Anda di halaman 1dari 65

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia didalam kehidupannya akan selalu berusaha untuk
mendapatkan kemudahan dalam mengatasi setiap masalah yang dihadapinya.
Tiap tahun selalu bermunculan penemuan demi penemuan penting dari para
ahli akan adanya mesin-mesin berteknologi canggih. Apalagi sekarang ini,
saat teknologi mengalami lompatan yang begitu tinggi dibandingkan setengah
abad yang lalu saat industri mulai menunjukkan diri dengan
dikembangkannya mesin mesin yang mampu menangani segala jenis
pekerjaan yang tidak mampu ditangani oleh manusia, dari peralatan yang
membutuhkan ketelitian yang tinggi sampai dengan peralatan dengan
pembebanan yang besar. Keberadaan mesin mesin berteknologi canggih itu
senantiasa meringankan kerja manusia. Contohnya dahulu semua pekerja
menggunakan tenaga manusia, seperti memecah batu menjadi batu kerikil
dahulu menggunakan palu sebagai alat untuk pemecahnya agar dapat
dijadikan batu kerikil, tetapi karena semakin pesatnya teknologi saat ini
dibuatlah Mesin Pemecah Batu untuk Krikil. Ini merupakan bagian dari
alternatif manusia untuk memudahkan mereka dalam bekerja sehingga lebih
cepat mengomset batu kerikil kepada konsumen.
Kini mesin Pemecah batu ini dapat dilakukan dengan teknik konveyer
yang dapat menghemat waktu dan tenaga. Mesin pemecah batu ini secara
otomatis tak terlepas dari peran komponen-komponen elemen mesin seperti
poros, motor listrik,bantalan, poros, pasak, puli dan sabuk-V dan lain-lain.
Dimana keuntungan mesin ini adalah:
1. Menghemat waktu dan tenaga bila dibandingkan dengan konvensional
(alat tradisional) yang akan memakan waktu lebih lama dan tenaga lebih
banyak.
2. Lebih praktis dan efisien.
Dengan ditunjang perkembangan teknologi komunikasi, maka
penyebaran akan adanya mesin ini dengan begitu cepatnya diketahui banyak
orang sehingga penggunaannya sudah mulai menyebar. Hal ini disebabkan
juga karena mesin ini memang benar-benar meringankan kerja manusia.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum perencanaan ini adalah:
1. Menambah wawasan mahasiswa mengenai mesin-mesin
produksi yang dapat menunjang perkuliahan.
2. Mengetahui dan memahami cara kerja mesin pemecah batu
(Stone Hammer).
1.2.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus perencanaan ini adalah:
1. Untuk merencanakan transmisi daya dari mesin pemecah batu
sehingga dihasilkan mesin yang dapat bekerja secara efektif
dan efisien dengan kapasitas dan efisiensi yang maksimal.
1.3 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari tulisan ini adalah:
1. Mahasiswa mampu menerapkan dan mnegaplikasikan teori dari mata
kuliah elemen mesin yang telah didapatkan dalam perkuliahan.
2. Mahasiswa mampu merencenakan setiap elemen mesin dan bagian utama
dari mesin.
3. Membuka pola pikir mahasiswa dalam merencanakan suatu mesin yang
mampu membantu pekerjaan menjadi lebih mudah.
4. Menjadikan mahasiswa lebih mandiri, kreatif dan inovatif.
1.4 Batasan masalah
Adapun Batasan masalah dalam perencanaan elemen mesin ini adalah
hanya merencanakan sistem transmisi dari mesin pemecah batu yang terdiri
dari:
1. Poros
2. Bantalan
3. Pasak
4. Puli
5. Sabuk-V

Gambar 1.1 Mesin penepung
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 POROS
Poros merupakan salah satu bagian terpenting dari setiap mesin,
karena pada hampir semua mesin, poros memegang peranan utama di dalam
meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran transmisi dalam setiap
mesin.
2.1.1 Macam-macam poros
Poros untuk meneruskan daya diklasifikasikan menurut
pembebanannya sebagai berikut:
1. Poros Transmisi
Poros ini mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur,
disini daya yang ditransmisikan harus melalui kopling, roda gigi,
sabuk dan sproket rantai.
2. Spindel
Poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin
perkakas di mana beban utamanya berupa puntiran.
3. Gandar
Poros seperti yang dipasang diantara roda roda kereta barang,
dimana tidak mendapat beban puntir bahkan kadang kadang tidak
boleh berputar.
Menurut bentuknya, poros dapat digolongkan atas poros lurus
umum, poros engkol sebagai poros utama dari mesin totak dan lain
lain. Poros luwes untuk transmisi daya kecil agar terdapat
kebebasan bagi perubahan arah dan lain lain.
2.1.2 Hal-hal yang penting dalam perencanaan poros transmisi
1. Kekuatan poros
Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau lentur
atau gabungan antara puntir dan lentur. Selain itu ada juga poros
yang mendapat beban tarik atau tekan seperti poros baling-baling
kapal atau turbin. Kelelahan, tumbukan atau pengaruh konsentrasi
tegangan bila diameter poros diperkecil juga perlu diperhatikan.
2. Kekakuan poros
Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup, tapi
jika lenturan atau defleksi puntirnya terlalu besar akan
mengakibatkan ketidak telitian karena untuk mencapai ketelitian
yang maksimum, kekakuan juga perlu diperhatikan. Kekakuan
poros itu sendiri juga berfungsi untuk mencegah lenturan atau
defleksi puntir.
3. Putaran kritis
Bila putaran suatu mesin dinaikkan maka pada suatu harga putaran
tertentu dapat terjadi getaran yang luat biasa besarnya, putaran ini
sering disebut dengan putaran kritis. Akibat dari putaran kritis ini
akan dapat mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian
bagian lainnya sehingga dalam perencanaan putaran kerja poros
harus lebih rendah dari putaran kritis.
4. korosi
Bahan bahan tahan korosi harus dipilih untuk poros propeller dan
pompa bila terjadi kontak dengan fluida yang korosif. Sedangkan
untuk poros poros yang terancam korosi dan poros poros mesin
yang sering berhenti lama sampai batas tertentu dapat pula
dilakukan perlindungan terhadap korosi.
5. Bahan poros
Poros untuk mesin biasanya dibuat dari baja batang yang ditarik
dingin dan difinis, baja karbon konstruksi mesin (Bahan SC) yang
dihasilkan dari ingot dan di-kill (baja yang dioksidasi dengan
ferosilicon dan dicor, kadar karbon terjamin). Meskipun demikian,
bahan ini kelurusannya agak kurang tetap dan dapat mengalami
deformasi karena tegangan yang kurang seimbang (misalnya diberi
alur pasak, karena ada tegangan sisa didalam terasnya) tetapi
penarikan dingin membuat permukaan poros menjadi keras dan
kekuatannya bertambah besar. Poros yang dipakai untuk
meneruskan putaran tinggi dan beban berat umumnya dibuat dari
baja paduan dengan pengerasan yang sangat tahan terhadap
keausan.
2.1.3 Poros dengan beban puntir
Jika diketahui bahwa poros yang direncanakan tidak mendapat
beban lain kecuali torsi, maka diameter poros tersebut dapat lebih kecil
dari yang dibayangkan.
Meskipun demikian, jika diperkirakan akan terjadi
pembebanan berupa lenturan, tarikan, atau tekanan, misalnya jika
sebuah sabuk, rantai atau roda gigi dipasangkan pada poros motor,
maka kemungkinan adanya pembebanan tambahan tersebut perlu
diperhitungkan dalam faktor keamanan yang diambil. (Sularso hal. 7
tabel 1.6).
Tabel 1.6 Faktor faktor koreksi daya yang akan ditransmisikan, fc.
Daya yang akan ditransmisikan fc
Daya rata rata yang diperlukan
Daya maksimum yang diperlukan
Daya normal
1,2-2,0
0,8-1,2
1,0-1,5
Jika P adalah daya nominal output dari motor penggerak, maka
berbagai macam faktor keamanan biasanya dapat diambil dalam
perencanaan, sehinga koreksi pertama dapat diambil kecil. Jika faktor
koreksi adalah f
c
maka daya rencana P
d
(kW) sebagai patokan adalah:
(Sularso hal. 7)
( ) kW P f Pd
c

....................................................................1
Jika daya diberikan dalam daya kuda (PS), maka harus
dikalikan dengan 0,735 untuk mendapatkan daya dalam kW.
Jika momen puntir (disebut juga sebagai momen rencana)
adalah: T (kg.mm)
) . ( 10 74 , 9
5
mm kg
n
Pd
T
..................................................2
Bila momen rencana dibebankan pada suatu diameter poros
(ds) maka tegangan geser (kg/mm
2
) yang terjadi adalah: (Sularso
hal. 7)
( )

,
_


2
3 3
1 , 5
16
mm
kg
ds
T
ds
T

...............................................3
untuk selanjutnya, tegangan geser yang diijinkan (
d
) dihitung
berdasarkan kekuatan tarik (
B
) dengan hasil kali antara faktor koreksi
Sf
1
dan Sf
2
. Harga Sf
1
adalah 5,6 untuk bahan SF dengan kekuatan yang
dijamin, dan 6,0 untuk bahan S-C dengan pengaruh masa, dan baja
paduan. Harga Sf
2
adalah 1,3 sampai 3,0. Harga
B
dapat dilihat dari
tabel (Sularso hal. 3 tabel 1.1 dan tabel 1.2)
Tabel 1.1 Baja Karbon untuk konstruksi mesin dan baja difinis
dingin untuk poros.
No. Jenis Lambang Perlakuan
Panas
Kekuatan
Tarik
Kg/mm
2
Keterangan
1. Baja
Karbon
konstruksi
mesin
( JIS G
4501 )
S30C Penormalan 48
-
S35C Penormalan 52
S40C Penormalan 55
S45C Penormalan 58
S50C Penormalan 62
S55C Penormalan 66
2. Batang
baja Yang
difinis
dingin
S35C-D Penormalan 53 Ditarik
dingin,
gerinda dan
bubut
S45C-D Penormalan 60
S55C-D Penormalan 72
Dari hal hal di atas, maka besarnya
d
dapat dihitung dengan: (Sularso
hal. 8)

