Anda di halaman 1dari 128

DASAR DASAR MANAJEMEN PROYEK DAN SISTEM MANAJEMEN MUTU

TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM


SETELAH MENGIKUTI PELAJARAN INI PESERTA AKAN MAMPU MEMAHAMI DASAR DASAR MANAJEMEN PROYEK DAN SISTEM MANAJEMEN MUTU

Budaya Bangsa Dlm Menyikapi Pembangunan

PROGRESS RESISTANCE
Harus ada Model For: ..

PROGRESS PRONE
Cukup dengan Model of (Yang sekarang ada)

Lawrence Harrison dalam bukunya Culture Matter : How Value Shape Human Progress yang mengkaji dampak sebuah bangsa pada dinamika politik dan pembangunan ekonomi di negara yang bersangkutan menyimpulkan bahwa ada sebuah bangsa yang budaya memang mendorong laju kemajuan (progress prone), tapi juga ada sebuah bangsa yang budayanya cenderung menghambat kemajuan (progress resistance). Sikap memandang/berfocus kedepan dan tidak terjerat kemegahan masa lampau (Vietnam yang mengalahkan AS secara strategik) yang ditekankan oleh seorang redaktur dan penulis The New York Times Roger Cohen, setelah baru baru ini ia keliling Vietnam, China, Korea, Malaysia . Kadang kadang memang perlu kompromi, tapi kemudian maju terus tulisnya.

Prof Toshiko Kinoshita dari Universitas Waseda Jepang mengatakan:


Bahwa krisis masyarakat Indonesia yang harus segera diatasi adalah: Tidak pernah berpikir jangka panjang, mudah melupakan suatu peristwa hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berpikir panjang untuk negaranya. Karakteristik seperti ini tidak hanya terlihat dimasyarakat dari semua lapisan tetapi juga politisi dan pejabat pemerintahnya. Pemerintah dikatakan sebagian besar hanya merencanakan rencana jangka pendek yang bersifat reaktif terhadap ratusan masalah individual tanpa adanya suatu kebijakan umum atau sistem yang mengikat untuk jangka waktu lama. Mereka (anak buah) hanya sedikit mendapat pengarahan dan pengaturan dari pimpinan dan pelaksana diharusnya menciptakan sistem sendiri.

Robert E Allinson dalam bukunya Global Disasters mengemukan tesis bahwa kebanyakan becana besar dilandasi dasar konseptual yang tidak tepat. Prof Dr KoentjaningratTentang kelemahan mentalitas bangsa Indonesia Berorientasi masa lalu, Tidak hemat, Tidak menghargai mutu, Tidak berdisiplin murni

Prof Michael Porter dari Havard Business School (bagian dari Universitas Harvard di Cambridge, AS) yang baru baru ini diundang ke Indonesia untuk menyampaikan ceramahnya (29/11/2006) yang berjudul Mengembangkan daya saing dalam lingkungan global menyampaikan beberapa daftar kelemahan bangsa Indonesia sekarang yang bila disimpulkan sebagai berikut: Perekonomian Indonesia Stagnan dan produktivitas rendah karena sejumlah faktor sistem tenaga kerja tidak efisien, berbagai peraturan dan prosedur baik dipusat maupun didaerah yang sering saling bertentangan, infrastruktur yang tidak memadai. Indonesia berusaha keras untuk menarik investasi asing tapi lingkungan bisnis asing justru seperti menolak investasi Mentalitas yang terlalu memikirkan kepentingan sendiri dalam jangka pendek harus dirubah. Dunia sekarang ini sedang maju cepat, kalau Indonesia tidak segera melakukan pembenahan diri, maka akan ketinggalan. Walaupun Porter tidak tidak mempergunakan istilah progresive resistence , tapi jelas yang dimaksud betapa budaya indonesia itu seperti menghambat kemajuan. Jadi Indonesia memerlukan upaya yang serius untuk memerangi persoalan daya saing yang amat buruk.

Gugatan Kepada Para Pakar/Ahli:


Setelah Tahun 1980 di Indonesia ini banyak ahli Transportasi dan Ahli Perkerasan, Ahli Tanah (Geoteknik) namun:
Dari dulu orang berjalan dari Semarang Jakarta ya naik Bus, Kereta Api yang waktunya satu malam, harganya sama saja Dari dulu orang mengangkut barang ya pakai truck yang merupakan pilihan yang paling murah dibanding dengan kereta api atau kapal. Hasil pembangunan Jalan ya itu itu juga dan problemnya kerusakan dini dan lain lain yang tidak pernah terselesaikan.

PEMAHAMAN TENTANG ILMU:


Tujuan Ilmu adalah beribadah kepada Allah, dan mengarahkan segala macam ibadah dan ketaatan hanya kepada Allah. Berbagai dalil menunjukkan bahwa ruh ilmu adalah pengalaman. Jika tidak demikian, maka ilmu adalah sesuatu yang telanjang tanpa manfaat Nash nash yang tetap di dalam syara berupa acaman keras bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya. Seorang alim (orang yang berilmu) akan ditanya tentang ilmunya, apa yang ia amalkan dengan ilmunya. Orang yang tidak mengamalkan ilmunya akan menjadi bencana, kerugian dan penyesalan bagi dirinya.

