Anda di halaman 1dari 16

BESARNYA KOROSI PADA PERALATAN

RUMAH TANGGA BERBAHAN ALUMINIUM


(ALUMINIUM DENGAN NOMOR 6061)

O
L
E
H

SLAMET HARI PURWANTO, S.Si


BESARNYA KOROSI PADA PERALATAN RUMAH TANGGA
BERBAHAN ALUMINIUM (ALUMINIUM DENGAN NOMOR
6061)

Slamet Hari Purwanto

Abstrak

Telah dilakukan penelitian tentang korosi logam aluminium paduan (Alloy)


dalam larutan natrium khlorida (NaCl). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
: (1) penipisan aluminium paduan yang terjadi setelah terendam dalam larutan natrium
khlorida, (2) besar perubahan massa logam aluminium paduan setelah perendaman
dalam larutan natrium khlorida.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tahap - tahap
sebagai berikut : (1) pengukuran massa aluminium paduan mula – mula (m o) (2)
perendaman aluminium paduan dalam larutan NaCl dalam waktu tertentu (3) proses
penipisan, pengukuran perubahan massa.
Dari hasil penelitian ini didapatkan penipisan aluminium terjadi dengan
membentuk senyawa Al2O3 . H2O adalah hasil korosi terhidrolisis dalam air,
perubahan massa tercepat terjadi pada konsentrasi 0,4 m dengan R2 sebesar 0,94889 .

Kata kunci : Natrium khlorida, Oksida logam, korosi.

Abstract
Has done research on metal corrosion aluminum composite (Alloy) solution in
natrium chloride (NaCl). Goal of this research is to determine: (1) blend of aluminum
depletion occurred after submerged in natrium chloride solution, (2) changes in mass
of aluminum metal composite after soaking in natrium chloride solution.
This research is research with the experimental phase - phase as follows: (1)
the measurement of mass aluminum composite began - the beginning (mo) (2) soaking
in aluminum composite in NaCl solution at a particular time, (3) the process of
dilution, the measurement of mass changes.
From the results of this research it was found aluminum depletion occurred
with the compound formed Al2O3 . H2O is the result of corrosion terhidrolisis in water,
changes occur in the fastest mass concentration of 0.4 m with a R2 of 0.94889.

Keywords: Natrium chloride, metallic oxide, corrosion.

I. Pendahuluan
Perkembangan dan kemajuan negara dilihat dalam pembangunan industri.
Dewasa ini banyak industri-industri besar menggunakan bahan dasar logam
(aluminium). Produk industri lebih banyak digunakan untuk kebutuhan rumah
tanggga (peralatan dapur) seperti panci, dandang, dan lain-lain.
Peralatan tersebut banyak digunakan oleh ibu rumah tangga sebagai alat
memasak. Tanpa disadari peralatan tersebut mengalami penipisan bahan setelah
digunakan untuk masak, misalnya saat memasak, sayur asem, penggunaan garam
yang berlebihan, itu semua merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya
penipisan alat masak berbahan aluminium. Aluminium yang sering digunakan
dalam kehidupan sehari – hari memiliki komposisi yaitu:
Al : 97,26% ; Mg : 0.12% ; Mn : 0,16% ; Si : 0.08% ; Fe : 0,19% ; Ti : 0.11% ; Cr
: 0,22% ; Zn : 1.72% ; Cu : 0.15%. Komposisi di atas sesuai dengan jenis
aluminium dengan nomor 6061, berdasarkan Standart Nasional Indonesia SNI.
07-0956-1989.
Berdasarkan uraian diatas timbul pertanyaan penelitian yaitu :
Bagaimana proses penipisan alat masak berbahan logam aluminium, besarnya
massa aluminium sisa yang terkorosi akibat penggunaan garam (NaCl) pada saat
memasak merupakan salah satu faktor terjadinya penipisan alat masak.

II. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian


Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian adalah: “ Berapa besarnya korosi pada peralatan rumah tangga
berbahan Aluminium (Aluminium dengan nomor 6061) ?”.
Berdasarkan masalah di atas diindentifikasi beberapa fokus pertanyaan penelitian
meliputi:
1. Bagaimana proses penipisan alat masak berbahan logam aluminium?
2. Berapa besarnya massa aluminium sisa yang terkorosi akibat penggunaan
garam (NaCl) pada saat memasak merupakan salah satu faktor terjadinya
penipisan alat masak ?

III. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian


A. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mempelajari proses penipisan alat masak berbahan logam aluminium
2. Mempelajari besarnya massa aluminium sisa akibat korosi dengan
penggunaan garam (NaCl).
B. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi proses
penipisan alat masak berbahan aluminium dan besarnya massa logam yang
terkorosi akibat penggunaan garam (NaCl).

IV. Kerangka Pemikiran


A. Tinjauan Tentang Aluminium
Aluminium adalah unsur logam yang biasa dijumpai dalam kerak bumi,
terdapat dalam batuan yang bersifat keras, kuat, dan berwarna putih.
Aluminium dibagi menjadi dua sifat yaitu : aluminium murni dan aluminium
paduan.
Aluminium memiliki nomor atom 13 dengan konfigurasi [Ne] 3S2 3P1
termasuk golongan IIIA, memiliki massa atom relatif 26.98, keelektronegatifan
1.5, bilangan oksidasi 3. Titik leleh dan titik didih aluminium masing – masing
O
660oC dan 2450oC, sedang jari – jari ionnya sebesar (+3) 0.50 A (Cotton,
1989).
Salah satu sifat aluminium adalah mudah dibentuk dan ringan, sehingga
logam ini banyak digunakan dalam industri sebagai bahan dasar baik dalam
bentuk murni maupun paduan. Produksi yang biasa dijumpai antara lain
panci, wajan, bahkan bisa digunakan sebagai pengganti logam lain seperti
dalam kabel yang biasanya terbuat dari tembaga.
Bentuk paduan aluminium memiliki ketahanan yang lebih tinggi
dibanding bentuk murni karena dalam keadaan paduan logam lain akan
terkorosi terlebih dahulu, berdasarkan deret elektrokimianya. Paduan
aluminium yang biasanya digunakan sebagai bahan dasar dalam industri ialah
dalam bentuk pelat. Komposisi pelat aluminium diatur dalam Standart
Nasional Indonesia SNI 07-0956-1989. Masing–masing pelat memiliki
komposisi antara lain silikon, besi, tembaga, mangan, magnesium, khromium,
seng, titanium.
Data dari hasil pemeriksaan pendahuluan, diperoleh jenis aluminium
dengan komposisi seperti dalam tabel 1

TABEL 1
Komposisi aluminium paduan yang digunakan dalam penelitian.

Unsur Jumlah (%)


Aluminium 97,26
Silikon 0,08
Besi 0,19
Tembaga 0,15
Mangan 0,16
Magnesium 0,12
Chromium 0,22
Seng 1,72
Titanium 0,11
Pemeriksaanpendahuluan di Balai Penelitian dan
konsultasi (BPKI), 2006
Salah satu alasan bahwa aluminium ini dipakai dalam berbagai industri
karena sifatnya yang tidak mudah terkorosi. Unsur paduan utama yang
digunakan sebagai campuran dalam aluminium adalah tembaga dan
magnesium, karena selain sebagai paduan Cu dan Mg dapat meningkatkan
ketahanan logam, serta menghambat laju korosi logam utama. Berdasarkan
pemeriksaan aluminium yang digunakan dalam penelitian, logam tersebut
memiliki kemiripan kadar komposisi dengan jenis aluminium bernomor 6061.
Kemiripan komposisi dilihat dari kadar Cu dan Mg berdasarkan standart
nasional.

