Anda di halaman 1dari 4

From: Edy Santoso <achedy@y...

>
Date: Sun Apr 28, 2002 3:21 am
Subject: Perasaan, dan Pengaruhnya Terhadap Aktifis Muda Dakwah

Perasaan, dan Pengaruhnya Terhadap Aktifis Muda Dakwah

Hal yang sangat mempengaruhi dalam hidup manusia, menurut hemat saya adalah
perasaan. Perasaan, amatlah mempengaruhi opini seseorang dalam pengambilan
sebuah keputusan. Perasaan ibarat seorang penasehat yang selalu saja memberikan
arahannya kepada kita, tentang banyak hal. Akan tetapi yang terlalu penting,
yang perlu kita waspadai adalah bahwa perasaan seringkali tidak memberikan
nasehat yang tepat. Dan jika demikian, maka ini amatlah mengganggu kita,
apalagi jika kita adalah seorang da’i.

Pernahkah, antum membaca di banyak rubrik konsultasi, seorang istri atau suami
menuduh selingkuh pasangannya, lalu menjadi retaklah rumah tangganya, padahal
kalau diperhatikan barangkali hanyalah perasaan saja yang berbicara, mereka
sebenarnya tak ada bukti sama sekali untuk menuduh pasangannya itu.

Dalam forum-forum dakwahpun terkadang demikian pula, coba lihat di konggres-


konggres, yang satu menuduh yang lain, yang satu mengecam yang lain, bahkan
banyak lembaga Islam yang akhirnya pecah. Saya yakin, yang paling dominan dalam
pesoalan itu adalah perasaan pula. Perasaan kitalah yang mengatakan, Ah, rekan
saya telah memanfaatkan organisasi ini untuk kelompoknya. Ah, rekan kita hanya
mencari popularitas dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukannya dll. Padahal
coba buktikan bahwa ia memanfaatkan untuk kepentingannya sendiri, tak ada bukti
bukan, semuanya hanya bermuara pada perasaan.

Dalam korelasinya dengan aktifis muda dakwah, maka ada beberapa persoalan yang
terkadang membelenggu perasaannya, yang terkadang menghambat dirinya untuk maju
dan berprestasi, padahal sebetulnya ia bisa menjadi sosok dai prestatif,
kalaulah ia bisa keluar dari belenggu perasaannya itu.

Masa lalu saya kelam,

Masa lalu seringkali membayangi kita dalam melangkah. Kadang, ketika ada jalan
lempang untuk melangkah ke depan, tiba-tiba bayangan masa lalu itu datang,
“Ah, saya sudah terlanjur banyak dosa, masak berani-beraninya sekarang ngisi
taushiyah”. Itu contoh sederhananya. Atau ketika sebuah amanah dakwah itu
datang, lalu kita mengatakan, “Apakah pantas orang yang dulu sering dimarahi
orang, kok sekarang harus menasehati orang, menasehati diri sendiri aja deh”
Disinilah kita kemudian sering berhenti dan akhirnya tidak maju.

Contoh diatas barangkali contoh sederhana, ada contoh yang lebih berat lagi,
kalau kita baca-baca di majalah UMMI, maka akan kita temui hal-hal berat yang
memang secara psikologis akan sangat mengganggu, misalnya dulunya pernah
melakukan seks pranikah dengan pacarnnya dan kemudian bertaubat dan menjadi
akhwat. Atau dahulu pernah menjadi pecandu narkoba, terus sekarang menjadi
ikhwan. Bayangan-bayangan masa lalu terkadang menyisakan gurat-gurat kesedihan
yang sulit dihapuskan. Sisa-sisa dosa masa lalu terkadang menorehkan luka yang
mendalam yang membuat seseorang menjadi malu untuk maju.

Sebenarnya kita bisa bertanya, kelam mana sebenarnya masa lalu kita dengan masa
lalu Umar ibnul Khotob, atau masa lalu Cat Steven, atau yang tak jauh-jauh
adalah masa lalu Anton Medan, atau Johni Indo. Sekarang bahkan mereka melejit
mencapai prestasinya, jauh lebih cepat dibanding orang-orang yang bermasa lalu
indah.

Masa lalu, jika itu indah dan menyejukkan, dan memotivasi, maka jadikanlah ia
cermin hidup kita, yang akan memberikan semangat ketika kita loyo, yang akan
memberikan motivasi ketika gairah kita turun. Akan tetapi jikalau ternyata masa
lalu tak terlalu indah, yang jikalau kita mengingatnya hanya akan menurunkan
motivasi kita, yang jika kita menoleh kebelakang hanya meninggalkan luka yang
membuat hidup menjadi tak bergairah, maka lupakan saja masa lalu itu.

Sebenarnya, jika kita mempunyai keinginan untuk maju, jika kita berkeinginan
untuk memperbaiki diri, maka saya yakin Allah akan membantu kita, karena
sesungguhnya Allah hanya akan mengikuti prasangka hambaNya. Dan Allah pula akan
mendekat lebih dekat jika kita berusaha dekat dengannya. Marilah kita mulai
episode terbaru, yang akan menampilkan “film” kehidupan dengan kwaitas terbaik.
Insyaallah antum akan mampu.

Keluarga yang tak Islami,

Dulu, saya selektif sekali menerima rekan dakwah yang berkunjung ke rumah
orangtua saya, karena keluarga saya adalah keluarga umumnya, yang barangkali
tak memenuhi standard jika di kait-kaitkan dengan konsepsi yang difahami oleh
aktifis dakwah. Saya malu, jika mereka akan mengatakan, “beginilah rumah
aktifis”. Saya akhirnya hanya menerima yang akrab dengan saya saja, yang saya
rasa memahami keadaan di keluarga saya.

