Anda di halaman 1dari 25

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... 1 BAB I SKENARIO ........................................................................................................ 2 BAB II KATA KUNCI .................................................................................................... 3 BAB III PROBLEM .......................................................................................................... 4 BAB IV PEMBAHASAN ................................................................................................. 5 A. Batasan .................................................................................................................. 5 B. Anatomi /Histologi /Fisiologi /Patofisiologi /Patomekanisme.............................. 5 C. Jenis jenis Penyakit yang Berhubungan ............................................................. 5 D. Gejala Klinis ....................................................................................................... 10 E. Pemerikasaan Fisik Penyakit ............................................................................... 11 F. Pemeriksaan Penunjang Penyakit ........................................................................ 11 BAB V HIPOTESIS AWAL ( Differential Diagnosis ) .................................................... 12 BAB VI ANALISIS DARI DIFFFERENTIAL DIAGNOSIS ........................................... 13 A. Gejala Klinis ....................................................................................................... 13 B. Pemeriksaan Fisik ............................................................................................... 14 C. Pemeriksaan Penunjang....................................................................................... 14 BAB VII HIPOTESIS AKHIR (Diagnosis) ........................................................................ 18 BAB VIII MEKANISME DIAGNOSIS .............................................................................. 21 Mekanisme Berupa Bagan Sampai Tercapainya Diagnosis .................................... 21 BAB IX STRATEGI MENYELESAIKAN MASALAH ................................................... 22 A. Penatalaksanaan .................................................................................................. 22 B. Prinsip Tindakan Medis ...................................................................................... 23 BAB X PROGNOSIS DAN KOMPLIKASI ..................................................................... 25 A. Cara Penyampain Prognosis Kepada Pasien / Keluarga Pasien .......................... 25 B. Tanda Untuk Merujuk Pasien .............................................................................. 25 C. Peran Pasien / Keluarga Untuk Penyembuhan .................................................... 25 D. Pencegahan Penyakit........................................................................................... 25

BAB I Skenario 1
Seorang anak perempuan beruia 4 tahun dibawa oleh ibunya ke puskesmas. Ibu tersebut mengeluhkan anaknya sering gatal di daerah sekitar anus dan kemaluannya.

BAB II Kata Kunci


1) Gatal disekitar anus (Pruritus ani) Anal Gatal merujuk pada gatal yang terletak di anus atau pada kulit di sekitar anus.Gatal sering kali terjadi dan disertai dengan dorongan yang kuat untuk menggaruk.Anal gatal membuat malu dan tidak nyaman penderita.Anal gatal adalah masalah umum yang banyak diderita orang.

BAB III Problem


1. Penyakit apa yang berhubungan dengan pruritus ani? 2. Bagaimana patogenesis terjadinya pruritus ani? 3. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk kasus ini? 4. Bagaimana penatalaksanaannya? 5. Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan?

BAB IV Pembahasan

A. Batasan Pruritus ani yang difokuskan pada penyakit Sistem Gastrointestinal B. Patofisiologi Etiologi pruritus disebabkan oleh faktor eksogen dan endogen. Faktor eksogen antara lain: 1. Penyakit dermatologik 2. Dermatitis kontak (dengan pakaian, logam, serta benda asing) 3. Rangsangan dari ektoparasit (misal: serangga, tungau skabies, pedikulus, larva migrans) 4. Faktor lingkungan (menyebabkan kulit kering atau lembab) Faktor endogen antara lain adanya reaksi obat atau adanya penyakit. Penyakit sistemik dapat menimbulkan gejala pruritus di kulit. Pruritus inidisebut dengan pruritus primer, dan dapat bersifat lokalista atau generalisata. Bahkan pruritus psikogenik cenderung dapat muncul pada seseorang yang sering merasa malu, memiliki perasaan bersalah, masokisme, serta ekshibisonisme.

