Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Agroteknologi 2013

APLIKASI KOMPOSISI PUPUK PADA PADI (Oryza sativa L) IR 42 DAN SANAPI DENGAN SISTEM SRI PADA TANAH PASANG SURUT KECAMATAN KUALA CENAKU KABUPATEN INDRAGIRI HULU FERTILIZER APPLICATION ON THE COMPOSITION OF RICE (Oryza sativa L) IR 42 AND SANAPI WITH SRI ON LAND OF TIDAL DISTRICT INDRAGIRI HULU REGENCY KUALA CENAKU Adi Bambang Irawan, Armaini dan Wardati (Fakultas Pertanian Universitas Riau) ABSTRACT This study uses The split plot consisted of 2 varieties (IR 42 and Sanapi) as main plots and 3 fertilizer composition K1 = 3 ton kompos, 100 % (200 kg Urea, 150 kg TSP dan 100 Kg KCl) pupuk anorganik dan 2 ton dolomit/ha K2 = 6 ton kompos, 75 % (150 kg Urea, 112,5 kg TSP dan 75 Kg KCl) pupuk anorganik dan 4 ton dolomit/ha K3 = 9 ton kompos, 50 % (100 kg Urea, 75 kg TSP dan 50 Kg KCl) pupuk anorganik dan 6 ton dolomit/ha as subplot on 3 replications. The number of experimental unit is 18. The results of analysis of variance was tested further by DNMRT at the level of 5%. The results showed that of the composition of the fertilizer increase the growth and production of crops on varieties IR 42 and Sanapi. The growth and production of varieties IR 42 out better than Sanapi that looks at : plant height, panicle length, panicle branch length, number of grains panicle, number panicle pithy grain, 1000 grain weight and production clump. On the variety IR 42, composition of fertilizer not show the real diversification which is visible from the parameters : the total number of tillers, number of productive tillers, flowering plant age, the amount of grain panicle, panicle pithy amount of grain and production clump. Just like with the varieties Sanapi parameters indicated by : the number of productive tillers, panicle length, panicle branch length, number of grains and production clump. Keyword : Fertilizer, Varieties, SRI System, Tidal Land PENDAHULUAN Tanaman padi sawah (Oryza sativa L) merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia dan salah satu bahan pangan nasional yang diupayakan ketersediaannya tercukupi sepanjang tahun, karena padi sebagai makanan pokok utama. Kebutuhan beras secara nasional terus meningkat sepanjang tahun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Namun pada realisasinya kebutuhan pangan Indonesia masih tergantung oleh negara lain, kecuali pada tahun 1984 yang mampu berswasembada beras. Kecamatan Kuala Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu terbentuk dari pemekaran kecamatan Rengat tahun 2004, dengan total wilayahnya 381,6 Km2. Kecamatan ini merupakan kawasan pasang surut tipe B dimana pengaruh air laut seimbang dengan pengaruh air tawar, yang terindikasi dari jumlah kation-kation dengan kondisi Mg > Ca > Na atau K (Armaini, Nasrul, Manurung, 2011).

