Anda di halaman 1dari 12

UBIQUINONE (CoQ10) Monografi Koenzim Q-10 C59H90O4 863.

34 g mol1

2-[(2E,6E,10E,14E,18E,22E,26E,30E,34E)-3,7,11,15,19,23,27,31,35,39decamethyltetraconta-2,6,10,14,18,22,26,30,34,38-decaenyl]-5, 6-dimethoxy-3methylcyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (Anonim, 2010). Struktur teroksidasi coq 10 ditampilkan di atas. Berbagai jenis Koenzim Q dapat dibedakan dengan jumlah isoprenoid-rantai samping yang mereka miliki. Koenzim Q yang paling umum yang terdapat pada mitokondria manusia adalah Coq 10. Angka 10 mengacu pada jumlah pengulangan isoprena (Anonim, 2010). Koenzim Q 10, juga dikenal sebagai ubiquinone, ubidecarenone, Q koenzim, dan disingkat Coq 10, coq, Q-10, atau Q, adalah 1,4benzoquinon, dimana Q mengacu pada kuinon kimia kelompok dan 10 mengacu pada jumlah isoprenil subunit kimia dalam ekornya (Anonim, 2010). Struktur kimia CoQ-10, dijelaskan oleh Dr Karl Folkers dan kelompoknya, adalah 2,3-dimetoksi-5-metil-6-decaprenyl-1 ,4-benzoquinon .2 Identifikasi kimia angka (disebut CAS #) untuk ubiquinone adalah 303-98-0, dan untuk ubiquinol (bentuk tereduksi CoQ-10) adalah 992-78-9. Struktur ubiquinone dan ubiquinol disajikan di bawah ini (Anonim, 2010).

(Anonim, 2010)

Sifat fisikokimia dari beberapa CoQ-10 (Ubiquinone dan ubiquinol) ditunjukkan pada Tabel 1 (a) dan 1 (b). Tabel 1 (a): Sifat Ubiquinone (CoQ-10) Registry CAS No: 303-98-0 Penampilan Orange kristal (pada suhu kamar) Rumus empiris C 59 H 90 O 4 Berat molekul 863.358 Titik lebur 49 C Kelarutan Tidak larut dalam air Kelarutan terbatas dalam minyak dan lemak Larut dalam pelarut nonpolar (Anonim, 2010). Tabel 1 (b): Sifat ubiquinol (CoQ-10 H 2) Registry CAS No: 992-78-9 Penampilan Putih sangat pucat bubuk kristal kuning Rumus empiris C 59 H 92 O 4 Berat molekul 865.37 Titik lebur 49.5 C Kelarutan Praktis tidak larut dalam air. Kelarutan terbatas dalam minyak dan lemak. Larut dalam pelarut nonpolar. (Anonim, 2010). CoQ-10 adalah bubuk kristal yang tidak larut dalam air. CoQ-10 adalah zat yang larut dalam lemak. Senyawa ini larut vitamin seperti substansi minyak yang terdapat di beberapa bagian sel eukariotik, terutama di mitokondria. Senyawa ini juga merupakan komponen dari rantai transpor elektron dan berpartisipasi dalam respirasi sel aerobik, menghasilkan energi dalam bentuk ATP. Sembilan puluh lima persen energi dari tubuh manusia dihasilkan dengan cara ini. Oleh karena itu, organ-organ dengan kebutuhan energi tertinggi seperti hati, jantung dan ginjal memiliki konsentrasi CoQ-10 tertinggi (Anonim, 2010). Kegunaan dan Mekanisme Kerja Coenzyme Q10 (CoQ10) merupakan komponen alami yang ditemukan dalam tubuh manusia. Oleh karena keberadaannya ada di mana-mana secara alami dan mempunyai struktur quinone (sama dengan vitamin K), CoQ10 juga disebut sebagai ubiquinone (Gaby RA, 1996). Ubiquinone merupakan substansi seperti vitamin yang ditemukan pada tiap sel tubuh dan berfungsi vital dalam produksi energi. Ubiquinone merupakan 1 dari 2 nutrien esensial terpenting selain asam askorbat. Pada manusia, ubiquinone ditemukan dalam konsentrasi relatif tinggi pada sel yang memerlukan kebutuhan energi tinggi seperti jantung, hati, otot dan pankreas.