C. Jenis-jenis penyakit yang berhubungan 1. ENTEROBIASIS Etiologi Nama lain : Enterobius vermicularis : Oxyuris vermicularis, cacing kremi, pinworm, seatworm, threadworm 5

Penyakit Hospes Habitat

: Enterobiasis / oksiuriasis : Manusia : Di rongga caecumdan daerah sekitarnya yaitu appendix, colon ascenden, dan ileum

Bentuk Infektif : Telur Infektif

Cacing dewasa merupakan cacing kecil berwarna keputih-putihan. Cacing betina berukuran 8-13mm x 0,3-0,5mm, sedangkan cacing jantan berukuran 2-5mm x 0,1-0,3mm. Telur berbentuk lonjong, asimetris, salah satu sisi rata sedangkan sisi lainnya cembung. Telur ini merupakan telur matang (infektif) Seekor cacing betina sehari dapat menghasilkan 11.000 telur. Cacing jantan mati setelah kopulasi, sedangkan cacing betina akan terus melanjutkan siklusnya. Cacing betina yang hamil dan mau bertelur, malam hari bermigrasi menuju anus. Cacing betina mati setelah bertelur. Telur-telur tersembunyi dalam lipatan perianal sehingga jarang didapatkan di dalam tinja. Beberapa jam kemudian telur teah menjadi matang dan infektif, selanjutnya terjadi salah satu di bawah ini: 1) Autoinfeksi, karena daerah perianal gatal, digaruk, telur menempel pada tangan atau di bawah kuku, kemudian telur ini termakan oleh hospes yang sama.

2) Telur tersebar pada kain tempat tidur, pakaian bahkan debu dalam kamar yang mengkontaminasi makanan atau minuman sehingga dapat menginfeksi oranglain. Seseorang dapat pula terinfeksi dengan menghirup udara yang tercemar telur. 3) Retrogad infeksi atau retrofeksi, mungkin telah ada larva yang menetas setelah cacing betina meletakkan telur di perianal, larva masuk kembali ke usus melalui anus sehingga akan terjadi infeksi baru. Telur yang tertelan menetas di dalam duodenum, keluar larva untuk menjadi dewasa di dalam caecum dan sekitarnya.

Penyebaran : Kosmopolit, terutama yang sering diserang anak-anak. Infeksi cacing ini cenderung timbul pada kelompok sosial tertentu, misalnya pada satu keluarga , anak sekolah, panti asuhan.

Patologi dan Gejala Klinik: Penyakitnya enterobiasis, oxyuriasis, infeksi cacing kremi. Cacing ini relatif tidak berbahaya jarang menimbulkan lesi besar. Gejala klinis kebanyakan bersumber pada iritasi di daerah sekitar anus, perinium dan vagina oleh migrasi cacing betina yang hamil, jarang disebabkan aktivitas cacing dalam usus. Menimbulkan rasa gatal di sekitar anus disebut pruritus ani yang terjadi pada malam hari, anak tidurnya terganggu, cengeng, dan menangis pada malam hari. Anak menjadi lemah, nafsu makan menurun sehingga berat badan berkurang.

Diagnosis: Pemeriksaan tinja hasilnya kurang baik karena hasil positif kurang lebih hanya 5% dari yang seharusnya. Yang paling baik dengan metode Scotch adhesive tape swab menurut Graham. Pemeriksaan ini dilakukan paling baik pagi hari sebelum mandi atau defekasi.

Pemeriksaan perlu dilakukan berulang-ulang dalam beberapa hari berturut-turut karena migrasi cacing betina yang hamil tidak teratur. Sekali pemeriksaan hanya menemukan lebih kurang 50% dari semua infeksi, tiga kali pemeriksaan menemukan lebih kurang 90%. Dikatakan seorang bebas dari infeksi cacing ini jika pada pemeriksaan yang dilakukan 7 hari berturut-turut hasilnya negatif. 7

SIKLUS HIDUP 1. Telur infektif di daerah peri anal 2. Manusia menelan telur infektif 3. Terlur menetas di dalam duodenum,lalu menuju usus kecil (tanpa sikus paru),lalu larva mengalami moulting,kemudian tinggal di vili usus halus 4. Cacing menjadi dewasa di Caecum 5. Cacing dewasa migrasi ke perianal.Cacing betina yang mengandung 11.000-15.000 butir telur akan bermigrasi ke daerah sekitar anal (perianal) untuk bertelur. Migrasi ini berlangsung 15 40 hari setelah infeksi. Telur akan matang dalam waktu sekitar 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu tubuh. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.

