Anda di halaman 1dari 6

Pengaruh Merokok terhadap Faktor Prognosis Kanker Sel Transisional Kandung Kemih

Mohseni MG,Zand S, Aghamir SMK Department of Urology, Sina Hospital, Tehran University of Medical Science, Tehran, Iran

Abstrak
Tujuan: penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh merokok terhadap karakteristik klinis dan kecenderungan pertumbuhan karsinoma sel transisional kandung kemih. Materi dan Metode: Pada penelitian case-control restrospektif sejak bulan Februari tahun 2000 sampai bulan Maret tahun 2003, pasien dengan karsinoma sel transisional kandung kemih, yang dirujuk ke klinik peneliti, dipilih dan dibagi menjadi kelompok low-grade dan high-grade. Masing-masing kelompok disesuaikan berdasarkan faktor risiko lain yang telah diketahui kemudian pada tiap kelompok dilakukan evaluasi pengaruh merokok terhadap ukuran, jumlah, dan kelas tumor. Hasil: Total sebanyak 185 pasien, dengan rata-rata usia 65,1 14,0 tahun, dimasukkan kedalam penelitian ini, dimana 36 diantaranya berjenis kelamin perempuan, dan 149 merupakan laki-laki (perbandingan laki-laki terhadap perempuan 4,1 banding 1). Sebanyak 83 pasien memiliki riwayat merokok (44,9%) dengan rata-rata konsumsi rokok 20,01 11,09 bungkus tahun (rentang 0,75 sampai 60). Riwayat merokok positif pada 36,1% pasien dengan tumor lowgrade, sedangkan 90% pasien dengan tumor high-grade memiliki riwayat merokok. (P = 0,000, OR 15,9, 95% CI: 6,7-36,9). Terdapat korelasi yang signifikan secara statistik antara riwayat merokok terhadap ukuran dan jumlah lesi tumor (P = 0,000, P = 0,000 berturut-turut). Riwayat merokok positif juga telah dihubungkan dengan kelas tumor yang lebih tinggi baik pada laki-laki maupun perempuan (OR = 12,8 dan 8,8 berturut-turut). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa merokok tidak hanya menginduksi kanker kandung kemih, tetapi juga, meningkatkan kelas tumor ketika sudah berkembang, menghasilkan prognosis yang lebih buruk. Sehingga,

penghentian merokok kemungkinan dapat merubah perjalanan kanker kandung kemih ke arah yang lebih baik. Kata kunci: karsinoma sel transisional, merokok, kelas tumor

Pendahuluan
Kandung kemih merupakan lokasi yang paling sering pada kanker traktur urinarius. Lebih dari 53200 kasus baru kanker kandung kemih didiagnosis pada tahun 2000 di Amerika Serikat (1), hal ini membuat tumor kandung kemih sebagai tumor paling sering ke-empat pada laki-laki dan ke-delapan pada perempuan
(2) (1)

Diantara laki-laki usia pertengahan, kanker kandung kemih merupakan keganasan paling sering kedua . Selama 12200 kasus kematian dilaporkan selama tahun
(1)

2000 di Amerika Serikat

. Hal ini berarti bahwa kanker kandung kemih

menempati urutan ketujuh penyebab kematian akibat kanker (1). Beberapa faktor risiko kanker kandung kemih telah diketahui, seperti zat kimia industri retinoblastoma merokok
(10) (3) (4) (5,6)

, materi kimia

, kelainan genetik (mutasi gen P53


(8)

) gen , dan

(7)

, cyclophosphamide

, infeksi traktur urinarius kronik

(9)

. Parameter seperti kelas patologis dan stadium tumor dapat merubah

riwayat perjalanan penyakit sebenarnya, prognosis, dan tingkat ketahanan hidup pasien
(11,12)

. Sehingga faktor-faktor yang telah dideskripsikan yang dapat

mempengaruhi kelas atau faktor prognosis kanker kandung kemih dapat membantu meningkatkan ketahanan hidup pasien. Penelitian ini didesain untuk mengevaluasi dampak dari merokok terhadap karakteristik prognosis karsinoma sel transisional kanker kandung kemih.

