Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

1. DAFTAR ISI1 2. BAB I : PENDAHULUAN.2 3. BAB II : PEMBAHASAN.......3 2.1 Anatomi dan fisiologi.......3-10 2.2. Definisi 2.3 Etiologi 2.4 Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik 2.4 2.5 Patofisiologi 2.6.Penatalaksanaan 2.7 Komplikasi 4. BAB III : KESIMPULAN 5. BAB IV : DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
Sinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerja sama dengan PERHATI dan Bagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi. Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien, 69%nya adalah sinusitis.1 Manusia mempunyai beberapa rongga di sepanjang atap dan bagian lateral rongga hidung. Rongga rongga ini diberi nama sinus yang kemudian diberi nama sesuai dengan letaknya: sinus maxillaris, sinus frontalis, sinus sphenoidalis dan sinus ethmoidalis (sinus paranasalis). Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernapasan yang mengalami modifikasi dan mampu menghasilkan mukus dan bersilia, sekret disalurkan ke dalam rongga hidung. Pada orang sehat, sinus terutama berisi udara.2 Penyebab utamanya ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila. Yang berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat dihindari. Berbeda dengan sinusitis akut, sinusitis kronis biasanya sukar disembuhkan dan hasil pengobatan sering mengecewakan, baik untuk dokter dan terutama untuk penderita. Penderita biasanya mempunyai keluhan hidung tersumbat, sakit kepala, cairan mengalir dibelakang hidung, hidung berbau dan penciuman berkurang.6 Berbagai etiologi dan faktor predisposisi berperan dalam timbulnya penyakit ini, seperti deviasi septum, polip kavum nasi, tumor hidung dan nasofaring serta alergi.6 Menurut Lucas seperti yang dikutip Moh. Zaman , etiologi sinusitis adalah sangat kompleks. Hanya 25% disebabkan oleh infeksi, selebihnya 75% disebabkan oleh alergi dan ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahanperubahan pada mukosa sinus.3

BAB II PEMBAHASAN
1. Anatomi sinus paranasal Terdapat empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sphenoid kanan dan kiri. Ada 2 golongan besar sinus paranasalis, yaitu golongan anterior sinus paranasalis, yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis anterior, dan sinus maksilaris. Serta golongan posterior sinus paranasalis, yaitu sinus etmoidalis posterior dan sinus sfenoidalis. (7,8,9) Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus memiliki muara atau ostium ke dalam rongga hidung. Sinus-sinus udara paranasalis berkembang sebagai divertikula dinding lateral hidung dan meluas ke dalam tulang maksila, tulang etmoid frontalis, dan tulang sfenoid. Sinus-sinus ikut membentuk wajah yang tetap. (3,9)