2. SARCOPTES SCABIEI (SCABIES) Predileksi : jari jari,pergelangan tangan,genital,inguinal Betinanya pada malam hari suka menggali untuk meletakan telurnya pada daerah daerah predileksi

SIKLUS HIDUP

Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 12 hari.(Handoko, R, 2001). Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3 4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi. ( Mulyono, 1986). Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selamalebih kurang 7 14 hari.Yang diserang adalah bagian kulit yang tipisdan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi,karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapatterserang

3. TINEA Epidemiologi Tinea merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai didaerah

yang panas,Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum diseluruh dunia dansekitar 47 % menyebabkan tinea korporis. Tricophyton tonsuran merupakan dermatofityang lebih umum menyebabkan tinea kapitis, dan orang dengan infeksi tinea kapitisantropofilik akan berkembang menjadi t inea

korporis.Walaupun prevalensi tineakorporis dapat disebabkan oleh peningkatan Tricophyton tonsuran,Microsporum canis merupakan organisme ketiga sekitar 14 % menyebabkan tinea korporis.

Cara Penularan : 9

Tinea korporis mungkin ditransmisikan secara langsung dari infeksi manusia atauhewan melalui autoinokulasi dari reservoir, seperti kolonisasiT.rubrumdi kaki.Anak-anak lebih sering kontak pada zoofilik patogen sepertiM.canispada kucing atau anjing.Pakaianketat dan cuaca panas dihubungkan dengan banyaknya frekuensi dan beratnya erupsi.Infeksi dermatofit tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan tetapi mereka bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Tinea korporis prevalensinya sama antara priad a n w a n i t a

D. Gejala Klinis Identitas Pasien Nama : An. Ani

Jenis Kelamin : Perempuan Usia Alamat : 4 tahun : Jl. Pakis Wetan Surabaya

Anamnesis Keluhan Utama: gatal di sekitar anus

Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) : 1. Gatal di sekitar anus sejak 5 hari yang lalu. 2. Gatal pada malam hari, tidurnya sering terganggu, dan sering menangis pada malam hari. 3. 2 hari yang lalu mengeluh gatal di vagina

Riwayat Penyakit Dahulu (RPD): Beberapa kali mengalami seperti ini.

Riwayat Penyakit Keluarga (RPK): Adiknya kurang lebih sebulan yang lalu sakit seperti ini, namun sekarang sudah sembuh setelah berobat ke dokter.

Riwayat Sosial dan Kebiasaan (RSK): 1. Tidak mencuci tangan sebelum makan 10

2. Jarang memotong kuku (kuku tangan panjang dan kotor) 3. Suka mengisap jempol 4. Tidur satu tempat tidur bersama adik. 5. Sprei dicuci 3 bulan sekali. 6. Sehabis mandi sering tidak mengganti celana dalam

Pemeriksaan Fisik Tanda Vital Kesadaran umum Berat badan Tinggi badan Nadi Suhu RR Tensi : Cengeng : 15 kg : 104 cm :100 x / menit : 36,5oC : 18 x/menit : 100/65 mmHg

Kepala leher Thorax

: anemi - / ikterus- / sianosis - / dyspnea : - Cor : dbn - Pulmo : dbn

Abdomen

: Hepar, lien, ren tidak teraba Meteorismus Bising usus normal

Ekstremitas

: akral hangat

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan anal swab; di bawah mikroskop didapatkan telur berbentuk lonjong asimetris; salah satu sisi rata sedangkan sisi lainnya cembung.