,
_

2
2 1
mm
kg
sf sf
B
d

..........................................................4
Kemudian, keadaan momen puntir itu sendiri juga harus
ditinjau, faktor koreksi K
t
dipilih sebesar 1,0 jika beban dikenakan
secara halus, 1,0-1,5 jika terjadi sedikit kejutan atau tumbukan, dan
1,5-3,0 jika beban dikenakan dengan kejutan atau tumbukan besar
(Sularso hal. 8).
Dari persamaan untuk mencari tegangan geser diperoleh rumus
untuk menghitung diameter poros (d
s
) sebagai berikut: (Sularso hal. 8)
( ) mm T Cb Kt ds
d
3
1
. .
1 , 5
1
]
1

........................................................
.5
harga faktor koreksi Cb = 1,2 2,3, jika diperkirakan akan terjadi
pemakaian dengan beban lentur. (jika diperkirakan tidak akan terjadi
pembebanan lentur maka C
b
diambil 1,0): (Sularso hal. 8).
Dalam pengujian perhitungan, apakah sudah aman atau tidak
yang berpengaruh disini adalah harga faktor konsentrasi tegangan
dengan alur pasak () dan poros bertangga (). Harga diperoleh dari
gambar 1.2 (Sularso hal. 9 gambar 1.2)
Gambar 1.2 faktor konsentrasi tegangan

Terlebih dahulu kita menentukan besarnya


ds
r
(mm) (Sularso
hal 11). Dimana r disini adalah harga jari jari untuk ukuran alur pasak.
Selanjutnya ukuran pasak dan alur pasak dapat ditentukan dari tabel
1.8 (Sularso hal. 10).
Tabel 1.8 ukuran pasak

Dengan ukuran alur pasak dimana r sudah diketahui, maka kita
dapat mencari dari gambar 1.3: (Sularso hal.11 gambar 1.3)
Gambar 1.3 Faktor konsentrasi tegangan

Sebelumnya digunakan rumus


ds
D
dan
ds
r
(mm). Dimana D
adalah diameter bagian yang menjadi tempat bantalan, dan r disini
adalah harga dari jari- jari fillet dengan rumus: (Sularso hal. 11)
Jari jari fillet (r) =
2
s
d D
........................................................6
Dalam pengujian perhitungan, apakah sudah aman atau tidak
maka digunakan ketentuan sebagai berikut: (Sularso hal. 12)
syarat aman =

2
sf
d
> Kt Cb
.......................................7
dimana 3
1 , 5
s
d
T

...................................................................8
2.2 PASAK
2.2.1 Macam-macam Pasak
Pasak adalah suatu elemen mesin yang dipakai untuk
menetapkan bagian bagian mesin seperti roda gigi, sproket, puli,
kopling dan lain lain pada poros. Momen diteeruskan dari poros ke naf
atau dari naf ke poros.
Pasak pada umumnya pasak dapat digolongkan atas beberapa
macam sebagai berikut :
Menurut letaknya pada poros dapat dibedakan antara pasak
pelana, pasak rata, pasak benam, dan pasak singgung, yang umumnya
persegi empat. Dalam arah memanjang dapat berbentuk prismatis atau
berbentuk tirus. Pasak benam prismatis ada yang khusus dipakai
sebagai pasak luncur. Di samping macam di atas ada pula pasak
tembereng dan pasak jarum.
Pasak luncur memungkinkan pergeseran aksial roda gigi, dan
lain lain pada porosnya, seperti pada seplain. Yang paling umum
dipakai adalah pasak benam yang dapat meneruskan momen yang
besar. Untuk momen dengan tumbukan, dapat dipakai pasak singgung.
2.2.2 Hal-hal penting dan tata cara perencanaan pasak
Pasak benam mempunyai bentuk penampang segi empat di
mana terdapat bentuk prismatis dan tirus yang kadang kadang diberi
kepala untuk memudahkan pencabutannya. Kemiringan pada pasak
tirus umumnya sebesar 1/100, dan pengerjaannya harus hati hati agar
naf tidak menjadi eksentrik. Pada pasak yang rata, sisi sampingnya
harus pas dengan alur pasak agar pasak tidak menjadi goyah dan
rusak. Untuk pasak, umumnya dipilih bahan yang mempunyai
kekuatan tarik lebih dari 60 (kg/mm
2
), lebih kuat dari porosnya.
Kadang kadang sengaja dipilih bahan yang lebih lemah untuk pasak,
sehingga pasak akan lebih dahulu rusak dari pada poros atau nafnya.
Ini disebabkan harga pasak yang murah serta mudah menggantinya.
Jika momen rencana dari poros adalah T (kg.mm), dan
diameter poros adalah d
s
(mm), maka gaya tangensial F (kg) pada
permukaan poros adalah: (Sularso hal. 25)
2
s
d
T
F
.................................................................................9
Menurut lambang pasak yang diperlihatkan dalam gambar
(Sularso hal. 25 gambar 1.5), gaya geser bekerja pada penampang
mendatar b x l (mm
2
) oleh gaya F (kg).
Gambar 1.11 Gaya Gesek Pada Pasak
Dengan demikian tegangan geser
k
(kg/mm
2
) yang
ditimbulkan adalah: (Sularso hal. 25)
bl
F
k

......................................................................10
Dari tegangan geser yang diijinkan
ka
(kg/mm
2
), panjang pasak
l
1
(mm) yang diperlukan dapat diperoleh: (Sularso hal. 25)
1
l b
F
ka


................................................................11
Harga
ka
adalah harga yang diperoleh dengan membagi
kekuatan tarik
B
dengan faktor keamanan Sf
k1
x Sf
k2
. Harga Sf
k1
umumnya diambil 6, dan Sf
k2
dipilih antara 1-1,5 jika beban dikenakan
secara perlahan lahan, antara 1,5-3 jika dikenakan dengan tumbukan
ringan, dan antara 2-5 jika dikenakan secara tiba tiba dan dengan
tumbukan berat.
Gaya keliling F (kg) yang sama seperti tersebut di atas
dikenakan pada luas permukaan samping pasak. Kedalaman alur pasak
pada poros dinyatakan dengan t
1
, dan kedalaman alur pasak pada naf
dengan t
2
. Abaikan pengurangan luas permukaan oleh pembulatan
sudut pasak. Dalam hal ini tekanan permukaan p (kg/mm
2
) adalah:
(Sularso hal. 27)
( )
2 1
ataut t l
F
p

....................................................................12
dari harga tekanan permukaan yang diijinkan p
a
(kg/mm
2
),
panjang pasak yang diperlukan dapat dihitung dari: (Sularso hal. 27)
( )
2 1
ataut t l
F
p
a

..................................................................13
Harga p
a
adalah sebesar 8 (kg/mm
2
) untuk poros berdiameter
kecil, 10 (kg/mm
2
) untuk poros berdiameter besar, dan setengah dari
harga harga di atas untuk poros berputaran tinggi.
Perlu diperhatikan bahwa lebar pasak sebaiknya 25-35% dari
diameter poros, dan panjang pasak ( l
k
) jangan terlalu panjang
dibandingkan dengan diameter poros (antara 0,75 sampai 1,5 d
s
).
Karena lebar dan tinggi pasak sudah distandarkan, maka beban yang
ditimbulkan oleh gaya F yang besar hendaknya diatasi dengan
menyesuaikan panjang pasak.
Dalam pengujian perhitungan, apakah sudah aman atau tidak
maka digunakan ketentuan sebagai berikut: (Sularso hal. 26)
( )
( ) 5 , 1 75 , 0
35 , 0 25 , 0


