Anda di halaman 1dari 28

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA MATERI GERAK BENDA MELALUI PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DI KELAS III SD NEGERI KUTAAGUNG

Oleh IMAM SANTOSO 817517841 imamsantoso250@rocketmail.com ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher oriented), metode yang digunakan kurang bervariasi, tidak terbiasa melakukan kegiatan percobaan yang dapat mengaktifkan siswa, akibatnya hasil pembelajaran menjadi rendah. Perolehan nilai kondisi awal hanya 58,18, yang mencapai KKM baru 27,27% sementara KKM adalah 70. Kondisi tersebut perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan penerapan metode eksperimen. Tujuan penelitian untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA materi gerak benda melalui penerapan metode eksperimen pada siswa kelas III SDN Kutaagung. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan Mc Targart melalui empat langkah tahapan : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi, dilakukan dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan proses dan hasil belajar. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan keaktifan belajar dari 5 siswa atau 45,45%, menjadi 8 siswa atau 72,73%, dan 100% atau 11 siswa pada siklus kedua, dan hasil belajar dari 58,18 naik menjadi 69,09, dan 80,00 pada siklus kedua, dengan tingkat ketuntasan belajar 3 siswa (27,27%) pada studi awal, 54,55% atau 6 siswa, 11 siswa atau 100% pada siklus kedua. Penelitian menyimpulkan bahwa penerapan metode eksperimen terbukti meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA materi gerak benda pada siswa kelas III SDN Kutaagung.

Kata Kunci: keaktifan, hasil, eksperimen PENDAHULUAN Pada saat sekarang ini perkembangan Ilmu Pengeetahuan Alam (IPA) telah melaju dengan pesat karena berhubungan erat dengan perkembangan teknologi. Perkembangan ini menggugah para pendidik di sekolah dasar untuk merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih terarah dan lebih berkualitas (Iskandar, 1996 :24). Berdasarkan penelitian awal dengan melaksanakan tes formatif, hasil belajar pembelajaran IPA kelas III SD Negeri Kutaagung, tidak sesuai dengan yang diharapkan, hal ini disebabkan karena metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung ceramah. Selain itu dalam Pembelajaran IPA di kelas, alat peraga jarang digunakan. Sehingga siswa tidak aktif dan tidak antusias dalam pembelajaran dan akibatnya hasil belajar siswa kelas kelas III SD Negeri Kutaagung ini, tidak mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimum) yang telah ditentukan. KKM yang ditentukan sebesar 70, dari jumlah siswa 11 siswa, hanya 27,27% siswa yang mencapai hasil belajar sesuai dengan target KKM yang telah ditentukan. Siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 72,73%. Jadi, siswa yang belum mencapai target KKM ada setengahnya dari siswa yang sudah mencapai target KKM. Untuk mempermudah dan memfokuskan proses penelitian rumusan masalah adalah apakah penggunaan kelas III SD Negeri Kutaagung? Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan metode eksperimen dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA materi gerak benda di

tentang penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada materi pokok gerak benda. Secara khusus dilaksanaknnya Penelitian Tindakan Kelas ini memiliki beberapa tujuan yaitu untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA materi pokok gerak benda melalui penerapan metode eksperimen pada kelas III SD Negeri Kutaagung.

Diharapkan hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat

dijadikan

sebagai bahan dan sumber rujukan pihak-pihak terkait (Dinas Pendidikan, sekolah, guru dan institusi pendidikan lainnya) dalam pengambilan kebijakan mutu pendidikan, dan sebagai upaya optimalisasi pelaksanaan pembelajaran aktif dan peningkatan profesionalisme guru dan praktek pembelajaran di kelas. Bagi siswa, dengan penerapan metode eksperimen, siswa dapat mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa, dan membantu siswa dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Bagi guru, menjadi pilihan alternatif bagi guru dalam memberikan pembelajaran IPA, dan dapat menambah wawasan bagi guru tentang pendekatan pembelajaran yang dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif sehingga meningkatkan kualitas dan hasil belajar siswa. Bagi sekolah, sebagai salah satu bahan kajian bagi sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA, serta dapat menciptakan lulusan yang berkompeten dan mampu bersaing ditingkat pendidikan lebih lanjut. KAJIAN PUSTAKA Kajian Teori Hakikat Pembelajaran IPA Dalam KTSP (Depdiknas, 2006:3) disebutkan bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsipsaja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. IPA mengandung makna pengajuan pertanyaan, pencarian jawaban, pemahaman jawaban, penyempurnaan jawaban baik tentang gejala maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis (Depdiknas,2002a: 1). Belajar IPA tidak sekedar belajar informasi IPA tentang fakta, konsep, prinsip, hukum dalam wujud pengetahuan deklaratif, akan tetapi belajar IPA juga belajar tentang cara memperoleh informasi IPA, cara IPA dan teknologi bekerja dalam bentuk pengetahuan prosedural, termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan metode ilmiah dan sikap ilmiah. Beberapa ilmuwan memberikan definisi IPA sesuai dengan