Penelitian menunjukkan bahwa ubiquinone berperan sebagai antioksidan dan berperan sentral dalam fosforilasi oksidatif mitokondria. Ubiquinone digunakan oleh tubuh untuk mengubah makanan menjadi adenosine triphosphate (ATP), energi yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh. Ubiquinone juga merupakan antioksidan potensial yang melindungi tubuh dari radikal bebas dan membantu ketersediaan vitamin E (antioksidan utama membran sel) (Fuke C, dkk, 2005). Ubiquinone atau coenzyme Q10 (CoQ10) merupakan substansi seperti vitamin yang ditemukan pada tiap sel tubuh. Ubiquinone digunakan oleh tubuh untuk mengubah makanan menjadi adenosine triphosphate (ATP), energi yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh. Oleh karena itu, suplementasi ubiquinone diperkirakan dapat meningkatkan kapasiti aerobik dan performans otot (Gaby RA, 1996). Meskipun ubiquinone dapat disintesis secara in vivo, kondisi yang mungkin meningkatkan kapasiti sintesis tubuh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ubiquinone. Kemungkinan defisiensi ubiquinone terlihat lebih banyak pada sel yang aktif dalam metabolisme, dengan asumsi bahwa sel tersebut membutuhkan ubiquinone dalam jumlah yang sangat besar (Gaby RA, 1996). Faktor lain yang dapat meningkatkan defisiensi ubiquinone termasuk diet yang tidak adekuat, stres lingkungan, latihan berlebihan dan obat-obatan tertentu. Defisiensi juga dilaporkan terjadi pada berbagai penyakit seperti gagal jantung kongestif (CHF), kardiomiopati, PPOK, AIDS, kanker, hipertensi dan penyakit gigi (Fuke C, dkk, 2005). Peran utama ubiquinone (CoQ10) adalah sebagai transduksi energi biologi. Ubiquinone adalah pembawa untuk transfer 2 elektron (elektron dan proton) dalam fase lipid membran mitokondria (Crane FL, dkk, 1993). Ubiquinone merupakan rantai transport elektron produksi ATP. Ubiquinone ditemukan dalam membran di dalam mitokondria, merupakan kofaktor untuk setidaknya 3 enzim mitokondria (kompleks I, II dan III) yang berperan vital dalam fosforilasi oksidatif. Fungsinya hanya sebagai komponen nonprotein dari rantai transport elektron (ETC) merupakan komponen tambahan yang tidak terikat dengan protein itu sendiri. Karakteristik yang unik ini memungkinkan ubiquinone untuk bergerak dan transfer elektron antara flavoproteins dan cytochromes. Setiap perbaikan elektron yang diproses melalui ETC pasti berinteraksi pertama kali dengan ubiquinone, sehingga dipertimbangkan sebagai komponen sentral rantai pernapasan mitokondria. Oleh karena itu, ubiquinone berperan esensial adenosine triphosphate (ATP) atau produksi energi biologi (Fuke C, dkk, 2005). Koenzim Q-10 atau ubikuinon merupakan komponen yang terdapat pada membran dalam (inner membrane) mitokondria. Sebagai satu-satunya organel yang berperan dalam memproduksi energi berupa adenosine trifosfat (ATP), mitokondria menentukan kelangsungan fungsi setiap sel di dalam tubuh. Di dalam mitokondria, koenzim Q-10 berperan pada jalur fosforilasi oksidatif yang sangat penting dalam pembentukan ATP. Bagian tubuh yang terbanyak mengandung enzim ini adalah jantung, disusul dengan ginjal dan hepar (Martina, 2009). CoQ-10 merupakan faktor obligat pada transfer elektron respirasi aerob untuk menghasilkan energi. Koenzim ini juga berperan pada molekul redoks aktif yang terikat pada membran pada berbagai fungsi sel lainnya, misalnya pembentukan rantai disulfida pada protein, detoksifikasi reactive oxygen species (ROS), berperan pada status redoks seluler, membangkitkan sinyal sel dan ekspresi gen (Nasution, 2010). Koenzim Q-10 adalah kofaktor