Jurnal Agroteknologi 2013

Lahan ini direklamasi untuk usaha budidaya tanaman pangan, yakni pengembangan tanaman padi dan jagung. Reklamasi dilakukan untuk mengatur muka air tanah dan meningkatkan kualitas air di tanah rawa, sehingga memenuhi persyaratan bagi budidaya tanaman padi atau keperluan lainnya. Pengaturan tata air di kawasan ini sangat tergantung dari keberadaan bangunan pintu air, baik pada saluran sekunder ataupun tersier, tetapi kawasan ini sudah mulai terganggu pengaturan tata airnya, karena sebagian bangunan pintu air sudah tidak berfungsi. Keadaan ini menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan air untuk tanaman padi sawah. Tanah pada lokasi ini juga miskin hara, kehilangan lapisan olah dan bahan organik tanah akibat berlangsungnya proses degradasi lahan secara terus menerus (Armaini dkk, 2011). Kondisi ini perlu diantisipasi dengan menerapkan teknis SRI, yang didukung dengan pemberian pupuk dan amelioran, khususnya untuk 2 varietas (IR 42 dan Sanapi) yang harus di tanam masyarakat tempatan. SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50%, bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Menurut Kasim (2004) pada metode SRI, pertanaman padi dijaga kelembabannya (tidak tergenang) yang mencegah terjadinya hypoksia (kurangnya supplay oksigen ke akar) yang mengakibatkan tanaman padi tersebut stres. Disamping SRI ameliorasi seperti kapur dan pupuk baik pupuk organik (kompos) maupun pupuk anorganik seperti Urea, KCl dan TSP merupakan komponen penting dalam memecahkan masalah tersebut untuk ketersediaan unsur hara bagi tanaman. BAHAN DAN METODE Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : benih padi varietas IR 42 dan Sanapi, tanah pasang surut dari Kuala Cenaku, kompos dari tandan kosong kelapa sawit, dolomit, pupuk Urea, TSP dan KCl. Alat-alat yang digunakan adalah pot, timbangan presisi, timbangan analitik, oven, termometer, alat tulis, kamera digital serta alat-alat untuk analisis tanah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) terdiri dari 3 ulangan (kelompok) dan 2 varietas sebagai petak utama dan 3 komposisi pupuk sebagai anak petak. Adapun faktor petak utamanya adalah varietas IR 42 dan Sanapi. Sedangkan anak petaknya adalah : K1 = 3 ton kompos, 100 % (200 kg Urea, 150 kg TSP dan 100 Kg KCl) pupuk anorganik dan 2 ton dolomit/ha K2 = 6 ton kompos, 75 % (150 kg Urea, 112,5 kg TSP dan 75 Kg KCl) pupuk anorganik dan 4 ton dolomit/ha K3 = 9 ton kompos, 50 % (100 kg Urea, 75 kg TSP dan 50 Kg KCl) pupuk anorganik dan 6 ton dolomit/ha Jumlah unit percobaan adalah 18 unit percobaan, setiap unit terdapat 2 tanaman sebagai populasi sehingga jumlah keseluruhan pot tanaman adalah 36 tanaman. Dari hasil sidik ragam diuji dengan DNMRT (Duncans New Multiple Range Test) pada taraf 5 %.

Jurnal Agroteknologi 2013

Pelaksanaan Penelitian Tanah dari lahan pasang surut tipe B zona II diambil lapisan atasnya sampai kedalaman 25 cm, tanah ditimbang seberat 7 kg dan dimasukkan ke dalam pot. Tanah kemudian dilumpurkan hingga kondisi macak-macak. Selanjutnya dilakukan penambahan dolomit sesuai perlakuan. Tanah diberi perlakuan sesuai penelitian dengan sistem penanaman 1 batang/lobang, penanaman dilakukan pada umur 10 hari sesudah hari semai (HSS). Analisis hara makro dan mikro dilakukan dengan mengambil sampel tanah sebelum diberi perlakuan dan 12 minggu setelah perlakuan. Penyulaman dilakukan untuk menggantikan tanaman yang tidak tumbuh di dalam medium tanam dilakukan 1 (satu) minggu sesudah penanaman. Penyiangan dilakukan dengan membuang gulma yang tumbuh di sekitar tanaman. Tinggi air di dalam pot harus dijaga agar tetap setara dengan permukaan tanah. Cara yang dilakukan adalah dengan menambah air ke dalam wadah dimana pot ditempatkan dengan keadaan tanah macak-macak. Panen dilaksanakan setelah tanaman memenuhi kriteria untuk dipanen, dengan mengacu kepada kriteria panen tanaman padi, dengan ciri-ciri daun bendera sudah berwarna kuning, kecoklatan, gabah sudah mengeras, tangkai daun sudah menunduk dan batang padi mulai mengering. Parameter yang Diamati Adapun parameter yang diamati sebagai berikut : Tinggi tanaman, jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, umur tanaman berbunga, panjang malai, panjang cabang malai, jumlah gabah permalai, jumlah gabah bernas permalai, berat 1000 gabah, produksi perumpun dan berat kering jerami. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Rata-rata tinggi tanaman setelah dilakukan uji lanjut DMNRT pada taraf 5 % disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman dari beberapa perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (cm) Perlakuan Rerata Tinggi Tanaman (cm) Petak Utama Anak Petak IR 42 K1 91.15 ab K2 90.65 ab K3 92.70 a Rerata IR 42 Sanapi K1 K2 K3 91.50 A 81.11 b 84.30 ab 84.66 ab 83.35 B

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi terdapat pada varietas IR 42 mencapai 91.50 cm, lebih tinggi 9,7 % dibandingkan dengan varietas Sanapi. Hal ini disebabkan varietas IR 42 adalah varietas unggul dan lebih baik dalam merespon pupuk anorganik dan organik yang diberikan ke

