Anda di halaman 1dari 13

ADSORPSI & EKSTRAKSI ADSORPSI Adsorpsi atau penyerapan adalah suatu proses pemisahan dimana komponen dari suatu

fase fluida (baik gas maupun cairan) berpindah ke permukaan zat padat yang menyerap (adsorben). Adsorpsi adalah terserapnya atau terikatnya suatu substansi (adsorbat) pada permukaan yang dapat menyerap (adsorben) Karena selektivitas adsorbsi yang tinggi, proses adsorpsi ini sangat sesuai untuk memisahkan bahan dengan konsentrasi yang kecil dari campuran yang mengandung bahan lain yang berkonsentrasi tinggi. bahan yang dipisahkan harus dapat diadsorpsi. Adsorpsi dapat terjadi antara zat padat dan zat cair, zat padat dengan gas, zat cair dengan zat cair, dan zat cair dengan gas. Adsorpsi terjadi karena molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair yang memiliki gaya tarik dalam keadaan tidak setimbang yang cenderung tertarik ke arah dalam (gaya kohesi adsorben lebih besar daripada gaya adhesinya). Ketidakseimbangan gaya tarik tersebut mengakibatkan zat padat atau zat cair yang digunakan sebagai adsorben cenderung menarik zat-zat lain yang bersentuhan dengan permukaannya. Berdasarkan interaksi molekular antara permukaan adsorben dengan adsorbat, adsorpsi dibagi menjadi dua bagian, yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. A. Adsorpsi Fisika Adsorpsi fisika terjadi bila gaya intermolekular lebih besar dari gaya tarik antar molekul atau gaya tarik menarik yang relatif lemah antara adsorbat dengan permukaan adsorben, gaya ini disebut gaya Van der Waals sehingga adsorbat dapat bergerak dari satu bagian permukaan ke bagian permukaan lain dari adsorben. Gaya antar molekul adalah gaya tarik antara molekul-molekul fluida dengan permukaan padat, sedangkan gaya intermolekular adalah gaya tarik antar molekul-molekul fluida itu sendiri. Adsorpsi ini berlangsung cepat, dapat membentuk lapisan jamak (multilayer), dan dapat bereaksi balik (reversible), karena energi yang dibutuhkan relatif rendah. Energi aktivasi untuk terjadinya adsorpsi fisika biasanya adalah tidak lebih dari 1 kkal/grmol, sehingga gaya yang terjadi pada adsorpsi fisika termasuk lemah. Adsorpsi fisika dapat berlangsung di bawah temperatur kritis adsorbat yang relatif rendah sehingga panas adsorpsi yang dilepaskan juga rendah yaitu sekitar 5 10 kkal/gr-mol gas, lebih rendah dari panas adsorpsi kimia. B. Adsorpsi Kimia

Adsorpsi kimia terjadi karena adanya reaksi antara molekul-molekul adsorbat dengan adsorben dimana terbentuk ikatan kovalen dengan ion. Gaya ikat adsorpsi ini bervariasi tergantung pada zat yang bereaksi. Adsorpsi jenis ini bersifat tidak reversible dan hanya dapat membentuk lapisan tunggal (monolayer). Umumnya terjadi pada temperatur tinggi di atas temperatur kritis adsorbat, sehingga panas adsorpsi yang dilepaskan juga tinggi, yaitu sekitar 10-100 kkal/gr-mol. Untuk dapat terjadinya peristiwa desorpsi dibutuhkan energi lebih tinggi untuk memutuskan ikatan yang terjadi antara adsorbat dengan adsorben. Energi aktivasi pada adsorpsi kimia berkisar antara 10 60 kkal/gr-mol. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Daya Adsorpsi Banyaknya adsorbat yang teradsorp pada permukaan adsorben dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : Jenis adsorbat, dapat ditinjau dari : 1. Ukuran molekul adsorbat Rongga tempat terjadinya adsorpsi dapat dicapai melalui ukuran yang sesuai, sehingga molekul-molekul yang bisa diadsorpsi adalah molekul-molekul yang berdiameter sama atau lebih kecil dari diameter pori adsorben. 2. Polaritas molekul adsorbat Apabila diameter sama, molekul-molekul polar lebih kuat diadsorpsi daripada molekul-molekul yang kurang polar, sehingga molekul-molekul yang lebih polar bisa menggantikan molekul-molekul yang kurang polar yang telah diserap. Sifat adsorben, dapat ditinjau dari : 1. Kemurnian adsorben Adsorben yang lebih murni memiliki daya adsorpsi yang lebih baik. 2. Luas permukaan adsorben Semakin luas permukaan adsorben maka jumlah adsorbat yang terserap akan semakin banyak pula. Temperatur Adsorpsi merupakan proses eksotermis sehingga jumlah adsorbat akan bertambah dengan berkurangnya temperatur adsorbat. Adsorpsi fisika yang substansial biasa terjadi pada temperatur di bawah titik didih adsorbat, terutama dibawah 500 C. Tekanan

