Anda di halaman 1dari 34

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Depresi Depresi atau biasa disebut sebagai gangguan afektif merupakan salah satu bentuk psikosis. Ada beberapa pendapat mengenai definisi dari depresi, diantaranya yaitu : a. Menurut National Institut of Mental Health, gangguan depresi dimengerti sebagai suatu penyakit tubuh yang menyeluruh ( wholebody ), yang meliputi tubuh,suasana perasaan(mood),dan pikiran. b. Southwestern Psychological Services memiliki pendapat yang mirip dengan National Institut of Mental Health bahwa depresi adalah dipahami sebagai suatu penyakit, bukan sebagai suatu kelemahan karakter, suatu refleksi dari kemalasan atau suatu ketidakmauan untuk menoba lebih keras. c. Staab dan Feldman menyatakan bahwa depresi adalah suatu penyakit yang menyebabkan suatu gangguan dalam perasaan dan emosi yang dimiliki oleh individu yang ditunjuk sebagai suasana perasaan. Secara umum, depresi sebagai suatu gangguan alam perasaan perasaan sedih yang sangat mendalam, yang bisa terjadi setelah kehilangan seseorang atau peristiwa menyedihkan lainnya, tetapi tidak sebanding dengan peristiwa tersebut dan terus menerus dirasakan melebihi waktu yang normal. 2.1.1 Gejala-gejala Depresi Menurut Diagnostik dan statistikal manual IV Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika, lima atau lebih gejala di bawah telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari keadaan biasa seseorang serta sekurangnya salah satu gejala harus emosi depresi atau kehilanga minat atau kemampuan menikmati sesuatu.
1

1. Keadaan emosi depresi / tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari, yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis). 2. Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain). 3. Hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan (misal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat badan sebelumnya dalam satu bulan).
4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.

5.

Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat).

6. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari. 7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar (bisa merupakan delusi) hampir setiap hari. 8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat keputusan, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain). 9. Berulang-kali muncul pikiran akan kematian (bukan hanya takut mati), berulang-kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri. Adapun bagi ibu hamil, tanda-tanda atau gejala yang menunjukkan mengalami depresi tidak jauh atau sama halnya dengan gejala-gejala di atas dan waktunya pun kurang lebih 2 minggu, yakni diantaranya sebagai berikut : a. Ditandai dengan perasaan muram, murung, kesedihan tidak bisa atau sulit berkonsentrasi, mengingat, atau mengambil keputusan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

b. Teganggu calon ibu dengan orang-orang sekitarnya, terganggu kondisi ibu mengancam keselamatan janin dan putus asa, terkadang beberapa ada yang merasa cemas. c. Kadang-kadang tegang, kaku, dan menolak intervensi terpeutik. Selain itu, gejala di atas biasanya disertai perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang rendah, hilangnya energi dan penurunan dorongan seksual.

2.1.2 Bentuk-bentuk Depresi Terdapat berbagai bentuk depresi, tergantung dari vartiasi dalam jumlal simptom, tingkat keparahan dan persistensinya. Namun, secara umum dapat digolongkan menjafi dua yakni : a. Depresi Unipilar Merupakan gangguan depresi yang dicirikan oleh suasana perasaan depresif saja. Depresi Unipolar terdiri atas : 1. Depresi Mayor Apabila seseorang atau ibu hamil mengalami tanda-tanda atau gejala seperti di atas, maka segera harus ditangani karena bisa saja berubah menjadi lebih serius yang dapat berdampak pada ibu maupun janinnya, yakni menjadi depresi berat atau depresi mayor. Sindrom depresi mayor ditandai dengan suatu kombinasi simptom yang berpengaruh dengan kemampuan untuk bekerja, tidur, makan dan menikmati salah satu kegiatan yang menyenangkan serta sulit untuk melakukan komunikasi karena mereka cenderung menarik diri, tidak mampu berkonsentrasi, kurang perhatian, merasa tidak dihargai dan sulit untuk mengingat sesuatu dan yang terutama adalah tidak jarang dari penderita yang ingin bunuh diri. Episode ketidakmampuan depresi ini dapat terjadi hampir setiap hari dan pasti ada yang mendominasi di sepanjang hari. Selain itu, bila tidak

teratasai dengan baik dapat muncul sekali, dua kali atau beberapa kali selama hidup.

2. Distimia Merupakan bentuk depresi yang kurang parah karena simptom atau gejala-gejala yang ditunjukkan tidak membuat orang yang mengalaminya menjadi tidak mampu tetapi yang menghindarkan orang yang bersangkutan untuk berfungsi pada tingkat yang penuh atau menghalanginya dari perasaan baik.

b. Depresi Bipolar Merupakan gangguan depresi yang dicirikan oleh pergantian antara suasana perasaan depresif dan mania, artinya selain depresi, di sisi lain terkadang merasa gembira. 2.1.3 Penyebab Terjadinya Depresi Pada Kehamilan Para ahli belum bisa memastikan mengapa depresi terjadi pada wanita hamil, namun diduga perubahan tingkat hormon yang drastis selama kehamilan dan setelah melahirkan menjadi biang keladinya. Selain peningkatan kadar hormon dalam tubuh, menurut penelitian bahwa depresi terjadi karena klien atau penderita depresi memiliki ketidakseimbangan dalam pelepasan neurotransmitter serotonin mayor, norepinefrin, dopamin, asetilkolin, dan asam gama aminobutrik.Selain itu,ada pula hasil penelitian yang menyatakan bahwa terjadinya depresi karena adanya masalah dengan beberapa enzim yang mengatur dan memproduksi bahan-bahan kimia tersebut. Dengan demikian, berdampak pula pada metabolisme glukosa dimana penderita depresi tidak memetabolisme glukosa dengan baik dalam area otak tersebut. Jka depresi teratasi, aktivitas metabolisme kembali normal. Selain dari faktor organobiologis
4

di atas, pencetus terjadinya depresi adalah karena factor psikologis dan sosio-lingkungan, misalnya karena akan berubah peran menjadi seorang ibu, karena kehilangan pasangan hidup, kehilangan pekerjaan, pasca bencana dan dampak situasi kehidupan sehari-harinya. Faktor lain yang menyumbang peran dalam terjadinya depresi pada ibu hamil antara lain: 1. Riwayat keluarga yang memiliki penyakit kejiwaan. 2. Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga.

