Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum kem.

k Penyakit Organisme Akuatik

Hari/Tanggal : Selasa, 20 November 2012 Kelompok : VII Nama Asisten : Jeanni Indah

GAMBARAN DARAH IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Disusun oleh: Habib Fadhlan Tamami (C14100048)

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Organisme akuatik termasuk ikan adalah makhluk hidup yang selalu berhubungan dengan lingkungannya, untuk ikan sendiri dalam bidang akukultur hubungan antara ikan dan lingkungan sangat bereratan karena itulah perkembangan produksi ikan dapat terlihat. Salah satu faktor ikan terserang penyakit selain lingkungan bisa pula genetik. Penyebab penyakit pada ikan dapat dibedakan menjadi dua yaitu infeksi seperti virus, bakteri, cendawan, cacing dan protozoa dan non infeksi seperti stress, intoksikasi, defisiensi nutrisi..

(Zonneveld et al. 1991) Salah satu penyebab adanya penyakit pada ikan adanya perubahan terhadap gambaran darah pada suatu ikan, ikan yang mengalami penyakit akan mengalami perubahan pada konsentrasi fagosit dalam darah, jumlah leukosit total dan jumlah eritrositnya (Lagler et al 1977). Seperti kita tahu bahwa darah ikan terdiri dari cairan plasma dan sel-sel darah yang terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Ikan nila merupakan ikan konsumsi yang menjadi salah satu unggulan ikan budidaya air tawar, banyak usaha-usaha untuk menghasilkan produk ikan nila yang baik dalam segi kandungannya dan dalam segi penyakit. Pada ikan nila sama dengan ikan tawar lain dapat terjangkit penyakit-penyakit ikan seperti penyakit

streptococciasis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus sp. Penyakit ini cukup berbahaya bagi ikan yaitu dapat menyebabkan ikan mati terutama pada ikan-ikan yang terdapat inang yang sesuai bagi bakteri Streptococcus sp. seperti ikan nila, stripped bass, rabbitfish, rainbow trout dan baramudi (Evans, et al. 2000). Terutama pada budidaya yang semakin dituntut untuk intensif karena demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan cara yang efektif. Namun dengan semakin intensifnya suatu budidaya maka penyakit streptococciasis pun akan semakin mudah berkembang. Untuk mengatasi hal ini sudah banyak cara untuk menanggulanginya seperti dengan desinfektan atau immunostimulan untuk meningkatkan limposit dalam darah karena limposit merupakan salah satu indicator dasar pertahanan tubuh dan merupakan system non spesifik yang dapat melindungi tubuh dari serangan mikroba (Rustikawati Ika 2012). Berkenaan

dengan itu lah maka perlu di lakukannya pemeriksaan gambaran darah ikan agar dapat mengetahui ikan yang sehat dan ikan yang terjangkit penyakit.

1.2

Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui gambaran darah pada ikan

meliputi pembuatan preparat ulas untuk deferensial leukosit, pengukuran kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah sel darah merah dan sel darah putih serta aktivitas fagositosit.

II. METODOLOGI

2.1

Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 13 November 2012

pukul 07.00-10.00 WIB bertempat di Lab Kesehatan Ikan dan pengamatan dilakukan di Lab Kesehatan Ikan pada pukul 17.00 hari Rabu tanggal 14 November 2012.

2.2

Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah mikroskop, alat

bedah,serbet /tissue, baki, syiringe, tabung perendam gelas objek, sahli-meter, pipet Pasteur, tabung mikrohematokrit, sentrifugasi, penggaris, haemocytometer tipe Nieubaur, gelas objek dan cover glass. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) antikoagulan (Na-sitrat 3.8 %), kapas beralkohol, bakteri Staphylococcus aureus, darah, larutan Turks, , akuades, methanol, dan pewarna Giemsa.

2.3 2.3.1

Prosedur Kerja Cara Mengambil Darah Cara mengamil darah ikan nila pertama bagian kepala ikan nila dipegang

dan ditutup dengan kain serbet/tissue, kemudian syiringe yang telah di bersihkan dan diisi anti koagulan disiapkan, kemudian darah di ambil pada bagian vena caudalis yaitu pembuluh darah yang terletak tepat di bagian ventral tulang vertebrate. Jarum diarahkan 45 kearah bagian ekor dan tepat pada garis LL atau kea rah atas, setelah jarum ditusukan kedalam daging hingga terasa tulangnya lalu darah disedot pelan-pelan dan masukan ke dalam tube. Darah siap untuk di lakukan penghitungan hemoglobin dan hemotokrit.

