Anda di halaman 1dari 13

KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG PADA BERBAGAI TIPE PEMANFAATAN LAHAN DI KAWASAN MUARA KALI LAMONG, PERBATASAN SURABAYA- GRESIK

Hening Swastikaningrum, Bambang Irawan, Sucipto Hariyanto Program Studi S-1, Biologi, Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga swastikaningrum@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis burung yang terdapat di sekitar muara Kali Lamong, perbatasan Surabaya-Gresik. Pengamatan mengambil jalur tiga kilometer kearah hulu dimulai dari arah Pulau Galang di muara Kali Lamong. Sepanjang jalur tersebut dipilih 12 stasiun yang mewakili lima pemanfaatan lahan yang terdapat di sekitar sungai. Stasiun I dan IV mewakili kawasan permukiman, stasiun II, III, dan VIII mewakili perindustrian, stasiun V dan VI mewakili lahan kosong, stasiun VII, IX, dan X mewakili pertambakan, dan stasiun XI dan XII mewakili kawasan hutan mangrove. Masingmasing stasiun memiliki diameter pengamatan (bullseye) sekitar 20 meter atau setara dengan 1.256 m2. Setiap burung yang berada dalam diameter tersebut dicatat jenis dan jumlahnya untuk dianalisis tingkat keanekaragaman ShannonWiener, kelimpahan, dan kesamaan Renkonen. Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman tertinggi terdapat di lahan pertambakan (3,19). Disusul kemudian lahan kosong (2,52), perindustrian (2,39), hutan mangrove (2,06), dan permukiman (1,67). Jenis paling dominan di kawasan permukiman adalah Apus nipalensis (Kapinis Rumah, 48,85%), kemudian di kawasan industri didominasi oleh Butorides striatus (Kokokan Laut, 19,42%) dan hutan mangrove dengan Egretta garzetta (Kuntul Kecil, 30,31%). Lahan kosong didominasi jenis Collocalia esculenta (Walet Sapi) sebesar 20,77%, sementara pertambakan didominasi Egretta garzetta (Kuntul Kecil) sebesar 16%.

Kata Kunci: Keanekaragaman jenis burung, Kali Lamong, Pemanfaatan lahan, Kelimpahan jenis, Indeks kesamaan

ABSTRACT The object of this study was to determined the bird species diversity around the estuary region of Kali Lamong located in between Surabaya and Gresik, East Java. Observation was taken three kilometers far, started from Galang Island in Kali Lamong estuary to upstream side of the river. Twelve stations were made along the river as representative type of five land use. Station I and IV represented settlement area. Station II, III, and VIII represented industrial sites, station V and VI represented lawn, and station VII, IX, and X represented aquaculture. Each stations had 20 meter (bullseye diameter) range or equivalent with 1.256 m2. Every bird in the area was recorded and analyzed by ShannonWiener diverity index, dominance degree, and Renkonen similarity index. The results of this study shown aquaculture area has the highest diversity index (3,14). Followed by lawn (3), industrial site (2,41), mangrove forest (2,2), and settlement area (1,66). Birds dominance in settlement area were Apus nipalensis (Little Swift, 48,85%), Butorides striatus (Striated Heron, 19,42%) in industrial site and Egretta garzetta (Little Egret, 30,31%) in mangrove forest. Bird dominance in lawn came from the species Collocalia esculenta (Glossy Swiftlet) 20,77%, while in aquaculture dominated by Egretta garzetta (Little Egret) 16% in amount.

Keywords: Bird species diversity, Kali Lamong, Land use, Species abundance, Similarity index

LATAR BELAKANG Kali Lamong merupakan sebuah sungai yang terletak di antara perbatasan Kota Surabaya dengan Kota Gresik. Bermuara kearah Teluk Lamong, sungai ini tengah menghadapi ancaman di tengah keberadaanya. Sejak awal tahun 1980-an, di sepanjang Kali Lamong terdapat kurang lebih 1.300 bangunan dan 17 unit industri yang berpotensi mengancam ekosistem di sekitar Kali Lamong (Bapeprov Jatim, 2010). Hal tersebut ditambah dengan rencana pembangunan Lamong Bay untuk terminal peti kemas, perluasan Tanjung Perak, dan proyek Waterfront City yang