Saya baru menyadarinya ketika suatu saat adik saya bertanya kepada saya, apakah
kamu akan sinis jika ada keluarga sahabat dakwahmu yang kebetulan –dalam
pandangan aktifis- tidak Islami, atau barangkali secara ekstrimnya, suka
maksiat atau bahkan bukan seorang muslim ?. Lalu saya jawab, tidak bahkan
barangkali saya akan merasa kasihan padanya. Adik saya lalu berkata, begitulah
orang lain memandangmu. Baru kemudian sayapun menyadarinya.

Keluarga yang dipandang tak islami terkadang menyurutkan langkah kita untuk
maju dalam dakwah. Wong keluarga kita aja seperti itu, barangkali begitulah
kilah kita. Percayalah, bahwa jika kita ternyata sudah berusaha, maka tak perlu
antum berkecil hati, barangkali antum tidak begitu sukses menyadarkan keluarga,
namun kan ummat ini nggak hanya keluarga antum saja, ada banyak telinga dan
banyak mata, yang saya yakin sebagian dari mereka akan ada yang mendengarkan
seruan kita.
Berkacalah kita kepada Nabi Luth, berkacapulallah kita kepada nabi Nuh, atau
sahabat Musab bin Umair, maka antum akan segera menyadarinya, karena keluarga
antum masih terlalu sholeh dibandingkan dengan keluarga mereka. Tetaplah
berbuat baik kepada orang tua, tetaplah berdoa’a untuknya, dan semoga saja
dengan demikian akan terjadi perubahan dengan kehendak Allah. Keluarga jangan
dijadikan sebagai sebuah dalil untuk berpaling dari dakwah, karena pada
hakekatnya, orang akan lebih banyak menilai dari sikap kita.

Diantara sekian banyak aktifis dakwah ini, siapasih yang orangtuanya memang
berangkat dari sebuah keluarga yang islami, saya yakin bisa dihitung dengan
jari. Karenanya tak usahlah berkecil hati, karena ini adalah bagian dari dakwah
kita pula. Kita tidak boleh enaknya saja, lahir dari keluarga yang Islami,
berkecukupan. Apa yang antum nikmati saat ini, adalah sebuah proses pendidikan
yang baik, sebuah proses pematangan diri jika antum mau menyadarinya.

Kurang Percaya Diri,

Saya pernah minta tolong kepada rekanan saya yang saya anggap mumpuni untuk
menulis di Manarul ‘Ilmi Online, itung-itung belajar berdakwah melalui tulisan,
namun apa jawabannya, saya takut nanti Allah akan menghisab saya disebabkan
tulisan saya yang masih awam ini. Yang membuat saya heran, mengapa
pertanyaannya tidak di balik saja, saya takut Allah menghisab saya karena saya
mempunyai kesempatan, lalu tidak saya manfaatkan. Ia hanya kurang percaya diri.

Atau barangkali apakah jika antum diajak melakukan aktifitas dakwah selalu saja
berkata, ane kan masih ikhwan-ikhwanan, ane kan ikhwan mbeling, dan kemudian
karenanya tak mengerjakan satupun jua. Hati-hati, ketidak percayaan diri
semacam ini akan membuat antum jalan ditempat atau bahkan mundur dari
gelanggang. Hilangkan perasaan seperti itu, mulailah mencoba, dan yakinlah
bahwa sebuah kegemilangan akan selalu berawal dari “memulai”. Jangan jadi nabi
dahulu baru berdakwah, demikian sindiran ustadz Ibnu Juraimi ketika saya
mengikuti PIR di Yogya beberapa tahun yang lalu. Mulailah berlatih dari
sekarang.

Mulailah sejak saat ini untuk mulai menulis, jika antum ingin menjadi seorang
penulis, mulailah menggarap buletin di kampus, jika antum ingin mengembangkan
dakwah di dunia Jurnalistik, mulailah belajar berceramah, jika antum ingin
berdakwah melalui wahana ceramah. Semuanya berawal dari sini, semuanya berawal
dari kecil.

Salah satu hal yang perlu dicatat lagi, antum harus bisa membedakan, antara
percaya diri dan rendah hati. Orang yang rendah hati akan berbicara,
kemampuan menulis saya hanya pas-pasan kok mas, akan tetapi ia tetap menulis.
Orang tak percaya diri akan mengatakan, kemampuan menulis saya hanya pas-pasan
kok mas, akan tetapi ia tidak berani mencoba menulis.
Saat saya belajar mengelola Manarul ‘Ilmi Online, sebuah situs kecil, yang
gratisan, barangkali ada yang berfikiran, situs sekecil itu takkan terlalu
berarti dalam dakwah, tapi tahukah antum bahwa saya mempunyai “ambisi” besar
dibalik pengelolaan situs kecil itu, yakni membangun konsep e-dakwah di kelak
kemudian hari. Berfikirlah besar, atas nama dakwah, dan tentang berhasil
tidaknya di kemudian hari, itu persoalan lain. Manusia diajarkan untuk
berusaha, untuk berfikir maju, untuk berfikir berhasil. Dan Allah akan
menentukan hasilnya. Akan tetapi yang lebih mengasyikkan adalah bahwa yang
dinilai Allah ternyata adalah prosesnya. Karenanya marilah kita sambut dengan
memberikan yang terbaik bagi dakwah, apapun hasilnya.

Penutup

Keluarlah dari belenggu perasaan antum sendiri, dan yakinlah bahwa sebenarnya
perasaan kitalah yang seringkali menghambat aktifitas kita untuk maju, padahal
realitasnya seringkali tidaklah demikian, karenanya beranilah untuk mulai
melangkah.

Wallahu a’lam

Sby, 27 April 2002

Edy Santoso achedy@yahoo.com

Webmaster at http://masjidits.cjb.net