Untuk adsorpsi fisika, kenaikan tekanan adsorbat mengakibatkan kenaikan jumlah zat yang diadsorpsi. Sebaliknya pada adsorpsi kimia, jumlah yang diadsorpsi berkurang dengan naiknya temperatur adsorbat. Adsorber Adsorben atau kebanyakan zat pengadsorpsi adalah bahan-bahan yang sangat berpori, dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding-dinding pori atau pada daerah tertentu di dalam partikel itu.Adapun kegunaan dari adsorber ialah untuk menyerap zat yang diadsorbsi dengan menggunakan carbon aktif. Pembagian Adsorber Adsorben dapat dibedakan menjadi : Berdasarkan Sifatnya Terhadap Air : Adsorben merupakan bahan yang digunakan untuk menyerap komponen dari suatu campuran yang ingin dipisahkan. Secara umum, hal yang mempengaruhi kinerja adsorben adalah struktur kristalnya (zeolit dan silikat) dan sifat dari molecular sieve adsorben tersebut. Zeolit dalam jumlah yang banyak telah ditemukan baik dalam bentuk sistetis ataupun alami. Berdasarkan Bahannya Klasifikasi adsorben berdasarkan bahannya dibagi menjadi dua , yaitu: Adsorben Organik Adsorben organik adalah adsorben yang berasal dari bahan-bahan yang mengandung pati. Adsorben ini sudah mulai digunakan sejak tahun 1979 untuk mengeringkan berbagai macam senyawa. Beberapa tumbuhan yang biasa digunakan untuk adsorben diantaranya adalah ganyong, singkong, jagung, dan gandum. Kelemahan dari adsorben ini adalah sangat bergantung pada kualitas tumbuhan yang akan dijadikan adsorben. Oleh karena itu, adsorben ini tidak dipilih dalam penelitian yang akan dilakukan. Adsorben Anorganik Adsorben ini mulai dipakai pada awal abad ke-20. Dalam perkembangannya, pemakaian dan jenis dari adsorben ini semakin beragam dan banyak dipakai orang. Penggunaan adsorben ini dipilih karena berasal dari bahan-bahan non pangan, sehingga tidak terpengaruh oleh ketersediaan pangan dan kualitasnya cenderung sama. Dalam penelitian ini, adsorben yang dipakai adalah silika gel dan molucular sieve.

PERALATAN ADSORPSI

Unggun diam Sebagian besar adsorpsi teknik dilaksanakan dengan menggunakan unggun adsorben yang diam (unggun diam). unggun diam biasanya terdapat dalam sebuah tangki silinder vertikal (adsorben). unggun dilewati oleh campuran yang akan dipisahkan (gas atau cair) yang mengalir dari bawah keatas. Letak terjadinya proses adsorpsi bergeser dari atas ke bawah unggun, seiring dengan naiknya pembebanan. artinya daerah adsorpsi bergerak melewati seluruh unggun selama berlangsungnya pembebanan. jika daerah tersebut telah mencapai ujung bawah unggun,terjadi penerobosan. dalam hal ini kapasitas adsorben telah habis dan konsentrasi bahan yang disorpsi pada aliran keluar turun secara nyata.

2.1.2 Deep Bed Adsorber Mekanisme dari kerja alat Deep Bed adsorber adalah masuknya udara/gas inlet masuk kedalam dan mulai melakukan akses,pertama dengan melalui filter di filter ini mulai di lakukan penyaringan pertama setelah melalui filter maka di akses kembali melalui access hatch setelah memlalui access hatch maka melewati carbon bed saat melewati carbon bed inilah di mana proses adsorber terjadi dan setelah melalui carbon bed maka keluar dan menghasilkan clean air atau gas outlet. Oleh karena itu, adsorpsi adalah prosedur utama untuk mengobati gas buang dari menekan gravure, yaitu, untuk menghapus toluena.