11

BAB V Hipotesis Awal (Differential Diagnosis)

1. Enterobiasis 2. Scabies

12

BAB VI Analisis dari Differential Diagnosis

A. Gejala Klinis Identitas Pasien Nama : An. Ani

Jenis Kelamin : Perempuan Usia Alamat : 4 tahun : Jl. Pakis Wetan Surabaya

Anamnesis Keluhan Utama: gatal di sekitar anus

Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) : 4. Gatal di sekitar anus sejak 5 hari yang lalu. 5. Gatal pada malam hari, tidurnya sering terganggu, dan sering menangis pada malam hari. 6. 2 hari yang lalu mengeluh gatal di vagina

Riwayat Penyakit Dahulu (RPD): Beberapa kali mengalami seperti ini.

Riwayat Penyakit Keluarga (RPK): Adiknya kurang lebih sebulan yang lalu sakit seperti ini, namun sekarang sudah sembuh setelah berobat ke dokter.

Riwayat Sosial dan Kebiasaan (RSK): 1. Tidak mencuci tangan sebelum makan 2. Jarang memotong kuku (kuku tangan panjang dan kotor) 3. Suka mengisap jempol 4. Tidur satu tempat tidur bersama adik. 13

5. Sprei dicuci 3 bulan sekali. 6. Sehabis mandi sering tidak mengganti celana dalam

B. Pemeriksaan Fisik Tanda Vital Kesadaran umum Berat badan Tinggi badan Nadi Suhu RR Tensi : Cengeng : 15 kg : 104 cm :100 x / menit : 36,5oC : 18 x/menit : 100/65 mmHg

Kepala leher Thorax

: anemi - / ikterus- / sianosis - / dyspnea : - Cor : dbn - Pulmo : dbn

Abdomen

: Hepar, lien, ren tidak teraba Meteorismus Bising usus normal

Ekstremitas

: akral hangat

C. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan anal swab; di bawah mikroskop didapatkan telur berbentuk lonjong asimetris; salah satu sisi rata sedangkan sisi lainnya cembung.

14

NO 1

PERBEDAAN Definisi

SCABIES

ENTEROBIASIS atau oxyuriasis

Skabies atau sering juga disebut Enterobiasis

penyakit kulit berupa budukan adalah penyakit akibat infeksi dapat ditularkan melalui kontak cacing Enterobius vermicularis erat dengan orang yang atau Oxyuris vermicularis.

terinfeksi merupakan penyakit Disebut pula sebagai pinworm yang disebabkan oleh infestasi infection, atau di Indonesia

dan sensitisasi terhadap kutu dikenal sebagai infeksi cacing Sarcoptes scabiei var hominis kremi. Penyakit ini identik

dan tinjanya pada kulit manusia.

dengan anak-anak, meski tak jarang orang dewasa juga

terinfeksi. 2 Gejala Klinis 1. Pruritus nokturna 2. Penyakit ini dapat menyerang manusia secara kelompok 3. Adanya terowongan 1. Gejala adanya infeksi serius karena enterobiasis ini tidak nampak atau asimptomatik - 2. Sering terjadi iritasi atau gatal-gatal di bagian perianal

terowongan di bawah lapisan kulit (kanalikuli), lurus

yang 3. Biasanya terjadi pada malam atau hari 4. Menggaruk pada bagian ini

berbentuk berkelok-kelok 4. Menemukan

kutu

pada

dapat

menyebabkan

pemeriksaan kerokan kulit secara

munculnya infeksi bakteri

mikroskopis, 5. Nafsu makan berkurang dan tampak ada lingkaran hitam yang tidak biasa pada mata pasien apakah 1. Menganamnesa pasien

merupakan diagnosis pasti penyakit ini 3 Pemeriksaan Fisik 1. Menganamnesa menanyakan

dengan

dengan menanyakan apakah keluarganya atau teman

keluarganya

atau teman dekat

ada yang sakit seperti yang dialami penderita 2. Menanyakan riwayat

dekat ada yang sakit seperti yang dialami penderita 2. Menanyakan riwayat 15

gatalnya 3.