PERLU ADA PERUBAHAN DARI KITA SEMUA MENGENAI:

Visi Skills Incentives Sumber Daya Action Plan

PROSES DAN KEAHLIAN DALAM PEMELIHARAAN, PENINGKATAN DAN PEMBANGUNAN JALAN


ORGANISASI
Memulai

Proses
Perencanaan Pelaksanaan Selesai

Pengendalian

sasaran
KEAHLIAN MANAJEMEN YANG DIPERLUKAN
STRUKTUR ORGANISASI

Manajemen Integrasi
Manajemen Cakupan Manajemen waktu Manajemen procurement

Manajemen Sumberdaya
Manajemen Komunikasi Manajemen Biaya Manajemen Mutu Manajemen Resiko

SUMBER DAYA MANUSIA UANG ALAT MATERIAL LAHAN

SOP DAN INSTRUKSI KERJA PADA SETIAP UNIT KERJA


TUPOKSI
MATERIAL (INPUT)

Instruksi Keja

ACTION

OUTPUT SOP/ OPERATION LINE/Deoxyribo Nucleic Acid.

Adenine Guanine Cytosine Thymine Genome Chip

Dengan adanya SOP/Operasi Line yang jelas dan tepat serta masing masing petugas yang dilengkapi dengan tupoksi , input dan instruksi kerja yang jelas maka masing masing petugas akan melakukukan kegiatan yang sesuai dengan output yang diinginkan atau akan bekerja secara efektif dan efisien.

KONSEP MANAJEMEN PROYEK


Definisi Proyek : urutan tugas yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu yang unik dalam kerangka waktu yang ditentukan.
Kuncinya Unik: yang membedakan antara operasi dalam suatu produksi dan proyek. Operasi suatu produksi begitu selesai akan sama pada produksi berikutnya. Sedangkan Proyek selesai satu proyek proyek berikutnya tdk akan sama dan memerlukan berbagai variasi langkah atau metoda.

Manajemen Proyek (Project Management Institute); Usaha temporer yang dilakukan untuk menciptakan proyek atau jasa yang unik atau Aplikasi pengetahuan, keahlian, alat dan teknik untuk aktivitas proyek guna memenuhi atau melampaui kebutuhan yang diharapkan oleh stakeholder dari proyek tersebut. Tolok ukur keberhasilan Proyek:
Waktu (tepat waktu). Biaya (tepat biaya /anggaran). Tujuan (tujuan/cakupan proyek terpenuhi outcome) Mutu (kepuasan). Tidak merusak sumberdaya.

Rencana Proyek adalah dokumen formal yang berisi banyak komponen. Bukan sekedar jadwal pekerjaan

HUBUNGAN CAKUPAN, WAKTU, BIAYA, MUTU DAN SUMBERDAYA

MUTU DAN SUMBERDAYA

TUJUAN/CAKUPAN Jika cakupan naik setelah waktu dan biaya ditetapkan maka satu satunya untuk mempertahankan hubungan yang sama dalah menaikan waktu atau biaya. Jika waktu dan biaya tetap sama maka dua komponen lainnya akan terganggu. Misal sumberdaya mungkin kurang dan menyebabkan gangguan atau mutu berkurang yang membuat pengguna tidak puas.

PANDANGAN YANG MENYESATKAN DALAM MANAJEMEN PROYEK


Penggunaan alat dan teknik manajemen proyek akan menjamin keberhasilan proyek. Penggunaan alat dan teknik manajemen tidak membantu dalam keberhasilan proyek dan akan menambah biaya, dan merepotkan.
Yang betul akan menambah biaya namun tidak besar jika dibanding dengan manfaatnya dan Mengikuti teknik menajemen proyek standar dapat secara signifikan memperbesar peluang keberhasilan proyek dan meningkatkan kemungkinan sukses.

Estimasi biaya merupakan biaya yang akurat dan harus dijadikan patokan. Bahwa Estimasi biaya selalu berlebihan dan mesti diabaikan atau dipotong 50% agar mendekati kenyataan.
Yang betul Estimasi adalah memperkirakan berapa lama waktu dan biaya. Estimasi yang lebih akurat berasal dari proses pembelajaran, bukan bagi menajer proyek saja, tetapi juga untuk tim dan organisasi.

Hali perencanaan proyek merupakan yang benar,maka segala sesuatu akan sesuai dengan rencana. Mempercayai segala sesuatu tidak tidak akan ada yang sesuai dengan rencana juga mengada ada dan keyakinan yang keliru.
Yang betul Estimasi tidak selalu akurat, dan peristiwa tidak terduga dapat mengubah proyek secara dratis. Tetapi dengan mengaplikasikan teknik pengendalian proyek khusunya menajemen resiko, proyek dapat lebih sesuai dengan rencana.