dapet berpotensi meningkatkan konsentrasi limbah, merusak kawasan mangrove di sepanjang sungai hingga pesisir, dan mempercepat laju sedimentasi kali (Bapeprov Jatim, 2010). Pada muara sungai, terdapat sebuah pulau yang terbentuk dari hasil sedimentasi delta Kali Lamong bernama Pulau Galang. Pulau ini akan terendam saat pasang tiba dan menjadi feeding ground bagi berbagai macam burung air saat air laut surut. Pulau Galang tersebut berjarak kurang lebih tiga kilometer dari kawasan permukiman penduduk terdekat. Perubahan pada habitat dapat berarti ancaman akan terjadinya perusakan habitat. Secara khusus, saat ini terdapat 1.111 jenis burung (11%) dari jumlah burung di dunia yang secara global terancam punah. Ditambah dengan 11 jenis (0,1%) dikategorikan dalam Tergantung Aksi Konservasi, 66 jenis (1%) Kurang Data, dan 877 jenis (9%) Mendekati Terancam Punah. Dengan kata lain, lebih dari seperlima dari semua jenis burung yang ada di dunia perlu untuk mendapat perhatian. Keterancaman tersebut akibat menurunnya kualitas lingkungan dan hilangnya habitat (Shahnaz et al., 1995). Berdasarkan kondisi yang telah dijelaskan di atas, maka perlu dilakukan studi mengenai keanekaragaman burung berdasarkan perbedaan pemanfaatan fungsi lahan sebagai habitat burung dalam suatu kawasan yang terancam, seperti di kawasan Kali Lamong. Penelitian ini merupakan wujud kepedulian terhadap pelestarian keanekaragaman hayati di sekitar Pantai Utara Pulau Jawa, khususnya Kali Lamong, yang posisinya diapit dua kota besar yang tengah berkembang. Diharapkan, penelitian ini dapat dijadikan salah satu pelengkap kajian upaya pengelolaan wilayah pesisir oleh para pengambil kebijakan dan memberi informasi tambahan bagi masyarakat untuk mengedepankan kegiatan konservasi habitat dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

METODE PENELITIAN Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di sekitar kawasan muara Kali Lamong, perbatasan Surabaya- Gresik. Tahapan penelitian pendahuluan dilakukan pada bulan Oktober- November 2011, sementara penelitian lanjutan dilakukan sepanjang Bulan Februari- Mei 2012.

Alat dan bahan penelitian Alat yang digunakan selama penelitian ini adalah meteran, anemometer, sling psychrometric, hand refracto salinometer, GPS, binokular Canon 8x25, monokular, buku panduan pengamatan Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan (MacKinnon et al., 2010) dan Waterbird of Asia (Bhushan et al., 2003), catatan dan alat tulis, jam tangan, hand counter, dan Kamera DSLR Canon 550D dengan Canon tele lens 75-300 mm. Sedangkan bahan penelitian adalah burung-burung yang berada di kawasan Kali Lamong.

Prosedur kerja Stasiun penelitian ditentukan melalui pengamatan pendahuluan berdasarkan perbedaan fungsi lahan yang tampak dalam citra satelit udara oleh aplikasi Google Earth lalu dilanjutkan dengan observasi langsung ke lokasi penelitian. Setiap stasiun dicatat faktor fisik yang teramati, meliputi: lebar dan panjang sungai, temperatur udara, kelembapan udara, salinitas air, kecepatan angin, pasang surut air laut, dan kondisi astronomis. Pengukuran panjang dan lebar sungai menggunakan citra satelit Google Earth. Data-data tersebut digunakan sebagai data pendukung pengamatan. Identifikasi jenis burung menggunakan metode point count dengan berjalan kaki dan naik perahu. Buku panduan pengamatan lapangan yang digunakan adalah Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan (MacKinnon et al., 2010) dan Waterbird of Asia (Bhushan et al., 2003). Pengamatan meliputi ciri morfologi (bentuk dan warna tubuh, paruh, kaki, dan bulu) burung yang diamati. Lokasi perjumpaan dengan burung, nama burung,

jumlah burung teramati, aktifitas burung, waktu perjumpaan, beserta vegetasi yang berada di stasiun tersebut. Menurut Romimohtarto dan Juwana (2001), indeks keanekaragaman (diversity index) digunakan untuk mengetahui keanekaragaman hayati biota yang diteliti. Berikut adalah rumus untuk mengetahui indeks keanekaragaman berdasarkan Romimohtarto dan Juwana (2001), H= - (pi. lnpi) H pi ni N = indeks keanekaragaman Shannon, = ni/N, perbandingan antara jumlah individu spesies ke-i dengan jumlah total individu, = jumlah suatu jenis, = jumlah seluruh jenis yang ada dalam contoh.