Jurnal Agroteknologi 2013

dalam tanah, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan. Pertumbuhan tinggi tanaman dapat dipengaruhi oleh perbedaan perlakuan yang diberikan, dan setiap varietas tanaman bisa berbeda pula tanggapannya terhadap perbedaan perlakuan tersebut. Pada penelitian ini Sanapi hanya 55 % mampu mencapai potensi tinggi tersebut. Pertambahan tinggi tanaman merupakan proses fisiologi dimana sel melakukan pembelahan. Nitrogen merupakan komponen penyusun dari banyak senyawa esensial bagi tumbuhan seperti asam amino, protein dan enzim (Leiwakabessy dan Sutandi, 1988). Pengaruh perlakuan anak petak (komposisi pupuk) pada petak utama IR 42, tidak menunjukkan perbedaan yang begitu meningkat dibanding Sanapi, tetapi perlakuan pupuk dengan komposisi 3 (9 ton kompos, 50 % pupuk anorganik dan 6 ton dolomit/ha) cenderung lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Begitu juga dengan pengaruh anak petak tersebut terhadap Sanapi. Hal ini disebabkan pemberian perlakuan komposisi 3 tersebut pupuk organik lebih banyak sehingga ketersediaan unsur hara lebih lama dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Goldsworthy dan Fisher (1992) menyatakan bahwa setiap pemberian pupuk dapat mendorong seluruh pertumbuhan tanaman, dan secara tidak langsung meningkatkan pertumbuhan akar pada seluruh kedalaman perakaran normal, bahkan mendorong perakaran lebih dalam. Pertumbuhan perakaran tanaman yang normal dapat mendukung serapan hara oleh tanaman secara maksimal. Jumlah Anakan Total dan Jumlah Anakan Produktif Rata-rata jumlah anakan total dan anakan produktif setelah dilakukan uji lanjut DNMRT pada taraf 5 % disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rata-rata jumlah anakan total dan jumlah anakan produktif dari berbagai perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (batang) Perlakuan Rerata jumlah Rerata jumlah anakan produktif Anak anakan total (batang) Petak Utama (batang) Petak IR 42 K1 29,00 cd 15,50 a K2 24,50 de 14,83 a K3 23,16 e 11,16 a Rerata IR 42 Sanapi K1 K2 K3 25,55 B 34,00 ab 34,66 a 29,50 bc 32,72 A 13,83 A 19,66 a 13,83 a 12,66 a 15,38 A

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Tabel 2 menunjukkan bahwa varietas Sanapi memiliki anakan total lebih banyak di banding IR 42, namun untuk anakan produktif cenderung hampir sama jumlahnya. Hal ini menyebabkan asimilat kurang terdistribusi ke pembentukan jerami padi, sehingga unsur hara pada saat pembentukan anakan kurang tercukupi untuk pertumbuhan anakan. Komponen tanah yang berpengaruh terhadap penggunaan pupuk adalah tekstur tanah, derajat keasaman (pH) dan kandungan hara tanah. Sedangkan untuk tanaman itu sendiri faktor yang berpengaruh terhadap pemupukan yaitu karakter tanaman yang berkaitan dengan penyerapan unsur hara.

Jurnal Agroteknologi 2013

Perlakuan anak petak memperlihatkan, varietas IR 42 jumlah anakan total 29,00 dan anakan produktif 15,5 anakan pada perlakuan komposisi 1 (3 ton kompos, 100 % pupuk anorganik dan 2 ton dolomit/ha), yang cenderung lebih banyak dibanding perlakuan lainnya. Ini menunjukkan bahwa pemberian berbagai komposisi pupuk pada tanah telah diserap oleh tanaman dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anakan total dan produktif tanaman padi. Perlakuan anak petak varietas Sanapi memiliki jumlah anakan total pada perlakuan komposisi 2 yakni 34,66 anakan lebih banyak dibanding lainnya. Lama stadia vegetatif dapat mempengaruhi masa stadia reproduktif dan setiap tanaman bisa berbeda pada stadia vegetatifnya. Jumlah anakan produktif pada anak petak varietas Sanapi, perlakuan komposisi 1 yakni 19,66 anakan lebih banyak dibanding perlakuan lainnya. Bertambahnya ketersediaan jumlah unsur hara baik dari unsur hara tanah awal yang terdapat di dalam tanah yang ditambah dari pemberian perlakuan serta dengan memanfaatkan sistem SRI yang mana pemberian air pada kondisi tanah tidak selalu tergenang sehingga jumlah anakan produktif menjadi lebih meningkat. Anakan produktif berasal dari anakan total yang telah mengalami perubahan, seperti terjadi pembengkakan pada ruas batang. Menurut Yoshida (1981) batang tanaman padi terdiri dari ruas yang dibatasi oleh buku batang. Pada permulaan stadia tumbuh, batang padi memiliki pelepah-pelepah daun dan ruasruas yang tertumpuk padat. Ruas-ruas tersebut kemudian memanjang dan berongga setelah tanaman memasuki stadia reproduktif. Oleh karena itu, stadia produktif disebut juga sebagai perpanjangan ruas tanaman padi. Umur Tanaman Berbunga Rata-rata umur tanaman berbunga setelah dilakukan uji lanjut DNMRT pada taraf 5 % disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Rata-rata umur tanaman berbunga dari berbagai perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (hari) Perlakuan Rerata Umur Tanaman Berbunga (hari) Petak Utama Anak Petak IR 42 K1 60,50 b K2 59,00 b K3 50,66 b Rerata IR 42 Sanapi K1 K2 K3 56,72 B 90,00 a 96,16 a 94,33 a 93,49 A