pengamatan dan pemahamannya. Carin (1993:3) mendefinisikan science sebagai The activity of questioning and exploring the universe and finding and expressing its hidden order, yaitu Suatu kegiatan berupa pertanyaan dan penyelidikan alam semesta dan penemuan dan pengungkapan serangkaian rahasia alam. Kualitas Pembelajaran Kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau juga keefektifan. Secara definitif efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan atau sasarannya (Etzioni,1994:140). Efektivitas ini sesunguhnya merupakan suatu konsep yang lebih luas mencakup berbagai faktor di dalam maupun di luar diri seseorang. Dengan demikian efektivitas tidak hanya dapat dilihat dari sisi produktivitas, akan tetapi juga dapat pula dilihat dari sisi persepsi atau sikap orangnya. Di samping itu, efektivitas juga dapat dilihat dari bagaimana tingkat kepuasan yang dicapai oleh orang (Robbins, 1997). Dengan demikian efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting, karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan seseorang dalam mencapai sasarannya atau suatu tingkatan terhadap manatujuan - tujuan dicapai (Prokopenko,1987:79), atau tingkat pencapaian tujuan (Hoy dan Miskel,1992:23). Sementara itu belajar dapat pula dikatakan sebagai komunikasi terencana yang menghasilkan perubahan atas sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam hubungan dengan sasaran khusus yang berkaitan dengan pola berperilaku yang diperlukan individu untuk mewujudkan secara lengkap tugas atau pekerjaan tertentu (Bramley,1996:81). Dengan demikian, yang dimaksud dengan efektivitas belajar adalah tingkat pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran seni. Pencapaian tujuan tersebut berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap melalui proses pembelajaran. Keaktifan Belajar Menurut kamus besar bahasa Indonesia, keaktifan adalah kegiatan (Poerwodarminto, 1992 : 17), sedang belajar merupakan proses perubahan pada diri individu kearah yang lebih baik yang bersifat tetap berkat adanya interaksi dan latihan. Jadi keaktifan belajar adalah suatu kegiatan individu yang dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik pada diri individu karena adanya

interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungan. Menurut Anton M. Mulyono (2001 : 26) keaktifan adalah kegiatan atau aktivitas atau segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatankegiatan yang terjadi baik fisik maupun non fisik. Menurut Sanjaya (2007: 101-106) aktivitas tidak hanya ditentukan oleh aktivitas fisik semata, tetapi juga ditentukan oleh aktivitas non fisik seperti mental, intelektual dan emosional. Keaktifan yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan tercipta situasi belajar aktif. Menurut Rochman Natawijaya (dalam Depdiknas 2005 : 31) belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika siswa pasif atau hanya menerima informasi dari guru saja, akan timbul kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan oleh guru, oleh karena itu diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengingatkan yang baru saja diterima dari guru. Hasil Belajar Menurut Robert M. Gagne (dalam essential of learning for instruction, saduran Ahmad A. Hinduan 1981:19) proses belajar digalakan oleh bermacam-macam stimulus dari sekeliling orang yang belajar stimulus itu merupakan masukan (input) untuk proses hasil belajar, hasilnya adalah perubahan tingkah laku, yang dapat diamati pada penampilan orang tersebut penampilan yang merupakan bukti proses belajar melalui program-program pendidikan aspek dapat beraneka ragam dari yang sederhana sampai yang paling komplek. Benjamin S. Bloom dalam Lia Laela Sarah (2005:9) memilih hasil belajar kedalam tiga aspek, yaitu: aspek kognitif, afektip, dan psikomotor. Ketiga tingkatan itu dikenal dengan istilah Bloom Taxonomy (Taxonomy Bloom). Metode Pembelajaran Metode pembelajaran merupakan cara dan tindakan yang ditempuh seorang guru dalam pembelajaran agar berhasil dalam mencapai tujuan

pembelajaran/kompetensi yang diharapkan. cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Menurut Witherington (dalam Martinis Yamin, 2006 : 18), belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang sebagai pola-pola Metode Eksperimen Eksperimen 220), bahwa : adalah suatu percobaan yang dilakukan untuk membuktikan suatu hipotesis. Seperti yang diungkapkan oleh Sagala (2011 : Eksperimen adalah percobaan untuk membuktikan suatu pertanyaan atau hipotesis tertentu. Eksperimen bisa dilakukan pada suatu laboratorium atau diluar laboratorium, pekerjaan eksperimen mengandung makna belajar untuk berbuat, karena itu dapat dimasukan kedalam metode pembelajaran. Untuk menggunakan metode eksperimen agar hasil yang yang diharapkan dapat dicapai dengan baik, maka langkah-langkah dalam metode eksperimen perlu dipersiapkan, diantaranya; Langkah Persiapan Persiapan ini penting untuk melakukan eksperimen, sebab dengan persiapan yang matang kelemahan-kelemahan yang muncul dapat diperkecil. Persiapan untuk pelaksanaan metode eksperimen antara lainmenetapkan tujuan eksperimen, mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, mempersiapkan tempat eksperimen, mempertimbangkan jumlah siswa dengan jumlah alat yang ada dan kapasitas tempat eksperimen, mempersiapkan tata tertib terutama untuk menjaga peralatan bahan yang akan dipergunakan, membuat petunjuk langkah-langkah yang harus ditempuh selama eksperimen berlangsung secara sistematis. Langkah Pelaksanaan Metode Eksperimen Sebelum siswa melaksanakan eksperimen, siswa mendiskusikan persiapan dengan guru, setelah itu barulah minta alat-alat atau perlengkapan yang akan digunakan dalan eksperimen, selama berlangsungnya proses pelaksanaan metode eksperimen guru perlu mendekati siswa untuk mengamati proses eksperimen yang sedang dilaksanakan, selama eksperimen berlangsung, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. dimanifestasikan respons yang baru yang berbentuk ketrampilan, sikap,

guru memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa sehingga percobaan tersebut dapat diselesaikan. Tindak Lanjut Metode Eksperimen Setelah eksperimen dilaksanakan, kegiatan selanjutnya antara lain meminta siswa mengumpulkan lembar kegiatan eksperimen, mendiskusikan dan menyimpan kembali semua peralatan yang eksperimen. Kerangka Pikir Dalam bentuk bagan, kerangka pikir pelaksanaan perbaikan pembelajaran IPA materi gerak dengan penerapan metode eksperimen sebagaimana gambar di bawah ini :
Pembelajaran menggunakan eksperimen tidak metode Keaktifan dan hasil belajar siswa rendah

masalah-

masalah yang ditemukan selama eksperimen, dan memeriksa kebersihan alat telah digunakan setelah selesai