3. Perasaan khawatir yang berlebihan pada kesehatan janin. 4. Ada masalah pada kehamilan atau kelahiran anak sebelumnya.

5. Sedang menghadapi masalah keuangan. 6. Usia ibu hamil yang terlalu muda. 7. Adanya komplikasi selama kehamilan. 8. Keadaan rumah tangga yang tidak harmoni. 9. Perasaan calon ibu yang tidak menghendaki kehamilan.

2.1.4 Dampak Atau Pengaruh Depresi Terhadap Kehamilan Permasalahan yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan termasuk depresi, selain berdampak pada diri sendiri bisa berimplikasi atau berpengaruh tidak baik terhadap kondisi kesehatan janin yang ada di dalam kandungan. Kita semua pasti mengetahui bahwa perubahan fisik dan hormonal yang terjadi selama masa kehamilan sangat berpengaruh terhadap kondisi wanita yang sedang hamil. Depresi yang tidak ditangani akan memiliki dampak yang buruk bagi ibu dan bayi yang dikandungnya. Ada 2 hal penting yang mungkin berdampak pada bayi yang dikandungnya, yaitu : 1. Pertama adalah timbulnya gangguan pada janin yang masih didalam kandungan.
5

2. Kedua muncul nya gangguan kesehatan pada mental sianak nantinya. Depresi yang dialami, jika tidak disadari dan ditangani dengan sebaik baiknya akan mengalihkan perilaku ibu kepada hal hal yang negatif seperti minum-minuman keras, merokok dan tidak jarang sampai mencoba untuk bunuh diri. Hal inilah yang akan memicu terjadinya kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang rendah, abortus dan gangguan perkembangan janin. Kelahiran bayi prematur juga akan menjauhkan dekapan seorang ibu terhadap bayi yang dilahirkan , karena si bayi akan ditempatkan di inkubator tersendiri. Apalagi jika sudah mengalami depresi mayor yang identik dengan keinginan bunuh diri, bisa saja membuat langsung janinnya meninggal.Ibu yang mengalami depresi ini tidak akan mempunyai keinginan untuk memikirkan perkembangan kandungannya dan bahkan kesehatannya sendiri 2.1.4 Cara Penanganan Strategi kesehatan yang bisa diterapkan pada saat masa kehamilan untuk mengantisipasi depresi yaitu menjadikan masa hamil sebagai pengalaman yang menyenangkan, selalu konsultasi dengan para ahli kandungan, makan makanan yang sehat, cukup minum air, mengupayakan selalu dapat tidur dengan baik dan melakukan senam bagi ibu hamil. Disamping itu juga melakukan terapi kejiwaan supaya terhindar dari depresi, lebih meningkatkan keimanan dan tentunya mendapat dukungan dari suami dan keluarga. Sedangkan bagi yang telah terdiagnosis, perencanaan kehamilan sangat penting pada wanita hamil yang didiagnosis depresi, sebaiknya kehamilannya perlu direncanakan atau dikonsultasikan dengan ahli kebidanan dan kandungan, dan psikiater tentang masalah resiko serta keuntungan setiap pemakaian obat-obat psikofarmakologi. Rawat inap sebaiknya dipikirkan sebagai pilihan pengobatan psikofarmakologis pada trimester I untuk kasus kehamilan yang tidak direncanakan, dimana pengobatan harus dihentikan segera dan apabila terdapat riwayat gangguan afektif ( depresi ) rekuren. Ada 2 fase penatalaksanaan farmakologis yang digambarkan dalam Panel Pedoman Depresi ( Depression Guideline Panel ) : 1. Fase Akut Gejalanya ditangani, dosis obat disesuaikan untuk mencegah efek yang merugikan dan klien diberi penyuluhan.
6

2. Fase Lanjut Klien dimonitor pada dosis efektif untuk mencegah terjadinya kambuh. Pada fase pemeliharaan, seorang klien yang beresiko kambuh sering kali tetap diberi obat. Untuk klien yang dianggap tidak beresiko tinggi mengalami kambuh, pengobatan dihentikan. Penggunaan antidepresan trisiklik sebaiknya hanya pada pasien hamil yang mengalami depresi berat yang mengeluhkan gejala vegetatif dari depresi, seperti menangis, insomnia, gangguan nafsu makan dan ada ide-ide bunuh diri. Selective serotonin reuptake inhibitors ( SSRIs ) terbukti sudah sangat berguna untuk menangani depresi sehingga menjadi pilihan untuk ibu hamil, mencakup fluoksetin dan sertralint. Obat ini menjadi pilihan karena obat tersebut lebih sedikit memiliki efek antikolinergik yang merugikan, toksisitas jantung, dan bereaksi lebih cepat daripada antidepresan trisiklik dan inhibitor oksidase monoamin ( MOA ) serta tidak menyebabkan hipotensi ortostatik, konstipasi dan sedasi.Disamping itu, psikoterapi atau metode support group secara rutin harus dilakukan bila ada konflik intrapsikis yang berpengaruh pada kehamilan. Terapi perilaku kognitif sangat menolong pasien depresi dan disertai antidepresan. Terapi elektrokompulsif (ECT) digunakan pada pasien depresi psikotik untuk mendapatkan respon yang lebih cepat, bila kehidupan ibu dan anak terancam, misalnya pada depresi hebat dan klien samping ingin bunuh diri atau jika tidak berespon terhadap pengobatan antidepresan.Dalam menghadapi klien penderita depresi, harus dilakukan dengan sikap serius dan mengerti keadaan penderita. Kita harus memberi pengertian kepada mereka dan mensupport atau memberikan motivasi yang dapat menenagkan jiwanya. Hendaknya jangan menghibur, memberi harapan palsu, bersikap optimis dan bergurau karena akan memperbesar rasa tidak mampu dan rendah diri.

2.2 Psikosa Psikosa adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan ( sense of reality ) atau dengan kata lain, psikosa adalah tingkah laku secara keseluruhan dalam kepribadiannya berpengaruh tidak ada kontak dengan realitas sehingga tidak mampu lagi menyesuikan diri dalam norma-norma yang wajar dan berlaku umum.
7

Tanda-tanda atau gejala-gejala psikosa yaitu : pada umum nya gejalanya tidak mampu melakukan partisipasi sosial-halusinasi. Sejumlah kelainan perilaku, seperti aktivitas yang meningkat, gelisah, retardasi psikomotor dan perilaku katatonik. Sering ada gangguan lingkungan. sosialnya membahayakan orang lain dan diri sendiri. adanya gangguan kemampuan berpikir, bereaksi secara emosional mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan, dan bertindak sesuai kenyataan. Psikosa umumnya terbagi dalam dua golongan besar yaitu: 1. Psikosa fungsional Merupakan gangguan yang disebakan karena terganggunya fungsi sistem transmisi sinyal pengahantar saraf ( neurotransmitter ). Factor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan oleh perkembangan atau penglaman yang terjadi selama sejarah kehidupan seseorang.