2.3.2

Diferensial Leukosit Langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan preparat ulas, darah

ditetesi pada gelas objek yang membentuk 30C, lalu darah digeser menggunakan gelas objek lainnya sampai tersebar secara merata, lalu hasil penyebaran di

keringkan. Kemudian dilakukan pewarnaan giemsa untuk memperjelas proses pengamatan, tahap ini diawali dengan darah hasil ulasan di fiksasi udara, kemudian setelah kering dimasukan kedalam tabung tang berisi larutan giemsa selama 60 menit setelah itu dibilas menggunakan akuades dengan cara gelas objek disemprot atau diberig dengan menggunakan ru aliran akuades kemudian dikeringkan dan siap untuk diamati. Pengamatannya dilakukan dengan menggunakan mikroscop dengan cara preparat dipasang dibawah lensa mikroskop kemudian diamati dan dihitung jumlah leukosit yang terdapat pada hasil preparat ulas tersebut.

2.3.3

Penghitungan Sel Darah Putih Penghitungan sel darah putih diawali dengan darah dalam pipet dihisap

sampai skala 0.5, kemudian larutan Turks ditambahkan sampai skala 11, setelah itu pipet diayun membentuk angka delapan selama 3-5 menit hingga homogen, penambahan larutan ini untuk melisiskan sel darah merah. Setelah itu larutan darah yang ada dalam pipet dibuang, lalu diteteskan haemocytometer tipe Neubauer dan di tutup dengan gelas tutup, kemudian sel darah putih dihitung dengan bantuan mikroskop pada skala pembesaran 400 x. jumlah leukosit total dihitung sebanyak 5 kotak kecil dengan posisi kotak di setiap ujung dan di tengahtengah sehingga didapatkan jumlah sel darah merah per mili liter. Perhitungan jumlah sel darah putih dilakukan pada 5 kotak denga menggunakan rumus:

SDP rataan SDP x vol.K x Faktor pengenceran


Keterangan : SDP : Sel darah merah K : Kotak Faktor pengenceran : 20

2.3.4 Aktivitas Fagosit Prosedur yang dilakukan pertama kali sama dengan diferensial leukosit, darah diteteskan pada gelas objek dan di berikan suspense bakteri

Staphyloccoccus aureus yang ada dalam bentuk larutan, kemudian disebar dengan gelas objek lainnya setelah itu gelas objek di keringkan lalu dimasukan kedalam

tabung giemsa selama 60 menit dan terakhir dikeringkan. Dalam perhitungan dilakukan dengan cara sel-sel leukosit dihitung dan sel-sel yang memfagosit dihitung dibawah mikroskop lalu hasilnya dihitung dengan menggunakan rumus:

Keterangan AF

: : Aktivitas Fagositosit

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil Berikut adalah data hasil pengamatan diferensial leukosit, sel darah putih

dan aktivitas fagositosit pada ikan nila (Orechromis niloticus). Tabel 1. data hasil pengamatan diferensial leukosit, sel darah putih dan aktivitas fagositosit pada ikan nila (Orechromis niloticus)
Kelompok 7 8 9 10 11 12 SDP (sel/mm3) 94000 381000 230000 1860000 280000 1300000 Diferensiasi Leukosit Limfosit 37 60 57 5 8 28 Monosit 3 14 7 7 Trombosit 1 3 10 Neutrofil 2 3 1 3 21 5 Aktifitas Fagositosit (%) 22,44 25,00 15,20 25,00 50,00 -

Berdasarkan table 1 di atas, menunjukan bahwa jumlah seldarah merah yang tedapat pada ikan yang digunakan kelompok 10 merupakan jumlah yang paling tinggi dengan nila 1860000 sel/mm3 sedangkan yang terkecil terdapat pada kelompok 7 sebesar 94000 sel/mm3. Jumlah limfosit yang terbesar ada pada kelompok 8 sebesar 60 buah yang teramati, dan yang terkecil terdapat pada kelompok 10 sebesar 5 buah. Jumlah monosit yang terbesar ada pada kelompok 10 sebesar 14 buah yang teramati, dan yang terkecil terdapat pada kelompok 7 dan 8 tanpa monosit. jumlah trombosit yang terbesar ada pada kelompok 12 sebesar 10 buah yang teramati, dan pada 3 kelompok yaitu 7,8 dan 9 tidak terdapat trombosit. Jumlah neutrofil yang terbesar ada pada kelompok 11 sebesar 21 buah yang teramati, dan yang terkecil terdapat pada kelompok 9 sebesar 1 buah. Terakhir pada aktivitas fagositosit jumlah yang terbesar terdapat pada kelompok 11 dan pada kelompok 11 tidak terdapaf aktivitas fagositosit. 3.2 Pembahasan Salah satu penyebab adanya penyakit pada ikan adanya perubahan terhadap gambaran darah pada suatu ikan, ikan yang mengalami penyakit akan mengalami perubahan pada konsentrasi hemoglobinnya, jumlah leukosit total dan jumlah eritrositnya (Lagler et al 1977). Maka dari itulah perlunya dilakukan gambaran darah.

