Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN

Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya eksogen Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari dengan jumlah darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan pengobatan kasus ini sama dengan hipermenorea. Hyperplasia endometrium adalah keadaan dimana endometrium tumbuh secara berlebihan. Kelainan ini bersifat benigna ( jinak ) ; akan tetapi pada sejumlah kasus dapat berkembang kearah keganasan uterus. Sejumlah wanita berada pada resiko tinggi menderita hiperplasia endometrium. Penebalan pada lapisan dinding dalam rahim atau yang disebut dengan hyperplasia endometrium terjadi karena kerja hormon estrogen. Makanya, jika terjadi penebalan berlebih itu menunjukkan adanya peningkatan berlebih dari kadar hormon estrogen itu sendiri. Pada kasus umum, peningkatan hormon estrogen bisa terjadi akibat dipicu oleh tumbuhnya kista. Pada kasus lain, penebalan dinding rahim juga terjadi karena faktor ketidakseimbangan hormonal dimana peningkatan hormon estrogen tak diimbangi oleh peningkatan progesteron. Kondisi ini juga biasanya dialami oleh wanita yang tergolong berbadan gemuk karena produksi estrogennya berlebihan. Jadi, hiperplasia endometrium sebenarnya bisa dialami siapa pun, baik yang sudah memiliki anak maupun belum adalah kelainan organik (polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan fungsional dan penggunaan estrogen

BAB II LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH A. IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA


a. Identitas Pasien

Nama Jenis kelamin Usia Status Pernikahan Alamat Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan

: Ny. Mulyani : Perempuan : 43 tahun : Menikah :Dusun Karang Sari, Desa Tanggul Rejo RT 002/RW 013, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang : Islam : Jawa : Tamat SD : Pembantu Rumah Tangga

b. Identitas Kepala Keluarga

Nama Jenis Kelamin Umur Status Pernikahan Alamat Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan

: Tn. Bari : Laki-laki : 50 tahun : Menikah :Dusun Karang Sari, Desa Tanggul Rejo RT 002/RW 013, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang : Islam : Jawa : Tamat SD :Buruh Harian

B. PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga Kandung dan yang tinggal satu rumah Keduduk No 1. 2. 3. 4. Nama Tn. Bari Ny. Mulyani Ratna R Rio an dalam Keluarga Kepala keluarga Ibu rumah tangga Anak Anak JK L P P L Um ur (th) 50 43 22 16 Pendidi kan Tamat SD Pekerja an Keterang an Sehat Pasien Sehat Sehat

Buruh harian Tamat SD Pembantu Rumah Tangga Tamat Karyawa SMA n Swasta SMA Pelajar

Gambar 1. Pohon Keluarga

Keterangan: Perempuan Laki-laki Pasien Meninggal

C. RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH DILAKUKAN ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 18 September 2013 pukul 14.00 WIB hingga 15.30 WIB dan 23 September 2013 pukul 16.00 hingga pukul 16.00 WIB di rumah pasien di Dusun Karang Sari, Desa Tanggul Rejo RT 002/RW 013, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang
a. Keluhan Utama

Perdarahan pervaginam sejak 38 hari yang lalu.


b. Riwayat Penyakit Saat Kunjungan Pertama (18 September

2013) Pasien mengaku mengalami perdarahan pervaginam sejak 38 hari lalu, darah berwarna merah gelap seperti flek-flek kurang lebih sebanyak 4 pembalut. Pasien juga mengeluhkan adanya sedikit nyeri perut bawah bagian tengah. Pasien tidak pernah teraba benjolan disekitar perut dan riwayat maag disanagkal. Keputihan juga disangkal oleh pasien. Pasien terakhir berhubungan suami istri kurang lebih 3 bulan lalu. Penurunan berat badan disangkal oleh pasien. Pasien mengatakan pernah dikuret pada tahun 1990 karena keguguran. Pada tahun dan 2005 dan 2011 pasien dikuret karena menometrorrhagia suspek penembalan endometrium berdasarkan

diagnosis dokter dan hasil USG.


c. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah memiliki riwayat keguguran pada tahun 1990. Pasien pernah dikuret dengan riwayat hyperplasia endometrium sebanyak 2 kali di RSUD Tidar.

d. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien. Pasien mengatakan kedua orang tua pasien sudah meninggal. Riwayat darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, asma dan alergi dalam keluarga disangkal.
e. Riwayat Haid


f.

Menarche

: 14 tahun

Siklus haid tidak teratur, banyaknya 4-6 kali ganti pembalut. HPHT Riwayat penikahan : 12 Agustus 2012 : 19 tahun, satu kali

Riwayat Pernikahan Pasien menikah satu kali.

g. Riwayat KB

Pasien mengaku pernah menggunakan KB jenis suntik tahun 2000, karena terjadi perdarahan pasien tidak menggunakan KB lagi.
h. Riwayat kehamilan dan persalinan

Tabel 2. Riwayat Obstetri Pasien Hamil Ke 1 2 Abortus/Norm al/ SC Abortus usia kehamilan 1,5 bulan (1990) Normal Kelami n Perempu an BB Usia lahir (Tahu (gram n) ) 22 3700 Penolo ng Dukun Bayi Tm pt lahi r Rum ah pasi en Keadaa n sekaran g Sehat

Normal

Lakilaki

16

3500

Dukun Bayi

Rum ah pasi en

Sehat

PEMERIKSAAN FISIK (18 September 2013) Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Tekanan darah: 100/60 mmHg Nadi Suhu Pernapasan Status Generalis
Kepala Mata Telinga Hidung Bibir Tenggorok

: Tampak Sakit Ringan : Compos mentis TB : 160 cm BB : 54 kg

: 72 x/menit : 36,60 C : 22x/menit

: Normocefali : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) : Normotia, benjolan (-), oedem (-), nyeri tekan (-) : Normosepti, sekret (-), deviasi septum (-) : pucat (-), sianosis (-) : T1-T1, faring hiperemis (-), granulasi (-), nyeri telan (-) :Trakhea di tengah, pembesaran KGB (-/-), kelenjar tiroid tidak teraba membesar :

Leher

Thoraks

Mammae : Simetris, benjolan (-), retraksi puting (-). Paru - paru


- Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris, gerak thoraks pada

pernafasan simetris, sama tinggi, tidak ada bagian yang tertinggal, retraksi (-/-)