2. Psikosa organik Merupakan gangguan jiwa yang disebabkan karena ada kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, misalnya ada tumor atau infeksi pada otak, keracunan ( intoksikasi ) NAZA.

2.2.1 Jenis-jenis psikosa Adapun jenis-jenis psikosa yaitu terdiri atas : a. Skizofrenia

merupakan jenis psikosa yang paling sering dijumpai. Skizofrenia pada kehamilan. dapat muncul bila terjadi interaksi antara abnormal gen dengan : a) Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu perkembangan otak janin. b) Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama kehamilan. c) d) Komplikasi kandungan. Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.

b. Paranoid Paranoid ditandai adanya kecurigaan yang tidak beralasan terus menerus yang pada puncaknya bisa menjadi tingkah laku yang agresif. Emosi dan pikiran penderita masih berjalan baik dan saling berhubungan. Jalan pikiran cukup sistematis, mengikuti suatu logika yang baik dan teratur, tetapi berakhir dengan interpretasi yang menyeleweng dari kenyataan.

2.2.2 Gejala Klinis Psikosa ditandai oleh perilaku yang regresif, hidup perasaan tidak sesuai, berkurangnya pengawasan terhadap implus-implus serta waham dan halusinasi. Gejala psikosa dapat berupa: 1. Halusinasi 2. Sejumlah kelainan perilaku, seperti aktivitas yang meningkat 3. Gelisah 4. Retardasi psikomotor 5. Perilaku katatonik 2.2.3 Dampak Psikosa Dalam Kehamilan Gangguan jiwa yang dapat terjadi pada kehamilan antara lain : 1. Gangguan afektif pada kehamilan.
9

2. Gangguan bipolar 3. Skizofrenia 4. Gangguan cemas menyeluruh 5. Gangguan panik 6. Gangguan obsesif konvulsif Menninger telah menyebutkan lima sindroma klasik yang menyertai sebagian besar pola psikotik: a. Perasan sedih, bersalah dan tidak mampu yang mendalam b. Keadaan terangsang yang tidak menentu dan tidak terorganisasi, disertai pembicaraan dan motorilk yang berlebihan c. Regresi ke otisme manerisme pembicaran dan perilaku, isi pikiran yanng berlawanan, acuh tak acuh terhadap harapan sosial. d. Preokupasi yang berwaham, disertai kecurigaan, kecendrungan membela diri atau rasa kebesaran e. Keadaan bingung dan delirium dengan disorientasi dan halusinasi. Proses kejiwaan dalam kehamilan 1. Triwulan I a. Cemas ,takut, panik, gusar b. Benci pada suami c. Menolak kehamilan d. Mengidam 2. Triwulan II a. Kehamilan nyata b. Adaptasi dengan kenyataan c. Perut bertambah besar

10

d. Terasa gerakan janin 3. Triwulan III a. Timbul gejolak baru menghadapi persalinan b. Perasaan bertanggung jawab c. Golongan ibu yang mungkin merasa takut d. Ibu yang mempunyai riwayat/pengalaman buruk pada persalinan yang lalu e. Multipara agak berumur f. Primigravida yang mendengar tentang pengalaman ngeri dan menakutkan dari teman-teman lain 2.2.4 Pencegahan dan Penanganan Psikosa Adapun cara pencegahan yang dapat dilakukan pada penderita psikosa adalah dengan memperhatikan hal-hal berikut : a. Informasi b. ANC rutin c. Nutrisi d. Penampilan e. Aktivitas f. Relaksasi

g. Senam hamil h. Latihan pernafasan

Sedangkan cara penanganan adalah dengan melakukan konsultasi pada dokter, bidan, psikologa atau psikiater. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh petugas keshatan dalam menangani atau menghadapi penderita psikosa adalah : Sejak pemeriksaan kehamilan pertama kali tenaga medis harus dengan kesabaran meyakinkan calon ibu bahwa peristiwa kehamilan dan persalinan merupakan hal yang normal dan wajar. Ajarkan dan berikan
11

latihan-latihan untuk dapat menguasai otot-otot, istirahat dan pernafasan. Hindari kata-kata dan komentar yang dapat mematahkan semangat si wanita. 2.3 Psikoneurosa Psikoneurosa atau dengan singkat dapat disebutkan sebagai neurosa saja adalah gangguan berupa ketegangan pribadi yang terus menerus akibat adanya konflik dalam diri orang bersangkutan dan akhirnya orang tersebut tidak dapat mengatasi konfliknya.Oleh karena ketegangannya tidak mereda akhirnya neurosis (suatu kelainan mental dengan kepribadian terganggu yang ringan seperti cemas yang kronis, hambatan emosi, sukar tidur, kurang perhatian terhadap lingkungan dan kurang memiliki energi). Oleh karena itu, psikoneurosis bukanlah suatu penyakit. Penderita psikoneurosis biasanya adalah orang yang taraf kecerdasannya cukup tinggi. Mereka cukup kritis untuk menilai situasi atau motif-motif yang saling bertentangan sehingga mereka sangat merasakan adanya konflik. Sebaliknya, orang yang tidak cukup tinggi taraf kecerdasannya, kurang kritis untuk mengerti konflikkonflik yang ada. Berbeda dengan gangguan psikotik, pada psikoneurosa tidak terjadi disorganisasi kepribadiaan yang serius dalam kaitannya dengan realitas eksternal. Biasanya penderita memiliki sejarah hidup penuh kesulitan, dibarengi tekanan-tekanan batin dan peristiwa yang luar biasa. Atau mengalami kerugian psikis yang besar sekali, karena terampas dari lingkungan sosial yang baik kasih sayang sejak usia yang sangat muda. Proses pengkondisian yang buruk terhadap mental pasien itu menumbuhkan simpton-simpton mental yang patologis atau menimbulakan macam-macam bentuk gangguan mental. Dengan demikian, gejala atau karakteristik dari penderita psikoneurosa diantaranya : penderita tidak mampu mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya, tingkah lakunya jadi abnormal dan aneh-aneh serta penderita biasanya tidak mengerti dirinya sendiri dan membenci pula diri sendiri. Sebab-sebab yang utama penyakit psikoneurosa atau lebih popular disingkat dengan neurosa, antara lain ialah: factor-faktor psikologis dan cultural, yang menyebabkan timbulnya banyak stress dan ketegangan-ketegangan kuat yang khronis pada seseorang. Sehingga pribadi mengalam frustasi dan konflik-konflik emosional dan pada akhirnya mengalami satu mental breakdown. Sebab-sebab lainnya adalah diantaranya : a. Ketakutan terus menerus dan sering tidak rasional. Misalnya : bagi ibu hamil, takut memikirkan terus sakitnya melahirkan.

