Anda di halaman 1dari 6

Yang Setengah Dien Itu

PERNIK - Ahad, 4 Nopember 2001

'Van, pernah mikirin tentang nikah ?' tanya Ety lugas.

'Kalau terlintas pernah. Mikirin ... rasanya belum. Apalagi kepingin,' jawab Vani tak berapa lama.

Vani tahu, kalau pertanyaannya model begini, pasti Ety lagi pengen cerita tentang keinginannya
menikah. Kalau dilihat dari usia memang sudah saatnya mereka ada ketertarikan dengan lawan jenis.
Apalagi kalau ingat menikah itu setengah dari dien. Rasanya semua pengen segera menikah. Hanya saja
jodoh masih misteri, hanya Allah yang tahu siapa dan kapan dipertemukan dengan jodohnya.

'Aku kok pengen cepet-cepet nikah aja ya Van ? Kayaknya sempurna hidup kalau udah ada
pendamping. Aku udah pengen ... sekali punya anak, momong bayi, ngurus suami....rasanya hidup tuch
jadi bervariasi. Cuman ... calonnya sekarang belum ada,' kata Ety menerawang.

Vani hanya tersenyum. Dia tahu, Ety hanya butuh orang untuk mendengarkan ganjalan hatinya. Dan
hampir tidak ada yang tidak tahu kalau Ety memang sudah lama sangat ingin menikah, karena Ety
memang sifatnya terbuka, hampir tidak ada masalah yang dapat disimpannya sendirian. Usia Ety
sebenarnya baru 22 tahun, hanya 2 tahun lebih tua
dari Vani. Namun dalam pandangan tentang pernikahan, keduanya sangat jauh berbeda. Vani belum
terpikir tentang menikah sama sekali.

* * *

'Uah ...', Vani menggeliat ke kanan kiri. Badannya sudah terasa penat. Diliriknya jam meja yang setia
menemani aktivitas di kamarnya.

Ooo ... pantas ... udah jam 1 dini hari, batin Voni, udah hampir empat jam berarti aku melototin
komputer dan tumpukan buku ini.

Dilihatnya buku-buku yang berserakan di sekitarnya. Direbahkannya badan di karpet yang masih bebas
dari buku. Lamunannya mulai mengembara.

Vani ingat Ety yang sudah begitu ingin menikah. Kemudian Retno dan Ayu yang sudah terpikir tentang
menikah.

Adakah yang salah pada diriku sehingga keinginan menikah itu belum ada ? Tapi aku merasa baik-baik
saja. Aku hanya ingin menyelesaikan dengan baik apa yang sedang dihadapi. Saat ini peran utamaku
adalah mahasiswa, dan aku ingin bagus dalam menjalankan peran itu. Karena itulah, saat ini yang
terpikir dalam benak hanyalah menyelesaikan tugas akhirnya secepat mungkin, dengan hasil yang
semaksimal mungkin. Dan aku cukup puas dengan apa yang telah kuraih dengan komitmen itu. Tugas
akhir tinggal selangkah lagi sementara teman-teman kontrakan banyak yang masih mencari judul.

Tentang pernikahan ... entahlah. Belum pernah terpikir siap atau tidak, atau sudah ingin atau belum.
Yang kutahu aku belum berpikir tentang pernikahan. Dan rasanya tidak ada yang bisa disiapkan untuk
pernikahan, karena toch persiapan pernikahan yang paling penting adalah kesiapan mental. Dan itu
tidak mungkin dilatih dengan try out khan ... Jadi maksimal ya hanya mengasah mental untuk
menghadapi apa yang dihadapi sekarang. Tidak pernah terlintas misalnya tatkala menahan marah berarti
sedang mempersiapkan mental untuk menikah. Dalam kasus seperti itu paling hanya tahu kalau sedang
menahan marah. Titik.

Dan sebelum lamunannya mencapai ujung, Vani telah terlelap di antara reruntuhan buku kuliahnya.

* * *
'Ret, kamu datang khan ke walimahannya Ayu ?' tanya Vani ke Retno, mantan teman sekamarnya
di チ @kontrakan yang dulu.

'Insya Allah. Kamu berangkat juga khan Van ? Bareng yok,' ajak Retno.

'Ayok. Eng ... Ret ... kamu kaget nggak Ayu menikah ?' tanya Vani yang penasaran dengan pendapat
teman sekontrakannya tentang undangan Ayu yang mendadak. Memang diakui Ayu yang tertua di
antara mereka berempat. Diakui juga kalau Ayu yang paling dewasa dan paling matang pemahaman
diennya di antara mereka. Namun tetap saja Vani nggak menyangka karena tidak ada desas desus
sebelumnya. Tidak ada angin ataupun mendung, tahu-tahu hujan lebat.