- Palpasi : Gerak nafas simetris, sama tinggi, tidak ada bagian yang

tertinggal, vokal fremitus simetris, sama kuat


- Perkusi : Kedua hemitoraks berbunyi sonor, batas paru hepar

setinggi ics V, peranjakan paru positive kira-kira satu sela iga


- Auskultasi : Suara napas vesi

kuler, rhonchi (-/-), wheezing (+/+)

Jantung
- Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris - Palpasi : Iktus cordis teraba di ics V 2 cm lateral dari garis mid

klavikularis kiri
- Perkusi : Tidak ada nyeri ketuk, batas jantung kanan pada garis

sternalis kanan setinggi ics IV, batas paru lambung sekitar ics VI, batas jantung kiri setinggi ics V 2 cm garis midklavikularis kiri, batas atas jantung kiri setinggi ics III pada garis sternalis kiri
- Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen : Lihat status gynekologi Ekstremitas


- Inspeksi: Bentuk normal simetris, deformitas (-),

sianosis (-/-),

edema (-/-)
- Palpasi : Akral hangat, edema (-/-)

Status Gynekologi
1. Abdomen :

Inspeksi Palpasi Auskultasi

: datar, tidak ada pelebaran vena, tidak ada benjolan : Supel, tidak teraba massa, Hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-) : Nyeri ketuk (-), Tymphani pada seluruh lapang perut

2. Pemeriksaan dalam

Vaginal toucher : Tidak Dilakukan

Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lainnya : tidak ada DIAGNOSIS KERJA Menometrorrhagia e.c Suspek Hyperplasia Endometrium

Dasar Diagnosis

Dari anamnesis didapatkan : Pasien datang ke Puskesmas dengan keluhan perdarahan pervaginam sejak 38 hari yang lalu Perdarahan tidak berhenti setelah haid dan berlangsung terus menerus sampai saat ini serta pernah dikuret dengan indikasi hyperplasia endometrium pada tahun 2005 dan 2011 Pemeriksaan fisik didapatkan sedikit nyeri tekan pada perut pasien diatas vesika urinaria PENATALAKSANAAN o Medikamentosa : o Tablet Fe Asam Folat hidroksi progesterone 125 mg

o Nonmedikamentosa : Pola makan dengan gizi seimbang Apabila ada perdarahan berulang lebih dari 7 hari segera menuju ru mah sakit Operatif Kuretage

HASIL PENATALAKSANAAN MEDIS Keluhan perdarahan pasien telah berkurang Faktor pendukung :

Pasien rutin memeriksa ke dokter jika keluhan perdarahan kembali muncul.

Faktor penghambat:

Faktor ekonomi pasien dan kurangnya pengetahuan pasien mengenai penyakitnya :

Indikator keberhasilan

Tidak ada perdarahan berulang yang lebih dari 7 hari

D. TABEL PERMASALAHAN PADA PASIEN Tabel 4. Tabel Permasalahan Pada Pasien No. 1. Resiko & masalah kesehatan Perdarahan pervaginam terusmenerus selama 38 hari Rencana pembinaan Edukasi untuk periksa ke dokter jika terdapat keluhan perdarahan yang muncul lebih dari 7 hari Sasaran Pasien

2.

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran mengenai penyakit yang dideritanya

Edukasi mengenai penyakit pasien, faktor resiko, faktor yang memperberat.

Pasien dan keluarga

E. IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA


a. Fungsi Biologis

Dari wawancara dengan penderita diperoleh keterangan bahwa penderita dan keluarga pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya yakni pada tahun 2005 dan 2011.
b. Fungsi Psikologis

Penderita tinggal bersama suami dan 2 orang anak kandungnya. Dimana hubungan penderita dengan keluarga baik. Penderita bekerja sebagai ibu rumah tangga sehingga banyak menghabiskan waktu di rumah, dan banyak waktu bersama keluarga.

c. Fungsi Ekonomi

Biaya kebutuhan sehari-hari pasien dipenuhi oleh suami. Pendapatan perbulan Rp 800.000. Uang tersebut dipakai untuk kebutuhan rumah tangga seperti makan. Pasien sudah memiliki Jaminan kesehatan (JAMKESMAS).
d. Fungsi Pendidikan

Pendidikan terakhir pasien adalah tamat SD.


e. Fungsi Religius

Penderita dan keluarga memeluk agama Islam, menjalankan ibadah agama secara rutin (sholat).
f.

Fungsi Sosial dan Budaya Penderita dan keluarga tinggal di Dusun Karang Sari, Desa Tanggul Rejo,

Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, di lingkungan yang cukup bersih. Penderita dan keluarga dapat diterima dengan baik di lingkungan rumahnya. Komunikasi dengan tetangga baik. Keluarga penderita tidak aktif dalam kegiatan di lingkungan masyarakat desa. F. POLA KONSUMSI PENDERITA Frekuensi makan rata-rata 3x sehari. Penderita biasanya makan di rumah. Jenis makanan dalam keluarga ini tidak bervariasi. Variasi makanan sebagai berikut: nasi, lauk (tahu, tempe, ikan), sayur (kangkung, bayam), air minum (air

10

putih). Pasien sangat jarang mengkonsumsi ayam atau daging. Air minum berasal dari PAM. G. IDENTIFIKASI KESEHATAN
a. Faktor Perilaku

FAKTOR

FAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI

Pasien rutin kontrol kondisi kesehatannya di bidan.


b. Faktor Lingkungan

Lingkungan fisik: Kebersihan di dalam rumah cukup. Pencahayaan di dalam rumah cukup dan sirkulasi udara cukup baik. Sumber air minum berasal dari PAM dan dimasak sebelum diminum. Di rumah pasien menggunakan jamban jenis leher angsa. Untuk pembuangan limbah, dibuang ke tempat pembuangan sampah, kadang-kadang pasien mengumpulkan sampahnya lalu dibakar. Lingkungan non-fisik: Dari wawancara, pasien mengaku tidak tau tentang penyakitnya. Pasien mengetahui penyakitnya melalui keterangan dokter pada saat kontrol ke rumah sakit.
c. Faktor Sarana pelayanan kesehatan

Terdapat Puskesmas Tempuran yang berjarak 1 km dari dusun tempat tinggal pasien.
d. Faktor keturunan

Tidak ada H. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH


a. Gambaran Lingkungan Rumah

Rumah pasien terletak di Dusun Karang Sari, Desa Tanggul Rejo, Kec amatan Tempuran, Kabupaten Magelang, dengan ukuran rumah 10x15m2, bentuk bangunan 1 lantai. Rumah tersebut ditempati oleh 4 orang. Secara umum gambaran rumah terdiri dari 3 kamar tidur. 1 dapur terletak bersebelahan dengan kamar tidur anak ke 2 pasien.