Materi dan Metode


Pada penelitian case-control restrospektif sejak bulan Februari 2000 sampai bulan Maret 2003, pasien rujukan pada klinik peneliti yang diduga kanker kandung kemih, menjalani pemeriksaan sitoskopi jika dibutuhkan. Pasien yang telah didiagnosis kanker sel transisional kandung kemih berdasarkan biopsi juga dimasukkan dalam penelitian ini dan dibagi menjadi kelompok high-grade (tumor grade III) dan kelompok low-grade (grade patologis kurang dari III) berdasarkan sistem grading WHO
(13)

. Untuk masing-masing kelompok dicatat usia, jenis

kelamin, status merokok, riwayat faktor risiko kanker kandung kemih lain, dan laporan sitoskopi karakteristik tumor seperti ukuran dan jumlah lesi. Tumor dengan ukuran kurang dari 2 cm dianggap kecil, 2-5 cm sedang, dan lebih dari 5 cm sebagai ukuran besar. Analsisi statistik dilakukan menggunakan uji chisquare, uji independent t-test, dan analysis of variance untuk membandingkan variabel pada kelompok low-grade dan high-grade. Dimana nilai P yang kurang dari 0,05 dianggap signifikan.

Hasil
Tabel 1. Karakteristik pasien dan tumor pada kelompok low-grade dan high-grade Low-grade N Riwayat konsumsi opium Ya Tidak Kecil Ukuran tumor Sedang Besar Jumlah lesi Tunggal Multipel Laki-laki Perempuan Ya Tidak 6 149 95 38 22 134 21 123 32 56 99 % 3,8 96,2 61,3 24,5 14,2 86,5 13,5 79,4 20,6 36,1 63,9 High-grade N 4 26 2 13 15 14 16 26 4 27 3 % 13,3 86,7 6,7 43,4 50 46,7 53,3 86,7 13,3 90 10 10 175 97 51 37 148 37 149 36 83 102 Total % (5,4) (94,6) (52,4) (27,6) (20) (80) (20) (80,5) (19,5) (44,8) (55,2) 0,000 0,000 0,059 P Value

Jenis Kelamin

0,354

Riwayat merokok

0,000 0,000

Riwayat merokok bungkus-tahun Total

6,5511,2 155 83,7

21,5411,8 30 16,3 185 (100)

Total 185 pasien dengan karsinoma sel transisional kandung kemih dimasukkan dalam penelitian ini. Usia rata-rata 65,114,1 tahun dengan 149 (80,5%) diantaranya laki-laki dan 36 (19,5%) berjenis kelamin perempuan. Dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 4,1 banding 1. Terdapat 85 (44,9%) degan riwayat merokok positif dengan rata-rata konsumsi tokok 20,0111,09 (jangka 0,75 sampai 60) bungkus-tahun. Tiga puluh pasien termasuk dalam kelompok high-grade (16,3%) dan 155 (83,7%) pada kelompok low-grade (tabel 1). Jika jenis kelamin dan usia diperhitungkan dalam penelitian, tidak terdapat perbedaan distribusi yang signifikan antara perokok dan

non-perokok. Disamping itu, usia dan jenis kelamin pada kelompok high-grade dan low-grade juga tidak signifikan.

Tabel 2. Odds ratio untuk merokok pada berbagai kelompok berbeda Odds Ratio Merokok Grade Merokok Grade pada laki-laki Merokok Grade (usia >50) 15,9 12,8 13,4 95% CI 6,7-36,9 5,7-28,7 4,8-35,9