yang penting pada proses rantai transport elektron di mitokondria, di mana koenzim Q-l0 menerima elektron dari kompleks I dan II yang merupakan aktivitas yang penting pada produksi ATP. Koenzim Q-l0 juga mempunyai aktivitas antioksidan di mitokondria dan membran sel, vang melindungi dari peroksidasi membran lipid. Koenzim Q-10 juga menghambat oksidaxi LDL-kolesterol, dimana LDL kolesterol adalah faktor yang merupakan pencetus atherosclerosis (BPOM, 2006). Selain berperan dalam menghasilkan ATP, koenzim Q-10 juga memiliki aktivitas antioksidan kuat yang bekerja dengan cara mengikat radikal bebas, yaitu komponen yang merusak DNA, membran sel, dan menyebabkan kematian sel. Radikal bebas yang terdapat secara alami di dalam tubuh dan lingkungan luar (sinar ultraviolet, radiasi, asap rokok, dan polusi udara) tersebut dipercaya bertanggung jawab terhadap terjadinya penuaan dini dan berbagai penyakit seperti kelainan degeneratif, kelainan jantung, keganasan, hingga infertilitas (Martina, 2009). Dalam tubuh manusia, koenzim Q-l0 dapat dihasilkan secara alami dengan jalur yang mirip dengan jalur sintesis kolesterol. Hingga usia tertentu, di mana koenzim Q-l0 masih disintesis dan berfungsi secara normal, koenzim Q-l0 ini dapat melindungi manusia dari risiko atherosklerosis serta penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya. Namun, seiring dengan pertambahan usia, kadar koenzim Q-10 menurun. Penurunan kadar koenzim Q-10 juga terjadi pada pasien penyakit kronik seperti pasien penyakit jantung, distropi otot, Parkinson, kanker, diabetes, serta HIV/AIDS (BPOM, 2006). Koenzim Q-10 merupakan antioksidan kuat, membrane stabilizer, serta kofaktor integral pada rantai respirasi mitokondria yang membantu menghasilkan adenosin trifosfat (ATP) sebagai sumber energi seluler terbesar. Selain itu, koenzim Q-10 juga meregulasi gen yang berkaitan dengan metabolisme sel (Nasution, 2010). Suplemen koenzim Q-10 tersedia dalam berbagai bentuk sediaan dan komposisi. Tersedia bentuk sediaan kapsul basis lemak, kapsul serbuk, tablet, kapsul lunak, mikroemulsi dan sebagainya. Bentuk sediaan kapsul lunak mempunyai tingkat penyerapan lebih tinggi. Seperti halnya dosis harian dari koenzim Q-10 yang bervariasi tergantung kebutuhan individual pasien, sediaan suplemen koenzim Q10 juga dibuat bervariasi kadar komposisinya mulai 5 hingga 300 miligram (BPOM, 2006). Suplemen koenzim Q-10 yang masuk ke dalam tubuh akan diserap di usus halus, namun tingkat penyerapannya rendah (dari seluruh asupan yang masuk, 60%-nya akan terbuang bersama dengan kotoran). Penyerapannya ini tidak hanya tergantung dari makanan yang dimakan tapi juga banyaknya lemak yang terdapat pada makanan tersebut Tingkat penyerapaannya sangat rendah jika dikonsumsi pada keadaan perut kosong dan sangat baik jika dikonsumsi bersama dengan makanan terutama yang mengandung banyak lemak (BPOM, 2006). Berbagai penelitian telah menguji penggunaan koenzim Q-10 untuk ditambahkan pada terapi standar yang biasa digunakan. Suplemen koenzim Q-10 dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada pengobatan penyakit kardiovaskular (terutama pada gagal jantung kongesti) sesuai dengan aktivitas antioksidannya. Aktivitas antioksidan dan koenzim Q-10 terutama karena senyawa ini bekerja menghambat proses oksidasi LDL-kolesterol. Proses oksidasi ini diketahui berperan dalam patogenesis atherosclerosis. Kegunaan Koenzim Q- 10 yang disetujui oleh Badan POM adalah untuk memelihara kesehatan fungsi jantung (BPOM, 2006). Suplemen koenzim Q-l0 berinteraksi dengan beberapa jenis obat di antaranya