12

b.

Ketidakseimbangan pribadi.

c. Konflik-konflik internal yang serius, khususya yang sudah diimulai sejak masa kanak-kanak. d. Kurang adanya usaha dan kemauan. e. Lemahnya pertahanan diri ( memakai defence mechanism yang negative ). 2.3.1 Jenis-jenis Neurosis A. Neurosis Cemas 1. Gejala neurosis a. Gejala somatis dapat berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, mudah lelah, keringat dingin b. Gejala psikologis berupa kecemasan, keteganggan, panik, depresi

2.

Faktor penyebab Faktor pencetus neurosis cemas seing jelas dan secara psikodinamik

berhubungan dengan faktor-faktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam. 3. Terapi Neurosis Cemas Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas, yaitu : a) Psikoterapi indifidual b) Psikoterapi kelmpok c) Psikoterapi analitik d) Sosioterapi e) Farmakoterapi

13

B. Histeria 1. Gejala-gejala Histeria Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Gejala ini sering timbul dan hilang secara tiba-tiba, terutama bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat. 2. Jenis-jenis Histeria a) Histeria Minor atau reaksi konfersi Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik, dengan gejala : lumpuh, kejang-kejang, dll b) Histeria mayor atau reaksi disosiasi Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang dialami penderita demikian hebat, sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan yang lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom, sehingga timbul gejala: amnesia, somnabulisme, fugue dan kepribadian ganda. 3. Sebab-sebab Hysteria: a) Ada presdiposisi pembawaan berupa system saraf yang lemah. b) Tekanan mental yang disebabkan oleh, kesusahan, kekecewaan, shock, dan pengalaman traumatis. c) Kondisi fisik yang buruk seperti sakit-sakitan, gangguan pikiran dan badaniah. 4. Terapi terhadap penderita hysteria Ada beberapa tehnik terapi yang dapat dilakukan antara lain:

14

a) Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr. Joseph Breuer) b) Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud) c) Psikoterapi suportif d) Farmakoterapi

C. Neurosis Fobik 1. Gejal neurosis fobik Neurosis fobik merupakan gangguan jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan. 2. Faktor penyebab neurosa fobik Neurosa fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutandan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda benda tertentu, yang disertai perasaan malu dan bersalah. Pengalaman traumastis ini kemudian dipresi. Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bbila ada rangsagan serupa.

3.

Terapi untuk penderita neurosa fobik Menurut maramis, neurosa fobik sulit untuk dihilangkan samasekali bila

gangguan tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Tehnik terapi yang dapat dilakukan antara lain : 1. Psikoterapi memahami suportif, apa upaya untuk mengajar dia alam penderita beserta

yang

sebenarnya

psikodinamikanya.

15

2. Terapi perilaku dengan deconditioning, yaitu setiap kali penderita merasa takut di diberi rangsangan yang tidak menyenangkan. 3. Terapi kelompo 4. Manipulasi lingkungan D. Neurosis Obsesif-Kompulsif 1. Gejala neurosis obsesif-kompulsif Istilah obsesi menujuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompusif menunjuk pada dorongan atau implus yang tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuata tersebut tidak perlu dilakukan. 2. Faktor penyebab Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor berikut (Yulia D, 2000). a. Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan b. Trauma mental emosional, yaitu depresi pengalaman masa lalu (masa kecil) 3. Terapi a. Psikoterapi suportif b. Penjelasan dan pendidikan c. Terapi perilaku E. Neurosis Depresif 1. Gejala neurosis depresif Neurosis depesif merupakan neursis dengan gangguan utama pada perasaan. Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah gejala jasmaniah yang senantiasa lelah, gejala psikologis yaitu sedih, putus asa, cepat lupa, insomnia, ingin mengahiri hidupnya. 2. Terapi

16

Untuk menyembuhkan depresi, Burns(1988) telah mengembangkan teknik terapi dengan prinsip yang dibuat terapi kognitif, yang dilakukan dengan prinsip sebagai berikut : a. Bahwa semua rasa murung disebabkan oleh kesadaran atau pemikiran yang bersangkutan. b. Jika depresi sedang terjadi maka berarti pemikiran telah dikuasai oleh kekeliruan yang mendalam. c. Bahwa pemikiran negative menyebabkan kekacauan emosional. F. Neurasthenia 1. Gejala neurasthenia Gejala utama : tidak bersemangat, cepat lelah, kemampuan berpikir menurun Gejala tambahan : insomnia, kepala pusing, sering merasa dihinggapi berbagai macam penyakit. 2. Faktor penyebab Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah Darajat, 1983), yaitu sebagai berikut : a. Terlalu lama menekan perasaan b. Kecemasan c. Terhalanginya keinginan-keinginan d. Sering gagal dalam menghadapi persaingan 3. Terapi a. Psikoterapi supportif b. Terapi olah raga c. Farmak terapi G. Psikotenis

17

1. Gejala Gejal penyakit ini ialah kelesuan mental, phobia. Selain phobia timbul obsesi yang disertai compulsion (kecenderungan untuk melakukan sesuatu tanpa dapat dicegah). 2. Sebab-sebab psikotenis a. Represi terhadap pengalama-pengalaman traumatis yang sangat menakutkan pada masa silam. b. Ada konflik antar untuk berani melawan rasa takut yang merenggut, yang dicobanya menekan kuat-kuat dalam alam tidak sadar. H. Neurastania Penyakit ini ditandai oleh kelelahan yang terus menerus, wajah murung, nafsu makan menurun, sulit tidur. Risau disebabkan oleh kesibukan.Banyak menderita ketegangan emosional karena konflik-konflik internal, kesusahan. Faktor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi penyebabnya. I. Hipokondria Adalah kondisi kecemasan yang kronis, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang patologis terhadap kesehatan sendiri. Individu yang bersangkutan merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap suatu penyakit yang kronis. Kesehatan emosional berakitan erat dengan kesehatan dan kondisi jiwa seseorang, cara untuk mengatasi kelabilan dari kesehatan emosi ini dapat dilakukan dengan cara memakan makanan yang sehat yang disertai asupan gizi yang cukup, malakukan olah raga secara teratur, dan istirahat yang proposioanal.