pada

saat

kapan

gatalnya pada saat kapan

Didapatkan di

efloresensi tempat-tempat

polimorf predileksi 4

Pemeriksaan Penunjang Untuk menemukan tungau dapat Untuk penegakan diagnosis dari dilakukan dengan beberapa cara: enterobiasis ini dapat dilakukan 1. Kerokan di kulit daerah dapat dengan ditemukannya telur atau sekitar larva cacing pada pemeriksaan selama 3 hari

dilakukan

papula yang lama maupun yang mikroskopik baru. 2. 2. Dengan cara berturut-turut. menyikat Pengambilan

sampel cara

dapat anal

dengan sikat dan ditampung dilakukan pada kertas

dengan

putih kemudian swab, yaitu menggunakan alat seperti tongue spatel yang

dilihat dengan kaca pembesar 3.

3. Dengan membuat biopsy dilekati dengan adhesive tape irisan, yaitu lesi dijepit dengan 2 yang berguna agar telur/larva jari kemudian dibuat irisan tipis cacing disekitar anus dapat dengan pisau kemudian menempel pada adhesive tape diperiksa cahaya dengan sehingga dapat mikroskop tersebut dilakukan pemeriksaan secara mikroskopis 4. Dengan biopsy eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan Pengambilan dilakukan sampel pagi ini hari waktu tuluol. dengan reagen

Hematoxylin Eosin

sebelum anak BAB maupun cebok 5 Faktor yang Menyebabkan Penyakit Sarcoptes scabieivar hominis Enterobius vermicularis

16

Tabel Perbandingan Penyakit NO 1 CIRI-CIRI Gatal Terjadi pada Malam Hari 2 3 Gatal disekitar Anus Ditemukan Telur atau Larva Cacing pada Pemeriksaan Feses 4 Nafsu Makan Berkurang pada Penderita 5 Menyerang Secara Berkelompok 6 Umumnya Menyerang Anak-Anak yang Kurang Menjaga Kebersihan Dirinya 7 Penularan dengan Cara Kontak Langsung atau Tidak Langsung dengan Penderita SCABIES ENTEROBIASIS

17

BAB VII Hipotesis Akhir (Diagnosis)

Enterobiasis A. DEFINISI Enterobiasis atau oxyuris merupakan penyakit akibat infeksi nematoda genus Enterobius, khususnya Enterobius vermicularis atau Oxyuris vermicularis. Penyakit ini biasa dikenal dengan penyakit cacing kremi. Enterobius vermicularis telah diketahui sejak dahulu dan telah banyak dilakukan penelitian mengenai biologi, epidemiologi, dan gejala klinisnya.

B. Epidemiologi Penyebaran cacing kremi atau Enterobius vermicularis lebih luas daripada cacing lain. Penularan dapat terjadi pada suatu keluarga atau kelompok-kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang sama (asrama, rumah piatu). Telur cacing dapat diisolasi dari debu di ruangan sekolah atau kafetaria sekolah dan mungkin ini menjadi sumber infeksi bagi anakanak sekolah. Di berbagai rumah tangga dengan beberapa anggota keluarga yang mengandung Enterobiasis vermicularis dapat ditemukan (92%) di lantai, meja, kursi, bufet, tempat duduk kakus (toilet seats), bak mandi, alas kasur, pakaian, dan tilam (Gandahusada, 1998). Frekuensi di Indonesia tinggi, terutama pada anak-anak lebih banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah. Frekuensi pada orang kulit putih lebih tinggi daripada orang negro (Sudoyo, 2007).

