Anda di halaman 1dari 8

1

Memoar Perempuan dalam Penghapusan KDRT


Oleh; Sismanto, M.KPd. Jika kita melihat dalam tanya televisi maupun membaca surat kabar beberapa minggu kemarin kita banyak disuguhkan dengan persoalan-persoalan yang menyakut poligami. Persoalan ini memang tidak asing lagi sebenarnya buat kita, tetapi persolan ini kembali sentral dibicarakan akibat ungkapan dari Ibu Presiden yang menginginkan dibuatnya undang-undang khusus yang mengatur masalah poligami. Banyak masyarakat yang setuju dengan pendapat tersebut dan banyak juga yang menolak karena mereka beranggapan bahwa masalah ini merupakan masalah pribadi setiap orang dan kurang begitu penting untuk dibicarakan, sedangkan ada persoalan yang lebih penting lagi yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah kita yaitu masalah korupsi yang sampai saat ini masih belum ada penyelesaian yang jelas. Dari sini tentu muncul dalam benak kita kenapa pembicaraan maslah poligami ini muncul kembali dan apa yang diharapkan dengan adanya undangundang khusus yang mengatur masalah ini? Tindak kekerasan di Indonesia memang sering sekali terjadi baik perampokan, pembunuhan, penganiayaan dan masalah tindak kekerasan terhadapan perempuan. Masalah ketiga inilah yang membuat banyak perempuan menginginkan dibuatnya peraturan khusus yang dapat melindungi mereka dari tindak kekerasan yang memang kebannyakan dilakukan oleh para suami terhadap istri-istri mereka. Selain itu, banyak kaum laki-laki yang kurang memperhatikan hak-hak istri mereka yang seharusnya dipenuhi oleh para suami. Dari sini nampak kalau hak-hak perempuan di bawah kaum laki-laki yang sebenarnya memiliki hak yang sama baik menurut agama maupun negara. Karena para lelaki cenderung melakukan poligami hanya sebatas untuk memuaskan libido sex mereka saja dan kurang memikirkan kewajiban yang harus mereka lakukan terhadap istri-istri mereka yaitu bersikap adil dalam keluarga. Kurangnya perhatian ini mengakibatkan banyaknya para istri dan juga anak-anak yang terlantar akibat perpuatan para suami mereka sehingga kalau kita

berpendapat tentunya kita setuju dengan dibuatnya undang-undang yang khusus mengatur masalah poligami demi untuk melindungi hak-hak para perempuan dan juga kesejahteraan anak-anak. Tindak kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak seringkali merupakan tindakan yang terjadinya tidak begitu saja secara kebetulan. Ada berbagai macam factor penyebab terjadinya tindak kekerasan tersebut, antara lain: Pertama, karena faktor budaya: secara umum dalam masyarakat terdapat hegemoni patriarki dimana pusat kekuasaan ada pada laki-laki. Dalam hal ini lakilaki ingin menunjukkan kekuasaannya dengan cara apapun termasuk tindak kekerasan terhadap perempuan. Di samping itu, dalam masyarakat terdapat hubungan yang secara natural asimetri antara anak dan orang dewasa. Dalam hal ini anak dalam posisi yang sangat lemah, dan orang dewasa dalam p;osisi yang kuat. Dan dalam kondisi seperti inilah seringkali memberi peluang terjadinya tindak kekerasan. Kedua, karena secara umum kondisi sosial ekonomi perempuan seringkali dianggap lemah dan tidak berdaya. Bagi perempuan/isteri yang tidak bekerja dan menggantungkan ekonomi keluarga pada suaminya, maka tindak kekerasan yang dialami merupakan suatu tindakan yang harus dipeti-eskan agar ia dapat melangsungkan kehidupan keluarganya. Bagi anak-anak, tindak kekerasan khususnya kekerasan seksual sering mereka alami karena mereka mudah untuk diperdaya dan secara psikologis mudah ditipu dengan berbagai macam imingiminng materi walaupun sekedar permen atau uang receh. Pada kasus-kasus trafficking (perdagangan orang), seringkali korban berasal dari keluarga miskin yang terpaksa harus mau menerima tindak kekerasan yang dialami dengan harapan dapat menambah penghasilan keluarga. Ketiga, karena perempuan dan anak-anak dinilai lebih mudah untuk ditakut-takuti atau diancam. Dalam kasus perkosaan biasanya korban mengalami trauma dan menjadikan mereka sangat tertutup, sehingga peristiwa yang dialami tidak banyak diketahui orang lain. Dalam kasus-kasus perkosaan dimana pelakunya adalah orang-orang dekat korban (ayah kandung/ayah tiri/kakak lakilaki), seringkali kasus terpendam hingga bertahun-tahun lamanya.