18

TINJAUAN PUSTAKA GANGGUAN JIWA PASCA KEHAMILAN

2.2 Depresi Pasca Kehamilan Sebagian perempuan menganggap bahwa masamasa setelah melahirkan adalah masamasa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguangangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulanbulan atau bertahun tahun lamanya.
19

Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional. angguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. Menurut DSM-IV, gangguan pascasalin diklasifikasikan dalam gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan. Ada 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues, postpartum depression dan postpartum psychosis ( Ling dan Duff, 2001). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Paltiel (Koblinsky dkk, 1997), bahwa ada 3 golongan gangguan psikis pascasalin yaitu postpartum blues atau sering disebut juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression yaitu depresi pasca persalinan yang berlangsung sampai berminggu minggu atau bulan dan kadang ada diantara mereka yang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan penyakit. Postpartum psychosis, dalam kondisi seperti ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat karena bisa menetap sampai setahun dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap pasca melahirkan. Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Pitt ( Regina dkk, 2001 ), depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido ( kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami ). Masih menurut Pitt ( Regina dkk, 2001) tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami kesedihan sementara yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi postpartum.

SKRINING UNTUK GANGGUAN MOOD POSTPARTUM

20

Meskipun telah beberapa kali kontak dengan para profesional medis selama periode pasca-melahirkan, pasien sering mengabaikan penyakit postpartum afektif. Terlalu sering, depresi pascamelahirkan dianggap sebagai konsekuensi normal atau alami dari melahirkan. Perempuan sering melaporkan bertahannya gejala depresi selama berbulan-bulan sebelum memulai pengobatan. Meskipun gejala depresi dapat muncul spontan, banyak perempuan masih tertekan satu tahun setelah melahirkan. Memprediksi siapa yang berisiko terkena penyakit jiwa pasca persalinan sangat sulit. Individu yang berisiko terbesar sering memiliki sejarah depresi terdahulu atau psikosis pascamelahirkan, sejarah gangguan mood pada diri pasien atau keluarga, atau depresi selama kehamilan saat ini. Faktor risiko lain termasuk dukungan sosial yang tidak memadai, ketidakpuasan perkawinan atau perselisihan, dan peristiwa negative yang baru saja terjadi seperti kematian dalam keluarga, kesulitan keuangan, atau kehilangan pekerjaan. Penyaringan semua ibu selama periode antepartum dan postpartum sangat diindikasikan. Penyaringan perempuan untuk gejala depresi selama kehamilan juga dapat membantu untuk mengidentifikasi perempuan berisiko lebih tinggi untuk depresi pascamelahirkan. The Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) adalah sebuah kuisioner yang digunakan secara ekstensif untuk deteksi depresi pasca-melahirkan. Skor 10 atau lebih pada EPDS atau jawaban afirmatif untuk pertanyaan 10 (kehadiran pikiran untuk bunuh diri) membutuhkan evaluasi yang lebih menyeluruh. EPDS dapat ditambahkan pada bayi baik rutin dan kunjungan pediatrik. Tidak ada manfaat lebih telah ditunjukkan dari satu alat skrining atas alat skrining yang lain. Menggunakan 2 pertanyaan berikut mungkin sama efektifnya dengan alat yang lebih panjang, meskipun mereka belum divalidasi di latar belakang budaya yang berbeda: Selama 2 minggu terakhir Anda merasa down, depresi, atau putus asa? Selama 2 minggu terakhir Anda merasa sedikit ketertarikan atau kesenangan dalam melakukan sesuatu? Dalam sebuah studi tentang depresi pascamelahirkan antara perkotaan, ibu yang berpenghasilan rendah, Chaudron et al menemukan bahwa, meskipun EPDS, Beck Depression Inventory II (BDI-II), dan Postpartum Depression Screening Scale (PDSS) memiliki akurasi tinggi dalam mengidentifikasi depresi, skor ini mungkin perlu untuk diubah dalam populasi ini untuk mengidentifikasi depresi lebih akurat. Dalam penelitian, yang
21

meliputi 198 ibu dari bayi yang berumur sampai 14 bulan, sensitivitas dan kekhususan masing-masing alat skrining dihitung dibandingkan dengan diagnosis gangguan depresi mayor atau depresi minor yang dibuat atas dasar diagnostik wawancara psikiatri. Nilai optimal untuk BDI-II ( 14 untuk depresi mayor dan 11 untuk depresi minor) dan EPDS ( 9 untuk depresi mayor dan 7 untuk depresi minor) lebih rendah dari yang direkomendasikan saat ini. Untuk PDSS, nilai optimal sesuai dengan pedoman saat ini untuk depresi mayor ( 80) tetapi lebih tinggi dari yang direkomendasikan untuk depresi minor ( 77).

2.2.1 Sindrom Baby Blues/Post Partum Blues Baby blues dapat terjadi segera setelah kelahiran, namun segera akan menghilang dalam beberapa hari sampai satu minggu. Kejadian ini terjadi pada sekitar 50%-80% dari ibuibu yang baru melahirkan dan biasanya terjadi dalam sepuluh hari pertama pasca melahirkan. Ibu yang baru melahirkan dapat merasakan perubahan mood yang cepat dan berganti-ganti (mood swing), kesedihan, suka menangis, hilang nafsu makan, gangguan tidur, mudah tersinggung, cepat lelah, cemas dan merasa kesepian. Gejalanya biasanya tidak terlalu berat dan pengobatan pada fase ini tidak diperlukan. Secara umum gejala ini akan hilang sendiri dalam waktu 10-14 hari pasca melahirkan. Perubahan hormon dan perubahan hidup ibu pasca melahirkan juga dapat dianggap pemicu depresi ini. Diperkirakan sekitar 50-70% ibu melahirkan menunjukkan gejala-gejala awal kemunculan depresi postpartum blues, walau demikian gejala tersebut dapat hilang secara perlahan karena proses adaptasi dan dukungan keluarga yang tepat. Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung postpartum blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa simtom yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan depresi postpartum blues bila memenuhi kriteria gejala yang ada. Kekurangan hormon tyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa (fatigue) ditemukan juga pada ibu yang mengalami postpartum blues mempunyai jumlah kadar tyroid yang sangat rendah. Angka kejadian postpartum blues di Asia cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85% (Iskandar, 2007), sedangkan di Indonesia angka kejadian postpartum blues antara
22