warfarin, obat penurun lipid golongan statin, doksorubisin, dan obat anti hipertensi golongan betabloker. Penggunaan koenzim Q-l0 bersama-sama warfarin harus hati-hati karena koenzim Q-10 dapat menurunkan efektivitas warfarin. Konsumsi suplemen koenzim Q-10 bersama dengan obat penurun lipid golongan statin dapat menurunkan kadar koenzim Q-10 dalam tubuh karena koenzim Q-10 dan kolesterol mengalami jalur metabolisme yang sama (BPOM, 2006). Ubiquinone sebagai antioksidan Ubiquinone mempunyai fungsi sebagai antioksidan selain sebagai pembawa elektron dan proton pada rantai pernapasan mitokondria. Ubiquinone (CoQ10) bekerja menghambat peroksidase lipid dan protein serta membersihkan radikal bebas (Fuke C, dkk, 2005). Ubiquinone berperan primer dengan mencegah terbentuknya radikal peroksidase lipid (LOO-). Peran tersebut dilakukan dengan mengurangi perferryl radical awal dengan membentuk ubisemiquione dan H2O2 (Forsmark-Andree P. Ernster L, 1993). Ubiquinone (CoQ10) secara konstan berperan pada oxidation-reduction recycling. Bentuk tereduksi siap memberikan elektron untuk menetralisasi oksidan dan hal ini menunjukkan aktiviti antioksidan yang kuat (Fuke C, dkk, 2005). Hubungan antara CoQ10 dan kerusakan membran akibat produksi radikal bebas dapat dilihat pada 3 aspek. Aspek pertama adalah ubiquinone pada membran dapat berfungsi sebagai agen pembersih untuk membersihkan radikal bebas atau peroksidase. Fungsi proteksi yang kedua adalah kemampuan ubiquinone secara enzimatik mengurangi bentuk oksidasi tokoferol yang dihasilkan aksi radikal bebas (tocopheroxyl radical). Ubiquinone secara efisien menjaga efek vitamin E suatu antioksidan yang poten dengan meregenerasitocopheroxyl radical menjadi tokoferol. Aspek ketiga adalah potensi semiquinone bebas untuk mengurangi oksigen membentuk superoksida sebagai prekursor radikal bebas yang lebih berbahaya (Crane FL, dkk, 1993). Beberapa peneliti menunjukkan bahwa ubiquinone mencegah peroksidase lipid hampir sama dengan vitamin E. Penelitian lain menemukan ubiquinone lebih efisien untuk mencegah oksidasi LDL daripada vitamin E, lycopene atau -karoten. Sebagai tambahanubiquinone dapat bekerja sinergi dengan vitamin E, membentuk metabolit aktif tokoferol, sama dengan mekanisme sinergi vitamin C. Ubiquinone merupakan satu-satunya antioksidan alami yang larut dalam lemak (lipid-soluble) yang dapat membentuk metabolit aktif dalam tubuh (Fuke C, dkk, 2005). Penelitian klinis menunjukkan bahwa menggunakan suplemen coenzyme Q10 sendiri atau dalam kombinasi dengan terapi obat dan suplemen nutrisi lainnya dapat membantu mencegah atau mengobati beberapa kondisi berikut: 1. Penyakit Jantung Para peneliti percaya bahwa efek menguntungkan dari CoQ10 dalam pencegahan dan pengobatan penyakit jantung karena kemampuannya untuk meningkatkan produksi energi dalam sel, menghambat pembentukan pembekuan darah, dan bertindak sebagai antioksidan. Satu studi klinis yang penting, misalnya, menemukan bahwa orang yang menerima suplemen CoQ10 setiap hari dalam waktu 3 hari karena serangan jantung secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami serangan jantung berikutnya dan

2.

3.

4.

5.

6.

