Anda di halaman 1dari 23

A.

Latar Belakang Dengan meningkatnya taraf kesehatan Indonesia, dimana hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM anak Indonesia yang cerdas, sehat untuk masa yang akan datang maka pemerintah bersama Dinas Kesehatan beserta jajarannya berupaya sedini mungkin untuk mengatasi masalahmasalah kesehatan yang sangat banyak terjadi di masyarakat khususnya yang terjadi pada anakanak. Diantaranya tingkat mortalitas bayi setelah lahir, dengan sepsis, malnutrisi, BBLR dan prematurisme yang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Sepsis neonatorum merupakan salahsatu masalah yang dapat menyebabkan kematian pada bayi dengan insiden sepsis neonatal sangat rendah, antara 1-8 kasus per 1000 kelahiran hidup dengan Meningitis sebanyak 20%-25%, mortalitas berkisar antara 20%-30%. Epidemiologi infeksi neonatal dapat berubah-ubah seperti halnya bayi berat lahir rendah yang dapat bertahan hidup untuk waktu yang lebih lama. Insiden infeksi berbanding terbalik dengan umur kelahiran dan berat badan lahir mungkin mencapai 25%-40% diantara bayi dengan berat badan 5001000 gr saat lahir dan 12%-40% pada bayi 1000-1500gr. Infeksi nasokomial pada bayi berat badan lahir sangat rendah (< 1500gr ) rentan sekali menderita sepsis neonatal. Selain perubahan-perubahan tersebut, spektrum etiologi bakteri dan mortalitas sepsis neonatal yang berkembang. Pada tahun 1930, Steptococcus hemolitikus grup A merupakan penyebab terbanyak infeksi neonatal dan dikendalikan dengan penisilin. Pada tahun 1940 insiden infeksi gram negatif, khususnyan E.colli, meningkat dan pada tahun 1950-an insiden staphilococcus penghasil penisilinase ( S.aureus ) meningkat. Sejalan dengan berkembangnya pemahaman kolonisasi pada neonatus, praktik perawatan kulit dan tali pusat berkembang pula. Infeksi gram negatif menonjol pada tahun 1960 dan tahun 1970 streptococcus b hemolitikus grup B yang menonjol. Pada tahun 1980-an infeksi nasokomial merupakan masalah utama dalam bangsal perawatan intensif. Bersamaan dengan perubahan organisme penyebab infeksi bisa terjadi menurunnya mortalitas, mungkin sebagian mencerminkan besarnya organisme gram positif sebagai agen etiologi yang menonjol hingga sekarang mortalitasnya dilaporkan sebesar 11% 20 %. Bila tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kematian dalam beberapa jam, oleh Karena itu perlu adanya pengetahuan bagi tim kesehatan dalam pemberian pelayanan keperawatan dan medis dalam penatalaksanaan sepsis neonatorum, sehingga dapat mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas bayi, dan dapat mempertahankan generasi penerus yang sehat.

B. 1. 2. 3.

Rumusan Masalah Apa pengertian sepsis neonatorum? Apa saja etiologi dari sepsis neonatorum? Bagaimana Patofisiologi dari sepsis neonatorum?

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Bagaimana manifestasi klinis pada penderita sepsis neonatorum? Apa saja pemeriksaan diagnostic pada penderita sepsis neonatorum? Bagaimana prognosis pada penderita sepsis neonatorum? Apa saja komplikasi yang terjadi pada penderita sepsis neonatorum? Bagaimana penatalaksanaan pada penderita sepsis neonatorum? Bagaimana pencegahan dari sepsis neonatorum?

10. Bagaimanakah asuhan keperawatan yang tepat pada pasien denagan sepsis neonatorum?

C. Tujuan

1.

Tujuan Umum

Untuk melengkapi tugas mata kuliah Asuhan Keperawatan Anak II pada semester VI, sertta diharapkan mhasiswa mampu memahami dan mengerti tentang Sepsis Neonatorum 2. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tujuan Khusus Agar mahasiwa mengetahui pengertian dari sepsis neonattorum Agar mahasiwa mengetahui Etiologi dari sepsis nenatorum Agar mahasiwa mengetahui Patofisiologi dari sepsis neonatorum Agar mahasiwa mengetahui Manifestasi dari sepsis neonatorum Agar mahasiwa mengetahui Pemeriksaan diagnostic dari sepsis neonatorum Agar mahasiwa mengetahui prognosis pada penderita sepsis neonatorum? Agar mahasiwa mengetahui komplikasi yang terjadi pada penderita sepsis neonatorum? Agar mahasiwa mengetahui pada penderita sepsis neonatorum? Agar mahasiwa mengetahui pencegahan dari sepsis neonatorum?

