Anda di halaman 1dari 41

CASE REPORT CLOSED FRACTURE RADIUS ULNA 1/3 PROXIMAL

NAMA

: BELLINDA NADYA PUTRI NUANSA CHALID

PEMBIMBING : dr. HUSODO, Sp. OT

IDENTITAS
Nama : Tn. K Umur : 16 tahun Jenis kelamin : Pria Pekerjaan : Pelajar Agama : Islam Alamat : Cipepe Status perkawinan: Belum Menikah Suku : Sunda Tanggal MRS : 09 Juli 2013 Tanggal periksa : 03 Oktober 2013 No. CM : 0163xxxx

ANAMNESA
Dilakukan secara
Keluhan Utama
: Autoanamnesis : Nyeri lengan atas kanan

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke UGD RSUD dr. Slamet Garut dalam keadaan sadar diantar oleh keluarga. Pasien mengeluhkan nyeri lengan atas kanannya dan tidak dapat digerakkan. Pasien mengaku bahwa telah mengalami kecelakaan 1 minggu sebelum MRS. Pasien mengendarai sepeda motor bersama dengan temannya. Pasien mengaku mengendarai sepeda motor dengan pelan. Namun di perjalanan pasien terpeleset dari sepeda motor oleh karena ada oli yang berceceran di jalan. Saat pasien terjatuh ada mobil yang melaju cepat dari arah belakang pasien, namun pasien tidak dapat menghindar kemudian tangan kanan pasien tertabrak oleh badan depan dari mobil tersebut. Setelah itu pasien merasakan kesakitan dan tidak dapat menggerakan lengan atas kanan. Oleh warga sekitar, pasien dibawa ke rumah sakit. Pasien tidak mengalami muntah.

Riwayat penyakit dahulu Riwayat trauma sebelumnya tidak ditemukan Pasien tidak pernah mengalami sakit yang sama sebelumnya Pasien tidak pernah menjalani operasi sebelumnya
Riwayat pengobatan Tidak sedang mengkonsumsi obat Riwayat Keluarga Trauma (-) Operasi (-) DM (-) Hipertensi (-)

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum: Kesadaran Status Gizi Tekanan darah Respirasi Nadi Suhu Gizi Kepala

: Compos mentis : Cukup : 110 / 80 mmHg : 20 x/menit : 88 x/menit : 36 C : Cukup : Normocephal

Status Generalis: Kepala : Normochefal Mata : Konjungtiva anemis (+ / +) Sklera ikterik (- / -) Refleks pupil (+ / +) Hidung : Epistaksis (- / -) Deviasi Septum (- / -) Krepitasi (- / -) PCH (- / -) Mulut : Sianosis perioral (-) Faring tidak hiperemis Leher : Pembesaran KGB (-), JVP tidak meningkat, Trakhea berada ditengah

Thorax: Inspeksi : Hemitorak simetris kanan dan kiri dalam keadaan statis dan dinamis Palpasi : Fremitus vokal dan taktil simetris kanan dan kiri, Nyeri tekan (-) Perkusi : Sonor pada kedua hemitorak Auskultasi : Pulmo: VBS kanan = kiri normal, rhonki (-/-), wheezing (-/-) Cor : Bunyi jantung I = II murni reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen : Inspeksi : Tampak datar, lembut, kelainan kulit (-) Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba pembesaran Perkusi : Timpani diseluruh kuadran abdomen Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstremitas : Superior dextra


Lihat Status Lokalisasi

Superior sinistra
Tonus otot Gerakan Kekuatan Massa KGB inguinal Edema Akral

: Baik : Aktif / aktif :5/5 : (- / -) : Tidak teraba membesar : (- / -) : Hangat, sianosis (- / -), capillary refill time < 2

Inferior dextra : Tonus otot : Baik Gerakan : Aktif / aktif Kekuatan :5/5 Massa : (- / -) KGB inguinal : Tidak teraba membesar Edema : (- / -) Akral : Hangat, sianosis (- / -), capillary refill time < 2 Inferior sinistra : Tonus otot : Baik Gerakan : Aktif / aktif Kekuatan :5/5 Massa : (- / -) KGB inguinal : Tidak teraba membesar Edema : (- / -) Akral : Hangat, sianosis (- / -), capillary refill time < 2

STATUS LOKALIS a/r antebrachii dextra


Look : Tak tampak luka terbuka, terlihat deformitas berupa pemendekan panjang lengan atas kanan bila dibandingkan dengan regio antebrachii sinistra Feel : Didapatkan adanya nyeri tekan setempat, krepitasi, suhu sama dengan bagian yang normal, teraba hangat, sensibilitas (+), NVD (neurovaskuler disturbance) (-), kapiler refil < 3 detik. Arteri radialis teraba Move : Gerakan aktif dan pasif terhambat, Gerakan abduksi lengan kanan kanan terhambat, gerakan adduksi lengan atas kanan terhambat, sakit bila digerakkan, gangguan persarafan tidak ada, tampak, gerakan terbatas (+), keterbatasan pergerakan wrist & elbow joint (karena terasa nyeri saat digerakkan). False of movement (+)

Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 09 Juli 2013 Darah Rutin Haemoglobin : 14,3 gr/dL (13,0 - 18,0 g/dL) Hematokrit : 41 (40 - 52 %) Lekosit : 9.900 /mm3 (3.800 - 10.600 /mm3) Trombosit : 413.000/mm(150.000 - 440.000 /mm3) Eritrosit : 4,05 juta/mm3( 3,5 - 6.5 juta/mm3) Masa Pendarahan/BT :1 Masa Pembekuan/CT :7 Kimia Klinik Ureum Kreatinin

: 36 : 0,97

Foto Rontgen Regio antebrachii dextra AP/Lateral

Foto Rontgen : Thorax PA

PENATALAKSANAAN
Non operatif Medikamentosa - Analgetik - Antibiotik Sebelum Operasi Non medikamentosa - Istirahat - Pemasangan bidai melewati 2 sendi - Edukasi kepada pasien beserta keluarganya tentang penyakit yang diderita pasien - Reposisi tertutup dan pemasangan gips Operatif Reposisi terbuka dan fiksasi interna: ORIF

PROGNOSA
Quo ad vitam : dubia ad bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam

PEMBAHASAN

Definisi
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisi, baik bersifat total maupun parsial. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas tulang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok. Fraktur daerah intertrokanter adalah

Prevalensi
Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki - laki dari pada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan. Sedangkan pada usia prevalensi cenderung lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon.

Etiologi/Predisposisi
Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu 1.Cedera Traumatik Akibat trauma tiba-tiba 2.Fraktur Patologik Terjadi karena kelemahan tulang akibat adanya kelainan patologi pada tulang. 3.Fraktur Stress Akibat trauma yang terus menerus

Klasifikasi
Menurut Penyebab terjadinya 1. Faktur Traumatik : direct atau indirect 2. Fraktur Fatik atau Stress 3. Trauma berulang, kronis, misal: fr. Fibula pd olahragawan 4. Fraktur patologis : biasanya terjadi secara spontan

Menurut hubungan dengan jaringan ikat sekitarnya (Klasifikasi Klinis)


Fraktur Simple : fraktur tertutup Fraktur yang tidak memiliki hubungan dengan dunia luar Fraktur Terbuka : bone expose (compound fracture) Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari luar) Fraktur Komplikasi : Fraktur dengan komplikasi misalnya malunion, delayed union, nonunion, infeksi tulang.

Fraktur Tertutup

Fraktur Terbuka

Fraktur dengan Komplikasi

Menurut bentuk
Fraktur Komplet :Garis fraktur membagi tulang menjadi 2 fragmen atau lebih. Garis fraktur bisa transversal, oblique, spiral. Kelainan ini menentukan arah trauma, fraktur stabil atau tidak Fraktur Inkomplet : sifat stabil, misal greenstik fraktur Fraktur Kominutif : lebih dari 2 segmen Fraktur Kompresi / Crush fracture : umumnya pada tulang kanselus

Berdasarkan garis patah / konfigurasi tulang dibagi menjadi:


Transversal garis patah tulang melintang sumbu tulang (80 - 100o dari sumbu tulang) Oblik garis patah tulang melintang sumbu tulang (< 80o atau > 100o dari sumbu tulang) Longitudinal garis patah mengikuti sumbu tulang Spiral garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih Comminuted terdapat 2 atau lebih garis fraktur

Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur :

a. Undisplace fragmen tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya b. Displace fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas: Shifted Sideways menggeser ke samping tapi dekat Angulated membentuk sudut tertentu Rotated memutar Distracted saling menjauh karena ada interposisi Overriding garis fraktur tumpang tindih Impacted satu fragmen masuk ke fragmen yang lain

Diagnosis
Foto Rontgen menrupakan pemeriksaan penujang yang utaman pada sistem skeletal. Fot harus selalu diambil dalam 2 posisi. Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah : Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada fraktur minor. Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur. Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada korteks.

Gejala klinis
Fraktur Kaput Radius Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir tidak pernah ditemukan pada anak-anak. Fraktur ini kadangkadang terasa nyeri saat lengan bawah dirotasi, dan nyeri tekan pada sisi lateral siku memberi petunjuk untuk mendiagnosisnya.

Fraktur Leher Radius Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada orang dewasa kaput radius dapat retak atau, patah sedangkan pada anak-anak tulang lebih mungkin mengalami fraktur pada leher radius. Setelah jatuh, anak mengeluh nyeri pada siku. Pada fraktur ini kemungkinan terdapat nyeri tekan pada kaput radius dan nyeri bila lengan berotasi.

Fraktur Diafisis Radius Kalau terdapat nyeri tekan lokal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan sinar-X

Fraktur Distal Radius Fraktur Distal Radius dibagi dalam :


Fraktur Galeazzi Fraktur Colles Fraktur Smith Fraktur Lempeng Epifisis Fraktur Monteggia

PENATALAKSANAAN
Terapi fraktur diperlukan konsep empat R yaitu : rekognisi, reduksi/reposisi, terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.

Rekognisi atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang benar sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan terapinya dapat dipersiapkan lebih sempurna. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmenfragmen fraktur semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak normal. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau menahan fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur tersebut dapat kembali normal.(

Proses penyembuhan fraktur


Fase hematoma Fase proliferatif Fase pembentukan callus Fase konsolidasi Fase remodeling

KOMPLIKASI
Malunion Osteomyelitis

PROGNOSIS

Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun 1997. Tingkat kematian dari fraktur:
Kematian : 11.696 Insiden : 1.499.999 0,78% rasio dari kematian per insiden

TERIMAKASIH