nyeri dada. Selain itu, pasien yang sama kurang mungkin untuk meninggal karena penyakit jantung daripada mereka yang tidak menerima suplemen (Raharjo, 2012). Gagal Jantung (HF) Tingkat CoQ10 rendah pada orang dengan gagal jantung kongestif (HF), penyakit yang melemahkan yang terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara efektif. Hal ini dapat menyebabkan darah berenang ke bagian tubuh, seperti paru-paru dan kaki. Informasi dari beberapa studi klinis menunjukkan bahwa suplemen CoQ10 membantu mengurangi pembengkakan di kaki, meningkatkan pernapasan dengan mengurangi cairan di paru-paru, dan meningkatkan kapasitas latihan pada orang dengan HF (Raharjo, 2012). Tekanan Darah Tinggi Beberapa studi klinis yang melibatkan sejumlah kecil orang menyarankan bahwa CoQ10 bisa menurunkan tekanan darah. Namun, mungkin diperlukan waktu 4-12 minggu untuk melihat efek yang menguntungkan. Bahkan, setelah meninjau 12 studi klinis, para peneliti menyimpulkan bahwa CoQ10 memiliki potensi untuk menurunkan tekanan darah sistolik hingga 17 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 10 mmHg, tanpa efek samping yang signifikan. Lebih banyak penelitian dengan jumlah besar orang yang diperlukan untuk menilai nilai CoQ10 dalam pengobatan tekanan darah tinggi (Raharjo, 2012). Kolesterol Tinggi Tingkat CoQ10 cenderung lebih rendah pada orang dengan kolesterol tinggi dibandingkan orang sehat pada usia yang sama. Selain itu, beberapa obat penurun kolesterol yang disebut statin (seperti atorvastatin, cerivastatin, lovastatin, pravastatin, simvastatin) tampaknya menguras tingkat alami dari CoQ10 dalam tubuh. Mengambil suplemen CoQ10 dapat memperbaiki kekurangan yang disebabkan oleh obat-obatan statin tanpa mempengaruhi efek positif obat pada kadar kolesterol. Plus, studi menunjukkan bahwa suplementasi CoQ10 dapat mengurangi nyeri otot yang berhubungan dengan pengobatan statin (Raharjo, 2012). Diabetes Suplemen CoQ10 dapat meningkatkan kesehatan jantung dan gula darah dan membantu menstabilkan kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi pada individu dengan diabetes. Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung semua masalah umum yang terkait dengan diabetes. Meskipun beberapa kekhawatiran bahwa CoQ10 dapat menyebabkan penurunan tiba-tiba dan dramatis dalam gula darah (disebut hipoglikemia), dua studi klinis terbaru pada penderita diabetes diberikan CoQ10, 200 mg 2 kali sehari, tidak menunjukkan respon hipoglikemik. Jika Anda memiliki diabetes, bicaralah dengan dokter atau ahli diet terdaftar sebelum menggunakan CoQ10 (Raharjo, 2012). Kerusakan jantung yang disebabkan oleh kemoterapi Beberapa studi klinis menunjukkan CoQ10 yang dapat membantu mencegah kerusakan jantung yang disebabkan oleh obat kemoterapi tertentu (yaitu adriamisin atau obat athracycline lainnya). Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas dari CoQ10 dalam mencegah kerusakan jantung pada pasien kanker menjalani kemoterapi.

Bicaralah dengan dokter Anda sebelum menambahkan suplemen untuk Anda jika Anda sedang menjalani kemoterapi (Raharjo, 2012). 7. Operasi jantung Penelitian klinis menunjukkan bahwa memperkenalkan CoQ10 sebelum operasi jantung, termasuk operasi bypass dan transplantasi jantung, dapat mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas, memperkuat fungsi jantung, dan menurunkan kejadian jantung berdetak tidak beraturan (aritmia) selama fase pemulihan (Raharjo, 2012). 8. Kanker Payudara Studi wanita dengan kanker payudara menunjukkan bahwa suplemen CoQ10 (di samping pengobatan konvensional dan rejimen nutrisi termasuk antioksidan lainnya dan asam lemak esensial) dapat mengecilkan tumor, mengurangi rasa sakit yang terkait dengan kondisi, dan menyebabkan remisi parsial pada beberapa individu. Namun, efek menguntungkan wanita-wanita yang berpengalaman tidak dapat dikaitkan dengan CoQ10 sendiri. Antioksidan tambahan yang digunakan dalam studi ini termasuk vitamin C, E, dan selenium (Raharjo, 2012). 9. Periodontal (gusi) penyakit Penyakit gusi adalah masalah luas yang berhubungan dengan pembengkakan, nyeri perdarahan,, dan kemerahan pada gusi. Studi klinis menunjukkan bahwa orang dengan penyakit gusi cenderung memiliki tingkat rendah dari CoQ10 dalam gusi mereka. Dalam beberapa studi klinis yang melibatkan sejumlah kecil mata pelajaran, suplemen CoQ10 menyebabkan penyembuhan lebih cepat dan perbaikan jaringan. CoQ10 adalah digunakan dalam kumur produk untuk kondisi ini. Studi tambahan pada manusia diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas CoQ10 bila digunakan bersama-sama dengan terapi tradisional untuk penyakit periodontal (Raharjo, 2012). Studi klinis awal juga menunjukkan bahwa CoQ10 dapat meningkatkan fungsi kekebalan pada individu dengan defisiensi imun (seperti acquired immunodeficiency syndrome atau AIDS) dan infeksi kronis (seperti ragi, bakteri, dan infeksi virus), meningkatkan motilitas sperma yang mengarah ke peningkatan kesuburan, digunakan sebagai bagian dari pengobatan untuk penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson, mengurangi kerusakan dari stroke, meningkatkan kinerja atletik, meningkatkan aktivitas fisik pada orang dengan sindrom kelelahan, meningkatkan toleransi latihan pada individu dengan distrofi otot, memperbaiki gejala tinnitus, atau dering di telinga, bermanfaat dalam kosmetik untuk kulit sehat, dan menunda proses penuaan dan memperpanjang umur (Raharjo, 2012). Pembuatan Koenzim Q-10 Secara alami, koenzim Q10 dalam jumlah yang sedikit terdapat dalam berbagai jenis makanan. Konsumsi setengah kilogram ikan sarden atau satu kilogram daging sapi atau satu kilogram kacang dapat memberi suplai tubuh 30 mg koenzim Q-10. Sumber Koenzim Q10:

Tabel 2. Sumber Koenzim Q-10 Coq 10 level dalam makanan yang dipilih Makanan Koenzim Q 10 konsentrasi [mg / kg] Daging daging sapi jantung 113 hati 39-50 otot 26-40 daging babi jantung 11.8-128.2 hati 22.7-54.0 otot 13.8-45.0 ayam jantung 116.2-132.2 Ikan sarden 5-64 ikan kembung daging merah 43-67 daging putih 11-16 ikan salmon 4-8 ikan tongkol 5 Minyak kedelai 54-280 zaitun 4-160 biji anggur 64-73 bunga matahari 4-15 dedak / kelapa Kacangkacangan kacang tanah 27 kenari 19 biji wijen 18-23 kacang pistachio 20 hazelnut 17 badam 5-14 Sayur-sayuran peterseli 8-26 brokoli 6-9 kol kembang 2-7 bayam sampai 10 dengan

anggur Kubis cina Buah alpukat blackcurrant stroberi jeruk jeruk bali apel

6-7 2-5 10 3 1 1-2 1 1 (Prafst, et. al., 2010).

Kebutuhan koenzim Q-10 dapat diperoleh dari biosintesis dalam tubuh manusia sendiri ataupun dari luar tubuh melalui makanan atau konsumsi suplemen koenzim Q-10. Koenzim Q10, berasal dari solanesol,-hytroxy-2-decenoic asam 10 (10-HAD) dan solanesylamine, serta dari berbagai sumber yang tercantum pada tabel di atas, yang berdasarkan pharmaceutical technology, telah dikembangkan lini produksi yang maju untuk mengekstraksi solanesol murni dan sumber koenzim Q10 tersebut untuk sintesis koenzim Q10. Hasil ekstrak dalam dosis tertentu kemudian dibuat sebagai produk suplemen. Karena kepraktisannya, mengonsumsi suplemen koenzim Q-10 kini lebih banyak dipilih daripada daripada mengonsumsi makanan sumber alami koenzim Q-10 yang memang hanya mengandung sedikit koenzim Q-10 dibanding suplemen. Produksi suplemen koenzim Q10 harus sesuai dengan standar GMP, memenuhi standar yang ditetapkan dalam Farmakope dan memperoleh izin produksi koenzim Q10 dari FDA (Badan POM RI, 2004). Suplemen koenzim Q-10 tersedia dalam berbagai bentuk sediaan dan komposisi. Tersedia bentuk sediaan kapsul basis lemak, kapsul serbuk, tablet, kapsul lunak, mikroemulsi dan sebagainya. Bentuk sediaan kapsul lunak mempunyai tingkat penyerapan lebih tinggi. Seperti halnya dosis harian dari koenzim Q-10 yang bervariasi tergantung kebutuhan individual pasien, sediaan suplemen koenzim Q-10 juga dibuat bervariasi kadar komposisinya mulai 5 hingga 300 miligram (Badan POM RI, 2004). Produk yang Beredar di Pasaran 1. Ubi-Q 30 GENERIK :Koenzim Q10. INDIKASI :Untuk mempertinggi efisiensi penggunaan O2. Digunakan sebagai antioksidan. KOMPOSISI :Ubiquinone 30 mg per kapsul DOSIS : kapsul sehari, sampai dengan 3 kapsul sehari jika dosis tinggi dibutuhkan. PABRIK :Eisai. (Wijaya, 2008)