C. Morfologi dan Daur Hidup


Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Pada ujung anterior ada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Bulbus esofagus jelas sekali, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur. Sedangkan cacing jantan berukuran 2-5 mm, juga mempunyai sayap dan ekornya melingkar sehingga 18

bentuknya seperti tanda tanya (?). Spikulum pada ekor jarang ditemukan. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum. Makanannya adalah isi dari usus. (Gandahusada, 1998) Cacing betina gravid mengandung 11.000-15.000 butir telur, bermigrasi ke daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telur-telur jarang dikeluarkan di usus, sehingga jarang ditemukan di dalam tinja. Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetrik). Dinding telur bening dan agak lebih tebal dari dinding telur cacing tambang. Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu badan. Telur resisten terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari. (Gandahusada, 1998) Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kopulasi, sedangkan cacing betina mati setelah bertelur. Infeksi enterobiasis terjadi bila menelan telur matang atau bila larva dari telur yang menetas di daerah perianal bermigrasi kembali ke usus besar. Bila telur matang yang tertelan, telur menetas di duodenum dan larva rhabditiformis berubah dua kali sebelum menjadi dewasa di jejunum dan bagian atas ileum. (Gandahusada, 1998) Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya, mulai dari tertelannya telur matang sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah perianal, berlagsung kirakira 1 bulan karena telur-telur cacing dapat ditemukan kembali pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan. Infeksi cacing ini dapat sembuh sendiri (self limited). Bila tidak ada reinfeksi, tanpa pengobatan pun infeksi dapat berakhir. (Gandahusada, 1998)

D. Cara Penularan
Anjing dan kucing bukan mengandung Enterobiasis vermicularis tetapi dapat menjadi sumber infeksi oleh karena telur dapat menempel pada bulunya. Adapun penularan penyakit enterobiasis dapat dipengaruhi oleh: (Staf IKA FK UI, 2007) 1. Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah perianal (autoinfeksi) atau tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain maupun kepada diri sendiri karena memegang benda-benda maupun pakaian yang terkontaminasi. 2. Debu merupakan sumber infeksi oleh karena mudah diterbangkan oleh angin sehingga telur melalui debu dapat tertelan. 3. Retroinfeksi melalui anus, yaitu larva dari telur yang menetas di sekitar anus kembali masuk ke anus. 19

E. Gejala
Gejala klinis yang penting dan paling sering ditemukan adalah rasa gatal pada anus (pruritus ani), yang timbul terutama pada malam hari. Rasa gatal ini harus dibedakan dengan rasa gatal yang disebabkan oleh jamur, alergi dan pikiran. Gejala lain adalah anoreksia, badan menjadi kurus, sukar tidur dan pasien menjadi iritabel, seringkali terjadi terutama pada anak. Pada wanita dapat menyebabkan vaginitis. Cacing dewasa di dalam usus dapat menyebabkan gejala nyeri perut, rasa mual, muntah, diare yang disebabkan karena iritasi cacing dewasa pada sekum, apendiks dan sekitar muara anus besar. (Sudoyo, 2007) Kadang-kadang cacing dewasa muda dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung, esofagus dan hidung sehingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut. Selain itu, gejala lain yang didapatkan antara lain enuresis atau mengompol, cepat marah, gigi menggeretak, insomnia, dan masturbasi, tetapi masih sukar untuk membuktikan hubungan sebab akibat dengan Enterobius vermicularis. (Sudoyo, 2007)

20

BAB VIII Mekanisme Diagnosis


Mekanisme Berupa Bagan Sampai Terjadinya Diagnosis Pemeriksaan Fisik
Keluhan Utama Gatal disekitar anus

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan anal swab; di bawah mikroskop didapatkan telur berbentuk lonjong asimetris; salah satu sisi rata sedangkan sisi lainnya cembung.

Vital Sign Keadaan Berat badan Tinggi badan Nadi Suhu Kepala & leher : cengeng : 15 kg : 104 cm : 100X /menit : 36,50 C : Anemia - /icterus - / Cyanosis - / dyspnea -

Enterobiasis Anamnesa
Nama Umur : An. Ani : 4 tahun Riwayat Penyakit Dahulu ( RPD )

Diagnosa

Jenis Kelamin :Perempuan Alamat : Jl. Pakis Wetan Surabaya

Beberapa kali mengalami seperti ini.