Secara keseluruhan 36,1% pasien dengan tumor low-grade memiliki riwayat merokok positif, sementara itu 90% pasien dengan tumor high-grade memiliki riwayat merokok yang positif (P = 0,000 OR 15,9, 95% CI 6,7-36,9). Diantara pasien yang tidak merokok 75,5% ukuran tumor tergolong kecil, tetapi 75,9% dengan ukuran sedang atau besar pada perokok (P = 0,000). Dari 102 pasien yang bukan perokok, 93,1% memiliki lesi tumor tunggal, sedangkan pada perokok 63,1% memiliki lebih dari satu lesi tumor. Dengan menggunakan uji analysis of variance terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat merokok antara kelompok low-grade da high-grade (P = 0,000) (tabel 1). Rata-rata konsumsi rokok 21,5411,8 bungkus rokok-tahun ada grade III dan 0 pada grade 0. Uji Benferone Post Hoc menunjukkan bahwa perbedaan paling banyak muncul antara kelas III dan kelasII dibandingkan kelas lain (P = 0,000 vs P = 0,002). Di sisi lain, tingkat merokok secara statistik lebih tinggi pada pasien dengan tumor high-grade. Perbedaan ini dapat terlihat baik pada laki-laki maupun perempuan (P = 0,000 dan P = 0,001, berturut-turut) (tabel 2).

Diskusi
Merokok merupakan faktor risiko kanker kandung kemih yang telah diketahui dan merokok meningkatkan tingkat insidens sampai dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan yang tidak pernah merokok
(10)

. Tetapi, terdapat beberapa

penelitian yang mengavaluasi pengaruh merokok terhadap pola pertumbuhan tumor, grade patologis, dan karakteristik prognosis lain. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengavaluasi hubungan potensial tersebut.

Usia rata-rata pasien dalam penelitian ini mirip dengan penelitian yang sudah ada sebelumnya
(14)

. Pada penelitian lain perbandingan laki-laki dan


(1, 15)

perempuan antara 2,5 banding 1 sampai 3 banding 1 dari penelitian ini (4,1 banding 1).

, yang sedikit berbeda

Adanya lesi tumor yang lebih besar pada perokok juga telah ditemukan sebelumnya. Busto Catanon dkk juga telah menunjukkan bahwa lesi tumor yang lebih besar dari 3 cm memiliki kelas yang lebih tinggi dkk
(17) (16)

. Raitanen

melaporkan bahwa tingkat rekurensi lebih tinggi diantara pasien dengan

fokus tumor yang lebih dari 3. Penelitian ini tidak hanya menunjukkan lesi yang lebih besar memiliki kelas yang lebih tinggi, tetapi juga menunjukkan bahwa perokok memiliki lesi yang lebih besar dan lebih banyak. Pasien dengan jumlah lesi lebih dari satu memiliki tingkat rata-rata merokok lebih tinggi dibandingkan tumor tunggal (20,89 vs 6,01 bungkus-tahun). Penemuan ini memberikan kesan adanya kemungkinan pengaruh merokok terhadap karakteristik tumor. Penemuan utama pada penelitian ini adalah hubungan antara kelas tumor dan riwayat merokok. Seperti yang diindikasikan, perokok memiliki kemungkinan yang lebih tinggi menderita tumor high-grade (OR=15,9). Thompson
(18)

juga

memberikan kesan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat merokok dengan stadium, grade, dan tingkat rekurensi; tetapi, Fleshner dkk(19) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dan melaporkan bahwa frekuensi pada masing-masing kelas tidak memiliki perbedaan antara perokok dan nonperokok. Penelitian ini menunjukkan bahwa riwayat merokok memiliki

kemungkinan lebih tinggi memiliki tumor high-grade sampai 15,9 kali lipat (95% CI: 6,7-36,9). Kemungkinan ini terdapat baik pada laki-laki maupun perempuan. Dampak yang lebih besar terhadap merokok pada perempuan juga telah dilaporkan pada penelitian lain (20). Jadi, tampaknya merokok tidak hanya meningkatkan risiko kanker kandung kemih, tetapi juga dihubungkan dengan kelas tumor yang lebih tinggi.

Kesimpulan
Sementara merokok merupakan faktor risiko yang paling potensial terhadap kanker kandung kemih, efeknya pada perjalanan penyakit alami juga sangat besar. Oleh karena itu, perlu ditanamkan bahwa pasien karsinoma sel transisional kandung kemih dengan riwayat merokok yang positif dapat saja memiliki tumor high-grade dan dibutuhkan program follow up yang lebih teliti.