50-70% dari wanita pasca persalinan (Hidayat, 2007). Angka kesakitan pada post sectio caesaria lebih tinggi dibandingkan dengan melahirkan pervagina, sedangkan angka kesakitan pralahir pada sectio caesaria jauh lebih rendah dibandingkan dengan melahirkan pervagina (Indiarti, 2007). Kejadian melahirkan section caesaria berisiko mengalami postpartum blues daripada postpartum normal, maka ibu sectio caesaria perlu dilakukan dukungan fisik dan psikologis dalam pencegahan postpartum blues, dengan alasan lama perawatan section caesaria.

ETIOLOGI SINDROM BABY BLUES Beberapa hal yang disebutkan sebagai penyebab terjadinya baby blues syndrome, diantaranya: 1. Perubahan hormonal. Pasca melahirkan terjadi penurunan kadar estrogen dan progesterone yang drastis, dan juga disertai penurunan kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang menyebabkan mudah lelah, penurunan mood, dan perasaan tertekan. 2. Fisik. Hadirnya si kecil dalam keluarga menyebabkan pula perubahan ritme kehidupan sosial dalam keluarga, terutama ibu. Mengasuh si kecil sepanjang siang dan malam sangat menguras energi ibu, menyebabkan berkurangnya waktu istirahat, sehingga terjadi penurunan ketahanan dalam menghadapi masalah. 3. Psikis. Kecemasan terhadap berbagai hal, seperti ketidakmampuan dalam mengurus si kecil, ketidak mampuan mengatasi dalam berbagai permasalahan, rasa tidak percaya diri karena perubahan bentuk tubuh dari sebelum hamil serta kurangnya perhatian keluarga terutama suami ikut mempengaruhi terjadinya depresi. 4. Sosial. Perubahan gaya hidup dengan peran sebagai ibu baru butuh adaptasi. Rasa keterikatan yang sangat pada si kecil dan rasa dijauhi oleh lingkungan juga berperan dalam depresi. GEJALA

23

Gejala biasanya bervariasi dari derajat ringan hingga berat. Adapun gejala yang biasanya muncul antara lain: 1. Perasaan cemas yang berlebihan, sedih, murung, dan sering menangis. 2. Seringkali merasa kelelahan dan sakit kepala. 3. Perasaan ketidakmampuan, misalnya dalam mengurus si kecil. Seringkali ibu yang pada awalnya mengalami baby blues syndrome kemudian berkembang menjadi lebih lama dan lebih berat intensitasnya. Apabila gejala yang terjadi telah mengganggu dalam melaksanakan tugas sehari-hari maka termasuk dalam kategori depresi pasca melahirkan, biasanya lebih sering terjadi pada wanita dengan riwayat depresi sebelumnya. Depresi pasca melahirkan disertai dengan tanda-tanda: 1. Kelelahan yang berkepanjangan, susah tidur, dan insomnia. 2. Hilangnya perasaan bahagia dan minat untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. 3. Tidak memperhatikan diri sendiri dan menarik diri dari keluarga dan teman. 4. Tidak memperhatikan atau bahkan perhatian yang berlebihan pada si kecil. 5. Perasaan takut telah menyakiti si kecil. 6. Tidak tertarik pada seks. 7. Perasaan berubah-ubah dengan ekstrim, terganggu proses berpikir dan konsentrasi. PENATALAKSANAAN Postpartum blues biasanya ringan dalam keparahan dan akan selesai secara spontan. Tidak ada pengobatan khusus diperlukan, selain dukungan dan jaminan. Evaluasi lebih lanjut diperlukan jika gejala berlangsung lebih dari 2 minggu.

PENCEGAHAN SINDROM BABY BLUES Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:

24

1. Mintalah bantuan orang lain, misalnya kerabat atau teman untuk membantu Anda mengurus si kecil. 2. Ibu yang baru saja melahirkan sangat butuh istirahat dan tidur yang cukup. Lebih hanyak istirahat di minggu-minggu dan bulan-bulan pertama setelah melahirkan, bisa mencegah depresi dan memulihkan tenaga yang seolah terkuras habis. 3. Hindari makanan manis serta makanan dan minuman yang mengandung kafein. Karena kedua makanan ini berpotensi memperburuk depresi. 4. Konsumsilah makanan yang bernutrisi agar kondisi tubuh cepat pulih, sehat dan segar. 5. Cobalah berbagi rasa dengan suami atau orang terdekat lainnya. Dukungan dari mereka bisa membantu Anda mengurangi depresi. Agar baby blues syndrome dapat diminimalisir maka yang pertama harus dipersiapkan oleh sebuah keluarga yang akan menginginkan seorang anak adalah kehamilan yang terencana yang didukung oleh kesiapan mental, financial, dan sosial dari ayah dan ibu. Persiapkan pula pengetahuan dasar calon ayah dan calon ibu tentang kehamilan, proses melahirkan, sampai dengan cara merawat si kecil. Sebaiknya diskusikan juga tentang pembagian kerja anata ibu dan ayah pada saat kehamilan hingga si kecil dilaharkan sehingga ibu mempunyai waktu yang cukup untuk beristirahat. Jika diperlukan pertimbangkan pula untuk mempunyai asisten dalam membantu mengurus rumah tangga.

2.2.2 Depresi Post Partum Depresi postpartum terjadi dalam 10-15% wanita pada populasi umum. Depresi postpartum paling sering terjadi dalam 4 bulan pertama setelah melahirkan, tetapi dapat terjadi kapan pun pada tahun pertama. Depresi postpartum tidak berbeda dari depresi yang dapat terjadi setiap saat lainnya dalam kehidupan wanita. Masa pasca-melahirkan adalah waktu yang paling rentan bagi wanita untuk mengembangkan penyakit kejiwaan. Wanita yang menderita 1 episode depresi mayor setelah melahirkan memiliki risiko kekambuhan sekitar 25%.

