Anda di halaman 1dari 5

POTENSI EKSTRAK KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.

) SEBAGAI BAHAN AKTIF PERIODONTAL DRESSING


Dani Sugeng P 1, Dhenok Anggi W 2, Ayu Prativia Y 3 Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember 3 Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember Jln. Kalimantan 37, Jember 68121 E-mail: ayuprativia@yahoo.com
2 1

Abstrak
Periodontal dressing (PD) merupakan bahan yang diaplikasikan setelah melakukan bedah periodontal untuk melindungi luka sehingga membantu penyembuhan. Praktisi sering menambahkan antibiotik dan antiinflamasi dalam penggunaan dressing. Penambahan antibiotik kemungkinan menyebabkan sensitisasi, alergi, dan kandidiasis. PD yang mengandung bahan bersifat antiinflamasi dan antibiotik dapat diaplikasikan dengan lebih efisien dibandingkan dengan PD yang ditambah antibiotik dan antiinflamasi secara terpisah. Kakao ( Theobroma cacao L.) berpotensi sebagai antioksidan dan antimikroba alami. Proses pengolahan kakao menghasilkan limbah berupa kulit buah kakao yang mengandung flavonoid, dan berkhasiat sebagai hemostasis, astringent, antioksida, anti bakteri dan antiinflamasi. Makrofag adalah salah satu sel yang berperan penting dalam proses inflamasi. Penelitian eksperimental pada kelinci ini menggunakan the post test only control group design . Variabel yang diamati adalah jumlah sel makrofag kelinci. Sebanyak 36 ekor kelinci dibagi dalam empat kelompok terdiri dari 1 kelompok control (KP1) dan 3 kelompok perlakuan (KP2,KP3,KP4). Luka gingival kelinci diperoleh dengan teknik punch biopsy 2.0mm. KP1diberi PD tanpa kakao, KP2diberi PD Kakao 5%, KP3 diberi PD kakao 10% , sedangkan KP4 diberi PD kakao 15%. Dekaputasi dilakukan pada hari ke-3,ke-5,ke-7 dan dilanjutkan dengan pengambilan, fiksasi, pemrosesan preparat jaringan. Penghitungan jumlah sel makrofag kelinci menggunakan mikroskop binokuler pembesaran 400x dan software OlyVIA dot scan viewer . Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan penambahan ekstrak kulit buah kakao sebanyak 5%, 10%,15% pada PD dapat menekan proses radang secara signifikan (P<0,05) dan PD kakao 15% paling efektif menurunkan jumlah sel makrofag. Key words: Periodontal dressing, Kakao, Luka gingival Pendahuluan Periodontal dressing (PD) merupakan bahan yang diaplikasikan setelah melakukan bedah pada jaringan periodontal dengan tujuan melindungi daerah luka, memberi rasa nyaman pada pasien, dan membantu mempertahankan flap pada tempat yang semestinya, serta mengurangi perdarahan. Praktisi sering menyertakan antibiotik dan eugenol dalam penggunaan PD tersebut. Penambahan antibiotik dalam PD kemungkinan dapat menyebabkan sensitisasi, reaksi alergi, memunculkan kandidiasis, dan resistensi1. Fase inflamasi merupakan periode penting pada proses penyembuhan luka yang ditandai adanya infiltrasi sel-sel radang, antara lain sel makrofag untuk melakukan fagositosis9,10. Obat-obatan untuk memulihkan dan mempertahankan kesehatan khususnya yang berhubungan dengan penyembuhan luka saat ini dirasakan relativ mahal. Selain itu, dengan adanya resistensi antibiotika pada bakteri dan efek samping pada beberapa obat sintesis menjadi alasan tersendiri untuk mengalihkan perhatian pada terapi alternatif. Salah satu bahan alami sebagai terapi biologis alternatif adalah tanaman kakao (Theobroma cacao L.)3. Proses penanganan tanaman kakao menghasilkan73,77% limbah kulit buah kakao yang belum dimanfaatkan secara optimal 13. Kulit buah kakao mengandung flavonoid yang

