Anda di halaman 1dari 7

Pemboran berarah (directional drilling) adalah metode pemboran yang mengarahkan lubang bor menurut suatu lintasan tertentu

ke sebuah titik target yang terletak tidak vertikal di bawah mulut sumur. Untuk menemukan jebakan hidrokarbon sebenarnya selalu diinginkan lubang yang vertikal. A. Alasan-alasan penggunaan directional drilling 1. Reservoir berada di bawah perkotaan, lalu lintas yang ramai, tempat-tempat bersejarah ataupun lahan perkebunan (pertanian). Kalau dilakukan pemboran vertikal di perkotaan, perumahan serta tempat-tempat bersejarah adalah sulit karena harus dilakukan pembongkaran untuk membuat lokasi pemboran. Karena itu lokasi dibuat pada tempat-tempat yang memungkinkan kemudian pemboran diarahkan ke Reservoirnya seperti yang terlihat pada Gambar. 5. Begitu juga untuk daerah pertanian (perkebunan) yang subur , bila Reservoir luas sering digunakan sistem cluster (berkelompok). Dengan system ini akan menghemat pemakaian tanah untuk lokasi pemboran.

2. Reservoir hidrokarbon berada di bawah perairan yang dekat dengan daratan Daripada membuat suatu platform atau pemboran dengan tongkang maka mendirikan menara di daratan dan pemboran diarahkan ke Reservoirnya yang berada di bawah danau adalah pertimbangan yang sangat baik dari segi teknis seperti terlihat pada Gambar 6.

GAMBAR 5 RESERVOIR BERADA DI BAWAH PERKOTAAN

GAMBAR 6 RESERVOIR DI BAWAH PERAIRAN 3. Reservoir berada di bawah kubah garam Bila Reservoir berada di bawah kubah garam, jangan dibuat sumur vertikal menembus kubah garam tersebut, karena dapat menimbulkan permasalahan selama pemboran maupun pada saat sedang produksi. Masalah yang akan timbul selama pemboran adalah terjadinya kehilangan lumpur (lost circulation) akibat dari kubah garam yang memiliki porositas yang besar sehingga lumpur bor cenderung untuk masuk ke dalam kubah garam tersebut, bila terjadi lost circulation maka akan menimbulkan kick yang akan berujung pada terjadinya semburan liar (blow out). Selain itu, selama pemboran kubah garam akan menyebabkan runtuhnya dinding sumur karena sifat fisik kubah garam yang tidak kompak (massive) sehingga nantinya akan menyebabkan pipa pemboran terjepit. Kubah garam juga menyebabkan tersumbatnya lubang perforasi pada casing produksi.

GAMBAR 7 SALT DOME DRILLING 4. Reservoir berada di bawah patahan Reservoir hidrokarbon yang berada di bawah patahan jangan digunakan vertical drilling yang menembus patahan. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan pemboran yakni terjadi lost circulation pada saat menembus patahan tersebut. Walaupun disaat pemboran permasalahan tersebut dapat diatasi namun kemudian akan timbul permasalahan lagi dimana lubang akan terpotong oleh patahan.

GAMBAR 8 FAULT CONTROLLING 5. Reservoir berada di bawah laut lepas pantai Bila semua sumur dibuat vertikal di lepas pantai maka haruslah dibuat platform untuk satu sumur. Untuk pelaksanaan ini sangat mahal biayanya. Jadi untuk menghemat biaya dibuatlah satu sumur vertikal dan lainnya dibuat berarah menuju Reservoir yang telah ditentukan untuk satu platform. Sistem ini disebut offshore cluster system.

GAMBAR 9 OFFSHORE DRILLING 6. Relief well Bila suatu sumur mengalami blow out dan terbakar, maka dibuat satu atau dua sumur berarah menuju formasi yang menyebabkan terjadinya blow out tersebut, dimana melalui sumur yang dibuat tadi dipompakan fluida untuk mematikan sumur yang terbakar. Sumur ini disebut relief well.