Tingkat keanekaragaman dianalisis berdasarkan kriteria Lee et al., (1978) dalam Arisandi (1999), yaitu: Sangat Tinggi H> 3,0 Tinggi jika H> 2,0 Sedang jika 1,6 <H< 2,0 Rendah jika 1,0 <H< 1,5 Sangat rendah jika H< 1,0

Hariyanto et al. (2008) menyatakan untuk mengetahui kepadatan populasi tiap jenis dipergunakan rumus, Jumlah individu jenis X D jenis X = Jumlah unit contoh/ luas/ volume

= densitas (kepadatan)

Toth dan Kiss (1999) dalam Nurdini (2010) menggunakan indeks Renkonen untuk mengetahui besar kesamaan antar dua stasiun pengamatan yang

dibandingkan. Dengan indeks ini dapat diketahui besar kesamaan jenis penyusun dua komunitas. R= min (pi.qi) R p dan q = indeks Renkonen, = habitat dari spesies i

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian Dapat diidentifikasi sebanyak lima tipe pemanfaatan lahan di sepanjang jalur pengamatan. Lahan tersebut dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman, perindustrian/ pergudangan, pertambakan, lahan kosong dan hutan mangrove. Kelima pemanfaatan lahan tersebut kemudian dibagi kedalam 12 stasiun pengamatan dengan rincian sebagai berikut: a. pemanfaatan sebagai kawasan pemukiman oleh stasiun I dan IV, b. pemanfaatan sebagai kawasan industri oleh stasiun II, III, dan VIII, c. pemanfaatan sebagai kawasan lahan kosong oleh stasiun V dan VI, d. pemanfaatan sebagai kawasan tambak oleh satsiun VII, IX, dan X, e. pemanfaatan sebagai kawasan hutan mangrove oleh stasiun XI dan XII. Pemilihan stasiun di atas tidak hanya berdasarkan perbedaan pemanfaatan lahan, namun juga kemudahan akses, dan banyaknya potensi perjumpaan dengan burung. Hasil pengukuran yang dilakukan berdasarkan pencitraan Google Earth, lebar muara Kali Lamong adalah 66, 03 meter dan panjang jalur pengamatan adalah 3, 21 kilometer. Hasil inventarisasi selama sembilan kali pengamatan dalam kurun waktu Februari-Mei 2012 menunjukkan sebanyak 61 jenis burung dapat dijumpai di kawasan Kali Lamong. Dari jumlah tersebut sebanyak 30 jenis merupakan jenis burung air dan 31 jenis sisanya merupakan jenis non-burung air. Satu dari 61 jenis tersebut merupakan jenis raptor, yaitu Haliastur indus (Elang Bondol). Sementara tujuh dari 61 jenis termasuk sebagai spesies burung migran, yaitu Todirhampus sanctus (Cekakak Suci), Hirundo rustica (Layang-layang Api), Calidris

