Anda di halaman 1dari 15

Pengertian Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan adalah sebuah subjek yang sangat menarik saat kita berada pada masa yang serba kompetitif. Harian-harian (bukan hanya penerbitan bisnis) serta radio dan televisi menyajikan cerita-cerita yang dramatis tentang pertumbuhan dan penurunan perusahaan, pengambilalihan perusahaan dan berbagai jenis restrukturisasi perusahaan. Untuk dapat memahami perkembangan ini dan untuk ikut serta di dalamnya secara efektif di perlukan pengetahuan tentang prinsip keuangan. Kesuksesan suatu perusahaan dipengaruhi oleh kemampuan manajer keuangan untuk beradaptasi terhadap perubahan, meningkatkan dana perusahaan, sehingga kebutuhan perusahaan dapat terpenuhi, investasi dalam aset-aset perusahaan dan kemampuan mengelolanya secara bijaksana. Apabila perusahaannya dapat di kembangkan dengan baik oleh manajer keuangan, maka pada gilirannya kondisi perekonomian menjadi lebih baik. Seandainya secara luas dana-dana dialokasikan secara tidak tepat, maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi lambat. Dalam satu perekonomian, efisiensi alokasi sumber-sumber daya adalah sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi secara optimal. Hal ini juga penting untuk menjamin bahwa individu-individu dapat mencapai kepuasan tertinggi bagi kebutuhankebutuhan pribadi mereka. Jadi, melalui investasi, pembelanjaan, dan pengelolaan aset-aset secara efisien, manajer keuangan memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan perusahaan dan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Menurut Agus Sabardi (1995 : 2), Manajemen keuangan dapat di artikan membahas tentang investasi, pembelanjaan, dan pengelolaan aset-aset dengan beberapa tujuan menyeluruh yang direncanakan. Jadi, fungsi keputusan dari manajemen keuangan dapat di pisahkan kedalam bidang pokok yaitu : 1. Keputusan Investasi

Keputusan investasi merupakan hal penting dari ketiga keputusan pokok perusahaan. Keputusan ini dimulai dari penetapan jumlah asset yang akan di gunakan oleh perusahaan. Apabila kita lihat neraca di sebelah debet (sebelah kiri), total aset yang terdiri dari aktiva lancar dan aktiva tetap (dibedakan berdasarkan cara dan lama perputaran aktivanya) merupakan kekayaan dari perusahaan yang menunjukan ukuran dari perusahaan tersebut. Manajer keuangan menginginkan untuk menetapkan jumlah rupiah dari total aset. Meskipun jumlah tersebut sudah diketahui, komposisi dari aset-aset tersebut masih harus ditentukan. 2. Keputusan Pembelanjaan Keputusan ini merupakan keputusan pokok kedua dari perusahaan. Di sini manajer keuangan harus menentukan bahwa total asset yang tampak dalam neraca sebelah debet, harus dipenuhi dari modal sendiri seluruhnya atau sebagian dari utang perusahaan. Hal ini terlihat jelas dalam neraca sebeleh kredit (sebelah kanan) yang menunjukan sumber atau asal kekayaan. Setiap perusahaan meskipun bergerak dalam industri sejenis, komposisi besarnya modal sendiri dan utang tampak berbeda-beda. Beberapa perusahaan mempunyai jumlah utang yang relatif besar, sementara perusahaan yang lain hanya mempunyai jumlah utang sedikit. Keputusan komposisi yang tepat antara besarnya utang dan modal sendiri dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Keputusan yang tepat dari manajer keuangan tersebut merupakan keinginan dari setiap perusahaan. Sebagai tambahan, kebijakan dividen (keputusan tentang besarnya dividen yang harus di bagikan kepada para pemegang saham) di anggap sebagai bagian integral dari keputusan pembelanjaan perusahaan. Dividen Payout Ratio (DPR) meletakkan sejumlah pendapatan yang dapat di tahan oleh perusahaan. Di tahannya pendapatan sekarang yang besar oleh perusahaan mempunyai arti