B. Tinjauan Tentang Natrium Khlorida (NaCl)


Natrium khlorida merupakan campuran kimiawi, secara alami bisa
didapatkan melalui proses penguapan air laut. Penggunaan natrium khlorida
sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari terutama pada setiap
masakan. Produksi natrium khlorida meningkat tiap abad, hampir 100 negara
memiliki fasilitas memproduksi secara penguapan matahari primitif maupun
dengan multi-stage penguapan di dalam instalasi penyulingan garam.
Berat molekul natrium khlorida sebesar 58,448. Keadaan murni natrium
khlorida merupakan padatan kristal. Kristal natrium khlorida di bangun dari
ion Na+ dan Cl-, yang tersusun dalam kisi berbentuk kubus, 1 atom natrium
dikelilingi oleh 6 atom khlorida dan ikatan antar atom yang terjadi berupa
ikatan ionik. Padatan natrium khlorida di dalam air akan mengalami disosiasi
sempurna. Larutan natrium khlorida merupakan larutan elektrolit yang kuat,
dan bersifat korosif (Svehla, 1990).
Sifat korosif natrium khlorida karena terhidrolisis menjadi ion Na+ dan ion Cl-
NaCl (S)  Na+ + Cl-
Ion khlorida pada temperatur 85 ºC dapat menaikkkan tingkat keasaman
larutan karena natrium khlorida akan terhidrolisa dengan membebaskan asam
klorida, berdasarkan reaksi berikut :
NaCl + H2O  NaOH + HCl
(Syuhada, 1996).
Larutan asam klorida yang terbentuk merupakan larutan yang agresif
karena dapat menurunkan pH pada larutan natrium khlorida. Asam klorida
terhidrolisis menjadi ion hidrogen dan ion khlorida.
HCl  H+ + Cl -
Jika ion Cl- berkontak pada logam aluminium dapat menyebabkan korosi
yang berupa aluminium oksida Al2O3.
2 Al2O3 ( s )+ 4 Cl- 2 AlCl2 ( l ) + 3O2 + 12 e-
Larutan netral dalam logam akan mengalami proses oksidasi oksigen.
2 OH-  H2O + O2 + 2 e-
Reaksi ini berfungsi membebaskan oksigen dalam hidroksida dari
lingkungan alumunium. Ion khlorida jika kontak dengan logam dapat
memberikan jalan bagi oksigen untuk berikatan dengan logam.
2 AlCl2 + 2 O2 + H2O  Al2O3 + 2 OH- + 4 Cl-
(Chamberlain, 1991).

1. Penelitian yang Relevan


Penelitian korosi alumunium murni dan alumunium paduan dalam
larutan garam jenuh oleh Syuhada menjelaskan tentang tiga jenis
aluminium Al99.5, AlMg1, AlMg2, yang direndam dalam larutan medium
yang terdiri dari NaCl, KCl, MgCl2, CaCl2 CaSO4. Selama perendaman
terjadi pengurangan berat pada ketiga jenis aluminium. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa aluminium paduan AlMg1, AlMg2 memiliki
ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan aluminium murni tipe Al99,5..
Ketahanan ini ditunjukkan dengan terjadinya menurunan berat pada Al99,5
sebesar 4,75 %, sedangkan AlMg1, AlMg2 hanya berkurang sebanyak 1,5 –
2,5 %. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya korosi yaitu :
 Pengaruh komposisi paduan metal magnesium bahwa aluminium yang
dilapisi magnesium memiliki ketahanan tinggi terhadap korosi
dibandingkan aluminium murni tipe Al99,5.
 Pengaruh larutan medium dapat menaikkan tingkat keasaman pada
temperatur 85 ºC, tingkat keasaman dilihat dari nilai pH. Besarnya pH
dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2
Pengaruh temperatur terhadap nilai pH larutan medium

Larutan pH
medium
T=25º C T=40º C T=55º C T=70º C T=85º C
Larutan – 1 4,52 4,25 4,29 4,05 4,07

Larutan – 2 4,52 4,17 4,14 3,97 3,61

Larutan – 3 6,87 6,92 7,15 7,13 7,07


Sumber : Syuhada (1996).
Pada larutan 2 ditunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur maka
semakin rendah pH yang dihasilkan, jika pH rendah akan menaikkan
tingkat keasaman, sehingga korosi semakin cepat terjadi. Persamaan reaksi
yang terjadi karena kenaikan tingkat keasaman sebagai berikut :
MgCl2 + 2 H2O  Mg(OH)2 + 2 HCl
(Syuhada, 1996).

