Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pemeriksaan urin merupakan pemeriksaan yang sering diamati dalam membantu menegakkan diagnosa berbagai macam penyakit, ada kemungkinan bahwa urinalisa adalah pemeriksaan laboratorium yang paling tua. (Frances K. Widmann. 1995 ) Tubuh manusia senantiasa melakukan proses metabolisme. Selain menghasilkan energi, metabolisme pada tubuh manusia juga menghasilkan berbagai macam zat sisa seperti karbondioksida (CO2), air (H2O), amoniak (NH3) dan urea. Zat-zat sisa metabolisme tersebut harus dikeluarkan dari tubuh karena sudah tidak berguna lagi dan bersifat racun. Salah satu organ ekskresi pada manusia adalah ginjal Organ tersebut merupakan bagian dari sistem ekskresipada manusia yang berfungsi untuk mengeluarkan semua zat sisa metabolisme yang sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dalam bentuk urin (Iwak, 2012). Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dipandang perlu untuk mengkaji lebih dalam dengan melakukan percobaan urinasi.

B. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kandungan zat terlarut dalam urin.

C. Manfaat Adapun manfaat dari praktikum ini adalah praktikan mampu mengetahui kandungan zat terlarut dalam urin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Terdapat sepasang ginjal di dalam tubuh manusia, terletak disebelah kiri dan kanan ruas tulang pinggang di dalam rongga perut. Letak ginjal kiri lebih tinggi daripada ginjal kanan, karena di atas ginjal kanan terdapat hati yang banyak mengambil ruang (Alvyanto, 2012). Ginjal berfungsi untuk menyaring zat-zat sisa yang terkandung dalam darah dan membuangnya bersama urin. Ginjal terdiri dari tiga bagian yaitu korteks, medula, dan pelvis. Pada bagian korteks terdapat badan malpighi yang berfungsi menyaring darah. Di bagian medula terdapat piramida ginjal yang berfungsi sebagai saluran pengumpul urin. Urin hasil penyaringan badan malpighi akan dialirkan untuk ditampung di pelvis. Urin ini kemudian dialirkan lagi ke kandung kemih melalui ureter. Air urin ini kemudian dibuang dari tubuh melalui saluan uretra (Iwak, 2012). Ginjal manusia merupakan dua organ berbentuk kacang merah, masing-masing berukuran kepalan tangan yang tertutup. Adanya di dinding tubuh dorsal di kedua sisi tulang belakang. Walau berat total ginjal itu hanya 0,5% berat tubuh, namun ginjal menerima kiriman darah yang luar biasa kayanya. Dua puluh sampai dua puluh lima persen darah itu yang dipompa oleh jantung setiap menit mengalir melaluinya. Darah ini sampai ke ginjal melalui arteri renal kanan dan kiri dan keluar melalui urat-urat renal kiri dan kanan. Potongan melintang melalui ginjal tampak bagian-bagiannya yang tiga daerah berbeda. Bagian luar disebut korteks. Di bawahnya ialah medula. Di dalamnya ada ruang kosong, yaitu pelvis. Korteks dan medula ginjal itu terdiri atas kira-kira satu juta nefron. Nefron ialah satuan struktural dan fungsional ginjalnya (Kimball, 1983: h. 571). Urine diproduksi secara terus-menerus oleh ginjal dan dialirkan melalui ureter oleh kontraksi perisfaltik. Urine tersebut terkumpul dalam kandung kemih, karena sebuah otot polos sfingter pada ujung kantung dan otot lurik sfingter yang terletak lebih distal ada dalam keadaan tertutup. Urine dicegah mengalir kembali ke ureter oleh lipatan-lipatan bak-katup dari mukosa kantung. Jika kandung penuh, maka reseptor peregang dirangsang dan timbullah refeleks yang menyebabkan kontraksi otot polos yang terdapat dalam dinding kantung dan relaksasi otot polos sfingter.adalah menurut kehendak manusia (Villee, 1984: h. 217). Urinalisis adalah analisis kimia, makroskopis dan mikroskopis terhadap urin.Uji urin rutin dilakukan pertama kali pada tahun 1821. urin. Uji urin rutin dilakukan pertama kali pada tahun 1821. Urinalisis berguna

untuk mendiagnosis penyakit ginjal atau infeksi traktus urinarius dan untuk mendeteksi adanya penyakit metabolik yang tidak berhubungan dengan ginjal. Berbagai uji urinalisis rutin dilakukan di tempat praktik pemberi layanan kesehatan dan juga rumah sakit atau laboratorium swasta. ( Kee, Joyce Le Fever, 2007 ) . Urin yang normal jumlah rata rata 1 2 liter sehari tetapi perbedaan jumlah urin sesuai cairan yang dimasukkan, jika banyak mengkonsumsi protein maka akan diperlukan banyak cairan untuk melarutkan ureanya, sehingga urin yang dikeluarkan jumlahnya sedikit dan menjadi pekat. ( Evelin C. Pearce 2002)