11

Rumah mempunyai langit-langit, dinding dari tembok diplester halus, lantai terdiri dari semen. Penerangan di dalam rumah cukup terang. Ventilasi dan jendela yang cukup memadai, yaitu dengan luas > 10 % dan sering dibuka. Sehingga rumah menjadi terang dan tidak terasa lembab. Cahaya matahari dapat masuk kedalam rumah. Tata letak barang di rumah rapi. Sumber air bersih dari PAM untuk minum maupun cuci dan masak. Air minum dimasak sendiri. Rumahnya sudah memiliki jamban sendiri. Kebersihan dapur kurang, tidak ada lubang asap dapur. Pembuangan air limbah ke got dan saluran limbah mengalir lancar. Terdapat tempat pembuangan sampah. Jalan di depan rumah lebarnya 4 meter terbuat dari aspal. Kebersihan lingkungan di s ekitar rumah baik

Gambar 2. Denah Rumah Pasien I. DIAGNOSIS FUNGSI KELUARGA


a. Fungsi Biologis Pasien sudah 3 kali mengalami penyakit ini. Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama seperti penderita

12

b. Fungsi Psikologis Hubungan pasien dengan keluarga terjalin baik Hubungan sosial dengan tetangga dan kerabat baik. c. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan

Kesan sosial ekonomi kurang, jika dilihat dari pekerjaannya.


d. Fungsi Religius dan Sosial Budaya

Keluarha pasien termasuk keluarga yang taat beragama. Hubungan keluarga dan pasien dengan tetangga baik, komunikasi berjalan dengan lancar. Tidak terdapat keterbatasan hubungan antara pasien dan masyarakat.
e. Faktor Perilaku

Pasien rutin kontrol ke bidan.


f. Faktor Non Perilaku

Pasien tinggal di rumah yang pencahayaannya cukup baik dan ventilasi udara di rumah baik sehingga sirkulasi udara lancar sehingga kebersihan terjaga.

Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup dekat. Jarak antara rumah pasien dengan puskesmas 1 km.

J. DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA

GENETIK GENETIK

PELAYANAN PELAYANAN KESEHATAN KESEHATAN

STATUS KESEHATAN

LINGKUNGAN LINGKUNGAN

Bidan desa, dokter spesialis kandungan

PERILAKU PERILAKU Pasien rutin kontrol ke bidan

Ventilasi rumah dan pencahayaan baik

13

Gambar 3. Diagram Realita

14

K.

PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN Kegiatan yang dilakukan Melakukan pemeriksaan kepada pasien dan menga mati keadaan kesehatan r umah dan lingkungan sek itar Keluarga yang terlibat Pasien dan k eluarga Hasil Kegiatan Mendapatkan diagnosis kerja keluarga gambaran pasien, data pasien, perilaku

Tabel 5. Pembinaan dan Hasil Kegiatan Tanggal 18 September 2013

kesehatan dan mengetah ui keadaan rumah pasie n. Pasien

23 September 2013

Memberikan kepada keluarga mengenai faktor

penjelasan dan pasien penyakit, risiko, dan plasenta

Pasien keluarga

dan

dan

keluarga yang

pasien

pasien dapat memahami penjelasan diberikan.

penatalaksanaan komplikasi

previa pada kehamilan.

L.

KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA


1. Tingkat pemahaman : Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan

cukup baik.
2. Faktor pendukung -

Penderita dan keluarga dapat memahami dan menangkap penjelasan yang diberikan tentang kesehatan reproduksi wanita khususnya tentang hyperplasia endometrium.

Keluarga yang kooperatif dan adanya keinginan untuk mendukung pasien untuk selalu control jika muncul keluhan perdarahan pervaginam lebih dari 7 hari.

15

3. Faktor penyulit : keadaan ekonomi yang kurang, tingkat pendidikan yang

rendah.
4. Indikator keberhasilan : pasien sadar akan penyakitnya dan segera periksa

ke dokter jika terdapat keluhan yang sama di kemudian hari untuk mencegah komplikasi yang dapat terjadi.

16

BAB III METROMENORRHAGIA 1. Pengertian Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan fungsional dan penggunaan estrogen eksogen Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari dengan jumlah darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan pengobatan kasus ini sama dengan hipermenorea. Menometroragia, yaitu perdarahan yang terjadi dengan interval yang tidak teratur disertai perdarahan yang banyak dan lama 2. Penyebab

Sebab-sebab organik Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan olah kelainan pada: serviks uteri; seperti polip servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada portio uteri, karsinoma servisis uteri. Korpus uteri; polip endometrium, abortus imminens, abortus insipiens, abortus incompletus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusio uteri, karsinoma korpus uteri, sarkoma uteri, mioma uteri. Tuba fallopii; kehamilan ekstopik terganggu, radang tuba, tumor tuba.

17

Ovarium; radang overium, tumor ovarium.

Sebab fungsional Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik, dinamakan perdarahan disfungsional. Perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara menarche dan menopause. Tetapi kelainan inui lebih sering dijumpai sewaktu masa permulaan dan masa akhir fungs ovarium. Dua pertiga wanita dari wanitawanita yang dirawat di rumah sakit untuk perdarahan disfungsional berumur diatas 40tahun, dan 3 % dibawah 20 tahun. Sebetulnya dalam praktek dijumpai pula perdarahan disfungsional dalam masa pubertas, akan tetapi karena keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri, jarana diperlukan perawatn di rumahsakit. Hingga saat ini penyebab pasti perdarahan rahim disfungsional belum diketahui secara pasti. Beberapa kondisi yang dikaitkan dengan perdarahan rahim disfungsional, antara lain: Kegemukan (obesitas), Faktor kejiwaan,Alat kontrasepsi hormonal Alat kontrasepsi dalam rahim (intra uterine devices),Beberapa penyakit dihubungkan dengan perdarahan rahim, misalnya: trombositopenia (kekurangan trombosit atau faktor pembekuan darah), Kencing Manis (diabetus mellitus), dan lain-lai Walaupun jarang, perdarahan rahim dapat terjadi karena: tumor organ reproduksi, kista ovarium (polycystic ovary disease), infeksi vagina, dan lain lain. 3. Patogenesis

Secara garis besar, kondisi di atas dapat terjadi pada siklus ovulasi (pengeluaran sel telur/ovum dari indung telur), tanpa ovulasi maupun keadaan lain, misalnya pada wanita premenopause (folikel persisten).Sekitar 90% perdarahan uterus difungsional (perdarahan rahim) terjadi tanpa ovulasi (anovulation) dan 10% terjadi dalam siklus ovulasi.