2. Tinjauan Tentang Termodinamika Korosi


Menurut National Association of Corrosion Engineer (NACE) korosi
didefinisikan sebagai proses perubahan logam menjadi oksida logam
akibat pengaruh lingkungannya.. Karat merupakan hasil dari korosi logam.
Beberapa jenis korosi yang dikelompokkan oleh Asosiasi Korosi Indonesia
antara lain :
a) Jenis korosi terjadi melalui proses elektrokimia : karat atmosfer ,
galvanis, arus liar, air laut, tanah.
b) Jenis karat melalui proses kimia antara lain : karat celah, pelarut
selektif, merkuri, asam, titik embun.
c) Jenis karat melalui proses kombinasi elektrokimia, kimia dan fisik
antara lain karat tegangan, korosi erosi
Faktor terjadinya korosi antara lain adalah temperatur, konsentrasi,
dan waktu. Proses korosi dapat dijelaskan secara termodinamika dan
elektrokimia. Secara termodinamika logam memiliki energi bebas Gº yang
lebih tinggi daripada bahan alam atau bahan dasarnya. Perbedaan energi
bebas ∆ Gº mengakibatkan logam cenderung menjadi bentuk oksida.
Untuk melihat beberapa nilai energi bebas logam yang mengalami korosi
secara oksidasi dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3.
Energi bebas beberapa oksida logam.
Oksida ∆G0 ( kcal/mol )
CuO -31,0
NiO -50,6
ZnO -76,1
SnO2 -124,2
MgO -136,1
Fe2O3 -177,4
Al2O3 -378,2
Sumber : Tjandrawati (1999) .
Secara elektrokimia bahwa semua logam akan mengalami reaksi
oksidasi dengan oksigen di dalam keadaan normal. Reaksi korosi logam L
dengan oksigen dapat ditunjukkan dengan reaksi yang spontan seperti
berikut:
y
xL + O2  Lx Oy
2
misalnya logam yang digunakan adalah logam aluminium maka
mekanisme yang terjadi sebagai berikut :
• Aluminium diperoleh dari bentuk oksidanya Al2 O3
• Natrium khlorida dalam larutannya terhidrolisis menjadi ion Na+ dan
ion Cl-, yang bersifat korosif.
NaCl  Na+ + Cl-
Ion khlorida merupakan ion agresif dan korosif dalam penyerangan
oksida logam (Chamberlain, 1991). Penyerangan ion khlorida terhadap
aluminium oksida mengalami reaksi substitusi sehingga menghasilkan
aluminium dikhlorida.
2 Al2O3 + 4 Cl- 2 AlCl2 + 3O2 + 12 e-
(Chamberlain, 1991).
Senyawa aluminium dikhlorida adalah senyawa yang dapat memberikan
jalan bagi oksigen untuk berikatan dengan aluminium sehingga ion
khlorida terlepas dari permukaan aluminium. Lepasnya ion khlorida dari
aluminium menyebabkan celah pada permukaan. Korosi celah yang
dihasilkan adalah karat.
2 AlCl2 + 2 H2O + 2 O2  Al2O3 . H2O + 2H+ + 4Cl- + 2O2
Al2O3 . H2O adalah hasil korosi terhidrolisis dalam air, sehingga
mengalami kekeroposan (Chamberlain, 1991).
Karat yang dihasilkan dari proses korosi mengakibatkan hilangnya
beberapa massa pada permukaan aluminium. Semakin besar berat yang
hilang menunjukkan semakin besar laju korosi yang terjadi.

V. Metode
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental.

B. Populasi dan sampel


1. Populasi
Populasi penelitian ini ialah logam Alumunium yang beredar di
masyarakat. Sesuai dengan pemeriksaan pendahuluan alumunium ini memiliki
kompoisi antara lain: Mg, Mn, Si, Fe, Ti, Cr, Zn, Cn. Besar komposisi Al :
97,26% ; Mg : 0.12% ; Mn : 0,16% ; Si : 0.08% ; Fe : 0,19% ; Ti : 0.11% ; Cr :
0,22% ; Zn : 1.72% ; Cu : 0.15%.
2. Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ialah alumunium pelat
dengan ukuran 7 cm x 7 cm x 0,8 mm .