25

Perempuan resiko tertinggi adalah mereka dengan sejarah pribadi depresi, episode sebelumnya depresi pasca melahirkan, atau depresi selama kehamilan. Selain memiliki riwayat depresi, kehidupan yang penuh stress akhir-akhir ini, stres sehari-hari seperti perawatan anak, kurangnya dukungan sosial (terutama dari pasangan), kehamilan yang tidak diinginkan, dan status asuransi telah divalidasi sebagai faktor risiko. Biasanya, depresi pascamelahirkan berkembang secara diam-diam selama 3 bulan pertama pasca melahirkan, meskipun gangguan tersebut mungkin memiliki onset yang lebih akut. Depresi postpartum lebih persistent dan melemahkan daripada postpartum blues. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN DEPRESI POST PARTUM Cycde (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa depresi postpartum tidak berbeda secara mencolok dengan gangguan mental atau gangguan emosional. Suasana sekitar kehamilan dan kelahiran dapat dikatakan bukan penyebab tapi pencetus timbulnya gangguan emosional. Nadesul (1992), penyebab nyata terjadinya gangguan pasca melahirkan adalah adanya ketidakseimbangan hormonal ibu, yang merupakan efek sampingan kehamilan dan persalinan. Sarafino (Yanita dan Zamralita, 2001), faktor lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami penolakan dari orang tuanya atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi terhadap perpisahan, dan ketidakpuasaan dalam pernikahan. Perempuan yang memiliki sejarah masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan variabel sikap selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan kontrol eksternal berhubungan dengan munculnya gejala depresi. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh LlewellynJones (1994), karakteristik wanita yang berisiko mengalami depresi postpartum adalah : wanita yang mempunyai sejarah pernah mengalami depresi, wanita yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis, wanita yang kurang mendapatkan dukungan dari suami atau orangorang terdekatnya selama hamil dan setelah melahirkan, wanita yang jarang berkonsultasi dengan dokter selama masa kehamilannya misalnya kurang komunikasi dan informasi, wanita yang mengalami komplikasi selama kehamilan. Pitt (Regina dkk, 2001), mengemukakan 4 faktor penyebab depresi postpartum sebagai berikut :

26

a. Faktor konstitusional. Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat. b. Faktor fisik. Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting. Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan faktor penyebab yang sudah pasti. c. Faktor psikologis. Peralihan yang cepat dari keadaan dua dalam satu pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel (Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak. d. Faktor sosial. Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan. Menurut Kruckman (Yanita dan zamralita, 2001), menyatakan terjadinya depresi pascasalin dipengaruhi oleh faktor : 1. Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat. 2. Karakteristik ibu, yang meliputi : a. Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang perempuan untuk melahirkan pada usia antara 2030 tahun, dan hal ini mendukung masalah periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Faktor usia perempuan
27

yang bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan kesiapan mental perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu. b. Faktor pengalaman. Beberapa penelitian diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Paykel dan Inwood (Regina dkk, 2001) mengatakan bahwa depresi pascasalin ini lebih banyak ditemukan pada perempuan primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat menimbulkan stres. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Le Masters yang melibatkan suami istri muda dari kelas sosial menengah mengajukan hipotesis bahwa 83% dari mereka mengalami krisis setelah kelahiran bayi pertama. c. Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja atau melakukan aktivitasnya diluar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang tua dari anakanak mereka (Kartono, 1992). d. Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta intervensi medis yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang ditimbulkan pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis yang muncul dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascasalin. e. Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab depresi postpartum adalah faktor konstitusional, faktor fisik yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologi, faktor sosial dan karakteristik ibu.

GEJALA-GEJALA DEPRESI POST PARTUM Depresi merupakan gangguan yang betulbetul dipertimbangkan sebagai

psikopatologi yang paling sering mendahului bunuh diri, sehingga tidak jarang berakhir dengan kematian. Gejala depresi seringkali timbul bersamaan dengan gejala kecemasan.
28

Manifestasi dari kedua gangguan ini lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran mau bunuh diri. enurut Vandenberg (dalam Cunningham dkk, 1995), menyatakan bahwa keluhan dan gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi lainnya. Hal yang terutama mengkhawatirkan adalah pikiran pikiran ingin bunuh diri, wahamwaham paranoid dan ancaman kekerasan terhadap anakanaknya. Hal senada juga diungkapkan oleh Ling dan Duff (2001), bahwa gejala depresi postpartum yang dialami 60 % wanita hampir sama dengan gejala depresi pada umumnya. Tetapi dibandingkan dengan gangguan depresi yang umum, depresi postpartum mempunyai karakteristik yang spesifik antara lain : a. Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi mimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia. b. Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia. c. Fobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacammacam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan peralatan operasi dan jarum (Duffet-Smith, 1995). d. Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya. e. Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas

29

atau bahagia terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002). f. Perubahan mood. Menurut Sloane dan Bennedict (1997), menyatakan bahwa depresi postpartum muncul dengan gejala sebagai berikut : kurang nafsu makan, sedih murung, perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus serta mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perasaan bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benarbenar memusuhi bayinya. Menurut Nevid dkk (1997), depresi postpartum sering disertai gangguan nafsu makan dan gangguan tidur, rendahnya harga diri dan kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi atau perhatian. Kriteria diagnosis spesifik depresi postpartum tidak dimasukkan di dalam DSM-IV, dimana tidak terdapat informasi yang adekuat untuk membuat diagnosis spesifik. Diagnosis dapat dibuat jika depresi terjadi dalam hubungan temporal dengan kelahiran anak dengan onset episode dalam 4 minggu pasca persalinan. Menurut DSM IV, simptomsimptom yang biasanya muncul pada episode postpartum antara lain perubahan mood, labilitas mood dan sikap yang berlebihan terhadap bayi. Wanita yang menderita depresi postpartum sering mengalami kecemasan yang sangat hebat dan sering panik. Meskipun belum ada kriteria diagnosis spesifik dalam DSM-IV, secara karakteristik penderita depresi postpartum mulai mengeluh kelelahan, perubahan mood, memiliki episode kesedihan, kecurigaan dan kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain. Selain itu, penderita depresi postpartum memiliki perasaan tidak ingin merawat bayinya, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya. Gejala depresi pascasalin ini memang lebih ringan dibandingkan dengan psikosis pascasalin. Meskipun demikian, kelainankelainan tersebut memiliki potensi untuk menimbulkan kesulitan atau masalah bagi ibu yang mengalaminya ( Kruckman dalam Yanita dan
30

Zamralita,

2001).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejalagejala depresi postpartum antara lain adalah trauma terhadap intervensi medis yang dialami, kelelahan, perubahan mood, gangguan nafsu makan, gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.