18

Pada siklus ovulasi. Perdarahan rahim yang bisa terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan dengan waktu menstruasi. Perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormon estrogen, sementara hormon progesteron tetap terbentuk. Pada siklus tanpa ovulasi (anovulation), Perdarahan rahim yang sering terjadi pada masa pre-menopause dan masa reproduksi. Hal ini karena tidak terjadi ovulasi, sehingga kadar hormon estrogen berlebihan sedangkan hormon progesteron rendah. Akibatnya dinding rahim (endometrium) mengalami penebalan berlebihan (hiperplasi) tanpa diikuti penyangga (kaya pembuluh darah dan kelenjar) yang memadai. Nah, kondisi inilah penyebab terjadinya perdarahan rahim karena dinding rahim yang rapuh. Di lain pihak, perdarahan tidak terjadi bersamaan. Permukaan dinding rahim di satu bagian baru sembuh lantas diikuti perdarahan di permukaan lainnya. Jadilah perdarahan rahim berkepanjangan. 4. Gambaran klinik Perdarahan rahim yang dapat terjadi tiap saat dalam siklus menstruasi. Jumlah perdarahan bisa sedikit-sedikit dan terus menerus atau banyak dan berulang. Kejadian tersering pada menarche (atau menarke: masa awal seorang wanita mengalami menstruasi) atau masa pre-menopause. a.Perdarahan ovulatori Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10 % dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek (polimenore) atau panjang (oligomenore). Untuk menegakan diagnosis perdarahan ovulatori perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Jira karena perdarhan yang lama dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi, maka Madangkadang bentuk survei suhu badan basal dapat menolong. Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya:

19

1. korpus luteum persistens Dalam hal ini dijumpai perdarahan Madang-kadang bersamaan dengan ovarium yang membesar. Sindrom ini harus dibedakan dari kelainan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan panggul sering menunjukan banyak persamaan antara keduanya. Korpus luteum persistens dapat menimbulkan pelepasan endometrium yagn tidak teratur (irregular shedding). Diagnosis ini di buat dengan melakukan kerokan yang tepat pada waktunya, yaitu menurut Mc. Lennon pada hari ke 4 mulainya perdarahan. Pada waktu ini dijumpai endometrium dalam tipe sekresi disamping nonsekresi. 2. insufisiensi korpus luteum Hal ini dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia atau polimenore. Dasarnya ahla kurangntya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan LH realizing factor. Diagnosis dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan. 3. apopleksia uteri Pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh darah dalam uterus. 4. kelainan darah Seperti anemia, purpura trombositopenik, dan gangguan dalam mekasnisme pembekuan darah. b. Perdarahan anovulatoir Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunya Kadar estrogen dibawah tingkat tertentutimbul perdarahan yang Madang-kadang bersifat siklik, Kadang-kadang tidak teratur sama sekali. Fluktuasi kadar estrogen ada sangkutpautnya dengan jumlah folikel yang pada statu waktu fungsional aktif. Folikel folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel folikel baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus dan dari endometrium yang mula-mula ploriferasidapat

20

terjadi endometrium bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran ini diperoleh pada kerokan maka dapat disimpulkan adanya perdarahan anovulatoir.Perdarahan fungsional dapat terjadi pada setiap waktu akan tetapi paling sering pada masa permulaan yaitu pubertas dan masa pramenopause. Pada masa pubertas perdarahan tidak normal disebabkan oleh karena gangguan atau keterlambatan proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bahwa pembuatan realizing faktor tidak sempurna. Pada masa pramenopause proses terhentinya fungsi ovarium tidak selalu berjalan lancar. Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada harapan lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovulatoir, pada seorang dewasa dan terutama dalam masa pramenopause dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas. Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun, tumor-tumor ovarium dan sebagainya. Akan tetapi disamping itu terdapat banyak wanita dengan perdarahan disfungsional tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut. Selain itu faktor psikologik juga berpengaruh antara lain stress kecelakaan, kematian, pemberian obat penenang terlalu lama dan lain-lain dapat menyebabkan perdarahanan ovulatoir
5.

Diagnosis

Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap harus dilakukan dalam pemeriksaan pasien. Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya penyakit sistemik, maka penyelidikan lebih jauh mungkin diperlukan. Abnormalitas pada pemeriksaan pelvis harus diperiksa dengan USG dan laparoskopi jika diperlukan. Perdarahan siklik (reguler) didahului oleh tanda premenstruasi (mastalgia, kenaikan berat badan karena meningkatnya cairan tubuh, perubahan mood, atau kram abdomen )

21

lebih cenderung bersifat ovulatori. Sedangkan, perdarahan lama yang terjadi dengan interval tidak teratur setelah mengalami amenore berbulan bulan, kemungkinan bersifat anovulatori. Peningkatan suhu basal tubuh ( 0,3 0,6 C ), peningkatan kadar progesteron serum ( > 3 ng/ ml ) dan atau perubahan sekretorik pada endometrium yang terlihat pada biopsi yang dilakukan saat onset perdarahan, semuannya merupakan bukti ovulasi. Diagnosis DUB setelah eksklusi penyakit organik traktus genitalia, terkadang menimbulkan kesulitan karena tergantung pada apa yang dianggap sebagai penyakit organik, dan tergantung pada sejauh mana penyelidikan dilakukan untuk menyingkirkan penyakit traktus genitalia. Pasien berusia dibawah 40 tahun memiliki resiko yang sangat rendah mengalami karsinoma endometrium, jadi pemeriksaan patologi endometrium tidaklah merupakan keharusan. Pengobatan medis dapat digunakan sebagai pengobatan lini pertama dimana penyelidikan secara invasif dilakukan hanya jika simptom menetap. Resiko karsinoma endometerium pada pasien DUB perimenopause adalah sekitar 1 persen. Jadi, pengambilan sampel endometrium penting dilakukan. 6. Pemeriksaan penunjang:

1. Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid , dan kadar HCG, FSH, LH, Prolaktin dan androgen serum jika ada indikasi atau skrining gangguan perdarahan jika ada tampilan yang mengarah kesana. 2. Deteksi patologi endometrium melalui (a) dilatasi dan kuretase dan (b) histeroskopi. Wanita tua dengan gangguan menstruasi, wanita muda dengan perdarahan tidak teratur atau wanita muda ( < 40 tahun ) yang gagal berespon terhadap pengobatan harus menjalani sejumlah pemeriksaan endometrium. Penyakit organik traktus genitalia mungkin terlewatkan bahkan saat kuretase. Maka penting untuk melakukan kuretase ulang dan investigasi lain yang sesuai pada seluruh kasus perdarahan uterus abnormal berulang atau berat. Pada wanita yang memerlukan

22

investigasi, histeroskopi lebih sensitif dibandingkan dilatasi dan kuretase dalam mendeteksi abnormalitas endometrium. 3. Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang tidak berhasil dalam uji coba terapeutik. 7. Penatalaksanaan

Setelah menegakkan diagnosa dan setelah menyingkirkan berbagai kemungkinan kelainan organ, teryata tidak ditemukan penyakit lainnya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan prinsip-prinsip pengobatan sebagai berikut: 1. Menghentikan perdarahan. 2. Mengatur menstruasi agar kembali normal. 3. Transfusi jika kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 8 gr%. Menghentikan perdarahan. Langkah-langkah upaya menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut: Kuret (curettage) hanya untuk wanita yang sudah menikah. Tidak bagi gadis dan tidak bagi wanita menikah tapi belum sempat berhubungan intim. Jenis- jenis obat (medikamentosa) yang dapat digunakan adalah : 1. Golongan estrogen. Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya: estradiol valerat (nama generik) yang relatif menguntungkan karena tidak membebani kinerja liver dan tidak menimbulkan gangguan pembekuan darah. Jenis lain, misalnya: etinil estradiol, tapi obat ini dapat menimbulkan gangguan fungsi liver. Dosis dan cara pemberian: Estrogen konjugasi (estradiol valerat): 2,5 mg diminum selama 7-10 hari. Benzoas estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler (melalui bokong). Jika perdarahannya banyak, dianjurkan menginap di RS (opname), dan diberikan Estrogen konjugasi (estradiol valerat): 25 mg secara intravenus perlahan-lahan (10-15 menit), dapat

23

diulang tiap 3-4 jam. Tidak boleh lebih 4 kali sehari. Estrogen intravena dosis tinggi ( estrogen konjugasi 25 mg setiap 4 jam sampai perdarahan berhenti ) akan mengontrol secara akut melalui perbaikan proliferatif endometrium dan melalui efek langsung terhadap koagulasi, termasuk peningkatan bermanfaat fibrinogen dan agregasi perdarahan trombosit. Terapi pada estrogen kasus menghentikan khususnya

endometerium atrofik atau inadekuat. Estrogen juga diindikasikan pada kasus DUB sekunder akibat depot progestogen ( Depo Provera ). Keberatan terapi ini ialah bahwa setelah suntikan dihentikan,perdarahan timbul lagi. 2. Obat Kombinasi Terapi siklik merupakan terapi yang paling banyak digunakan dan paling efektif. Pengobatan medis ditujukan pada pasien dengan perdarahan yang banyak atau perdarahan yang terjadi setelah beberapa bulan amenore. Cara terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral ; obat ini dapat dihentikan setelah 3 6 bulan dan dilakukan observasi untuk melihat apakah telah timbul pola menstruasi yang normal. Banyak pasien yang mengalami anovulasi kronik dan pengobatan berkelanjutan diperlukan. Paparan estrogen kronik dapat menimbulkan endometrium yang berdarah banyak selama penarikan progestin . Speroff menganjurkan pengobatan dengan menggunakan kombinasi kontrasepsi oral dengan regimen menurun secara bertahap. Dua hingga empat pil diberikan setiap hari setiap enam hingga duabelas jam , selama 5 sampai 7 hari untuk mengontrol perdarahan akut. Formula ini biasanya mengontrol perdarahan akut dalam 24 hingga 48 jam ; penghentian obat akan menimbulkan perdarahan berat. Pada hari ke 5 perdarahan ini, mulai diberikan kontrasepsi oral siklik dosis rendah dan diulangi selama 3 siklus agar terjadi regresi teratur endometrium yang berproliferasi berlebihan. Cara lain, dosis pil kombinasi dapat diturunkan bertahap ( 4 kali sehari, kemudian 3 kali sehari, kemudian 2 kali sehari )

24

selama 3 hingga 6 hari, dan kemudian dilanjutkan sekali setiap hari. Kombinasi kontrasepsi oral menginduksi atrofi endometrium, karena paparan estrogen progestin kronik akan menekan gonadotropin pituitari dan menghambat steroidogenesis endogen. Kombinasi ini berguna untuk tatalaksana DUB jangka panjang pada pasien tanpa kontraindikasi dengan manfaat tambahan yaitu mencegah kehamilan. Khususnya untuk pasien perimenarche, perdarahan berat yang lama dapat mengelupaskan endometrium basal, sehingga tidak responsif terhadap progestin. Kuretase untuk mengontrol perdarahan dikontraindikasikan karena tingginya resiko terjadinya sinekia intrauterin ( sindroma Asherman ) jika endometrium basal dikuret. OC aman pada wanita hingga usia 40 dan diatasnya yang tidak obes, tidak merokok dan tidak hipertensi. 3. Golongan progesterone Pertimbangan di sini ialah bahwa sebagian besar perdarahan fungsional bersifat anovulatoar, sehingga pemberian obat progesterone mengimbangi pengaruh estrogen terhadap endometrium. Obat untuk jenis ini, antara lain: Medroksi progesteron asetat (MPA): 10-20 mg per hari, diminum selama 7-10 hari. Norethisteron: 31 tablet, diminum selama 7-10 hari. Kaproas hidroksi-progesteron 125 mg secara intramuscular 4. OAINS Menorragia dapat dikurangi dengan obat anti inflamasi non steroid. Fraser dan Shearman membuktikan bahwa OAINS paling efektif jika diberikan selama 7 hingga 10 hari sebelum onset menstruasi yang diharapkan pada pasien DUB ovulatori, tetapi umumnya dimulai pada onset menstruasi dan dilanjutkan selama espisode perdarahan dan berhasil baik. Obat ini mengurangi kehilangan darah selama menstruasi ( mensturual blood loss / MBL ) dan manfaatnya paling besar pada DUB ovulatori dimana jumlah pelepasan prostanoid paling tinggi serta mengatur menstruasi agar kembali