bahwa perusahaan hanya menyediakan sejumlah rupiah yang lebih kecil untuk pembayaran yang dividen. 3. Keputusan Manajemen Aset Meskipun aset-aset telah di peroleh dan pembelanjaan yang baik telah di siapkan, tetapi aset-aset tersebut masih harus di kelola secara efisien. Manajer keuangan bertanggung jawab di berbagai tingkat pengoperasian asset-aset tersebut. Tanggungjawab manajer keuangan lebih terpusat pada pengelolaan aktiva lancar, sehingga tanggungjawabnya terhadap pengelolaan aktiva tetap lebih kecil di banding terhadap pengelolaan aktiva lancar. Menurut Sutrisno (2007 : 3) setiap perusahaan selalu membutuhkan dana dalam rangka memenuhi operasi sehari-hari maupun untuk mengembangkan perusahaan. Kebutuhan dana tersebut berupa modal kerja maupun untuk pembelian aktiva tetap. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, perusahaan harus mampu mecari sumber dana dengan komposisi yang menghasilkan beban biaya paling murah. Kedua hal tersebut harus mampu diupayakan oleh manajer keuangan. Dengan demikian manajemen keuangan atau sering disebut pembelanjaan dapat diartikan sebagai semua aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut secara efisien. Usaha untuk mendapatkan dana sering disebut pembelanjaan pasif, dan bila kita lihat dineraca akan terlihat disisi pasiva, sedangkan usaha mengalokasikan dana disebut pembelanjaan aktif dan dineraca akan terlihat disisi aktiva.

Gambar 2.1. : Hubungan manajemen keuangan dan neraca

Fungsi manajemen keuangan tidak bisa dipisahkan dengan fungsi-fungsi perusahaan yang lainnya seperti pemasaran, produksi maupun sumber daya manusia. Kegagalan dalam mendapatkan sumber dana akan menghambat proses produksi, menghambat programprogram pemasaran yang telah ditetapkan, meghambat dalam penarikan sumberdaya manusia yang ahli, sehingga akhirnya akan mengakibatkan kerugian perusahaan secara keseluruhan. Fungsi manajemen keuangan, terdiri dari 3 (tiga) keputusan utama yang harus dilakukan oleh perusahaan yang terdiri dari : 1. Keputusan investasi Keputusan investasi adalah masalah bagaiman manajer keuangan harus mengalokasikan dana kedalam bentuk-bentuk investasi yang akan dapat mendapatkan keuntungan dimasa yang akan datang. Bentuk, macam, dan komposisi dari investasi tersebut akan mempengaruhi dan menunjang tingkat keuntungan dimasa depan. Keuntungan diamasa depan yang diharapkan dari investasi tersebut tidak dapat diperkirakan secara pasti. Oleh karena itu investasi akan mengandung resiko atau ketidakpastian. Resiko dan hasil yang diharapkan dari investasi itu akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan, kebijakan, maupun nilai perusahaan. 2. Keputusan Pendanaan Keputusan pendanaan ini sering disebut sebagai kebijakan struktur modal. Pada keputusan ini manajer keuangan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi

dari sember dana yang ekonomisa dari perusahaan guna membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan usahanya.

3. Keputusan dividen Dividen merupakan bagian keuntungan yang dibayarkan perusahaan kepada para pemegang saham. Oleh Karena itu, dividen ini merupakan bagian dari penghasilan yang diharapkan oleh pemegang saham. Keputusan dividen merupakan keputusan manajemen keuangan untuk menentukan : a. Besarnya prosentase laba yang dibagikan pada para pemegang saham dalam bentuk cash dividend b. Stabilitas dividen yang dibagikan c. Dividen saham (stock dividend)

d. Pemecahan saham (stock split) e. Penarikan kembali saham yang beredar, yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang saham.

Secara skematis fungsi manajemen keuangan dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.2. : Manajer Keuangan Sebagai Penyalur Dana

Menurut Mus Abdul Rahman (2007 : 3) Keseluruhan keputusan keuangan di dalam perusahaan, selalu memiliki konsekuensi keuangan, oleh karena itu, maka setiap manajer keuangan perusahaan harus dapat menjaga keseimbangan keuangan dalam perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi dengan efektif dan efisien. Hal ini dapat dilaksanakan, jika kekuatan internal perusahaan memiliki keunggulan (advantage) atau daya dukung yang tinggi, misalnya : 1. Kekuatan pemasaran 2. Penetapan besar kecilnya persediaan barang 3. Pemanfaatan kapasitas produksi 4. Pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia 5. Riset dan pengembangan (R&D) Fugsi pokok manajer keuangan (financial manager) pada dasarnya adalah merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan perolehan dan penggunaan dana dalam rangka memaksimalkan nilai perusahaan (value of the firm). Itulah sebabnya, keberhasilan manajer sering diidentikkan dengan keberhasilan perusahaan secara keseluruhan, karena peran manajer keuangan menyangkut secara keseluruhan yang menjadi tujuan perusahaan.

http://fkalu.blogspot.com/2011/02/pengertian-manajemen-keuangan.html

Kinerja Aset
18 Jumat Feb 2011 Posted by adioksbgt in Ilmu Pengetahuan, Keuangan Negara 3 Komentar Tag kinerja aset publik, manajemen aset, manajemen kekayaan negara, manajemen kinerja aset