s
k
s
d
l
d
b
....................................................................1
4
1. SABUK
Jarak yang jauh antara kedua poros sering tidak
memungkinkan trasmisi langsung dengan roda gigi. Dalam hal
demikian, cara transmisi putaran atau daya yang lain dapat
diterapkan, dimana sebuaah sabuk luwes atau rantai dibelitkan
sekeliling puli atau sproket pada poras.
Transmisi dengan elemen mesin yang luwes dapat
digolongkan atas transmisi sabuk, trasmisi rantai, dan transmisi
kabel atau tali. Dari macam-macam transmisi dibagi atas tiga
kelompok. Dalam kelompok pertama, sabuk rata dipasang pada
puli silinder dan meneruskan momen antara dua poros yang
jaraknya dapat sampai 10 (m) dengan perbandingan putaran antara
1/1 sampai 7/1. Kelompok terakhir terdiri dari atas sabuk dengan
gigi yang digerakkan dengan sproket pada jarak pusat sampai
mencapai 2 (m), dan meneruskan putaran secara tepat dengan
perbandingan antara 1/1 sampai 6/1. sabuk rata yang banyak ditulis
dalam buku-buku lama belakangan ini pemakainnya tidak seberapa
luas lagi.
Sebagian besar transmisi sabuk menggunakan sabuk-V
karena mudah penanganannya dan harganyapun murah. Kecepatan
sabuk direncanakan untuk 10 sampai 20 (m/s) pada umumnya, dan
maksimum sampai 25 (m/s).
2.3.1 Transmisi Sabuk-V
Sabuk-V terbuat dari karet dan mempunyai penampang
trapesium. Tenunan tetoron atau semacamnya dipergunakan sebagai
inti sabuk. Bagian sabuk yang sedang membelit pada puli ini
mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan
bertambah besar. Gaya gesekan juga akan bertambah karena pengaruh
bentuk baji, yang akan menghasilkan transmisi daya yang besar pada
tegangan yang relatif rendah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan
sabuk-V dibandingkan dengan sabuk rata. Dalam gambar.... diberikan
berbagai proporsi penampang sabuk-V yang umum dipakai.
Transmisi sabuk-V hanya dapat menghubungkan poros -poros
yang sejajar dengan arah putaran yang sama. Dibandingkan dalam
transmisi roda gigi atau rantai, sabuk-V bekerja lebih halus dan tidah
bersuara. Untuk mempertinggi daya yang ditransmisikan dapat dipakai
beberapa sabuk-V dipasang sebelah-menyebelah. Jarak sumbu poros
harus sebesar 1.5 sampai 2 kali diameter pully besar. Nomor nominal
sabuk-V dinyatakan panjang kelilingnya dalam inci.
Gambar 5.3 Diagram pemilihan sabuk-V
Gambar 5.4. Profil alur sabuk-V
Atas dasar daya rencana dan putaran poros penggerak,
penampang sabuk-V yang sesuai dapat diperoleh dari gambar (Sularso
hal. 168 gambar 5.3 (b)). Daya rencana dihitung dengan mengalikan
daya yang akan diteruskan dengan faktor koreksi dalam tabel (Sularso
hal. 165 tabel 5.1).
Jarak sumbu poros harus sebesar 1,5 sampai 2 kali diameter
puli besar. Di dalam perdagangan terdapat berbagai pnjang sabuk-V.
Nomor nominal sabuk dinyatakan dalam panjang kelilingnya dalam
inch. Diameter puli yang terlalu kecil akan memperpendek umur
sabuk. Dalam tabel (Sularso hal. 169 tabel 5.4) diberikan diameter puli
minimum yang diijinkan dan dianjurkan menurut jenis sabuk yang
bersangkutan.
Karena sabuk-V biasanya digunakan untuk menurunkan
putaran, maka perbandingan yang umum dipakai ialah perbandingan
reduksi i (i > 1), dimana: (Sularso hal. 166)
2
1
n
n
i
......................................................................................15
Kecepatan linier sabuk-V (m/s) adalah: (Sularso hal. 166)
1000 60
1

n d
v
p

.........................................................................1
6
Jarak sumbu poros dan panjang keliling sabuk berturut turut
adalah C (mm) dan L (mm) : (Sularso hal. 170)
( )
( )
C
d D
d D C L
p p
p p
4 2
2
2

+ + +

.........................................17
( )
8
8
2 2
p p
d D b b
C
+

......................................................18
Dimana:
( )
p p
d D L b + 2
................................................................19
Untuk menghitung diameter lingkaran jarak bagi puli
digunakan rumus sebagai berikut: (Sularso hal. 177)
d
p
= diameter minimum puli yang dianjurkan dalam tabel.
D
p
= i x d
p
.................................................................................20
Diameter luar puli dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut: (Sularso hal. 177)
d
k
= d
p
+ (K
t
x K).....................................................................21
D
k
= D
p
+ (K
t
x K)....................................................................22
dimana: K adalah faktor koreksi yang dapat dilihat dalam tabel
(Sularso hal. 166 tabel 5.2).
Untuk perbandingan reduksi yang besar dan sudut kontak lebih
kecil dari 180 menurut perhitungan dengan rumus 23, kapasitas daya
yang diperoleh harus dikalikan dengan faktor koreksi yang
bersangkutan K

seperti diperlihatkan dalam tabel (Sularso hal. 174


tabel 5.7). Besarnya sudut kontak diberikan oleh: (Sularso hal. 173)
( )
C
d D
p p


57
180

.........................................................23
Untuk dapat memelihara tegangan yang cukup dan sesuai pada
sabuk, jarak poros puli harus dapat disetel ke dalam maupun ke luar
(Sularso hal. 174 gambar 5.10).
Daerah penyetelan untuk masing masing penampang sabuk
diberikan dalam tabel (Sularso hal. 174 tabel 5.8).
Pembatasan ukuran puli sering dikenakan pada panjang
susunan puli atau lebar puli. Panjang maksimum susunan puli L
max
adalah perlu untuk memenuhi persamaan berikut ini: (Sularso hal.
177).
( )
( ) 0
2
1
2
1
max
> +
+
k k
p p
D d C
C D d L
............................................................24
Jika d
b
dan D
b
berturut turut adalah diameter naf puli kecil dan
puli besar, d
s1
dan d
s2
berturut turut adalah diameter poros penggerak
dan yang yang digerakkan, maka (Sularso hal. 177)
( )
( ) mm d D
mm d d
s B
s B
10
3
5
10
3
5
2
1
+
+
...............................................................25
Dalam pengujian perhitungan, apakah sudah aman atau tidak
maka digunakan ketentuan sebagai berikut: (Sularso hal. 176)
v 30 m/s...............................................................................26
2
k k
D d
C
+
> ...........................................................................27
Gaya gesekan yang akan bertambah karena pengaruh bantuan
baji, yang akan menghasilkan transmisi daya yang besar pada
tegangan yang relative rendah. Hal ini merupakan salah satu
keunggulan sabuk-V dibandingkan dengan sabuk rata.
Hal-hal penting dalam perencanaan sabuk-V
1. Perbandingan reduksi (i)
Karena sabuk-V biasanya dipakai untuk menurunkan putaran,
maka perbandingan yang umum dipakai ialah perbandingan
reduksi i (i > 1) dimana:
U d
D
i
n
n
p
p
1
2
1

; U =
i
1
(Sularso, hal 166)
Dimana : n
1
= putaran poros penggerak (rpm)
.n
2
= putaran poros yang digerakkan (rpm)
.d
p
= diameter puli penggerak (mm)
D
p
= diameter puli yang digerakkan (mm)
U = perbandingan putaran
2. Pemilihan penampang sabuk V
Atas daya rencana dan putaran poros penggerak, penampang
sabuk V yang sesuai dapat diperoleh dari Gb.5.3 (Sularso,
hal 164)
Gb.5.3 Diagram pemilihan sabuk V
3. Diameter minimum puli yang dianjurkan (mm)
Diameter minimum puli yang dianjurkan dapat diperoleh dari
table 5.4 (Sularso, hal 169) sesuai dengan penampang sabuk
v
Tabel 5.4 Diameter puli yang diizinkan dan dianjurkan (mm)
4. Diameter puli Penggerak (d
p
)
Diameter puli penggerak dapat diperoleh dari tabel 5.2
(Sularso, hal 166) sesuai dengan penampang sabuk V
Tabel 5.2 Ukuran puli sabuk V
5. Diameter puli yang digerakkan (D
p
)
Diameter puli yang digerakkan (D
p
) dapat diperoleh dengan
rumus :
D
p
= i . d
p
(Sularso, hal 166)
6. Diameter luar puli penggerak (d
k
)
Dapat diperoleh dengan rumus :
d
k
= D
p
+ 2 . k (Sularso, hal 177)
Dimana nilai k dapat diperoleh dari tabel 5.2 (sularso, hal 166)
sesuai dengan penampang sabuk V
7. Diameter luar puli yang digerakkan (D
k
)
D
k
= D
p
+ 2k ( Sularso, hal 177)
8. Diameter bos atau naf puli penggerak (d
B
)
D
B
5/3 ds
1
+ 10 (mm) (Sularso, hal 177)
9. Diameter bos atau naf puli yang digerakkan (D
B
)
D
B
5/3 ds
2
+ 10 (mm) (Sularso, hal 177)
10. Kecepatan keliling sabuk V (v)
.v =
1000 . 60
. .
1
n d
p

(m/s) (Sularso, hal 166)


Dengan syarat aman U < 30 m/s (Sularso, hal 176)
11. Jarak sumbu poros (C )
Jarak sumbu poros harus sebesar 1,5 sampai 2 kali diameter
puli yang digerakkan (D
p
) (Sularso, hal 166)
12. Cek konstruksi sabuk V
konstruksi belt dinyatakan baik bila memenuhi syarat sebagai
berikut:
C (d
k
+ D
k
) > 0 (Sularso, hal 177)
13. Panjang sabuk (L)
L = 2C +
( ) ( )
2
4
1
2
p p p p
d D
C
d D + +

(Sularso, hal 170)