PENATALAKSANAAN Singkirkan penyebab fisik untuk gangguan mood (misalnya, disfungsi tiroid, anemia). Evaluasi awal termasuk riwayat kesehatan menyeluruh, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium rutin. Tingkat keparahan penyakit akan menentukan terapi yang tepat. Strategi pengobatan non-farmakologis berguna untuk wanita dengan gejala depresi ringan sampai sedang. Psikoterapi individu atau kelompok (kognitif-perilaku dan terapi interpersonal) adalah sangat efektif. Psychoeducational atau dukungan kelompok juga dapat membantu. Modalitas ini dapat sangat menarik bagi ibu yang menyusui dan yang ingin menghindari minum obat. Strategi farmakologis yang diindikasikan untuk gejala depresi sedang sampai berat atau ketika seorang wanita tidak merespon pengobatan non-farmakologis. Obat juga dapat digunakan dalam hubungannya dengan terapi non-farmakologis. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) adalah agen lini pertama dan efektif pada wanita dengan depresi pasca-melahirkan. Gunakan dosis antidepresan standar, misalnya, fluoxetine (Prozac) 10-60 mg / hari, sertraline (Zoloft) 50-200 mg / hari, paroxetine (Paxil) 20-60 mg / hari, citalopram (Celexa) 20-60 mg / hari , atau escitalopram (Lexapro) 10-20 mg / hari. Akibat yang merugikan dari obat kategori ini termasuk insomnia, mual, penurunan nafsu makan, sakit kepala, dan disfungsi seksual. Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs), seperti venlafaxine (Effexor) 75-300 mg / hari atau duloxetine (Cymbalta) 40-60 mg / hari, juga sangat efektif untuk depresi dan kecemasan.

31

Antidepresan trisiklik (misalnya, Nortriptilin 50-150 mg / hari) mungkin berguna bagi wanita dengan gangguan tidur, walaupun beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan lebih merespon obat kategori SSRI. Akibat yang merugikan dari antidepresan trisiklik termasuk mengantuk, berat badan bertambah, mulut kering, sembelit, dan disfungsi seksual. Biasanya, gejala mulai berkurang dalam 2-4 minggu. Sebuah penyembuhan penuh dapat berlangsung beberapa bulan. Pada sebagian responden, meningkatkan dosis dapat membantu. Agen anxiolytic seperti lorazepam dan clonazepam mungkin berguna sebagai pengobatan adjunctive pada pasien dengan kecemasan dan gangguan tidur. Data awal menunjukkan bahwa estrogen, sendiri atau dalam kombinasi dengan antidepresan, mungkin bermanfaat, namun tetap antidepresan menjadi baris pertama pengobatan. Jika ini adalah episode pertama dari depresi, pengobatan selama 6-12 bulan dianjurkan. Untuk wanita dengan depresi mayor berulang, diindikasikan perawatan pengobatan jangka panjang dengan antidepresan. Kegagalan untuk mengobati atau pengobatan yang tidak adekuat dapat

mengakibatkan memburuknya hubungan antara ibu dan bayi atau pasangan. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko morbiditas pada ibu dan bayi, serta kompromi sosial dan pengembangan pendidikan sang bayi. Semakin cepat pengobatan maka semakin baik prognosisnya. Rawat Inap mungkin diperlukan untuk depresi pascamelahirkan yang parah. Terapi electroconvulsive (ECT) adalah cepat, aman, dan efektif untuk perempuan dengan depresi pascamelahirkan yang parah, khususnya mereka dengan pikiran bunuh diri yang aktif. Masih ada terapi yang masih belum terbukti seperti penggunaan cahaya terang dan terapi gizi (terutama meningkatkan omega-3 bebas asam lemak ).
32

2.2.3 Psikosis Post Partum Psikosis post partum adalah penyakit langka, dibandingkan dengan tingkat depresi postpartum atau kecemasan. Hal ini terjadi pada sekitar 1-2 dari setiap 1.000 kelahiran, atau sekitar 0,01% dari kelahiran. Onset biasanya tiba-tiba, paling sering dalam melahirkan 4 minggu pertama. Gejala psikosis postpartum dapat mencakup: Delusi atau keyakinan aneh Halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada) Merasa sangat kesal Hiperaktif Penurunan kebutuhan atau ketidakmampuan untuk tidur Paranoia dan kecurigaan Perubahan mood dengan cepat Kesulitan berkomunikasi Faktor risiko paling signifikan untuk psikosis pascamelahirkan adalah sejarah pribadi atau keluarga gangguan bipolar, atau episode psikotik sebelumnya. Dari wanita yang mengalami psikosis pasca melahirkan, ada kemungkinan sekitar 5% untuk terjadi pembunuhan bayi atau bunuh diri sendiri. Hal ini karena perempuan yang mengalami psikosis sedang lari dari kenyataan. Dalam keadaan psikotik pasien, delusi dan keyakinan masuk akal baginya, mereka merasa sangat berarti dan sering religius. Perawatan segera untuk para wanita adalah penting.

33

Hal ini juga penting untuk mengetahui bahwa banyak korban psikosis postpartum tidak pernah mendapatkan delusi berisi perintah kekerasan. Delusi mengambil banyak bentuk, dan tidak semua dari mereka adalah destruktif. Kebanyakan wanita yang mengalami psikosis postpartum tidak merugikan diri sendiri atau orang lain. Namun, selalu ada risiko bahaya karena psikosis termasuk delusi berpikir dan pertimbangan tidak rasional, dan inilah mengapa wanita dengan penyakit ini harus dirawat dan dimonitor dengan baik oleh profesional kesehatan yang terlatih. Psikosis postpartum adalah darurat psikiatris yang biasanya membutuhkan perawatan rawat inap. Kebanyakan pasien dengan psikosis postpartum mengalami gangguan bipolar. Pengobatan akut termasuk mood stabilizer (misalnya, lithium, asam valproat, carbamazepine) dalam kombinasi dengan obat antipsikotik dan benzodiazepine. ECT (biasanya bilateral) ditoleransi dengan baik dan cepat efektif. Risiko bunuh diri adalah signifikan pada populasi ini.

34