Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN Pada era globalisasi ini, pertanian sangat mempengaruhi perkembangan suatu negara, terutama dalam segi pemenuhan

kecukupan pangan, serta pertumbuhan ekonomi bangsa. Indonesia termasuk salah satu negara yang menggantungkan harapannya pada produktivitas berbasis agraris, yakni sektor pertanian. Indonesia dikenal sebagai konsumen beras nomor 3 di dunia (United States Department of Agriculture , 2008) sehingga menjadikan jumlah luas panen padi di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 12.870.949 hektar (BPS, 2011). Oleh sebab itulah, banyak tenaga kerja pertanian yang fokus dalam mengelola persawahan padi. Dalam proses pengolahan sawah tersebut, telah dikenal metode Olah Tanah Sempurna (OTS) yang dilakukan melalui proses pembajakan/ pencangkulan, pelumpuran dan persemaian. Metode ini memang banyak dipakai, namun tak luput dari kelemahan, diantaranya adalah pemborosan air yang lebih dari sepertiganya digunakan untuk pengairan dan pelumpuran. Metode ini juga memerlukan tenaga kerja sehingga biaya meningkat (Utomo & Nazaruddin dalam Wijiastuti S, 2011). Dalam prosesnya, metode OTS menggunakan pengolahan tanah secara berlebihan sehingga menimbulkan berbagai dampak negatif pada iklim pertanian. Di antara lain adalah peluang terjadinya erosi, degradasi kesuburan tanah, meningkatnya polusi perairan oleh limbah pertanian (residu pestisida, nitrat dari pupuk nitrogen dan sedimentasi), serta timbulnya biotipe baru hama dan prototipe baru penyakit . Mengingat metode OTS pada sawah padi memberikan berbagai dampak negatif pada lingkungan pertanian, maka perlu diadakan suatu teknologi atau inovasi untuk mengatasi hal tersebut. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi hal ini adalah pertanian Tanpa Olah Tanah (TOT). Teknologi ini bertujuan membuat pengolahan tanah menjadi lebih mudah dan efisien tanpa mempengaruhi produktivitas padi. Diharapkan dengan paparan mengenai pengoalahan lahan yang tepat pada esai ini, dapat membangun iklim pertanian yang lebih nyaman pada pertanian padi di Indonesia

PEMBAHASAN Olah Tanah Konservatif (OTK) merupakan suatu metode pengelolaan tanah yang bertujuan menyiapkan lahan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi optimum, namun tetap memerhatikan aspek konservasi dan tanah dan air (Utomo dalam Rachman, 2008). Salah satu dari penerapan metode OTK ialah pertanian Tanpa Olah Tanah (TOT) atau yang dikenal sebagai zero tillage farming. Awal sejarah TOT pada pertanian dimulai pada tahun 8000 SM dengan menggunakan semacam tongkat bernama planting stick yang memungkinkan penanaman benih tanpa pengolahan. Sedangkan awal mula diperkenalkannya herbisida seperti 2,4D, Atrazine dan Paraquat terjadi pada tahun 1940-1950 (Huggins & Reganold, 2008). Alasan manusia pada zaman dahulu dengan memakai metode ini adalah para kaum pria belum mempunyai kekuatan yang cukup dalam mengolah tanah lahan dalam jangkauan kedalaman yang signifikan Sedangkan di Asia, telah dilaporkan bahwa TOT dipraktekkan di negara-negara seperti India, Indonesia, Korea, Filipina, Taiwan dan Thailand; serta pada daerah tertentu di Jepang, Srilanka dan Malaysia (Derpsch, 2007). Tujuan utama OTS adalah mengendalikan gulma pada stadia awal pertumbuhan tanaman, memperbaiki aerasi tanah, mencampur sisa gulma dan tanaman dengan tanah, membantu pembentukan tapak bajak, menyeragamkan tingkat kesuburan tanah, meningkatkan ketersediaan hara, terutama fosfor (P), dan memudahkan tanam (Taslim et al dalam Lamid, 2011). Salah satu hal yang mendasari TOT pada zaman sekarang ialah kecenderungan proses OTS yang menunjukkan bahwa terlalu seringnya mengolah tanah memberikan efek yang buruk pada tanah dan memakan biaya yang lebih banyak (Wiroatmodjo, 2004). Tidak hanya itu, dengan metode OTS, akan diperlukan waktu yang lebih lama sehingga waktu untuk melakukan aktivitas produktif yang lain terhambat. Dengan diaplikasikannya metode TOT, para petani padi dapat memperoleh keuntungan yang lebih optimal dibandingkan dengan metode OTS. Ada kondisi tertentu yang harus dimiliki oleh sawah untuk menerapkan metode TOT. Diantaranya adalah sifat drainase yang baik serta kelembapan tanah di bawah kapasitas lapang (Wiroatmodjo, 2004). Kondisi-kondisi tersebut dapat mendukung penerapan TOT pada sawah dataran rendah, dataran tinggi berlereng dan berjenjang (teraccering), dan sawah pasang surut tipologi B, C, dan D. Menurut Lamid (2011), pada lahan sawah pasang surut lebih banyak menghemat biaya untuk persiapan lahan, mencapai 56-61%/ha. Hasil padi dengan penerapan teknologi TOT bahkan 15,2% lebih tinggi dibandingkan dengan teknologi OTS. Penerapan teknologi TOT juga mempercepat waktu tanam sekitar 20 hari sehingga jarak tanam antarmusim (turn around time) lebih singkat dan umur panen lebih cepat.