2.4 BANTALAN
Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban,
sehingga putaran atau gerakan bolak baliknya dapat berlangsung dengan
halus, aman dan panjang umur. Bantalan harus cukup kokoh untuk
memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Jika
bantalan tidak berfungsi dengan baik maka prestasi seluruh sistem akan
menurun atau tak dapat bekerja secara semestinya. Jadi, bantalan dalam
permesinan dapat disamakan peranannya dengan pondasi pada gedung.
2.4.1 Klasifikasi Bantalan
Bantalan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Atas Dasar Gerakan Bantalan Terhadap Poros
a. Bantalan luncur.
Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros
dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh
permukaan bantalan dengan perantaraan lapisan pelumas.
b. Bantalan gelinding.
Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara
bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen
gelinding seperti bola (peluru), rol atau rol jarum, dan rol
bulat.
2. Atas Dasar Arah Beban Terhadap Poros
a. Bantalan radial.
Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak
lurus sumbu poros.
b. Bantalan aksial.
Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah sejajar
dengan sumbu poros.
c. Bantalan gelinding khusus.
Bantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya
sejajar dan tegak lurus dengan sumbu poros.
2.4.2 Jenis-jenis Bantalan Gelinding
Gambar 4.15 Macam macam bantalan gelinding
Bantalan gelinding mempunyai keuntungan dari gesekan
gelinding yang sangat kecil dibandingkan dengan bantalan luncur.
Seperti diperlihatkan dalam gambar (Sularso hal. 129 gambar 4.15),
elemen gelinding seperti bola atau rol, dipasang di antara cincin luar
dan cincin dalam. Dengan memutar salah satu cincin tersebut, bola
atau rol akan membuat gerakan gelinding sehingga gesekan di
antaranya akan jauh lebih kecil. Untuk bola atau rol, ketelitian tinggi
dalam bentuk dan ukuran merupakan keharusan. Karena luas bidang
kontak antara bola atau rol dengan cincinnya sangat kecil maka
besarnya beban per satuan luas atau tekanannya menjadi sangat tinggi.
Dengan demikian bahan yang dipakai harus mempunyai ketahanan
dan kekerasan yang tinggi.
Bantalan gelinding, seperti pada bantalan luncur, dapat
diklasifikasikan atas : bantalan radial, yang terutama membawa beban
radial dan sedikit beban aksial, dan bantalan aksial yang membawa
beban yang sejajar sumbu poros. Menurut bentuk elemen
gelindingnya, dapat pula dibagi atas bantalan bola dan bantalan rol.
Demikian pula dapat dibedakan menurut banyaknya baris dan
konstruksi dalamnya. Bantalan yang cincin dalam dan cincin luarnya
dapat saling dipisahkan disebut macam pisah.
Dalam praktek, bantalan gelinding standar dipilih dari katalog
bantalan, seperti yang terlihat pada tabel di atas (Sularso hal 143).
Ukuran utama bantalan gelinding adalah diameter lubang, diameter
luar, lebar, dan lengkungan sudut. Pada umumnya diameter lubang
diambil debagai patokan, dengan mana diameter luar dan lebar
digabungkan. Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor
dasar dan pelengkap. Nomor dasar yang terdapat merupakan lambang
jenis, lambang ukuran (lambang lebar, diameter luar), nomor diameter
lubang, dan lambang sudut kontak. Lambang lambang pelengkap
mencakup lambang sangkar, lambang sekat (sil), bentuk cincin,
pemasangan, kelonggaran, dan kelas. Jika hal hal tersebut tidak
diperinci, maka lambang lambang di atas tidak dituliskan. Lambang
jenis menyatakan jenis bantalan. Lambang ukuran menyatakan lebar
untuk bantalan radial dan tinggi untuk bantalan aksial; dapat juga
menyatakan diameter luar dari bantalan bantalan tersebut. Nomor
diameter lubang dinyatakan dengan dua angka.
Ada dua macam kapasitas nominal, yaitu kapasitas nominal
dinamis spesifik dan kapasitas nominal statis spesifik. Misalkan
sejumlah bantalan membawa beban tanpa variasi dalam arah yang
tetap. Jika bantalan tersebut adalah bantalan radial, maka bebannya
adalah radial murni, cincin luar diam dan cincin dalam berputar. Jika
bantalan tersebut adalah bantalan aksial, maka kondisi bebannya
adalah aksial murni, satu cincin diam dan cincin yang lain berputar.
Jumlah putaran adalah 1.000.000 (atau 33,3 rpm selama 500 jam).
Setelah menjalani putaran tersebut, jika 90% dari jumlah bantalan
tersebut tidak menunjukkan kerusakan karena kelelahan oleh beban
gelinding pada cincin atau elemen gelindingnya, maka besarnya beban
tersebut dinamakan kapasitas nominal dinamis spesifik (C), dan umur
yang bersangkutan disebut umur nominal. Jika bantalan membawa
beban dalam keadaan diam dan pada titik kontak yang menerima
tegangan maksimum besarnya deformasi permanen pada elemen
gelinding ditambah besarnya deformasi cincin menjadi 0,0001 kali
diameter elemen gelinding, maka beban tersebut dinamakan kapasitas
nominal statis spesifik (C
o
).
Tabel 4.14 Ukuran luar bantalan gelinding
Nomor Bantalan Ukuran Luar (mm) Kapasitas
Nominal
Dinamis
Spesifik
C ( Kg )
Kapasit
as
Nominal
Statis
Spesifik
Co
( Kg )
Jenis
terbuka
Dua
Sekat
Dua
sekat
tanpa
kontak
D D B r
6000
6001
6002
6003
6004
6005
6006
6007
6008
6009
6010
6001ZZ
6001ZZ
6002ZZ
6003ZZ
6004ZZ
6005ZZ
6006ZZ
6007ZZ
6008ZZ
6009ZZ
6010ZZ
6000VV
6001VV
6002VV
6003VV
6004VV
6005VV
6006VV
6007VV
6008VV
6009VV
6010VV
10
12
15
17
20
25
30
35
40
45
50
26
28
32
35
42
47
55
62
68
75
80
8
8
9
10
12
12
13
14
15
16
16
0,5
0,5
0,5
0,5
1
1
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
360
400
440
470
735
790
1030
1250
1310
1640
1710
196
229
263
296
465
530
740
915
1010
1320
1430
6200
6201
6202
6203
6204
6205
6206
6207
6208
6209
6210
6200ZZ
6201ZZ
6202ZZ
6203ZZ
6204ZZ
6205ZZ
6206ZZ
6207ZZ
6208ZZ
6209ZZ
6210ZZ
6200VV
6201VV
6202VV
6203VV
6204VV
6205VV
6206VV
6207VV
6208VV
6209VV
6210VV
10
12
15
17
20
25
30
35
40
45
50
30
32
35
40
47
52
62
72
80
85
90
9
10
11
12
14
15
16
17
18
19
20
1
1
1
1
1,5
1,5
1,5
2
2
2
2
400
535
600
750
1000
1100
1530
2010
2380
2570
2750
236
305
360
460
635
730
1050
1430
1650
1880
2100
Sebuah bantalan membawa beban radial F
r
(kg) dan beban aksial F
a
(kg), maka beban ekivalen dinamis P
r
(kg) untuk bantalan radial adalah
sebagai berikut: (Sularso hal. 135)
P
r
= X.V.Fr + Y.Fa..................................................................28
Dimana faktor-faktor X, V, Y terdapat dalam tabel: (Sularso hal. 135 tabel
4.9).
Jika C (kg) menyatakan beban nominal dinamis spesifik dan P (kg)
menyatakan beban ekivalen dinamis, maka faktor kecepatan f
n
adalah:
(Sularso hal. 136)
3
1
3 , 33

,
_

n
f
n
..........................................................................29
Faktor umur adalah: (Sularso hal. 136)
Pr
C
f f
n h

.............................................................................30
Umur nominal L
h
adalah: (Sularso hal. 136)
( )
3
500
h h
f L ...........................................................................31
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perencanaan Poros
1. Poros pada motor/poros penggerak
Mesin penggerak yang digunakan adalah Honda jenis GX 160 dengan daya
(P) yang ditransmisikan sebesar 5,5 PK. Untuk mengubah PK kedalam bentuk kW,
maka harus dikalikan dengan 0,735. Sehingga 5,5 x 0,735 = 4,0425 kW
Putaran motor n
1
= 2000 rpm (diasumsikan)
a. menentukan daya rencana (P
d
)
Karena daya yang tersedia berupa daya maksimum, maka faktor koreksi
(f
c
), penulis mengambil 1,2 dimana intervalnya (0,8 1,2). Tabel 1.6
(Sularso hal 7), maka daya rencana (P
d
) adalah
P
d
= f
c
. P
= 1,2 . 4,0425
= 4,8 kW
b. Menentukan momen rencana
T
1
= 9,74 x 10
5

1
n
Pd
T
1
= 9,74 x 10
5
2000
8 , 4
T
1
= 2338 kg.mm
c. Bahan poros yang digunakan adalah baja batang yang difinis dingin (S 35
C-D) dengan kekuatan tarik (
B
) = 53 kg/mm
2
untuk faktor koreksi Sf
1
adalah 6 (untuk bahan SC) dan untuk pengaruh konsentrasi tegangan yang
cukup besar, perlu diambil faktor yang dinyatakan sebagai Sf
2
dengan
harga sebesar (1,3 3,0), maka penulis mengambil 3 (Sularso hal 8)
d. Tegangan geser yang diizinkan (
a1
)

a1
=
2
2 1
/ 94 , 2
3 . 6
53
.
mm kg
Sf Sf
B

e. Menentukan diameter poros (d


s1
)
mm T Cb Kt d
a
s
20 2338 . 2 . 5 , 1 .
94 , 2
1 , 5
. .
1 . 5
3
1
3
1
1
1

1
]
1

1
]
1

Dimana :
Kt = Faktor koreksi karena terjadi sedikit kejutan dan tumbukan (1,0 - 1,5)
Cb = Faktor koreksi karena terjadi sedikit beban lentur (1,2 - 2,3)
f. Anggaplah diameter bagian yang menjadi tempat bantalan = 25mm
Jari-jari filet (r) = mm
d D
s
5 , 2
2
20 25
2

Alur pasak = b x h x filet (r)


Dari tabel 1.8 (Sularso hal 10) didapat alur pasak = 6 x 6 x 0,4
g. Konsentrasi tegangan pada poros bertangga adalah
125 , 0
20
5 , 2

s
d
r
25 , 1
20
25

s
d
D
Untuk nilai. = 1,4 Gambar 1.2 (Sularso hal 11)
h. Konsentrasi tegangan pada poros dengan alur pasak adalah
02 , 0
20
4 , 0

s
d
r
Untuk nilai = 1,8 Gambar 1.1 (Sularso hal 9)
i. Tegangan geser yang terjadi ( )

=
( ) ( )
2
3 3
1
/ 5 , 1
20
2338 . 1 , 5 . 1 , 5
mm kg
d
T
s

2

a
.
2 2
/ 9 , 4
8 , 1
3
94 , 2 mm kg
Sf

. Cb Kt = 1,5.2.1,5 = 4,5kg/mm
2

j. Suatu poros akan aman digunakan apabila
a
.