10. Agar mahasiwa mengetahui Asuhan keperawatan pada sepsis neonatorum

D. Manfaat Penulisan Diharapkan penulisan makalah ini mahasiswa dapat mengidentifikasi tentang Sepsis Neonatorum pada bayi baru lahir serta penanganannya.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit sepsis neonatorum dapat berlangsung cepat sehingga seringkali tidak terpantau, tanpa pengobatan yang memadai bayi dapat meninggal dalam 24 sampai 48jam.(perawatan bayi beriko tinggi, penerbit buku kedoktoran, jakarta : EGC) Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak, 2005). Sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit sepsis dapat berlangsung cepat sehingga sering kali tidak terpantau tanpa pengobatan yang memadai sehingga neonatus dapat meninggal dalam waktu 24 sampai 48 hari. (Surasmi, 2003) Sepsis neonatal adalah merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur, dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir. (DEPKES 2007) Sepsis neonatorum adalah infeksi yang terjadi pada bayi dalam 28 hari pertama setelah kelahiran. (Mochtar, 2005) Dari beberapa pengertian diatas, kami menyimpulkan bahwa sepsis neunatorum adalah infeksi berat karena bakteri pada aliran darah bayi selama empat minggu pertama kehidupan dan dapat menyebabkan kematian.

B.

Etiologi

Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri. Bakteri escherichia koli Streptococus group B Stophylococus aureus Enterococus Listeria monocytogenes

Klepsiella Entererobacter sp Pseudemonas aeruginosa Proteus sp Organisme anaerobic

Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika, paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima wanita hamil, yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. Bayi prematur yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif seperti infus jangka panjang, pemasangan sejumlah kateter, dan bernafas melalui selang yang dihubungkan dengan ventilator. Organisme yang normalnya hidup di permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas. Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia tersamar, yang bila tidak segera dirawat, kadang-kadang dapat megarah ke sepsis. Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah, tapi tidak ada sumber infeksi yang jelas. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar adalah demam. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas dan penelitian menunjukkan bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun

Faktor- faktor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok, yaitu : 1. Faktor Maternal

a. Status sosial-ekonomi ibu, ras, dan latar belakang. Mempengaruhi kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. Ibu yang berstatus sosio- ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih. b. Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun c. d. e. Kurangnya perawatan prenatal. Ketuban pecah dini (KPD) Prosedur selama persalinan.

2.

Faktor Neonatatal

a. Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram), merupakan faktor resiko utama untuk sepsis neonatal. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. Setelah lahir, konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun, menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. b. Defisiensi imun. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. Dengan adanya hal tersebut, aktifitas lintasan komplemen terlambat, dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik, bersama dengan penurunan fibronektin, menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi. c. Laki-laki dan kehamilan kembar. Insidens sepsis pada bayi laki- laki empat kali lebih besar dari pada bayi perempuan.

3.

Faktor Lingkungan

a. ada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan prosedur invasif, dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama. Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi. b. Paparan terhadap obat-obat tertentu, seperti steroid, bis menimbulkan resiko pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas, sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas, sehingga menyebabkan resisten berlipat ganda. c. Kadang- kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial), paling sering akibat kontak tangan. d. Pada bayi yang minum ASI, spesies Lactbacillus dan E.colli ditemukan dalam tinjanya, sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E.colli. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara, yaitu : 1. Pada masa antenatal atau sebelum lahir.

Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara lain virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini, antara lain malaria, sipilis, dan toksoplasma. 2. Pada masa intranatal atau saat persalinan.

Infeksi saat persalinan terjadi karena yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. Akibatnya, terjadi amniotis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh bayi. Cara lain, yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi akan terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain cara tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. Beberapa kuman yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis, Candida albican,dan N.gonorrea.

3.

Infeksi paska atau sesudah persalinan.

Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal melalui alat- alat : penghisap lendir, selang endotrakhea, infus, selang nasogastrik, botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus (AsriningS.,2003)

C. Patofisiologi Neonatus sangat rentan terhadap infeksi sebagai akibat rendahnya imunitas non spesifik (inflamasi) dan spesifik (humoral), seperti rendahnya fagositosis, keterlambatan respon kemotaksis, minimal atau tidak adanya imunoglobulin A dan imunoglobulin M (IgA dan IgM), dan rendahnya kadar komplemen. Sepsis pada periode neonatal dapat diperoleh sebelum kelahiran melalui plasenta dari aliran darah maternal atau selama persalinan karena ingesti atau aspirasi cairan amnion yang terinfeksi. Sepsis awal (kurang dari 3 hari) didapat dalam periode perinatal, infeksi dapat terjadi dari kontak langsung dengan organisme dari saluran gastrointestinal atau genitourinaria maternal. Organisme yang paling sering menginfeksi adalah streptokokus group B (GBS) dan escherichia coli, yang terdapat di vagina. GBS muncul sebagaimikroorganisme yang sangat virulen pada neonatus, dengan angka kematian tinggi (50%) pada bayi yang terkena Haemophilus influenzae dan stafilokoki koagulasi negatif juga sering terlihat pada awitan awal sepsis pada bayi BBLSR. Sepsis lanjut (1 sampai 3 minggu setelah lahir) utamanya nosokomial, dan organisme yang menyerang biasanya stafilokoki, klebsiella, enterokoki, dan pseudomonas. Stafilokokus koagulasi negatif, baiasa ditemukan sebagai penyebab septikemia pada bayi BBLR dan BBLSR. Invasi bakterial dapat terjadi melalui tampatseperti puntung tali pusat, kulit, membran mukosa mata, hidung, faring, dan telinga, dan sistem internal seperti sistem respirasi, saraf, perkemihan, dan gastrointestinal. Infeksi pascanatal didapat dari kontaminasi silang dengan bayi lain, personel, atau benda benda dilingkungan. Bakteri sering ditemukan dalam sumber air, alat pelembab, pipa wastafel, mesin

penghisap, kebanyakan peralatan respirasi, dan kateter vena dan arteri terpasang yang digunakan untuk infus, pengambilan sampel darah, pemantauantanda vital. (Donna L. Wong, 2009). Proses patofisiologi sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium perubahan ambilan dan penggunaan oksigen terhambatnya fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolik yang progresif. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat, complemen cascade menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan syok, yang mengakibatkan disseminatedintravaskular coagulation (DIC) dan kematian.( Bobak, 2004). Penderita dengan gangguan imun mempunyai peningkatan resiko untuk mendapatkan sepsis nosokomial yang serius. Manifestasi kardiopulmonal pada sepsis gram negatif dapat ditiru dengan injeksi endotoksin atau faktor nekrosis tumor (FNT). Hambatan kerja FNT oleh antibodi monoklonal anti-FNT sangat memperlemah manifestasi syok septik. Bila komponen dinding sel bakteri dilepaskan dalam aliran darah, sitokin teraktivasi, dan selanjutnya dapat menyebabkan kekacauan fisiologis lebih lanjut.Baik sendirian ataupun dalam kombinasi, produk-produk bakteri dan sitokin proradang memicu respon fisiologis untuk menghentikan penyerbu (invader) mikroba. FNT dan mediator radang lain meningkatkan permeabilitas vaskuler, dan terjadinya ketidakseimbangan tonus vaskuler, dan terjadinya ketidakseimbangan antara perfusi dan kenaikan kebutuhan metabolik jaringan. Syok didefinisikan dengan tekanan sistolik dibawah persentil ke-5 menurut umur atau didefinisikan dengan ekstremitas dingin. Pengisian kembali kapiler yanng terlambat (>2 detik) dipandang sebagai indikator yang dapat dipercaya pada penurunan perfusi perifer. Tekanan vaskuler perifer pada syok septik (panas) tetapi menjadi sangat naik pada syok yang lebih lanjut (dingin). Pada syok septik pemakaian oksigen jaringan melebihi pasokan oksigen. Ketidakseimbangan ini diakibatkan oleh vasodilatasi perifer pada awalnya, vasokonstriksi pada masa lanjut, depresi miokardium, hipotensi, insufisiensi ventilator, anemia. (Nelson, 1999). Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat atau zat-zat racunnya, yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar. Zat-zat patogen dapat berupa bakteri, jamur, virus, maupun riketsia. Penyebab yang paling umum dari septisemia adalah organisme gram negatif. Jika perlindungan tubuh tidak efektif dalam mengontrol invasi mikroorganisme, mungkin dapat terjadi syok septik, yang dikarakteristikkan dengan perubahan hemodinamik, ketidakseimbangan fungsi seluler, dan kegagalan sistem multipel. (Marilynn E. Doenges, 1999).