Darah merupakan jaringan yang dapat mengalir melalui vascular yang terdiri dari dua komponen yaitu plasma dan sel-sel darah. Darah ikan sendiri tersusun atas cairan plasma dan sel-sel darah yang terdiri dari sel darah merah (eritrosit), seldarah putih (leukosit) dan keeping darah (trombosit). Fungsi darah sendiri dalam tubuh ialah sebagai transport nutrien, oksigen dan karbondioksida, menjaga keseimbangan suhu tubuh dan berfungsi dalam pertahanan tubuh (Rastogi 1997 dalam Ariaty 1991). Sel darah putih (leukosit), leukosit merupakan sel darah yang jumlahnya lebih sedikit dari pada sel darah merah. Leukosit terdiri dari agranulosit dan granulosit. Fungsi dari leukosit itu sendiri adalah melindungi tubuh dari benda asing seperti pathogen. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi jumlah leukosit itu sendiri adalah kondisi dan kesehatan tubuh ikan (Moyle & Cech 1988). Maka dari itu leukosit merupakan suatu indikator dasar pada ikan yang terjangkit penyakit yang dikanakan mikroba. Aktivitas fagositosis merupakan teknik untuk mengetahui korelasi antaa in vitro dan in vivo proses regulasi yang terjadi jika bakteri bereaksi dengan sel neutrofil hospesnya. Aktivitas fagosit ini dapat diketahui dengan cara radioaktif untuk melabel bakteri yang difagosit (Coligan et al. 1996 dalam Susanti R 2003). Aktivitas fagositosit ini dalam tubuh akan melawan bakteri seperti Stapylococcus sp. Neutrofil sebagai sel pertahanan tubuh non spesifik yang pertama kali mengatasi adanya antigen dengan memfagositkan antigen tesebut. Secara in vivo proses fagositosis ini diawali dengan migrasi neutrofil menuju jaringan yang teriinfeksi yang diarahkan oleh kemotaktik faktor sehingga neutrofil akan bergerak kearah konsentrasi kemoatraktan lebih tinggi. Kemoatraktan yang mengarahkan gerak neutrofil antara lain adalah produk bacterial, formil methionil leucocil protein (FMLP), lektin, komplemen C5a, kalikrein dan faktor Hageman (Ferencik 1993 dalam Susanti R). Setelah itu akan terjadi pelekatan antara bakteri dengan neutrofil kemudian neutrofil akan membentuk pseudopia yang dijulurkan ke sekitar bakteri yang akan membentuk vakuola fagosom dan akhirnya baktei yang berada dalam fagosom akan dibunuh oleh mekanisme bakterisidal (Ferencik 1993 dalam Susanti R 2003). Pengamatan terhadap gambaran darah menggunakan beberapa larutan di setiap perlakuan diantaranya adalah antikoagulan (Na-sitrat 3.8 %) untuk menjaga

tidak terjadinya koagulasi pada darah ketika akan di ambil pada ikan, larutan Turks yang merupakan larutan isotonis yang dipergunakan sebagai pengencer darah dalam penghitungan sel darah putih. Apabila sampel darah dicampur dengan larutan Turks maka sel darah merah akan hancur, sehingga yang tinggal hanya sel darah putih saja. Komposisi larutan Turk terdiri dari larutan gentian violet 1% dalam 1 mL air, asam asetat glacial 1 mL, dan 100 mL aquadest (Dopongtonung, 2008). Salah satu cara untuk mengetahui jumlah leukosit dalam darah ikan yaitu dengan menggunakan metode pembuatan preparat ulas yang diberi larutan giemsa. Pengamatan leukosit yang dilakuan diantaranya melihat Neutrofil, Monosit, Trombosit, dan Limposit Neutrofil itu sendiri adalah sel darah putih yang mengandung vakuola berisi lisozom yang berfungsi untuk menghancurkan organism yang telah difagositkan. Bentuk neutrofil sendiri adalah bulat, berukuran lebih kecil dari eritrosit dengan memiliki inti yang memenuhi sebagian ruang dari sitoplasmanya (Chinabut et al., 1991 dalam Mulyani, 2006). Monosit merupakan bagian dari sel darah putih yang berfungsi sebagai makrofag atau penebalan dari penyembuhan luka akibat infeksi yang banyak dijumpai daerah peradangan dan berfungsi dalam fagositas. Monosit ada sekitar 0.1 % dai total leukosit yang ada dalam darah (Robert, 1978 dalam Mulyani, 2006). Limposit sendiri adalah sel darah putih yang berperan sebagai pertahanan tubuh dan dalam respon imunitas (Angka et al., 1990 dalam Kuswardani, 2006). Sedangkan trombosit berperan dalam proses pembekuan darah serta mencegah kehilangan cairan tubuh. Menurut Salasia et al (2001) Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki ukuran eritrosit eritrosit ikan berkisar antara 8,10x8,25-14,94x10,06 mm dengan . Jumlah adalah 20.000-3.000.000 sel tiap mm3 darah. Sedangkan jumlah