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan I.Pemeriksaaan Makroskopis, terdiri dari : 1.Warna : - Tabung reaksi 2.Derajat Keasaman (Ph) : -Gelas benda (obejct glass) -Pipet tetes -Kertas Ph universal 3.Berat Jenis Urin : -Gelas ukur 25 ml -Urinometer -Kertas saring 4.Bau urin : -Tabung reaksi II.Pemeriksaan Kimiawi, terdiri dari : 1. Protein Urin -Tabung reaksi -Penjepit tabung -Pemanas spirtus -Larutan asam asetat 6% -Pipet tetes 2.Glukosa Urin : -Gelas ukur 10 ml -Tabung reaksi -Penjepit tabung -Pemanas spirtus -Larutan Benedict -Pipet tetes III.Pemeriksaan Mikroskopis,terdiri dari : 1. Sedimen Urin : -Tabung reaksi -Sentrifus -Larutan Steinheimer malbin -Gelas benda (object glass) -Gelas penutup (deck glass) -Mikroskop -Pipet tetes

B. Cara Kerja I.Pemeriksaan Makroskopis : 1.Warna: Masukkan urin dalam tabung reaksi sebanyak tabung .

Lihat warna pada cahaya terang pada posisi serong /miring. 2.Derajat Keasaman (Ph): Sepotong kecil kertas pH universal diletakkan di atas object glass.

Tambahkan 1 tetes urin ,tunggu 1 menit.

Lalu bandingkan warna kertas itu dengan skala warna yang tersedia . 3.Berat Jenis : Masukkan urin dalam gelas ukur sampai 25ml ,billa terdapat busa dihilangkan dulu dengan bantuan kertas saring .

Masukkan urinometer ke dalam gelas ukur tersebut, lalu putarlah urinometer dengan ibu jari dan jari telunjuk .

Baca permukaan urin pada skala urinometer ketika urinometer teraung ditengah gelas dan tidak menempel pada dinding gelas. Cara Penghitungan : Keterangan : ST = Suhu Tera urin
=Bj Urin terbaca + (SR-ST) x 0,001

SR = Suhu Ruangan

4.Bau Urin :

Masukkan urin dalam tabung reaksi sebanyak 2/3 tabung .

Bau dengan cara mengibas-ngibaskan tangan ke arah hidung . II.Pemeriksaan Kimiawi Urin : 1.Protein Urin: Masukkan urin jernih ke dalam tabung reaksi sampai 2/3 penuh .

Pegang bagian ujung badah tabung ,lalu panaskan bagian atas dengan nyala api sampai urin mendidih.

Perhatikan terjadinya keruhan di lapisan atas urin dengan membandingkan jernihnya dengan bagian bawah yang tidak dipanasi.

Jika terjadi kekeruhan mungkin disebabkan oleh protein ,tetapi bisa juga disebabkan oleh kalsium fosfat atau kalsium karbonat.

Tetesi urin tersebut dengan 3-5 tetes larutan asam asetat 6% . Jika kekeruhan disenankan kalsium fosfat ,maka kekeruhan akan hilang.

Jika kekeruhan disebabkan oleh kalsium karbonat ,maka kekeruhan akan hilang tapi ada gas. Jika kekeruhan tetap ada atau mungkin keruh , maka tes terhadap protein positif.

Panasi sekali lagi lapisan atas sampai mendidih dan beri penilaian secara semi kuantitatif.

2.Glukosa Urin : Masukkan 5 ml Benedict ke dalam tabung reaksi .

Tambah 8 tetes urin (jangan lebih) ,kocok dan panaskan bagian bawah tabung dengan pemanas spirtus .

Baca hasil reduksi nya . Pemeriksaan Mikroskopis 1.Sedimen Urin Masukkan 10 ml urin ke dalam tabung reaksi , yang berskala (tabung sentrifus , bila ada , bila tidak ada gunakan tabung reaksi ukuran 10 ml ).