PROSES PROYEK

MEMULAI

PERENCANAAN

PELAKSANAAN

PENGENDALIAN

PENYELESAIAN

KEAHLIAN MANAJEMEN YANG DIBUTUHKAN DALAM MENGELOLA PROYEK 1. Manajemen Jalan dan ilmu Jalan dan Jembatan 2. Manajemen Integrasi 3. Manajemen Cakupan 4. Manajemen Waktu Manajemen 5. Manajemen Pengadaan (Procurement) 6. Manajemen Sumberdaya 7. Manajemen komunikasi 8. Manajemen Mutu 9. Manajemen Biaya 10.Manajemen resiko.

Manajemen Penyelenggaraan Jalan adalah Rur, Bin, Bang, Was. Untuk Pemimpin Proyek harus mengetahui Ilmu jalan dan Trafic manajemen. Fokus utama menajemen integrasi adalah menciptakan rencana proyek dan rencana pelaksanaan proyek yang komprehensif, terpadu dan didesain dengan baik. Pengawasan proses kontrol perubahan, baik saat dikembangkan dalam rencana maupun saat dilaksanakan disepanjang jalannya proyek. Fokus utama Manajemen Cakupan adalah pemastian bahwa semua kerja yang sudah dimasukan dan tidak ada tambahan kerja yang tidak diperlukan.Inisiasi fase dan proyek formal, menyusun cakupan tertulis, persetujuan formal, kontrol perubahan cakupan. Fokus utama manajemen waktu adalah menentukan penyusunan atau struktur perincian kerja, menentukan hubungan ketergantungan diantara tugas tugas proyek, memperkirakan usaha dan durasi tugas, menyusun jadwal proyek, monitoring dan pembaharuan kemajuan proyek, membuat perubahan untuk estimasi dan jadwal. Focus manajemen procurrement adalah pengadaan, pengembangan pelaksanaan, monitoring kontrak dengan jasa vendor, memilih rekanan yang tepat, menyelesaikan kontrak setelah proyek selesai.

Fokus manajemen SDM adalah penentuan keahlian yang dibutuhkan untuk melekukan berbagai tugas, peran dan tanggung jawab, memilih kadidat potensial dsb. Focus manajemen waktu meliputi; Perencanaan mutu, Pemastian Mutu dan Kendali Mutu.
Perencanaan mutu seorang Manajer Proyek mendefinisikan apa apa yang akan mempresentasikan mutu dan bagaimana mutu tersebut diukur. Pemastian mutu meliputi bagaimana mengawasi seluruh mutu proyek untuk melihat apakah standarnya telah dipenuhi. Kendali mutu Manajer Proyek memeriksa output aktual untuk mengevaluasi kesesuaiannya dengan standar yang telah ditetapkan dalam rencana.

Manajemen biaya mencakup penentuan kategori biaya proyek, estimasi penggunaan masing masing sumber daya dalam masing masing katagori, penganggaran untuk biaya yang diperkirakan tersebut sebagaimana yang dituangkan dalam DIPA, dan kemudianmengontrol biaya saat proyek berjalan. Biaya proyek meliputi: Biaya tetap Biaya variabel

Manajemen risiko dimulai dengan mengidentifiasi risiko potensial untuk suatu proyek kemudian memperkirakan bagaimana kemungkinan masing masing risiko terjadi dan jika terjadi bagaimana risiko itu berpengaruh terhadap proyek. Semua risiko disusun dalam daftar kontingensi dan kemungkinan kemungkinan untuk menghadapi risiko tertinggi seperti:
v Banjir v Kecelakaan v Kebakaran v Kontraktor mundur v Macet

Saat proyek dilaksanakan seseorang dapat menggunakan kontingensi untuk mengontrol kembali proyek jika risiko itu benar benar terjadi.

Siklus Proyek/Kegiatan
Inisiasi Proyek

Peninjauan Proyek

Perencanaan Start Up

Konstruksi Pasca Implementasi Inisiasi Proyek 3 3

2 2

Perencanaan

Implementasi

Evaluasi

Perencanaan

Pengembangan

MEMULAI PROYEK
Mengkaji Fleksibilitas Proyek yang meliputi:
Teknis Finansial Operasional Geografis Waktu SDM Legal Politik

Menganalisa Cost/Benefit nya/EIRR. NPV. Mendapatkan otorisasi proyeknya seperti: SK Satker, PPK, DIPA

Memulai Perencanaan
Mendefinisikan tujuan proyek.
Menembus Daerah Terisolir Meningkatakan kapasitas jalan Memperkuat struktur perkerasan jalan Memelihara jalan

Menyusun sasaran proyek


Pekerjaan pelebaran harus selesai sebelum lebaran Pekerjaan harus selesai sebelum 15 Desember 2007

Menentukan ruang lingkup/cakupan, pengecualian Proyek


Ruang lingkup proyek meliputi:
Panjang jalan Lebar pengadaan lahan Lebar perkerasan Jumlah Jembatan Tebal Perkerasan Dll

Pengecualian

Mendefinisikan Input,output, Outcome, Impact proyek


NILAI INPUT

INPUT

PROSES

OUTPUT

OUTCOME

TUJUAN

EKONOMIS HEMAT

EFISIENSI (BERDAYA GUNA)

EFEKTIVE BERHASIL GUNA.

