Anda di halaman 1dari 27

HUBUNGAN ANTARA DIABETES MELITUS

GESTASIONAL DENGAN RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME

Rakhmi Tria Utami Noviana Umi Muthmainah Ananto Wibisono

J500090063 J500090082 J500090088

A.

LATAR BELAKANG
Tahun 2000 171juta orang di dunia terkena DM (2,8%)

2-5% adalah DM gestasional (GDM) intoleransi glukosa pada saat kehamilan (WHO dan ADA)

Prevalensi GDM di Eropa sebesar 2-6% sedangkan Indonesia1,9-3,6%. Dengan adanya riwayat keluarga dengan DM pada ibu hamil, lebih berisiko GDM sebesar 5,1% GDM mortalitas perinatal, melahirkan anak dg op sesar, melahirkan anak dg BBL >4,5kg , distosia bahu,ggn SSP, PJB, penyakit respiratorik (RDS),dll.

Ibu hamil dengan GDM akan melahirkan bayi dengan RDS sebasar 23,4% sedangkan ibu non-GDM 1,3%. Risiko ibu GDM melahirkan anak dengan RDS yaitu 23,7 kali lebih besar dibanding ibu hamil non-GDM
RDS adalah gangguan repiratorik paling sering terjadi pada bayi prematur takipneu, retraksi dinding dada dan grunting. Sebanyak 40.000 bayi setiap tahunnya terkena RDS dan terhitung sekitar 20% RDS sebagai penyebab kematian neonatal

DIABETES MELLITUS
DEFINISI

Diabetes melitus gestasional (DMG) didefinisikan sebagai suatu keadaan intoleransi glukosa atau karbohidrat dengan derajat yang bervariasi yang terjadi atau pertama kali ditemukan pada saat kehamilan berlangsung.

INSIDENSI
INDONESIA 1,9-2,6 % AMERIKA SERIKAT 4%

Erat hubungannya dengan RAS RAS Asia, Afrika-Amerika dan Spanyol 5-8% Ras Kaukasia 1,5%

PATOFISIOLOGI

Perubahan metabolisme endokrin dan KH yang menunjang pasokan makanan bagi janin glukosa berdifusi melalui plasenta kadar glukosa janin=ibu

Ibu tidak mampu meningkatkan produksi insulin

DMG

KLASIFIKASI
Tahun 2002 membuat klasifikasi etiologis DM sebagai berikut: Tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut) Autoimun Idiopatik Tipe 2 (Bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin) Tipe lain Defek genetik fungsi sel beta Defek genetik kerja insulin Penyakit eksokrin pankreas Endokrinopati Karena obat atau zat kimia Infeksi Sebab imunologi yang jarang Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM Diabetes melitus gestasional

Klasifikasi DM hamil menurut White (perubahan)

Class

Onset

Fasting

Plasma 2-hour

postprandial Therapy

Glucose
A1 A2 Class Gestational Gestational Age of < 105 mg/dL > 105 mg/dL Onset Duration (yr)

Glucose
< 120 mg/dL > 120 mg/dL Vascular Disease Diet Insullin Therapy

(yr)
B C D F R H Over 10 - 19 Before 10 Any Any Any 20 < 10 10 -19 > 20 Any Any Any None None Benign Retinopathy Nephropathy* Proliperative retinopathy Heart Insulin Insulin Insulin Insulin Insulin Insulin

Kriteria baru diagnosis diabetes menurut ADA 1997 dan WHO1999

Glukosa plasma dalam mg/dl Puasa TTGO Sewaktu Gejala

ADA 1997
Normal DM IFG/GDPT < 110 > 126 110 - 126 -

WHO 1999
Normal DM 1 > 126 < 110 -

2
3

> 200
-

> 200

3P, BB trn

TGT

140 - < 200

PENATALAKSANAAN

Sasaran normoglikemia pada DMG adalah kadar glukosa plasma vena puasa < 105 mg% dan dua jam sesudah makan < 120 mg%. Untuk mencapainya dapat dilakukan dengan : a. Pengaturan diet yang sesuai dengan kebutuhan yang diatur oleh ahli gizi. b. Memantau glukosa darah sendiri di rumah dan edukasi c. Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan diet

PENANGANAN OBSTETRI
Tujuan penanganan obstetri ibu DMG pada trimester tiga kehamilan adalah untuk mencegah asfiksia dan juga meminimalkan morbiditas meternal yang berhubungan dengan persalinan.

Pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan : - Pengukuran tinggi fundus uteri. - Mendengarkan denyut jantung janin secara khusus memakai ultrasonografi (USG) dan kardiotokografis (KTG). - Penilaian menyeluruh janin dilakukan dengan skor fungsi dinamik janin plasenta (FDJP).

PENANGANAN BAYI DARI IBU GDM


Bayi dari ibu DMG harus dikelola sejak lahir dan dicegah terjadinya hipoglikemia ditambah dengan pemeriksaan laboratorium yang penting untuk menegakkan diagnosis adanya kelainan pada bayi tersebut, yaitu :

- Kadar glukosa serum tali pusat - Kadar kalsium dan magnesium harus diperiksa pada umur 6, 12, 24, dan 48 jam. - Hematokrit harus diperiksa dari tali pusat dan selanjutnya pada umur 4 dan 24 jam. - Kadar serum bilirubin harus diperiksa bila bayi tampak kuning.

PEMANTAUAN LANJUT
The Fourth Workshop-Conference menyarankan : 1. semua wanita DMG dilakukan tes toleransi glukosa oral 75 gram 4-6 minggu setelah persalinan dan selanjutnya setiap 6 bulan sekali. 2. Saran dilakukannya follow-up postpartum karena 50% penderita DMG akan berkembang menjadi DM tipe 2 dalam 5 -20 tahun. 3.Perlindungan obstetri melalui pemakaian kontrasepsi harus diterapkan pada penderita DMG. Kontrasepsi oral EstrogenProgesteron dosis rendah atau alat kontrasepsi dalam rahim (ADR) dapat dianjurkan pada penderita ini bila tidak ada kontra indikasi lainnya.

KOMPLIKASI
ibu preeklamsi, ISK, persalinan seksio sesaria dan trauma persalinan pada bayi besar. pada bayi makrosomia, hambatan pertumbuhan janin, cacat bawaan, hipoglikemia, hipokalsemia, hipomagnesemia, hiperbilirubinemia, dan sindrom gawat nafas neonatal

SINDROM GAWAT NAFAS (RDS)


DEFINISI
dyspnea Edema paru, hyalin membran

takipnea

Kongesti vaskular, perdarah an

RDS

Sianosis yang menetap

atelektasi s Gambara n infiltrat

Penuruna n daya pengemb angan paru

EPIDEMIOLOGI

Terjadi pada 40.000 bayi/tahun

30% kematian neonatal

60-80% bayi <28 minggu 15-30% 32-36 mgu 5% < 37 mgu

Meningkat pada: Ibu yg DM, <37mgu, kelahiran > 1 fetus, sesar, kelahiran yang dipercepat,asfiksia

Insiden tertinggi didapatkan pada bayi prematur laki-laki atau bayi kulit putih.

ETIOLOGI
RDS

Gangguan sintesis dan sekresi surfaktan

Atelektasis, ketidak seimbangan ventilasiperfusi, hipoventilasi

Hipoksemia dan hipokarbi

FAKTOR RISIKO

Bayi kurang bulan


Bayi lahir dengan kulit seperti mekonium

Kegawatan neonatal

Bayi yang lahir dari ibu yang demam Bayi lahir dengan op sesar

Bayi dari ibu DM

PATOFISIOLOGI

Alveoli masih kecil sehingga sulit berkembang (pada prematur) pengembangan dada dan produksi surfaktan belum sempurna kolaps alveolus paru-paru kaku

Sehingga terjadi perubahan fisiologi paru pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat hipoksemia berathipoventilasi asidosis respiratorik

MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis yang timbul yaitu adanya sesak napas pada bayi prematur segera setelah lahir, yang ditandai dengan : 1. takipnea (> 60 x/menit) 2. pernapasan cuping hidung 3. Grunting 4. retraksi dinding dada 5. Sianosis Gejala menetap dalam 48-96 jam pertama setelah lahir.4 Berdasarkan Foto Thoraks
Stadium 1. Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara. Stadium 2. Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapang paru Stadium 3. Kumpulan alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat lebih opaque dan bayangan jantung hampir tak terlihat, bronchogram udara lebih luas. Stadium 4. Seluruh thorax sangat opaque ( white lung ) sehingga jantung tak dapat dilihat.