'Kaget sich enggak, cuman nggak nyangka. Soalnya Ayu nggak pernah kelihatan kayak orang yang akan
menikah. Tapi kalau dilihat dari kepribadiannya, kayaknya Ayu memang udah siap,' kata Retno.

'Kalau kamu gimana Ret?'pancing Vani lagi.

'Apanya ? Nikah ? Susah aku menjawabnya. Pengen sich jelas, khan kita udah dewasa,' kata Retno.

Retno memang orangnya terbuka. Namun berbeda dengan Ety, untuk hal hal yang tidak diinginkannya
orang lain tahu, Retno bisa sangat tertutup. Mungkin nikah ini salah satunya. 'Kalau ada yang datang ke
kamu, kamu udah siap Ret ?', tanya Vani lagi.

'Insya Allah. Kita udah tua lho, Van. Ayu aja udah nikah. Iya khan ?' tanya Retno retorik.

* * *

Ety baru datang dari Solo. Sudah seminggu sejak datang ke pernikahan Ayu, dia mudik ke kampung
halamannya.

'Van ... Van ...', panggil Ety tiba-tiba, 'Aku dilamar orang lho .... Kemaren pas pulang, kata ayahku ada
anak temennya yang lagi nyari jodoh, namanya mas Totok. Terus Mas Tok main ke rumah, dikenalkan
sama aku. Oangnya baik dech, manis lagi. Emang item sich ... tapi karena itu khan mas Tok jadi manis,
kalau putih nanti jadi nggak macho,'
tambah Ety.

'Terus, kamu langsung dilamar ?' tanya Vani.

'Ih, ya enggak lha ya .... Kita baru kenalan kok,' jawab Ety.

'Lhah, tadi kamu bilang sudah dilamar orang,' tanya Vani lagi.

'Iya, soalnya perasaanku udah cocok banget sama mas Tok, mas Tok juga udah cocok banget sama aku.
Jadi kayaknya sebentar lagi aku dilamar mas Tok. Buat nyingkat cerita, nggak salah khan kalau aku
bilang udah dilamar mas Tok ?' tanya Ety lagi.

Vani nggak habis pikir, tentu ada perbedaan yang jelas antara kata 'akan' dan 'sudah'.

Minggu-minggu berikutnya, Ety sering terlihat menerima telepon, dengan suara yang mendesah dan
cekikikan tertahan. Vani yang kamarnya tepat di sebelah telepon jadi risih, pasalnya kalau Ety sudah
menerima telepon, rasanya seperti mendengar anak ABG lagi pacaran. Dan itu nggak sekali dua, namun
hampir tiap malam.

Suatu hari, Ety sibuk berdandan sambil bernyanyi-nyanyi, senyum ke setiap orang yang melewatinya.

'Ceria amat Et,' sapa Vani sekedarnya.

'Tahu nggak Van,' cerita Ety sambil tersenyum riang, 'Aku janjian sama mas Tok, ketemu di rumah
makan pojok jalan Sriwijaya.'

'Nggak di sini aja Et ? Khan lebih enak masmu itu ke sini saja, jadi nggak usah tunggu-tungguan,' tanya
Vani heran.

'Nggak tahu, kata mas Tok nggak enak kalau ketemunya di kontrakan kita. Jadi saya sama mas Tok
janjian di sana, terus rencananya mau ke kampus. Mas Tok pengen lihat kampus kita,' jelas Ety.

'Ada orang lain yang diajak nggak Et ?' tanya Vani lagi.

'Enggak lah ya. Khan kita mau taaruf,' kata Ety.

'Berarti kamu jalan-jalan berdua donk sama masmu itu,' tanya Vani lagi.

'Kalau mau nikah khan diijinkan taaruf dulu,' jawab Ety.

Vani hanya terbengong mendengar jawaban Ety, sementara Ety sudah sibuk berdandan dan bernyayi
lagi.

* * *

Dua minggu kemudian ...

'Van, aku kemarin pulang dari Cirebon dianter sama Iwan lho,' cerita Retno sambil senyam senyum.

'Iwan ? Iwan yang dulu sempat jadi pacarmu pas SMP ?' tanya Vani memastikan.

'Iya. Subhanalloh dia sekarang, Van. Pas bisnya berhenti sebentar di tempat istirahat, dia turun dulu,
sholat. Terus khan tak tanya, apa nggak takut ditinggal sama bisnya. Jawabannya enggak. Terus tak
tanya, khan nggak enak sama penumpang lain kalau harus nunggu kita sholat. Jawaban dia gini, biarin
aja. Salah sendiri nggak ngasih waktu buat sholat. Aku salut dech sama dia, Van,' jelas Retno.