Cost Effectiveness

Input : Besaran biaya, SDM, Alat, dll Output : Jalan dengan panjang, jalan dengan panjang Outcome: BOK, EIRR, NPV dll Tujuan : memakmurkan masyarakat

Mendefinisikan batasan batasan/asumsi


Pertumbuhan lalu lintas Angka keamanan konstruksi Angka keamanan timbunan Dll

Mendefinisikan pendekatan Menentukan Sumber daya yang diperlukan Daftar dan Evaluasi Stakeholder
Pengguna Jalan Masyarakat pemanfaat jalan Instansi Vertikal Instansi Horisontal Pihak Pihak Yang terkait

Menentukan faktor faktor kebehasilan yang penting

Mengembangkan Rencana Pengendalian Proyek:


Memahami rencana Pengendalian proyek Mengembangkan Rencana Komunikasi dengan Stakeholder
Mempelajari jenis jenis laporan tertulis dan lesan Pengumuman Media masa Dll

Mengembangkan Rencana Kontrol Perubahan Mengembangkan Rencana manajemen Mutu Menyusun Rencana Pengadaan
Menentukan metode pengadaan Menentkan Kriteria pengadaan Menjelaskan standar dan Prosedur Kontrak

Mengembangkan Rencana penyelesaian Proyek

Menyusun Struktur Perincian Proyek:


q Memahami struktur Perincian Proyek (Work Breakdown Structure)
t Pembangian total pekerjaan menjadi unit unit yang dapat dikelola
Tahapan/Fase Langkah langkah/aktivitas Tugas

t Tujuannya : Untuk mengorganisasi proyek menjadi perbagai level pelaporan ringkas


Bangunan bawah; Bangunan Atas, Bangunan Pendekat dll

t Menentukan pendekatan WBS


Bersadarkan fase ; Desaian, Pelaksanaan, Penyelesaian Berdasarkan hasil ; Pekerjaan yang telah dihasilkan Berdasarkan Peran atau keahlian

q Menentukan Level Pemeriksaan q Menyusun detail WBS

Membentu Tim Proyek

Meninjau SDM yang diperlukan Mempertimbangkan ketersediaan SDM Menyusun rencana Organisasi Mempertimbangkan Gaya (Style) SDM
Memahami metode Carl Jung Memahami metode Myers Briggs Memahami metode Johari Window Memahami Whole Brain

Rencana untuk memperoleh SDM yang tepat

STRUKTUR ORGANISASI
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

SEKRETARIAT DIT JEN BINA MARGA

DIREKTORAT BINA TEKNIK

DIREKTORAT BINA PROGRAM

DIREKTORAT JALAN BEBAS HAMBATAN DAN JALAN KOTA

DIREKTORAT JALAN DAN JEMBATAN WILAYAH BARAT

DIREKTORAT JALAN DAN JEMBATAN WILAYAH TIMUR

BALAI PELAKSANAAN JALAN NASIONAL

BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL

SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

SNVT SNVT SNVT

SNVT SNVT SNVT

STRUKTUR ORGANISASI BALAI BESAR IV JAKARTA


Kepala Balai

Jafung

Kabag TU

Kasubag Keuangan

Kabid Ren Was

Kabid Pelaksanaan

Kabid SMM

Kasubag Adm Tek

Kasubag Umum dan Peg Kasi Peralatan

Kabid Perl dan Pengujian

Kasi Dal Sistem

Kasi Perencanaan

Kasi Pembangunan

Kasi Pemeliharaan

Kasi Pengawasan

Kasi Pengujian

Kasi Dal Dok

1. 2. 3. 4. 5.