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata umur tanaman berbunga pada kedua varietas padi berbeda hari berbunganya. Pada IR 42 umur tanaman berbunga 56,72 hari, varietas ini lebih cepat berbunga dibanding Sanapi yang cenderung lebih lama waktunya yakni baru berbunga pada umur 93,49 hari berbunganya. IR 42 merupakan varietas unggul dengan umur genjah yang lebih cepat waktu berbunganya, sedangkan Sanapi merupakan varietas lokal yang belum ada rekayasa genetik yang dilakukan untuk memperpendek umur tanaman. Mohr dan

Jurnal Agroteknologi 2013

Schopfer (1995) menyatakan bahwa kemampuan tanaman untuk beradaptasi terhadap lingkungan ditentukan oleh sifat genetik tanaman. Perbedaan sifat genetik tanaman pada IR 42 dan Sanapi menjadi penyebab perbedaan umur berbunga. Pada anak petak varietas IR 42 perlakuan komposisi 1 (3 ton kompos, 100% pupuk anorganik dan 2 ton dolomit/ha) umur berbunganya 60,50 hari, ini cenderung lebih lama dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kandungan bahan organik tanah sebagai pendukung (buffef) ketersediaan hara dalam tanah yang ada umumnya belum tersedia sebagai hara yang siap dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman (Ar-Riza dan Saragih, 2008), Menurut Hayani, Slameto, dan Sopandi (1999) masing-masing varietas padi mempunyai ciri-ciri khas tersendiri dan tergantung pada sifat genetik yang dikandung masing-masing varietas serta kemampuan dan daya adaptasinya terhadap lingkungan tumbuhnya. Anak petak varietas Sanapi pada perlakuan komposisi 2 (6 ton kompos, 75 % pupuk anorganik dan 4 ton dolomit/ha) yakni 96,16 hari, cenderung lebih lama berbunganya dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pemberian bahan organik dan pupuk anorganik seimbang merupakan suatu usaha dalam memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman. Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki keseimbangan hara yang terdapat didalam tanah. Umur tanaman berbunga berkaitan dengan masa vegetatif tanaman varietas lokal memiliki fase vegetatif lebih lama dibanding varietas IR 42. Menurut Marsono dan Sigit (2002) pemberian pemupukan ditentukan oleh tiga komponen kunci yaitu pupuk, tanah dan tanaman. Panjang Malai dan Panjang Cabang Malai Rata-rata panjang malai dan panjang cabang malai setelah dilakukan uji lanjut DNMRT pada taraf 5 % disajikan pada Tabel 4. Tabel 4.Rata-rata panjang malai dan panjang cabang malai dari berbagai perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (cm) Perlakuan Rerata panjang Rerata panjang cabang Anak malai (cm) malai(cm) Petak Utama Petak IR 42 K1 53,40 a 25,03 a K2 54,40 a 24,14 a K3 51,73 a 25,45 a Rerata IR 42 Sanapi K1 K2 K3 53,17 A 53,57 a 51,79 a 51,33 a 52,23 A 24,87 A 21,06 b 20,47 b 19,98 b 20,50 B

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Tabel 4 menunjukkan bahwa panjang malai dan cabang malai varietas IR 42 cenderung sama panjang dengan Sanapi, namun untuk panjang malai dan cabang malai ternyata IR 42 lebih panjang dibanding Sanapi. Nitrogen merupakan bahan dasar yang diperlukan tanaman untuk sntesis asam amino dan protein sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti pembelahan dan

