Anda di halaman 1dari 22

DRAFT

BUKU PEDOMAN PENANGGULANGAN TB DI POSKESDES

DRAFT
KATA PENGANTAR
Indonesia merupakan negara penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan China dengan jumlah kasus baru sekitar .000 dan jumlah kematian sekitar 88.113 pertahun (WHO report 2008). Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok pinochet infix. Berdasarkan hasil Survey Prevalensi TB nasional 2004, besarnya masalah TB bervariasi yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga regional di Jawa (107/100.000), Sumatera (16/100.000) dan Kawasan Indonesia Timur (210/100.000). Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menyebutkan bahwa Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi adalah 1,0%. Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional, tertinggi di Provinsi Papua Barat (2,5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0,3%). Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit,kecuali di Provinsi Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, KalimantanTengah, dan Papua. Untuk menanggulangi masalah TB di Indonesia sejak tahun 2005, strategi DOTS yang direkomendasikan WHO diadopsi. Sejak saat itu program penanggulangan TB DOTS diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini memerlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait, sehingga penanggulangan TB dapat lebih ditingkatkan melaui gerakan terpadu yang bersifat nasional. Penanggulangan TB di Poskesdes merupakan salah satu sarana mendekatkan akses pelayanan TB yang berkualitas untuk masyarakat melaui pemberdayaan masyarakat di desa. Fungsi Penanggulangan TB di Poskesdes adalah kepanjangan tangan dari Puskesmas yang membawahi desa tersebut. Saranan ini terutama dibentuk di desa yang jauh dan sulit dari jangkauan pelayanan kesehatan. Dalam pelaksanaannya, Penanggulangan TB di Poskesdes ini sebaiknya dijalankan oleh masyarakat desa setempat dalam fungsi untuk pemberdayaan masyaralat. Penanggulangan TB di Poskesdes diharapkan dapat memenuhi ketersediaan pelayanan TB untuk desa-desa yang sulit dijangkau oleh pelayanan Puskesmas. Kader kesehatan, aparat desa, tokok masayarakat dan LSM sangat diperlukan sebagai motivator dan pelaksanan kegiatan Penanggulangan TB di Poskesdes di desa tersebut. Mereka akan mempengaruhi keberhasilan dan kesinambungan keberadaan Penanggulangan TB di Poskesdes. Diharapkan buku Penanggulangan TB di Poskesdes ini dapat menjadi pedoman dan bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan program penanggulangan TB untuk mencapai arget global tepat pada waktunya. Kepada pihak yang telah berjerih payah merampungkan buku ini kami mengucapkan banyak terimakasih. Tentu buku ini masih jauh dari sempurna, karenanya segala kritik dan saran demi penyempurnaan pada edisi mendatang sangat kami harapkan. Jakarta, Februari 2010 Direktur Jenderal PP&PL

DRAFT
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Landasan Hukum BAB II TUBERKULOSIS 1. Pengertian TB 2. Permasalahan TB 3. Upaya Penanggulangan TB Penemuan suspek TB Pengobatan Pasien TB BAB III PENANGGULANGAN TB DI POSKESDES 1. Tujuan a. Tujuan Umum b. Tujuan Khusus 2. Ruang Lingkup Kegiatan 3. Fungsi Poskesdes dalam penanggulangan TB 4. Pengorganisasian (penggabungan poskesdes dgn TB) BAB IV PENYELENGGARAAN POSKESDES DALAM PENANGGULANGAN TB 1. Langkah- langkah Kegiatan 1.1. Analisis Situasi 1.2. Membangung Komitmen Pihak Terkait 1.3. Pelaksanaan Penanggulangan TB di Poskesdes 1.4. Kegiatan Penanggulangan TB di Poskesdes a) Penyuluhan TB b) Penemuan dan Pengobatan Pasien TB c) Pengawasan pengobatan d) Membantu pelacakan pasien mangkir e) Tempat penitipan OAT (penjelasan) f) Pencatatan dan pelaporan sederhana 1.5. Koordinasi dengan PKM a) Jejaring Pembiayaan 2. Logistik Mekanisme Siapa menyiapkan apa? 3. Monitoring dan Supervisi 4. Indikator Keberhasilan 5. Evaluasi BAB V LAMPIRAN 1. Bagan