subminuta (Kedidi Jari Panjang), Calidris ruficollis (Kedidi Leher Merah), Actitis hypoleucos (Trinil Pantai), Tringa glareola (Trinil Semak), Sterna hirundo (Dara Laut Biasa), dan Chlidonias leucopterus (Dara Laut Sayap Putih). Keseluruhan avifauna tersebut terbagi kedalam 27 famili. Dua dari 61 jenis tersebut merupakan jenis endemik Jawa, yaitu Centropus nigrorufus (Bubut Jawa) dan Charadrius javanicus (Cerek Jawa). Hasil inventarisasi juga menunjukkan sebanyak empat dari 61 jenis tersebut masuk kedalam daftar IUCN Red Lists Threatened. Jenis tersebut adalah Charadrius javanicus (Cerek Jawa) berstatus Near Threatened, Mycteria cinerea (Bangau Bluwok) berstatus Vulnerable, Centropus nigrorufus (Bubut Jawa) berstatus Vulnerable, dan Numenius madagascariensis (Gajahan Timur) berstatus Vulnerable. Jenis burung yang mendominasi pada kawasan permukiman adalah Apus nipalensis (Kapinis Rumah, 48,85%), kemudian di kawasan industri didominasi oleh Butorides striatus (Kokokan Laut, 19,42%) dan hutan mangrove dengan Egretta garzetta (Kuntul Kecil, 30,31%). Lahan kosong didominasi jenis Collocalia esculenta (Walet Sapi) sebesar 20,77%, sementara pertambakan didominasi Egretta garzetta (Kuntul Kecil) sebesar 16%.
3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 3,19 2,39 1,67 2,52 2,06

Permukiman Perindustrian Lahan Kosong Pertambakan

Hutan Mangrove

Indeks Keanekaragaman

Gambar 1. Grafik hasil indeks keanekaragaman burung di kelima tipe pemanfaatan lahan sekitar muara Kali Lamong selama sembilan kali pengamatan.

40 Jumlah Spesies 30 20 10 0

Grafik Jumlah Spesies Saat Pengamatan

Jumlah Spesies

Pengamatan Ke-

Gambar 2. Grafik jumlah spesies burung di keduabelas stasiun sekitar muara Kali Lamong selama sembilan kali pengamatan. Pembahasan Melalui tabel pada Gambar 1, dapat diidentifikasi bahwa bila kondisi habitat kurang baik untuk mendukung kehidupan burung seperti kurangnya sumber pakan dan atau faktor lain (luas area dan iklim), maka dapat mempengaruhi keberadaan jenis burung itu sendiri (Hernowo, et al.,1988) Tingginya angka keanekaragaman di kawasan pertambakan dapat disebabkan kawasan ini menyimpan banyak persediaan makanan bagi hampir semua jenis burung, terutama burung air. Burung- burung di kawasan ini juga memanfaatkan keberadaan mangrove di kawasan tambak untuk bersarang dan beristirahat. Widodo (2009), memberikan pernyataan bahwa habitat yang kondisinya baik dan jauh dari gangguan manusia serta di dalamnya mengandung bermacammacam sumber pakan, memungkinkan memiliki jenis burung yang banyak. Nilai 2,52 pada kawasan lahan kosong menjelaskan bahwa kawasan tersebut menyimpan sumber pakan yang banyak disukai burung-burung. Semak belukar yang terdapat di kawasan ini dapat menjadi salah satu faktor yang membuat burung-burung tersebut tertarik untuk singgah. Semak belukar yang rapat merupakan tempat berlindung yang baik bagi burung terutama yang bertubuh kecil terhadap serangan angin kencang, udara, dingin, dan predator yang lebih besar (Rusmendro, et al, 2009).

Kawasan industri meskipun memiliki total jumlah spesies hanya 17 jenis, namun masih memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi. Hal ini bisa disebabkan susahnya akses masuk ke kawasan industri, membuat burung-burung di lokasi tersebut seolah tak terjamah oleh kegiatan manusia secara langsung, sehingga mereka dapat dengan bebas beraktivitas. Padahal kawasan ini terus berkembang secara dinamis dan burung-burung yang terdapat di lokasi ini tengah terancam proses pengembangan kawasan yang begitu cepat. Pembangunan gedung, permukaan yang tidak dapat ditembus air, dan berbagai macam polusi di kota lebih jauh dapat mempengaruhi lingkungan termasuk pada iklim, juga terhadap komposisi jenis terutama fauna burung akibat kebisingan dan cahaya (Hardes dan Spellberg, 1992 dalam Anonim, 1999). Selanjutnya, untuk kawasan hutan mangrove yang hanya bernilai 2,06 menjelaskan bahwa melalui kegiatan pengamatan ini diketahui burung-burung di kawasan hutan mangrove (Pulau Galang) sebagai jenis yang memanfaatkan lokasi tersebut untuk tempat beristirahat. Terkecuali pada saat kondisi air laut surut, burung-burung terlihat ramai berada di gosongan lumpur untuk mencari makan. Selebihnya pada saat air laut pasang, burung-burung (terutama burung air), lebih sering teramati tengah berjemur saja bersama koloninya di tengah Pulau Galang. Kawasan permukiman menjadi kawasan dengan nilai keanekaragaman paling rendah, yaitu 1,67 yang berarti dalam skala sedang. Menurut Alikodra, (1990) dalam Rusmendro, et al. (2009), faktor yang mempengaruhi nilai H (keanekaragaman) adalah kondisi lingkungan, jumlah jenis, dan sebaran individu pada masing-masing jenis. Komunitas yang memiliki nilai indeks