Kondisi Awal

Tindakan

Pembelajaran menggunakan eksperimen

metode

Siklus I Penerapan metode eksperimen oleh guru tentang gerak benda

Siklus II Penerapan metode eksperimen tentang gerak benda oleh guru dan siswa, yang dipadukan dengan kegiatan tanya jawab dan diskusi kelas membuat kesimpulan dan rangkuman materi pembelajaran.

Kondisi Akhir

Keaktifan dan hasil belajar siswa meningkat, sehingga tingkat ketuntasan belajar dapat tercapai sesuai kriteria yang ditentukan.

Gambar 1. Kerangka Berpikir Penelitian Tindakan Kelas Hipotesis Tindakan Dengan mempertimbangkan dan merujuk pada beberapa pendapat ahli, disusunlah hipotesis tindakan ada;ah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi gerak benda di kelas III SD Negeri Kutaagung. Indikator dan Kriteria Keberhasilan Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan keaktifan belajar adalah keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan dan permasalahan yang dihadapinya, keinginan dan keberanian siswa serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar, siswa dapat menampilkan berbagai usaha atau kekreatifan belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar sampai mencapai keberhasilannya, dan kemandirian belajar (Sanjaya, 2009: 135). Kriteria keberhasilan yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran melalui upaya perbaikan pembelajaran dalah proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 85% dari jumlah siswa mengalami peningkatan keaktifan belajar selama proses pembelajaran berlangsung, dan siswa dinyatakan tuntas apabila menguasai 85% materi pembelajaran atau mendapatkan nilai di atas KKM minimal 70. PELAKSANAAN PENELITIAN Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri Kutaagung sebanyak 11 orang yang terdiri atas 5 orang siswa laki-laki dan 6 orang siswa perempuan. Tempat Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Kutaagung yang berlokasi di Jl. Wirapraja Desa Kutaagung Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap.

Waktu Pelaksanaan No 1. 2. Kegiatan Persiapan Pelaksanaan Siklus I a. Perencanaan Tindakan b. Pelaksanaan Tindakan c. Analisis dan Refleksi Pelaksanaan Siklus II a. Perencanaan Tindakan b. Pelaksanaan Tindakan c. Analisis dan Refleksi Pelaksanaan Bulan Pebruari & Maret 2013 14-15 Pebruari 2013 16 Pebruari 2013 18 dan 20 Pebruari 2013 21 Pebruari 2013 25 Pebruari 2013 26 dan 28 Pebruari 2013 01 Maret 2013

3.

Data, Teknis Pengumpulan dan Analisis Data Sumber Data Sumber data dalam penelitian tindakan ini, yaitu dari sumber primer. Sumber data primer adalah siswa kelas III SD Negeri Kutagung Tahun Pelajaran 2012/2013 sejumlah 11 orang yang terdiri atas 5 orang siswa laki-laki dan 6 orang siswa perempuan, dan guru kelas III SD Negeri Kutaagung. Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data kualitatif dan kuantitatif yang terdiri atas data hasil belajar siswa setelah pelaksanaan tindakan berupa nilai pretest dan postest setiap siklus, data penilaian proses kerja siswa/ LKS, dan hasil observasi Teknik Pengumpulan Data a. Data proses belajar mengajar diambil saat pelaksanaan perbaikan tindakan kelas dengan menggunakan lembar observasi. b. Data hasil belajar diambil dengan mengadakan tes formatif c. Data tentang keterkaitan antara perencanaan dengan pelaksanaan diambil dari RPPP dan lembar observasi d. Data refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas. Dari hasil pengambilan data baik data proses belajar mengajar, tes formatif dan

10

data keterkaitan kemudian dianalisis untuk mencari alternatif pemecahan pada perbaikan pembelajaran berikutnya. Teknik Analisis Data Analisis dalam penelitian ini dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, Selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Analisis data yang akan dilakukan secara kualitatif mengkategorikan dan mengklraifikasi berdasarkan analisis, kemudian ditafsirkan dalam konteks keseluruhan permasalahan penelitian. Analisis data dilakukan untuk membandingkan tingkat keterlibatan peserta didik dan prestasi belajar sebelum dan sesudah melaksanakan perbaikan. Data kuantitatif yang dikumpulkan peneliti berupa nilai tes formatif maka teknik yang digunakan dalam menganalisis data adalah teknik analisis statistik deskriptif kualitatif, sedangkan data kualitatif digunakan teknik analisis dalam bentuk paparan naratif. Pada studi awal, peserta didik diberi tes untuk melihat perolehan nilai tentang metode pengolahan data. Informasi Tentang Observer Prosedur pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dalam dua siklus perbaikan pembelajaran. Selama proses pengambilan data, peneliti dibantu oleh teman sejawat. Nama NIP Pekerjaan/Jabatan Tugas : : : : SANA, S.Pd.SD 19650218 199007 1 001 Guru Kelas IV.a Mengobservasi dengan selesai. Memberikan masukan tentang kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang terjadi selama proes pembelajaran. Desain Prosedur Penelitian Menurut Wardani, dkk. (2004 : 2.4), Perbaikan pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari empat tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran mulai siklus pertama sampai

11

yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan (action), mengamati (observation), dan refleksi (reflection) sebagaimana gambar 2 di bawah ini :

Perencanaan

Refleksi

Pelaksanaan

Observasi

Gambar 2. Tahap-tahap dalam Penelitian Tindakan Kelas (Wardani IGAK, 2004:4) Alur pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam dua siklus

sebagaimana gambar 3 di bawah ini :

Gambar 3. Daur PTK dalam Dua Siklus Perbaikan Pembelajaran (Rusna Ristasa, 2006 : 46)

12

Bagan yang menggambarkan beberapa siklus kegiatan perbaikan pembelajaran seperti berikut ini. Secara lebih terperinci, daur PTK dapat dilihat pada gambar 4.