2.1.3 Adsorpsi fase-uap (adsorber hamparan tetap) Partikel-partikel adsorben ditempatkan di dalam hamparan Gas yang piring ditopang oleh tapis.

umpan dilewatkan dari atas ke bawah melalui salah satu hamparan lalu pada waktu yang sama diregenerasi. Pada saat umpan mengalir ke bawah lebih baik dibandingkan umpan mengalir ke atas karena pada saat umpan mengalir ke atas akan menyebabkan partikelpartikel terfluidisasi dan menimbulkan gesekan sehingga menjadi sumber kehilangan partikel-partikel halus. Bila konsentrasi zat terlarut dalam gas keluar sudah mencapai nilai tertentu, aliran umpan dipindahkan dengan katup-katup otomatis sehingga mengalir ke hamparan sebelahnya untuk menjalani tahap regenerasi. Regenerasi ini dilakukan dengan gas panas tak reaktif (gas lembam). Uap akan menkondensasi di atas hamparan dan menyebabkan suhu zat padat naik. Lalu zat pelarut yang digunakan mengkondensasi lalu dipisahkan dari air dan dikeringkan sebelum digunakan kembali. Setelah dilakukan proses regenerasi, didapat gas bersih dan keluar melalui keluaran gas.

EKSTRAKSI Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran. Berlawanan misalnya dengan proses rektifikasi, pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak (dalam pelarut). Secara umum proses ekstraksi, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi: 1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme. Dalam kasus ini, prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan proses atau menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai.

2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui. Dalam situasi seperti ini, metode umum yang dapat digunakan untuk senyawa kimia yang diminati dapat diperoleh dari pustaka. Hal ini diikuti dengan uji kimia atau kromatografik yang sesuai untuk kelompok senyawa kimia tertentu 3. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional, dan biasanya dibuat dengan cara, misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM) seringkali membutuhkan herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai obat. Proses ini harus ditiru sedekat mungkin jika ekstrak akan melalui kajian ilmiah biologi atau kimia lebih lanjut, khususnya jika tujuannya untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional. 4. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara apapun. Situasi ini (utamanya dalam program skrining) dapat timbul jika tujuannya adalah untuk menguji organisme, baik yang dipilih secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional untuk mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel. Suatu proses ekstraksi biasanya melibatkan tahap-tahap ; 1. Mencampur bahan ekstraksi dengan pelarut dan membiarkannya saling berkontak. Dalam hal ini terjadi perpindahan massa dengan cara difusi pada bidang antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut. Dengan demikian terjadi ekstraksi yang sebenarnya, yaitu pelarutan ekstrak. 2. Memisahkan larutan ekstrak dari rafinat, kebanyakan dengan cara penjernihan atau filtrasi. 3. Mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali pelarut, umumnya dilakukan dengan mengapkan pelarut. Dalam hal-hal tertentu, larutan ekstrak dapat langsung diolah lebih lanjut atau diolah setelah dipekatkan.

Sering kali juga diperlukan tahap-tahap lainnya. Misalnya pada ektraksi padat-cair, dapat dilakukan pra-pengolahan atau pengecilan bahan ektraksi atau pengolahan lanjut dari rafinat (dengan tujuan mendapatkan kembali sisa-sisa pelarut). Pemilihan pelarut pada umumnya oleh faktor-faktor berikut ini Selektivitas : Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponenkomponen lain dari bahan ekstraksi. Kelarutan : Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit). Kemampuan tidak saling bercampur : Pada ekstraksi cait-cair, pelarut tidak boleh (hanya secara terbatas] larut dalam bahan ekstraksi. Kerapatan : Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan agar kedua fase dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran. Reaktivitas : Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen-komponen bahan ekstraksi. Sebaliknya, dalam hal-hal tertentu diperlukan adanya reaksi kimia misalnya pembentukan garam untuk mendapatkan selektivitas yang tinggi. Titik Didih : Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka titik didih kedua bahan itu tidak boleh terlalu dekat, dan keduanya tidak membentuk aseotrop PERALATAN EKSTRAKSI Ekstraksi padat-cair Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara dan teknis makanan, dalam skala besar untuk terutama dibidang industri bahan alami misalnya memperoleh : - Bahan-bahan aktif dari tumbuhan atau organ-organ binatang untuk keperluan farmasi - Gula dari umbi