SNVT P2JJ Jabar SNVT P2JJ Banten. SNVT Pembangunan Jabar. SNVT Rehabilitasi dan Pemeliharaan Jabar. SNVT Pembangunan Banten

SNVT

Kasubag Adm Tek


Kabag TU Penguji SPM STRUKTUR ORGANISASI SATUAN KERJA TETAP / BALAI BESAR

UAKPB

Kasubag Keu Petugas UAKPA


PETUGAS VERIFIKASI UAKPB

PETUGAS ADMINISTRA SI UAKPB

KA SATKER BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN IV

Kasubag Umum & Peg Petugas UAKPB


SNVT SNVT
UAKPA
KABID RENWAS Pembuat Komitmen

PENGGUNA ANGGARAN MENTERI PU ATASAN KA. SATKER DITJEN BINA MARGA

PETUGAS KOMPUTER UAKPA PETUGAS VERIFIKASI UAKPA

Petugas Juru Bayar


BENDAHARA PENGELUARAN

Petugas Pemb. Daftar Gaji Petugas Verifikasi Verifikasiembangunan Petugas SPP/PSPJ/UP Petugas Pembukuan

Petugas Penerbit dan Penyampaian SPP

Petugas Penguji SPP Petugas Adm SPP

STRUKTUR ORGANISASI SATUAN KERJA NON VERTIKAL TERTENTU/ SATUAN KERJA SEMENTARA ATASAN KA. SATKER DITJEN BINA MARGA ATASAN LANGSUNG SNVT/SKS

KA SNVT/SKS

ASISTEN UMUM

ASISTEN TEKNIS

SISTEN PELAKSANA

SISTEN PELAKSANA SWAKELOLA &PERALATAN

PEJABAT YG MELAKUKAN TINDAKAN MENGAKIBATKAN PENGELUARAN ANGGARAN BELANJA/PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN

KEPALA URUSAN TATA USAHA

PELAKSANA/ PENGAWAS

BENDAHARA PENGELUARAN

UAKPA

UAKPB

PETUGAS PEMBUKUAN

PETUGAS SPP/SPJ/UP

PETUGAS VERIVFIKASI

PETUGAS ADMINISTRA SI UAKPB

PETUGAS VERIFIKASI UAKPA

PETUGAS VERIFIKASI UAKPB

PETUGAS KOMPUTER UAKPA

Organisasi Pengawas Supervisi


Pejabat Pembuat Komitmen Selaku Direksi Pekerjaan

Site Engineer Cs

General Superintendent Pejabat Pembuat Komitmen Selaku Direksi Pekerjaan Site Engineer Cs General Superintendent

Memahami metode Carl Jung o Intuitor -> Imajinatif dan idealistik


o Mereka berpikir tentang masa depan dan isue isue global, juga sering memikirkan kekurangan dimasa kini

o Thinker -> Berpikiran realistis dan terstruktur


o Mereka suka pekerjaan yang mendetail dan keputusan yang memerlukan logika dan penyusunan facta secara rapi.

o Feeler -> Emosional, spontan


o Mereka suka mengenang masa lalu dan sangat setia kepada kawannya, keluarganya, dan pekerjaannya

o Sensor -> Agresif dan Kompetitif


o Mereka ingin sukses dan cenderung melupakan segala sesuatu yang tidak langsung berhubungan dengan kesuksesan .

Metode Penggolongan Myers Briggs


Preferensi Energizing Definisi Tipe aktivitas apa yg membuat anda bersemangat Opsi Introvert Ekstravert Attending Tipe hal apa yang anda perhatikan Sensor Intuitor Deciding Jenis informasi apa yang menjadi dasar keputusan anda Jenis kehidupan apa yang anda jalani Thinker Feeler Judgement Perception Karakter Mendapatkan semangan dari diri sendiri dan pemikiran sendiri Mendapatkan semangat dari orang dan pemikiran lain Mendapatkan informasi dengan menggunakan panca indra Mendapatkan informasi dengan membayangkan dan menafsirkan Membuat keputusan logis dan objective Membuat keputusan subyektif dan berdasarkan nilai Menjalani hidup terencana dan teratur Menjalani hidup spontan dan tak terstruktur

Leving

Memahami Gaya Komunikasi Metode Johari Window (Joseph Luft dan Harrington)
Open (terbuka) saya tahu anda tahu Hidden (tersembunyi) saya tidak tahu anda tahu Unknown (tertutup) saya tahu anda tidak tahu Blind (Buta) saya tidak tahu anda tidak tahu

Memahami Metode Whole Brain (kuadran Otak Dominan)


Kuadran Otak Kiri (Fact/A) adalah factual dan logis Kuadran Otak kanan (Future /B) adalah visual dan konsepsional Sistem Limbic kiri (Form /C) adalah teroganisir dan prsedural) Sistem limbic kanan (Feelings/D) adalah emosional dan berorientasi relasional

PERILAKU PEGAWAI YANG TERJADI DIPANTURA Ragu ragu


Dalam membuat keputusan selalu ragu ragu tidak mau bertanggung jawab (tidak pernah membuat keputusan atau keputusanya tidak membuat keputusan).

Hati hati
Dalam membuat keputusan selalu hati hati /dalam membuat keputusan memerlukan waktu yang cukup lama.

Berani
Cepat dalam membuat keputusan dan secara logika masih dalam batas batas yang wajar.

Nekad
Cepat dalam membuat keputusan dan secara logika masih dalam batas batas yang hampir tidak wajar dan penuh resiko.