IDE AWAL

Studi Pendahuluan/Awal 1.Wawancara dengan siswa 2.Tes diagnostic. (memperoleh data awal) 3.Analisis dokumen.

Persiapan Penelitian 1.Penyamaan konsep metode contoh dan latihan antar peneliti dan pengamat. 2.Penyusunan lembar observasi. 3.Penyusunan format wawancara 4.Penyusunan Tes.

BELUM

Tindakan Siklus I 1. Perencanaan perbaikan 2. Pelaksanaan perbaikan 3. Observasi 4. Diskusi dan pengamat 5. Refleksi Siklus I

REVISI

Tindakan Siklus II 1. Perencanaan Perbaikan 2. Pelaksanaan perbaikan 3. Obsevasi 4. Diskusi dengan pengamat 5. Refleksi Siklus II

BERHASIL

KESIMPULAN

Gambar 4 .Diagram Siklus Perbaikan Pembelajaran (dimodifikasi dari Rusna Ristasa, 2006 : 46) Deskripsi Pelaksanaan Penelitian per Siklus Pelaksanaan prosedur penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut : Siklus I Perencanaan Setelah diperoleh gambaran keadaan kelas, perhatian dan aktivitas siswa, kemampuan pemahaman siswa, sarana prasarana, hasil belajar siswa

13

maka dilakukanlah perencanaan tindakan kelas I, yaitu menyusun rencana pembelajaran konsep tata surya kemudian dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen. Pelaksanaan Tindakan Kegiatan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya dengan menggunakan metode eksperimen, dalam pembelajaran ini siswa secara berkelompok mengeksperimenkan gerhana matahari sesuai dengan pembelajaran yaitu 3 x 35 menit, apabila pada tindakan pertama terdapat kekurangan maka di sempurnakan, direncanakan kembali, serta dilaksanakan pada siklus berikutnya. Melakukan Pengamatan Pengamatan dilakukan dengan melihat aktivitas siswa dan guru ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas, yaitu mengeksperimenkan peristiwa gerhana matahari. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat kesesuaian perilaku antara kegiatan guru dan siswa dengan instrumen yang telah disediakan. Pengamatan aktivitas guru dilaksanakan oleh observer yang ditunjuk untuk melakukan pengamatan. Melakukan refleksi Dalam kegiatan ini dilakukan Refleksi I. Pada kegiatan ini peneliti merenungkan kekurangan dan mempertahankan kelebihan yang terdapat pada siklus I. Kekurangan yang terdapat pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus I diperbaiki dan dilaksanakan pada siklus II, baik persiapan yang harus perencanaan pembelajaran, maupun didaktik metodik pengajaran dikuasai oleh guru. Siklus II Perencanaan Sesuai dengan hasil refleksi yang dilakukan pada akhir siklus I tindakan I, maka dibuat perencanaan pembelajaran untuk siklus II tindakan II, yang didalamnya meliputi perencanaan persiapan pembelajaran yang terdiri atas RPP, instrumen kegiatan pembelajaran untuk siswa, lembar observasi untuk

14

guru dan siswa serta penggunaan metode eksperimen pada pembelajaran IPA pada materi gerak benda.

Pelaksanaan Tindakan Kegiatan pada tahap ini adalah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat berdasarkan hasil refleksi pada hasil akhir siklus I yang dalam pelaksanaannya menggunakan metode eksperimen. Dalam pembelajaran ini siswa secara berkelompok mengeksperimenkan peristiwa gerhana bulan sesuai dengan instrumen yang disediakan. Alokasi yang disediakan adalah 2 jam waktu pembelajaran yaitu 2 x 35 menit, apabila pada tindakan kedua terdapat kekurangan maka disempurnakan, direncanakan kembali serta dilaksanakan pada siklus berikutnya. Melakukan Pengamatan Pengamatan dilakukan dengan melihat aktivitas siswa dan guru ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran didalam kelas, yaitu mengeksperimenkan gerhana bulan. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat kesesuaian perilaku antara kegiatan guru dan siswa dengan instrumen yang telah disediakan. Pengamatan aktivitas guru dilaksanakan oleh observer untuk melakukan pengamatan. Melakukan refleksi Dalam kegiatan ini dilakukan Refleksi II. Pada kegiatan ini peneliti merenungkan kekurangan dan mempertahankan kelebihan yang terdapat pada siklus II serta menentukan keberhasilan proses perbaikan pembelajaran. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian per Siklus Deskripsi Kondisi Awal Berdasarkan hasil pengamatan tentang kondisi awal kelas tersebut peneliti memandang perlu kiranya diadakan suatu perbaikan yang dalat memperbaiki kualitas pembelajaran IPA di kelas III sehingga siswa dapat terlibat aktif dan guru