Berikut ini merupakan langkah-langkah untuk melakukan metode Tanah Tanpa Olah pada pertanian sawah padi menurut Utomo dan Nazaruddin (2003): Pertama, yang perlu dilakukan ialah persemaian. Persemaian dilakukan di lahan yang sama atau berdekatan dengan lahan yang akan ditanami. Untuk 1 ha lahan sawah diperlukan benih 25-30 kg, dan 100 m2 bedengan persemaian. Pada lahan untuk persemaian ini dilakukan pembajakan atau pencangkulan 3 kali agar tanah berlumpur dan tidak terdapat bongkahan. Untuk penanaman dengan cara tabur benih langsung (TABELA) tidak diperlukan persemaian. Kedua, persiapan lahan. Tidak seperti OTS, TOT tidak memerlukan penangkulan dan pembajakan. Air sawah dbuang dari petakan sawah serta dibiarkan selama 2-3 minggu. Persiapan lahan ini dimulai bersamaan dengan pembuatan persemaian. Pada persiapan lahan ini diperlukan herbisida untuk menanggulangi gulma (tumbuhan pengganggu). Penyemprotan herbisida pasca tumbuh dapat dilakukan dengan menggunakan merk Polaris dengan dosis 5 ha-1, merk Spark dosis 8-10 ha1 , Bimastar dosis 5-7 ha-1 atau merk lainnya. Selesai penyemprotan, sawah dibiarkan 5-7 hari agar herbisida bereaksi mematikan dan menghancurkan sisa tanaman dan membunuh gulma. Kemudian air dimasukkan ke petakan sawah dengan kedalaman air 5 cm, lalu dilakukan perendaman selama 5 - 7 hari atau lebih sehingga tanah lunak dan bisa ditanami. Tiga hari sebelum perendaman berakhir, sawah disemprotkan dengan herbisida pra tumbuh misalnya Ronstar dengan dosis 5 ha-1. Selesai perendaman, maka kondisi tanah sudah macak-macak dan siap ditanami dengan bibit hasil semaian. Singgang atau gulma yang telah mati dapat direbahkan, dibabat atau dibenamkan dalam tanah. Ketiga, penanaman: Penanaman dapat dilakukan dengan TABELA atau dengan sistem tanam pindah (transplanting). Pada penanaman dengan sistem pindah/transplanting, bibit biasanya dipindah saat berumur 18-25 hari, umumnya 21 hari. Ciri-ciri bibit yang siap dipindah adalah: berdaun 5-6 helai, tinggi sekitar 22-25 cm, batang bawah besar dan keras, bebas hama dan penyakit dan pertumbuhannya seragam. Cara penanamannya adalah sebagai berikut: bila tanah masih keras, gunakan tugal untuk membuat lubang tanam. Tanam bibit dalam posisi tegak, 2-3 bibit per lubang, dengan kedalaman 2 cm dengan jarak tanam 20 cm x20 cm hingga 25 cm x 25 cm. Pada penanaman dengan TABELA, dapat menggunakan tugal (sistem gogo rancah) atau langsung ditebar dalam alur. Untuk penanaman dengan tugal, mulsa tidak perlu dibenamkan sedangkan untuk tebar langsung mulsa singgang dan gulma diratakan terlebih dahulu. Apa saja keuntungan dari metode TOT ini? Mari kita bandingkan dengan metode OTS: Pertama, berkurangnya unsur hara organik di dalam tanah disebabkan oleh pelumpuran tanah secara terus menerus yang diikuti oleh pupuk anorganik