Ngawur
Dalam membuat keputusan cepat dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Menyusun Estimasi Proyek


Memahami estimasi : Estimasi adalah memperkirakan seperti:
Berapa lama proyek akan selesai Berapa besar material, peralatan, dan tenaga kerja serta biaya yang diperlukan Berapa besar biaya pasti dan biaya variable Dst

Menyusun estimasi tugas Menggunakan teknik estimasi Situasi Khusus.


Estimasi dalam Metode Penjadwalan Program Evaluation and Review Technique (PERT) yang dalam hal ini dengan kemungkinan besar, optimistik, pesimistik. Teknik Delphi

Menyusun estimasi biaya. Menyusun Jadwal

Menyusun Diagram Jaringan Kerja


Setelah kita menyusun WBS, menetapkan sumber daya proyek, dan memperkirakan waktu dan biaya maka langkah selanjunya adalam menyusun Jadwal Proyek. Memahami hubungan Tugas
Proyek adalah serangkaian aktivitas /tugas yang saling terkait dan saling ketergantungan satu dengan yang lain. Hubungan ini disebut sebagai ketergantungan lintas tugas Ada empat tipe ketergantungan lintas proyek
Finish Start Start Start Finish Finish Start - Finish

Menentukan hubungan lintasan. Menyusun diagram PERT Menyusun Diagram Metode Jalur Kritis (CPM).

MENETAPKAN JADWAL PROYEK


Memahami Jadwal Proyek
Karena faktor tepat waktu adalah salah satu faktor keberhaslan proyek maka membuat jadwal yang akuran adalah hal yang sangat penting untuk pengukuran keberhasilan.

Menghitung durasi tugas Menentukan jadwal berdasarkan tanggal Mengaplikasikan penyesuaian jadwal Mengevaluasi batasan Waktu Proyek seperti;
Harus selesai pada tanggal Selesai paling cepat tanggal Selesai paling lambat tanggal Harus dimulai tanggal Dimulai paling cepat tanggal Dimulai paling lambat tanggal

Melakukan Forward Pass Melakukan Backward Pass Menentukan jalur kritis. Menyusun Diagram Gant dari berbagai sumber daya seperti
Jadwal Pekerjaan Jadwal Pembelian Jadwal mobilisasi peralatan Jadwal mobilisasi tenaga kerja Dll

Menghadapi Resiko Proyek

Dua katagori Resiko :


Resiko portofolio
Resiko yang berhubungan dengan evaluasi peluang keberhasilan suatu proyek berdasarkan berbagai macam faktor seperti hasilnya tidak optimal, bencana alam, termasuk bagaimana proyek sesuai dengan proyek lainnya yang sedang berjalan

Resiko Proyek
Ada empat resiko umum yang ada dihampir setiap jenis proyek, dan termasuk dalam ketagori batasan teknis, finansial, SDM, dan politi;
Teknologi tidak tersedia(tidak jalan seperti yang diharapkan) Anggara akan dikurangi Anggota kunci dari tim akan meninggalkan proyek Sponsor proyek akan meninggalkan.

Mengevaluasi resiko portofolio


Apa yang mungkin terjadi pada organisasi jika proyek selesai? Apa yang mungkin terjadi jika proyek tidak selesai? Apa rintangan terhadap penyelesaian keberhasilan proyek?
FAKTOR FAKOR RESIKO

Faktor ukuran proyek Faktor stabilitas Faktor pengalaman Faktor prioritas

Teknik Mengelola Resiko


Penghindaran Resiko (Risk Avoidance)
Jalan dibuat melewati daerah yang banjir setahun sekali maka untuk menghindari diperlukan peninggian atau jembatan

Penanggulangan atau Penahanan Resiko (Risk Retention)


Menahan pembayaran 10% sampai selesai proyek /PHO Dana cadangan Self insurance dan capital insurers

Pengalian Resiko (Risk Transfer)


Asuransi Hedging Incorporated Tekniklainnya

Pengendalian Resko
Teori Domino (Heinrich,1959)

Ada lima tahap yang merupakan rangkaian kecelakaan, yaitu: 1. Lingkungan sosial dan faktor bawaan yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu(misal gampang marah) 2. Personil fault (kesalahan individu), dimana individu tersebut tidak mempunyai respon yang tepat (benar) dalam situasi tertentu) 3. Unsafe act or physical hazard (tindakan yang berbahaya atau kondisi fisik yang berbahaya) 4. Kecelakaan 5. Cendera

Rantai Resiko (Risk Chain)


Menurut Mekhofer, 1987, resiko yang muncul bisa dipecah kedalam beberapa komponen:
Hazard (kondisi yang mendorong terjadinya resiko) Lingkungan dimana hazard tersebut berada Interaksi antara hazard dengan lingkungan Hasil dari interaksi Konsekuensi dari hasil tersebut.

Fokus dan Timimg Pengendalian Resiko


Fokus pengendalian resiko Timing Pengendalian resiko.