15

bertindak sebagai fasilitator. Peneliti berusaha untuk dapat mengetahui kendala-kendala dan persoalan-persoalan tersebut dengan mengenali isinya yang kemudian diterangkan ke dalam perencanaan tindakan. Dengan demikian, siswa menjadi lebih aktif dan guru hanya berusaha membimbing, melatih, dan membiasakan siswa untuk terampil berpikir ( minds-on avtivities) karena mereka mengalami keterlibatan secara mental dan terampil secara fisik. Penjelasan mengenai kondisi awal hasil pembelajaran sebagaimana tabel di bawah ini : Tabel 1 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Gerak Benda Pada Kondisi Awal No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama Ade Kevin Hidayat Ayu Warninah PM Cindy Valentina Dede Ainun Rodiah Dian Erita Arisona Dodi Setiana Desi Meliana Eti Sukaesih Indra Suhendar Rina Astuti Rendi Nurohman Jumlah Nilai Rata-rata Siklus I Nilai 40 60 70 50 60 70 60 50 60 50 70 640 58,18 Tuntas 3 27,27 Belum Tuntas 8 72,73

Sumber : Data Primer, 2013

Penjelasan mengenai aspek keaktifan belajar yang diamati adalah keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan dan permasalahan yang dihadapinya, keinginan dan keberanian siswa serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses dan kelanjutan belajar, siswa dapat menampilkan berbagai usaha atau kekreatifan belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar sampai mencapai keberhasilannya, dan kemandirian belajar. Hasil

16

observasi pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I sebagaimana tabel di bawah ini :

Tabel 2 Rekapitulasi Peningkatan Keaktifan Siswa Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Gerak Benda pada Kondisi Awal
Kriteria Observasi a Ade Kevin Hidayat Ayu Warninah PM Cindy Valentina Dede Ainun Rodiah Dian Erita Arisona Dodi Setiana Desi Meliana Eti Sukaesih Indra Suhendar Rina Astuti Rendi Nurohman Ade Kevin Hidayat Jumlah Persentase Sumber : Data Primer, 2013 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 b c d Jml Skor 3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 30 Kriteria Ketuntasan T T T T T T T T T T 8 72,73 B B B B 3 27,27

No

Nama

Dari

hasil diskusi

yang

dilakukan dengan teman sejawat sesuai dengan dapat KTSP

sebelum adalah siswa

pelaksanaan pembelajaran, penerapan metode

peneliti berpendapat bahwa metode pembelajaran dengan alasan membawa

yang tepat untuk mata pelajaran IPA yang eksperimen

melakukan praktek secara langsung. Akhirnya disetujui metode pembelajaran yang akan digunakan sebagai bahan penelitian adalah dengan metode eksperimen. Deskripsi Hasil Siklus I Data Hasil Perencanaan Berdasarkan rumusan hipotesis yang telah dibuat, peneliti menyiapkan dan menetapkan rencana perbaikan pembelajaran (RPP) beserta skenario tindakan. Skenario tindakan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan oleh guru dan siswa dalam kegiatan tindakan atau perbaikan.Terkait dengan rencana perbaikan

17

pembelajaran, peneliti perlu menyiapkan berbagai bahan yang diperlukan sesuai dengan hipotesis yang dipilih seperti : lembar kerja, alat bantu pembelajaran, lembar tes formatif dan lembar observasi, serta alat dan bahan yang akan dipergunakan pada kegiatan eksperimen. Data Hasil Pelaksanaan Tindakan Dari hasil pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dengan menerapkan metode eksperimen pada pembelajaran ilmu pengetahuan alam materi gerak benda dapat diperoleh dan disimpulkan data-data sebagai berikut : Tabel 3 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Gerak Benda pada Siklus I
No Nama Nilai 60 80 80 60 70 80 60 60 70 60 80 760 69,09 Tuntas 6 54,55 Belum Tuntas 5 45,45

1 Ade Kevin Hidayat 2 Ayu Warninah PM 3 Cindy Valentina 4 Dede Ainun Rodiah 5 Dian Erita Arisona 6 Dodi Setiana 7 Desi Meliana 8 Eti Sukaesih 9 Indra Suhendar 10 Rina Astuti 11 Rendi Nurohman Jumlah Nilai Rata-rata Siklus I
Sumber : Data Primer, 2013

Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer sepakat untuk melanjutkan pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II karena perolehan nilai rata-rata hasil belajar secara klasikal baru mencapai 69,09 dan ketuntasan belajar secara klasikal baru mencapai angka 54,55%, dengan harapan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa dapat mencapai perolehan di atas KKM sebesar 70,00 sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dan tingkat ketuntasan belajar mencapai angka di atas 85% dari jumlah seluruh siswa.

18

Data Hasil Pengamatan Pada tahap pengamatan mengenai keaktifan siswa pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Gerak benda di atas dapat diterangkan sebagai berikut:

Tabel 4 Rekapitulasi Peningkatan Keaktifan Siswa Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Gerak Benda pada Siklus I
No Nama a Kriteria Observasi b c d Jml Skor Kriteria Ketuntasan T B

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Ade Kevin Hidayat Ayu Warninah,Pm Cindy Valentina Dede Ainun Rodiah Dian Erita Arisona Dodi Setiana Desi Meliana Eti Sukaesih Indra Suhendar Rina Astuti Rendi Nurohman