Riwayat Penyakit Keluarga (RPK )

Adiknya kurang lebih sebulan yang lalu sakit


Riwayat Penyakit Sekarang ( RPS )

seperti ini, namun sekarang sudah sembuh setelah berobat ke dokter

Gatal disekitar anus sejak 5 hari yang lalu, gatal pada malam hari, tidur sering terganggu, sering menangis. 2 hari yang lalu mengeluh gatal di vagina

Riwayat Sosial dan Kebiasaan (RSK) Tidak mencuci tangan sebelum makan, jarang memotong kuku, suka mengisap jempol, tidur satu tempat tidur bersama adik, sprei dicuci 3 bulan sekali, sehabis mandi sering tidak mengganti celana dalam.

21

BAB IX Strategi Penyelesaian Masalah

A. PENATALAKSANAAN Enterobiasis sebenarnya adalah self limited disease bila tidak ada reinfeksi tanpa pengobatan pun akan sembuh namun dapat diberikan terapi seperti: 1. Medikamentosa Mebendazole, diberikan dalam dosis tunggal 100 mg diulang setelah 2 minggu dan 4 minggu kemudian.Obat ini mempunyai bioavailabilitas sistemik yang rendah disebabkan absorbsinya yang buruk dan mengalami metabolisme lintas pertama yang cepat. Absorbsi mebendazoleakan meningkat bila diberikan bersama dengan makanan yang berlemak. Mebendazole menyebabkan kerusakan struktur subselular dan menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing, menghambat intake glukosa secara irreversibel sehingga terjadi deplesi glikogen yang membuat cacing akan mati perlahan-perlahan.Hasil terapi yang memuaskan akan terlihat setelah 3 hari pemberian obat. Efek sampingnya mual, muntah, diare, dan sakit perut yang bersifat sementara, kemudian terdapat erratic migration yaitu cacing keluar lewat mulut. Albendazole dosis tunggal 400 mg diulang setelah 2 minggu. Obat ini availabilitasnya hampir sama dengan mebendazol karena albendazol merupakan derivat mebendazoel. Cara kerjanya dengan mengikat -tubulin parasit sehingga menghambat polimerisasi mikrotubulus dan memblok pengambilan glukosa oleh larva maupun cacing dewasa sehingga persediaan glikogen menurun dan pembentukan ATP berkurang akibatnya cacing akan mati. Efek sampingnya berupa nyeri ulu hati, diare, sakit kepala, mual, lemah, pusing, dan insomnia. Mebendazol dan albendazol merupakan antelmintik yang luas spektrumnya.Kedua obat ini efektif pada semua stadium perkembangan cacing kremi. Piperazin, diberikan dalam dosis tunggal (baik anak-anak maupun dewasa) 65 mg/ kgBB, maksimum 2,5 gram sekali sehari selama 7 hari berturut-turut namun sebaiknya diulang sesudah 1-2 minggu atau diberikan selama 4 hari berturut-turut. Cara kerja obat ini 22

dengan menghambat kerja GABA pada otot cacing sehingga mengganggu permeabilitas membran sel terhadap ion-ion yang berperan dalam mempertahankan potensial istirahat yang menyebabkan hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan disertai paralisis.5 Cacing akan keluar 1-3 hari setelah pengobatan. Efek sampingnya gangguan GIT, sakit kepala, pusing, dan alergi. Pirantel pamoat, diberikan dalam dosis tunggal 10 mg/ kgBB diulang setelah 2 minggu.Obat ini menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls sehingga cacing mati dalam keadaan spastis.5 Efek sampingnya hanya berupa keluhan saluran cerna, demam, dan sakit kepala yang sifatnya sementara.Piperazin dan pirantel pamoat dosis tunggal tidak efektif terhadap stadium muda. Semua terapi pengobatan sebaiknya diulang lagi 2-3 minggu kemudian karena telur-telur cacing dapat ditemukan kembali pada anus 5 minggu setelah pengobatan.