- Minyak dari biji-bijian - Kopi dari biji kopi Pengambilan garam-garam logam dari pasir besi adalah juga ekstraksi padat-cair atau sering disebut dengan leaching. Proses ini menggunakan ekstraksi yang digabungkan dengan reaksi kimia. Dalam hal ini ekstrak, dengan bantuan suatu asam anorganik misalnya, dikonversikan terlebih dahulu kedalam bentuk yang larut. Pembilasan kue filter dan pelarutan pada proses rekristalisasi bahan padat juga dianggap sebagai ekstraksi padat-cair. Ekstrak yang akan dipisahkan, berbentuk padat atau cair, dapat terkurung dalam bahan ekstraksi atau berada dalam sel-sel khusunya pada bahan-bahan hewani dan nabati. Dalam keadaan-keadaan tersebut bahan ekstraksi bukan merupakan substansi yang homogen, melainkan berpori dan berkapiler banyak. Pada proses pemisahan dengan menggunakan ekstraksi padat-cair, proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan suatu alat pemisah atau yang disebut dengan ekstraktor. Pada ekstraksi padat-cair, ekstraktor yang digunakan terbagi menjadi dua macam, yaitu ekstraktor padat-cair tak kontinyu dan ekstraktor padat-cair kontinyu. Ekstraktor padat-cair tak kontinyu Dalam hal yang paling sederhana bahan ekstraksi padat dicampur beberapa kali dengan pelarut segar didalam sebuah tangki pengaduk. Larutan ekstrak yang terbentuk setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan atau penyaringan. Kelemahan dari proses ini yaitu tidak ekonomis, misalnya digunakan ditempat yang tidak tersedia ekstraktor khusus atau bahan ekstraksi tersedia dalam bentuk serbuk sangat halus, sehingga karena bahaya penyumbatan, ekstraktor lain tidak mungkin digunakan. Ekstraktor yang sebenarnya adalah tangki tangki dengan pelat ayak yang dipasang didalamnya. Pada alat ini bahan ekstraksi diletakkan di atas pelat ayak horizontal. Dengan bantuan sebuah distributor, pelarut dialirkan dari atas ke bawah. Dengan pengaduk yang dapat dinaikkan dan diturunkan, pencampuran sering kali dapat disempurnakan, atau rafinat dapat dikeluarkan dari tangki setelah berakhirnya ekstraksi. Ekstraktor semacam ini hanya sesuai untuk bahan padat dengan partikel yang tidak terlalu halus. Yang lebih ekonomis lagi adalah penggabungan beberapa ekstraktor yang dipasang seri dan aliran bahan ekstraksi berlawanan dengan aliran pelarut. Dalam hal ini pelarut

dimasukkan ke dalam ekstraktor yang berisi campuran yang telah mengalami proses ekstraksi paling banyak. Pada setiap ekstraktor yang dilewati, pelarut semakin diperkaya oleh ekstrak. Pelarut akan dikeluarkan dalam konsentrasi tinggi dari ekstraktor yang berisi campuran yang mengalami proses ekstraksi paling sedikit. Dengan operasi ini pemakaian pelarut lebih sedikit dan konsentrasi akhir dari larutan ekstrak lebih tinggi. Cara lain ialah dengan mengalirkan larutan ekstrak yang keluar dari pelat ayak ke sebuah ketel destilasi, menguapkan pelarut disitu, mengembunkannya dalam sebuah condenser dan segera mengalirkannya kembali ke ekstraktor untuk dicampur dengan bahan ekstraksi. Dalam ketel destilasi konsentrasi larutan ekstrakterus menerus meningkat. Dengan metode ini jumlah total pelarut yang diperlukan relative kecil. Meskipun demikian, selalu terdapat perbedaan konsentrasi ekstrak yang maksimal antara bahan ekstraksi dan pelarut. Kerugiannya adalah pemakaian banyak energi Karena pelarut harus diuapkan secara terus menerus. Pada ekstraksi bahan-bahan yang peka terhadap suhu terdapat sebuah bak penampung sebagai pengganti ketel destilasi. Dari bak tersebut larutan ekstrak dialirkan kedalam alat penguap vakum. Uap pelarut yang terbentuk kemudian dikondensasikan, pelarut didinginkan dan dialirkan kembali ke dalam ekstraktor dalam keadaan dingin. Ekstraktor padat-cair kontinyu Cara kerja ekstraktor ini serupa dengan ekstraktor-ekstraktor yang dipasang seri, tetapi pengisian, pengumpanan pelarut dan juga penggosongan berlangsung secara otomatik penuh dan terjadi dalam sebuah alat yang sama. Oleh karena itu dapat diperoleh output yang lebih besar dengan jumlah kerepotan yang lebih sedikit. Tetapi karena biaya untuk peralatannya besar, ekstraktor semacam itu kebanyakan hanya digunakan untuk bahan ekstraksi yang tersedia dalam kuantitas besar. 1. Ekstraktor Keranjang Pada ekstraktor keranjang, bahan ekstraksi terus menerus dimasukkan ke dalam sel-sel yang berbentukjuring dari sebuah rotor yang berputar lambat mengelilingi poros vertical. Bagian bawah sel ditutup oleh sebuah pelat ayak. Selama satu putaran, bahan padat dibasahi dari arah berlawanan oleh pelarut atau larutan ekstrak yang konsentrasinya meningkat. Pelarut atau larutan tersebut