keanekaragaman tinggi memiliki hubungan antar komponen dalam komunitas yang kompleks. Namun, bila keadaan sebaliknya, keanekaragaman jenis komunitas sedang mengalami tekanan (Rusmendro, et al.,2009). Indeks keanekaragaman membuktikan bahwa kekayaan hayati dalam suatu kawasan didukung secara penuh oleh kondisi ekologis disekelilingnya. Mulai dari aktivitas makhluk hidup lain yang hidup berdampingan, keberadaan predator, ketersediaan pakan, hingga ketersediaan tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk burung tersebut hingga dapat berkembangbiak. Melalui tabel 4.8 tersebut,

jelas bahwa keragaman spesies burung merupakan suatu refleksi dari bermacammacam habitat dan kondisi iklim yang mampu mendukungnya (Sajithiran et al., 2004). Selama sembilan kali pengamatan yang dilakukan sejak bulan Februari- Mei 2012, didapatkan jenis berikut sebagai jenis yang dominan di setiap permanfaatan lahan. Pada kawasan permukiman, Kapinis Rumah (Apus nipalensis) menjadi jenis yang paling padat. Kokoan Laut (Butorides striatus) adalah jenis paling padat di kawasan perindustrian. Sementara di lahan kosong, pertambakan, dan hutan mangrove yang menjadi jenis paling padat secara berturut-turut adalah Walet Sapi (Collocalia esculenta), Gajahan Pengala (Numenius phaeopus) dan Kuntul Kecil (Egretta garzetta). Sementara untuk hasil yang teridentifikasi pada indeks Renkonen, menunjukkan bahwa nilai Renkonen memiliki kesamaan yang jauh berbeda bila nilai ketidaksamaannya melebihi 50% (Nurdini, 2010). Tipe Pemanfaatan Lahan I I II III IV II III IV V

43,32% 49,24% 28,42% 8,03% 45% 45% 30% 15% 59,33% 42,59%

Keterangan: 1= Permukiman, II= Perindustrian, III= Lahan Kosong, IV=Pertambakan, V= Hutan Mangrove

Gambar 3. Tabel indeks Renkonen pada setiap pemanfaatan lahan Pada tabel di atas, stasiun I tampak jelas berbeda terhadap stasiun IV dan V. Hal ini disebabkan adanya perbedaan vegetasi dan aktivitas makhluk hidup lain di masing-masing kawasan. Stasiun I merupakan kawasan permukiman yang minim vegetasi dan banyak terjadi aktifitas manusia, sehingga tidak menunjang aktifitas burung secara lebih jauh. Sementara stasiun IV dan V secara ekologis masih lebih menunjang kehidupan burung. Vegetasi di keduanya cenderung lebih alami dan belum banyak terganggu kegiatan manusia.

10

Stasiun II yang merupakan kawasan industri juga jauh berbeda komposisinya dengan stasiun V (pertambakan). Segi vegetasi dan aktifitas manusia, membuat komposisi kesamaan burung antara keduanya berbeda. Stasiun III (lahan kosong) juga jauh berbeda terhadap stasiun IV (pertambakan). Hal ini juga masih disebabkan oleh adanya perbedaan vegetasi dan aktifitas manusia. Hal serupa juga terjadi pada stasiun IV terhadap stasiun V.