Melalui Air Ketuban

Bakteri

Infeksi pada Ibu meningitis,oesteomelitis

Masuk kedalam tubuh janin resiko infeksi Terjadinya Infeksi awal

Infeksi/Kuman menyebar Keseluruh tubuh janin

Hipotalamus

Organ Hati

Organ pernafasan

Sistem Gastrointestinal Muntah, Diare Malas menghisap

Berespon menghasil Erirtosit banyak kan panas tubuh Dilisis

G3 sirkulasi O2 CO2

Gangguan Volume cairan elektrolit Hipertermia Fungsi tidak optimal Gangguan pola nafas Hiperbilirubin Jaundice (ikterif) Bayi akan sesak

Ke Otak Enselopati Kemit ikterik(kejang) resiko cedera

D. Manifestasi klinis 1. 2. 3. Umum : panas, hipotermi, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerema Saluran cerna : distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatomegali Saluran napas : apnea, dispnea, takipnea, retraksi, napas cuping hidung, merintih, sianosis.

4. Sistem kardiovaskuler : pucat, sianosis, kulit marmorata, kulit lembab, hipotensi, takikardi, bradikardia. 5. Sistem saraf pusat : irritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun menonjol,high-pitched cry 6. Hematologi : ikterus,splenomegali, pucat, petekie, purpura, pendarahan.

(Kapita selekta kedokteran Jilid II,Mansjoer Arief 2008) Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan, kejang, jaundice, muntah, diare, dan perut kembung

Gejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar

Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma, kejang,opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun

Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah

E.

Pemeriksaan penunjang

Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan neutropemia dengan pergeseran ke kiri (imatur: total seri granolisik > 0,2). Kultur darah dapat menunjukkan organisme penyebab.

Analisis kultur urine dan cairan sebrospinal (CSS) dengan lumbal fungsi dapat mendeteksi organisme. DPL menunjukan peningkatan hitung sel darah putih (SDP) dengan peningkatan neutrofil immatur yang menyatakan adanya infeksi. Laju endah darah, dan protein reaktif-c (CRP) akan meningkat menandakan adanya inflamasi.

F.

Prognosis

Pada umumnya angka kematian sepsis neonatal berkisar antara 1040% dan pada meningitis 15 50%. Tinggi rendahnya angka kematian tergantung dari waktu timbulnya penyakit penyebabnya, besar kecilnya bayi, beratnya penyakit dan tempat perawatannya. Gejala sisa neurologik yang jelas nampak adalah hidrosefalus, retardasi mental, buta, tuli dan cara bicara yang tidak normal. Kejadian gejala sisa ini adalah sekitar 30 50% pada bayi yang sembuh dari meningitis neonatal. Gejala sisa ringan seperti gangguan penglihatan, kesukaran belajar dan kelainan tingkah laku dapat pula terjadi.

G. Komplikasi Dehidrasi Asidosis metabolic Hipoglikemia Anemia Hiperbilirubinemia Meningnitis

DIC.

H. penatalaksanaan Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur < 7 hari dibagi 3 dosis), dan Netylmycin (Amino glikosida)dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i.m/i.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i.v harus diencerkan dan waktu pemberian sampai 1 jam pelan-pelan). Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap, urine, lengkap, feses lengkap, kultur darah, cairan serebrospinal, urine dan feses (atas indikasi), pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel, kimia, pengecatan Gram), foto polos dada, pemeriksaan CRP kuantitatif). Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin, gula darah, analisa gas darah, foto abdomen, USG kepala dan lain-lain. Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi, pemeriksaan darah dan CRP normal, dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi, CRP tetap abnormal, maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i.v i.m (atas indikasi khusus). Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.Pengobatan suportif meliputi : Termoregulasi, terapi oksigen/ventilasi mekanik, terapi syok, koreksi metabolik asidosis, terapi hipoglikemi/hiperglikemi, transfusi darah, plasma, trombosit, terapi kejang, transfusi tukar