Jurnal Agroteknologi 2013

perpanjangan sel. Peningkatan panjang malai akan mempengaruhi banyaknya hasil cabang malai, setiap bertambahnya panjang malai maka akan tumbuh cabang-cabang tangkai gabah yang berpotensi menghasilkan jumlah gabah yang lebih banyak. Pada anak petak panjang malai untuk varietas IR 42 pada perlakuan komposisi 2 (6 ton kompos, 75 % pupuk anorganik dan 4 ton dolomit/ha)54,40 cm, lebih panjang dibanding perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan pemberian bahan organik dan anorganik seimbang merupakan suatu usaha dalam memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman sehingga dapat meningkatkan ketersediaan pupuk untuk dapat bertahan lebih lama. Panjang cabang malai pada anak petak IR 42 pada perlakuan komposisi 3 (9 ton kompos, 50 % pupuk anorganik dan 6 ton dolomit/ha) 25,45 cm, lebih panjang dibanding perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian bahan organik dapat meningkatkan pH tanah, N-total, P-tersedia dan K-tersedia di dalam tanah, kadar dan serapan hara N, P, dan K tanaman. Menurut Sanchez (1976) kandungan bahan organik, KTK tanah sawah sebagian besar termasuk kriteria rendah dan sangat rendah, bahan organik berperan memperbanyak tempat pertukaran kation pada tanah yang melapuk, dan menjaga tetap adanya bahan organik pada tanah merupakan cara untuk mempertahankan nilai KTK dalam tingkat yang memadai. Widaryanto (1992) menyatakan bahwa pemberian kapur dapat menetralkan pengaruh buruk dari Al yang larut berlebihan dan sekaligus menambah unsur kalsium ke dalam tanah. Al yang tinggi akan menghambat pertumbuhan akar, sehingga akan mempengaruhi penyerapan unsur hara. Jumlah Gabah Permalai Rata-rata jumlah gabah permalai setelah dilakukan uji lanjut DNMRT pada taraf 5 % disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Rata-rata jumlah gabah permalai dari berbagai perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (butir) Perlakuan Rerata Jumlah Gabah Permalai (butir) Petak Utama Anak Petak IR 42 K1 176,73 a K2 164,50 a K3 167,77 a Rerata IR 42 Sanapi K1 K2 K3 169,66 A 146,26 a 148,77 a 152,43 a 149,15 A

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Tabel 5 memperlihatkan rata-rata jumlah gabah permalai pada kedua varietas berbeda tidak nyata tapi ada kecenderungan pada IR 42 lebih banyak dari Sanapi dengan perbedaan 0,13 %. Hal ini disebabkan IR 42 lebih respon terhadap perbaikan tumbuh dibanding Sanapi. Fotosintat yang dihasilkan dari proses fotosintesis pada saat generatif dan fotosintat yang berasal dari cadangan makanan pada pelepah daun tidak sepenuhnya dimanfaatkan untuk pembentukan dan pengisian biji.

Jurnal Agroteknologi 2013

Pada anak petak IR 42 perlakuan komposisi 1 (3 ton kompos, 100 % pupuk anorganik dan 2 ton dolomit/ha) 176,73 butir gabah, yang cenderung lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Fosfor dan kalium yang diabsorpsi tanaman akan didistribusikan ke bagian sel hidup terutama pada bagian reproduktif tanaman, seperti merangsang perkembangan anakan, jumlah gabah per malai yang lebih banyak, pembungaan dan pembentukan biji. Menurut Sarief (1986) unsur K penting dalam translokasi asimilat sehingga gabah yang terbentuk lebih besar, merangsang pengisian biji sehingga dapat meningkatkan hasil tanaman padi. Anak petak Sanapi pada perlakuan komposisi 3 (9 ton kompos, 50 % pupuk anorganik dan 6 ton dolomit/ha) memiliki jumlah gabah 152,43 butir cenderung lebih banyak gabahnya dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan C -organik, N total dan C/N pada perlakuan komposisi 3 lebih meningkat dibanding perlakuan lainnya, pemberian pupuk organik dapat memperbaiki kesuburan tanah melalui perbaikan sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Jumlah Gabah Bernas Permalai Rata-rata jumlah gabah bernas permalai setelah dilakukan uji lanjut DNMRT pada taraf 5 % disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Rata-rata jumlah gabah bernas permalai dari berbagai perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (butir) Perlakuan Petak Utama IR 42 Anak Petak K1 K2 K3 K1 K2 K3 Rerata Jumlah Gabah bernas Permalai (butir) 160,37 a 150,13 a 135,87 ab 148,79 A 107,95 bc 86,20 c 107,50 bc 100,55 B