Gambar 1 : Anatomi Sinus

Sinus Maksilaris (7,8) Sinus maksilaris (Antrum of Highmore) adalah sinus yang pertaama berkembang. Struktur ini pada umumnya berisi cairan pada kelahiran. Pertumbuhan dari sinus ini adalah bifasik dengan pertumbuhan selama 0-3 tahun dan 7-12 tahun. Sepanjang pneumatisasi kemudian menyebar ke tempat yang rendah dimana gigi yang permanen mengambil tempat mereka. Pneumatisasinya dapat sangat luas sampai akar gigi hanya satu lapisan yang tipis dari jaringan halus yang mencakup mereka. Sinus maksilaris orang dewasa berbentuk piramida dan mempunyai volume kira-kira 15 ml (34 x 33 x 23 mm). dasar dari piramida adalah dinding nasal dengan puncak yang menunjuk ke arah processus zigomatikum. Dinding anterior mempunyai foramen intraorbital yang berada pada bagian midsuperior dimana nervus intraorbital berjalan di atas atap sinus dan keluar melalui foramen ini. Bagian tertipis dari dinding anterior adalah sedikit diatas fossa canina. Atap dibentuk oleh dasar orbita dan di transeksi oleh n.infraorbita. dinding posterior tidak bisa ditandai. Di belakang dari dinding ini adalah fossa pterygomaxillaris dengan a.maksilaris interna, ganglion sfenopalatina dan saluran vidian, n.palatina mayor dan foramen rotundum. Dasar dari sinus bervariasi tingkatannya. Sejak lahir sampai umur 9 tahun dasar dari sinus adalah di atas rongga hidung. Pada umur 9 tahun dasar dari sinus secara umum sama dengan dasar nasal. Dasar sinus berlanjut menjadi pneumatisasi sinus maksilaris. Oleh karena itu berhubungan dengan penyakit gigi di sekitar gigi rahang atas, yaitu premolar dan molar. Cabang dari a.maksilaris interna mendarahi sinus ini. Termasuk infraorbita, cabang a.sfenopalatina, a.palatina mayor, v.aksilaris dan v.jugularis system dural sinus. Sedangkan persarafan sinus maksila oleh cabang dari n.V.2 yaitu n.palatina mayor dan cabang dari n.infraorbita. Ostium sinus maksilaris terletak di bagian superior dari dinding medial sinus. Intranasal biasanya terletak pada pertengahan posterior infundibulum etmoid, atau disamping 1/3 bawah processus uncinatus. Ukuran ostium ini rata-rata 2,4 mm tapi dapat bervariasi. 88% dari ostium sinus maksilaris bersembunyi di belakang processus uncinatus sehingga tidak bisa dilihat secara endoskopi.

Sinus Etmoidalis (8) Sinus etmoid adalah struktur yang berisi cairan pada bayi yang baru dilahirkan. Selama masih janin perkembangan pertama sel anterior diikuti oleh sel posterior. Sel tumbuh secara berangsur-angsur sampai usia 12 tahun. Sel ini tidak dapat dilihat dengan sinar x sampai usia 1 tahun. Septa yang ada secara berangsur-angsur menipis dan pneumatisasi berkembang sesuai usia. Sel etmoid bervariasi dan sering ditemukan di atas orbita, sfenoid lateral, ke atap maksila dan sebelah anterior diatas sinus frontal. Peyebaran sel etmoid ke konka disebut konka bullosa. Gabungan sel anterior dan posterior mempunyai volume 15 ml (33 x 27 x 14 mm). Bentuk ethmoid seperti piramid dan diabgi menjadi sel multipel oleh sekat yang tipis. Atap dari ethmoid dibentuk oleh berbagai struktur yang penting. Sebelah anterior posterior agak miring (15o). 2/3 anterior tebal dan kuat dibentuk oleh os frontal dan foveola etmoidalis. 1/3 posterior lebih tinggi sebelah lateral dan sebelah medial agak miring ke bawah ke arah lamina kribiformis. Perbedaan berat antara atap medial dan lateral bervariasi antara 15-17 mm. sel etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.

Gambar 2:Struktur Terkait Sinus Ethmoidalis Diunduh dari http://dic.academic.ru/pictures/enwiki/71/Gray856.png pada tanggal 22 Agustus pukul 18.40

