Anda di halaman 1dari 3

Emansipasi. Adakah dalam Islam..?

KONSEPSI - Selasa, 28 Mei 2002

================
Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu
dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada
keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertaqwalah kepada Allah yang dengan [mempergunakan] nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan [peliharalah] hubungan silatur-rahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
[QS. 4:1]

Siapa kira Ibunda Hawwa akan menjadi titik permasalahan? Hanya karena
Rasulullah menyebut beliau berasal dari tulang rusuk Adam a.s. Setiap muslim
dan muslimah memahami betapa tingginya nilai informasi hadits Rasulullah.
Apalagi bila ia diriwayatkan oleh ‘As-Shahihain’ Bukhari dan Muslim.

Tapi, nyatanya, ada saja orang berkilah dengan informasi itu untuk memojokkan
pandangan Islam terhadap wanita. Seakan-akan ingin mencari biang keladi masalah
secara filosofis. Padahal hasilnya hanya pandangan yang dungu dan menampakkan
kejahilan terhadap hakikat atau essensi Islam.

Lantas, bila bukan dari tulangrusuk Adam, wanita itu dari mana? Adakah yang
dapat menjelaskannya selain dari Allah dan Rasul-Nya? Al-Quran menjelaskan
bahwa :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal [QS. 49:13]

Semua pembicaraan ini menyangkut penjelasan Allah tentang kejadian hidup


manusia yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Artinya, konteks pembicaraan
diarahkan untuk menjelaskan asal-usul manusia yang satu. Sehingga, sikap
kesukuan [ kebangsaan ] tidak dibenarkan mendominasi hidup seseorang.

Secara tidak langsung, surat Al-Hujarat: 13 di atas memang menyinggung pula


tentang kedudukan wanita. Namun bukan berhubungan dengan hadits yang bersumber
dari Rasulullah. Tinjauan ayat itu adalah kesertaan kaum Hawwa membangun
manusia dan peradabannya di seluruh bangsa.
Dengan kata lain, Islam tidak pernah merendahkan derajat manusia, baik laki-
laki maupun perempuan. Islam hanya memiliki satu mata uang yang berlaku dalam
membeda-bedakan manusia, yaitu takwa.
Alangkah anehnya bila ada orang yang ingin mengutak-ngatik pandangan Islam
terhadap kaum wanita. Padahal, dua ayat diatas [ An-Nisa:1 dan Al-Hujurat: 13 ]
justru ingin menunjukkan betapa terjalin kerjasama pria dan wanita dalam
berperan membentuk kehidupan di muka bumi.

Juga tidak lucu jika ayat yang menyebutkan, 'Dan daripadanya Allah menciptakan
isterinya,' kemudian dianggap sebagai merendahkan derajat wanita hanya karena
Rasulullah menafsirkan kata 'daripadanya' dengan tulang rusuk Adam. Lupakah
kita, siapakah yang berbicara itu? Dia adalah utusan Allah, yang mendapat
informasi akurat tentang segala tentang segala hal yang perlu disampaikan dari
Yang Mengutusnya [Allah]. Adapun tentang kedudukan wanita di samping pria,
Rasulullah saw. menerangkan
lebih jauh dalam hadits, ' Wanita adalah belahan separo [yang sama] dengan
pria.'[HR. Abu Dawud dan Ahmad]
Mengembalikan Wanita Pada Fitrahnya.

Yang berbeda pada kedua jenis Makhluk Allah ini [pria dan wanita] adalah fungsi
dan usahanya. Tentang perbedaan fungsi ini, Allah berfirman, 'Dan anak laki-
laki tidaklah sama dengan anak wanita [Ali Imran:36]

Siapapun tidak akan memungkiri bahwa keadaan fisik pria dan wanita itu jauh
berbeda, bahkan berlawanan. Siapapun tahu bahwa wanita diciptakan Allah penuh
kelembutan, halus, dan peka terhadap keadaan lingkungannya. Keadaan ini membuat
mereka cocok untuk tugas yang halus dan lembut seperti membelai dan menyayangi
anak....Sementara, laki-laki kokoh dan kuat sehingga lebih memungkinkan bekerja
keras dan berat. Karena keadaan fisik ini pula, masing-masing lelaki dan wanita
mempunyai fungsi dan peran khusus yang sama sekali berbeda dan tidak akan
pernah sama.

'Dan [demi] penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya keadaan [dan


usaha] kamu sungguh berbeda.'[Al-Lail: 3-4]

Kendati berbeda, pria dan wanita saling membutuhkan sehingga harus bekerjasama
secara benar dan sah, dijalin dengan hubungan kasih yang suci dan murni. Maka,
Islam mengatur batas-batas hubungan pria dan wanita, pernikahan, dan rumah
tangga dengan cukup detail. Karena, hal ini dipandang sebagai masalah asasi
yang harus diselesaikan sejak dini.