5 Votes

1. Kinerja aset dalam manajemen aset. Manajemen kinerja aset merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari siklus hidup aset (Life Cycle Asset), meskipun dalam Life Cycle asset Management (LCAM) manajemen kinerja aset tidak secara eksplisit menjadi satu diantara 4 tahap dalam LCAM sebagaimana gambar II.1 berikut: Gambar II.1 Life Cycle asset Management (LCAM)

Sumber: Victoria Department of Treasury and Finance, Government Asset Policy Statement, 2000, Hal. 4. Dalam hal perencanaan, manajemen kinerja memiliki peran yang sangat vital dalam hal mengevaluasi aset yang telah ada. Perencanaan yang merupakan fase pertama dalam siklus hidup aset menjadi dasar bagi manajemen yang efektif atas bisnis yang ditekuni oleh suatu entitas. Perencanaan dalam manajemen aset bertujuan untuk membuat kesesuaian antara kebutuhan aset dari suatu entitas dengan strategi penyediaan pelayanan entitas yang akan menghasilkan aset dengan kapasitas dan kinerja yang diperlukan. Perencanaan aset juga memberi arah pada tindakan-tindakan khusus seperti membeli aset baru yang diperlukan, menjual aset yang berlebih, dan mengoperasikan dan memelihara aset secara efektif. Proses dalam perencanaan kebutuhan dapat dilihat dalam gambar II.2 berikut: Gambar II.2 Proses perencanaan dalam manajemen aset

Sumber : Manajemen Aset Publik hal. 155 a. Menentukan kebutuhan aset.

Keputusan manajemen aset yang menyangkut pengadaan, penggunaan, dan penghapusan aset dibuat dalam suatu kerangka perencanaan pelayanan dan finansial yang terintegrasi. Penentuan kebutuhan aset juga harus berada dalam konteks kebijakan dan prioritas pemerintah serta dalam rangka alokasi seluruh sumber daya pemerintah secara efektif. Kebutuhan akan suatu aset secara langsung berhubungan dengan pelayanan yang akan diberikan oleh suatu entitas. Perencanaan aset meliputi penilaian terhadap aset- aset yang telah ada dan perencanaan pengadaan dibandingkan dengan kebutuhan penyediaan pelayanan. Ketika mengidentifikasi kebutuhan sumber daya, organisasi harus mempertimbangkan solusi non-aset. Berikut ini adalah solusi-solusi yang akan mengeliminasi, mengurangi, atau membatasi kebutuhan organisasi untuk memiliki aset baru, antara lain: 1) 2) 3) Desain ulang terhadap pelayanan; Meningkatkan penggunaan atas aset-aset yang ada (existing asset); Menggunakan/melibatkan sektor privat.

Dengan mendefinisikan pelayanan yang akan diberikan, dan setelah mempertimbangkan solusisolusi non-aset, maka pelayanan-pelayanan yang memerlukan dukungan aset dapat diidentifikasi. b. Mengevaluasi aset-aset yang telah ada.

Pada tahap inilah proses pengukuran atau evaluasi atas kinerja aset dilakukan. Evaluasi kinerja dilakukan untuk menentukan apakah kinerja aset-aset tersebut memadai untuk mendukung

strategi penyediaan pelayanan yang telah ditentukan. Kinerja aset ditinjau secara rutin dengan menggunakan petunjuk praktik terbaik untuk pengukuran kinerja. Dengan evaluasi ini diharapkan dapat mengidentifikasi aset-aset yang berlebih, terlalu tinggi biaya pemeliharaaannya atau yang memiliki kinerja yang buruk. Sehingga hasil dari evaluasi tersebut dapat digunakan dalam pengambilan keputusan strategis terkait aset tersebut, apakah aka nada alih investasi, penghapusan, pengadaan atau bahkan alternative solusi non aset. 2. Pengukuran kinerja aset. a. Pengertian pengukuran kinerja aset

Pengukuran kinerja aset menurut Departemen Transportasi, Infrasruktur dan Energi Pemerintah Australia adalah proses terstruktur yang melibatkan identifikasi dan pengumpulan data yang relevan dengan tujuan menilai kinerja relatif dari aset yang dimiliki oleh entitas terhadap berbagai tolok ukur kinerja dalam konteks pelaksanaan tupoksi dari entitas yang bersangkutan. Hasil dari laporan kinerja aset digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan untuk mempertahankan aset, memperbarui, pemeliharaan atau keputusan untuk penghapusan dan penggantian atas aset tersebut. Informasi laporan kinerja aset juga digunakan sebagai penghubung dalam perencanaan penganggaran dan proses pengembangan strategi aset atau perencanaan aset. Sedangkan Department Of Public Works, Queensland Government, mendefinisikan pengukuran kinerja aset adalah sebagai berikut: Performance measures are qualitative or quantitative methods of assestment that are relevant to a particular performance indicator. b. Tujuan pengukuran kinerja aset.