Keempat, karena tindakan kekerasan kepada anak-anak lebih tidak beresiko dan tidak mudah untuk dibongkar. Dalam kasus-kasus penganiayaan atau perkosaan kepada anak-anak seringkali korban tidak memahami peristiwa yang menimpa dirinya, dan baru kan mereka pahami dan rasakan setelah mereka dewasa. Kelima, Tindak perkosaan oleh anak kepada anak banyak disebabkan karena perubahan situasi sosial masyarakat di sekitar yang cenderung mermisif dan situasi keluarga yang kurang kondusif, sehingga mempercepat proses pengenalan seluk beluk seksual secara dini. Keenam, karena pemahaman keluarga dan masyarakat tentang tanggungjawabnya dalam pemenuhan Hak Azasi Perempuan dan Anak masih sangat lemah. Dalam hal ini keluarga dan masyarakat belum paham bahwa perempuan dan anak juga merupakan makhluk yang memiliki hak azasi sebagaimana manusia lainnya. Tidak adanya pemenuhan hak azasi bagi mereka berarti pengingkaran terhadap nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Ketujuh, Karena lemahnya penegakan hukum bagi tindak kekerasan. Dalam hal ini belum ada pasal-pasal hukum yang secara formal dapat dikenakan pada pelaku-pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya tindak perkosaan. Gerakan Penghapusan KDRT di Indonesia Sejak tahun 1997 gerakan perempuan Indonesia di bawah LBH APIK Jakarta mencoba untuk merumuskan tentang pembelaan kaum perempuan yang terhimpit oleh kekerasan yang dilakukan oleh kaum pria. Selama ini kekerasankekerasan yang dilakukan kaum pria dengan status ''suami'' dianggap telah menodai lembaga perkawinan dan keturunannya. Kekerasan yang terjadi dapat diidentifikasi bahwa suami telah melakukan ''penyimpangan'' terhadap istri, anak, pembantu rumah tangga, atau orang yang berdiam di dalam lingkup keluarga atau sebaliknya, misalnya, melakukan kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun menelantarkan keluarga. ''Mereka'' adalah korban dalam lingkup rumah tangga.

Perlu dijernihkan persoalannya terlebih dulu dengan mengemukakan batasan korban (victim). Menurut Prof. Dr. JE Sahetapy (dalam Swardhana, 2004), ''a victim could be an actual person, a legal person, who has suffered harm, damage, injury or any kind or form of loss, either physically or mentally not only form a legal view point, but also form sociological, economical, political, or cultural perspective'' (korban adalah seseorang yang menderita, kerusakan, kesakitan, atau bentuk-bentuk kerugian yang lain (fisik maupun mental), hal ini tidak hanya dilihat dari sudut pandang hukum, tetapi juga sudut pandang ekonomi, sosiologi, politik, dan budaya). Gordon Dreyden and Jeannette Vos dalam the The Learning Revolution; to Change the Way the World Learns,1999, mengungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan ini akan terus berlanjut hingga 35-50 ribu tahun sejak peradaban dunia ada. Kekerasan pada perempuan tidka hanya bermakna kasar namun sudah harus masuk sendi filosofis. Yakni kekerasan yang nyata ada perbuatan baik fisik, psikologis dan lainnya sampai pada kekerasan dalam bentuk pembodohan. Kondisi faktual memang, harus diakui bahwa sampai saat ini kekerasaan baik dalam bentuk tindakan terhadap perempuan maupun kelompok yang tersubordinasi serta mengakibatkan kerugian kompleks terus berlangsung di dunia dan Indonesia. Mulai penderitaan fisik, seksual, ekonomi dan atau psikologis sampai pada pembedaan sosial kelompok maskulin dan feminin. Dalam perspektif pendidikan, dominasi yang menyebabkan perbedaan laki-laki dan perempuan begitu tajam. Tahun 90-an Unesco mencatat, di Asia Selatan jumlah penduduk buta huruf mencapai 109 juta, Negara-negara Arab 98 juta orang dengan tantangan 75 persen adalah laki-laki dan 85 persen adalah perempuan. Di Indonesia dipastikan barangkali 8 dari 10 perempuan Indonesia juga masih berpendidikan terbelakang dibanding laki-laki. Sementara di dunia potensi pengangguran di perkotaan, pedesaan daerah urban dominasi perempuan nganggur sangat banyak dibanding laki-laki (Danim,S,2003). Gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan juga sudah harus dipahami sebagai gerakan yang multi perspektif. Jika hukum sebagai kekuatan kontrol sosial maka kaum maskulin tidak lagi menjadi kekuatan dominasi feminin

