Anda di halaman 1dari 30

HUKUM DAN IBADAH DALAM ISLAM

Sumber-sumber Hukum Islam


Hukum menurut ulama fikih adalah akibat yang ditimbulkan oleh tuntutan syariat (Al-Quran dan hadis) berupa, al wujub, al mandub, al hurmah, al karahah, dan al ibahah. Sumber hukum Islam adalah sesuatu yang menjadi landasan dasar, acuan, atau rujukan dalam menetapkan perkara yang berdasarkan syariat Islam. Al-Quran dan hadis adalah dua sumber hukum Islam yang menjadi pokok atau landasan utama hukum dalam Islam.

Al-Quran
Al-Quran secara bahasa artinya bacaan

Secara istilah, Al-Quran didefinisikan sebagai: Firman Allah swt, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, melalui perantara malaikat Jibril as, sebagai mukjizat, yang ditulis dalam mushaf, dan diriwayatkan secara mutawatir, bernilai ibadah apabila membacanya, diawali surat al-fatihah serta diakhiri surat an-Nass, dan senantiasa terjaga dalam hati (penghafal Al-Quran).

Al-Quran memiliki 3 inti atau komponen dasar hukum: Hukum yang berhubungan dengan masalah akidah (keimanan). Ilmunya ilmu tauhid, kalam atau usuluddin. Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah secara lahiriah, manusia dengan sesamanya, dan dengan lingkungan sekitar. Hukum yang berupa pelaksanaan hukum Islam yang disebut hukum syarak, syariat, atau amaliah. Ilmunya ilmu fikih.

Al-Quran sebagai Sumber Hukum

Al-Quran sebagai Sumber Hukum


Hukum syariat dibagi 2 bagian:
Hukum Ibadah mengatur hubungan manusia dengan Allah swt. Hukum muamalat mengatur manusia dengan sesama manusia serta alam sekitar.

Hukum yang berhubungan dengan perilaku atau akhlak manusia. Ilmunya ilmu akhlak.

Keistimewaan dan kelebihan Al-Quran:

Al-Quran sebagai Pedoman Hidup

Al-Quran mengandung ringkasan ajaran ketuhanan yang pernah dimuat pada kitab-kitab sebelumnya.
Al-Quran ditujukan bagi semua umat sepanjang masa. Sebagai pedoman hidup sejati, Al-Quran mempunyai kelengkapan yang luar biasa mengenai berbagai aspek kehidupan dan memiliki keluwesan dari segi pemahaman.

Al-Quran diturunkan dalam bahasa yang sangat indah, mudah dibaca, diingat, dan dipahami.

Pemeliharaan Kemurniaan Al-Quran


Masa Rasulullah saw.:
Hafalan dari para penghafal Al-Quran. Penulisan Al-Quran untuk Rasulullah saw. secara khusus. Pencatatan Al-Quran yang ditulis oleh mereka yang mahir baca tulis untuk disimpan sendiri.

Masa Khalifah Abu Bakar As Siddiq:


Umar bin Khattab mengusulkan pembukuan Al-Quran. Zaid bin Sabit pun ditugaskan untuk menulis dan membukukan Al-Quran.

Masa Khalifah Usman bin Affan:


Pembukuuan Al-Quran ditindaklanjuti dan disempurnakan.

Melalui Al-Quran, Allah swt. memberi pedoman hidup kepada manusia diantaranya:
Pemahaman Islam sebagai agama tauhid yang diridhoi Allah harus didasarkan kepada tuntutan Allah. Allah swt. telah menjelaskan bahwa kedengkian, kebencian, perselisihan, pertikaian, permusuhan, dan perusakan adalah sifat iblis atau setan yang terkutuk, bukan sifat menusia yang meyakini Al-Quran sebagai pedoman hidupnya. Demi mencapai keselamatan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia, Allah telah memerintahkan dan memberi petunjuk kepada seluruh umat manusia untuk berpedoman kepada kitab suci yang diwahyukan oleh Alah swt.

Hadis
Hadis adalah segala tingkah laku Nabi Muhammad saw. baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya. Hadis Nabi Muhammad saw. dapat dibedakan menjadi 3, yaitu Hadis qauliyah atau hadis atas dasar perkataan Nabi Muhammad saw Hadis filiyah atau hadis atas dasar perbuatan yang dilakukan Nabi Muhammad saw Hadis taqririyah atau hadis atas dasar persetujuan Nabi Muhammad terhadap yang dilakukan para sahabat.

Kedudukan dan Fungsi Hadis Nabi Muhammad saw.


Sebagai sumber hukum Islam kedua. Hukumnya sunah.

Sebagai penguat hukum yang telah disebutkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, sehingga Al-Quran dan Hadis saling menyempurnakan dan melengkapi.
Sebagai penjelasan terhadap ayat Al-Quran yang masih bersifat umum. Menetapkan hukum-hukum yang tidak terdapat dalam AlQuran. Apabila di dalam Al-Quran tidak dijumpai suatu hukum, maka hadis dapat berfungsi untuk menetapkan suatu hukum tersebut. Hal ini bukan berarti bahwa Nabi Muhammad saw adalah penetap hukum, melainkan Allah swt.

Istilah-istilah dalam Ilmu Hadis


Ilmu yang mempelajari ilmu hadis disebut mustalah hadis.

Matan perkataan (isi) hadis yang disampaikan.


Rawi (perawi) orang yang meriwayatkan hadis. Sanad orang yang menjadi sandaran dalam meriwayatkan hadis.

Hadis
Ditinjau dari segi sedikit atau banyaknya sanad yang menjadi sumber berita, hadis terbagi menjadi 2 macam: Hadis Mutawatir Hadis Ahad

Hadis Mutawatir
Hadis yang memiliki banyak sanad dan mustahil perawinya berdusta atas nama Nabi Muhamad saw. karena hadis itu diriwayatkan oleh banyak orang. Dibagi 2 macam:
Mutawatir lafzi perkataan nabi yang mutawatir Mutawatir amali perbuatan nabi yang mutawatir

Hadis Ahad
Hadis yang tidak mencapai derajat mutawatir. Ditinjau dari segi banyaknya sanad, hadis dibagi menjadi 3, yaitu:
Hadis Masyhur Hadis yang diriwayatkan oleh 3 sanad yang berlainan tiap tingkat. Hadis Aziz - Hadis yang diriwayatkan oleh 2 orang tiap tingkat. Hadis Garib - Hadis yang sanadnya hanya seorang diri, yakni tidak ada orang lain yang meriwayatkan selain rawi itu sendiri.

Ditinjau dari kualitas perawinya, hadis ahad dibagi menjadi 3, yaitu:


Hadis sahih hadis yang cukup sanadnya dari awal sampai akhir dan disampaikan oleh orang-orang yang sempurna hafalannya. Hadis hasan hadis yang dari segi hafalan perawinya kurang dari hadis sahih. Hadis daif hadis yang kehilangan satu atau lebih dari syarat-syarat hadis sahih dan hasan.

Syarat-syarat hadis itu sahih adalah:


Sanadnya harus bersambung Perawainya sudah balig. Berakal. Tidak mengerjakan dosa besar. Sempurna hafalannya. Perawi yang ada dalam sanad itu harus adil dan hadis yang diriwayatkannya tidak bertentangan dengan hadis mutawatir atau dengan ayat Al-Quran.

Pemeliharaan Hadis
Pada masa Rasulullah:
Hafalan para sahabat Rasulullah melarang penulisan hadis pada masa itu sebab khawatir akan tercampur dengan Al-Quran.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis (daulat Bani Umayyah):
Pertama kali dilakukan pembukuan hadis. Kitab hadis pertama disusun oleh Imam Malik dengan kitabnya Al Muwata.

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyyah:


Lahir kitab-kitab hadis sahih terkenal yang disebut Kutubus Sittah (kitab induk yang enam)

Ijtihad
Ijtihad adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Orang yang berijtihad disebut mujtahid

Beberapa Persyaratan Bagi Orang yang Akan Melakukan ijtihad


Mengerti memahami isi Al Quran dan hadis terutama yang berkaitan dengan hukum-hukum

Mampu berbahasa arab dengan baik sebagai kelengkapan dan kesempurnaan dalam menafsirkan Al Quran dan hadis
mengetahui ilmu usul fikih secara luas Mengetahui dan mengerti soal-soal ijmak

Bentuk-Bentuk Ijtihad
Jimak kesepakatan para ulama Islam (cedekiawan muslim) dalam menetapkan suatu masalah yang tidak diterangkan oleh Al Quran dan hadis Kias

menetapkan hukum suatu persoalan atau masalah yang belum disebutkan secara konkret dalam Al Quran dan hadis dengan cara menyamakan hukumnya dengan masalah yang sudah ada ketetapan hukumnya secara jelas

Istihsan

menetapkan hukum suatu masalah yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al Quran dan hasid yang didasarkan atas kepentingan umum dan demi keadilan
Istishab meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada dan telah ditetapkan karena adanya suatu dalil sampai dalil lain yang mengubah kedudukan dari hukum tersebut

Maslahah Mursalah menurut bahasa : kebaikan yang terbesar menurut istilah : perkara yang perlu dilakukan demi kemaslahatan sesuai dengan maksud syarak dan hukumnya tidak diperoleh dari dalil secara langsung dan jelas

Urf
urusan yang disepakati oleh segolongan manusia dalam perkembangan hidupnya dan telah menjadi kebiasaan atau tradisi

Zarai

pekerjaan-pekerjaan yang menjadi jalan untuk mencapai maslahah atau jalan untuk menghilangkan mudarat

4 Orang Imam yang Hasil Karyanya Dijadikan Pedoman dalam Pengamalan Ibadah
Abu Hanifah (80 H atau 150 H/699-767 M) hasil ijtihadnya dinamai Mazhab Hanafi.pertama kali menyusun ilmu fikih dalam susunan yang ada sekarang Malik bin Anas Al Asbahi (93 H-170 H atau 713-795 M)

hasil ijtihadnya dinamai Mazhab Maliki. seorang ahli hadis yang pertama kali menyusun kitab hadis Al Muwata

Muhammad bin Idris bin Syafii (150 H 240 H atau 767 812 M)

hasil ijtihadnya dinamai Mazhab Syafii. orang pertama yang menyusun ilmu usus fikih.
Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal (164 241 H atau 788 865 M) hasil ijtihadnya dinamai Mazhab Hambali

Kedudukan & Fungsi Ijtihad


Ijtihad merupakan sumber hukum Islam yg ketiga setelah Al Quran dan hadis Merupakan sarana untuk menyelesaikan persoalanpersoalan baru yang muncul dengan tetap berpegangan pada Al Quran dan sunah Suatu cara yg disyariatkan untuk menyesuaikan perubahan perubahan sosial dengan ajaran-ajaran Islam

Wadah pencurahan pemikiran kaum muslim dalam mencari jawaban dari masalah-masalah seperti masalah asasi, masalah esensial,dan masalah insidental

Pembagian Hukum Taklifi


Wajib : segala perintah Allah yg harus kita kerjakan

a. Wajib syari : suatu ketentuan apabila dikerjakan mendatangkan pahala dan jika tidak dikerjakan berdosa
b. Wajib aqli : suatu ketetapan hukum yang harus diyakini kebenarannya karena masuk akal / rasional

c. Wajib aini : ketetapan yang harus dikerjakan oleh setiap muslim


d. Wajib kifayah : ketetapan apabila sudah dikerjakan oleh setiap muslim,maka muslim lainnya terlepas dari kewajiban itu

e. Wajib muaiyyah : suatu keharusan yang telah ditetapkan macam tindakannya f. Wajib mukhayar : kewajiban yg boleh dipilih salah satu dari bermacam pilihan yg telah ditetapkan untuk dikerjakan g. Wajib mutlaq : suatu kewajiban yang tidak ditentukan waktu pelaksanannya h. Wajib aqli nazari : kewajiban mempercayai suatu kebenaran dan memahami dalil-dalilnya atau dengan penelitian yg mendalam i. Wajib aqli daruri : kewajiban mempercayai kebenaran dengan sendirinya tanpa dibutuhkan dalildalil tertentu

Sunah : perkara yg apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan berdosa a. Sunah muakkad : sunah yg sangat dianjurkan b. Sunah gairu muakkad : sunah biasa c. Sunah hajat : perkara perkara dalam salat yang sebaiknya dikerjakan d. Sunah abad : perkara-perkara dalam salat yang harus dikerjakan dan kalau terlupakan makan harus melakukan sujud sahwi

Haram : suatu perkara yang dilarang mengerjakannya Makruh :suatu hal yang tidak disukai atau diinginkan oleh Allah SWT. Akan tetapi, bila dikerjakan tidak berdosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala

Mubah : suatu perkara apabila dikerjakan atau ditinggalkan tidak berpahala dan juga tidak berdosa