I. Pencegahan a. Pada masa antenatal

Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang di derita ibu, asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin, rujukan segera ketempat pelayanan yang memadai bila diperlukan. b. Pada saat persalinan

Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptic, yang artinya dalam melakukan pertolongan persalinan harus dilakukan tindakan aseptik.Tindakan intervensi pada ibu dan bayi seminimal mungkin dilakukan (bila benar-benar diperlukan). Mengawasi keadaan ibu dan janin yang baik selama proses persalinan, melakukan rujukan secepatnya bila diperlukan dan menghindari perlukaan kulit dan selaput lendir.

c.

Sesudah persalinan

Perawatan sesudah lahir meliputi menerapkan rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, mengupayakan lingkungan dan peralatan tetap bersih, setiap bayi menggunakan peralatan tersendiri, perawatan luka umbilikus secara steril. Tindakan invasif harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip aseptik. Menghindari perlukaan selaput lendir dan kulit, mencuci tangan dengan menggunakan larutan desinfektan sebelum dan sesudah memegang setiap bayi. Pemantauan bayi secara teliti disertai pendokumentasian data-data yang benar dan baik. Semua personel yang menangani atau bertugas di kamar bayi harus sehat. Bayi yang berpenyakit menular di isolasi, pemberian antibiotik secara rasional, sedapat mungkin melalui pemantauan mikrobiologi dan tes resistensi. (Sarwono, 2004)

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian 1. Biodata / identitas

Nama : Diisi sesuai nama pasien Umur : Biasanya menyerang pada usia neonatal 0 hari 28 hari Infeksi nasokomial pada bayi berat badan lahir sangat rendah (<1500gr) rentan sekali menderita sepsis neonatal. Alamat : tempat tinggal keluarga tempat tinggalnya padat dan tidak higienis

2.

Riwayat Kesehatan

a. Keluhan utama : Klien datang dengan tubuh berwarna kuning, letargi, kejang, tak mau menghisap, lemah b. Riwayat penyakit sekarang: cara lahir (normal), hilangnya reflek rooting, kekakuan pada leher, tonus otot meningkat serta asfiksia atau hipoksia.apgar score, jam lahir, kesadaran c. Riwayat penyakit dahulu : Ibu klien mempunyai kelainan hepar atau kerusakan hepar karena obstruksi. d. Riwayat kehamilan: demam pada ibu (<37,9c), riwayat sepsis GBS pada bayi sebelumnya, infeksi pada masa kehamilan

e. Riwayat prenatal: Anamnesis mengenai riwayat inkompatibilitas darah, riwayat transfusi tukar atau terapi sinar pada bayi sebelumnya, kehamilan dengan komplikasi, obat yang diberikanpd ibu selama hamil / persalinan, persalinan dgntindakan / komplikasi, rupture selaput ketuban yang lama (>18 jam), persalinan premature(<37 minggu. f. Riwayat neonatal : Secara klinis ikterus pada neonatal dapat dilihatsegera setelah lahir atau beberapa hari kemudian. Ikterus yang tampakpun ssngat tergantung kepada penyebeb ikterus itu sendiri. Bayi menderita sindrom gawat nafas, sindrom crigler-najjar, hepatitis neonatal, stenosis pilorus, hiperparatiroidisme, infeksi pasca natal dan lain-lain. g. Riwayat penyakit keluarga: Orang tua atau keluarga mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan hepar atau dengan darah. h. Riwayat imunisasi : Ditanyakan apakah sudah pernah imunisasi DPT / DT atau TT dan kapan terakhir

3. a. b. c. d.

Activity daily living Nutrisi : Bayi tidak mau menetek Eliminasi : BAB 1x/hari Aktifitas latihan : Kekauan otot, lemah, sering menangis Istirahat tidur : Pola tidur bayi yang normalnya 18 20 jam/hari, saat sakit berkurang

e. Personal hygiene : Biasanya pada bayi yang terkena Infeksi neonatorum, melalui plasenta dari aliran darah maternal atau selama persalinan karena ingesti atau aspirasi cairan amnion yang terinfeksi. f. Psikososial : Bayi rewel

4. a.

Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum: lemah, sulit menelan, kejang

Kesadaran: normal 5. Nadi Suhu Vital sign: TD :

: normal (110-120 x/menit) : meningkat (36,5C 37C)

Pernafasan : meningkat > 40 x/menit (bayi) normal 30-60x/menit)

b.

Kepala dan leher:

Inspeksi: Simetris, dahi mengkerut Kepala: Bentuk kepala mikro atau makrosepali, trauma persalinan, adanya caput, kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar cembung. Rambut : Lurus/keriting, distribusi merata/tidak, warna Mata : Agak tertutup / tertutup,

Mulut : Mecucu seperti mulut ikan Hidung : Pernafasan cuping hidung, sianosis

Telinga : Kebersihan Palpasi: Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan limfe Terdapat kaku kuduk pada leher c. Dada

Inspeksi : Simetris, terdapat tarikan otot bantu pernafasan Palpasi Perkusi Paru : Denyutan jantung teraba cepat, badan terasa panas : Jantung : Dullness : Sonor

Auskultasi : terdengar suara wheezing d. Abdomen

Inspeksi : Flat / datar, terdapat tanda tanda infeksi pada tali pusat (jika infeksi melalui tali pusat), keadaan tali pusat dan jumlah pembuluh darah (2 arteri dan 1 vena) Palpasi Perkusi : Teraba keras, kaku seperti papan : Pekak

Auskultasi : Terdengar bising usus e. Kulit

Turgor kurang, pucat, kebiruan f. Genetalia

Tidak kelainan bentuk dan oedema, Apakah terdapat hipospandia, epispadia, testis BAK pertama kali.

g.

Ekstremitas

Suhu pada daerah akral panas, Apakah ada cacat bawaan, kelainan bentuk, Fleksi pada tangan, ekstensi pada tungkai, hipertoni sehingga bayi dapat diangkat bagai sepotong kayu.

6. a. b. c. 4. 5. 6. 7. 7. a. b. c. B.

Pemeriksaan Spefisik Apagar score Frekuensi kardiovaskuler: apakah ada takikardi, brakikardi, normal Sistem neurologis Reflek moro: tidak ada, asimetris/hiperaktif Reflek menghisap: kuat, lemah Reflek menjejak: baik, buruk koordinasi reflek menghisap dan menelan Pemeriksaan laboatorium sampel darah tali pusat fenil ketonuria hematokrit Analisa dan Sintesa DatA

Analisa data merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, menyeleksi, mengelompokkan, mengaitkan data, menentukan kesenjangan informasi, melihat pola data, membandingakan dengan standar, menginterpretasi dan akhirnya membuat kesimpulan. Hasil analisa data adalah pernyataan masalah keperawatan atau yang disebut diagnosa keperawatan.

C. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko tinggi terhadap infeksi (progesi dari sepsis ke syok sepsis) berdasarkan prosedur invasif, pemajanan lingkungan (nasokomial). 2. Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat infeksi atau inflamasi

3. 4.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder akibat demam Pola nafas tidak efektif b/d perubahan pada suplai O2

(Doenges, 2000)

D. Rencana Keperawatan 1. Resiko tinggi terhadap infeksi (progesi dari sepsis ke syok sepsis) berdasarkan prosedur invasif, pemajanan lingkungan (nasokomial). a. tujuan: Mengenali secara dini bayi yang mempunyai resiko menderita infeksi. b. kriteria hasil: penularan infeksi tidak terjadi. c. intervensi dan rasional

INTERVENSI RASIONAL 1. 1. Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi

1. Isolasi luka linen dan mencuci tangan adalah yang dibutuhkan untuk mengalirkan luka, sementar pengunjung untuk menguranagi kemungkinan infeksi. 2. 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukaan aktivitas walaupun menggunakan sarung tangan steril 2. Mengurangi kontaminasi ulang.

3.