dipompa dari sel ke sel dan disiramkan ke atas bahan padat. Akhirnya bahan dikeluarkan dan keseluruhan proses ini berlangsung secara otomatik.

2. Ekstraktor Sabuk Pada ekstraktor ini, bahan ekstraksi diumpankan secara kontinyu di atas sabuk ayak yang melingkar. Di sepanjang sabuk bahan di basahi oleh pelarut atau larutan ekstrak dengan konsentrasi yang meningkat dan arah aliran berlawanan. Setelah itu, bahan dikeluarkan dari ekstraktor.

Ekstraksi cair-cair Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari satu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, produk minyak bumi dan garam logam, dll. Proses ini pun digunakan untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat-cair. Ekstraksi caircair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau karena kepekaannya terhadap panas] atau tidak ekonomis. Sama halnya dengan ekstraksi padat-cair, selain ektraksi cair-cair dilakukan atas dua tahap yaitu, pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair itu sesempurna mungkin, alat ekstraksi cair-cair (ekstraktor] juga terbagi menjadi dua macam, yaitu ekstraktor cair-cair tak kontinyu dan ekstraktor cair-cair kontinyu.

1. Ekstraksi cair-cair tak kontinyu Dalam hal yang paling sederhana, bahan ekstraksi yang cair dicampur berulang kali dengan pelarut segar dalam sebuah tangki pengaduk. Larutan ekstrak yang dihasilkan, setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan. Konstruksi atau bentuk yang lebih menguntungkan bagi proses pencampuran dan pemisahan adalah tangki yang bawahnya runcing (yang dilengkapi dengan pengaduk, penyalur bawah, maupun kaca intip yang tersebar pada seluruh ketinggiannya]. Alat tak kontinyu yang sederhana semacam itu digunakan misalnya untuk mengolah bahan dalam jumlah kecil, atau bila hanya sekali-sekali dilakukan ekstraksi. 2. Ekstraksi cair-cair kontinyu Operasi kontinyu pada ekstraksi cair-cair dapat dilaksanakan dengan sederhana, karena tidak saja pelarut, melainkan juga bahan ekstraksi cair secara mudah dapat dialirkan dengan bantuan pompa. Dalam hal ini, bahan ekstraksi berulang kali dicampur dengan pelarut atau larutan ekstrak dalam arah berlawanan yang konsentrasinya meningkat. Setiap kali kedua fase dipisahkan dengan cara penjernihan, bahan ekstraksi dan pelarut terus-menerus diumpankan ke dalam alat. Sedangkan rafinat dan larutan ekstrak dikeluarkan secara kontinyu. Kolom Ekstraksi Serupa seperti yang telah dikenal pada kolom rektifikasi atau sorpsi, dalam sebuah kolom ekstraksi vertical bahan ekstraksi cair dan pelarut saling dikontakkan dengan arah aliran yang berlawanan. Dengan bantuan pompa, cairan yang lebih ringan dimasukkan dari bagian bawah, dan cairan yang lebih berat dari bagian atas kolom secara terus menerus. Di dalam kolom berulangkali terjadi proses yang sama, yaitu pencampuran yang intensif antara kedua cairan agar terjadi perpindahan massa. Pristiwa itu sedapat mungkin diikuti dengan pemisahan yang sempurna dari kedua fasa. Namun di dalam kolom, proses ini dan tahap ekstraksi sering kali tidak dapat lagi dibedakan. Bidang batas antara fasa berat dan fasa ringan terdapat pada ujung atas atau ujung bawah kolom. Kedudukannya dipertahankan