C. Tahapan Penelitian
1) Penelitian Pendahuluan
Tahap awal penelitian yaitu pembersihan aluminium dari debu, kotoran,
serta pengukuran massa awal (m0).
2) Penelitian utama
Tahap perendaman aluminium pada medium dengan variasi waktu
perendaman dan konsentrasi larutan natrium khlorida, dihasilkan
perubahan massa (∆m) yaitu selisih antara massa awal (m0) dengan massa
setelah perendaman (m1).
D. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ditunjukkan dalam bentuk matrik
Waktu (jam)
t1 t2 t3 t4 t5
Konsentrasi
(M)
K1 ∆ mt1,1 ∆ mt2,1 ∆ mt3,1 ∆ mt4,1 ∆ mt5,1
K2 ∆ mt1,2 ∆ mt2,2 ∆ mt3,2 ∆ mt4,2 ∆ mt5,2
K3 ∆ mt1,3 ∆ mt2,3 ∆ mt3,3 ∆ mt4,3 ∆ mt5,3
Keterangan :
a. K1-3 : konsentrasi larutan NaCl 0,4 M ; 0,6 M ; 0,8 M
b. t1-5 : lama perendaman 12 ; 24 ; 36 ; 48 ; 60 jam
c. ∆ mt1-5,1 : selisih massa logam setelah perendaman 12 - 60 jam pada
konsentrasi 0,4 M
d. ∆ mt1-5, 2 : selisih massa logam setelah perendaman 12 - 60 jam pada
konsentrasi 0,6 M
e. ∆ mt1-5, 3 : selisih massa logam setelah perendaman 12 - 60 jam pada
konsentrasi 0,8 M

E. Variabel Penelitian
Variabel kontrol: temperatur larutan mendidih (T = 900 C), larutan NaCl pro
analis, luas penampang aluminium paduan dengan ukuran
49 cm2.
Variabel bebas :waktu perendaman 12 ; 24 ; 36 ; 48 ; 60 jam dan konsentrasi
larutan natrium khlorida 0,4 ; 0,6 ; 0,8 M.
Variabel terikat :massa logam yang terkorosi (gram).

F. Instrumen dan Prosedur Penelitian


1. Instrumen Penelitian
a. Alat
Neraca analitik, gelas kimia 1000 ml, pipet tetes, pipet gondok 25 ml,
labu ukur 1000 ml, corong, kaca arloji, pembakar spiritus, labu ukur
500 ml, pengaduk, kaki tiga, kasa, termometer, pinset.
b. Bahan
Plat alumunium ukuran 7 x 7 x 0.8, nitrit 60%, aseton 98%, aquades,
aquademin, natrium khlorida p.a E.Merck, spiritus.
2. Prosedur penelitian.
a. Pembuatan larutan aseton 5 % v/v
Memipet aseton 98% sebanyak 12,75 ml kemudian diencerkan dengan
aquademin dalam labu ukur 250 ml ssampai tanda batas.
b. Persiapan sampel
Aluminium plat berupa lempengan dipotong dengan ukuran 7 cm x 7
cm x 0,8 mm dibersihkan menggunakan aseton, dikering. Setelah
kering ditimbang beberapa kali sampai massa aluminium konstan,
massa aluminium sebagai massa awal m0.
c. Pembuatan larutan asam nitrat (HNO3) 5 % v/v
Memipet HNO3 65% sebanyak 75ml kemudian diencerkan dengan
aqudemin dalam labu ukur 1000ml sampai tanda batas.
d. Pembuatan larutan standart natrium khlorida (NaCl)
1). Pembuatan larutan natrium khlorida standart 0,4 M
Menimbang dengan teliti 23,36 g NaCl dimasukkan dalam labu
ukur 1000 ml dilarutkan pada aquademin 1% v/v sampai tanda
batas (AOAC, 2000).
2). Pembuatan larutan natrium khlorida standart 0,6 M
Menimbang dengan teliti 35,04 g NaCl dimasukkan dalam labu
ukur 1000 ml dilarutkan pada aquademin 1% v/v sampai tanda
batas.
3). Pembuatan larutan natrium khlorida kerja 0,8 M
Menimbang dengan teliti 46,72 g NaCl dimasukkan dalam labu
ukur 1000 ml dilarutkan pada aquademin 1% v/v sampai tanda
batas.
e. Penentuan massa logam yang hilang setelah perendaman
Penentuan massa logam yang hilang dihitung setelah aluminium di
ambil dari larutan natrium khlorida, dibersihkan dengan larutan asam
nitrat 5 %, kemudian dengan air destilasi dan terakhir dibersihkan
dengan aseton. Setelah kering, ditimbang dengan teliti. Proses tersebut
diulang beberapa kali untuk jangka waktu tertentu sampai konstan.
Massa logam sisa setelah perendaman dinotasikan dengan (a-x).
Dalam mempelajari perubahan massa aluminium sisa dilakukan secara
deskriptif dengan membandingkan pencaran massa sisa tiap
konsentrasi.