2. Coenzyme Q10 Forte + Vitamin E Tiap kapsul mengandung : Coenzyme Q10 60 mg, Vitamin E 5.5 mg Producer : Aktival (Wijaya, 2008)

3. Koenzim Q10 film-coated tablet Koenzim Q10 film-coated tablet Jumlah zat aktif dalam 2 tablet salut film: 20 mg coenzyme Q10 Producer Bres Pharmaceuticals Ltd (Wijaya, 2008)

4. Coenzime Q10 COMPOSIION Satu kapsul mengandung 30 mg of Coenzyme Q10, yang direkomendasikan digunakan setiap hari. Producer: Dibal (Wijaya, 2008)

5. Koenzym Q10 (30 tablets) Komposisi: 1 tablet mengandung 10 mg of coenzym Q 10 Producer: Salviafarm-Vitae (Wijaya, 2008)

6. Baliin Q10 Komposisi: tiap 250mg kapsul lunak mengandung: Koenzim Q10, Safflower oil, Purified Fish Oil (contain DHA), vitamin E, nikotinamida, vitamin B6, asam folat, vitamin B12, asam sitrat Producer: Kyowa Yakuhin Co., Ltd. 163, Kyoriki, Toyama, Japan (Wijaya,2008).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010, Monograph Co Q-10, http://en.wikipedia.org/coQ_10. Diakses tanggal 18 Mei 2013. Anonim, 2010, Properties of CoQ 10, http://www.nutrilearn.com/coQ-10/coQ-10.html . Diakses tanggal 18 Mei 2013. Badan POM RI, 2004, Infomatorium Suplemen Makanan Indonesia. Jakarta: Badan POM RI. BPOM, 2006, Koenzim Q10, http://www.majalahfarmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=217. Diakses tanggal 18 Mei 2013. Crane FL, Sun LL, Sun EE, The essensial functions of coenzyme Q. Clin Investig 1993; 71:S55-9. Fuke C, Krikorian SA, Couris RR, 2005, Coenzyme Q10: A review of essential functions and clinical trials. http://www.healingedge.net/store/page243.html. Diakses tanggal 18 Mei 2013. Forsmark-Andree P, Ernster L, Ubiquinol : an endogenous antioxidant in aerobic organisms. Clin Investig 1993; 71:S60-5. Gaby RA, The role of coenzyme Q10 in clinical medicine: part I, Alt Med Rev 1996; 1:11-7. Martina, D, 2009, Peranan Suplementasi Koenzim Q10, Vitamin C, E, dan Ekstrak Jahe pada Penyakit Degeneratif hingga Infertilitas, http://jurnalmedika.com/component/content/article130-fokus/178-peranansuplementasikoenzim-q10-vitamin-c-e-dan-ekstrak-jahe-padapenyakit-degeneratif-hinggainfertilitas. Diakses tanggal 18 Mei 2013. Nasution, Kholisah, 2010, Suplementasi Koenzim Q10, Perlukah. h ttp://jurnalmedika.com/edisi-terbaru/243-fokus/425-suplementasi-koenzim-q10perlukah. Diakses tanggal 18 Mei 2013. Prafst, I., Zmitek, K., Zmitek, J, 2010, "Coenzyme Q10 Contents in Foods and Fortification Strategies". Critical Reviews in Food Science and Nutrition 50 (4): 26980.

Raharjo, Cipto, 2012, Coenzyme Q10, http://www.vitamindo.com/artikel-kesehatan/70ubiquinol-coenzyme-q10-suplemen-ajaib. Diakses tanggal 18 Mei 2013. Wijaya, Peter, 2008, CoQ10 Suplemen untuk Gangguan Jantung dan Hipertensi. http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2008/05/coq10-suplemenuntuk-gangguanjantung-dan-hipertensi . Diakses tanggal 18 Mei 2013.