan tentang radikalisasi Pancasila dalam arti revolusi gagasan untuk mejadikan Pancasila tegar, efektif, dan menjadi petunjuk bagaimana semestinya negara di jalankan dengan benar. Radikalisasi Pancasila ala Kuntowijoyo secara operasional menawarkan lima langkah yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia terhadap Pancasila yaitu : 1. Mengembalikan Pancasila sebagai ideologi negara, 2. Mengembangkan Pancasila sebagai ideologi negara, 3. Mengusahakan pancasila mempunyai konsistensi dalam produk-produk perundangan, kohesi antar sila, dan korespondensi dengan realitas sosial, 4. Pancasila yang semula hanya melayani kepentingan vertikal (negara) menjadi Pancasila yang melayani kepentingan horizontal , 5. Menjadikan Pancasila sebagai kritik kebijakan negara. Senada dengan Azra dan Kuntowijoyo, menurut latif dewasa ini Pancasila masih jauh panggang dari api. Karena sudah mendesak dilakukan rejuvenasi atas Pancasila dengan cara membumikan Pancasila sebagai pantulan cita-cita dan kehendak bersama, mengharuskan pancasila hidup dalam realita, tidak hanya sebatas retorika atau verbalisme di pertas politik.