Melaksanakan Proyek
Memperoleh mandat/otoitas dengan menapat Surat Keputusan Pengangkatan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/ PPK/Penguji SPM, Penugasan dari Pejabat yang berwenang Mendapatkan DIPA Meninjau Rencana Proyek.
Meninjau output Poyek Meninjau SDM yang diperlukan dan yang ada Meninjau WBS Meninjau Estimasi Proyek Meninjau Jadwal Proyek

Menetapkan basis Proyek Menyusus Tim Proyek Menyusun Paket Kerja Mengadakan rapat Awal

Menggunakan Rencana Procurement Memonitor Kerja Mengembangkan Tim Menggunakan Rencana Komunikasi Menggunakan Rencana Kontrol Perubahan Menggunakan Rencana Manajemen Mutu Menggunakan Rencana Manajemen Resiko Meninjau dan Memperbarui Rencana Penyelesaian. Menghimpun Tanggal Tugas Memonitor milestone (Patokan) Mengumpulkan lama kerja aktual Meninjau dan mengubah persyaratan Meninjau dan mengubah WBS Meninjau dan Mengubah Hasil Meninjau dan Mengubah Jadwal

Pengendalian
Evaluasi
Memeriksa Biaya Proyek Mengitung biaya kerja yang dlakukan Memahami Nilai Yang diperoleh Menghitung Biaya Kerja Yang Tersisa Membandingkan Basis dengan Persyaratan Yang Sudah terpenuhi Membandingkan Basis dengan Hasil Actual Membandingkan Estimasi Hasil Dngan Hasil Aktual Membandingkan Estimasi basis dengan Estimmasi Saat Ini Membandingkan Jadwal Basis dengan Saat ini Meninjau dan Mengubah Hubungan Dependensi Meninjau dan Mengubah Estimasi Meninjau dan Mengubah SDM Renegosiasi Waku, Biaya dan Cakupan

Mengembalikan Proyek Ke jalur Yang Benar

Pelaporan Kinerja Proyek


Menyusun Laporan Status Menyusun presentasi

Menutup Proyek
Mengikuti Rencana Penyelesaian Mendapatkan Persetujuan Penyelesaian Proyek Melakukan Survey Proyek PHO/FHO Melakukan Sesi Memetik Pelajaran Menulis Laporan Ringkasan Proyek Meninjau Pelajaran Yang Telah Diperoleh Untuk Melihat Tren Ke Depan Menyesuaikan Proyek Masa Depan

PENGENALAN SMM

VISI DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA 2005-2009 Terwujudnya Sistem jaringan Jalan Yang Berkesinambungan dan Terpadu Berbasis Wilayah Nasional Terwujudnya Sistem Penyelenggaraan Jaringan Jalan yang Handal, Bermanfaat dan Berkelanjutan untuk Mendukung Tercapainya Indonesia yang Aman dan Damai, Adil dan Demokratis serta Lebih Sejahtera

VISI DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA 2025

Tersedianya jaringan jalan yang handal

MISI
1. Memenuhi kebutuhan infrastruktur jalan untuk mendukung pengembangan wilayah dan kelancaran distribusi barang dan jasa. 2. Mendorong berkembangnya industri konstruksi yang kompetitif. 3. Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur jalan. 4. Mengembangkan teknologi yang tepat guna dan kompetitif serta meningkatkan keandalan mutu infrastruktur jalan. 5. Menerapkan organisasi yang efisien, tata laksana yang efektif dan terpadu dengan prinsip good governance serta mengembangkan SDM yang profesional.

PERSYARATAN PRODUK YANG HANDAL


Jaringan Jalan Yang Handal /Sistem Penyelenggaraan Jaringan Jalan yang Handal merupakan titik focus /visi atau tujuan dari Bina Marga, Jalan Yang Handal atau Sistem Penyelenggaraan Jaringan Jalan yang Handal tidak mungkin dicapai tanpa mutu dalam proses. Mutu dalam proses tidak mungkin dicapai tanpa Organisasi yang tepat, organisasi yang tepat tidak ada artinya tanpa kepempinan yang memadai. Komitmen yang kuat dari bawah (mandor) keatas (pimpinan organisasi/Dirjen) merupakan pendukung dan pengikat dari empat Pilar yang terdiri dari ;Jalan yang kuat, mutu dalam proses, organisasi yang tepat, dan kepemimpinan yang memadai. Salah satu saja yang lemah maka jangan mengarapkan mendapatkan Jaringan Jalan /Sistem Jaringan Jalan yang handal.