25

normal. Setelah perdarahan berhenti, langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk mengatur siklus menstruasi, misalnya dengan pemberian: Golongan progesteron: 21 tablet diminum selama 10 hari. Minum obat dimulai pada hari ke 14-15 menstruasi. Transfusi jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%. Terapi yang ini diharuskan pasiennya untuk menginap di Rumah Sakit atau klinik. Sekantong darah (250 cc) diperkirakan dapat menaikkan kadar hemoglobin (Hb) 0,75 gr%. Ini berarti, jika kadar Hb ingin dinaikkan menjadi 10 gr% maka kira-kira perlu sekitar 4 kantong darah 2.8 Prognosis Hasil pengobatan bergantung kepada proses perjalanan penyakit (patofisiologi). Penegakan diagnosa yang tepat dan regulasi hormonal secara dini dapat memberikan angka kesembuhan hingga 90 %. Pada wanita muda, yang sebagian besar terjadi dalam siklus anovulasi, dapat diobati dengan hasil baik.

26

BAB IV HIPERPLASIA ENDOMETRIUM 1. Anatomi dan Fisiologi Endometrium

Uterus adalah organ muscular yang berbentuk buah pir yang terletak di dalam pelvis dengan kandung kemih di anterior dan rectum di posterior. Uterus biasanya terbagi menjadi korpus dan serviks. Korpus dilapisi oleh endometrium dengan ketebalan bervariasi sesuai usia dan tahap siklus menstruasi. Endometrium tersusun oleh kelenjar-kelenjar endometrium dan sel-sel stroma mesenkim, yang keduanya sangat sensitive terhadap kerja hormone seks wanita. Hormon yang ada di tubuh wanita yaitu estrogen dan progesteron mengatur perubahan endometrium, dimana estrogen merangsang pertumbuhan dan progesterone mempertahankannya.1

27

Pada ostium uteri internum, endometrium bersambungan dengan kanalis endoserviks, menjadi epitel skuamosa berlapis. Endometrium adalah lapisan terdalam pada rahim dan tempatnya menempelnya ovum yang telah dibuahi. Di dalam lapisan Endometrium terdapat pembuluh darah yang berguna untuk menyalurkan zat makanan ke lapisan ini. Saat ovum yang telah dibuahi (yang biasa disebut fertilisasi) menempel di lapisan endometrium (implantasi), maka ovum akan terhubung dengan badan induk dengan plasenta yang berhubung dengan tali pusat pada bayi. Lapisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan,agar hasil konsepsi bisa tertanam. Pada suatu fase dimana ovum tidak dibuahi oleh sperma, maka kurpus luteum akan berhenti memproduksi hormon progesteron dan berubah menjadi korpus albikan yang menghasilkan sedikit hormon diikuti meluruhnya lapisan endometrium yang telah menebal, karena hormon estrogen dan progesteron telah berhenti diproduksi. Pada fase ini, biasa disebut menstruasi atau peluruhan dinding rahim.3 2. Siklus Endometrium Normal Endometrium normal menunjukkan perubahan siklik yang disebabkan oleh perubahan terkait dalam produksi hormon ovarium. Pemeriksaan histologik endometrium pada specimen biopsy atau kuretase memungkinkan evaluasi fase siklus endometrium. Bersama dengan riwayat menstruasi pasien, hal ini dapat memberikan informasi penting mengenai kemungkinan penyebab perdarahan uterus abnormal.1 Siklus endometrium terbagi menjadi fase proliferative praovulasi yang merupakan akibat stimulasi estrogen dan fase sekresi pascaovulasi yang diatur oleh sekresi progesterone korpus luteum. Hari pertama siklus adalah mulainya menstruasi.

28

Pada fase proliferative, terjadi pembentukan kembali endometrium yang terlepas dari basal dan gambaran mitotic pada sel-sel stroma maupun kelenjar. Endometrium menebal, dan kelenjar mulai menjadi berkelok-kelok. Fase sekretori dimulai setelah ovulasi dengan sekresi progesterone luteum. Bukti histologis pertama bahwa endometrium berada dalam fase sekretorik terlihat 2 sampai 4 hari setelah ovulasi, ketika vakuol sekretorik subinti muncul di dalam kelenjar. Kemudian, sekresi hal tersebut bergerak ke puncak sel inti bergerak kembali ke dasar. Edema stroma tampak pada hari ke tujuh pascaovulasi. Kelenjar tersebut menjadi lebih berkelok-kelok secara progresif dan secara tipikal ujungnya berbentuk seperti gerigi pada siklus. Arteriol spiral menjadi menonjol pada hari ke sembilan setelah ovulasi. Mulai pada hari ke sembilan setelah ovulasi, sel-sel stroma menjadi lebih besar, dengan peningkatan kandungan glikogen dan banyaknya sitoplas (perubahan pradesidua). Pada saat fertilisasi tidak terjadi, neutrofil tampak di dalam stroma sekitar 13 hari setelah ovulasi, disertai dengan meningkatnya perdarahan dan nekrosis fokal kelenjar. (fase pramenstruasi). Dalam fase sekretorik siklus ini, histology endometrium memungkinkan penilaian yang sangat akurat (dalam 2 hari) mengenai tanggal siklus tersebut dalam kaitan dengan ovulasi. Menstruasi terjadi akibat penurunan mendadak estrogen dan progesterone akibat degenerasi korpus luteum. Arteriol spiral kolaps, menyebabkan degenerasi iskemik pada endometrium. Endometrium menstrual menunjukkan terlepasnya kelenjar, perdarahan, dan infiltrasi oleh leukosit neutrofil. Keseluruhan permukaan endometrium hingga lapisan basal terlepas selama menstruasi, keseluruhan proses ini memerlukan waktu 3-5 hari.1 3. Hiperplasia Endometrium 3.1. Definisi

Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebih dari kelenjar, dan stroma disertai pembentukan vaskularisasi dan infiltrasi limfosit pada endometrium. Bersifat noninvasif, yang memberikan gambaran morfologi berupa

29

bentuk kelenjar yang irreguler dengan ukuran yang bervariasi. Pertumbuhan ini dapat mengenai sebagian maupun seluruh bagian endometrium.3