DRAFT
2. Catatan PENGERTIAN AKMS : Advokasi Komunikasi dan Mobilisasi Sosial adalah upaya terpadu dan sistematis di berbagai aspek baik melalui advokasi kebijakan publik, strategi komunikasi untuk perubahan perilaku serta mobilisasi (penggerakkan) kekuatan elemen sosial kemasyarakatan. : Basil Tahan Asam merupakan mikroorganisme yang apabila telah diwarnai, warna tersebut tidak dapat dihilangkan oleh asam : Bila ditemukan keadaan sebagai berikut: o Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif o Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. o Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. o Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. : Bila ditemukan keadaan sebagai berikut: o Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. o 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. o 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. o 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. : Directly Observed Treatment, Shortcourse chemotherapy merupakan strategi penanggulangan TB yang direkomendasikan oleh WHO dan terbukti paling efektif dengan fokus utama pada penemuan dan penyembuhan pasien TB : Human Immunodeficiency Virus adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia dan menghancurkan atau merusak fungsi sel tersebut : Prasarana : Serangkaian kegiatan pengadaan, perawatan, distribusi, dan penyediaan (untuk mengganti) perlengkapan, perbekalan, dan ketenagaan : Lembaga Swadaya Masyarakat adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh

BTA BTA Negatif

BTA Positif

DOTS

HIV Infrastruktur Logistik LSM

DRAFT
keuntungan dari kegiatannya. Mikroskopis : Bersangkutan dengan mikroskop, dengan menggunakan mikroskopis atau sifat ukuran yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sehingga diperlukan mikroskop untuk dapat melihatnya dengan jelas Obat Anti Tuberkulosis Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa, merupakan sebuah pendekatan dalam upaya penggerakan masyarakat dalam sebuah kegiatan yang terpadu, misalnya : Posyandu Pengawas Menelan Obat adalah Seseorang yang secara sukarela membantu pasien TB dalam masa pengobatan hingga sembuh Pondok Bersalin Desa, adalah salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang merupakan wujud nyata bentuk peran serta masyarakat di dalam menyediakan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak lainnya, termasuk KB di desa. Pos Kesehatan Desa adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa Pos Pelayanan Terpadu, merupakan wadah titik temu antara pelayanan profesional dari petugas kesehatan dan peran serta masyarakat dalam menanggulangi masalah kesehatan masyarakat, terutama dalam upaya penurunan angka kematian bayi dan angka kelahiran. Posyandu merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk memantau pertumbuhan berat badan balita dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS), memberikan konseling gizi dan memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar. Untuk tujuan pemantauan pertumbuhan balita dilakukan penimbangan balita setiap bulan. Pot tempat menampung dahak Pusat Kesehatan Masyarakat, suatu kesatuan organisasi kesehatan yang langsung memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat diwilayah kerjanya dalam bentuk usaha kesehatan pokok. Pusat Kesehatan Masyarakat yaitu berupa klinik kesehatan yang berada di tingkat kecamatan dan dikepalai seorang dokter. Sewaktu Pagi Sewaktu merupakan metode pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis TB dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS), S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat

OAT PKMD PMO Polindes

: : : :

Poskesdes

Posyandu

Pot Sputum Puskesmas

: :

SPS

DRAFT
pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi. Sistem pencatatan, pelaporan dan pemantauan kegiatan Orang yang memiliki gejala TB Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis) Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain. Tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. Unit Kegiatan Berbasis Masyarakat, segala bentuk kegiatan kesehatan yang bersifat dari, oleh, dan untuk masyarakat, seperti: posyandu, polindes, dan lain-lain Unit Pelayanan Kesehatan, misalnya Puskesmas, Rumah Sakit, BP4, klinik dan dokter praktek swasta, dll) World Health Organization merupakan organisasi dunia yang menangani masalah kesehatan

Surveillance Suspek TB TB

: : :