Dalam hati Vani bingung, bisnya Retno khan Cirebon-Bandung, rasanya wajar kalau bisanya tidak
memberi kesempatan sholat, karena hanya beberapa jam sehingga sholatnya bisa dijamak, atau
dilakukan tepat sebelum berangkat, atau tepat ketika sampai. Tapi Vani hanya diam saja. Dia ragu
menanyakan karena pemahaman Retno dalam dien
menurutnya sudah jauh di atas Vani. Retnolah yang membimbing Vani saat baru menerima hidayah
Allah.

'Kok bisa kamu ke sini bareng dia ?' hanya itu yang keluar dari mulut Vani.

'Pas liburan itu dia maen ke rumahku. Terus ngobrol-ngobrol. Dia nanya aku mau pulang kapan, mau
dianter nggak ? Aku sich mau aja, khan lumayan ada teman ngobrol di jalan, nggak bengong terus
sepanjang jalan,' jawab Retno.

Vani tambah bingung mendengarnya. Kemana hijab yang selama ini dijaga sama teman-teman
kontrakannya ?
Beberapa minggu kemudian ...

'Van, aku kok jadi nggak respek sama Didik ya ?' kata Retno.

'Kenapa Ret ?' tanya Vani bingung. Pasalnya selama ini Didik sang ketua Rohis senat itu lumayan
terjaga kredibilitasnya.

'Kemaren khan aku ikut rapat rohis senat yang dia pimpin. Terus pas udah adzan, tetap saja rapat jalan
terus. Sampai akhirnya sholatnya nggak di awal waktu. Terus aku pernah denger sering kali saat rapat
mereka memang sholatnya telat, nunggu selesai rapat. Jadi kayaknya sholat jadi prioritas nomor sekian
dech,' jelas Retno.

Mendengarnya Vani jadi inget cerita Retno sebelumnya tentang Iwan yang sholat saat bisnya berhenti
sebentar. Namun untuk mengomentari, Vani rikuh. Untuk urusan dien, Vani selalu nggak yakin di
hadapan Retno. Satu hal dicatat dalam hati Vani, nilai ketua rohis senat mereka mulai turun di mata
Retno, seiring dengan naiknya nilai Iwan. Vani jadi kangen sama Ayu yang lagi di rumah mertuanya di
Lampung dan berharap Ayu segera pulang ke kontrakan mereka.

* * *

'Yu, eng ... aku pengen nanya sesuatu,' kata Vani memulai pembicaraan dengan Ayu.

'Ada apa Van, kok kayaknya serius amat,' tanya Ayu.

'Aku kok bingung tentang takdir, jodoh, dan taaruf,' jelas Vani sejurus kemudian sambil tersipu-sipu. Ini
untuk pertama kalinya Vani mengungkapkan kalau dia sudah mulai memikirkan hal yang satu ini.

'Kenapa emang ?' tanya Ayu memancing.

'Jodoh itu khan takdir, lalu bagaimana kita tahu kalau seseorang itu jodoh kita sesuai takdir kita ? Terus
taarufnya itu harusnya gimana ? Apa emang harus jalan bareng dulu seminggu dua minggu ?' tanya Vani
gamblang.

'Jodoh itu memang takdir, merupakan ketentuan Allah. Gimana kita tahu ? Tentu saja dengan bertanya
sama Allah. Allah khan sudah memberikan fasilitasnya. Ada sholat istikharah untuk menanyakan
seseorang itu jodoh kita atau bukan,' jelas Ayu.

'Tapi Yu, aku masih nggak ngerti. Setelah sholat istikharah, gimana caranya kita tahu ? Khan nggak
mungkin nunggu Allah ngomong sama kita. Atau nunggu ngimpi ... Lagian, gimana caranya ngebedain
mimpi itu dari Allah atau dari nafsu, atau malah dari syetan ?', tanya Vani lagi.

'Itulah Van, kenapa kalau sholat istikharoh itu harusnya hati kita netral duluan. Jadi tahapnya ada yang
datang ke kita, atau ada yang kita sukai, atau kombinasinya. Terus kita pengen tahu yang mana nich
yang jodoh kita. Ya sholat istikharoh, syaratnya hati harus netral dulu, nggak ada kecenderungan nerima
salah satu, atau kecenderungan menolak salah satu. Jadi bener-bener netral, baru sholat istikharoh. Nha,
kalau setelah itu kita jadi mantap mau nikah sama
salah satu, itulah jawaban dari istikharoh,' jelas Ayu panjang lebar.