berkhasiat antara lain sebagai hemostasis, astringent, antioksidan, antibakteri dan antiinflamasi2,5,7. Bertitik tolak dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai manfaat kulit buah kakao dengan melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak kulit buah kakao pada PD terhadap proses penyembuhan luka gingiva melalui penurunan jumlah sel makrofag sebagai indikatornya. Bahan dan Metode Bahan Penelitian Kulit buah kakao yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari tanaman kakao (Theobroma cacao L.) varietas Sulawesi I yang diperoleh dari PTPN Jember, Jawa Timur. Bahan penelitian lainnya berupa : Aseton 70%, Aquades, Kertas saring (Whatmann filter paper No.1), Ketamine (ketamin injection, Ilium, Australia), Xylazine (xylazine 20 inj. Kepro, Holland), NaCL, H2O2 3%, Kapas steril, Plester, Benang silk 5.0, Rosin, Zinc oxide, Hydrogenated fat, Makanan kelinci berupa rumput dan wortel, Cairan karbol, Sabun colek, Eter, Alkohol 100%, 95%, 80%, 70%, Formalin 10%, Xilol, Parafin, Formic acid, Kristal eosin, Entellen, Kristal hemaktosilin, Minyak emersi. Alat Penelitian Serutan, Nampan, Blender (Miyako, Jepang), Stoples, Corong, Labu erlenmeyer (Pyrex), Rotavapor (Buchi, Swiss), Inkubator (Memmert, Jepang), Neraca digital (Ohaus, Jerman), Evaporating dish, Gelas sloki, Disposable syringe, Sarung tangan latex, Surgical mask, Punch biopsy 2.0mm, Neddle holder,Suture neddle 15, Gunting, Pinset anatomis, Gelas kimia 500ml (Pyrex), Spatula pengaduk, Box, Papan bedah, Blade scalpel,Kandang kelinci, Tempat minum, Sapu lidi, Alat semprot air, Botol untuk dekalsifikasi, Vibrator (Vortex), Stopwatch (Diamond, Cina), Besi bentuk L untuk alat cetak blok paraffin, Kompor, Panci, Mikrotom putar (Leica RM 2135), Block holder mikrotom, Waterbath (Memmert, Jepang), Slide warmer (Sakura, Jepang), Filling cabinet (Sakura, Jepang), Oven (Memmert, Jepang), Automatic staining (Sakura, Jepang), Kuas kecil, Pipet, Cover glass, Object glass, Deck glass, Mikroskop cahaya binokuler (Olympus photo slide BX51 with cam DP71 12mpx, Jepang).

Hewan Coba Kelinci lokal (Oryctolagus cuniculus), jenis kelamin jantan, umur 3-4 bulan, dalam keadaan sehat, berat badan 1,5-2,5 kg. Prosedur Penelitian Pembuatan Ekstrak Kulit Buah kakao Kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) diblender. Serbuk halus kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) dimaserasi sebanyak 3 kali dengan pelarut aseton dan aquades dengan perbandingan aseton : aquades = 7:3, sebanyak 2 kali bobot bubuk simplisia (bubuk simplisia : pelarut = 1:2), sambil diaduk kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan dengan rotavapor sampai pelarut tidak tersisa dan diperoleh ekstrak cair. Ekstrak cair dipekatkan dengan oven pada suhu 600 C13. Pembuatan Periodontal Dressing Pembuatan powder : 28,5 gram rosin dicampurkan dengan 21,5 gram zinc oxide sampai homogen. Pembuatan pasta: 47,5 gram hydrogenated fat dicampurkan dengan 2,5 gram zinc oxide sampai homogen. Selanjutnya campur 50 gram powder dan 50 gram pasta sedikit demi sedikit sampai homogen (100 gram). Tahap Pembuatan Periodontal Dressing Ekstrak Kulit Buah Kakao 1. PD murni : 100 gram formula PD homogen dan tidak ditambahkan ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.). 2. PD dengan ektrak kulit kakao 5%: 95 gram formula PD homogen ditambahkan 5 gram ekstrak kulit buah kakao ( Theobroma cacao L.) 3. PD dengan ektrak kulit kakao 10% : 90 gram formula PD homogen ditambahkan 10 gram ekstrak kulit buah kakao ( Theobroma cacao L.) 4. PD dengan ektrak kulit kakao 15% : 85 gram formula PD homogen ditambahkan 15 gram ekstrak kulit buah kakao ( Theobroma cacao L.) Prosedur Perlukaan Gingiva Setelah hewan dianestesi dengan ketamin dan xylazine, dilakukan perlukaan menggunakan alat punch biopsy berdiameter 2,0 mm yang dimasukkan ke dalam gingiva labial gigi insisivus kanan rahang bawah kelinci dengan gerakan rotasi hingga mencapai kedalaman tulang alveolar. Perlakuan pada Hewan Coba Setelah prosedur perlukaan gingival, hewan coba dibagi menjadi empat kelompok dengan masing-masing kelompok ini terdiri dari 9 ekor kelinci, yaitu :

