Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Laporan-laporan sporadik tentang usaha-usaha penyelamatan hidup melalui persalinan sesarea sebenarnya telah ada sejak beberapa ratus tahun, tetapi pada akhir abad ke-19 tindakan ini baru ditetapkan sebagai bagian dari praktik obstetri. Saat itu, walaupun risiko dilakukannya tindakan seksio sesarea masih besar, operasi ini dianggap lebih baik dibandingkan dengan persalinan forsep yang sulit, yang berisiko mengakibatkan trauma fetus dan laserasi pelvik. Teknik operasi yang rendah dan keterbatasan antisepsis menyebabkan tingginya mortalitas pasca operasi. Pada masa itu, wanita yang melahirkan melalui tindakan seksio sesarea berisiko besar mengalami pendarahan dan infeksi (Landon, 2007). Saat ini, seksio sesarea memegang peran utama dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal maupun perinatal (Scott, 2008). Berdasarkan analisis data rutin Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) tahun 2010, seksio sesarea dinilai memberikan peran bermakna, yaitu menurunkan 25% Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, seksio sesarea dilakukan dengan berbagai indikasi, termasuk beberapa persalinan dengan risiko yang tidak begitu nyata bagi ibu dan janin (Scott, 2008). Dari tahun 1970 sampai dengan tahun 2007, frekuensi sekio sesarea di Amerika Serikat meningkat dari 4,5% per kelahiran total menjadi 31,8% per kelahiran total (Hamilton, et al, 2009; MacDorman, 2008). Peningkatan ini berlangsung terus menerus, kecuali dari tahun 1989 sampai dengan tahun 1996, frekuensi seksio sesarea di Amerika Serikat mengalami penurunan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya angka persalinan pervaginam setelah seksio sesarea

Universitas Sumatera Utara

sebelumnya dan sebagian kecil oleh berkurangnya angka kejadian seksio sesarea primer. Namun, sejak tahun 1996 prevalensi seksio sesarea kembali meningkat. Pada tahun 2007 didapati sebanyak 30% wanita yang melahirkan di Amerika Serikat menjalani seksio sesarea. Sebaliknya, frekuensi seksio sesarea dengan indikasi seksio sesarea sebelumnya mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan kejadian seksio sesarea primer (Hamilton, et al, 2009). Kegagalan kemajuan (distosia) baik pada persalinan spontan maupun persalinan yang diinduksi semakin populer dalam menggambarkan persalinan yang tidak efektif sehingga perlu dilakukan seksio sesarea. Saat ini distosia menjadi indikasi tersering dilakukannya tindakan seksio sesarea primer (Cunningham, et al, 2007). Berdasarkan penelitian Gifford dkk., tidak majunya persalinan (distosia) merupakan penyebab bagi 68% seksio sesarea non elektif pada presentasi kepala. Istilah disproporsi sefalopelvik mulai digunakan sebelum abad ke-20 untuk menunjukkan obstruksi persalinan akibat disparitas

(ketidaksesuaian) antara ukuran kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina. Namun, istilah ini berasal dari masa di saat indikasi utama seksio sesarea adalah penyempitan panggul yang nyata akibat rakitis. Disproporsi fetopelvik sejati merupakan diagnosis yang lemah karena dua pertiga wanita yang didiagnosis mengidap gangguan ini kemudian dapat melahirkan bayi yang lebih besar melalui vagina (Cunningham, et al, 2007). Sepanjang tahun 2005 dilakukan suatu penelitian untuk melihat prevalensi seksio sesarea beserta indikasinya di sembilan rumah sakit pada empat negara Asia Tenggara. Dua rumah sakit di Yogyakarta ikut berpartsipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian memperlihatkan dari 2.086 persalinan yang dilakukan di dua rumah sakit di Yogyakarta, sebanyak 29,6%, yaitu 617 persalinan dilakukan secara seksio sesarea. Disproporsi fetopelvik merupakan indikasi ketiga terbanyak setelah malpresentasi dan riwayat seksio sesarea sebelumnya (Festin, et al, 2009).

Universitas Sumatera Utara

Suatu penelitian bermaksud menilai hubungan etnis, tinggi badan, dan ukuran sepatu untuk memprediksikan terjadinya disproporsi fetopelvik. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa tinggi badan ibu merupakan nilai antropometrik yang paling prediktif dalam

memperkirakan metode persalinan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu dengan tinggi badan minimal 162,5 cm memiliki sensitivitas 74% dan spesifisitas 43% untuk melahirkan secara pervaginam (Okewolle, et al, 2011).

1.2.

Rumusan Masalah Berapakah prevalensi seksio sesarea dengan indikasi disproporsi fetopelvik di RSUP Haji Adam Malik dari tahun 2008-2009?

1.3.

Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui prevalensi seksio sesarea dengan indikasi disproporsi fetopelvik pada ibu-ibu yang melahirkan di RSUP Haji Adam Malik dari tahun 2008-2009. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui indikasi tersering persalinan yang

dilakukan secara seksio sesarea. b. Untuk mengetahui karakteristik ibu yang mengalami

disproporsi fetopelvik. c. Untuk mengetahui karakteristik bayi yang lahir secara seksio sesarea dengan indikasi disproporsi fetopelvik. d. Untuk mengetahui komplikasi disproporsi fetopelvik pada ibu dan janin. e. Untuk mengetahui luaran seksio sesarea bagi ibu dan janin khususnya pada kasus disproporsi fetopelvik.

Universitas Sumatera Utara

1.4.

Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini antara lain: a. Bagi pemerintah (dinas kesehatan). Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan statistik mengenai angka kejadian seksio sesarea khusunya dengan indikasi disproporsi fetopelvik. b. Bagi tenaga kesehatan. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan pelayanan khususnya dalam menangani kasus-kasus disproporsi fetopelvik. c. Bagi peneliti lain. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data yang mendukung bagi penelitian lain di masa yang akan datang mengenai prevalensi seksio sesarea dengan indikasi disproporsi fetopelvik. d. Bagi masyarakat. Sebagai pengetahuan tambahan bagi pembaca mengenai seksio sesaria dan disproporsi fetopelvik.

Universitas Sumatera Utara