Buang cairan atas ( dengan cara menuang secara cepat atau dipipet melalui permukaan ) sampai tersisa 0,5 ml .

Kocok tabung untuk eresuspensikan sedimen.

Tambah 1 tetes larutan Steinheimer-malbin ,campur dengan menggunakan pipet .Teteskan 1 tetes sedimen di atas object glass , tutup dengan deck glass.

Periksalah di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x (lensa obyektif 10x) untuk silinder , kristal dan perbesaran 400x (lensa obyektif 40x ) untuk melihat eritrosit dan leukosit.

BAB IV HASIL & PEMBAHASAN A. Data Analisis I.Pemeriksaan Makroskopis : 1.Warna No 1 Objek Pengamatan Urin Mr. X Hasil Pengamatan Warna Urin Kuning Muda ( Normal )

Interpretasi Hasil : Nilai normal : kuning muda kuning tua 2.Derajat Keasaman (pH) No Objek Pengamatan 1 Urin Mr.X Hasi Pengamatan Ph Urin 6 (Normal)

Interpretasi Hasil : Nilai normal : Ph berkisar 4,6 -8,5 3. Berat Jenis Urin Penghitungan = Bj urin terbaca+ (SR-ST) x 0,001 3 = 1,020 + (2520-) x 0,001 3 =1,02167 (Normal) Interpretasi hasil : Nilai normal : 1,003-1,030 4.Bau Urin : No Objek Pengamatan 1 Urin Mr.X Hasil Pengamatan Bau Urin Bau pesing khas urin (Normal)

Interpretasi Hasil : Bau urin normal seperti bau pesing khas urin tidak terlalu menyengat dan berbau busuk II. Pemeriksaan Kimiawi : 1.Protein Urin: No Objek Pengamatan 1 Urin Mr.Y Hasil Pengamatan Semi Kuantitatif Tidak ada kekeruhan (Negatif)

Interpretasi Hail : Negatif : tidak ada kekeruhan Positif 1 : ada kekeruhan ringan tanpa butir-butir (kadar protein kira-kira 0,01-0,05 %) Positif 2 : kekeruhan mudah dapat dilihat dan terdapat butir-butir (kadar protein 0,05-0,2%) Positif 3 :urin jelas keruh dan terdapat keping keping (kadar protein 0,2-0,5 %) Positif 4 : urin sangat keruh atau bergumpal gumpal atau memadat (kadar protein >0,5%) Nilai normal : negatif 2.Glukosa Urin : No Objek Pengamatan 1 Urin Mr. X Hasil Pengamatan Reduksi Urin Warna tetap biru jernih (Negatif)

Interpretasi Hasil : Negatif : warna tetap biru jernih atau sedikit kehijauan dan agak keruh Positif 1 : hijau kekuning-kuningan dan keruh (sesuai dengan 0,5-1% glukosa Positif 2 : kuning keruh (1-1,5 % glukosa) Positif 3 : jingga atau warna lumpur keruh (2-3,5% glukosa) Positif 4 : merah keruh (>3,5% glukosa)

Nilai normal : negatif

III.Pemeriksaan Urin Mikroskopis : 1.Sedimen Urin : No Objek Pengamatan 1 Urin Mr. Y Unsur Organik Leukosit : 14 Silinder granulosit :20 Unsur Anorganik Amorf fosfat: 10 Kalsium Oksalat : 4

Interpretasi Hasil : Unsur Organik : sel epithel ,leukosit,eritrosit fat bodies silinder ,benang (hyalin berbutir,lilin

fibrin,eritrosit,leukosit,lemak),oval

lender,silindroid

,spermatozoa,potongan jaringan ,parasit,bakteri . Unsur Anorganik : bahan amorf ( urat dalam urin asam da fosfat dalam urin basa),kristal (dalam urin asam =asam urat warna kuning ),natrium urat ,kalsium urat (jarang ada ). Dalam urin asama atau yang agak basa = kalsium oxalat ,kadang-kadang asam biurat ,dalam urin yang basa atau kadang-kadang yang netral = triple fosfat ,dalam urin basa atau kadang-kadang yang netral = triplefosfat , sangat jarang dikalsium fosfat ,dalam urin basa = kalsium karvonat ,amonium biurat ,kalsium fosfat ),kristal yang menunjukkan keadaan abnormal (cystine , leucine, tyrosine, kolesterol,bilirubin ,dan hematodiane ), kristal yang berasal dari obat seperti sulfonamide, bahan lemak.