Tuberkulosis : Ekstra Paru Tuberkulosis : Paru UKBM UPK WHO : : :

DRAFT

BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menyebutkan bahwa Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi adalah 1,0%. Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional, tertinggi di Provinsi Papua Barat (2,5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0,3%). Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit,kecuali di Provinsi Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, KalimantanTengah, dan Papua. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara negara yang sedang berkembang. Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh: o Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan o Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan sebagainya). o Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) o Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. o Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. Dampak pandemi HIV. Situasi TB didunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada negara yang

DRAFT
dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Diperkirakan pada tahun 2008, setiap tahun ada 535.000 kasus baru dan kematian 88.113 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 105 per 100.000 penduduk. Pada tahun 1995, program nasional penanggulangan TB mulai menerapkan strategi DOTS dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Fakta menunjukkan bahwa TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia, antara lain: Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Tahun 1995, hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Hasil Survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100.000 penduduk. Secara Regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah, yaitu: 1) wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk; 2) wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk; 3) wilayah Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk. Khusus untuk propinsi DIY dan Bali angka prevalensi TB adalah 68 per 100.000 penduduk. Mengacu pada hasil survey prevalensi tahun 2004, diperkirakan penurunan insiden TB BTA positif secara Nasional 3-4 % setiap tahunnya. Sampai tahun 2005, program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau >98% Puskesmas, sementara rumah sakit dan BP4/RSP baru sekitar 30%. 2. Tujuan dan Sasaran

DRAFT
Tujuan Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB, memutuskan rantai penularan, serta mencegah terjadinya MDR. Sasaran Sasaran program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85% dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990, dan mencapai tujuan millenium development goals (MDGs) pada tahun 2015. 3. Tuberkulosis dan Kejadiannya Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Gejala TB Gejala utama TB Batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih Gejala lainnya : - Batuk bercampur darah - Sesak nafas dan nyeri dada - Nafsu makan berkurang - Berat badan turun - Rasa kurang enak badan (lemas) - Demam meriang berkepanjangan - Berkeringat di malam hari walaupun tidak melakukan kegiatan

Cara penularan Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat mengeluarkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Faktor yang memungkinkan seseorang terpapar/terpajan kuman TB ditentukan oleh jumlah percikan dalam udara dan berapa lama menghirup udara tersebut.

DRAFT
Risiko penularan o Risiko tertular tergantung dari tingkat terpaparnya dengan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. o Risiko penularan setiap tahun sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. Risiko menjadi sakit TB o Diperkirakan diantara 100.000 penduduk ada 1000 orang yang terinfeksi TB, 100 orang diantaranya akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif, 50 yang lainnya adalah TB BTA negatif, ekstra paru,dll. o Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya malnutrisi (gizi buruk) dan infeksi HIV/AIDS. HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

DRAFT

BAB II Upaya Penanggulangan TB 1. Strategi Pada awal tahun 1990-an WHO telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif. Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat menekan penularan, juga mencegah berkembangnya MDR-TB (TB yang kebal obat). Perhatian utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien TB. Langkah ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian menurunkan jumlah pasien/pasien TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci: 1) Komitmen politis (dukungan dari para pengambil keputusan). 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan. 4) Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. 5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Strategi DOTS di atas telah dikembangkan sebagai berikut : 1) Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS 2) Merespon (peduli) pada masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya (penyakit lainnya) 3) Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan 4) Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. 5) Memberdayakan pasien dan masyarakat 6) Melaksanakan dan mengembangkan riset

DRAFT
2. Pokok-pokok kegiatan Pokok-pokok kegiatan program TB dengan strategi DOTS adalah sebagai berikut: a. Tatalaksana Pasien TB: Penemuan suspek TB Diagnosis Pengobatan b. Manajemen Program: Perencanaan Pelaksanaan Pencatatan dan Pelaporan Pelatihan Bimbingan teknis Pemantapan mutu laboratorium Pengelolaan logistik Pemantauan dan Evaluasi c. Kegiatan penunjang: Promosi Kemitraan Penelitian