Tujuan dari pengukuran kinerja aset menurut Department for Transport, Energy and Infrastucture, Governtment of South Australia adalah untuk mengetahui status aset terhadap tolok ukur tingkat pelayanan yang diharapkan, dan untuk mengetahui implikasi apabila terdapat kekurangan dalam penyediaan layanan tersebut. Sedangkan menurut Department Of Public Works, Queensland Government, tujuan dari pengukuran kinerja aset adalah sebagai berikut: 1) mendukung komitmen Pemerintah Pusat untuk mengelola kinerja dari investasi yang signifikan atas portofolio aset yang telah dilakukan oleh pengguna aset, dalam rangka mengoptimalkan kontribusi aset terhadap pencapaian outcomes-nya. 2) menyediakan arah yang jelas bagi pengguna aset sebuah pendekatan sistematis untuk mengelola kinerja aset. 3) membantu pengguna aset dalam mengadopsi pendekatan berbasis kinerja untuk menyelarasan pengadaan aset dengan kebutuhan riil yang diperlukan dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsinya.

4) meningkatkan akuntabilitas pengambilan keputusan dan tata kelola pemerintahan yang berkaitan dengan pengelolaan aset melalui penggunaan informasi kinerja yang handal. 5) memberikan konteks dan bimbingan pada jenis data kinerja yang akan digunakan sebagai kunci dari pengelolaan kementerian dan pemerintah secara keseluruhan seperti perencanaan strategis aset. c. Ukuran Kinerja dalam Pengukuran Kinerja Aset

Hariyono (2009) mengutip dari Australian National Audit Office, Asset Management Handbook, 1996 memberikan empat ukuran kinerja yang seharusnya digunakan dalam melakukan pengukuran kinerja aset, sebagai berikut: 1) Kondisi fisik aset.

Suatu aset harus dapat digunakan secara aman dan efektif. Hal ini berarti bahwa aset perlu dipelihara agar berada dalam kondisi yang memadai untuk digunakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan memenuhi standar kesehatan dan keamanan yang relevan. Penilaian yang memadai atas kondisi aset meliputi: a) Penyusunan kondisi yang disyaratkan atas suatu aset relatif terhadap kebutuhan pemberian pelayanan dan nilai dari aset tersebut (kiteria hendaknya mencakup keterkaitannya dengan efisiensi operasional, keamanan dan kesehatan publik, keramahan lingkungan). b) c) 2) Pemeriksaan aset dan membandingkan kondisinya dengan kondisi yang dipersyaratkan; Perencanaan kondisi aset di masa mendatang. Pemanfaatan aset (utilisasi aset).

Pemanfaatan aset merupakan ukuran seberapa intensif suatu aset digunakan untuk memenuhi tujuan pemberian pelayanan, sehubungan dengan potensi kapasitas aset 3) Fungsionalitas aset.

Fungsionalitas dari suatu aset merupakan ukuran efektivitas dari suatu aset dalam mendukung aktivitas yang akan dilakukan. Fungsionalitas suatu aset hendaknya ditinjau ulang secara rutin. Hal ini akan memungkinkan untuk mengidentifikasi pengaruh signifikan atas pelayanan, adanya perubahan berkala yang dibuat untuk memperbaiki pemberian pelayanan dan standar fungsional. Lebih lanjut, hasil dari review secara rutin atas kemampuan aset digunakan dalam penyusunan strategi aset. 4) Kinerja finansial aset.

Kinerja finansial dari suatu aset harus dievaluasi untuk menentukan apakah aset tersebut dapat memberikan pelayanan yang sehat secara ekonomis ataukah tidak. Untuk melakukan hal tersebut, entitas perlu untuk memantau dan menilai: a. b. beban operasi (operating expenses); arus kas saat ini dan proyeksinya, termasuk pengeluaran modal (capital expenditures).