B.Pembahasan Urin merupakan zat cair buangan yang terhimpun di dalam kandung kemih dan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui saluran kemih. Pada praktikum ini kami melakukan pemeriksaan makroskopis , yang terdiri dari pemeriksaan warna, derajat keasaman (Ph) ,berat jenis urin dan bau urin, selain itu kami juga melakukan pemeriksaan kimiawi yang terdiri dari pemeriksaan protein dan glukosa urin, pada pemeriksaan mikroskopis kami melakukan pemeriksaan sedimen urin dimana urin yang digunakan yaitu, urin pagi (pengumpulan sampel urin pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan atau menelan cairan apapun). Berikut ini penjelasan masing-masing urin praktikan yang diamati. Pada pengamatan pemeriksaan makroskopis urin pagi dari segi warna, urin berwarna kuning muda , hal ini dalam keadaan normal karena hal ini sesuai dengan teori bahwa urin normal berwarna kuning-bening sampai kuning tua. Zat warna pada urin dihasilkan oleh urochrom dan urobilin yang disekresikan oleh kantung empedu. Dari segi derajat keasaman urin (Ph), derajat keasamaan menunjukan angka 6 , hal ini adalah normal karena berdasarkan interpretasi hasil nilai normal pH urin normal berkisar 4,6 8,5 . Adapun pada pemeriksaan berat jenis urin , pada urinometer BJ urin terbaca adalah 1,020 , setelah melauli perhitungan Bj urin dinyatakan normal yaitu mencapai angka 1,02167 ,hal ini termasuk dalam angka normal karena berdasarkan teori BJ urin normal berkisar 1,003 -1,030 . Sedangkan pada pemeriksaan bau urin , angka bau urin normal, tidak keras,tidak berbau busuk, tidak telalu menyengat, dan memiliki bau seperti amoniak (NH3), bau urin ini disebabkan oleh kandungan NH3 yang tinggi dalam urin. Pada pengamatan uji kimiawi, kami melakukan pemeriksaan urin pagi dari orang yang berbeda dari pemeriksaan mikroskopis dan kimiawi . Pada pemeriksaan uji protein urin , pertama urin yang dimasukan ke dalam tabung reaksi sebanyak 2/3 penuh kemudian pada bagian atas dipanasi sampai mendidih dengan lampu spirtus, dan setelah kami bandingkan dengan permukaan bawah tabung reaksi yg masi jernih hasil nya ada kekeruhan ringan namun setelah ditetesi dengan asam asetat 6% ,kekeruhan pun hilang dan setelah dipanasi pun tidak terjadi perubahan yang berarti pada urin, kemudian setelah dipanasi lagi hasilnya juga masi h sama yaitu tidak terjadi kekeruhan , yang berarti penilaian semi kuantitatif dinyatakan negatif protein, sehingga urin dinyatakan tidak mengandung protein dan dalam keadaan normal. Adapun pengamatan uji kimia pada aspek pemeriksaan glukosa urin, yang menggunakan larutan benedict , pada pemeriksaan uji benedict pada urin sewaktu bertujuan

untuk mengamati ada tidaknya kandungan glukosa pada urin yang telah ditetesi larutan benedict baik yang kemudian dipanaskan sampai mendidih untuk melihat hasil reduksi nya . Setelah larutan benedict dicampur dengan 8 tetes urin dan kemudian dipanaskan hasilnya urin tetap berwarna biru jernih , warna yg dihasilkan tidak berubah dari awal setelah dicampur dengan benedict .Berdasarkan teori jika warna masih tetap atau biru jernih, hal ini menunjukan bahwa urin negatif terhadap glukosa yang berarti dalam keadaan normal. Pada pengamatan uji mikroskopis urin pagi , setelah membuat sedimentasi urin pada sentrifugi selama 5 menit dengan kecepatan putaran 50 rpm, ketika diamati dengan mikroskop terdapat lekosit, silinder granular , amorf fosfat dan kristal asam oxalat. Lekosit berbentuk bulat, berinti, granuler, berukuran kira-kira 1,5 2 kali eritrosit . Leukosit dalam urin ditemukan 14 , pada umumnya leukosit adalah neutrofil yang berasal dari bagian

