Anda di halaman 1dari 4

Sel darah merah atau eritrosit adalah komponen terpenting dan terbanyak dalam cairan tubuh manusia.

Fungsi utama sel darah merah adalah untuk mentranspor hemoglobin, yang selanjutnya membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan. Sel darah merah normal merupakan cakram bikonkaf yang mempunyai garis tengah rata-rata 8 mikron dan tebalnya diukur dari bagian yang paling tebal 2 mikron dan ditengahnya mempunyai tebal 1 mikron. Proses pembentukan sel darah (hemopoiesis) terjadi pada awal masa embrional,sebagian besar pada hati dan sebagian besar pada limpa. Dari kehidupan fetus hingga bayi dilahirkan,pembentukan sel darah berlangsung dalam 3 tahap yaitu : a. b. c. Pembentukan di saccus vitellinus Pembentukan di hati,kalenjar limfe dan limpa Pembentukan di sumsum tulang

Pembentukan sel darah mulai terjadi pada sumsum tulang setelah minggu ke-20 masa embrionik. Dengan bertambahnya usia janin,produksi sel darah semakin banyak terjadi pada sumsum tulang dan peranan hati dan limfa semakin berkurang. Sesudah lahir,semua sel darah dibuat pada sumsum tulang,kecuali limfosit yang juga dibentuk di kalenjar limfe,thymus,dan lien. Pada orang dewasa,pembentukan sel darah diluar sumsum tulang (extramedullary hemopoiesis) masih dapat terjadi bila sumsum tulang mengalami kerusakan atau mengalami fibrosis. Sampai dengan usia 5 tahun,pada dasarnya semua tulang dapat menjadi tempat pembentukan sel darah.Tetapi sum-sum tulang dari tulang panjang,kecuali bagian proksimal humerus dan tibia,tidak lagi membentuk sel darah setelah usia mencapai 20 tahun.Setelah usia 20 tahun,sel darah diproduksi terutama pada tulang belakang,sternum,tulang iga dan ilinium. 75% sel pada sumsum tulang menghasilkan sel darah putih (leukosit) dan hanya 25 % sel darah merah (eritrosit) namun jumlah eritrosit dalam sirkulasi 500 kali lebih banyak dari lekosit.hal ini

disebabkan oleh karena usia leukosit dalam sirkulasi lebih pendek (hanya beberapa hari ) sedangakan eritrosit (120 hari) Tahap-tahap pembentukan eritrosit antara lain : 1. Hemocytoblast, yang merupakan stem sel hematopoietik pluripoten 2. Myeloid progenitor umum, stem sel multipoten 3. Stem sel unipotent 4. Pronormoblast 5. Normoblast basofilik juga disebut eritroblast. 6. normoblast Polychromatophilic 7. Orthochromatic normoblast 8. retikulosit

http://www.bcm.edu/medicine/heme-onc/?PMID=4536 Seperti sel-sel lain yang beredar dalam darah perifer, sel-sel darah merah yang awalnya berasal dari pluripotential sel induk hematopoietic di bawah pengaruh lingkungan mikro sumsum tulang dan sitokin tertentu yang bertindak pada tahap awal hematopoiesis, Sel induk hematopoietic akan berdiferensiasi menjadi erythroid sel progenitor dimana pada tahap ini terdapat reseptor eritropoietin dalam jumlah besar. Erythropoietin menstimulasi proliferasi dan diferensiasi sel erythroid. Dengan tidak adanya erythropoietin, sel tersebut akan mati akibat apoptosis. Dalam kehadiran terus-menerus sitokin ini, sel darah merah dewasa akan dibentuk dari proliferasi dan diferensiasi terprogram yang dimulai pada tingkat sel progenitor erythroid .Erythropoietin manusia adalah glikoprotein asam yang sekitar 90% diproduksi di ginjal, dan sisanya diproduksi di berbagai extrarenal. Pencetus yang menyebabkan erythropoietin di nsintesis dan dilepaskan adalah hipoksia. Hipoksia merupakan hasil dari sejumlah penyebab, termasuk: [a] tekanan parsial rendah oksigen (pO2) terlarut dalam plasma (hipoksemia), seperti dapat terjadi pada penyakit paru-paru, arteri-to-vena shunt (misalnya tetrology of Fallot ), atau pendakian ke ketinggian tinggi, [2] anemia akibat penyebab apapun, atau [3] perubahan dalam molekul hemoglobin yang mendukung negara afinitas oksigen yang tinggi. Semua kondisi ini membatasi pengiriman oksigen ke semua sel dalam tubuh, termasuk sel-sel yang memproduksi erythropoietin. Setelah disintesis dan dilepaskan dari sel, erythropoietin perjalanan dalam aliran darah ke sumsum tulang, di mana ia mengikat reseptor pada sel erythroid, sehingga memulai proliferasi dan diferensiasi. Sel-sel pertama berdiferensiasi menjadi proerythroblasts, di mana sintesis hemoglobin pertama dapat dideteksi. Pada tahap perkembangan Proerythroblasts melalui serangkaian tahapan, berdiferensiasi mejadi normoblasts basofilik, normoblasts

polychromatophilic, dan normoblasts orthochromic secara berurutan. Semakin matang sel darah merah maka sitoplasmanya lebih banyak hemoglobin, inti menjadi lebih pyknotic, dan ukuran sel menjadi berkurang. Pada tingkat normoblast polychromatophilic, pembelahan sel berhenti. Inti sel menjadi kecil dan dibuang disebut retikulosit. Retikulosit mirip dengan sel darah merah,matang kecuali retikulosit berfungsi polyribosomes dan terus mensintesis hemoglobin. Pada tahap ini, sel biasanya muncul ke dalam darah perifer. Setelah 1-2 hari dalam sirkulasi,

retikulosit kehilangan polyribosomes dan berubah menjadi sel darah merah matang. Umur sel darah merah dalam aliran darah adalah sekitar 120 hari. Sintensis Heme (http://sickle.bwh.harvard.edu/hbsynthesis.html) Heme disintesis dalam serangkaian langkah-langkah yang melibatkan kompleks enzim dalam mitokondria dan sitosol dari sel. Langkah pertama dalam sintesis heme berlangsung dalam mitokondria, dengan kondensasi suksinil CoA dan glisin oleh ALA sintase untuk membentuk asam 5-aminolevulic (ALA). Molekul ini diangkut ke sitosol mana serangkaian reaksi menghasilkan struktur cincin yang disebut coproporphyrinogen III. Molekul ini kembali ke mitokondria Langkah-langkah enzimatik akhir ini menghasilkan heme. Enzim ferrochelatase memasukkan besi ke dalam struktur cincin protoporfirin IX untuk memproduksi heme