Derajat beratnya distress SilvermanAnderson dan skor Downes Skor Pemeriksaan 0 Frekuensi napas < 60 /menit 1 60-80 /menit 2 > 80/menit

Retraksi
Sianosis

Tidak ada retraksi Retraksi ringan


Tidak ada sianosis Sianosis hilang

Retraksi berat
Sianosis menetap

dengan 02

walaupun diberi
O2

Air entry

Udara masuk

Penurunan ringan Tidak ada udara udara masuk masuk Dapat didengar tanpa alat bantu

Merintih

Tidak merintih

Dapat didengar dengan stetoskop

Skor > 6 : Ancaman gagal nafas

DIAGNOSIS
Tes kematangan Paru Tes biokimia (Lesithin Sfingomyelin rasio) Tes biofisika Analisis Gas Darah Gas darah menunjukkan asidosis metabolic dan respiratorik bersamaan dengan hipoksia Radiografi Thoraks Radiografi thorak pada bayi dengan RDS menunjukkan retikular granular atau gambaran ground-glass bilateral, difus, air bronchograms, dan ekspansi paru yang jelek

PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Non-Respiratorik

a. Monitoring temperatur b. Keseimbangan cairan, elektrolit dan glukosa harus diperhatikan

2. Penatalaksanaan Respiratorik Tujuan utama dalam penatalaksanaan gagal nafas adalah menjamin kecukupan pertukaran gas dan sirkulasi darah dengan komplikasi yang seminimal mungkin. Panduan monitoring saturasi oksigen

> 95%
88-94% 85-92%

Bayi aterm
Bayi pre term (28-34 minggu) < 28 minggu

3. Penatalaksanaan di ruang NICU

Penatalaksanaan gagal nafas pada neonatus di ruang perawatan intensif neonatus (NICU) saat ini telah mengalami perkembangan. Penggunaan surfaktan, high frequency ventilator, inhaled nitric oxide (iNO), telah banyak dilakukan.

4. Ventilasi Mekanik Tujuan ventilasi mekanis adalah membaiknya kondisi klinis pasien dan optimalisasi pertukaran gas dan pada FiO2 (fractional concentration of inspired oxygen) yang minimal, serta tekanan ventilator/volume tidal yang minimal.
Indikasi absolut prolonged apnea PaO2 <50 mmHg atau FiO2 > 0,8 PaCO2 > 60 mmHg dengan asidemia persisten bayi yang menggunakan anestesi umum Indikasi relatif frequent intermittent apnea bayi yang menunjukkan tanda-tanda kesulitan nafas pada pemberian surfaktan.

5. Surfaktan Surfaktan dapat diberikan pada 6 sampai 24 jam setelah bayi lahir apabila bayi mengalami respiratory distress syndrome yang berat.
Nama Produk Galfactant Dosis Awal 3 ml/KgBB Dosis Tambahan Dapat diulang sampai 3 kali pemberian dengan interval tiap 12 jam Dapat diulang setelah 6 jam, sampai total 4 dosis dalam 48 jam

Beractant

4 ml/KgBB

Colfosceril Porcine

5 ml/KgBB diberikan Dapat diulang setelah 12 dan dalam 4 menit 24 jam 2,5 ml/KgBB Dosis 1,25 ml/KgBB dapat diberikan tiap 12 jam

Hubungan Diabetes Gestasional dengan Respiratory Distress Syndrome

Kadar gula ibu pengaruh besar thd janin organ janin akan mengalami kompensasi akibat kenaikan kadar gula ibu produksi insulin >> hiperinsulinemia

Hiperinsulinemia mempengaruhi kematangan paru dan menghambat produksi surfaktan berisiko terjadinya penyakit membran hyalin

Hiperinsulinemia mengganggu kerja kortikosteroid menghambat pembentukan surfaktan saat lahir paru sulit berkembang sindrom gawat nafas (RDS)