VI. Analisis Data, Temuan, dan Pembahasan


A. Analisis Data
1. Penyiapan Aluminium paduan sebagai contoh logam yang digunakan
dalam rumah tangga.
Aluminium paduan pada penelitian ini ialah logam yang biasa
digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan alat-alat rumah tangga
khususnya peralatan masak. Logam mula – mula dipotong 10 x 10
sentimeter untuk di teliti paduan yang ada di aluminium. Pengujian
dilakukan dilaboratorium Badan Pengembangan dan Penelitian Industri,
sehingga didapatkan paduan :

Unsur Jumlah (%)

Aluminium 97,26
Silikon 0,08
Besi 0,19
Tembaga 0,15
Mangan 0,16
Magnesium 0,12
Chromium 0,22
Seng 1,72
Titanium 0,11
Berdasarkan data di atas maka aluminium paduan ini tergolong
nomer 6061 dibanding dengan standart nasional indonesia SNI 07-0956-
1989.
2. Proses penipisan alat masak berbahan logam aluminium
Proses penipisan terjadi melalui proses pengkorosian aluminium
paduan yang merupakan bahan dasar alat memasak seperti panci. Sampel
yang digunakan adalah aluminium paduan dengan nomer 6061 didalam
larutan natrium khlorida sebagai medium.
Larutan asam klorida yang terbentuk merupakan larutan yang agresif
karena dapat menurunkan pH pada larutan natrium khlorida. Asam klorida
terhidrolisis menjadi ion hidrogen dan ion khlorida.
HCl  H+ + Cl -
Jika ion Cl- berkontak pada logam aluminium dapat menyebabkan
korosi yang berupa aluminium oksida Al2O3.
2 Al2O3 ( s )+ 4 Cl- 2 AlCl2 ( l ) + 3O2 + 12 e-
Larutan netral dalam logam akan mengalami proses oksidasi oksigen.
2 OH-  H2O + ½ O2 + 2 e-

Air

Al2O3. . x H2O
Al +2 dan Al
+3

Katode :
O2 + 2 H2O + 4e-  4 OH-
e:
Al  Al +2 + 2e-
Al+ 2  Al+3 + e -

Reaksi ini berfungsi membebaskan oksigen dalam hidroksida dari


lingkungan alumunium. Ion khlorida jika kontak dengan logam dapat
memberikan jalan bagi oksigen untuk berikatan dengan logam.
2 AlCl2 + 2 O2 + H2O  Al2O3 + 2 OH- + 4 Cl-
Hasil yang terbentuk adalah Al2O3 (aluminium oksida) merupakan
hasil pengkaratan dari aluminium paduan menyebabkan penipisan
permukaan aluminium.

3. Perhitungan massa yang hilang setelah dilakukan perendaman dalam


larutan natrium khlorida.
Penentuan massa logam yang hilang dihitung setelah aluminium di
ambil dari larutan natrium khlorida, dibersihkan dengan larutan asam nitrat
5 %, dengan tujuan untuk membersihkan logam dari larutan natrium
khlorida. Kemudian air destilasi dan terakhir dibersihkan dengan aseton.
Setelah kering, ditimbang dengan teliti. Proses tersebut diulang beberapa
kali untuk jangka waktu tertentu sampai massa konstan. (Syuhada, 1996).
Massa aluminium yang hilang dalam satuan gram, ditentukan dari
massa sebelum (m0) dikurangi massa setelah perendaman (m1)
∆m = m0 – m1
Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4
Tabel 4
Massa aluminium yang hilang (gram)

Waktu
(jam) 12 24 36 48 60

Kon
sentrasi Rata- Rata- Rata- Rata- Rata-
awal awal awal awal awal
(molar) rata rata rata rata rata

0.0051 0.0046 0.0048 0.0030 0.0020


0,4 0.0023 0.0040 0.0033 0.0044 0.0044 0.0048 0.0058 0.0050 0.0080 0.0071
0.0045 0.0054 0.0051 0.0063 0.0112

0.0027 0.0067 0.1110 0.0957 00691


0,6 0.0005 0.0043 0.2718 0.0944 0.1254 0.1182 0.0293 0.2510 1.3172 0.4660
0.0097 0.0047 0.1182 0.6280 0.0118

0.0034 0.1580 0.1264 0.3540 0.0033


0,8 0.2649 0.1180 0.0580 0.1324 0.1531 0.2520 0.3570 0.2730 0.9528 0.4781
0.0857 0.1811 0.4765 0.1080 0.4569