walaupun dalam ranah kultural. Sadar atau pun tidak, persoalan kekerasan suami pada istri sudah menjadi kebiasan kultural sebuah rumah tangga di Indonesia terutama pedalaman. Kesan dan mitos bahwa istri adalah "pelayan" seksual, suami dan rela menggadaikan kebebasan pada suami adalah kontrak sosial yang tidak tertulis selama ini. Bahkan, fenomena itu juga barangkali telah menjadi bumbunya kehidupan rumah tangga. Apalagi, "politik" balas jasa istri pada suami adalah kontrak structural yang harus dijalani. Kebebasan istri untuk mnencari nafkah bagi keluarga akan ditepis oleh peran domestik istri. Gerakan multi perspektif penghapusan kekerasan pada perempuan juga harus merambah pada sendi buta aksara pada perempuan. Dominasi kultural yang menyebabkan perempuan mengakhiri lawatannya di dunia pendidikan sebelum umur 17 tahun adalah biang terjadinya buta aksara. Praktis kondisi ini merupakan kejahatan struktural kultural pada perempuan. Di Jawa dan beberapa daerah lain yang kental kultur memposisikan perempuan sebagai pemeran tambahan, dnegan membatasi gerak perempuan sebagai garwo dalem istri istri yang bertugas mengurusi rumah tidak perlu sekolah. Padahal, peradaban modern beberapa tahun kemudian perempuan dalam rumah tangga tak ayalnya sebagai pencetus generasi yang marketable, ini butuh perempuan yang cerdas dan tidak buta aksara. Potensi perempuan ketika mendapat tempat pensejajaran posisi dengan kaum laki-laki sebenarnya sangat besar. Kesejajaran dalam pendidikan saja diprediksi akan mampu mengangkat 40 persen pendapatan ekonomi perempuan lebih tinggi dari pada kaum laki-laki. Pesona filosofis, keanggunan dan filasafat keberlanjutan yang tersirat dalam diri perempuan memberi investasi besar bagi kelangsungan hidup spesies dunia. Bahkan, sosok feminis ekolog Vandhana Shiva dalam pandangan Ecofeminismnya, secara tegas berani menjamin pemberian peran sama bagi perempuan untuk menyelesaikan masalah lingkungan hidup. Pemanfataan sumber daya alam, melalui pesona filosofis atas epistemologis bahkan sampai aksiologisnya perempuan akan menyelamatkan sekian kehidupan yang terus musnah. Dengan demikian, walaupun masih terdapat ketegangan antara kultur, syariat teologi dengan UU KDRT setidaknya adalah pergulatan positivis

menghasilkan performa perempuan sebagai insane Tuhan yang juga butuh pendidikan. Kaum laki-laki secara teologis diberi keunggulan fisik sedangkan perempuan melengkapi dengan perolehan kelebihan filosofis untuk menghadang kerakusan, egoisme dan kekerasan laki-laki. Perbedaan antara peran laki-laki dalam perspektif UU KDRT hanya bisa dijadikan peringatan atau upaya memoar bahwa pembedaan laki-laki dengan perempuan adalah persoalan ynag tidak bermakna. Terlepas dari pandangan filosofis teologis pembedaan peran laki-laki dan perempuan dalam pembangunan masyarakat, maka mempersandingkannya adalah investasi perbaikan kehidupan. Konsesi ini untuk urusan kekerasan dalam rumah tangga. Undang-undang tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UUKDRT) ini terkait erat dengan beberapa peraturan perundang-undangan lain yang sudah berlaku sebelumnya antara lain UU No.1 Tahun 1946 tentang Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP), UU No.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana (KUHAP), UU No. 1 Tahun 1974 tentang UU Perkawinan, Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All of Dicrimination Against Women) pada tanggal 24 Juli 1984. Juga telah diundangkannya Undang-undang Hak Asasi Manusia Nomor 39 Tahun 1999. Namun demikian, tipe gender equity dengan paham konsertvatifnya, equality dengan pemahaman dan kematangan filsafatnya serta kelompok gender radikal yang berusaha mutlak menginginkan kesamaan di segala ruang dan waktu adalah realitas kehidupan gerakan gender Indonesia dan dunia. Untuk itulah yang terpenting saat ini adalah rasa kesetaraan dalam relasi social antara feminine dan maskulin harus terwujud. Gerakan pemberantasan KDRT akan sukses ketika pendidikan, peran, dan kepentingan dari dua insane terpenuhi. Kedepannya segera semua leading sektor dan sendi kehidupan berbangsa dan negara ini harus mulai melakukan tugas mulia memberantas buta huruf di kalangan perempuan. Gerakan kesetaraan gender oleh aktivis perempuan juga setidaknya membawa filosofis

bahwa kaum perempuan di Indonesia masih banyak yang buta huruf, jadi inilah peringatan kita bersama. Post Traumatic Syndrome Bila korban kejahatan kekerasan dalam rumah tangga tidak melaporkan sebagai akibat ''kepasrahan'' dirinya, maka korban akan mengalami post traumatic syndrome stress (PTSS). Ada beberapa hal yang menyebabkannya. Pertama, the belief in personal invulnerability, yaitu tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi korban. Walaupun sebelumnya telah banyak terjadi kejahatan semacam itu, tidak pernah terpikir bahwa kejadian tersebut akan menimpa dirinya. Hal ini menyebabkan kecemasan yang mendalam. Persepsi yang selalu muncul adalah dia mudah diserang dalam segala hal. Kedua, the world as meaningful, apa pun yang terjadi di dunia ini adalah sesuatu yang teratur dan komprehensif. Maksudnya, kalau kita berbuat baik dan hati-hati niscaya kita akan terhindar dari penderitaan. Tetapi ternyata apa yang diperkirakan tersebut tidak berjalan seperti itu, walaupun dia telah berbuat baik dan hati-hati ternyata dirinya tetap menjadi korban. Positive self-perception, manusia selalu berusaha menjaga derajat dirinya, tetapi pengalaman menjadi korban membuat mereka memiliki gambaran negatif. Dirinya adalah seorang yang lemah, tak berdaya dan berguna lagi. Perlindungan korban dalam UUKDRT diserahkan kepada kepolisian disertai dengan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Dalam memberikan perlindungan sementara, kepolisian dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping, dan/atau pembimbing rohani untuk mendampingi korban. Petugas-pemulihan korban tersebut dapat melaksanakan upaya pemulihan korban manakala Menteri Pemberdayaan Perempuan sesegera mungkin mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) untuk melaksanakan ketentuan Pasal 39 UUKDRT. Jika terjadi keterlambatan dalam mengantisipasi pemulihan korban, maka akan menimbulkan dampak dari penanganan yang kurang baik. Apabila penanganan yang diberikan pemerintah atau masyarakat pada korban sangat kurang, hal ini dapat menyebabkan korban mengalami tiga kali menjadi korban, yaitu (1) menjadi korban suatu kejahatan; (2) menjadi korban dari stigmatisasi

masyarakat, hal ini sering terjadi pada korban perkosaan dan pelecehan seksual, (3) menjadi korban sistem peradilan pidana. Penutup Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di muka, maka essay ini dapat ambil konklusi sebagai berikut: Pertama, Dalam persepktif perundang-undangan tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan dalam rumah tangga, baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan kekerasan ekonomis. Kedua, Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat disebabkan the belief in personal invulnerability (tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi korban), the world as meaningful (apa pun yang terjadi di dunia ini adalah sesuatu yang teratur dan komprehensif), dan Positive self-perception (manusia selalu berusaha menjaga derajat dirinya, tetapi pengalaman menjadi korban membuat mereka memiliki gambaran negatif). `Ketiga, upaya perlindungan perempuan dan anak telah diundangkan sebagaimana dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang kemudian dikenal dengan sebutan UUKDRT. Namun demikian, perlindungan tersebut masih terbatas dalam bentuk tulisan atau perundangundangan, atau dengan perkataan lain perlindungan yang diberikan masih terbatas pada perlindungan material, sedangkan dari aspek penegakan hukumnya atau aspek formalnya, masih jauh dari harapan. Dengan demikian, untuk mewujudkan penegakan hukumnya, diperlukan Political Will dari pemerintah dan kesungguhan dari seluruh penegak hukum, baik hakim, polisi, jaksa maupun pengacara, disamping itu juga diperlukan tingkat kesadaran hukum yang tinggi dari seluruh warga masyarakat.