Rerata IR 42 Sanapi

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Data Tabel 6 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah gabah bernas permalai pada kedua varietas padi memiliki perbedaan, pada IR 42 rerata jumlah gabah bernas 148,79 bulir, berbeda nyata dan lebih banyak dibandingkan dengan rerata jumlah gabah bernas varietas Sanapi yaitu 100,55 bulir. Hal ini disebabkan varietas IR 42 lebih unggul dengan daya produksi hasil yang lebih tingga serta respon terhadap pupuk di banding Sanapi varietas lokal yang belum terdeskripsi dengan baik. Anak petak varietas IR 42 pada perlakuan komposisi 1 (3 ton kompos, 100 % pupuk anorganik dan 2 ton dolomit/ha) memiliki jumlah gabah bernas 160,37 butir, cenderung lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pemberian pupuk anorganik sesuai anjuran dan takaran pupuk organik dan dolomit. Pada penelitian ini hasil analisis perlakuan komposisi 1 menunjukkan unsur P dan K lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya yakni 123 ppm (sangat tinggi) dan 2,54

Jurnal Agroteknologi 2013

Cmol/Kg (sangat tinggi), sehingga berdampak terhadap kecenderungan hara untuk menghasilkan asimilat yang didistribusikan ke gabah. Unsur N pada tanaman merupakan unsur penyusun asam amino, asam nukleat dan klorofil yang bagi tanaman padi mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan jumlah gabah per malai, persentase gabah isi dan kandungan protein gabah. Sedangkan untuk anak petak varietas Sanapi pada perlakuan komposisi 1 cenderung lebih banyak gabah bernasnya dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Bahan kecukupan serapan hara berasal dari pupuk anorganik dan tersedianya hara dari sumber pupuk organik, dapat memicu respon hara varietas Sanapi sehingga proses fotosintesis tanaman selama fase reproduksi yang berjalan dengan baik, maka alokasi fotosintat yang dihasilkan tinggi sehingga gabah yang dihasilkan juga semakin tinggi. Menurut Arrandeau dan Vergara (1992) bahwa faktor paling penting untuk memperoleh hasil gabah yang tinggi adalah jumlah anakan produktif dan jumlah malai yang terbentuk. Semakin banyak anakan produktif yang menghasilkan malai maka semakin banyak pula gabah yang dihasilkan. Oleh sebab itu, fase vegetatif berpengaruh terhadap fase generatif. Berat 1000 Gabah Rata-rata berat 1000 gabah setelah dilakukan uji lanjut DNMRT disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Rata-rata berat 1000 gabah dari berbagai perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (g) Perlakuan Rerata Berat 1000 Gabah (gram) Petak Utama Anak Petak IR 42 K1 20,01 ab K2 20,67 a K3 22,13 a Rerata IR 42 Sanapi K1 K2 K3 20,93 A 17,23 c 17,21 c 17,82 bc 17,42 B

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Tabel 7 memperlihatkan rata-rata berat 1000 gabah pada kedua varietas padi yang berbeda, pada IR 42 rerata berat 1000 gabah 20,93 gram, lebih tinggi dibandingkan dengan Sanapi yakni 17,42 gram. Anak petak IR 42 pada perlakuan komposisi 3 (9 ton kompos, 50 % pupuk anorganik dan 6 ton dolomit/ha) memiliki berat 1000 gabah 22,13 gram, cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan pemberian komposisi pupuk organik lebih banyak sehingga ketersediaan unsur hara lebih lama dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini terlihat dari C/N jauh lebih tinggi yakni 22,63 ppm (tinggi), dengan berlanjutnya proses dekomposisi maka kandungan kecukupan hara tersedia untuk pertumbuhan tanaman. Pada anak petak Sanapi semua komposisi pupuk pada perlakuan memperlihatkan tidak adanya perbedaan berat 1000 gabah. Hal ini terkait juga

Jurnal Agroteknologi 2013

dengan kemampuan tanaman dalam menyerap hara. Sanapi lebih lama umur panennya, sehingga tanaman melalui periode pengisian biji yang cukup lama. Secara perlahan semua tanaman secara bertahap tetap mendistribusikan asimilat, sehingga semua perlakuan tidak mengalami perbedaan yang nyata. Menurut Kamil (1968), tinggi rendahnya berat biji tergantung dari banyak atau sedikitnya alokasi fotosintat ke biji tanaman pada saat pengisian biji. Asimilat yang tersedia saat perkembangan biji akan ikut menentukan bobot biji. Produksi Per Rumpun Rata-rata produksi per rumpun setelah dilakukan uji lanjut DNMRT disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Rata-rata produksi per rumpun tanaman dari berbagai perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (g) Perlakuan Rerata Produksi Per Rumpun (gram) Petak Utama Anak Petak IR 42 K1 44,13 a K2 43,25 a K3 37,52 ab Rerata IR 42 Sanapi K1 K2 K3 41,63 A 31,64 b 28,44 b 27,30 b 29,12 B