Dari tabel diatas didapatkan massa rata – rata aluminium yang hilang,
dengan rumusan :
m= ∑ i
m
n
Berdasarkan tabel 4 untuk konsentrasi dan massa rata-rata logam yang
hilang dengan waktu yang sama dapat dikemukakan bahwa semakin tinggi
konsentrasi menyebabkan semakin besarnya massa aluminium yang hilang dalam
larutan natrium khlorida. Dilihat waktu perendaman dan massa yang hilang
dengan konsentrasi sama, semakin besar waktu perendaman menyebabkan
semakin besar massa rata – rata aluminium yang hilang. Sehingga massa
aluminium sisa dari masing – masing dapat diketahui dalam tabel 5.
TABEL 5
Massa sisa aluminium (gram)
Konsentrasi 0,4 Molar
Waktu a x a-x r %terurai log a-x
12 9.6850 0.0040 9.6810 0.0009 0.0413 0.98592
24 9.6751 0.0044 9.6707 0.0006 0.0455 0.98546
36 9.6683 0.0048 9.6635 0.0004 0.0496 0.98513
48 9.6639 0.0050 9.6589 0.0003 0.0517 0.98493
60 9.6629 0.0071 9.6558 0.0735 0.98479
Konsentrasi 0,6 Molar
Waktu a x a-x r % terurai log a-x
12 9.5956 0.0043 9.5913 0.0008 0.0448 0.9819
24 9.6765 0.0944 9.5821 0.0003 0.9756 0.9815
36 9.6963 0.1182 9.5781 0.0001 1.2190 0.9813
48 9.8277 0.2510 9.5767 0.0000 2.5540 0.9812
60 10.0424 0.4660 9.5763 4.6407 0.9812
Konsentrasi 0,8 Molar
Waktu a x a-x r % terurai log a-x
12 9.6938 0.1180 9.5758 0.0011 1.2173 0.9812
24 9.6950 0.1324 9.5626 0.0004 1.3653 0.9806
36 9.8092 0.2520 9.5572 0.0002 2.5690 0.9803
48 9.8278 0.2730 9.5548 0.0001 2.7778 0.9802
60 10.0317 0.4781 9.5536 4.7659 0.9802

Keterangan
 a = Massa awal aluminium rata –rata ( mo dalam gram )
 x = Massa hilang aluminium rata – rata (m1 – m0 dalam gram )
 a – x = Massa sisa aluminium (m1 dalam gram )
a−x
 % terurai = X 100 %
a
misal pada konsentrasi 0,4 M dengan waktu perendaman 12 jam
9.6810
maka % terurai = X 100 % = 0.0413 %
9.685
 log massa sisa = log (a-x)
misal log 9.6810 = 0.98592

Dari tabel 5 untuk konsentrasi dan % terurai dengan waktu yang sama bahwa
semakin besar massa yang terurai. Dilihat dari waktu perendaman dan %
terurai, semakin besar massa yang terurai untuk konsentrasi sama.
Berdasarkan tabel 5 dibuat grafik antara waktu terhadap log massa sisa dari
tiap konsentrasi.

Grafik waktu terhadap log massa sisa


log massa sisa

0.98800
0.98600
0,4 M
0.98400
0,6 M
0.98200
0,8 M
0.98000
0.97800
0 20 40 60 80
Waktu

Gambar 1. grafik waktu terhadap log masa sisa dari tiap konsentrasi
Dilihat pada gambar 1 ada perbedaan dari nilai R2, untuk konnsentrasi
0,4 M nilai R2 sebesar 0.94889, untuk konsentrasi 0,6 M nilai R2 sebesar
0.80051 dan untuk konsentrasi 0,8 M nilai R2 sebesar 0.82904. Nilai R2
menunjukkan pencaran massa sisa, jika nilai R2 nya besar maka hubungan
antara waktu dan log massa sisa terikat kuat.
Pencaran log massa sisa terhadap waktu yang berbeda dikarenakan
oleh faktor temperatur yang tidak stabil, karena temperatur dapat
meningkatkan sifat keasaman larutan sesuai reaksi berikut

NaCl + H2O T 0 C NaOH + HCl


Keasaman larutan natrium khlorida akan naik pada temparatur yang
lebih tinggi, karena terjadi proses hidrolisa NaCl. Pada temperatur yang
lebih tinggi aluminium paduan akan terkorosi lebih cepat