3 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3
30

T T T T T T T T
8 72,73

B B B 3 27,27

Jumlah Persentase Sumber : Data Primer, 2013

Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer sepakat untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus II karena perolehan nilai peningkatan keaktifan belajar secara klasikal baru mencapai 72,73% dengan harapan pada siklus II keaktifan belajar siswa dapat mencapai perolehan di atas 85% sesuai dengan indikator dan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan Data Hasil Refleksi Pada akhir siklus pertama kegiatan pembelajaran belum tuntas karena baru 6 siswa atau 54,55% dari 11 siswa yang mengalami ketuntasan dan keterlibatan siswa secara aktif mencapai angka 72,73% atau 8 dari 11 siswa dengan perolehan nilai rata-rata tes formatif sebesar 69,09. Hasil proses perbaikan pembelajaran pada siklus pertama menujukkan bahwa semua indikator dan kriteria keberhasilan belum tercapai. Setelah peneliti dengan observer mendiskusikan hasil observasi

19

dan wawancara yang dikaitkan dengan hasil tes formatif, maka pada siklus kedua perlu ditanggulangi dengan menggali persepsi dan pemahaman siswa tentang materi yang akan dipelajari sebelum proses pembelajaran berlangsung dilanjutkan dengan melakukan praktik langsung di luar kelas untuk mengamati bayangan tiang bendera di halaman sekolah, serta beberapa benda lainnya. Siklus II Data Hasil Perencanaan Berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama, peneliti merevisi rencana perbaikan pembelajaran (RPP) beserta skenario tindakan. Terkait dengan revisi rencana perbaikan pembelajaran, peneliti menyiapkan berbagai alat dan bahan yang diperlukan, meliputi : lembar kerja siswa, lembar tes formatif dan lembar
observasi, alat dan bahan kegiatan eksperimen gerak benda misalnya bola kasti, kelereng, kaleng bekas dan lain sebagainya. Kegiatan selanjutnya bersama-sama dengan teman sejawat (observer) menyepakati fokus observasi dan kriteria yang akan untuk dua kali pertemuan dalam siklus kedua, dan sebagai langkah antisipasi terjadinya kegagalan pada saat kegiatan eksperimen, sebelumnya peneliti bersamasama observer mengadakan simulasi terhadap penggunaan alat dan bahan yang

akan digunakan pada saat pelaksanaan eksperimen oleh para siswa. Data Hasil Pelaksanaan Tindakan Dari hasil pelaksanaan tindakan pada siklus kedua dengan menerapkan metode eksperimen pada pembelajaran IPA materi gerak benda dapat diperoleh dan disimpulkan data-data sebagai berikut : Tabel 5 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Gerak benda pada Siklus II
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Ade Kevin Hidayat Ayu Warninah PM Cindy Valentina Dede Ainun Rodiah Dian Erita Arisona Dodi Setiana Desi Meliana Eti Sukaesih Indra Suhendar Nilai 80 80 90 70 80 90 70 80 80 Tuntas Belum Tuntas -

20

10 11

Rina Astuti Rendi Nurohman Jumlah Nilai Rata-rata Siklus II

70 90 880 80,00

11 100,00

0 0,00

Sumber : Data Primer, 2013

Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer menyimpulkan bahwa hasil tes hasil belajar menunjukkan hasil 80,00. Hal ini menunjukkan bahwa tes hasil belajar sudah memenuhi kriteria keberhasilan karena hasil belajar berada di atas angka kriteria minimal ketuntasan (KKM) sebesar 70, dengan jumlah siswa yang telah tuntas belajarnya sebanyak 11 siswa atau 100%. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar juga telah mencapai kriteria keberhasilan sebesar 85% sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada pelaksanaan siklus II Data Hasil Pengamatan Pada tahap pengamatan mengenai keaktifan siswa pada pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam Materi Gerak benda di atas dapat diterangkan sebagai berikut:

Tabel 6 Rekapitulasi Peningkatan Keaktifan Siswa Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Gerak Benda pada Siklus II
Kriteria Observasi a b c d Kriteria Ketuntasan T B

No

Nama

Jml Skor

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Ade Kevin Hidayat Ayu Warninah PM Cindy Valentina Dede Ainun Rodiah Dian Erita Arisona Dodi Setiana Desi Meliana Eti Sukaesih Indra Suhendar Rina Astuti Rendi Nurohman Jumlah Persentase

4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 4 40

T T T T T T T T T T T 11 100,00

0 0,00

Sumber : Data Primer, 2013

21

Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer

menyimpulkan bahwa keaktifan belajar mencapai angka 96,97%. Hal ini


menunjukkan bahwa keaktifan belajar telah mencapai kriteria keberhasilan sebesar 75% sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada pelaksanaan siklus II

Data Hasil Refleksi Setelah menganalisis hasil tes formatif pada siklus kedua, ternyata Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi gerak benda dapat disimpulkan telah berhasil karena dari jumlah siswa 33 siswa yang masuk kategori tuntas ada 29 siswa atau 87,88%, sedangkan keterlibatan siswa secara aktif mencapai 96,97% atau 32 siswa dari 33 siswa, dan nilai rata-rata hasil belajar mencapai 80,00. Hasil pembelajaran tersebut membuktikan bahwa semua kriteria keberhasilan proses pembelajaran telah tercapai pada siklus kedua sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan selesai dan tuntas pada siklus kedua. Pembahasan Siklus I Pada siklus I peneliti menggunakan kelompok dengan jumlah anggota kelompok masih terlalu banyak, sehingga ada beberapa siswa yang nampak pasif dalam pelaksanaan kerja kelompok, pembentukan kelompok masih acak, belum didasarkan pada persamaan minat, bakat, maupun kemampuan dari masingmasing siswa, kesemunya itu ternyata berakibat pada pola pelaksanaan kerja kelompok belum terarah sehingga sistematika kerja kelompok masih acak-acakan dan belum mengarah pada penyimpulan suatu kegiatan serta masih kurangnya materi pendukung pelaksanaan kerja kelompok baik dari segi sarana prasarana maupun ketersediaan buku-buku refrensi karena pada siswa hanya menggunakan satu buku saja, ternyata hasil yang diharapkan belum tercapai secara maksimal. Ketuntasan hasil tes akhir siklus pertama kegiatan pembelajaran belum tuntas karena baru 6 siswa atau 54,55% dari 11 siswa yang mengalami ketuntasan dan keterlibatan siswa secara aktif mencapai angka 72,73% atau 8 dari 11 siswa dengan perolehan nilai rata-rata hasil belajar sebesar 69,09.