1
Sf
> . Cb Kt (Sularso
hal Karena 4,9 > 4,5, maka (BAIK)
Kesimpulan :
1) Diameter poros (d
s1
) = 20mm
2) Bahan poros S 35 C-D
3) Perlakuan : baja batang difinis dingin
2. Poros yang digerakkan
Diketahui :
Daya (P) = 4,0425 kW
Putaran pully (n
2
) = 1800 rpm
a. menentukan daya rencana (P
d
)
Karena daya yang tersedia berupa daya maksimum, maka faktor koreksi
(f
c
), penulis mengambil 1,2 dimana intervalnya (0,8 1,2). Tabel 1.6
(Sularso hal 7), maka daya rencana (P
d
) adalah
P
d
= f
c
. P
= 1,2 . 4,0425
= 4,8 kW
b. Menentukan momen rencana
T
2
= 9,74 x 10
5

2
n
Pd
T
2
= 9,74 x 10
5
1800
8 , 4
T
2
= 2597kg.mm
c. Bahan poros yang digunakan dalam perencanaan adalah baja batang yang
difinis dingin (S 35 C-D) dengan kekuatan tarik (
B
) = 53 kg/mm
2
untuk
faktor koreksi Sf
1
adalah 6 (untuk bahan SC) dan untuk pengaruh
konsentrasi tegangan yang cukup besar, perlu diambil faktor yang
dinyatakan sebagai Sf
2
dengan harga sebesar (1,3 3,0), maka penulis
mengambil 3 (Sularso hal 8)
d. Tegangan geser yang diizinkan (
a2
)

a2
=
2
2 1
/ 94 , 2
3 . 6
53
.
mm kg
Sf Sf
B

e. Menentukan diameter poros (d


s2
)
. mm mm T Cb Kt d
a
s
24 8 , 23 2599 . 2 . 5 , 1 .
94 , 2
1 , 5
. . .
1 . 5
3
1
3
1
2
2

1
]
1

1
]
1

Dimana :
Kt = Faktor koreksi karena terjadi sedikit kejutan dan tumbukan (1,0
1,5)
Cb =Faktor koreksi karena terjadi sedikit beban lentur (1,2-2,3)
f. Anggaplah diameter bagian yang menjadi tempat bantalan = 30mm
Jari-jari filet (r) = mm
d D
s
3
2
24 30
2


Alur pasak = b x h x filet (r)
Dari tabel 1.8 (Sularso hal 10) didapat alur pasak = 7 x 7 x 0,4
g. Konsentrasi tegangan pada poros bertangga adalah
125 , 0
24
3

s
d
r
25 , 1
24
30

s
d
D
Untuk nilai = 1,4 Gambar 1.2 (Sularso hal 11)
h. Konsentrasi tegangan pada poros dengan alur pasak adalah
016 , 0
24
4 , 0

s
d
r
Untuk nilai = 2,8 Gambar 1.1 (Sularso hal 9)
i. Tegangan geser ( )
( ) ( )
2
3 3
2
/ 95 , 0
24
2597 . 1 , 5 . 1 , 5
mm Kg
d
T
s

a
.
2 2
/ 15 , 3
8 , 2
3
94 , 2 mm kg
Sf

. Cb.Kt = 0,95.2.1,5 = 2,85kg/mm


2

j. Suatu poros akan aman digunakan apabila .
a
.

1
Sf
> . Cb Kt (Sularso
hal Karena 3,15 > 2,85, maka (BAIK)
Kesimpulan :
1) Diameter poros (d
s2
) = 24mm
2) Bahan poros S 35 C-D
3) Perlakuan : baja batang
3.2 Perencanaan Pasak
1. Pasak pada poros penggerak
Daya (P) = 4,0425 kW
Faktor koreksi (f
c
) diambil 1,2 dimana intervalnya (0,8-1,2). Tabel 1.6
(Sularso hal 7)
Putaran poros (n
1
) = 2000 rpm
Daya rencana (p
d
) = 4,8 kW T
1
= 2338kg.mm
Diameter poros (d
s1
) = 20mm
Bahan poros (S 35 C-D) dengan
B
= 53 kg/mm
2
, Sf
1
= 6, Sf
2
= 3

a
= 2,94kg/mm
2
Kt = 1,5 ; Cb = 2
a. Gaya tangensial F (kg)
F =
kg
d
T
s
8 , 233
2
20
2338
2
1

,
_

,
_

b. Penampang pasak : b x h = 6 x 6
Kedalaman alur pasak pada poros t
1
= 3,5mm
Kedalaman alur pasak pada naf t
2
= 2,8mm
Didapat dari tabel 1.8 (Sularso hal 10)
c. Bahan pasak S 45 C dicelup dingin dan dilunakkan, dengan
B
=
58kg/mm
2
Tabel 1.1 (Sularso hal 3)
Sf
k1
= 6 ; Sf
k2
= 3 (Sularso hal 25)
d. Tegangan geser yang diizinkan
2
2 1
/ 2 , 3
3 . 6
58
.
mm kg
Sf Sf
k k
B
ka

e. Tekanan permukaan yang diizinkan (P


a
) = 8kg/mm
2
, untuk poros
berdiameter kecil (Sularso hal 27)
f. Panjang pasak (l)
1
.l b
F
ka

=
2 , 3
. 6
8 , 233
1

l
mm l 12
1

Ditinjau dari tekanan permukaan (P
a
)
( )
2 1 2
. ataut t l
F
P
a

; diambil t
2
=
8
8 , 2 .
8 , 233
2

l
mm l 4 , 10
2

g. l =10,4mm
h. l
k
= 17mm
i.
3 , 0
20
6
1

s
d
b
Penampang pasak dapat dikatakan baik, apabila 0,25 <
1 s
d
b
< 0,35
(Sularso hal 28). Karena 0,25 < 0,3 < 0,35 maka (BAIK)
j.
85 , 0
20
17
1

s
k
d
l
Panjang pasak dianggap sesuai, apabila 0,75 <
1 s
k
d
l
< 1,5 (Sularso hal
28).
Karena 0,75 < 0,85 < 1,5 maka (BAIK)
Kesimpulan :
1) Ukuran pasak : b x h = 6 x 6
2) Panjang pasak = 17mm
3) bahan pasak : S45C, dicelupdingin, dan dilunakkan.
2. Pasak pada poros yang digerakkan
Daya (P) = 4,0425 kW
Faktor koreksi (f
c
) = 1,2
Putaran pully (n
2
) = 1800 rpm
Daya rencana (P
d
) = 4,8 kW
T = 2597 kg.mm
2
Dimeter poros (d
s2
) = 24mm
Bahan poros (S 35 C-D) dengan
B
= 53 kg/mm
2
, Sf
1
= 6, Sf
2
= 3

a
= 2,94kg/mm
2
Kt = 1,5 ; Cb = 2
a. Gaya tangensial F (kg)

kg
d
T
F
s
4 , 216
2
24
2597
2
2

,
_

,
_

b. Penampang pasak = b x h = 7 x 7
Kedalaman alur pasak pada poros t
1
= 4,0 mm
Kedalaman alur pasak pada naf t
2
= 3,5 mm
Didapat dari tabel 1.8 (Sularso hal 10)
c. Bahan pasak S 45 C dicelup dingin dan dilunakkan, dengan
B
=
58kg/mm
2
Tabel 1.1 (Sularso hal 3)
Sf
k1
= 6 ; Sf
k2
= 3 (Sularso hal 25)
d. Tegangan geser yang diizinkan

kg
Sfk Sfk
B
ka
2 , 3
3 . 6
58
.
2 1

/mm
2
e. Tekanan permukaan yang diizinkan (P
a
) = 8kg/mm
2
, untuk poros
berdiameter kecil (Sularso hal 27)
f. Panjag pasak (l)
1
.l b
F
ka


2 , 3
. 8
4 , 216
1

l
mm l 4 , 101
1

Ditinjau dari tekanan permukaan (P
a
)
( )
2 1 2
. ataut t l
F
p
a

; diambil t
2

8
3 , 3 .
2597
2

l
mm l 93
2

g. l = 93mm
h. l
k
= 20mm
i.
0,29
25
7
2

s
d
b
Penampang pasak dapat dkatakan baik, apabila 0,25 <
2 s
d
b
< 0,35
(Sularso hal 28).
Karena 0,25 < 0,29 < 0,35 maka (BAIK)
j.
83 , 0
24
20
2

s
k
d
l
Panjang pasak dianggap sesuai, apabila 0,75 <
2 s
k
d
l
< 1,5 (Sularso hal 28)
Karena 0,75 < 0,83 < 1,5 maka (BAIK)
Kesimpulan :
1) Ukuran pasak = b x h = 7 x 7
2) Panjang pasak = 20mm
3) Bahan pasak : S45C, dicelup dingin, dan dilunakkan.
3.3 Perencanaan Pully dan V-belt
1. P = 5,5 PK = 4,0425 kW
.n
1
2000 rpm , n
2
= 1800 rpm
1 , 1
1800
2000
2
1

n
n
i
.i adalah faktor reduksi, dimana i > 1 (Sularso hal 66)
2. karna mesin bekerja selama 6 8 jam, maka diambil faktor koreksi (f
c
) =
1,2
3. P
d
= f
c
. P
= 1,2 . 4,0425
= 4,8 kW
4. T
1
= 2338kg.mm
T
2
= 2597kg.mm
5. Bahan poros S 35 C-D, dengan kekuatan tarik (
B
) = 53kg/mm
2

