Anda di halaman 1dari 3

METODE CEPAT PENENTUAN FLAVONOID TOTAL SIMPLISIA OBAT TRADISIONAL : INTERPRETASI KEMOMETRIK TERHADAP SPEKTRA FTIR SIMPLISIA

Eti Rohaeti1), Rudy Heryanto, Muhamad Rafi

Kandungan kimia dalam simplisia akan bervariasi tergantung pada kondisi tumbuh/lingkungan, keadaan geografis dan faktor genetiknya. Oleh karena itu, ketika 1simplisia tersebut akan digunakan sebagai bahan baku obat, kadar komponen kimia bioaktifnya perlu diketahui. Agar keterjaminan kualitas, keamanan dan khasiat produk turunannya dapat ditentukan. Secara tradisional penentuan komponen kimia dalam simplisia dilakukan dengan cara kimia basah (wet chemistry) yang akan memakan banyak waktu, tenaga dan bahan kimia. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari cara cepat dan hemat untuk menentukan komponen kimia dalam simplisia. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode cepat kuantitatif kadar total flavonoid dari simplisia bahan baku obat (meniran dan tempuyung). Metode yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan teknik spektroskopi FTIR dan interpretasi spektra yang dihasilkan dengan metode kemometrik.Kombinasi kedua metode tersebut akan menghasilkan model kalibrasi (analogi kurva standar) penentuan kadar bahan bioaktif dari simplisia yang diuji. Dua model kalibrasi akan dibuat dalam studi ini. Simplisia dalam bentuk serbuk diukur secara langsung dengan spektrofotometer FTIR. Bersamaan dengan hal tersebut ditentukan pula nilai referensi untuk kadar flavonid total setiap simplisia. Kedua data yang dihasilkan (spektra FTIR dan kadar flavonoid total) digunakan untuk membuat model kalibrasi dengan metode kemometrik PLS atau metode ANN. Kadar flavonoid total dari masing-masing simplisia berbeda berdasarkan asal daerahnya. Kandungan flavonoid simplisa meniran tertinggi berasal dari daerah Bantar kambing (1,64%) sedangkan pada simplisia tempuyung kandungan flavooid tertinggi dimiliki oleh simplisia yang berasal dari Jawa Tengah (1,22%). Spektrum inframerah dari serbuk simplisia menampilkan fitur-fitur serapan dari komponen penyusunan selnya. Fitur-fitur serapan inframerah antar ulangan menampilkan pola serapan yang sama dan hanya berbeda pada nilai kuantitatif serapannya. Metode ANN sangat baik dalam membentuk model kalibrasi penentuan flavonoid total berdasarkan data spektra FTIRnya dibandingkan dengan metode PLS. ANN dapat memprediksi dengan korelasi 100% kadar flavoid rujukan simplisia berdasarkan spektra FTIRnya.

11)

Staf Pengajar Dep. Kimia, FMIPA IPB

Perbedaan Etanol dan Metanol


A. ETANOL (Etil Alkohol) Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Ia merupakan isomer konstitusional dari dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan Et merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5). Ada 2 jenis alkohol, yaitu food grade dan fuel grade. Semakin banyak jumlah pelarut semakin banyak pula jumlah produk yang akan diperoleh, hal ini dikarenakan : Distribusi partikel dalam pelarut semakin menyebar, sehingga memperluas permukaan kontak. Perbedaan konsentrasi solute dalam pelarut dan padatan semakin besar. (Gamse, 2002) Etanol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma yang khas. Ia terbakar tanpa asap dengan lidah api berwarna biru yang kadang-kadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa. Sifat-sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil dan pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya dengan massa molekul yang sama. Etanol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut organik lainnya, meliputi asam asetat, aseton, benzena, karbon tetraklorida, kloroform, dietil eter, etilena glikol, gliserol, nitrometana, piridina, dan toluena. Ia juga larut dalam hidrokarbon alifatik yang ringan, seperti pentana dan heksana, dan juga larut dalam senyawa klorida alifatik seperti trikloroetana dan tetrakloroetilena. Pada ekstraksi bahan pangan tidak boleh ada residu etanol pada bahan pangan yang diekstraksi (Federal Food, Drug and Cosmetic Regulation). Dalam pemilihan jenis pelarut faktor yang perlu diperhatikan antara lain adalah daya melarutkan bahan (berdasarkan kepolaritasan), titik didih, sifat racun, mudah tidaknya terbakar dan pengaruh terhadap alat peralatan ekstraksi. Pada umumnya pelarut yang sering digunakan adalah etanol karena etanol mempunyai polaritas yang tinggi sehingga dapat mengekstrak bahan lebih banyak dibandingkan jenis pelarut organik yang lain. Pelarut yang mempunyai gugus karboksil (alkohol) dan karbonil (keton) termasuk dalam pelarut polar. Etanol mempunyai titik didih yang rendah dan cenderung aman. Etanol juga tidak beracun dan berbahaya. Kelemahan penggunaan pelarut etanol adalah etanol larut dalam air, dan juga melarutkan komponen lain seperti karbohidrat, resin dan gum. Larutnya komponen ini mengakibatkan berkurangnya tingkat kemurniannya. Keuntungan menggunakan pelarut etanol dibandingkan dengan aseton yaitu etanol mempunyai kepolaran lebih tinggi sehingga mudah untuk melarutkan senyawa resin, lemak, minyak, asam lemak, karbohidrat, dan senyawa organik lainnya. Paturau et al (1982) menggolongkan mutu etanol menjadi 4 golonganyaitu : (1) etanol industri, (2) spiritus, (3) etanol murni, dan (4) etanol absolut.Etanol industri adalah etanol dengan kadar 96,5GL biasanya digunakan untuk industri dan tujuan lain seperti sebagai pelarut, bahan bakar, serta untuk bahanbaku produksi senyawa kimia lain. Etanol industri biasanya didenaturasi oleh0,5-1% piridin kasar dan biasanya diwarnai dengan metil violet supaya mudahdikenali. Spiritus adalah etanol industri asli yang telah didenaturasi dandiwarnai dengan kadar 88GL. Spiritus digunakan untuk bahan bakarpemanasan dan penerangan.

Etanol murni adalah suatu jenis etanol dengankadar 96,0-96,5GL yang digunakan terutama untuk industri farmasi dankosmetik serta untuk minuman beralkohol sedangkan etanol absolut adalahetanol dengan kadar yang sangat tinggi yaitu 99,7-99,8GL. B. METANOL (Metil Alkohol) Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Pada keadaan atmosfer ia berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Ia digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol industri. Pada ekstraksi bahan pangan hanya diperbolehkan ada residu metanol sebanyak 50 ppm (Federal Food, Drug and Cosmetic Regulation). Sumber : http://rizkaauliarahma.wordpress.com/2012/01/10/ethanol/