B. Temuan Dan Pembahasan


Berdasarkan analisis data diperoleh beberapa penemuan, diantaranya
adanya pengaruh larutan natrium khlorida sebagai medium perendaman
aluminium paduan (alloy) menyebabkan pengkorosian permukaan sehingga
aluminium menjadi pengurangan berat dilihat dari terjadinya aluminium
oksida (Al2O3). Akibat yang ditimbulkan adalah hilangnya beberapa massa
aluminium akibat perendaman dapat dilihat dalam tabel
Waktu
(jam) 12 24 36 48 60

Kon
sentrasi Rata- Rata- Rata- Rata- Rata-
(molar) rata rata rata rata rata

0,4 0.0040 0.0044 0.0048 0.0050 0.0071

0,6 0.0043 0.0944 0.1182 0.2510 0.4660

0,8 0.1180 0.1324 0.2520 0.2730 0.4781

VII. Simpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa

1. Penipisan aluminium terjadi setelah dilakukan perendaman dalam larutan

natium khlorida dengan menghasilkan aluminium oksida (Al2O3) yang

sekaligus merupakan lapisan pelindung pada aluminium paduan (alloy)

melalui reaksi

2 AlCl2 + 2 H2O + 2 O2  Al2O3 . H2O + 2H+ + 4Cl- + 2O2


Al2O3 . H2O adalah hasil korosi terhidrolisis dalam air, sehingga mengalami

kekeroposan (Chamberlain, 1991).

2. Perubahan massa aluminium paduan setelah perendaman memiliki pencaran

massa yang berbeda ditunjukkan dari nilai R sq linier. Semakin tinggi nilai R

sq linier maka semakin terikat kuat massa alumium yang hilang terhadap

waktu.

VIII. Saran

Dalam proses perendaman aluminium di larutan Natrium Khlorida perlu

diperhatikan pengontrolan temperatur hingga menjadi stabil (pada temperatur

didih larutan sekitar 900 C) karena temperatur mempengaruhi sifat keasaman

larutan juga merupakan faktor penyebab terjadinya korosi.

IX. Daftar Rujukan

Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. 1984. Penuntun Analisa Kolorimetri


Daerah Tampak. Surabaya: Departemen Perindustrian Badan Penelitian dan
pengembangan Industri.

Chamberlain J. 1991. Korosi. Gramedia. Jakarta.

Dogra S, K, dan Dogra S. 1990. Kimia Fisik dan Soal – Soal. Mansyur U.
Penerjemah. Jakarta: Universitas Indonesia.

Dajan A. 1996. Pengantar Metode Statistik Jilid II. Jakarta. Pustaka LP3ES.

Earth Science Australia.2005. Salt. Courtesy of Salt Institute,


(http://www.earthsci.org/mindep/salt/salt.htm#properties, diakses 24 Maret
2006).

Mulyani, S., Hendrawan. 2003. Kimia Fisika II. IMSTEP3. Universitas


Pendidikan Indonesia.

Panggabean R. 1997. Air Laut Beserta Lingkungannya sebagai Penyebab Kkorosi


pada Logam. Majalah BPP Teknologi. No LXXVIII.

Rahayu S. 2004. Belajar Mudah SPSS Versi 11.05. Bandung. Alfabeta.

Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung. Tarsito


SNI 07-0956-1989. 1989. Pelat dan Lembaran Aluminium. Pusat Standardisasi
Imdustri Departemen Perindustrian.

Sulistyoweni W. Pengaruh Unsur – Unsur Kimia Korosif Terhadap Laju Korosi


Tulangan Beton :I di Dalam Air Rawa. Makara Teknologi, Vol. 6.

Svehla. 1990. Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semi Mikro. Jilid I.
Terjemahan L. Setiono Dan A. Hadyana. Jakarta: Kalman Media Pustaka.

Syuhada. 1996. Penelitian korosi Aluminium Murni dan Aluminium Paduan


dalam Larutan Garam Jenuh. Majalah BPP Teknologi. No LXXVI.

Tjandrawati Y. 1999. Korosi Logam di Dalam Beberapa Media Cair. Sigma, Vol.
II, 67-74.

Widharto S. 1999. Karat dan Pencegahannya. Jakarta : Pradnya Paramita

www.rust.bizland.com/.../rust.htm