Hyperplasia endometrium juga didefenisikan sebagai lesi praganas yang disebabkan oleh stimulasi estrogen yang tanpa lawan. Hal ini biasanya terjadi sekitar atau setelah menopause dan terkait dengan perdarahan uterus berlebihan dan ireguler.1 Menurut referensi lain, hiperplasia endometrium adalah suatu masalah dimana terjadi penebalan/pertumbuhan berlebihan dari lapisan dinding dalam rahim (endometrium), yang biasanya mengelupas pada saat menstruasi.3 Hiperplasia endometrium biasa terjadi akibat rangsangan / stimulasi hormon estrogen yang tidak diimbangi oleh progesteron. Pada masa remaja dan beberapa tahun sebelum menopause sering terjadi siklus yang tidak berovulasi sehingga pada masa ini estrogen tidak diimbangi oleh progesteron dan terjadilah hiperplasia. Kejadian ini juga sering terjadi pada ovarium polikistik yang ditandai dengan kurangnya kesuburan (sulit hamil).4 3.2. Klasifikasi

Risiko keganasan berkorelasi dengan keparahan hyperplasia, sehingga diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Hyperplasia sederhana (hyperplasia ringan). Dicirikan dengan peningkatan jumlah kelenjar proliferative tanpa atipia sitologik. Kelenjar tersebut,

30

meskipun berdesakan dipisahkan oleh stroma selular padat dan memiliki berbagai ukuran. Pada beberapa kasus, pembesaran kelenjar secara kistik mendominasi (hyperplasia kistik). Risiko karsinoma endometrium sangat rendah. 2) Hyperplasia kompleks tanpa atipia (hyperplasia sedang/hyperplasia adenomatosa). Menunjukkan peningkatan jumlah kelenjar dengan posisi berdesakan. Epitel pelapis berlapis dan memperlihatkan banyak gambaran mitotic. Sel-sel pelapis mempertahankan polaritas normal dan tidak menunjukkan pleomorfisme atau atipia sitologik. Stroma selular padat masih terdapat di antara kelenjar. 3) Hyperplasia kompleks dengan atipia (hyperplasia berat/hyperplasia adenomatosa atipikal). Dicirikan dengan berdesakannya kelenjar dengan kelenajr yang saling membelakangi dan nyatanya atipia sitologik yang ditandai dengan pleomorfisme, hiperkromatisme dan pola kromatin inti abnormal. Hyperplasia kompleks dengan atipia menyatu dengan adenokarsinoma in situ pada endometrium dan menimbulkan risiko karsinoma endometrium yang tinggi.1,2 3.3. Pathogenesis

Hiperplasia endometrium ini diakibatkan oleh hiperestrinisme atau adanya stimulasi unoppesd estrogen (estrogen tanpa pendamping progesteron / estrogen tanpa hambatan). Kadar estrogen yang tinggi ini menghambat produksi Gonadotrpin (feedback mechanism). Akibatnya rangsangan terhadap pertumbuhan folikel berkurang, kemudian terjadi regresi dan diikuti perdarahan. Pada wanita perimenopause sering terjadi siklus yang anovulatoar sehingga terjadi penurunan produksi progesteron oleh korpus luteum sehingga estrogen tidak diimbangi oleh progesteron. Akibat dari keadaan ini adalah terjadinya stimulasi hormon estrogen terhadap kelenjar maupun stroma endometrium tanpa ada hambatan dari progesteron yang menyebabkan proliferasi berlebih dan terjadinya hiperplasia pada endometrium. Juga terjadi pada wanita

31

usia menopause dimana sering kali mendapatkan terapi hormon penganti yaituprogesteron dan estrogen, maupun estrogen saja. Estrogen tanpa pendamping progesterone (unoppesd estrogen) akan menyebabkan penebalan endometrium. Peningkatan estrogen juga dipicu oleh adanya kista ovarium serta pada wanita dengan berat badan berlebih. 3.4. Gejala Klinis

Siklus menstruasi tidak teratur, tidak haid dalam jangka waktu lama (amenorrhoe) ataupun menstruasi terus-menerus dan banyak (metrorrhagia). Selain itu, akan sering mengalami flek bahkan muncul gangguan sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya. Dampak berkelanjutan dari penyakit ini, adalah penderita bisa mengalami kesulitan hamil dan terserang anemia berat. Hubungan suami-istri pun terganggu karena biasanya terjadi perdarahan yang cukup parah. 3.5. Factor Risiko

Hiperplasia Endometrium seringkali terjadi pada sejumlah wanita yang memiliki resiko tinhggi : 1. Sekitar usia menopause 2. Didahului dengan terlambat haid atau amenorea 3. Obesitas ( konversi perifer androgen menjadi estrogen dalam jaringan lemak ) 4. Penderita Diabetes melitus 5. Pengguna estrogen dalam jangka panjang tanpa disertai pemberian progestin pada kasus menopause 6. PCOS polycystic ovarian syndrome 7. Penderita tumor ovarium dari jenis granulosa theca cell tumor

32

3.6.

Diagnosis

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa hyperplasia endometrium dengan cara USG, Dilatasi dan Kuretase, lakukan pemeriksaan Hysteroscopy dan dilakukan juga pengambilan sampel untuk pemeriksaan PA. Secara mikroskopis sering disebut Swiss cheese patterns. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

Pada wanita pasca menopause ketebalan endometrium pada pemeriksaan ultrasonografi transvaginal kira kira < 4 mm. Untuk dapat melihat keadaan dinding cavum uteri secara lebih baik maka dapat dilakukan pemeriksaan hysterosonografi dengan memasukkan cairan kedalam uterus. Biopsy Diagnosis hiperplasia endometrium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan biopsi yang dapat dikerjakan secara poliklinis dengan menggunakan mikrokuret. Metode ini juga dapatmenegakkan diagnosa keganasan uterus.