DRAFT

BAB III PENANGGULANGAN TB DI POSKESDES 1. Tujuan Umum Tujuan secara umum adalah TB dapat diberantas sampai tuntas di wilayah desanya. Khusus 1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang TB 2. Meningkatkan keterlibatan masyarakat, organisasi kemasyarakatan, LSM dan dunia usaha dalam penanggulangan TB 3. Meningkatkan kemandirian masyarakat desa dalam menanggulangi penyakit TB 4. Meningkatkan peran lembaga desa dan perangkatnya dalam program penanggulangan TB 5. Meningkatkan angka penemuan suspek TB 6. Menurunkan angka putus berobat 2. Ruang Lingkup Kegiatan Ruang lingkup penanggulangan TB di Poskesdes meliputi kegiatan: Penyuluhan kepada pasien dan masyarakat Penjaringan suspek yaitu merujuk anggota masyarakat yang diduga TB ke Puskesmas Pengambilan obat untuk pasien TB Membantu pengawasan pengobatan pasien TB Melakukan pencatatan dan pelaporan sederhana 3. Fungsi Poskesdes dalam penanggulangan TB Poskesdes sebagai wahana: 1. Peran aktif masyarakat di bidang kesehatan 2. Kewaspadaan dini terhadap berbagai risiko dan masalah kesehatan 3. Pelayanan kesehatan dasar, guna lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat serta untuk meningkatkan jangkauan dan cakupan pelayanan kesehatan 4. Pembentukan jejaring berbagai UKBM yang ada di desa 4. Pengorganisasian Di desa yang telah memiliki Poskesdes, penanggulangan TB dapat menjadi bagian dari kegiatan Poskesdes. Sementara untuk desa yang

DRAFT
belum memiliki Poskesdes, aktifitas penanggulangan TB dapat dilakukan melalui UKBM yang telah ada seperti Polindes, Bidan Desa dll.

BAB IV PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN TB DI POSKESDES 1. Langkah-langkah Kegiatan Penanggulangan TB di Desa 1.1 Analisis Situasi a) Petugas puskesmas melaksanakan identifikasi/ pemetaan desa di wilayah kerjanya dengan pertimbangan sebagai berikut : Belum optimal mendapatkan jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan TB Terpencil dan sulit transportasi (tidak tersedia transport umum) Desa dengan penemuan kasus TB tinggi Sarana pelayanan kesehatan yang tersedia (Poskesdes, Pustu, klinik swasta, dll) Identifikasi petugas kesehatan yang akan membantu pelayanan TB di Poskesdes Identifikasi anggota masyarakat yang bersedia menjadi Kader TB Desa yang akan membantu memberi pelayanan TB kepada masyarakatnya. Kader dapat diambil dari kader yang sudah ada di desa tersebut atau tokoh masyarakat yang disegani dan bersedia membantu memberi pelayanan kepada pasien TB didesanya. Tiap desa dapat mempunyai lebih dari 1 Kader TB Desa (sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaannya). Identifikasi Potensi Desa : Bagi desa yang telah menjadi Desa Siaga, kegiatan penanggulangan TB dapat menjadi bagian dari kegiatan Poskesdes. Bagi desa yang belum menjadi Desa Siaga, kegiatan penanggulangan TB dapat dilakukan melalui UKBM yang telah ada di desa tersebut. Identifikasi potensi masyarakat Adanya dukungan Tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM, dunia usaha yang ada di masyarakat yang dapat mendukung kegiatan penanggulangan TB Identifikasi besaran masalah Penanggulangan TB diprioritaskan berdasarkan pertimbangan faktor-faktor tersebut diatas, dimana masalah keterpencilan dan kesulitan akses/jangkauan pelayanan kesehatan menjadi pertimbangan utama dalam menyelenggarakan kegiatan penanggulangan TB di desa.