3. Dorong penggantian posisi , nafas dalama/ batuk.

Bersihkan paru yang baaik untuk mencegah pnemonia 4. 3. 5. Batasi penggunaan alat/prosedur invasif jika memungkinkan Mencegah penyebaran infeksi melalui proplet udaraa. 5. Pantau kecendrungan suhu

4. Demam ( 38,5OC- 40OC) disebabkan oleh efek dari endotoksinhipotalkus dan endofrin yang melepaskan pirogen.

2. Hipertermia berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat infeksi atau inflamasi a. Tujuan 36,5-37 ) : setelah dilakukan tindakan 1x24 jam diharapkan suhu tubuh dalam keadaan normal (

b. Kriteria Hasil Suhu tubuh berada dalam batas normal (Suhu normal 36,5o-37o C) Pasien mampu tidur dengan nyenyakPasien tidak kejang hasil lab sel darah putih (leukosit) antara 5.000-10.000/mm3

Nadi dan frekwensi napas dalam batas normal (Nadi neonatus normal 110-120 x/menit, frekwensi napas neonatus normal 30-60x/menit)

c. Intervensi dan Rasional

INTERVENSI RASIONAL 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan tanda-tanda vital yang signifikan akan mempengaruhi proses regulasi ataupun metabolisme dalam tubuh. 2. Observasi adanya kejang dan dehidrasi Hipertermi sangat potensial untuk menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang tidak diketahui jumlahnya dan dapat menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres denga air hangat pada aksila, leher dan lipatan paha, hindari penggunaan alcohol untuk kompres. Kompres pada aksila, leher dan lipatan paha terdapat pembuluh-pembuluh dasar besar yang akan membantu menurunkan demam. Penggunaan alcohol tidak dilakukan karena akan menyebabkan penurunan dan peningkatan panas secara drastis. Kolaborasi 4. Berikan antipiretik sesuai kebutuhan jika panas tidak turun. Pemberian antipiretik juga diperlukan untuk menurunkan panas dengan segera.

3.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder akibat demam

a. tujuan: setelah dilakukan tindakan 1x24 jam diharapkan kebutuhan akan cairan terpenuhi dan TTV dalm batas normal b. c. Kriteria Hasil Bayi mampu menetek BB pasien optimal intake adekuat Bayi mau menghabiskan ASI/PASI 25 ml/6 jam Intervensi dan Rasional

INTERVENSI RASIONAL 1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit Perubahan tanda-tanda vital yang signifikan akan mempengaruhi proses regulasi ataupun metabolisme dalam tubuh. 2. Observasi adanya hipertermi, kejang dan dehidrasi. Hipertermi sangat potensial untuk menyebabkan kejang yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan secara evaporasi yang tidak diketahui jumlahnya dan dapat menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi dehidrasi. 3. Berikan kompres hangat jika terjadi hipertermi, dan pertimbangkan untuk langkah kolaborasi dengan memberikan antipiretik. Kompres air hangat lebih cocok digunakan pada anak dibawah usia 1 tahun, untuk menjaga tubuh agar tidak terjadi hipotermi secara tiba-tiba. Hipertermi yang terlalu lama tidak baik untuk tubuh bayi oleh karena itu pemberian antipiretik diperlukan untuk segera menurunkan panas, misal dengan asetaminofen. 4. Berikan ASI/PASI sesuai jadwal dengan jumlah pemberian yang telah ditentukan Pemberian ASI/PASI sesuai jadwal diperlukan untuk mencegah bayi dari kondisi lapar dan haus yang berlebih.

4.

Pola nafas tidak efektif b/d perubahan pada suplai O2

a. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam dapat mengatur dan membantu usaha bernapasan dan kecukupan oksigen.

b. d.

Kriteria Hasil: Hipoksimia teratasi, mengalami perbaikan kebutuhan O2 Keluarga dapat memposisikan bayinya sesuai yang diajarkan perawat Pernafasan 30 40 x/menit Tidak ada pernafasan cuping hidung Tidak ada tarikan otot bantu pernafasan Tidak mengalami dispnea dan sianosis Intervensi dan Rasional

Intervensi Rasional Pertahankan jalan nafas paten. Tempatkan pasienpada posisi yang nyamandengan kepala tempat tidur tinggi Meningkatkan ekspansi paru-paro, upaya pernafasan Pantau frekuansi dankedalaman pernafasan. Catatpenggunaan otot aksesoris/ upaya untuk bernafas Pernafasan cepat atau dangkalterjadi karena hipoksemia stress dan sirkulasi endotoksin.hipovestilasi dan dispnea merefleksikan mekanisme kompensasi yang tida efektif dan merupakan indikasi bahwa diperlukan dukungan ventilator. Auskultasi bunyi nafas. Perhatikan krekels , mengi, area yang mengalami penurunan/ kehilangan ventilasi Kesulitan pernafasan dan munculnya bunyi advevtisinus merupakan indicator dari kongesti pulmonal/edema interstisial. Etelektasis Catat munculnya sianosis sirkumoral Menunjukkan ogsigen sistemik tidak adekuat/pengurangan perfusi Selidiki perubahan pada sensorium, agitasi, kacau mental, perubahan kepribadian, delirium, koma Fungsi serebral sangat sensitive terhadap penurunan oksigenasi Berikan o2 tambahan melalui jalur yang sesuai, misalnya kanula nasal, masker Diperlukan untuk mengoreksi hipoksemia dengan menggagalkan upaya/progresi asidosis respitorik Tinjau sinar x dada