DAFTAR PUSTAKA Adam JMF. Diagnosis dan penatalaksanaan diabetes mellitus gestasional. Dalam : Noer HMS at al, eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I. Edisi 3. Jakarta : Balai penerbit FKUI. 1996. hal. 675 80. Adam JMF. Klasifikasi diabetes mellitus dengan kehamilan. Dalam : Endokrinologi Praktis. Diabetes mellitus, tiroid, hiperlipidemi. Ujung Pandang; PT. Organon : 1989. hal. 97 - 104. Adam JMF, editor. Skrining diabetes mellitus pada kehamilan. Dalam :Endokrinologi praktis. Diabetes mellitus, tiroid, hiperlipidemi. Ujung Pandang; PT. Organon .1989 hal. 105 13. Benson RC. Diabetes mellitus. In : Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment. 5th ed. California : Lange medical publications; 1984. p. 901-6. Buckley, B. S., Harreiter, J., Damm, P., Corcoy, R., Chico, A., Simmons, D., Vellinga, A., Dunne, F. 2011. Gestasional diabetes mellitus in Europe: prevalence, current screening practice and barriers to screening. A review. Diabet. Med. 29, 844854 Cunningham FG, Gilstrap LC, Gant NF, Hauth JC, Leveno KJ, Wenstrom KD. Diabetes. In : Williams Obstetrics.21st ed. New York: Mc GrHill;2001.p.1359 81. Darmono. Diagnosis dan klasifikasi diabetes mellitus. Dalam : Noer HMS at al, eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I. Edisi 3. Jakarta : Balai penerbit FKUI. 1996. hal. 590 4. Dutta DC. Gestational Diabetes. In : Konar H, editor. Text book of obstetrics including perinatology and contracepcion. 4th ed. Calcutta : New central book agency (p)Ltd ;1998. p. 301 2 Diabetes forum. Treatment gestational diabetes mellitus. Avalaible from : diabetesforum.net/cgbin/display_engine.pl?category_id=6&content_id/html.Accessed September 28, 2003. Gabbe SG. Diabetes mellitus. In : Queenan JT editor. Management of high-riskpregnancy. Boston. Blackwell scientific publications : 1994. p. 263 -7 Hermansen C. L., Lorah K. N. Respiratory Distress in the Newborn. Am Fam Physician 2007;76:987-94.

Intensive Care Nursery House Staff Manual. 2004. Respiratory Distress Syndrome (RDS). University of California:UCSF Childrenss Hospital Konsensus pengelolaan diabetes melitus di Indonesia. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). Tahun 2002. Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997. Manuaba I. B. G., Manuaba I. A. C., Manuaba I. B. G. F. 2001. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta:EGC McCance, D. R., Maresh, M., Sacks, D.A., 2010. A practical manual of diabetes in pregnancy. Wiley-Blackwell More TR. Diabetes in pregnancy. In : Creasy RK, Resnik R, editors. Maternal fetal medicine principles and practice. 3rd ed. Philadelphia. WB Sounders company;1994. p. 934 71. More TR. Diabetes mellitus and pregnancy. Avalaible from : http/www. e-medicine.com. Accessed September 5, 2003.

Osgood, N., Dyck, R., Grassmann, W. 2011. The Inter- and Intra-generational Impact of Gestational Diabetes on the Epidemic of Type 2 Diabetes. American Journal of Public Health.101(1). January 2011. pp173-179. 7pp Perkumpulan Endokrinologi Indonesia cabang Makassar. 2002. p. 1 15. Prawirohardjo S. 2011. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Robert, M. F., Neff, R. K., Hubell, J. P., Taeusch, H. W., Avery, E,. 1976. Association between maternal diabetes and the respiratory distress syndrome in the newborn. N Engl J Med 1976; 294:357-360 Sambo AP. Diagnostic criteria of diabetes mellitus. In : Naskah lengkap symposium diabetes mellitus dan dislipidemi. Makassar. Hotel Sedona, 12 13 Oktober 2002. The new england journal of medicine. Vol. 341 no. 23, Dec. 1999. Gestational diabetes mellitus.Avalaible from : http/www. med.mc.ntu.edu.tw/~tm/journal/2000/0310.html. Accessed September 29, 2003. Wiknjosastro GH, Hudono ST. Penyakit endokrin Dalam : Wiknjosastro H Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editor. Ilmu kebidanan. Edisi 3. Jakarta : Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo; 1997. hal. 518 - 30