'Ooo jadi gitu tho jawabannya. Terus tentang taaruf gimana Yu ?' tanya Vani lagi.

'Taaruf itu untuk lebih mengenal calon pasangan kita. Caranya tentu tetap dalam koridor islam, tetap
sesuai syariat. Melihat diperbolehkan asal tetap tutup aurat, mau ngobrol juga diperbolehkan asal tidak
berdua. Itupun cukup dilakukan beberapa kali, sebatas mengetahui bagaimana konsep keluarga menurut
calon pasangan kita. Jadi tetap beda dengan pacaran, tidak ngobrol kemana-mana nggak jelas ujung
pangkalnya,' jelas Ayu lagi.
'Udah tahu doanya khan ?' tanya Ayu tiba-tiba.

Vani hanya menggeleng pelan.

'Rabbana hablana min azwajina, wa dzurriyyaatina qurrota a’yun waj alni lil muttaqiina imama,' kata
Ayu.

* * *

Diary Vani di suatu malam yang cerah.

Diary, Vani bersyukur sama Allah telah ditunjukkan jalan yang lurus ini. Diary, dulu Vani merasa telah
mengenal Ety dan Retno. Vani telah bersama mereka hampir dua tahun lebih. Vani merasa dapat
menebak jalan pikiran mereka, dapat memperkirakan hal-hal yang tidak mungkin mereka lakukan.
Diary, ternyata Vani salah besar. Dua tahun lebih
bersama ternyata tidak cukup untuk mengenal seseorang. Dulu Vani melihat Ety dan Retno begitu
paham pada dien ini. Mereka hijrah jauh sebelum Vani. Mereka termasuk senior di rohis kami. Mereka
begitu menjaga hijab. Mereka begitu menjaga hati. Sama sekali Vani nggak menyangka kalau sekarang
mereka begini.

Diary, Ety memang sudah dilamar. Namun proses taarufnya, bagi Vani, rasanya nggak jauh beda dengan
pacaran. Mereka sering pergi bersama meskipun sekedar makan. Ety sekarang kalau mudik dijemput,
kesininya diantar lagi sama calonnya. Meskipun sudah dilamar, tapi khan bukan nggak mungkin
lamaran itu putus ? Lagian, kalau taarufnya begitu jadi nggak berbeda donk dengan pacaran. Apalagi
tanggal nikahnya masih beberapa bulan lagi. Ya nggak Ry ?

Retno beda kasus lagi. Dia ketemu sama mantan pacarnya di SMP. Entah bagaimana, ujug-ujug dia jadi
sering jalan sama mantannya itu. Yang ke Bandung dianter lah, yang di Cirebon cari buku lah, lihat
pameran lah. Macem-macem. Diary, Vani paling shock saat mantannya itu nganter Retno naik mobilnya
dari Cirebon ke Bandung. Ih ... kok Retno bisa begitu yach ?

Diary, Vani jadi terbuka dan tambah yakin, hanya Allah yang mengetahui dan mengenal hamba-Nya.
Selama dan sebaik apapun kita merasa mengenal seseorang, pada hakekatnya hanya Allah lah yang tahu
bagaimana orang itu. Hanya Allah lah yang benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan dan apa
yang tampak dari seseorang. Jadi, kalau memang hanya Allah yang tahu dan mengenal orang, kenapa
Vani tidak memasrahkan jodoh Vani saja sama Allah ? Toh Allah yang paling tahu, Allah nggak akan
salah memilih karena Allah sudah tahu semuanya.

* * *

Vani tersenyum melihat dua jundinya terlelap. Diselimutinya Ghozi dan Syiva perlahan-lahan, takut
mengganggu tidur mereka. Kakinya melangkah ke kamar mandi, berwudhlu. Dia belum sholat isya.
Tadi dia menidurkan Ghozi dan Syiva sejak setelah sholat Maghrib, sampai akhirnya ikut tertidur.

Sehabis shalat rawatib, Vani terpekur. Dia tersenyum, tiba-tiba saja memory di kontrakan dia dulu saat
masih kuliah melintas di kepalanya. Vani ingat dia menikah hanya seminggu setelah wisuda, dua
minggu setelah sidang sarjananya. Sementara Ety menikah empat bulan setelah dia. Dan Retno.. hmm...
sampai saat ini dia masih dalam proses dengan Iwannya, belum ada kejelasan kapan mereka akan
menikah.

***

cerpen karangan Ummu Alya [tutut_v@telkom.co.id]