leukosit pada ikan berkisar antara 20000-150.000 (Mulyani 2006) . Berdasarkan hasil dari data praktikum menunjukan bahwa nila sel darah putih yang didapatkan sebesar 94000 sel/mm3 jumlah SDP ini sudah sesuai dengan kisaran SDP pada ikan. Hal ini menggambarkan system imun yang cukup baik pada ikan yang diamati. Sedangkan hasil dari bagian-bagian SDP terdapat jumlah limposit sebesar 37 jumlah ini sudah cukup baik yang menandakan bahwa system imunitas pada ikan nila yang diperiksa namun menandakan bahwa ikan ini sedang dalam

keadaan terserang penyakit. Neutrofil mendapatkan 2 d sedangkan trombosit dan monofil tidak terdapat pada hasil preparat ulas deferensial leukosit yang diamati. Hal ini menunjukan bahwa ikan nila yang digunakan tidak dalam kondisi baik atau dapat dikatakan bahwa ikan ini sedang diserang penyakit karena jumlah leukosit dalam ikan menandakan bahwa terdapat benda asing penyebab penyakit dalam tubuh karena leukosit akan memfagosit bakteri serta akan mensintesa antibodi namun tidak separah yang dibayangkan karena pada beberapa bagian leukosit seperti monofil tidak ditemukan.

IV . KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan Berdasarkan semua data hasil praktikum di dapat beberapa hasil yang

sesuai dengan batasan normal. Ikan nila yang di uji terindikasi sedang terserang penyakit dengan terdapatnya leukosit namun tidak cukup berbahaya karena populasi leukositnya tidak terlalu banyak

4.2

Saran Faktor lingkungan merupakan faktor yang menentukan jumlah eritrosit

dalam darah ikan sehingga pengelolaan lingkungan dalam budidaya dengan itu jika jumlah leukosit dalam darah banyak maka system kekebalan imun pada ikan akan semakin baik.

DAFTAR PUSTAKA Ariaty L. 1991. Morfologi Darah Ikan Mas (Cyprinus carpio Linn) Nila Merah (Orechromis sp.) dan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) dari Sukabumi. [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Dopongtonung, Asriyanti. 2008. Gambaran Darah Ikan Lele (Clarias spp) yang Berasal dari Daerah Laladon-Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan. Imstitut Pertanian Bogor. Evens, J.J., Shoemaker, C. A., Klesius, P.H. 2000. Esperimental Streptococcus agalactiae Infection Of Hybrid Striped Bass (Morone chrysops- M. saxatilis) and Tilapia (Oreochromis niloticus) by Nares Aquaculture 198 : 197 210 Guyton AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Irawati Setiawan (Penerjemah). Penerbit Buku kedokteran EGC, Jakarta. Kuswardani, Y. 2006. Pengaruh Pemberian Resin Lebah Terhadap Gambaran Darah Maskoki Carassius suratus yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila. [Skripsi]. Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Lagler KF, Bardach JE, RR Miller, Passino DRM. 1977. Ichthyology. John Willey and Sons. Inc. new York-London. Hlm 506. Moyle PB, Cech Jr JJ. 1988. Fishes An Introduction to Icthyology. Prentice Hall, Inc. USA. hlm 559. Mulyani, S. 2006. Gambaran Darah Ikan Gurame Osphronemus gouramy yang Terinfeksi Cendawan Achlya sp. Pada Kepadatan 320 dan 720 Spora per ml. [Skripsi]. Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Rustikawati Ike. 2012. Efektivitas Ekstrak Sargassum sp. Terhadap diferensiasi Leukosit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang diinfeksi Streptococcus iniae. . Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjajaran. Sumedang. Susanti, R. Margareta Rahayuningsih. 2003. Aktivitas Fagositosis Neutrofil terhadap Staphulosossus aureus Isolat Sapi di Jawa Tengah dengan Teknik Acridine Orange Fluorescence. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. UNNES.

Zonneveld NE, EA Huisman, JH Boon. 1991. Prinsip - Prinsip Budidaya Ikan. Terjemahan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 381 hal.