Anda di halaman 1dari 5

Reaksi yang terdapat dalam metode analisa kualitatif dapat digolongkan menjadi rekasi spesifik, reaksi sensitif, dan

reaksi selektif. Reaksi spesifik adalah reaksi yang khas yang merupakan reaksi antara bahan tertentu dengan pereaksi spesifik untuk bahan tersebut. Contohnya reaksi ini adalah ketika Ag+ direaksi dengan K2CrO4 yang menghasilkan endapan merah bata dan Pb2+ direaksikan dengan K2CrO4 yang menghasilkan warna kuning. K2CrO4 merupakan pereaksi spesifik karena peraksi tersebut memberikan warna yang khas untuk setiap kation-kation. Reaksi sensitif adalah reaksi yang peka yang mampu menujukkan keberadaan bahan yang berjumlah sedikit sekali tetapi sudah tampak hasilnya dengan jelas. Contoh dari reaksi ini adalah Hg2+ ditambah dengan sedikit KI sudah memberikan warna orange. Reaksi selektif adalah reaksi yang terjadi atas sekelompok bahan yang berbda-beda atas suatu perekasi serta dapat berfungsi untuk memisahkan golongan yang berbeda. Contoh dari reaksi selektif dapat dilihat dari uji golingan klorida dimana reaksi selektif yang terjadi dapat memisahkan ion golongan klorida dnegan ion golongan lainnya. Dari hasil percobaan analisa kation golongan I Ag+ ditambah HCl 6 N menghasilkan warna putih dan endapan putih. Disini HCl bertindak sebagai pereaksi selektif. Sedangkan apabila Ag+ ditambah dnegan K2CrO4 akan menghsailkan endapan merah bata. Larutan K2CrO4 berfungsi sebagai perekasi spesifik. Pb2+ ditambah dengan HCl 6 N berwarna bening. Seharusnya ketika Pb2+ ditambah HCl 6 N mengahasillkann warna putih dan endapan putih bukan berwrna bening. Kemungkinan hal ini terjadi karena larutan sampel Pb2+yang dipakai sudah lama sehungga hasil reaksinya kurang tepat. Sampel Pb2+ ditambah dengan K2CrO4 meghasilkan warna kuning. Lalu Pb2+ ditambah dengan Na2S menghasilkan warna hitam dan endapan. Lalu Hg2 2+ ditambah dengan HCl 6 N menghasilkan warna bening. Seharusnya Hg2
2+

apabila ditambah dengan HCl 6 N menghasilkan warna putih dan endapan putih bukan

warna bening. Hal ini terjadi karena terjadi karena larutan sampel Hg22+ tidak dibuat dengan aquaregia (yaitu larutan HNO3 ditambah dengan HCl dengan perbandingan 3:1) sehingga warna yang dihasilkan tidak tepat. Hg22+ ditambah dengan KI menghasilkan warna hijau. Kesalahan pada perubahan warna hasil reaksi ini karena kemungkinan kurang tepatnya pembuatan larutan sampel Hg22+ yang telah dijelaskan diatas. Selanjutnya adalah analisa kation golongan II. Cu2+ ditambah Na2S mengahasilkan perubahan warna endapan hitam. Na2S merupakan reaksi selektif pada golongan II yang apabila direaksikan dengan golongan II menghasilkan warna endapan hitam. Cu2+ direaksikan dengan K4Fe(CN)6 menghasilkan endapan berwarna merah kecoklatan. Cd2+ yang direaksikan dengan Na2S menghasilkan warna endapan hitam karena Na2S merupakan pereaksi selektif golongan II seperti pada penjelasan sebelumnya. Kesalahan hasil reaksi ini

kemungkinan karena larutan sampel Cd2+ yang dipakai telah bercampur oleh larutan yang lain atau larutan sampel yang dipakai sudah lama sehingga hasil yang didapat tidak tepat. Cd2+ ditambah dengan KCN seharusnya menghasilkan warna kuning. Kesalahan warna reaksi ini kemungkinan sama seperti penjelasan diatas. Hg2+ ditambah Na2S menghasilkan warna hitam dan Hg2+ ditambah KI menghasilkan warna orange. Dari percobaan ini dapat diketahui cara untuk membedakan Hg22+ dan Hg2+, yaitu dengan menggunakan larutan KI kita dapat membedakkannya. Hg22+ golongan I apabila ditambah atau reaksikan dengan KI akan menghasilkan warna hijau. Sedangkan apabila Hg2+ golongan II direaksikan dengan KI menghasilkan warna orange. Prinsip pada percobaan analisa kation ini adalah menggolongkan kation-kation berdasarkan pereaksi selektifnya untuk golongan I apabila direaksikan dengan HCl yang bertindak sebagai pereaksi golongan I akan menghasilkan warna putih dan endapan putih. Sedangakn pada golongan II apabila direaksikan dengan Na2S yang bertindak sebgai pereaksi selektifnya akan menghasilkan warna hitam dan endapan hitam. Kelarutan adalah sifat fisik yang merujuk pada kemampuan substansi untuk larut dalam pelarut tertentu dan kondisi tertentu. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah sebagai berikut : a. Temperatur Dimana semakin tinggi temperatur maka semakin tinggi pula kelarutannya. Hal ini disesbkan tumbukan antar partikel senakin cepat dan menyebabkan semakin cepat terjadinya reaksi.

b. Pelarut garam anorganik lebih dapat larut dalam air daripada pelarut organik. Ion-ion dalam kristal tidak memiliki gaya tarik yang besar terhadap molekul pelrut organik. c. Efek ion sekutu Suatu endapan umunya dapat lebih larut dalam air murni daripada suatu larutan yang mengandung salah satu ion endapan. d. Pengarug aktifitas Ternyata banyak endapan menunjukkan kelarutan yang meningkat dalam larutan yang mengandung ion-ion yang tidak bereaksi seacra kimia dengan ion-ion endapan. e. Pengaruh pH Ion hidrogen yang bersenyawa dengan anion suatu garam untuk membentuk asam lemah dengan demikian meningkatkan garam itu. f. Efek kompleks

Kelarutan garam yang sedikit sekali dapat larut juga bergantung pada konsentrasi zat-zat yang menambah kompleks dengan kation garam itu. g. Tekanan dan volume Berbanding terbalik terhadap volume. Karena apabila tekanan kecil, volume akan membesar dan kelarutannya akan semakin rendah dan sebaliknya. Adapun faktor-faktor kesalahan pada praktikum kali ini adalah : Konsentrasi reagen terlalu pekat, sehingga menimbulkan hasil yang tidak diinginkan. Reagen-reagen yang diberikan sudah lama sehingga hasil reaksi kurang tepat dan tidak sesuai dengan seharusnya. Reagen-reagen yang dibuat tidak sesuai dengan prosedur sehingga hasilnya tidak tepat. REAKSI PENGENAL KATION GOLONGAN I