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Tabel 8 menunjukkan rata-rata produksi per rumpun pada kedua varietas padi memiliki perbedaan, pada IR 42 rerata produksi per rumpun yakni 41,63 gram berbeda nyata dan lebih tinggi dibandingkan dengan Sanapi yaitu 29,12 gram. Masa produksi padi diduga adanya perbedaan pada fase vegetatif, lama stadia vegetatif dapat mempengaruhi masa stadia reproduktif dan setiap tanaman bisa berbeda pada stadia pertumbuhan vegetatifnya. Varietas IR 42 pada perlakuan anak petak komposisi 1 (3 ton kompos, 100 % pupuk anorganik dan 2 ton dolomit/ha) memiliki produksi per rumpun yakni 44,13 gram, cenderung meningkat dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada perlakuan ini sumber hara dari anorganik tersedia langsung, sedangkan perlakuan lainnya suplai hara bersumber dari bahan organik yang di berikan masih belum optimal, sehingga berpengaruh terhadap perolehan produksi. Varietas Sanapi pada perlakuan anak petak komposisi 1 (3 ton kompos, 100 % pupuk anorganik dan 2 ton dolomit/ha) cenderung lebih meningkat produksi per rumpunnya dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan pada perlakuan ini lebih tinggi suplai hara dari anorganik sehingga hara tersedia langsung terutama ketersediaan P yakni 123 ppm (sangat tinggi), sedangkan perlakuan lainnya terutama perlakuan komposisi 3 (9 ton kompos, 50 % pupuk anorganik dan 6 ton dolomit/ha) ketersediaan hara harus melalui dekomposisi sehingga memerlukan waktu yang lama, dan berpengaruh terhadap produksi tanaman. Semakin tepat kandungan unsur hara untuk tanaman maka pertumbuhan dan produksi akan semakin baik, sebalikannya jika kandungan hara tidak dapat mensuplai kebutuhan hara tanaman maka pertumbuhan akan

Jurnal Agroteknologi 2013

terhambat dan produksi akan jelek. Dengan demikian pupuk merupakan komponen penting dalam pertumbuhan tanaman (Marsono dan Sigit, 2002) Berat Kering Jerami Rata-rata berat kering jerami setelah dilakukan uji lanjut DNMRT disajikan pada Tabel 9. Tabel 9 .Rata-rata berat kering jerami dari berbagai perlakuan komposisi pupuk pada padi IR 42 dan Sanapi (g) Perlakuan Rerata Berat Kering Jerami (gram) Petak Utama Anak Petak IR 42 K1 55.39 ab K2 36.93 b K3 58.6 ab Rerata IR 42 Sanapi K1 K2 K3 50.30 B 68.45 a 74.72 a 56.6 ab 66.59 A

Rerata Sanapi

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil dan besar yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT

Tabel 9 memperlihatkan rata-rata berat kering jerami pada kedua varietas padi mengalami perbedaan, pada Sanapi rerata berat kering jerami 66.59 gram, lebih tinggi dibanding dengan IR 42 yaitu 50.30 gram. Bertambahnya ketersediaan jumlah unsur hara baik dari unsur hara tanah awal yang terdapat di dalam tanah yang ditambah dari pemberian perlakuan serta dengan memanfaatkan sistem SRI yang mana kondisi tanah tidak selalu tergenang sehingga jumlah anakan produktif menjadi lebih meningkat. Sanapi berumur lebih panjang daripada IR 42, pertumbuhan vegetatif yang baik pada umumnya akan diikuti oleh pertumbuhan generatif yang baik dan peningkatan komponen hasil. Dengan demikian pertumbuhan vegetatif tanaman padi dipengaruhi oleh hara makro N, P dan K, pertumbuhan generatif dan hasil dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetatif. Anak petak IR 42 pada perlakuan komposisi 3 (9 ton kompos, 50 % pupuk anorganik dan 6 ton dolomit/ha) memperlihatkan berat kering jerami lebih tinggi, namun perlakuan komposisi 2 (6 ton kompos, 75 % pupuk anorganik dan 4 ton dolomit/ha) cenderung lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan perlakuan komposisi 2 C organik, K dan C/N rendah dibanding perlakuan lainnya menyebabkan berpengaruh terhadap berat kering jerami padi dengan bahan organik yang mudah terdekomposisi. Ini diduga pemberian 6 ton kompos dan 75 % pupuk anorganik yang diberikan belum cukup memenuhi untuk pertumbuhan padi sampai panen, K dalam jerami ditranslokasikan kedalam gabah pada proses pengisian bulirnya dalam jumlah yang banyak sehingga cenderung menurunkan bobot kering jerami dan gabah isi padi. Sedangkan pada varietas Sanapi untuk perlakuan komposisi 2 (6 ton kompos, 75 % pupuk anorganik dan 4 ton dolomit/ha) memiliki berat kering jerami lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan keseimbangan hara yang baik akan menciptakan kondisi tumbuh yang lebih baik sehingga tanaman lebih efisien dalam memanfaatkan unsur hara baik dari pupuk maupun dari tanah. System of Rice Intensification (SRI) adalah sistem intensifikasi padi