Sf
1
= 6, Sf
2
= 3 (dengan alur pasak)
.
a
= 2,94kg/mm
2

6. Diameter poros penggerak (ds1) = 20mm
Diameter poros yang digerakkan (d
s2
) = 24mm
Kt = 1,5 untuk beban tumbukan
Cb = 2 untuk beban lenturan
7. Pemilihan penampang sabuk V
Dari gambar 5.3 diagram pemilihan sabuk-V (Sularso hal 164). Untuk
daya rencan (p
d
) = 4,8 kW dan putaran poros penggerak (n
1
) = 2000 rpm,
maka didapat jenis sabuk type A dengan tebal (t) = 9mm. Gambar 5.2
(Sularso hal 164)
8. Untuk penampang sabuk tipe A, diameter minimum puli yang diizinkan
(d
min
) = 65mm, dimeter minimum puli yang dianjurkan = 95mm. Tabel 5.4
(Sularso hal 169).
9. Diameter nominal puli penggerak (d
p
) untuk penampang sabuk V tipe A
diambil 100mm. Tabel 5.2 (Sularso hal 166)
Diameter nominal puli yang digerakkan (D
p
)
p
p
d
D
n
n
i
2
1
D
p
= i . d
p
= 1,1 . 100
= 110mm
Diameter luar puli penggerak (d
k
)
.d
k
= d
p
+ 2 k
Dimana k = 4,5 untuk V-belt tipe A, tabel 5.2 (Sularso hal 166) sehingga :
.d
k
= d
p
+ 2 . k
= 100 + 2 . 4,5
= 109mm
Diameter luar puli yang digerakkan (D
k
)
D
k
= D
p
+ 2 . k
=110 + 2 . 4,5
=119mm
Diameter bos atau naf puli penggerak (d
B
)
10
3
5
1
+
s B
d d
10 20
3
5
+
B
d
d
B
43,3mm
Diameter bos atau naf puli yang digerakkan (D
B
)
10
3
5
2
+
s B
d D
10 24
3
5
+
B
D
D
B
50mm
10. Kecepatan keliling sabuk V (v)
s m
n d
v / 5 , 10
60000
2000 . 100 .
1000 . 60
. .
1


Kecepatan keliling sabuk bisa dikatakan sesuai, apabila v < 30 m/s
Karena 10 m/s < 30 m/s maka (BAIK)
11. Pengecekan jarak sumbu poros
Jarak sumbu poros harus sebesar 1,5 sampai 2 kali diameter puly yang
digerakkan (D
p
), penulis mengambil 2 kali diameter puly yang digerakkan
(Sularso hal 166)
C = 2 . D
p
= 2 . 110
= 220mm
Untuk mengetahui apakah konstruksi belt sudah sesuai dengan persyaratan
( ) 0
2
1
> +
k k
D d C
( )
0
2
119 109
220 >
+

= 106mm ; karna 106mm > 0 (BAIK)


12. Kapasitas daya yang ditransmisikan (P
o
)
P
o
= 4,8kW
13. Panjang keliling sabuk (L)
( ) ( )
2
4
1
2
2
p p p p
d D
C
d D C L + + +

( ) ( )
2
100 110
220 . 4
1
100 110
2
14 , 3
220 . 2 + + + + L

mm mm 770 8 , 769
14. Nomor nominal sabuk
Berdasarkan panjang keliling sabuk (L), maka pada tabel 5.3 (Sularso hal
168) panjang sabuk-V standar didapat No 30 dengan panjang (L) =
770mm
15. Jarak sumbu poros
( )
8
8
2 2
p p
d D b b
C
+

Dimana b :
b = 2L 3,14 (D
p
- d
p
)
= 2 . 770 3,14 (110 - 100)
=880,6mm
Maka :

mm C 220
8
) 100 110 ( 8 6 , 880 6 , 880
2 2

16. sudut kontak


O =
( )
C
d D
p p
57 180
0
O =
( )
0
0
177
220
100 110 57 180


( )
( )
04 , 0
220
100 110

C
d D
p p
Berdasarkan harga
( )
C
d D
p p

didapat sudut kontak puli kecil (O) = 180
0
,
dan faktor koreksi (K
o
) = 1. Tabel 5.7 (Sularso hal 174)
17. Jumlah sabuk (N)
1
1 . 8 , 4
8 , 4
.

o o
d
K P
P
N
N = 1 buah
18. Daerah penyetelan jarak sumbu poros
Dari tabel 5.8 (Sularso hal 174), utuk sabuk dengan No 30 dan panjang (L)
= 770mm didapat :
, 20mm Ci
(penyetelan kesebelah dalam dari letak standar)
, 25mm Ct
(penyetelan kesebelah luar dari letak standar)
Kesimpulan :
a. Sabuk yang digunakan adalah type A dengan No 30 dan panjang
(L) = 770mm
b. Jumlah sabuk (N) = 1 buah
c. Diameter puli :
1. Diameter nominal puli penggerak (d
p
) = 100mm
2. Dimeter nominal puli yang digerakkan (D
p
) = 110mm
3. Diameter luar puli penggerak (d
k
) = 109mm
4. Diameter luar puli yang digerakkan (D
k
) = 119mm
5. Diameter bos atau naf puli penggerak (d
B
) = 43mm
6. Diameter bos atau naf puli yang digerakkan (D
B
) = 50mm
3.4 Perencanaan Bantalan
1. Bantalan pada poros penggerak
a. Diameter poros (d
s1
) = 20mm
b. Putaran poros (n
1
) = 2000 rpm
c. Diameter yang menjadi tempat bantalan = 25mm
Berdasarkan bentuk poros yang memerlukan gesekan yang sangat kecil,
maka direncanakan bantalan gelinding bola radial alur dalam baris tunggal.
Tabel 4.14 (Sularso hal 143), dangan data :
a. Nomor bantalan : 6005
b. Diameter dalam (d) : 25mm
c. Diameter luar (D) : 47mm
d. Lebar (B) : 12mm
e. Jari-jari (r) : 1mm
f. Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) = 790kg
g. Kapasitas nominal statis spesifik (C
o
) = 530kg
Umur bantalan rencana didapat dari tabel 4.11 (Sularso hal 137), karna
pemakaian yang terus menerus, maka diambil umur bantalan (Lh
a
) = 30000
jam dengan interval (20000 - 30000)
Perhitungan perencanaan bantalan sbb :
a. menentukan faktor kecepatan (f
n
)
25 , 0
2000
3 , 33 3 , 33
3
1
3
1
1

1
]
1

1
]
1

n
fn
b. Menentukan beban ekivalen dinamis (P
r
)
P
r
= X . V . F
r
+ Y . F
a
Dimana F
a
adalah beban aksial yang dialami oleh poros dan besarnya
sama dengan nol. F
r
adalah gaya radial yang disebabkan oleh
perputaran poros. Dari hubungan antara daya yang ditransmisikan P
(kW), gaya keliling (F
t
) dan kecepatan keliling (v) maka gaya radial
dapat dicari dengan persamaan :
kg
v
P
F
t
3 , 39
5 , 10
0425 , 4 . 102 . 102

Sehingga :
F
t
= F
r
tan ; diasumsikan = 20
0
, gaya radial F
r
adalah :
kg
F
F
t
r
108
20 tan
3 , 39
tan
0

Untuk beban putar pada cincin dalam v = 1. Faktor X = 1, dan Y = 0,


(untuk baris tunggal, bila
e
vF
F
r
a

). Tabel 4.9 (Sularso hal 135)


Maka :
P
r
= X . V . F
r
+ Y . F
a
= 1 . 1 . 108 + 0
= 108kg
c. Menentukan faktor umur (f
h
)
.
83 , 1
108
790
25 , 0
r
n h
P
C
f f
d. Menentukan umur nominal
L
h
= 500 (f
h
)
3
= 500 (1,83)
3
= 3064,2 jam

2. Bantalan pada poros yang digerakkan
a. Diameter poros (d
s2
) = 24mm
b. Putaran poros (n
2
) = 1800 rpm
c. Diameter yang menjadi tempat bantalan = 30mm
Berdasarkan bentuk poros yang memerlukan gesekan yang sangat kecil,
maka direncanakan bantalan gelinding bola radial alur dalam baris tunggal.
Tabel 4.14 (Sularso hal 143), dengan data :
a. Nomor bantalan : 6006
b. Diameter dalam (d) : 30mm
c. Diameter luar (D) : 55mm
d. Lebar (B) : 13mm
e. Jari jari : 1,5mm
f. Kapasitas nominal dinamis spesifik (C) = 1030kg
g. Kapasitas nominal statis spesifik (C
o
) = 740kg
Umur bantalan rencana didapat dari tabel 4.11 (Sularso hal 137), karna
pemakaian yang terus menerus, maka diambul umur bantalan (Lh
a
) = 30000
jam dengan interval (20000 - 30000).
Perhitungan perencanaan bantalan sbb :
a. Menentukan faktor kecepatan (f
n
)
264 , 0
1800
3 , 33 3 , 33
3
1
3
1
2

1
]
1

1
]
1

n
fn
b. Menentukan beban ekivalen dinamis (P
r
)
P
r
= X . V . F
r
+ Y . F
a
Dimana F
a
adalah beban aksial yang dialami oleh poros dan besarnya
sama dengan nol. F
r
adalah gaya radial yang disebabkan oleh
perputaran poros. Dari hubungan antara daya yang ditransmisikan P
(kW), gaya keliling (F
t
) dan kecepatan keliling (v), maka gaya radial
dapat dicari dengan persamaan :
kg
v
P
F
t
3 , 39
5 , 10
0425 , 4 . 102 . 102

Sehingga :
F
t
= F
r
tan ; diasumsikan = 20
0
, gaya radial F
r
adalah :
kg
F
F
t
r
108
20 tan
3 , 39
tan
0