Perubahan menunjukkan perkembangan/ resolusi dari komplikasi pulmonal, misalnya edema.

E.

Implementasi

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien ( Santosa. NI, 1989;162 )

F.

Evaluasi

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya ( Santosa.NI, 1989;162). Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik dan terencana tentang kesehatan pasien dengan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan . Dalam evaluasi tujuan tersebut terdapat tiga alternatif, yaitu : a. Tujuan tercapai : pasien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. b. Tujuan tercapai sebagian : pasien menunjukkan perubahan sebagian sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. c. Tujuan tidak tercapai : pasien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Sepsis neonatal adalah merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur, dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir. (DEPKES 2007)

2. Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri. 3. Proses patofisiologi sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik.

Pelepasan endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium perubahan ambilan dan penggunaan oksigen terhambatnya fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolik yang progresif. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat, complemen cascade menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan syok, yang mengakibatkan disseminatedintravaskular coagulation (DIC) dan kematian.( Bobak, 2004). 4. a. b. c. Manifestasi klinis meliputi: Umum : panas, hipotermi, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerema Saluran cerna : distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatomegali Saluran napas : apnea, dispnea, takipnea, retraksi, napas cuping hidung, merintih, sianosis.

d. Sistem kardiovaskuler : pucat, sianosis, kulit marmorata, kulit lembab, hipotensi, takikardi, bradikardia. e. Sistem saraf pusat : irritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun menonjol,high-pitched cry f. Hematologi : ikterus,splenomegali, pucat, petekie, purpura, pendarahan.

(Kapita selekta kedokteran Jilid II,Mansjoer Arief 2008) 5. Pemeriksaan penujang meliputi: pemeriksaan darah tepi, Kultur darah, analisa kultur urine, DPL, CPR. 6. Pada umumnya angka kematian sepsis neonatal berkisar antara 1040% dan pada meningitis 1550%. Tinggi rendahnya angka kematian tergantung dari waktu timbulnya penyakit penyebabnya, besar kecilnya bayi, beratnya penyakit dan tempat perawatannya. 7. 8. a. b. Dehidrasi, Asidosis metabolic, Hipoglikemia, Anemia, Hiperbilirubinemia, Meningnitis, DIC. Penatalaksanaan: Diberikan kombinasi antibiotika Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan

c. Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. 9. Pencegahan:

a. Pada masa antenatal: Perawatan antenatal: meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang di derita ibu. b. Pada masa antenatal: Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang di derita ibu. c. Sesudah persalinan: Perawatan sesudah lahir meliputi menerapkan rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, mengupayakan lingkungan dan peralatan tetap bersih, setiap bayi menggunakan peralatan tersendiri, perawatan luka umbilikus secara steril. 10. Konsep Asuhan Keperawatan: pengkajian, analisa data, diagnose keperawatan, NCP, implenentasi, evaluasi.

B.

Saran

a. Meningkatkan mutu pelayan kesehatan b. Meningkatkan peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan c. Meningkatkan pofesionalitas kerja perawat.

DAFTAR PUSTAKA

A.H. Markum, 1996, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jilid I.Jakarta : Gaya Baru. 15 April 2012 10.00 Doenges (2000). Rencana asuhan keperawatan; pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC. 15 April 2012 10.00

Marshall H. 1998.Penatalaksanaan Neonatus Resiko Tinggi Edisi 4.Kajarta:EGC. 16 April 2012 01.00

Ngastiyah 1997. Perawatan Anak Sakit.Jakarta:EGC. 16 April 2012 01.00

http://jatiarsoeko.blogspot.com/2012/01/makalah-askep-sepsis-neonatus.html di akses tanggal 16 April 2012 01.00