33

Dilatasi dan Kuretase Dilakukan dilatasi dan kuretase untuk terapi dan diagnosa perdarahan uterus. Histeroskopi Histeroskopi adalah tindakan dengan memasukkan peralatan teleskop kecil kedalam uterusuntuk melihat keadaan dalam uterus dengan peralatan ini selain melakukan inspeksi juga dapat dilakukan tindakan pengambilan sediaan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi. 3.7. Diagnosis Banding

Hiperplasia mempunyai gejala perdarahan abnormal oleh sebab itu dapat dipikirkan kemungkinan: 1) karsinoma endometrium, 2) abortus inkomplit 3) leiomioma 3.8. Terapi 4) Polip

Terapi atau pengobatan bagi penderita hiperplasia, antara lain sebagai berikut: 1) Tindakan kuretase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan. 2) Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan sebagainya. Rata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar 3-4 bulan, gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi. Terapi progestin sangat efektif dalam mengobati hiperplasia

34

endometrial tanpa atipi, akan tetapi kurang efektif untuk hiperplasia dengan atipi. Terapi cyclical progestin (medroxyprogesterone asetat 10-20 mg/hari untuk 14 hari setiap bulan) atau terapi continuous progestin (megestrol asetat 20-40 mg/hari) merupakan terapi yang efektif untuk pasien dengan hiperplasia endometrial tanpa atipi. Terapi continuous progestin dengan megestrol asetat (40 mg/hari) kemungkinan merupakan terapi yang paling dapat diandalkan untuk pasien dengan hiperplasia atipikal atau kompleks. Terapi dilanjutkan selama 2-3 bulan dan dilakukan biopsi endometrial 3-4 minggu setelah terapi selesai untuk mengevaluasi respon pengobatan. 3) Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan, biasanya akan diganti dengan obat-obatan lain. Tanda kesembuhan penyakit hiperplasia endometrium yaitu siklus haid kembali normal. Jika sudah dinyatakan sembuh, ibu sudah bisa mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehamilan. Namun alangkah baiknya jika terlebih dahulu memeriksakan diri pada dokter. Terutama pemeriksaan bagaimana fungsi endometrium, apakah salurannya baik, apakah memiliki sel telur dan sebagainya. 4) Khusus bagi penderita hiperplasia kategori atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan satu-satunya adalah menjalani operasi pengangkatan rahim. Penyakit hiperplasia endometrium cukup merupakan momok bagi kaum perempuan dan kasus seperti ini cukup dibilang kasus yang sering terjadi, maka dari itu akan lebih baik jika bisa dilakukan pencegahan yang efektif. 3.9. Prognosis

Umumnya lesi pada hiperplasia atipikal akan mengalami regresi dengan terapi progestin, akan tetapi memiliki tingkat kekambuhan yang lebih tinggi ketika terapi dihentikan dibandingkan dengan lesi pada hiperplasia tanpa atipi. Penelitian terbaru menemukan bahwa pada saat histerektomi 62,5% pasien dengan hiperplasia endometrium atipikal yang tidak diterapi ternyata juga

35

mengalami karsinoma endometrial pada saat yang bersamaan. Sedangkan pasien dengan hiperplasia endometrial tanpa atipi yang di histerektomi hanya 5% diantaranya yang juga memiliki karsinoma endometrial. 3.10. Pencegahan

Langkah-langkah yang bisa disarankan untuk pencegahan, seperti : 1. Melakukan pemeriksaan USG dan / atau pemeriksaan rahim secara rutin, untuk deteksi dini ada kista yang bisa menyebabkan terjadinya penebalan dinding rahim. 2. Melakukan konsultasi ke dokter jika mengalami gangguan seputar menstruasi apakah itu haid yang tak teratur, jumlah mestruasi yang banyak ataupun tak kunjung haid dalam jangka waktu lama. 3. Penggunaan etsrogen pada masa pasca menopause harus disertai dengan pemberian progestin untuk mencegah karsinoma endometrium. 4. Bila menstruasi tidak terjadi setiap bulan maka harus diberikan terapi progesteron untuk mencegah pertumbuhan endometrium berlebihan. Terapi terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral kombinasi. 5. Rubah gaya hidup untuk menurunkan berat badan.

36

BAB V KESIMPULAN Menometroragia, yaitu perdarahan yang terjadi dengan interval yang tidak teratur disertai perdarahan yang banyak dan lama Sebab-sebab organik Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium dapat disebabkan olah kelainan atau penyakit pada serviks korpus uteri, tuba fallopii, ovarium itu sendiri. Hiperplasia Endometrium adalah suatu kondisi di mana lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh secara berlebihan. Kondisi ini merupakan proses yang jinak (benign), tetapi pada beberapa kasus (hiperplasia tipe atipik) dapat menjadi kanker rahim. Hormon yang ada di tubuh wanita: estrogen dan progesteron mengatur perubahan endometrium, dimana estrogen merangsang pertumbuhannya dan progesteron mempertahankannya. Sekitar pertengahan siklus haid, terjadi ovulasi (lepasnya sel telur dari indung telur). Jika sel telur ini tidak dibuahi (oleh sperma), maka kadar hormon (progesteron) akan menurun, sehingga timbullah haid/menstruasi. Pada saat mendekati menopause, kadar hormon2 ini berkurang. Setelah menopause wanita tidak lagi haid, karena produksi hormon ini sangat sedikit sekali. Untuk mengurangi keluhan/gejala menopause sebagian wanita memakai hormon pengganti dari luar tubuh (terapi sulih hormon), bisa dalam bentuk kombinasi estrogen + progesteron ataupun estrogen saja.

37

Risiko terjadinya hiperplasia endometrium bisa tinggi pada: usia sekitar menopause, menstruasi yang tidak beraturan atau tidak ada haid sama sekali, overweight, diabetes, SOPK (PCOS), mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron dalam mengatasi gejala menopause. Gejalanya yang biasa/sering adalah perdarahan pervaginam yang tidak normal (bisa haid yang banyak dan memanjang). Pada kebanyakan kasus hiperplasia dapat diobati dengan obat-obatan yaitu dengan memakai progesteron. Progesteron menipiskan/menghilangkan penebalan serta mencegahnya tidak menebal lagi. Namun pemakain progesteron ini menimbulkan bercak (spotting).

38

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo. S, Ilmu Kebidanan, Ed. III, cet.II, Jakarta, Yayasan Bina

Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1992,hal.365-376.


2. Bagian Obstetri & Ginekologi Fak. Kedokteran Universitas Sumatera

Utara/R.S Dr. Pringadi Medan, Pedoman Diagnosis dan Therapi ObstetriGinekologi R.S. Dr. Pringadi Medan, 1993, hal 6-10,

3. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung.

Obstetri Patologi. Bandung: Elstar offset, 1982; 110-27. 4.. Manuaba bagus ida. Reproduksi wanita Arcan, Jakarta, 2005. 5. Prawirohardjo sarwono, Ilmu Kebidanan, PT BPSSP, Jakarta 2009. 6. B, Achmad. Ilmu Kesehatan Reproduksi Ginekologi. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

39