1. KP1 : kelompok kontrol yang diberi PD murni tanpa ekstrak kulit buah kakao 2. KP2 : kelompok perlakuan yang diberi PD dengan ektrak kulit buah kakao 5% 3. KP3 : kelompok perlakuan yang diberi PD dengan ektrak kulit buah kakao 10% 4. KP4 : kelompok perlakuan yang diberi PD dengan ektrak kulit buah kakao 15% Masing-masing kelompok dibagi menjadi tiga sub kelompok sesuai dengan tiga hari pengamatan yang berbeda, yaitu pada hari ke-3, 5, 7. PD diaplikasikan hingga hari dekapitasi kelinci. Dekapitasi kelinci dilakukan pada hari ke-3, ke-5, dan ke-7 menggunakan anestesi eter, Kemudian dilakukan pengambilan rahang bawah beserta jaringan gingiva dengan ketentuan dari distal gigi insisivus pertama kanan hingga distal gigi insisivus pertama kiri. Sampel yang sudah diambil dilakukan fiksasi dengan menggunakan formalin 10% selama 24 jam. Pembuatan Preparat Histologis dan Pengamatan Sel makrofag Pembuatan preparat histologis menggunakan teknik rutin (progressive) melalui tahapan fiksasi, dehidrasi, clearing, impregnasi, embedding serta pengecatan jaringan (Hematoxylin eosin). Pengamatan sel makrofag menggunakan parameter kuantitatif dengan menghitung jumlah sel makrofag menggunakan mikroskop cahaya dilengkapi dengan kamera 12 mpx pembesaran 1000x. Pengamatan dilakukan dengan bantuan software OlyVIA dotslide viewer. Jumlah makrofag tiap sampel ditentukan dengan menghitung jumlah rata-rata makrofag dari keempat kelompok. Analisa Statistik Data dianalisa dengan uji KruskalWallis dan uji Mann Whitney menggunakan pada software SPSS17.0 dengan tingkat kemaknaan 95% (p<0,05) untuk mengetahui perbedaan jumlah sel makrofag pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sesuai periode dekapitasi. Hasil Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Histologi dan Farmakologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Pembuatan ekstrak dilakukan di Laboratorium Biologi-Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Jember dan

Laboratorium Terpadu BioScience Politeknik Jember. Pengamatan preparat dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Universitas Brawijaya. Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh hasil penetian sebagai berikut. Analisa Data Penelitian Tabel 1. Hasil perhitungan rata-rata jumlah sel makrofag antara kelompok kontrol dan perlakuan pada hari ke-3 , ke-5, dan ke-7.
Pengamatan KP1 KP2 KP3 KP4 Hari ke-3 XSD 13,33330,86603 8,66670,86603 8,00000,70711 8,11110,78174 Hari ke-5 XSD 12,11110,92796 8,11110,60093 7,50000,54772 6,00000,86603 Hari ke-7 XSD 8,33330,70711 6,11110,78174 3,11110,60093 1,66670,72375

XSD : rata-rata jumlah sel makrofagstandar deviasi Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa rata-rata jumlah sel makrofag pada kelompok kontrol lebih banyak daripada kelompok perlakuan dan terdapat penurunan jumlah sel makrofag pada hari ke-3, ke-5 dan ke7. Secara jelas dapat dilihat pada histogram berikut (Gambar1). Gambar 1. histogram rata-rata jumlah sel makrofag kelinci pada masing-masing kelompok.

Uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Tabel 2. Hasil Uji Kruskal-Wallis antara kelompok control dan perlakuan pada hari ke-3, ke-5, dank ke-7. Chi-Square Df Sig 100.005 11 0,000 Uji statistik kemudian dilanjutkan dengan uji Mann Whitney yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan mana yang memiliki nilai signifikan dari masingmasing subkelompok.

Tabel 3. Hasil uji Mann Whitney jumlah sel makrofag kelinci pada kelompok perlakuan satu (KP1), dua (KP2), tiga (KP3), dan empat (KP4) setelah pemberian perlakuan.

H3 menyatakan hari pengamatan ke-3, H5 menyatakan hari pengamatan ke-5, dan H7 menyatakan hari pengamatan ke-7 . Tanda (*) menunjukkan data dalam statistik lanjutan memiliki nilai signifikansi (P<0,05). Diskusi Inflamasi merupakan fase penyembuhan luka berupa respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan pada jaringan lunak. Respon seluler ditandai dengan migrasinya selsel inflamatori yang bertujuan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan tahap selanjutnya. Proses inflmasi pada dasarnya merupakan proses yang menguntungkan bagi tubuh, namun jika terjadi berkepanjangan dan berlebihan maka justru akan menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut. Oleh karena itu, perlu menekan reaksi radang agar tidak berlebihan dan mempercepat proses inflamasi sehingga mempercepat perbaikan jaringan yang luka4. Pada penelitian ini, respon seluler yang diamatidari proses inflamasi adalah jumlah sel makrofag. Sel makrofag pada penelitian ini diamati pada hari ke-3, ke-5, dam ke-7 setelah dilakukan perlukaan. Hal ini berdasarkan literatur yang menyebutkan bahwa pada hari ke-3 terjadi peningkatan jumlah monosit oleh sumsum tulang yang akan bermigrasi dan berdiferensiasi menjadi makrofag untuk menjalankan fungsi fagositosisnya. Pada hari ke-7 terjadi penurunan jumlah sel makrofag karena hilangnya faktor-faktor yang mempengaruhi proses peradangan dan mulai terbentuk proliferasi seratserat kolagen14. Segingga penghitungan jumlah sel makrofag dapat mudah diamati dan dilakukan pada rentang hari ke-3 sampai ke-7. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan ekstrak kulit buah kakao berpengaruh pada penurunan jumlah sel

makrofag. Berdasarkan uji statistik KruskalWallis ( tabel 2 ) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p< 0.05) terhadap jumlah sel makrofag pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Jumlah rata-rata sel makrofag pada hari ke-3 yang tinggi disebabkan terjadinya respon awal tubuh berupa perubahan vaskular. Dalam waktu 24 jam setelah invasi bakteri atau cedera jaringan akan diproduksi faktor proinflamatory, prostaglandin dan faktor perangsang granulosit-monosit6, kemudian pada hari ke-3 terjadi peningkatan jumlah monosit oleh sumsum tulang yang nantinya akan bermigrasi dan berdiferensiasi menjadi makrofag14. Pada hari ke-5 tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah sel makrofag pada KP2 dan KP3, tetapi jumlah sel makrofag pada KP4 memiliki perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan KP2 maupun KP3. Pada hari ke-7, jumlah sel makrofag KP4 lebih sedikit dibandingkan dengan KP2 dan KP3. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan ekstrak kulit kakao pada PD memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan jumlah sel makrofag pada hari ke-5 dan hari ke-7. Penurunan jumlah sel makrofag yang signifikan pada kelompok perlakuan disebabkan peran ekstrak kulit kakao dalam menurunkan sel makrofag disebabkan oleh adanya zat aktif yang terkandung dalam ekstrak kulit buah kakao yaitu flavonoid. Flavonoid menghambat pelepasan asam arachidonat dan sekresi enzim lisosom dari sel netrofil dan sel endotelial dan menghambat fase proliferasi dan fase eksudasi dari proses inflamasi. Senyawa flavonoid dapat menghambat pelepasan asam arachidonat dan sekresi enzim lisosom dari membran dengan jalan memblok jalur siklooksigenase dan fosfolipase A2. Terhambatnya pelepasan asam arakidonat akan menyebabkan kurang tersedianya substrat arachidonat bagi jalur siklooksigenase dan jalur lipooksigenase, sehingga menekan jumlah prostaglandin, prostasiklin, endoperoksida, dan tromboksan di satu sisi dan asam hidroperoksida, asam hidroksieikostrenoat, dan leukotrin yang merupakan kemoatraktan bagi sel makrofag 12. Kurang tersedianya substrat arakhidonat bagi jalur siklooksigenase maupun lipooksigenase dan akhirnya akan mengakibatkan penurunan proses peradangan yang ditandai dengan

penurunan dari jumlah sel-sel radang secara mikroskopis pada area jejas11. Kesimpulan dan Saran Penambahan ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) berpotensi menurunkan jumlah sel makrofag pada luka gingiva kelinci. Persentase penambahan ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) paling efektif untuk menurunkan jumlah sel makrofag pada luka gingiva kelinci adalah 15%. Daftar Pustaka 1. Addy, M. and Douglas, W.H. 1975. A Chlorhexidine Containing Methacrylic Gel As A Periodontal Dressing. J. Periodontal 46(8): 465-8. 2. Adhikari, D.P.; Francis, J.A.; Schutzki, R.E.; Chandra, A.; Nair, M.G. 2005. Quantification and characterisation of cyclo-oxygenase and lipid peroxidation inhibitory anthocyanins in fruits of Amelanchier. Phytochem Anal. Vol. 16(1):175-80. 3. Baharudin M. 1996. Uji Antiinflamasi Ekstrak Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Mencit Jantan. Sumatra Utara : Universitas Sumatra Utara 4. Baratawidjaja, Karnen Garna dan Iris Rengganis. 2009. Imunologi Dasar.Edisi ke8.Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 5. Figueira, A.; Janick, J. 1993. New products from Theobroma cacao: Seed pulp and podgum. New crops. New York: 475-8. 6. Guyton, C. A and Hall, J. E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta :EGC 7. Lestari, C.; Widjijono; Murdiastuti, K. 2009. Pengaruh Ekstrak Gambir Terstandarisasi (Uncaria Gambir (Hunter) Roxb) sebagai Periodontal Dressing terhadap Penyembuhan Luka Gingiva Kelinci (Oryctolagus cuniculus). Majalah Kedokteran Gigi Vol. 16(1):8. 8. Mast, S. 2004. Essentials Of Pathology For Dentistry, Harcourt Publishers, New York, p.777-785 9. Peterson, L.J., Ellis, E., Hupp, J.R ., and Tucker, M.R . 1998 Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery.3rd Edition. St.Louis: Mosby-Year Book Inc 10. Porth, C.M. 1994. Pathofisioloy: Concept of Altered Health States. Fourth Edition. Philadelphia: J.B Lippincott Company

11. Robbinson and Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung : ITB 12. Sabir,A. 2003. Pemanfaatan flavonoid di Bidang Kedokteran Gigi. Maj.KG Dental Journal Edisi Khusus Temu Ilmiah Nasional III. Surabaya : Airlangga University Pers. 13. Sartini; Djide, M. N.; Alam, G. 2009. Ekstraksi Komponen Bioaktif dari Limbah Kulit Buah Kakao dan Pengaruhnya Terhadap Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba.Makasar: Universitas Hasanudin. 14. Tambayong, J. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.