22

Dalam bentuk diagram, peningkatan keaktifan, hasil dan ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran IPA materi gerak benda pada kondisi awal dan siklus I sebagaimana gambar di bawah ini :

80 70 60 50 40 30 20 10 0 Kondisi Awal Siklus I 3 5 6 8 58,18 45,45 69,09 54,55

72,73

Nilai Ketuntasan Persentase Keaktifan Persentase

Gambar 5

Diagram Batang Peningkatan Keaktifan, Hasil dan Ketuntasan Belajar pada Kondisi Awal dan Siklus I Siklus II

Siklus II peneliti melakukan pengurangan jumlah anggota kelompok menjadi 2-3 yang diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pelaksanaan kerja kelompok, membentuk kelompok didasarkan pada persamaan minat, bakat, maupun kemampuan dari masing-masing siswa sehingga dapat meningkatkan keberhasilan pelaksanaan diskusi kelompok, menyusun konsep atau pola pelaksanaan kerja kelompok agar terarah sehingga sistematika kerja kelompok dapat berjalan dengan baik sehingga dapat mendukung keberhasilan proses penyimpulan akhir kegiatan pembelajaran serta menambah materi pendukung pelaksanaan kerja kelompok baik dari segi sarana prasarana maupun ketersediaan buku-buku refrensi Setelah menganalisis hasil tes formatif pada siklus kedua, ternyata Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi gerak benda dapat disimpulkan sudah berhasil karena dari jumlah siswa 11 siswa yang masuk kategori tuntas ada 11 siswa atau 100%, sedangkan keterlibatan siswa secara aktif mencapai 100% atau 11 siswa dari 11 siswa, dan nilai rata-rata hasil belajar mencapai 80,00.

23

Dalam bentuk diagram, peningkatan keaktifan, hasil dan ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran IPA materi gerak benda pada siklus I dan siklus II sebagaimana gambar di bawah ini :
100 80 Nilai Ketuntasan Persentase Keaktifan Persentase 6 8 Siklus I 11 11 Siklus II 100

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 69,09 54,55

72,73

Gambar 6

Diagram Batang Peningkatan Keaktifan, Hasil dan Ketuntasan Belajar pada Siklus I dan Siklus II

Pembahasan Antar Siklus Hasil Belajar Setelah melakukan analisa terhadap data yang peroleh dari tiga siklus yang dilaksanakan maka dapat dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode eksperimen pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi gerak benda menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap hasil proses pembelajaran. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini : Tabel 7 Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa pada IPA Materi Gerak Benda pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No 1. 2. 3. Pembelajaran Kondisi Awal Siklus I Siklus II
Sumber : Data Primer, 2013

Hasil Belajar Siswa Rata-rata Tuntas % Belum %

58,18 69,09 80,00

3 6 11

27,27 54,55 100,00

8 5 0

72,73 45,45 0,00

24

Untuk lebih jelasnya peningkatan hasil belajar siswa dan nilai rata-rata hasil belajar serta ketuntasan belajar dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini :

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Studi Awal Siklus I Siklus II Rata-rata T untas Persentase T idak T untas Persentase

Gambar 7

Diagram Batang Perbandingan Angka Nilai Rerata Hasil dan Ketuntasan Belajar Siswa pada Setiap Siklus Perbaikan Pembelajaran

Keaktifan Belajar Dari hasil analisis peningkatan ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus perbaikan pembelajaran, secara rinci dapat dilihat pada tabel 4.6 di bawah ini : Tabel 8 Rekapitulasi Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA Materi Materi Gerak Benda pada Studi Awal, Siklus I dan Siklus II
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Ade Kevin Hidayat Ayu Warninah,Pm Cindy Valentina Dede Ainun Rodiah Dian Erita Arisona Dodi Setiana Desi Meliana Eti Sukaesih Indra Suhendar Rina Astuti T T T T T Awal B B B B B B B Kriteria Ketuntasan Siklus I T B T T B T B T T T T B Siklus II T B T T T T T T T T T T -

25

11 Rendi Nurohman Jumlah Prosentase Sumber : Data Primer, 2013

T 5 45,45

6 54,55

T 8 72,73

3 27,27

T 11 100

0 0

Untuk lebih jelasnya peningkatan keaktifan belajar dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini :

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Studi Awal Siklus I Siklus II

Tuntas Belum Tuntas Persentase Belum Tuntas Persentase

Gambar 8

Diagram Batang Peningkatan Keaktifan Siswa pada Setiap Siklus Perbaikan Pembelajaran

Dari dua siklus pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan, kenaikan keaktifan dan hasil belajar siswa yang terjadi pada setiap siklus menunjukkan kenaikan yang signifikan. Peningkatan keaktifan siswa menunjukkan perolehan pada studi awal hanya 5 siswa atau 45,45%, naik menjadi 8 siswa atau 72,73% pada siklus pertama, dan 100% atau 11 siswa pada siklus kedua. Hal tersebut didukung pula oleh kenaikan hasil belajar siswa dari rata-rata pada studi awal hanya 58,18 naik menjadi 69,09 pada siklus pertama, dan siklus pertama, 80,00 pada siklus kedua, dengan tingkat ketuntasan belajar sebanyak 3 siswa (27,27%) pada studi awal, 54,55% atau 6 siswa pada 11 siswa atau 100% pada siklus kedua, sehingga dapat simpulkan bahwa semua indikator dan kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran telah terpenuhi dan tercapai pada siklus kedua.