manapun dari saluran kemih. Kristal asam oksalat berukura bervariasi dalam ukuran dari cukup besar sampai yang sangat kecil dan berjumlah 4 buah. Adapun silinder granular yang ditemukan dalam sedimen urin berjumlah 20 , Silinder terbentuk pada tubulus ginjal dengan matriks glikoprotein yang berasal dari epitel ginjal .Silinder pada urin menunjukan adanya keadaan abnormal pada parenkim ginjal yang biasanya berhubungan dengan proteinuria . Selain itu juga ditemukan amorf fosfat pada sedimen urin yang diamati pada mikroskop ,amorf fosfat berjumlah 10 ,bahan amorf merupakan urat-urat dalam urin asam dan fosfatfosfat dalam urin akali. Secara teoritis, Pada urin normal seharusnya tidak dapat ditemukan adanya silinder granular , silinder granular berisi sel-sel yang mengalami degenerasi, mula- mula berbentuk granula kasar kemudian menjadi halus.Biasanya ditemukan pada nefritis kronik, dapat juga pada inflamasi akut. Jumlah Lekosit ditemukan 14 per LPK ( Lapang Pandang Kuat) , Sedangkan nilai normalnya 4 atau 5 per LPK . Peningkatan jumlah lekosit dalam urine (leukosituria atau piuria) umumnya menunjukkan adanya infeksi saluran kemih baik bagian atas atau bawah, sistitis, pielonefritis, atau glomerulonefritis akut. Jumlah kristal ditemukan 4 buah, nilai normal jumlah kristal adalah 1 5 sel pada urin juga Apabila jumlah kristal > 5 per LPL (Lapang Pandang Lemah) maka terjadi infeksi dan memungkinkan

timbulnya penyakit kencing batu, yaitu terbentuknya batu ginjal-saluran kemih (lithiasis) di sepanjang ginjalsaluran kemih.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah pada pemeriksaan makroskopis yang terdiri dari pemeriksaan warna, derajat keasaman (Ph) , berat jenis urin dan bau urin . Dari hasil pengamatan urin dalam keadaan normal ,sedangkan dalam pemeriksaan kimiawi urin , urin juga dalam keadaan normal karena hasil pengamatan menunjukan negatif protein dan glukosa dalam urin. Sehingga urin dinyatakan normal . Pada pemeriksaan mikroskopis urin (sedimen urin) yang kita lakukan pada urin pagi pada orang yang berbeda dari pemeriksaan mikroskopis dan kimiawi , berdasarkan hasil pengamatan terdapat silinder granuler terdapat 20 , amorf fosfat terdapat 10 , leukosit 14 dan kristal kalsium oxalat terdapat 4. Silinder granulosit yang menunjukan adanya keadaan abnormal pada parenkim ginjal , sedangkan Leukosit yang dibatas normal menunjukan adanya infeksi saluran kemih. B. Saran Adapun saran dalam praktikum ini adalah agar setiap praktikan mengamati secara seksama penelitian yang dilakukan sehingga dihasilkan pengamatan yang benar dan akurat.

BAB VI LAMPIRAN

Hasil Pemeriksaan derajat Keasaman (Ph) , Ph menunjukan angka 6 , derajat keasaman urin dalam keadaan normal, rentang Ph urin normal adalah 4,6 -8,5

Pada pemeriksaan uji protein urin dipanakan sebelum urin di tetesi larutan asam asetat 6%

Pada pemeriksaan uji protein urin saat di tetesi larutan asam asetat 6%

Hasil pemeriksaan uji protein , tidak ditemukan kekeruhan , urin menunjukan negatif protein urin (Normal)

Pada pemeriksaan uji glukosa ,saat urin dicampur dengan larutan benedict dan kemudian dipanaskan sampai mendidih

Hasil pemeriksaan uji glukosa urin , warna biru jernih , berdasarkan interpretasi glukosa urin, pemeriksaan glukosa urin menunjukan negatif (Normal)

DAFTAR PUSTAKA Hartono, Histologi Veteriner.Jakarta: UI Press, 1992. Kimball, John W. Siti Soetarmi Tjitrosomo, dan Nawangsari Sugiri. Biologi Jilid 2 Jakarta: Erlangga, 1983. Villee,Claude A. Warren F. Walker, Jr. dan Robert D. Barnes, Zoologi Umum Jakarta: Erlangga, 1984. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/114/jtptunimus-gdl-langgengse-5657-1-babi.pdf

LAPORAN PRAKTIKUM PATOFISIOLOGI URINALISA

Disusun oleh : Ade Irianti (H2A0120 ) Agus Sunarto (H2A012074) Endah Susanti (H2A012043) Laela Aprila (H2A0120) Muhammad Wijanarko (H2A0120)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2013