Jurnal Agroteknologi 2013

yang mengusahakan tiga faktor pertumbuhan padi untuk mencapai produktivitas maksimal. Ketiga faktor tersebut adalah maksimalisasi jumlah anakan, maksimalisasi pertumbuhan akar dan maksimalisasi pertumbuhan dengan pemberian suplai makanan, air dan oksigen yang cukup pada tanaman padi (Kasim, 2004). KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil penelitian Aplikasi Komposisi Pupuk Pada Padi (Oryza sativa L) IR 42 Dan Sanapi dengan Sistem Sri pada Tanah Pasang Surut Kecamatan Kuala Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu dapat disimpulkan : 1. Varietas IR 42 dan Sanapi dapat meningkat pertumbuhan dan produksinya, varietas IR 42 lebih baik pertumbuhan dan produksinya dibanding varietas Sanapi yang terlihat pada : tinggi tanaman, panjang malai, panjang cabang malai, jumlah gabah permalai, jumlah gabah bernas permalai, berat 1000 gabah dan produksi perumpun. 2. Pada varietas IR 42 komposisi pupuk tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, yang terlihat dari parameter : jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, umur tanaman berbunga, jumlah gabah permalai, jumlah gabah bernas permalai dan produksi perumpun. 3. Varietas Sanapi komposisi pupuk juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, yang diindikasikan oleh parameter : jumlah anakan produktif, panjang malai, panjang cabang malai, jumlah gabah bernas permalai dan produksi perumpun. Saran Berdasarkan hasil penelitian disarankan: Menggunakan varietas IR 42 dengan komposisi 2 (6 ton kompos, 75 % pupuk anorganik dan 4 ton dolomit/ha), perlakuan ini cukup bahan organik untuk mempertahankan kondisi tanah.

Jurnal Agroteknologi 2013

DAFTAR PUSTAKA Armaini, B. Nasrul, dan G.M.E Manurung. 2011. Dampak Reklamasi Lahan Pasang Surut Tipe B terhadap Kualitas Lahan dan Potensi Produksi Tanaman Kelapa Sawit (Elais Guanensis Jaq) di Shceme Kuala Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu. Prosiding Seminar Nasional Bidang Ilmu-Ilmu Pertanian Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri (BKS-PTN) Wilayah Barat.Volume 1 ISBN 978-979-8389-18-4. Universitas Sriwijaya. Palembang. Arraudeau M. A dan B.S. Vergara. 1992. Pedoman Budidaya Padi Gogo. Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukarami. Bogor. Ar-Riza dan S. Saragih, 2008. Karakteristik Lahan Rawa dan Potensi Pemanfatannya. Laporan Kerjasama. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Goldsworthy, P.R. dan Fisher, N.M. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Universitas Gadjah Mada Press: Yogyakarta. Hayani, Slameto, dan Sopandi. 1999. Kajian Dosis Pupuk NPK pada beberapa Varietas Padi di Sidorahayu. Lampung Selatan. Dalam Prosiding Kongres Nasional VII HITI. Bandung. 236 hlm. Kamil J. 1968. Teknologi Benih. Angkasa Raya. Padang. Kasim, M. 2004. Penerapan Budidaya SRI (The System Of Rice Intensification) untuk Meningkatkan Produksi Padi di Indonesia . Makalah pada pelatihan nasional peningkatan mutu SDM Perguruan Tinggi dalam meningkatkan system pertanian berkelanjutan. Fakultas Pertanian Unand bekerjasama dengan Depdiknas. Leiwakabessy, F dan A. Sutandi. 1988. Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. Marsono dan P. Sigit. 2002. Pupuk Akar, Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Depok. Mohr H, dan P. Schopher. 1995. Plant Physiology. Tranlated by Gudrun and D.W Lawlor. Springer. Sancez , P.A. 1976. Properties and Management of Soilsin the Tropics. John willeyand Sons Inc.New York, 618 p. Sarief, E.S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.182 h. Yoshida, S.1981. Fundamental of Rice Crop Science. International Rice Recearch Institute. Widaryanto. 1992. Sistem Tampurin Alternatif Penanganan Lahan Gambut Berwawasan Lingkungan. Alami 2 (1): 41-44.