Untuk beban putar pada cincin dalam v = 1. Faktor X = 1, dan Y = 0,


(untuk baris tunggal, bila
e
vF
F
r
a

). Tabel 4.9 (Sularso hal 135)


sehingga :
P
r
= X . V . F
r
+ Y . F
a

= 1 .1 .108 + 0
= 108kg
c. Menentukan faktor umur (f
h
)
5 , 2
108
1030
26 , 0
r
n h
P
C
f f
d. Menentukan umur nominal
L
h
= 500 (f
h
)
3
= 500 (2,5)
3
= 7812,5 jam
Dari hasil perhitungan perencanaan diatas,maka didapatkan data seperti pada tabel
berikut :
1. POROS
NO NAMA BAGIAN BAHAN
DIAMETER
ds
1
(mm) ds
2
(mm)
1.
2.
Poros penggerak
Poros yang digerakkan
S 35 C-D
S 35 C-D
20
24
2. PASAK
NO NAMA BAGIAN BAHAN
UKURAN
PASAK b x h
(mm)
PANJANG
PASAK
(mm)
1
2
Pasak pada poros
penggerak
Pasak pada poros yang
digerakkan
S 45 C
S 45 C
6 x 6
7 x 7
17
20
3. PULLY
NO NAMA BAGIAN BAHAN
DIAMETER
d
p
(mm)
D
p
(mm)
d
k
(mm)
D
k
(mm)
1
2
Pully penggerk
Pully yang digerakkan
Besi tuang
Besi tuang
100
110
109
119
4. SABUK
NO NAMA BAGIAN BAHAN
Type
Sabuk
No
Sabuk
Panjang
Sabuk
(mm)
1 Sabuk V R. Canvas A 30 770
5. BANTALAN
NO NAMA BAGIAN BAHAN DIAMETER
d (mm) D (mm) B (mm)
1
2
Bantalan penggerak
Bantalan yang
digerakkan
Perunggu
Perunggu
25
30
47
55
12
13
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari perencanaan mesin penepung diatas adalah :
1. Poros penggerak
Berdasarkan daya 4,0425 kW dan putaran poros (n
1
) 2000 rpm, serta
menggunakan bahan poros S 35 C-D maka dapat disimpulkan :
a. Daya rencana (P
d
) : 4,8 kW
b. Momen rencana (T) : 2338 kg.mm
c. Tegangan geser yang diizinkan (
a1
) : 2,94 kg/mm
2
d. Diameter poros (ds
1
) : 20 mm
e. Tegangan geser () : 1,5 kg/mm
2
2. Poros yang digerakkan
Berdasarkan daya 4,0425 kW dan putaran poros (n
2
) 1800 rpm, serta
menggunakan bahan poros S 35 C-D, maka dapat disimpulkan :
a. Daya rencana (p
d
) : 4,8 kW
b. Momen rencana (T) : 2597 kg.mm
c. Tegangan geser yang diizinkan (
a2
) : 2,94 kg/mm
d. Diameter poros (ds
2
) : 24 mm
e. Tegangan geser () : 0,95 kg/mm
2
3. Pasak pada poros penggerak
Berdasarkan diameter poros (d
s1
) 20 mm,serta menggunakan bahan
pasak S 45 C, dan dengan mengambil ukuran pasak 6 x 6, maka dapat
disimpulkan :
a. Gaya tangensial (F) : 233,8 kg
b. Tegangan geser yang diizinkan
( )
ka

: 3,2 kg/mm
2

c. Tekanan permukaan yang diizinkan (Pa) : 8 kg/mm
2
d. Panjang pasak : 17
4. Pasak pada poros yang digerakkan
Berdasarkan diameter poros (d
s2
) 24 mm, serta menggunakan bahan
pasak S 45 C, dan dengan mengambil ukuran pasak 7 x 7, maka dapat
disimpulkan :
a. Gaya tangensial (F) : 216,4 kg
b. Tegangan geser yang diizinkan
( )
ka

: 3,2 kg/mm
2
c. Tekanan permukaan yang diizinkan (Pa) : 8 kg/mm
2
d. Panjang pasak yang aktif : 20 mm
5. Bantalan penggerak
Berdasarkan putaran poros (n
1
), dan diameter poros (d
s1
) 20 mm, maka
dapat disimpulkan :
a. Nomor bantalan : 6005
b. Diameter dalam (d) : 25 mm
c. Diameter luar (D) : 47 mm
d. Lebar bantalan (B) : 12 mm
e. Jari-jari (r) : 1 mm
f. Bahan bantalan : perunggu
6. Bantalan yang digerakkan
Berdasarkan putaran poros (n
2
), dan diameter poros (d
s2
) 24 mm, maka
dapat disimpulkan :
a. Nomor bantalan : 6006
b. Diameter dalam (d) : 30 mm
c. Diameter luar (D) : 55 mm
d. Lebar bantalan (B) : 13 mm
e. Jari-jari (r) : 1,5 mm
f. Bahan bantalan : perunggu
7. Pully dan V Belt
Berdasarkan daya 4,0425 kW, dan putaran antar kedua poros (n
1
) 2000
rpm, (n
2
) 1800 rpm, serta mengambil nomor sabuk 30 dengan type-A,
maka dapat disimpulkan :
a. Diameter puly penggerak (d
p
) : 100 mm
b. Diameter luar puly penggerak (d
k
) : 109 mm
c. Diameter puly yang digerakkan (D
p
) : 110 mm
d. Diameter luar puly yang digerakkan (D
k
) : 119 mm
e. Kecepatan keliling sabuk (v) : 10,5 m/s
f. Panjang sabuk (L) : 770 mm
4.2 Saran
Sebagai mata kuliah yang bersifat aplikasi, maka kuliah perencanaan mesin akan
sangat membantu para mahasiswa untuk lebih memahami mata kuliah yang
menjadi persyaratan serta memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk
berfikir kreatif dalam memikirkan hal-hal yang perlu direncanakan pada suatu
mesin. Mengingat pentingan mata kuliah ini maka, kami mengharapkan semua
pihak yang berkepentingan dalam mata kuliah ini agar bisa mengoptimalkan
semua aspek dalam mata kuliah ini sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak
sesuai dengan yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ir. Ohan Juhana, M. Suratman, S.pd, Menggambar Teknik Mesin, Pustaka
Grafika
Sularso, Kiyokatsu Suga, 1991, Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen
Mesin, PT Pradnya Paramita, Jakarta
LAMPIRAN LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN UNTUK POROS DAN PASAK
LAMPIRAN 1 TABEL 1.6 FAKTOR KOREKSI................................................ 55
LAMPIRAN 2 TABEL 1.1BAJA KONSTRUKSI MESIN.................................. 55
LAMPIRAN 3 GAMBAR 1.1 FAKTOR KONSENTRASI

............................ 56
LAMPIRAN 4 GAMBAR 1.2 FAKTOR KONSENTRASI

............................
56
LAMPIRAN 5 TABEL 1.8 UKURAN PASAK................................................... 57
LAMPIRAN UNTUK SABUK DAN PULY
LAMPIRAN 6 TABEL 5.2 UKURAN PULY...................................................... 58
LAMPIRAN 7 TABEL 5.3 (b) PANJANG SABUK............................................ 59
LAMPIRAN 8 TABEL 5.4 DIAMETER PULY................................................... 60
LAMPIRAN 9 TABEL 5.7 FAKTOR KOREKSI................................................. 60
LAMPIRAN UNTUK BANTALAN
LAMPIRAN 10 TABEL 4.9 FAKTOR V, X, Y..................................................... 61
LAMPIRAN 11 TABEL 4.11 UMUR BANTALAN............................................. 61
LAMPIRAN 12 TABEL 4.14 UKURAN BANTALAN........................................ 62

LAMPIRAN UNTUK POROS DAN PASAK
Lampiran 1
Tabel 1.6 Faktor-faktor koreksi daya yang akan ditransmisikan
(Sularso hal 7)
Daya yang akan ditransmisikan f
c
Daya rata-rata yang diperlukan
Daya maksimum yang diperlukan
Daya normal
1.2 2.0
0.8 1.2
1.0 1.5
Lampiran 2
Tabel 1.1 Baja karbon untuk konstruksi mesin dan baja batang yang difinis
dingin untuk poros (Sularso hal 3)
Standar dan
macam
Lambang Perlakuan panas
Kekuatan tarik
(kg/mm
2
)
Keterangan
Baja karbon
konstruksi
mesin
(JIS G 4501)
S30C
S35C
S40C
S45C
S50C
S55C
Penormalan
Penormalan
Penormalan
Penormalan
Penormalan
Penormalan
48
52
55
58
62
66
Batang baja
yang difinis
dingin
S35C-D
S45C-D
S55C-D
-
-
-
53
60
72
Ditarik dingin,
digerinda,
dibubut, atau
gabungan antara
hal-hal tersebut.
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Table 1.8 ukuran pasak
Gbr. 1.1 faktor konsentrasi tegangan
untuk pembebanan puntir statis
dari suatu poros bulat dengan
alur pasak persegi yang diberi
filet (Sularso hal 9)
Gbr. 1.2 faktor konsentrasi tegangan
untuk pembebanan punter statis
dari suatu poros bulat dengan
pengecilan diameter yang diberi
filet (Sularso hal 11)
(Sularso hal 10)
Ukuran
nominal
pasak
b x h
Ukuran
standar
b, b1, b2
Ukuran standar h
C I
*
Ukuran
Standar
t1
Ukuran standar t2
R1
dan
r2
Referensi
Pasak
prismatis
Pasak
luncur
Pasak
tirus
Pasak
prismati
s
Pasak
luncur
Pasak
tirus
Diameter poros
yang dapat
dipakai d
**
2 x 2
3 x 3
4 x 4
5 x 5
6 x 6
2
3
4
5
6
2
3
4
5
6
0.16-
0.25
6-20
6-36
8-45
10-56
14-70
1.2
1.8
2.5
3.0
3.5
1.0
1.4
1.8
2.3
2.8
0.5
0.9
1.2
1.7
2.2
0.08-
0.16
Lebih dari
-
-
-
-
6-8
8-10
10-12
12-17
17-22
0.25-
0.40
0.16-
0.25
(7 x 7)
8 x 7
10 x 8
12 x 8
14 x 9
7
8
10
12
14
7 7.2 16-80
18-90
22-110
28-140
36-160
4.0
4.0
5.0
5.0
5.5
3.0 3.5 3.0
2.4
2.4
2.4
2.9
-
-
-
-
-
20-25
22-30
30-38
38-44
44-50
7
8
8
9
3.3
3.3
3.3
3.8
0.40-
0.60
0.25-
0.40
(15 x 10)
16 x 10
18 x 11
20 x 12
22 x 14
15
16
18
20
20
10 10.2
40-180
45-180
50-200
56-220
63-250
5.0
6.0
7.0
7.5
9.0
5.0 5.5
5.0
3.4
3.4
3.9
4.4
-
-
-
-
-
50-55
50-58
58-65
65-75
75-85
10
11
12
14
4.3
4.4
4.9
5.4
0.60-
0.80
0.40-
0.60
(24 x 16)
25 x 14
28 x 16
32 x 18
24
25
28
32
16 16.2
70-280
70-280
80-320
90-360
8.0
9.0
10.0
11.0
8.0 8.5
8.0
4.4
5.4
6.4
-
-
-
-
80-90
85-95
95-110
110-
130
14
16
18
5.4
6.4
7.4
*/ harus dipilih dari angka-angka berikut sesuai dengan daerah yang bersangkutan dalam tabel. 6, 8,
10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, 25, 28, 32, 36, 40, 45, 50, 56, 63, 70, 80, 90, 100, 110, 125, 140, 160,
180, 200, 220, 250, 280, 320, 360, 400.
(Sumber : Sularso,1979
LAMPIRAN UNTUK SABUK DAN PULLY
Lampiran 6
Tabel 5.2 Ukuran puly- V
(Sularso hal 166)
Penampang
sabuk V
Diameter
nominal
( Diameter
lingkaran
jarak bagi,
dp)