DRAFT
b) Pembentukan tim Penanggulangan TB di Poskesdes melalui musyawarah masyarakat desa yang terdiri dari : Tokoh masyarakat (kades/tokoh agama,dll) Kader kesehatan masyarakat PKK Pasien dan Mantan pasien TB Petugas kesehatan (bidan desa/petugas lab/perawat) Masyarakat dan LSM sebagai penggerak, pendukung dana pelaksanaan Penanggulangan TB di Poskesdes. Dunia usaha yang bersedia mendukung kegiatan pelayanan TB di poskesdes c) Persiapan sarana dan prasarana pendukung seperti OAT, formulir pencatatan, bahan penyuluhan, pot dahak. 1.2 Membangun Komitmen Pihak Terkait Sebelum melakukan kegiatan penanggulangan TB masyarakat desa dapat menyelenggarakan aktifitas sosialisasi dan advokasi untuk memperoleh dukungan dari pihak-pihak terkait. a. Departemen Kesehatan o Menyusun konsep dan pedoman penanggulangan TB di Poskesdes o Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim di tingkat propinsi dalam rangka penanggulangan TB diPoskesdes o Membantu dinas kesehatan kabupaten/kota mengembangkan kemampuan melalui pelatihan manajemen, pelatihan teknis dan lain-lain o Membantu dinas kesehatan kabupaten/kota mengembangkan kemampuan (revitalisasi) Puskesmas (dan jaringannya) dan rumah sakit dalam rangka pengembangan kegiatan penanggulangan TB di Poskesdes o Melakukan advokasi ke berbagai pihak (pemangku kepentingan) tingkat propinsi dalam rangka pengembangan kegiatan penanggulangan TB di Poskesdes o Bersama dinas kesehatan kabupaten/kota melakukan pemantauan, bimbingan dan evaluasi teknis terhadap kegiatan penanggulangan TB di Poskesdes o Menyediakan dukungan anggaran dan sumberdaya lain bagi kesinambungan dan kelestarian kegiatan penanggulangan TB di Poskesdes b. Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mendukung dan memberikan pembinaan, pemantauan dan bimbingan teknis bersama puskesmas dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan TB di poskesdes. Dinas kesehatan kabupaten/kota bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan dan membangun kemitraan dengan sektor terkait.

DRAFT
c. Puskesmas Puskesmas bertanggung jawab secara teknis operasional Penanggulangan TB dalam hal: Diagnosa Pengobatan Ketersediaan Logistik Surveilans pada pelaksanaan

d. Kecamatan Mengkoordinasikan seluruh potensi yang ada Mengupayakan infra-struktur Poskesdes Menggalang dana untuk operasional Poskesdes Menggalang kader dan tenaga PKK Melaksanakan pembinaan administrasi e. Pemerintahan Desa/Kelurahan Kepala desa/kelurahan beserta aparat desa/kelurahan bertanggung jawab dalam penggerakan masyarakat untuk memahami permasalahan penanggulangan TB di desanya. Disamping itu pemerintah desa/kelurahan bertanggungjawab atas keberadaan dan kesinambungan Penanggulangan TB di Poskesdes. f. Masyarakat, PKK, LSM dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya Masyarakat melalui wadah organisasi kemasyarakatan maupun perorangan dapat berperan aktif dalam pembentukan maupun pelaksanaan kegiatan penanggulangan TB di Poskesdes. Keterlibatan mereka hendaknya mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Secara spesifik peran yang diharapkan antara lain: Menyediakan sumber daya (tenaga/dana/sarana) Kesinambungan kegiatan Ikut serta dalam penggerakan/mobilisasi masyarakat Mengintegrasikan dengan kegiatan organisasi masing-masing g. Dunia Usaha Pihak swasta atau dunia usaha yang memiliki daerah kerja di Poskesdes dapat mendukung kegiatan penanggulangan TB di Poskesdes sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. 2. Pelaksanaan Petugas Puskesmas bersama-sama dengan Tim Penanggulangan TB di Poskesdes melakukan AKMS (Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial) tentang Penanggulangan TB di Poskesdes kepada Kepala Desa/kelurahan/ Dusun, TOMA, TOGA, dll Sosialisasi ke desa sasaran oleh Tim Penanggulangan TB di Poskesdes Sosialisasi/Pelatihan atau bimbingan teknis untuk petugas kesehatan dan Kader kesehatan di Poskesdes oleh petugas TB puskesmas. Pelaksanaan Kegiatan Penanggulangan TB di Poskesdes