GAMBAR 10 RELIEF WELL 7. Side Wall Tracking Pada suatu pemboran sumur, terkadang ada barang-barang yang jatuh, pipa terjepit atau putus yang

tidak dapat diangkat ke permukaan. Maka pada umumnya lubang yang sudah dibor tersebut disemen, kemudian lubang sumur dibelokkan dan diarahkan kembali menuju Reservoir yang akan ditembus.

MWD adalah proses mengambil data beberapa parameter fisik sumur sembari membor sumur & secara real-time. Data2 yg dapat diperoleh adalah: 1. Properti formasi: resistivity, porosity & density (ini disebut juga LWD: Logging-While-Drilling). 2. Survey trayektori lubang sumur: inklinasi, azimut & "tool-face". 3. Data "drilling mechanics": "weight-on-bit" & "torque-on-bit".

MWD adalah proses mengambil data beberapa parameter fisik sumur sembari membor sumur & secara real-time. Data2 yg dapat diperoleh adalah: 1. Properti formasi: resistivity, porosity & density (ini disebut juga LWD: Logging-While-Drilling). 2. Survey trayektori lubang sumur: inklinasi, azimut & "tool-face". 3. Data "drilling mechanics": "weight-on-bit" & "torque-on-bit". Seperangkat sensor/transmitter/receiver yg dipasang pada MWD tools (di atas drill bit) akan mengukur temperatur, pressure, inklinasi, dsb. Data tsb lalu dikirim ke permukaan yg umumnya memakai prinsip mud-pulse telemetry (mengirim sinyal analog lewat kolom lumpur di dalam lubang sumur, nah lho !). Data tsb juga disimpan dalam memory di dalam tool utk diretrieve nanti di permukaan. Di permukaan, ada seperangkat sensor/transduser yg akan menangkap mud-pulse tsb lalu oleh komputer dikonversi menjadi data digital, dikirim ke komputer lain utk diolah, direcord & ditampilkan utk interpretasi. Cara telemetry lainnya adalah memakai kabel wireline. Kelebihan utama MWD adalah operator dapat mengetahui berbagai properti sumur & formasi secara real-time pada saat drilling.

MWD?Apaan tuh?
MWD itu kepanjangan dari Measurement While Drilling yaitu teknik pengukuran dimana saat pengeboran juga dilakukan pengukuran secara elektrik,jadi pada pipa bor dipasang alat ukur.Seiring perkembangan teknologi,MWD di-extend (dikembangkan) dengan LWD (Logging While Drilling)menjadi satu kesatuan.dimana MWD berfungsi sebagai recorder dari lithology (jenis lapisan)yang sedang dibor dan LWD sebagai pengirim sinyal denyut berupa elektron pada lumpur bor sebagai media yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk log di permukaan. Data yang didapat dari pengukuran ini adalah data real-time karena selisih waktu antara pembacaan alat dengan proses penetrasi mata bor sangatlah kecil dibanding wireline logging yang hanya baru bisa dilakukan setelah

proses pemasangan casing selesai.Informasi kedalaman alat ini adalah berdasarkan panjang pipa bor. Keuntungan dari alat ini yaitu dalam melakukan pengukuran properti suatu reservoir sebelum fluida bor menginvasi reservoir lebih dalam lagi ,data real time hasil pengukuran MWD/LWD juga digunakan untuk menuntun alat bor menuju target ,untuk mengidentifikasi formasi sementara akibat invasi dari lumpur bor masih dangkal. Kekurangannya,harga dari penggunaan (sewa) tool ini relatif mahal,padahal seorang engineer dituntut untuk meminimalisir biaya pengeboran .Selain itu apabila terjadi stuck pipe pada kondisi ekstrim,alat ini jelas tidak bisa diselamatkan dan pasti memakan biaya yang mahal untuk penggantian (harga sewa saja sudah mahal,apalagi harga alatnya??) Masih penasaran soal MWD? Tenang saja, IATMI akan mengadakan acara guest lecture bertopik MWD dalam pertengahan Desember ini,be there guys!
Halo Mas Anto, Scope pekerjaan Measurement While Drilling (MWD) adalah memberikan informasi bawah permukaan selama pengeboran berlangsung, mulai dari survey borehole (Inc dan Azm), temperature, pressure, real drilling parameter di downhole seperti RPM, WOB, torque, bending point, etc. termasuk juga Logging While Drilling, dimana data yang dihasilkan sama dengan proses wireline logging seperti Gamma Ray, resistivity, Neuton density, sonic, pressure test, azimuthal, bahkan seismic while drilling etc. perbedaannya proses tersebut dilakukan selama pengeboran berlangsung karena alat-alat M/LWD merupakan bagian dari Bottom hole assy. Tidak ada background khusus untuk bekerja sebagai MWD, bisa saja baik itu dr electrical, mechanical, geoscience, atau petroleum. karena dalam pekerjaannya sendiri seorang mwd engineer harus bisa mengoperasikan tool (mechanical & electrical), terlibat dalam drilling operation (Petroleum) dan juga pada saat logging while drilling harus melakukan QC pada data logging (geoscience). Banyak service company dengan mwd service, mulai dari Schulmberger, Halliburton, Baker, Weatherford, cougar, GE dan juga beberapa perusahaan local di indonesia seperti parama. Semoga bisa membantu.