sehingga menyebabkan perubahan fisiko kimia pada tanah sehingga dapat menyebabkan tanah menjadi sakit (soil sickness). Sedangkan pada TOT, justru meningkatan unsur hara organik. Pada penelitian perbandingan unsur organik pada TOT dan OTS di Kentucky, Amerika Serikat, terlihat bahwa pada kedalaman 0-5 cm & 5-15 cm unsur hara organik pada tanah yang diperlakukan dengan metode TOT meningkat dan sebaliknya pada OTS menurun (Rachman et al, 2008). Kedua, perlakuan TOT dengan pemberian mulsa (rebahan dari gulma & singgang yang elah mati) pada permukaan tanah berpengaruh dalam menurunkan erosi dan menambah populasi cacing. Pada penelitian Suwardjo (1981), erosi tanah yang diolah tanpa menggunakan mulsa sebesar 112 t ha-1 dibandingkan dengan tanah yang tidak diolah dan menggunakan mulsa erosi hanya sebesar <5 t ha-1 (Rachman et al, 2008). Suwardjo (1981) turut melaporkan bahwa jumlah populasi cacing pada ladang jagung yang tidak diolah lebih banyak dibandingkan yang diolah sempurna. Ketiga, genangan air pada sawah menimbulkan aktivitas anaerobik sehingga meningkatkan aktivitas bakteri metanogenik. Meningkatnya bakteri metanogenik ini menghasilkan metana yang merupakan kontributor emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sekitar 70% dari dari kontribusi sektor pertanian di luar perubahan dan degradasi lahan (Lamid Z, 2011). Ini disebabkan oleh tidak menentunya dan tigginya debit irigasi air. Hal tersebut memberikan pengaruh pada perubahan iklim secara tidak langsung menurunkan produksi padi (Las et al.; Badan Litbang Pertanian dalam Lamid, 2011). Pada TOT, sistem irigasi dan pelumpuran tidak dilaksanakan secara terus-menerus sehingga mengurangi aktivitas bakteri metanogenik dan dapat menekan emisi gas metana sebesar 71 % (Setyanto dalam Lamid, 2011). Keempat, penerapan TOT menekan pertumbuhan gulma. Pemakaian herbisida glifosat dengan takaran anjuran efektif dapat menekan pertumbuhan populasi gulma sebesar 70% sampai tanaman padi berumur 45 hari setelah tanam (HST) (Lamid et al.; Lamid dan Wentrisno dalam Lamid, 2011). Aplikasi herbisida glifosat secara terus-menerus setiap musim tanam (MT) menggeser populasi gulma dari target awal golongan teki (F. littoralis) ke golongan berdaun sempit relatif murni (Paspalum vaginatum L), mulai dari MT 3 sampai MT 17 (Lamid et al dalam Lamid, 2011). Kelima, meningkatkan intensitas tanam padi. Jumlah gabah, gabah bernas, dan bobot 1.000 butir gabah yang dihasilkan tanaman dengan penerapan teknologi TOT 8-22% lebih tinggi dibanding OTS (Lamid, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa gabah yang dihasilkan lebih banyak, lebih bernas, dan relatif lebih besar sehingga berkontribusi terhadap peningkatan hasil padi. Dari berbagai percobaan,

TOT dapat meningkatkan pendapatan dari Rp.360.000,00-500.000,00 dibandingkan dengan metode OTS (Wiroatmodjo, 2004). Dengan begitu, peningkatan produksi padi tentunya mempunyai dampak yang positif terhadap peningkatan pendapatan petani dan negara. PENUTUPAN Aplikasi metode Tanah Tanpa Olah atau TOT pada persawahan padi di Indonesia dapat menjadi alternatif sistem mengolah tanah yang efisien, ramah lingkungan serta memberi dampak yang baik bagi aktivitas petani dengan mengurangi biaya pengolahan tanah, pekerja serta lebih menghemat waktu. TOT juga turut n bersumbangsih terhadap agroekonomi dengan meningkatkan produksi tanaman.Dengan keunggulan-keunggulan tesebut, tentunya metode ini dapat menjadi sebuah teknologi yang berperan besar dalam membaiangun iklim pertanian yang baik di Indonesia .