o
W* Lo K Ko E f
A
71 100
1011
125
>126
34
36
38
11,95
12,12
12,30
9,2 4,5 8,0 15,0 10,0
B
125 160
161 200
>201
34
36
38
15,86
16,07
16,29
12,5 5,5 9,5 19,0 12,5
C
200 250
251 315
>316
34
36
38
21,18
21,45
21,72
16,9 7,0 12,0 25,5 17,0
D
355 450
>451
34
36
30,77
31,14 24,6 9,5 15,5 37,0 24,0
E
500 630
> 631
34
36
36,95
37,45 28,7 12,7 19,3 44,5 29,0
Lampiran 7
Tabel 5.3 (b) Panjang Sabuk V Standar
(Sularso hal 168)
Nomor Nominal Nomor Nominal Nomor Nominal Nomor Nominal
Inch mm Inch mm Inch mm Inch mm
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
254
279
305
330
356
381
406
432
457
483
508
533
559
584
610
635
660
686
711
737
762
787
813
838
864
889
914
940
965
991
1016
1041
1067
1092
1118
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
1143
1168
1194
1219
1245
1270
1295
1321
1346
1372
1397
1422
1448
1473
1499
1524
1549
1575
1600
1626
1651
1676
1702
1727
1753
1778
1803
1829
1854
1880
1905
1930
1956
1981
2007
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
2032
2057
2083
2108
2134
2159
2184
2210
2235
2261
2286
2311
2337
2362
2388
2413
2438
2464
2489
2515
2540
2565
2591
2616
2642
2667
2692
2718
2743
2769
2794
2819
2845
2870
2896
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
2921
2946
2972
2997
3023
3048
3073
3099
3124
3150
3175
3200
3226
3251
3277
3302
3327
3353
3378
3404
3429
3454
3480
3505
3531
3556
3581
3607
3632
3658
3683
3708
3734
3759
3785
Lampiran 8
Tabel 5.4 Diameter minimum puli yang diijinkan dan dianjurkan dalam (mm).
(Sularso hal 169)
Penampang A B C D E
Diameter yang diijinkan 65 115 175 300 450
Diameter yang dianjurkan 95 145 225 350 550
Lampiran 9
Tabel 5.7 Faktor koreksi

K
(Sularso hal 174 )
Dp dp
C
Sudut kontak puli kecil Faktor koreksi K

0,00
0,10
0,20
0,30
0,40
0,50
0,60
0,70
0,80
0,90
1,00
1,10
1,20
1,30
1,40
1,50
180
174
169
163
157
151
145
139
133
127
120
113
106
99
91
83
1,00
0,99
0,97
0,96
0,94
0,93
0,91
0,89
0,87
0,85
0,82
0,80
0,77
0,73
0,70
0,65
LAMPIRAN UNTUK BANTALAN
Lampiran 10
Tabel 4.9 Faktor-faktor V, X, Y, dan X
0
, Y
0

(Sularso hal 135)
Jenis Bantalan
Beban
putar
pada
cicin
dalam
Beban
putar
pada
cicin
luar
Baris tunggal Baris ganda
e
Baris
tunggal
Baris
ganda Fa/VFr>e Fa/VFr<e Fa/VFr>e
V X Y X Y X Y X0 Y0 X0 Y0
Bantalan
bola alur
dalam
Fa/C0 = 0,014
= 0,028
= 0,056
= 0,084
= 0,11
= 0,17
= 0,28
= 0,42
= 0,56
1 1,2 0,56
2,30
1,99
1,71
1,55
1,45
1,31
1,15
1,04
1,00
1 0 0,56
2,30
1,90
1,71
1,55
1,45
1,31
1,15
1,04
1,00
0,19
0,22
0,26
0,28
0,30
0,34
0,38
0,42
0,44
0,6 0,5 0,6 0,5
Bantala
n bola
sudut
= 20
0
= 25
0
= 30
0
= 35
0
= 40
0
1 1,2
0,43
0,41
0,39
0,37
0,35
1,00
0,87
0,76
0,66
0,57
1
1,09
0,92
0,78
0,66
0,55
0,70
0,67
0,63
0,60
0,57
1,63
1,41
1,24
1,07
0,93
0,57
0,68
0,80
0,95
1,14
0,5
0,42
0,38
0,33
0,29
0,26
1
0,84
0,76
0,66
0,58
0,52
Lampiran 11
Tabel 4.11 Bantalan untuk permesinan serta umurnya
(Sularso hal 137)
Umur Lh
Faktor beban fw
2000 - 4000
(jam)
5000 - 15000
(jam)
20000 - 30000
(jam)
40000 - 60000
(jam)
Pemakaian
jarang
Pemakaian
sebentar-
sebentar
(tidak terus
menerus)
Pemakaian
terus-menerus
Pemakaian terus
menerus dengan
keandalan
Tinggi
1-1,1 Kerja halus
tanpa
tumbukan
Alat listrik
rumah
tangga,
sepeda
Konveyor,
mesin
pengangkat,
lift,tangga
jalan
Pompa, poros
transmisi,
separator,
pengayak,mesin
perkakas, pres
putar, aeparator
sentrifugal,
sentrifuspemurni
gula,motorlistrik
Poros transmisi
utama yang
memegang
perananpenting,
motor-motor
listrik yang
penting
1.1-
1.3
Kerja biasa Mesin
pertanian
gerinda
tangan
Otomobi,
mesin jahit
Motor kecil,
roda meja,
pemegang
pinyon, roda
gigi reduksi,
kereta rel
Pompa
penguras,mesin
pabrik kertas,
rol kalender,
kipasangin,kran,
penggilingbola,
motor utama
kereta rel listrik
1.2-
1.5
Kerja dengan
getaran atau
tumbukan
Alat-alat
besar, unit
roda gigi
denan getaran
besar, rolling
mill
Penggerak,
penghancur
Lampiran 12
Tabel 4.14 ukuran bantalan gelinding
(Sularso hal 143)
Nomor bantalan Ukuran luar (mm) Kapasitas
nominal
dinamis
spesifikC(kg
)
Kapasitas
nominal
statis
SpesifikCa
(kg)
Jenis
terbuka
Dua
sekat
Dua sekat
tanpa
kontak
d D B r
6000
6001
6002
6003
6004
6005
6006
6007
6008
6009
6010
6001ZZ
02ZZ
6003ZZ
04ZZ
05ZZ
6006ZZ
07ZZ
08ZZ
6009ZZ
10ZZ
6001VV
02VV
6003VV
04VV
05VV
6006VV
07VV
08VV
6009VV
10VV
10
12
15
17
20
25
30
35
40
45
50
26
28
32
35
42
47
55
62
68
75
80
8
8
9
10
12
12
13
14
15
16
16
0.
5
0.
5
0.
5
0.
5
1
1
1.
5
1.
5
1.
5
1.
5
1.
5
360
400
440
470
735
790
1030
1250
1310
1640
1710
196
229
263
296
465
530
740
915
1010
1320
1430
6200 6200ZZ 6200VV 10 30 9 1 400 236
6201
6202
6203
6204
6205
6206
6207
2608
2609
6210
01ZZ
02ZZ
6203ZZ
04ZZ
05ZZ
6206ZZ
07ZZ
08ZZ
6209ZZ
10ZZ
01VV
02VV
6203VV
04VV
05VV
6206VV
07VV
08VV
6209VV
10VV
12
15
17
20
25
30
35
40
45
50
32
35
40
47
52
62
72
80
85
90
10
11
12
14
15
16
17
18
19
20
1
1
1
1.
5
1.
5
1.
5
2
2
2
2
535
600
750
1000
1100
1530
2010
2380
2570
2750
305
360
460
635
730
1050
1430
1650
1880
2100
6300
6301
6302
6303
6304
6305
6306
6307
6308
6309
6310
6300ZZ
01ZZ
02ZZ
6303ZZ
04ZZ
05ZZ
6306ZZ
07ZZ
08ZZ
6309ZZ
10ZZ
6300VV
01VV
02VV
6303VV
04VV
05VV
6306VV
07VV
08VV
6309VV
10VV
10
12
15
17
20
25
30
35
40
45
50
35
37
42
47
52
62
72
80
90
100
110
11
12
13
14
15
17
19
20
23
25
27
1
1.
5
1.
5
1.
5
2
2
2
2.
5
2.
5
2.
5
3
635
760
895
1070
1250
1610
2090
2620
3200
4150
4850
365
450
545
660
785
1080
1440
1840
2300
3100
3650