Sinus etmoid mendapat aliran darah dari a.karotis eksterna dan interna dimana a.sfenopalatina dan a.oftalmika mendarahi sinus dan pembuluh venanya mengikuti arterinya. Sinus etmoid dipersarafi oleh n V.1 dan V.2, n V.1 mensarafi bagian superior sedangkan sebelah inferior oleh n V.2. persarafan parasimpatis melalui n.vidianus, sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion servikal. Sel di bagian anterior menuju lamela basal. Pengalirannya ke meatus media melalui infundibulum etmoid. Sel yang posterior bermuara ke meatus superior dan berbatasan dengan sinus sfenoid. Sel bagian posterior umumnya lebih sedikit dalam jumlah namun lebih besar dalam ukuran dibandingkan dengan sel bagian anterior. Bula etmoid terletak diatas infundibulum dan permukaan lateral inferiornya, dan tepi superior prosesus uncinatus membentuk hiatus semilunaris. Ini merupakan sel etmoid anterior yang terbesar. Infundibulum etmoid perkembanganya mendahului sinus. Dinding anterior dibentuk oleh prosesus uncinatus, dinding medial dibentuk oleh prosesus frontalis os maksila dan lamina papyracea. Sinus Frontalis (7,8) Sinus frontalis sepertinya dibentuk oleh pergerakan ke atas dari sebagian besar sel-sel etmoid anterior. Os frontal masih merupakan membran pada saat kelahiran dan mulai mengeras sekitar usia 2 tahun. Perkembangan sinus mulai usia 5 tahun dan berlanjut sampai usia belasan tahun. Volume sinus ini sekitar 6-7 ml (28 x 24 x 20 mm). anatomi sinus frontalis sangat bervariasi tetapi secara umum ada dua sinus yang terbentuk seperti corong. dinding posterior sinus yang memisahkan sinus frontalis dari fosa kranium anterior lebih tipis dan dasar sinus ini juga berfungsi sebagai bagian dari atap rongga mata. Sinus frontalis mendapatkan perdarahan dari a.oftalmika melalui a.supraorbita dan supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui v.oftalmica superior menuju sinus kavernosus dan melalui vena-vena kecil di dalam dinding posterior yang mengalir ke sinus dural. Sinus frontalis dipersarafi oleh cabang n V.1. secara khusus, nervus-nervus ini meliputi cabang supraorbita dan supratrochlear.
6

Sinus Sfenoidalis (8) Sinus sfenoidalis sangat unik karena tidak terbentuk dari kantong rongga hidung. Sinus ini dibentuk dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak berkembang sampai usia 3 tahun. Usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sela turcica. Sinus mencapai ukuran penuh pada usia 18 tahun.

Gambar 3: Struktur terkait Sinus Sfenoid Diunduh dari http://www.nyee.edu/images/ent_rss_sts_008.jpg pada tanggal 22 Agustus pukul 18.42

Usia belasan tahun, sinus ini sudah mencapai ukuran penuh dengan volume 7,5 ml (23 x 20 x 17 mm). pneumatisasi sinus ini, seperti sinus frontalis, sangat bervariasi. Secara umum merupakan struktur bilateral yang terletak posterosuperior dari rongga hidung. Dinding sinus sphenoid bervariasi ketebalannya, dinding anterosuperior dan dasar sinus paling tipis (1-1,5 mm). dinding yang lain lebih tebal. Letak dari sinus oleh karena hubungan anatominya tergantung dengan tingkat pneumatisasi. Ostium sinus sfenoidalis bermuara ke recessus sfenoetmoidalis. Ukurannya sangat kecil (0,5 -4 mm) dan letaknya 10 mm di atas dasar sinus. Atap sinus sfenoid diperdarahi oleh a.ethmoid posterior, sedangkan bagian lainnya mendapat aliran darah dari a.sfenopalatina. Aliran vena melalui v.maksilaris ke v.jugularis dan pleksus pterigoid. sinus sfenoid dipersarafi oleh cabang n V.1 dan V.2. n.nasociliaris berjalan menuju n.etmoid posterior dan mempersarafi atap sinus. Cabang-cabang n.sfenopalatina mempersarafi dasar sinus.