DRAFT
Pembinaan teknis pelaksanaan penanggulangan TB di Poskesdes oleh petugas Puskesmas secara berkala yang diintegrasikan dengan kegiatan lapangan puskesmas. Monitoring dan evaluasi secara berkala dibalai desa tentang pelaksanaan Penanggulangan TB di Poskesdes (untuk penjaringan suspek, untuk rujukan pasien ke Puskesmas, dll)

3. Kegiatan Penanggulangan TB di Poskesdes a. Promosi TB Tim Penanggulangan TB di Poskesdes melakukan promosi secara rutin dengan cara: - Penyuluhan langsung kepada masyarakat dan perorangan Penyuluhan langsung dapat dilaksanakan petugas Poskesdes/ kader kesehatan kepada masyarakat desa untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan peran masyarakat - Penyebarluasan informasi TB melalui poster, leaflet, spanduk, radio atau media lainnya Kegiatan ini sebaiknya diintegrasikan dengan kegiatan penyuluhan kesehatan lain yang sudah dijadwalkan oleh Puskesmas/ PKK/LSM/PKMD. Penyuluhan dapat dilaksanakan secara rutin atau pada saat-saat khusus seperti pada pengajian, atau acara keagamaan, perkumpulan doa bersama. Pesan utama dalam penyuluhan meliputi : Apa itu TB, penyebab dan cara pencegahannya Apa gejala-gejala utama seseorang dinyatakan sebagai suspek TB Bagaimana TB dapat disembuhkan Pengobatan dan pentingnya berobat secara teratur Pentingnya pemeriksaan dahak untuk tindak lanjut Bagaimana penularan TB Apa dampak penyakit TB Dimana masyarakat dapat memperoleh layanan TB (OAT gratis) Diharapkan penyuluh dibekali dengan bahan-bahan penyuluhan seperti lembar balik, poster, leaflet dan buku pedoman. b. Penemuan dan pengobatan pasien TB Bila ditemukan suspek TB maka dilakukan pemeriksaan dahak sebanyak 3 kali yaitu: Sewaktu, Pagi dan Sewaktu (SPS). Pengumpulan ini dilakukan selama dua hari. Deteksi suspek dilakukan oleh kader Penanggulangan TB di Poskesdes. Berikan persediaan bahan-bahan penyuluhan, pot dahak, buku saku kader untuk kegiatan Penanggulangan TB di Poskesdes. Petugas Poskesdes/Kader kesehatan membawa dahak suspek TB ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan (S-P-S). Untuk daerah

DRAFT
tertentu, pemeriksaan dahak dapat dilaksanakan di Poskesdes apabila petugas Laboratorium puskesmas membawa Lab kit pada saat kunjungan. Kader kesehatan mencatat data suspek di dalam buku bantu kader yang berisi nama suspek TB, jenis kelamin, umur, alamat, tanggal pengambilan dahak, tanggal pengiriman dahak ke Puskesmas. Setelah dinyatakan positif TB, petugas Puskesmas melengkapi catatan data pasien pada lembar/formulir TB.01 saat kunjungan ke Poskesdes Pemberian pengobatan pertama bagi pasien setelah dinyatakan TB dilakukan oleh petugas Puskesmas. Pemberian selanjutnya dapat dilaksanakan oleh kader TB yang sudah dilatih. Bilamana ada keluhan dari pasien (efek samping), kader segera menginformasikan kepada petugas kesehatan untuk tindak lanjut pengobatan. Pasien dan petugas menentukan PMO yang akan menjadi pendamping selama pengobatannya. OAT disimpan di Poskesdes agar pasien dapat mengambil obat lebih mudah, baik pada fase/tahap awal maupun fase/tahap lanjutan Dahak untuk tindak lanjut dikirimkan oleh kader di Poskesdes atau diperiksa pada saat kunjungan petugas Puskesmas Petugas Puskesmas memindahkan data pasien ke TB.01 dan memeriksa buku bantu kader serta memeriksa pengobatan yang telah dilakukan oleh kader di Poskesdes dengan memeriksa sisa paket obat pasien (sebulan sekali). Panduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasein dalam satu (1) masa pengobatan (6-8 bulan)

c. Pengawas Menelan Obat (PMO) a) Persyaratan PMO Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien Bersedia membantu pasien dengan sukarela Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersamasama dengan pasien b) Siapa yang dapat jadi PMO?