KESIMPULAN Melalui hasil dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan dari penelitian ini: 1. Pemanfaatan fungsi lahan yang dapat diidentifikasi di sekitar kawasan muara Kali Lamong hingga tiga kilometer ke arah hulu adalah pemanfaatan sebagai permukiman, perindustrian dan pergudangan, lahan kosong, pertambakan, dan hutan mangrove. Penelitian ini menggunakan dua belas stasiun yang mewakili pemanfaat lahan sebagai kawasan permukiman, tiga stasiun mewakili perindustian, dua stasiun mewakili lahan kosong, tiga stasiun mewakili pertambakan, dan dua stasiun mewakili hutan mangrove. 2. Keanekaragaman burung pada pemanfaatan lahan yang berbeda hingga tiga kilometer ke arah hulu paling tinggi terdapat pada pertambakan (3,19), disusul lahan kosong (2,52), perindustrian (2,39), hutan mangrove (2,06), dan permukiman (1,67). 3. Terdapat perbedaan keanekaragaman jenis burung pada setiap tipe pemanfaatan lahan di sekitar muara Kali Lamong. Sebanyak 22 jenis burung dapat dijumpai pada kawasan permukiman. Sementara pada perindustrian, lahan kosong, pertambakan, dan hutan mangrove berturutturut dapat dijumpai 17, 24, 52, dan 31 jenis burung. 4. Perubahan jenis dan keanekaragaman burung terjadi selama waktu pengamatan terutama pada jenis burung air. Lebih mudah menjumpai burung air dalam jumlah banyak pada saat air laut surut. Terutama pada burung air yang berkativitas di kawasan muara sungai.

11

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1999. Studi Keanekaragaman dan Kelimpahan Burung Pada Beberapa Daerah Industri di Kabupaten Gresik. Laporan Penelitian. Kelompok Studi Burung Peksia. Himpunan Mahasiswa Biologi Senat Mahasiswa FMIPA Universitas Airlangga. Surabaya Arisandi, P. 1999. Studi Struktur Komunitas dan Keanekaragaman Mangrove Berdasarkan Tipe Perubahan Garis Pantai di Pantai Utara Jawa Timur. Skripsi. Jurursan Biologi. Universitas Airlangga. Surabaya. Bapeprov Jatim. 2010. Menyoal Pelabuhan Teluk Lamong.

http://www.bappeda.jatimprov.go.id. diakses tanggal 12 September 2011. Bushan, B., G. Fry, A. Hibi, T. Mundkur, D. M. Prawiladilaga, K. Sonobe, S. Usui. 1993. A Field Guide To The Waterbirds of Asia. Wild Bird Society of Japan. Jepang. Hariyanto, S., B. Irawan, dan T. Soedarti. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Airlangga University Press. Surabaya. Hernowo, J.B., Wibowo, C., Santoso, N., dan Kusmaryadi, N. 1988. Ecological Study of Tinjil Island With Special Emphasize on Long Tailed Macaques, Birds, and Vegetation. Research Report.

Departement of Forest Resources Conservation. Faculty of Forestry. IPB. Bogor. MacKinnon, J., K. Phillips, dan B. van Balen. 2010. Burung-burung di Sumatera. Jawa. Bali. dan Kalimantan. LIPI-Burung Indonesia. Bogor. Nurdini, L. 2010. Studi Kelimpahan dan Keanekaragaman Burung Air dan Sumber Pakannya di Tambak Wonorejo Surabaya. Skripsi.

Departemen Biologi- Univeristas Airlangga. Surabaya. Rusmendro, H., Ruskomalasari, A. Khadafi, H. B. Prayoga, L. Apriyanti. 2009. Keberadaan Jenis Burung Pada Lima Stasiun Pengamatan di Sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Depok- Jakarta. Jurnal Penelitian Universitas Nasional VIS VITALIS. 2 (2): 50-64.

12

Sajithiran, T.M., Jamdhan, S.W., dan Santiapillani, C. 2004. A Comparative Study of The Diversity of Birds in Three Reservoirs in Vavuniya, Srilanka. Srilanka. Tiger Paper. 31 (4): 27-32. Shannaz, J., P. Jepson, dan Rudyanto. 1995. Burung-burung Terancam Punah di Indonesia. Departemen Kehutanan- Birdlife International Indonesia Programme. Bogor. Widodo, W. 2009. Komparasi Keragaman Jenis Burung-Burung di Taman Nasional Baluran dan Alas Purwo Pada Beberapa Tipe Habitat. Jurnal Berkala Penelitian Hayati. (14): 113-124.

13