Mukosa Sinus Paranasal (4,8) Sinus-sinus ini dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang berkesinambunagn dengan mukosa di rongga hidung. Epitel sinus ini lebih tipis dari epitel hidung. Ada 4 tipe sel dasar, yaitu epitel torak bersilia, epitel torak tidak bersilia, sel basal dan sel goblet. Sel-sel bersilia memiliki 50-200 silia per sel. Data penelitian menunjukan sel ini berdetak 700-800 kali per menit, dan pergerakan mukosa pada suatu tingkat 9 mm per menit. Sel tidak bersilia ditandai oleh mikrovili yang menutupi daerah apikal sel dan berfungsi untuk meningkatkan area permukaan. Ini penting untuk meningkatkan konsentrasi dari ostium sinus. Fungsi sel basal belum diketahui. Beberapa teori menjelaskan bahwa sel basal dapat bertindak sebagai suatu sel stem. Sel goblet memproduksi glikoprotein yang berfungsi untuk viskositas dan elastisitas mukosa. Sel goblet dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis dimana rangsangan saraf parasimpatis menhasilkan mukus yang kental dan rangsangan saraf simpatis bekerja sebaliknya. Lapisan epitel disokong oleh suatu dasar membran yang tipis, lamina propia, dan periosteum. FISIOLOGI SINUS PARANASAL Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan fungsi dari sinus paranasal. Teori ini meliputi fungsi dari kelembaban udara inspirasi, membantu pengaturan tekanan intranasal dan tekanan serum gas, mendukung pertahanan imunitas, meningkatkan area permukaan mukosa, meringankan volume tengkorak, membantu resonansi suara, menyerap goncangan dan mendukung pertumbuhan muka. (8) Mengatur Kelebaban Udara Inspirasi (7,8) Menurut beberapa teori walaupun mukosa hidung telah beradaptasi untuk melakukan fungsi ini, sinus tetap berperan pada area permukaan mukosa dan kemampuannya untuk menghangatkan. Beberapa peneliti memperlihatkan bahwa bernafas dengan mulut dapat menurunkan volume akhir CO2 yang dapat meningkatkan kadar CO2 serum dan berperan pada sleep apnea.

Meskipun sinus dianggap dapat berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara inspirasi, namun teori ini memiliki kelemahan karena tidak didapati pertukaran udara yang definitif antara sinus dan rongga hidung. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. Selain itu mukosa sinus juga tidak memiliki vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung. Penyaringan Udara Oleh karena produksi mukosa sinus, mereka berperan pada pertahanan imun atau penyaringan udara yang dilakukan oleh hidung. Hidung dan mukosa sinus terdiri dari sel silia yang berfungsi untuk menggerakan mukosa ke koana. Penelitian yang paling terbaru pada fungsi sinus berfokus pada molekul Nitrous Oxide (NO). studi menunjukkan bahwa produksi NO intranasal adalah secara primer pada sinus. Telah kita ketahui bahwa NO bersifat racun terhadap bakteri, jamur dan virus pada tingkatan sama rendah 100 ppb. Konsentrasi ini dapat menjangkau 30.000 ppb dimana beberapa peneliti sudah berteori tentang sterilisasi sinus. NO juga meningkatkan pergerakan silia.(8) Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal jumlahnya kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, merupakan tempat yang paling strategis. Fungsi Sinus Lainnya (7) Sinus diyakini dapat membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka, namun bila udara dalam sinus digantikan dengan tulang, hanya akan memberikan pertambahan berat sebanyak 1% dari berat kepala, sehingga dianggap tidak bermakna. Sinus juga dianggap berfungsi sebagai peredam perubahan tekanan udara apabila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak seperti pada saat bersin atau membuang ingus. Sinus tidak mempunyai fungsi fisiologis yang nyata. Beberapa peneliti mendukung opini bahwa sinus juga berfungsi sebgai indra penghidu dengan jalan memudahkan perluasan dari etmokonka, terutama sinus frontalis dan sinus etmoidalis. Namun menurut penelitian lainnya,
9