2. Non medikamentosa Anak dengan cacing kremi sebaiknya memakai celana panjang jika hendak tidur supaya alat kasur tidak terkontaminasi dan hindarkan tangan dari menggaruk daerah perianal.Pengobatan dilakukan pada semua anggota keluarga adan juga kepada orang yang sering berhubungan dengan pasien.Memulihkan imunitas tubuh (makan makanan yang bergizi serta mengkonsumsi vitamin).Baik dan tidak menimbulkan bahaya terutama dengan pengobatan yang baik namun harus selalu memperhatikan kebersihan untuk mencegah terjadinya retrofeksi kembali.

B. PRINSIP TINDAKAN MEDIS Pengobatan

a.Perawatan umum

1) Pengobatan sebaiknya dilakukan juga terhadap keluargaserumah atau yang sering berhubungan dengan pasien 2) Kesehatan pribadi perlu diperhatikan terutama kuku, jari-jaridan pakaiain tidur 23

3) Toilet sebaiknya dibersihkan dan disiram dengan desinfektan, bila mungkin setiap hari

b. Pengobatan spesifik

1) Mebendazole Pemberian mebendazole dengan dosis tunggal 500 mg,diulang setelah 2 minggu. Kerjanya merusak subseluler danmenghambat sekresi asetilkolinesterase cacing,

menghambatambilan glukosa.Absorpsi oral buruk, ekskresi terutama lewaturin dalam dalam bentuk utuh.

2) Albendazole Albendazole diberikan dosis tunggal 400 mg diulangsetelah 2 minggu.

3) Piperazin sitrat Piperazin sitrat diberikan dengan dosis 2 x 1 g/hariselama 7 hari berturut-turut dapat diulang dengan interval 7 hari.Kerjanya menyebabkan blokade respon otot cacing terhadapasetilkolin sehingga terjadi paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus.Absorpsi melalui salurancerna, ekskresi melalui urine.

4) Pirvium pamoat Obat ini diberikan dengan dosis 5 mg/kg berat badan(maksimum 0,25 g) dan diulangi 2 minggu kemudian. Obat inidapat menyebabkan rasa mual, muntah dan warna tinja menjadimerah.Bersama mebendazole efektif terhadap semua stadiumcacing Enterobius vermicularis.

5)Pirantel pamoat Pirantel pamoat diberikan dengan dosis 10 mg/kgberat badan sebagai dosis tunggal dan maksimum 1 gram. Kerjanya mendepolarisasi padaotot cacing dan meningkatkanfrekuensi impuls, menghambat enzim kolinesterase.Absorpsimelalui usus tidak baik, ekskresi sebagian besar bersama tinja,<15% lewat urine. 24

BAB X Prognosis dan Komplikasi


A. PROGNOSIS

Infeksi cacing ini biasanya tidak begitu berat, dan dengan pemberian obatobat yang efektif maka komplikasi dapat dihindari.Pengobatan yang secara periodik akan memberikan prognosis yang baik.Yang sering menimbulkan masalah adalah infeksi intra familiar, apalagi dengan keadaan higenik yang buruk.Baik dan biasanya tidak menimbulkan bahaya, terutama dengan pengobatan yang baik. Yang perlu diperhatikan adalah kebersihan dan pencegahanautoatauheteroinfectionkembali. (Markum, A.H. dkk.2007)

B. PENCEGAHAN Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk pencegahanatau mengendalikan infeksi cacing kremi (Enterobius vermicularis)antaralain : a.Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar, mencuci daerah anus setelah bangun tidur b.Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku c.Mencuci sprei minimal 2 kali seminggu d.Membersihkan kamar mandi atau jamban setiap hari e.Sebaiknya pakaian dicuci bersih dan diganti setiap hari f.Makanan hendaknya dihindarkan dari debu dan tangan yangmengandung parasit g. Setelah mandi, mengganti celana dalam dengan celana yang lebih bersih h. Pengolahan makanan yang benar

25