Anda di halaman 1dari 2

Tangis Paling Pedih

Kusmarwanti dalam “Catatan Seorang Ukhti”

Suatu hari di siang bolong, pintu rumah kost saya diketuk orang. Seorang wanita yang tak
merdu lagi. Orang cari sumbangan, pikir saya. Tisak su’uzhan (berburuk sangka)…
Memang sering seperti itu.

Saya buka pintu. Eorang wanita tua, sangat tua, telah duduk di kursi teras dengan plastik
hitam yang tak rapi lagi di tangannya.

“Monggo Mbah”, sapa saya sambil menemanitnya duduk di kursi teras.

Bla… bla… bla… Mbah tua itu pun menyampaikan maksud kedatangannya. Tak meleset
dugaan saya. Ia dari yayasan sosial meminta sumbangan dengan balik jasa pisau (huu,
sangar) yang ada di plastiknya.

Saya pun tak banyak komentar. Langsung menulis di kertas yang tak rapi dengan bolpoin
yang dibawanya, kasih uang, dan terima satu pisau.

“Mau minum, Mbah?” kata saya sadar siang itu panas sekali.

Mbah itu menolak dengan menunjukan botol kecil yang tidak bersih lagi. Semakin
simpati saya melihatnya.

“Istirahat dulu Mbah”, kata saya lagi.

Ia terdiam beberapa saat. Saya heran kok engak beranjak juga. Dan tiba-tiba…

Mbah itu menangis. Air bening mulai merembes membasahi kelopak matanya. Saya
mulai berpikir yang enggak-enggak. Ada yang salahkah dengan diri saya? Kenapa Mbah
ini?

Mengalir lancar. Mbah itu bercerita tetang penderitaan dan tekanan batinnya karena sikap
menantunya. Menantu dari anak lelaki satu-satunya telah banyak menyakitinya dan
bersikap kasar padanya. Ia tidak menemukan kesetiaan dari seorang menantu perempuan
yang selama ini ia rindukan. Tiada lagi yang merawatnya karena anak lelakinya tidak bisa
berbuat banyak .

Ia sebenarnya bukan orang tak mampu. Ia punya rumah yang cukup layak untuk
ditempati. Tapi, ia memilih hidup bersama orang-rang yang tak mampu di yayasan sosial
itu. Banyak anak jalanan, orang-orang terlantar. Mereka butuh uang untuk hidup. Tapi
beda dengan dirinya. Ia hanya butuh ketenteraman.

Ada rasa haru yang melimpah di dada saya. Apalagi tangisnya semakinh hebat dan
suaranya tak bisa dikendalikan. Mbah itu menangis hebat mencurahkan perasaannya pada
sata. Beberapa orang yang saat itu menjadi ramu teman saya ikut keluar melihar saya dan
mbah itu. Saya sendiri bingung, gimana caranya biar Mbah ini bisa menghentikan suara
tangisnya.

Saya tak bisa berbuat banyak. Dansaya pikir nggak banyak gunanya juga saya ngotot dan
banyak omong kasih nasehat buatnya. Mau kasih uang juga saya pikir nggak bisa
menyelesaikan masalah. Toh saat itu mbah tua itu nggak butuh banyak uang.

Saya memilih menjadi pendengan yang manis dengan harapan menggunung, semoga
dengan pertemuan itu bisa sedikit melepaskan bebannya. Lalu, diremasnya telapak tangan
saya dengan bisikan lembut, “Besok kalau menjadi menantu, yang baik dan setia sama
mertua ya, Nak !”

Saya dengan tersenyum tipis dengan anggukan kecil saja. Dalam hati saya berdoa semoga
kesabaran senantiasa tersemat dari hatinya dan saya yakin Allah akan memberikan
balasan yang setimpal dengan kesabarannya itu (Amin)

Saya jadi ingat tulisan Sori Siregar dalam cerpennya di harian Republika : “Tangis
seorang ibu adlaah tangis paling pedih dari sebuah penderitaan”. Ungkapan itu saat ini
sangat saya benarkan. Ternyata memang pedih seklai. Sebagai pendengar saya bisa
merasakannya, apalagi bila saya menjadi seorang pelaku.

Ibu dan air mata, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam kebahagiaan ibu
melahirnkan air mata. Dalam kesedihan pun ibu melahirkan air mata. Dalam kejengkelan
sekali pun ibu melahirkan air mata.

Kita dan air mata ibu pun menjadi dua hal yang tak bisa dipisahkan. Air mata ibu pun
menjadi dua hal yang tak bisa dipisahkan. Air mata ibu seringkali menjadi pedang yang
paling tajam untuk meluluhkan kekerasan dan keangkuhan kita. Air mata ibu yang
seringkali menjadi sutera yang paling lembut untuk menghaluskan perasaan kita. Air
mata ibu yang seringkali menjadi tetesan air yang paling bening untuk menyejukkan hari
kita. Air mata ibu jugalah yang seringkali menjadi cambuk paling dahsyat untuk
menyemangati kita.

…………..
Saya tidak bisa menghitung, sudah berapa tetes air mata ibu mengalis untuk saya karena
tak semua air mata itu mengalir di depan saya. Adakalanya bahkan seringkali air mata itu
mengalir di belakang saya, entah untuk sebuah kebahagiaan atau kejengkelan. Semua
menuntut saya untuk semakin dekat, dekat, dekat….