etmokonka manusia telah menghilang selama proses evolusi. Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi kualitas suara. Namun ada teori yang menyatakan bahwa posisi sinus dan dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. 2.2 Definisi sinusitis Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal.Umumnya disertai atau dipicu oleh rininitis sehingga sering disebut rinosinusitis.Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis,sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis.Sinus maksila disebut juga antrum Highmore,letaknya dekat akar gigi rahang atas,maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus,disebut sinusitis dentogen.Sinusitis maksilaris dentogen hamper selalu merupakan peradangan unilateral kronis.FKUI+dasar 2.3 Etiologi dan faktor predisposisi Penyebab utamanya ialah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri.Beberapa faktor etiologi dan predisposisi yang lain antara lain infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) akibat virus ,bermacam rhinitis terutama rhinitis alergi,rhinitis hormonal pada wanita hamil,polip hidung,kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka,sumbatan kompleks ostio-meatal (KOM),infeksi tonsil,infeksi gigi,kelainan immunologik,diskinesia silia seperti pada sindroma Kartagener dan di luar negeri adalah penyakit fibrostik kistik. Pada anak ,hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk hilangkan sumbatan dan menyembuhkan sinusitisnya. Hipertrofi adenoid dapat didiagnosis dengan foto polos leher posisi lateral. Faktor lain juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi,udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok.Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.

10

2.4 Patofisiologi Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam KOM.Mukus juga mengandungi substansi antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema ,mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat . Akibatnya terjadinya tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi ,mula-mula serous.Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Bila kondisi ini menetap ,sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri.Sekret menjadi purulen.Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak berhasil ,inflamasi berlanjut terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang.Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi,polipoid atau pembentukan polid dan kista.Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.

11

2.5 Klasifikasi dan Mikrobiologi Konsensus internasional tahun 1995 membagi rinosinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu dan kronik jika lebih dari 8 minggu.Konsensus 2004 membagi akut menjadi akut dengan batas sampai 4 minggu,subakut antara 4 minggu sampai 3 bulan dan kronik jika lebih dari 3 bulan. Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjtan dari sinusitis akut yang tidak terobati secara adekuat.Pada sinusitis kronik adanya faktor predisposisi harus dicari dan diobati secara tuntas. Menurut pelbagai penelitian ,bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah Streptococcus Pneumonia (30-50%), Hemophylus Influenza (20-40%) dan Moraxella Catarrhalis (4%).Pada anak, M.Catarrhalis lebih banyak ditemukan.Pada sisnusitis

kronik,fraktor predisposisi lebih berperan,tetapi umumnya bakteri yang ada lebih condong kearah bakteri gram negatif dan anaerob. 2.6 Sinusitis Akut 2.6.1 Sinusitis Maksilaris Sinusitis maksilaris akut biasanya menyusul suatu infeksi saluran napas atas yang ringan . Alergi hidung hidung kronik,benda asing dan deviasi septum nasi merupakan faktor-faktor predisposisi local yang paling sering ditemukan. Gejala infeksi sinus maksilaris akut berupa demam,malaise dan nyeri kepala yang tidak jelas yang biasanya reda dengan pemberian analgetik biasa seperti aspirin.Wajah terasa bengkak,penuh dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak,misalnya sewaktu naik atau turun tangga.Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk,serta nyeri pada palpasi dan perkusi.Sekret mukoperulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. Selama berlangsungnya sinusitis maksilaris akut,pemeriksaan fisik akan mengungkapkan adanya pus dalam hidung,biasanya dari meatus media,atau pus atau secret mukopurulen dalam nasofaring.Sinus maksilaris terasa nyeri pada palpasi dan perkusi.Transiluminasi berkurang bila sinus penuh dengan cairan.Gambaran radiologik mula-mula berupa penebalan mukosa,
12

selanjutnya diikuti opasifikasi sinus lengkap akibat mukosa membengkak hebat,atau akibat akumulasi cairan yang memenuhi sinus.Akhirnya terbentuk gambaran air-fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada foto tegak sinus maksilaris.