DAFTAR PUSTAKA

BPS, 2011. Perkembangan Luas Panen Produksi Padi tahun 2008-2010. Jakarta: Badan Pusat Statistika. Buchholz DD et al. 1993 No-Till Planting Systems, Publications in University of Missouri Extension http://extension.missouri.edu [3 September 2011] Daud D. 2008 Ujji Efikasi Herbisida Glifosat, Sulfosat dan Paraquat Pada Systim Tanpa Olah Tanah (TOT) Jagung.Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI PFI XIX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 5 Nopember 2008. pp. 316-327 Derpsch R. 2007 Historical Review of No- Tillage Cultivation of Crops http://www.rolf-derpsch.com/notill.htm [3 September 2011] Huggins DR and Reganold DP. 2008. No-Till: The Quiet Revolution, Scientific American, Inc. www.SciAm.com [4 September 2011] Lamid Z. 2011 Integrasi Pengendalian Gulma dan Teknologi Olah Tanah Pada Usaha Tani Padi Sawah Menghadapi Perubahan Iklim, Pengembangan Inovasi Pertanian 4(1), 2011: 14-28 Las et al. 2008. Iklim dan Tanaman Padi: Tantangan dan peluang. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. Purnomo J. 2008 Penggunaan Herbisida Glyphosate dan Pupuk OST Pada Sistem Tanam Padi Sawah Tanpa Olah Tanah; Pengaruhnya Terhadap Komponen Hasil Tanaman. ZIRAAAH Volume 22 Nomor 2, 2 Juni 2008 pp. 84-89 Rachman A, Dariaj A dan Husen E. 2008 Olah Tanah Konservasi. Berlereng. Hal. 183-204 Taslim et al. Bercocok tanam padi sawah. hlm. 507-522. Dalam M. Ismunadji, M. Syam, dan Yuswadi (Ed.). Padi, Buku 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. United States Department of Agriculture. 2008. Agriculture Statistics Wijiastuti S. 2011 Bertanam Padi Sawah Tanpa Olah Tanah http://bppsdmp.deptan.go.id [3 September 2011] (TOT),

Wiroatmodjo D. 2004 Pengolahan Tanah Minimum, Sekarang dan Masa Depan (Minimum Tillage, Present Status and its Fuure) Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB, Bogor

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Nama Peserta Tempat Tanggal lahir Nomor Telepon Riwayat Pendidikan : Muhammad Hamzah : Jakarta, 03 Agustus 1994 : 081384902713 :School of Academy World Language, Cincinnati (1999) SDN Batan Indah, Tangerang Selatan (2000) Delshire Elementary (2001- 2003) Shool, Cincinnati

SDN PUSPIPTEK, Tangerang Selatan (2003 - 2005) SMPN 8 Tangerang Selatan, Tangerang Selatan (2005 2008) SMA IT Al Kahfi, Bogor (2008 Sekarang) Organisasi : Pengurus OSPETA (Organisasi Santri Pesantren Terpadu Al Kahfi) Masa Bakti 2010/2011 : 1. Pemanfaatan Microbial Fuel Cell (MFC) Pada Tanaman Padi (Oryza Sativa) Sebagai Alternatif Energi Listrik Berpotensi Tinggi di Indonesia

Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

Nama Pembimbing Tempat Tanggal lahir Nomor Telepon Riwayat Pendidikan

: Fami Rizalia : Bogor, 17 Februari 1986 : 087770001096 / 085692956563 : SDN I Cigombong, Bogor (1993 1998) SMPN I Cijeruk, Bogor (1998 2001) SMAN 3 Kota Bogor (2001 2004) Departemen Biokimia IPB, Bogor (2004 2008)

Karya Ilmiah yang Pernah Dibuat

: 1. Pengaruh Penyadapan dan Pemberian Etefon terhadap Ekspresi Gen

HbACO3 pada Lateks dan Kulit Batang Hevea brasiliensis 2. Kertas Anti Bakteri Berbasis Kitosan 3. Pemanfaatan Kitosan sebagai Bahan Dasar Band Aid Alami Penghargaan Ilmiah : Finalis Program Kreatifitas MahasiswaTeknologi (2008)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perkembangan Luas Panen Produksi Padi tahun 2008-2010 (Data Strategis BPS,2011)

Perkembangan Luas Panen Produksi Padi Menurut Subroun

10

Lampiran 2 Sejarah Tanah Tanpa Olah (No-Till) (Huggins & Reganold,2008)

11

Lampiran 3 Gambar Sistem Olah Tanah Sempurna (OTS) (Adam et. al, 2008) & Tanah Tanpa Olah (TOT) (Wijiastuti, 2011) Pada Sawah Padi

(Olah Tanah Sempurna)

(Tanpa Olah Tanah)

12