engertian kick

Kick adalah merupakan suatu proses masuknya fluida formasi ke dalam lubang sumur. Terjadi karena kondisi tekanan Hidrostatik (Ph) lebih kecil dari pada tekanan formasi (Pf). Tekanan Hidrostatik turun tergantung pada berat jenis lumpur, dan ketinggian kolom lumpur. 2.3. Penyebab terjadinya Kick Kick dapat terjadi karena disebabkan oleh : 1. Berat jenis lumpur yang tidak memadai 2. Swab Effect 3. Menembus formasi gas 4. Tinggi kolom lumpur

2.3.1. Berat jenis lumpur yang tidak memadai Berat jenis lumpur turun dikarenakan bercampurnya fluida formasi dengan lumpur bor, fluida formasi yang cepat menurunkan berat jenis lumpur adalah gas. 2.3.2. Swab Effect Swab Effect terjadi apabila pencabutan rangkaian pipa pemboran yang terlalu cepat, dan viscositas lumpur yang terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan lumpur yang diatas bit terlambat turun ke bawah bit sehingga ruangan yang berada di bawahbit menjadi vakum, sehingga fluida formasi masuk kedalam lubang. Pencegahannya dapat dilakukan dengan mencabut rangkaian pipa bor jangan terlalu cepat, terutama di dalam open hole, dan usahakan viscositas lumpur jangan terlalu tinggi.

2.3.3. Menembus formasi gas Formasi gas mengandung gas di dalam pori pori batuannya, waktu menembus formasai gas, cutting yang dihasilkan akan mengandung gas. Gas keluar dari cutting dan masuk kedalam lumpur, makin lama gas makin banyak sehingga akan menurunkan berat jenis lumpur.

2.3.4. Tinggi kolom lumpur Tinggi kolom lumpur dapat turun dikarenakan lumpur yang masuk kedalam formasi (lost circulation), sehingga hal ini menyebabkan terjadinya kehilangan sirkulasi, maka berakibat berkurangnya volume lumpur juga dan akhirnya mengurangi tekanan hidrostatik lumpur itu sendiri, maka cairan formasi akan mendesak lumpur dalam sumur juga. Hal ini dapat disebabkan oleh : 1. Formasi pecah 2. Bit masuk formasi berongga, bergoa atau rekahan

2.4.

Tanda tanda terjadinya kick Tanda tanda Well kick dalam operasi pemboran dapat diketahui dari beberapa parameter,

yaitu : 2.4.1. Saat sedang dilangsungkannya pemboran 1. Laju penembusan tiba tiba naik 2. Volume di lumpur naik 3. Tekanan pompa untuk sirkulasi turun dengan kecepatan pompa naik. 4. Hadirnya gelembung gelembung gas pada lumpur 2.4.2. Saat menyambung pipa, pompa dihentikan 1. Aliran tetap walaupun pompa dihentikan. 2. Volume lumpur di tangki bertambah. 3. Tekanan pompa untuk sirkulasi makin turun dengan bertambahnya pipa.