konstan oleh sebuah pengatur tinggi permukaan, yang mengendalikan pembuangan fasa berat. Berdasarkan jenisnya, kolom ekstraksi terbagi menjadi lima, yaitu : Kolom Semprot Pada kolom semprot, fasa ringan hanya didistribusikan satu kali oleh suatu perlengkapan pendistribusian yang berada di ujung bawah kolom.Tetes-tetes yang terbentuk bergelembung menerobos fasa berat dan berkumpul menjadi satu pada ujung atas kolom. Kolom pelat Ayak Dalam kolom pelat ayak, fasa ringan yang berkumpul di bawah setiap pelat ayak didorong ke atas oleh fasa berat melalui lubang-lubang pelat dan pada saat yang sama terpecah menjadi tetes-tetes. Fasa berat akan mengalir melalui pipa penyalur ke pelat dibawahnya. Kolom Benda pengisi Konstruksi kolom benda pengisi sama dengan kolom-kolom untuk qarektifikasi. Untuk menghasilkan perpindahan massa yang baik, salah satu dari kedua fasa harus dapat membasahi benda pengisi dengan baik. Kolom Denyut Kolom denyut adalah kolom pelat ayak dan kolom benda pengisi, yang seluruh cairannya dibuat berosilasi terus menerus dengan bantuan pompa torak atau pompa membrane. Pompa ini dihubungkan melalui dinding di bagian bawah kolom. Sebagai efek denyut, fasa ringan terdesak melalui lubang-lubang pelat ayak pada saat torak bergerak maju sehingga fasa ini terdistribusi dengan baik. Pada saat torak bergerak mundur, fasa berat dihisap ke bawah melalui lubang-lubang tersebut. Oleh karena itu, dibandingkan dengan kolom pelat ayak sederhana, kolom denyut memungkinkan perpindahan massa yang lebih baik. Cara kerja yang serupa juga dimiliki oleh kolom getar. Dalam kolom ini bukan cairan yang digerakgerakkan, melainkan pelat ayak yang digantungkan pada sebuah batang yang berisolasi. Kolom Rotasi Pada kolom rotasi, disepanjang kolom terdapat pengaduk yang mirip dengan cakram. Cakram ini terpasang pada sebuah poros vertical didalam kolom. Kedua cairan yang mengalir dalam arah yang berlawanan secara silih berganti masuk ke ruang-ruang pencampur, disini kedua cairan saling dicampurkan oleh cakram-cakram yang berputar dan ruang ruang pemisahan. Daerah pencampuran dan daerah pemisahan dalam arah vertical dibatasi oleh lempeng-lempeng pemisah atau cakram-cakram pembendung.

Pemisahan fasa yang lebih baik, yang berarti pencampuran balik yang lebih kecil, dapat dicapai dengan pemasangan lempeng-lempeng pembelok dan packing-packing anyaman kawat di dalamnya, yaitu diantara daerah daerah pencampur yang terletak di sebelah dalam dan daerah pemisahan yang berada di sebelah luar. Perangkat Pencampur-Pemisah Dengan bantuan pompa, bahan ekstraksi cair dan pelarut dialirkan dengan arah berlawanan ke dalam ekstraktor yang terdiri atas tangki-tangki pengaduk dan pemisah yang dihubungkan secara seri. Perangkat ini kebanyakan hanya sesuai untuk bahan ekstraksi yang tidak cenderung membentuk emulsi dan mempunyai kerapatan yang sangat berbeda dari pelarutnya.

Ekstraktor Sentrifugal Ektsraktor ini memanfaatkan gaya sentrifugal untuk pemisah fasa. Hal ini akan menguntungkan bila pelarut, walaupun memiliki selektivitas yang tinggi, hanya mempunyai perbedaan kerapatan yang sangat kecil dengan bahan ekstraksi.