26

SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan hasil temuan dapat ditarik simpulan sebagai berikut : 1. Pembelajaran melalui penerapan metode eksperimen pada pembelajaran IPA materi struktur bahan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam menerima materi pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan keaktifan belajar dari 5 siswa atau 45,45%, naik menjadi 8 siswa atau 72,73% pada siklus pertama, dan 100% atau 11 siswa pada siklus kedua. 2. Pembelajaran melalui penerapan metode eksperimen pada pembelajaran IPA materi struktur bahan dapat dapat meningkatkan kenaikan hasil belajar siswa, dimana nilai rata-rata hasil belajar terus mengalami peningkatan dari 58,18 naik menjadi 69,09 pada siklus pertama, dan 80,00 pada siklus kedua, dengan tingkat ketuntasan belajar sebanyak 3 siswa (27,27%) pada studi awal, 54,55% atau 6 siswa pada siklus pertama, 11 siswa atau 100% pada siklus kedua, sehingga dapat simpulkan bahwa semua indikator dan kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran telah terpenuhi dan tercapai pada siklus kedua. Saran dan Tindak Lanjut Saran Saran untuk Disdikpora 1. Selalu berusaha meningkatkan kemampuan tenaga-tenaga kependidikan yang potensial dan memanfaatkan sumber daya pendidikan lainnya yang ada di daerah dengan meningkatkan kualifikasi tenaga pendidikan melalui program pendidikan setingkat sarjana. 2. Memberikan kemudahan berupa pemberian ijin belajar dalam rangka peningkatan kualifikasi tenaga pendidikan melalui program pendidikan setingkat sarjana. Saran untuk Kepala Sekolah

27

1. Kepala Sekolah hendaknya selalu mendorong para guru yang berusaha mengguanakan strategi pembelajaran yang bersifat inovatif dan kreatif dengan memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan. 2. Kepala Sekolah perlu memberikan motivasi kepada guru untuk selalu mengajar dengan pendekatan, model dan metode pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan karakteristik pembelajaran dan siswa dalam kelas. 3. Kepala Sekolah perlu memfasilitasi guru ketika melakukan proses pembelajaran menggunakan pendekatan, model dan metode pembelajaran yang bervariasi, demi meningkatkan kualitas pembelajaran dan kemajuan sekolah Saran untuk Guru 1. Guru bersifat kooperatif dan mau membawa konsepsi awal siswa dalam
kegiatan pembelajaran. 2. Guru menggunakan metode eksperimen pada materi pembelajaran yang sejenis / sama untuk pelaksanaan pembelajaran berikutnya, karena dengan penerpaan metode eksperimen akan melibatkan pengalaman langsung, berfikir dan melibatkan peserta didik.

3. Guru harus selalu berusaha meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam


melakukan penelitian perbaikan pembelajaran terutama kemampuan memperbaiki proses pembelajaran yang merupakan bagian utama dalam upaya peningkatan profesionalisme guru

Saran untuk Siswa


1. Siswa hendaknya meningkatkan kesadaran untuk selalu brepartispasi aktif dalam setiap kegiatan belajar mengajar 2. Siswa harus selalu berusaha menyenangi pembelajaran IPA karena mengetahui pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak 3. Siswa hendaknya berusaha menggunakan materi yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari Tindak Lanjut Simpulan dan saran dari penelitian tindakan kelas ini, bila ditindaklanjuti, benar-benar akan bisa dirasakan manfaatnya oleh guru untuk meningkatkan

profesionalisme dalam membelajarkan siswa agar berhasil mencapai tujuan yang

28

diharapkan. Selain itu, keterujian metode yang diterapkan ini boleh diuji ulang untuk lebih meyakinkan dugaan salah atau benar terhadap konsekuensi yang telah dilaporkan peneliti melalui laporan ini. DAFTAR PUSTAKA Carin & Sund, 1993. Teaching Science Through Discovery. Fourth Edition. Charles Merry Publishing Co. Ohio. Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Pendidikan (KTSP), Dirjen Dikdasmen. Jakarta. Depdiknas. (2002). Kurikulum Depdiknas. Jakarta. Berbasis Kompetensi. Tingkat Puskur Satuan Balitbang

Depdiknas. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas. Jakarta. Hoy dan Miskel, 1992. Educational Administration. New york: Random House. Mulyono, Anton. (2001). Kamus Umum Bahasa Indonesia. PU. Balai Pustaka. Jakarta. Natawijaya. Rahman. 2005. Pengajaran Remidial. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Poerwadarminta, W.J.S. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Edisi III, cetakan ke-4. Balai Pustaka. Jakarta. Ristasa, R & Prayitno. 2006. Panduan Penelitian Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Purwokerto: UPBJJ Purwokerto. Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta. Bandung. Sanjaya, Wina 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana, Pernada Media Group. Jakarta. Sudjana, Nana. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar . Sinar Baru Algesindo. Bandung. Wardani, I.G.A.K. 2002. Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka. Jakarta. Yamin, Martinis. 2007. Desain Penelitian Berbasis KTSP. 2006. GP Press : Jakarta

Anda mungkin juga menyukai