Karena perbedaan fungsi pula, tidak mungkin pria dan wanita berada dalam pos
yang sama. Bila ada yang seperti itu, jelas ini merupakan penyimpangan dari
fitrah dan sunatullah. Lagi pula, perbedaan fungsi ini bukanlah untuk
dipersoalkan. Karena hal itu merupakan bagian dari kekuasaan Allah yang mutlak.
Di sinilah letak keagungan firman Allah,

' Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebagian kamu, lebih banyak daripada sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada
bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan juga ada bagian dari
apa yang mereka usahakan.' [An-Nisa: 32]

Islam datang untuk mengarahkan potensi wanita sesuai dengan fungsi dan
pembawaan fisiknya. Karena itu, datanglah syariat yang mengatur dimana wanita
harus ditempatkan. Tugas kaum wanita di rumah, bagi Islam merupakan prinsip dan
tugas vital yang tidak boleh ditinggalkan.Karena, di rumahlah perannya sungguh-
sungguh dapat diharapkan dan terealisir dengan nyata. Hak dan kedudukan wanita
diberikan Islam sesuai dengan fitrahnya. Rasulullah saw. berpesan kepada para
ayah, 'Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan
yang satu terhadap yang lain, tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang
perempuan. '[HR. At-Thabrani]

Kepada para suami [pria], Rasulullah saw. menyatakan, 'Sebaik-baik kamu adalah
yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang terbaik di antara kamu
terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia,
dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tak tahu budi.'[HR. Abu
Asakir]

Kalau boleh memandang secara adil, kita bisa mengklaim bahwa ternyata kaum
wanita di tengah-tengah masyarakat Islam itu mempunyai citra dan warna
tersendiri. Sebagai gadis pingitan yang suci, mereka dijaga oleh kaum laki-laki
karena dipandang salah satu bagian penting dari hidupnya. Sebagai isteri,
mereka senantiasa mendapat perlindungan dari suaminya. Sebagai kakak atau adik,
dihormati oleh saudara laki-lakinya.

Meskipun mereka termasuk keluarga kaya, namun sang suamilah yang harus memenuhi
kebutuhan-kebutuhan materi wanita. Karena itu, kaum ibu dalam keluarga Islami
nampak cerah ceria jika dikelilingi putera-puterinya dan dikerumuni cucu-
cicitnya. Sebab, dialah yang berhasil menjaga dan melindungi keberadaan mereka
dengan siraman cinta dan belaian kasih yang mesra.

Ibu adalah penghasil generasi. Bila ada seribu ulama Islam, maka sesungguhnya
dibelakang itu mesti ada seribu wanita yang muliakan oleh ulama tersebut.
Karena ada sebuah sabda Rasulullah, berkenaan dengan hal ini, yaitu :'Seorang
sahabat bertanya,'Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak memperoleh
pelayanan dan persahabatanku?' Nabi saw. menjawab, 'Ibumu.....ibumu....ibumu,
kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu.'[Mutaffak Alaih]

Dari itu, Islam menuntut kaum wanita untuk menghabiskan sebagian besar waktunya
dalam membina rumah tangga dan tidak diperkenankan mengelak apalagi
meninggalkan tugas yang prinsip ini. Terkecuali dalam tuntutan situasi dan
kondisi yang benar-benar mendesak dan sangat terpaksa. Sedangkan laki-laki
menurut prinsip dasarnya mempunyai tugas dan tanggung jawab di luar rumah. Jika
ternyata kedua kutub tugas ini menjadi rancu, maka yang bakal terjadi adalah
api pergolakan yang memercik di rumah tangga, terus merambat pada tatanan
kehidupan bermasyarakat, dan pada akhirnya akan menggerogoti seluruh sistem
kehidupan sosial yang lebih luas.

Barat Merendahkan dan Melecehkan Wanita

Posisi Kaum Wanita di tengah-tengah masyarakat kita, kaum muslimin, tidak


pernah menjadi impian wanita-wanita Barat, baik itu dalam kapasitasnya sebagai
anak, isteri, maupun berstatus sebagai ibu. Mata mereka telah disilaukan oleh
materi sehingga tidak mampu lagi melihat kedalam fitrah dan kesucian hatinya
sendiri. Bila kita lihat secara objektif, ternyata wanita-wanita Barat itu
sejak masih remaja memang dipersiapkan bahkan dihidangkan sebagai makanan empuk
pria hidung belang. Atau, direkayasa sebagai isteri yang senantiasa dituntut
untuk bekerja keras lagi berta, banting tulang dan tidak kerasan di rumah gara-
gara ingin membuktikan kelebihannya di hadapan sang suami atau ingin ikut andil
dalam meringankan bebannya.

Jika tidak demikian, mereka akan merasa kehilangan jati diri dan identitas,
bahkan tidak akan berharga lagi di mata masyarakat. Wanita yang karena terpaksa
masih tetap mempertahankan dan konsisten dengan nilai-nilai keibuan akan
dikucilkan di panti-panti jompo, dicampakkan dan dititipkan oleh putera-
puterinya di lembaga-lembaga sosial. Hanya sedikit jumlah wanita yang sadar dan
menjerit akibat kesengsaraan dan penderitaan eksploitasi habis-habisan kaum
pria. Ungkapan Lady first yang populer itu sebenarnya hanya Lip service yang
kenyataannya telah meluluhlatakkan fitrah kaum wanita. Wanita Barat adalah
pajangan yang dihargai dari kemolekan dan kecantikan, bukan oleh prestasi dan
partisipasi mereka. Pelecehan seksual yang mereka terima di kantor-kantor atau
di pabrik-pabrik menunjukkan hal ini. Demikian juga peran mereka sebagai alat-
alat promosi melalui film, televisi, radio, majalah, koran, dan media massa
lainnya. Wanita barat telah sesuai dengan gambaran junjungan kita ' Wanita
adalah alat perangkap [ penjaring syetan ] ' [ HR. As-Syihab ]

Kita lihat sabda Rosulullah saw. : 'Tiada aku meninggalkan suatu fitnah
sesudahku yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan Wanita [HR.
Al-Bukhari dan Muslim].*****

Sebenarnya wanita-wanita barat itu sangat tertindas dan hina dina. Seandainya
mereka menyadari status dan hakekat jati dirinya , sudah pasti mereka akan
memberontak dan melancarkan berbagai protes terhadap kaum lelaki yang telah
merampas hak-hak asasi mereka.

Sumber : Ummi 1996