DRAFT
PMO sebaiknya anggota keluarga yang disegani, kader atau tokoh masyarakat. Bila ada petugas kesehatan maka diharapkan perannya sebagai pembina atau koordinator PMO tersebut c) Tugas seorang PMO o Mendampingi dan memberi dukungan kepada pasien agar mau berobat teratur o Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan o Menganjurkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan o Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala TB dan membawanya ke Poskesdes d) Pesan yang perlu disampaikan kepada pasien dan keluarganya: TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur TB bukan penyakit keturunan atau kutukan Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur. Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke Puskesmas. e) f) 4. Membantu pelacakan pasien mangkir Pencatatan dan pelaporan sederhana Jejaring Jejaring perlu dikembangkan dalam menjaga keteraturan dan keberlangsungan pengobatan pasien. Perlu dibangun jejaring baik internal maupun eksternal - Jejaring internal Merupakan jejaring yang dibuat di dalam Poskesdes oleh tim penanggulangan TB. Koordinasi kegiatan dilaksanakan oleh tim yang ada di dalam Poskesdes secara berkala. - Jejaring eksternal Merupakan jejaring antara Dinas Kesehatan, Sarana Pelayanan Kesehatan dan Poskesdes dalam penanggulangan TB dengan strategi DOTS. Tujuan jejaring : Semua pasien TB terjangkau pelayanan yang bermutu, mulai dari diagnosis, tindak lanjut hingga akhir pengobatan Menjamin keberlangsungan dan keteraturan pengobatan sehingga menghindari pasien putus berobat Suatu sistem jejaring dikatakan berfungsi baik bila angka DO <5%.

DRAFT
5. Pendanaan Pendanaan penyelenggaraan penanggulangan TB diupayakan melalui pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta dan swadaya masyarakat. 6. Logistik Pengelolaan logistik penanggulangan TB merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan dan pelaporan. Logistik penanggulangan TB terdiri dari 2 bagian besar yaitu logistik OAT dan logistik non OAT. Dalam kegiatan Penanggulangan TB di Poskesdes, semua kebutuhan logistik, baik OAT maupun non OAT (sputum pot dan form pencatatan sederhana) disediakan oleh Puskesmas yang terlibat dalam jejaring. 7. Supervisi Poskesdes akan disupervisi oleh petugas Puskesmas. Hal yang akan disupervisi meliputi: Kegiatan penyuluhan kepada pasien dan masyarakat Jumlah suspek yang dirujuk Ketersediaan obat untuk pasien TB Efek samping obat Jumlah pasien putus berobat Pencatatan dan pelaporan 8. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan TB di Poskesdes akan dipantau dan dievaluasi secara berkala oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan. 9. Indikator Keberhasilan Poskesdes INPUT Jumlah kader aktif terlatih TB Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia Tersedianya sarana (alat dan obat), khususnya untuk penanggulangan TB Tersedianya tempat pelayanan Tersedianya dana operasional Poskesdes Tersedianya data/catatan tentang suspek dan pengobatan pasien TB Terlibatnya Ormas/PKK/LSM lokal yang ada di desa dalam penanggulangan TB OUTPUT Jumlah suspek yang ditemukan dan dilaporkan Jumlah pasien mangkir yang dilacak Jumlah pasien yang putus berobat (Drop out) Jumlah pasien yang menyelesaikan pengobatannya

DRAFT
Formulir Daftar Suspek (Kader TB di Poskesdes) Umur L P

No.

Tanggal Ditemukan

Nama Lengkap

Alamat

Keterangan

Nama Kader : ......................................................... Pekerjaan : .........................................................

DRAFT
Catatan: