Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN DAN OBSERVASI / TINDAKAN KEPERAWATAN Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan : Pemeriksaan Suhu Bayi A.

Konsep dasar 1. Pengertian : Nilai hasil pemeriksaan suhu merupakan indikator untuk menilai keseimbangan antara pembantukan dan pengeluaran panas. Nilai ini akan menunjuk peningkatan bila pengeluaran panas meningkat. Kondisi demikian dapat juga disebabkan oleh vasodilatasi, berkeringat, hiperventilasi dan lain-lain. 2. Tujuan : Tujuan tindakan pengukuran suhu tubuh dilakukan untuk mengetahui rentang suhu tubuh
3. Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh :

1. Kecepatan metabolisme basalKecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda- beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimanadisebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkaitdengan laju metabolisme. 2. Rangsangan saraf simpatisRangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hampir seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi ephineprin dan norephineprin yang meningkatkan metabolisme

3. Hormone pertumbuhanHormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 1520%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat. 4. Hormone tiroidFungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hampir semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal. 5. Hormon kelaminHormon kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih berfariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,30,6C di atas suhu basal. 6. Demam ( peradangan )Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10C. 7. Status giziMalnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20-30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain. 8. AktifitasAktifitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang

menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3-40,0 C. 9. Gangguan organKerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saat terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu. 10.LingkunganSuhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan

lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
4. Hal- hal yang harus diperhatikan pada saat pengukuran suhu tubuh :

a. Termometer harus dalam keadaan nol suhunya b. Penggunaan termometer untuk tiap tempat pengukuran harus pisah c. Cara menurunkan suhu harus dilakukan hati-hati jangan sampai thermometer jatuh dan pecah d. Sebelum melakukan pengukuran harus dijelaskan dengan benar tentang tempat dan tujuan pengukuran suhu e. Fungsi thermometer harus menghadap keluar untuk arah yang dibaca f. Pembacaan thermometer harus ditempat yang cukup cahaya

5. Perencanaan
No 1 Langkah langakah Persiapan alat dan bahan a. Termometer b. Tiga buah botol - Botol pertama berisi larutan sabun - Botol kedua berisi larutan desinfeksi - Botol ketiga berisi air bersih c. Bengkok d. Kertas tisu e. Buku catatan suhu f. Sarung tangan Tahap pra interaksi a. Verifikasi order b. Persiapan diri perawat c. Siapkan alat d. Siapkan lingkungan Tahap orientasi a. Berikan salam terapeutik/ berbicara dengan bayi Tahap kerja a. Cuci tangan b. Gunakan sarung tangan c. Atur posisi pasien d. Tentukan letak aksila dan bersihkan dengan tisu e. Turunkan termometer dibawa suhu 34-35c f. Letakkan termometer pada daerah aksila dan lengan pasien fleks di atas dada g. Setelah 3-10menit termometer di angkat dan di baca hasilnya h. Bersihkan termometer dengan kertas tisu i. Cuci tangan dengan air sabun, disinfektan, bilas dengan air bersih dan keringkan j. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan Terminasi Lakukan komunikasi Dokumentasi : catat hasil Sikap a. Teliti b. Hati-hati c. Rapi dan bersih d. Bertanggung jawab

3 4

5 6 7

B. Laporan Tindakan Keperawatan Nama Mahasiswa Semester / Tingkat Tempat Praktek Tanggal : Yessika Puspitasari : VI/3 : Ruang PSH/VK : 1-6 Juli 2013

Observasi / Tindakan : Mengukur Suhu Bayi Nama klien Umur Jenis kelamin Pendidikan Alamat Diagnosa medis Data Subyektif ( S ) Data Obyektif ( O ) Analisa ( A ) : Bayi Ny. T : 3 hari : Perempuan :: Depok, Sleman : :: - Bayi tenang saat di ukur suhu - Suhu 37,2c : Untuk mengetahui apakah bayi mengalami Hipotermi atau hipertermi, terkena infeksi atau tidak. Planing ( P ) Tujuan Implementasi ( I ) : Mengukur suhu bayi : Untuk mengetahui rentang suhu tubuh : Langkah-langkah, dilanjutkan dengan rasional untuk setiap sistem

No 1

3 4

Langkah langkah Persiapan alat dan bahan a. Termometer b. Tiga buah botol - Botol pertama berisi larutan sabun - Botol kedua berisi larutan desinfeksi - Botol ketiga berisi air bersih c. Bengkok d. Kertas tisu e. Buku catatan suhu f. Sarung tangan Tahap pra interaksi a. Verifikasi order b. Persiapan diri perawat c. Siapkan alat d. Siapkan lingkungan Tahap orientasi Berikan salam terapeutik/ berbicara dengan bayi Tahap kerja a. Cuci tangan b. Gunakan sarung tangan c. Atur posisi pasien d. Tentukan letak aksila dan bersihkan dengan tisu e. Turunkan termometer dibawa suhu 34-35c f. Letakkan termometer pada daerah aksila dan lengan pasien fleks di atas dada g. Setelah 3-10menit termometer di angkat dan di baca hasilnya

Rasional Perawat sering memakai sarung tangan saat melakukan pengukuran suhu mengunakan termometer

Perawat selalu siap saat sudah berada didekat bayi dan selalu siap melakukan tindakan keperawatan Saat berdada di dekat bayi perawat selalu komunikasi dengan bayi a. Perawat selalu cuci tangan saat akan melakukan tindakan b. Perawat memakai sarung tangan saat melakukan tindakan mengukur suhu c. Selalu mengatur posisi pasien d. Perawat tidak membersihkan area ketiak karena masih bersih e. Perawat selalu melakukan saat mengukur suhu f. Tangan bayi tetap di samping g. Perawat selalu tepat dalam mengukur dan membaca hasil pengukuran suhu h. Perawat tidak mencuci termometer selesai pengukuran i. Perawat selalu melakukan cuci tangan setelah selesai pengukuran

5 6

h. Bersihkan termometer dengan kertas tisu i. Cuci tangan dengan air sabun, disinfektan, bilas dengan air bersih dan keringkan j. Perawat selalu mencuci tangan j. Cuci tangan setelah prosedur sebelum dan sesudah melakukan dilakukan tindakan Terminasi Perawat selalu berbicara pada bayi bila Lakukan komunikasi tibdakan telah selesai Dokumentasi : catat hasil Nama dan hasil selalu di catat di buku vital

sign dan status pasien 7 Sikap a. b. c. d. Teliti Hati-hati Rapi dan bersih Bertanggung jawab

Evaluasi (E) : S:O : - Bayi tenang - Suhu 37,2C - Kulit bayi kemerahan

Pembimbing Klinik

Pembimbing Akademik

Praktikan

Ns. Yohana Martini, SKep

Sri Wahyuni, S. SiT

Yessika Puspitasari

LAPORAN PENDAHULUAN DAN OBSERVASI / TINDAKAN KEPERAWATAN

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan : Pemeriksaan Suhu Bayi

Disusun Oleh Yessika Puspitasari 1002112

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA TA 2012/2013 DAFTAR PUSTAKA

Bobak. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. EGC: Jakarta. Doenges. E. Marillin. (2001). Rencana Keperawatan Maternal/bayi. Edisi 2. EGC: Jakarta. Prawirohardjo, Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan (Edisi 4), Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Anda mungkin juga menyukai