2.6.2 Sinusitis Etmoidalis 2.6.3 Sinusitis Frontalis 2.6.4 Sinusitis Sfenoidalis 2.7 Sinusitis Kronik 2.8 Sinusitis Pada Anak 2.9 Sinusitis Jamur

2.10 Anamnesa dan Pemeriksaan Fisik Jenis Pemeriksaan Sinus Paranasal Inspeksi Keterangan Yang diperhatikan ialah adanya pembengkakan di pipi sampai kelopak mata bawah yang berwarna kemerahmerahan mungkin menunjukkan sinusitis maksila akut . Pembengkakan di kelopak mata atas mungkin

menunjukkan sinusitis frontal akut Sinusitis etmois aku jarang menyebabkan akut jarang pembengkakan di luar,kecuali bila telah terbentuk abses. Palpasi Nyei tekan pada pipi dan nyeri ketuk di gigi menunjukkan adanya sinusitis maksila.Pada sinusitis frontal terdapat nyeri tekan di dasar sinus frontal,yaitu pada bagian medial atap orbita.Sinusitis etmoid

menyebabkan rasa nyeri tekan di daerah kantus medius. Transiluminasi Transiluminasi mempunyai manfaat yang terbatas,
13

hanya dapat dipakai untuk memeriksa sinus maksila dan sinus frontal,bila fasilitas pemeriksaan radiologik tidak tersedia. Bila pada pemeriksaan transiluminasi tampak gelap di daerah infraorbita ,mungkin berarti antrum terisi oleh pus atau mukosa antrum menebal atau terdapat neoplasma di dalam antrum. Bila terdapat kista yang besar di dalam sinus maksila , akan tampak terang pada pemeriksaan transiluminasi. Transiluminasi pada sinus frontal hasilnya lebih meragukan.Besar dan bentuk kedua sinus ini seringkali tidak sama.Gambaran dengan yang baik terang dan berarti sinus

berkembang

normal,sedangkan

gambaran gelap mungkin berarti sinusitis atau hanya menunjukkan sinus yang tidak berkembang.

2.11 Pemeriksaan Penunjang 2.12 Penatalaksanaan Tujuan terapi sinusitis ialah: a) Mempercepat penyembuhan b) Mencegah komplikasi c) Mencegah perubahan menjadi kronik Prinsip pengbatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial , untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus.Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksilin.Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase,maka

14

dapat diberikan amoksilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2.Pada sinusitis kronik diberikan yang sesuai untuk bakteri gram negatif dan anaerob. Selain dekongestan oral dan topikal,terapi lain yang dapat diberikan jika diperlukan seperti analgetik,mukolitik,steroid oral/topical,pencucian rongga hidung dengan NaCl atau pemanasan (diatermi).Antihistamin tidak rutin diberikan ,karena sifat antikolinegiknya dapat menyebabkan sekret menjadi lebih kental.Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi kedua. Irigasi sinus maksilaris atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang bermanfaat.Immunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat. 2.12.1 Tindakan Operasi Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi.Tindakan ini telah menggantikan hamper semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan ,tindakan lebih ringan dan tidak radikal. Indikasi operasi berupa: a) Sinusitis yang tidak membaik setelah mendapatkan terapi yang adekuat. b) Sinusitis kronik yang disertai kista atau kelainan yang irreversible c) Polip ekstensif d) Komplikasi sinusitis e) Sinusitis jamur

15

2.13 Komplikasi Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intrakranial. Kelaianan Orbita Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan orbita. Paling sering ialah sinusitis etmoid, kemudian maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelaianan yang dapat timbul ialah edema palpebra,selulitis orbita,abses subperiostal, abses orbita dan sinusitis frontal dan Kelaianan Intrakranial Berupa meningitis,abses ekstradural atau subdural,abses otak dan

trombosis sinus kavernosus.

selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus karvenosus

Komplikasi dapat juga terjadi pada sinusitis kronis,berupa : Osteomielitis dan abses subperiostal Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila Seperti Kelainan paru bronkitis kronis dan

bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal

disertai kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Dapat menyebabkan kambuhnya

dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi.

asma brokial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya sembuh.

16

BAB III KESIMPULAN

17

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

18