Berdasar 4 (empat) ukuran kinerja tersebut maka akan dihasilkan laporan kinerja terintegrasi. Hal ini dapat dilihat pada gambar II.3 sebagai berikut: Gambar II.3 Proses monitoring kinerja aset

Sumber: Australian National Audit Office, Asset Management Handbook, 1996, hal. 18
http://adioksbgt.wordpress.com/2011/02/18/kinerja-aset/

3. Perencanaan Aset

Proses perencanaan aset hendaknya menyesuaikan prospektif permintaan aset dengan profil penawaran aset. 1. Menentukan Kebutuhan Aset Dengan menyertakan perencanaan aset ke dalam kerangka perencanaan strategis, implikasi jangka panjang dari pengambilan keputusan pada tingkat corporate (corporate level) terhadap aset dapat diidentifikasi dan respon yang memadai dapat disusun. Alasan utama untuk membuat/mengadakan, mengoperasikan, dan memelihara aset bagi organisasi sektor publik adalah untuk mendukung penyediaan pelayanan. Untuk memastikan bahwa hal itu terwujud, sebagai langkah pertama, organisasi harus menyusun/mengembangkan strategi penyediaan pelayanan yang:

menjelaskan ruang lingkup, standar, dan tingkat pelayanan yang akan diberikan menilai metode pemberian pelayanan tersebut mengidentifikasi sumber daya, termasuk aset, yang dibutuhkan untuk menyediakan pelayanan; menentukan, apabila mungkin, metode pencatatan permintaan pelayanan.

Ketika mengidentifikasi kebutuhan sumber daya, organisasi harus mempertimbangkan solusi nonaset. Berikut ini adalah solusisolusi yang akan mengeliminasi, mengurangi, atau membatasi kebutuhan organisasi untuk memiliki aset baru, antara lain:

Desain ulang terhadap pelayanan Meningkatkan penggunaan atas aset-aset yang ada (existing asset) Menggunakan/melibatkan sektor privat.

Dengan mendefinisikan pelayanan yang akan diberikan, dan setelah mempertimbangkan solusi-solusi non-aset, maka pelayanan-pelayanan yang memerlukan dukungan aset dapat diidentifikasi. Selain itu, dalam menganalisis

solusi-solusi non-aset organisasi harus mempertimbangkan durasi organisasi dan antisipasi perkembangan organisasi di masa depan. 2. Mengevaluasi Aset-Aset yang Telah Ada Aset harus dievaluasi dalam hal:

Kondisi fisiknya Fungsionalitasnya Penghematannya dan Kinerja finansialnya.

Efektivitas dari aset-aset yang ada dalam mendukung penyediaan pelayanan juga harus ditentukan. Proses ini menganggap standar kondisi dan kinerja yang memadai disusun untuk aset. Gambar berikut ini adalah proses pemantauan (monitoring) kinerja Hasil dari evaluasi harus disertakan dalam laporan kinerja yang terintegrasi.

3. Membandingkan antara Permintaan dan Penawaran Perencanaan pada tingkat strategis (strategic level) akan memberikan perbandingan antara aset-aset yang dibutuhkan untuk penyediaan pelayanan dan aset-aset yang saat ini tersedia dan/atau sedang dilakukan pengadaan. Dalam hal ini organisasi mampu mengidentifikasi:

Aset-aset yang ada yang masih diperlukan dan masih mampu (capable) mendukung penyediaan pelayanan Aset-aset yang ada yang masih dibutuhkan tetapi berada di bawah standar dan memerlukan perbaikan guna memenuhi kebutuhan penyediaan pelayanan Aset-aset yang berlebih (surplus) untuk penyediaan pelayanan dan dapat dihapuskan dan Aset-aset yang harus dihapuskan untuk memenuhi kebutuhan penyediaan pelayanan.

4. Strategi Manajemen Aset Dengan melakukan evaluasi atas biaya siklus hidup, manfaat, dan risiko yang terkait dengan masing-masing alternatif, strategi akan mengidentifikasi

pendekatan yang paling memadai untuk memenuhi kebutuhan pemberian pelayanan.

Rencana pengadaan, yang menjelaskan aset- aset yang dibutuhkan atau diganti dalam periode perencanaan dan yang menyusun sumber dan biaya pendanaan untuk pengadaan. Rencana operasional menjelaskan kebijakan penggunaan aset yang telah ada dan mungkin mencakup hal-hal seperti jam operasi, pemakaian, keamanan, manajemen energi dan pembersihan. Rencana pemeliharaan menyusun standar atas aset-aset yang akan dipelihara, bagaimana standar akan dicapai, dan bagaimana pelayanan pemeliharaan akan diberikan. Rencana penghapusan akan menjelaskan seluruh aset yang akan dihapuskan dalam periode perencanaan, metode penghapusan yang dipilih dan hasil yang diharapkan dari peghapusan.

bagus yogo hutomo Minggu, 14 Oktober 2012 http://bagusyogohutomo.blogspot.com/2012/10/13-perencanaan-aset.html