PROSES YANG BERMUTU


Proses yang bermutu adalah proses mulai dari Kebijakan, Survei, Investigasi, Desain, Pengadaan Lahan, Pelaksaan/Construction, Operasi dan Pemeliharaan , harus tergambarkan dalam SOP dan Instruksi Kerja yang transparan, dan efektif. Dari SOP dan Instruksi Kerja ini sudah dapat dilihat apakah produk /jalan handal atau tidak. Standar Operasional Prosesdur (SOP) berisikan petunjuk pelaksanaan dari rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan kegitan penyelenggaraan jalan (operation line) dilingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga yang minimal mencakup:
Workflow Chart ; yang menggambarkan jalur proses suatu pekerjaan atau proses suatu produksi yang terdiri dari berbagai langkah (step) kerja yang dikerjakan seorang petugas/Team/operator. Job Description; yang menjelasakan langkah kerja yang harus dikerjakan oleh setiap petugas/operator yang bersangkutan. Component; yang menjelaskan cara kerja setiap langkah yang sudah distandarisasi berupa komponen kerja. Object Material , barang, uang, dokumen yang harus dikelola.

Konsep Organisasi Yang Tepat


Organisasi yang tepat adalah Organisasi stream line (tidak ada ziq zaq), terdesentralisasi/ empowerment ke garis Depan Pada konsep pendelegasian suatu tugas diberikan kepada organisasi/ bawahannya atau anak buahnya namun keadaan yang perlu dipertanggung jawabkan dari tugas tersebut tetap ada pada dirinya Empowerment /desentralisasi, para manajer melepaskan tanggung jawabnya, dari wewenang dan keadaan yang harus dipertanggung jawabkan secara fisik. Manajer/ pimpinan menjadi pelatih dan fasilitator, bukan pengawas yang mengontrol orang orang dengan tali kekang yang pendek. Individu yang digaris depan memutuskan apa yang perlu dikerjakan sesuai dengan parameter dan prinsip yang telah disepakai. Individu yang digaris depan menghadapi keadaan yang harus dipertanggung jawabkan Pimpinan bertindak sebagai pelatih Informasi mengalir bebas Individu bersikap proaktif Cenderung bersifat keluar dan fleksible Desentralisasi/empowerment ke Balai/SKPD bukan berarti membiarkan orang orang memakai caranya sendiri tanpa rasa tanggung jawab atau tanpa dibatasi oleh standar dan prinsip yang telah disepakati. Organisasi/pegawai yang digaris depan beroperasi secara mandiri , tetapi tetap bersandar pada nilai nilai dan pedoman yang telah disepakati

SISTEM MANAJEMEN MUTU


Apa yang dimaksud dengan Mutu
Mutu ; Sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari karakteristik, derajat, atau nilai nilai dari suatu keunggulan ( American Heritage Dictionary, 1996) Mutu ; adalah totalitas karakteristik dari berbagai entitas yang memberikan segenap kemampuannya pada nlai nilai kebutuhan serta nilai nilai kepuasan (ISO 8402). Mutu; adalah mengerjakan dengan cara yang benar, dan setiap saat berpikir dengan cara yang benar (Motorola, DFSS,2003)

Dimensi mutu
Performance Features Conformance Reliability (Konsistensi kinerja) Durability Service Renponse Aesthetics Reputation

PERKEMBANGAN METODE MUTU


Statistical Process Control (SPC)
Spc adalah sebuah aplikasi teknik statistik yang berfungsi sebagai pengendalian proses (Walter A Shewhart 1924 dari Bell Telephone Laboratories)------- Statistical quality control Dikembangkan oleh Harold F.Dodge dan Harry D Romig (1940) dengan memperkenalkan tabel; single sampling lot tolerance; double sampling lot telerance; single sampling average out going quality limit; double sampling average out going quality limit DOE adalah sebuah perangkat kualitas (metode statika generik) yang sangat penting digunakan didalam inisiatif six sigma. Dikembangkan oleh Sir Ronald Fisher dari Universitas London. Ketujuh perangkat kerja adalah diagram cause-and effect, check sheet, diagram kontrol, flow chart, histogram, diagram Pareto, dan diagram scatter yang dikembangkan oleh Kaoru Ishikawa.

Acceptance Sampling (1940)

Design of Experiment (DOE) 1930

Seven Tol of Quality

q Shanin Method (Dorian Shanin Un Chicago)


q q Statistical engineering Dr W Edwards Deming, Josep J Juran, Kaoru Ishikawa

q Total Quality Management (1960) q Error Proofing (poka-yake) 1960

STANDARISASI
Meliputi kegiatan membuat standar, menerbitkan standar, penerapan, pengujian, inspeksi, audit dan sertifikasi. Tingkatan Standar:
Internasional :ISO Regional : Peraturan di Uni Eropa Nasional : SNI,JIS,BS, DIN, Perusahaan :

Sejarah Perkembangan Standar Mutu


Mil Q-9858 Mil -1-45208 AQAP1,4,9 BS 5650 1979 ISO 1987 ISO 1994 BS 4891 BS 5179

SNI

ISO 2000

SNI-199001 2001

ISO
International Organization for Standardization Technical Committee (TC) 176 bertanggung jawab untuk pembuatan standar sistem manajemen mutu(SMM) 1987 ; Penerbitan ISIO 9000 1994 ; Revisi Pertama 1994 Revisi kedua, berfocus pada kepuasan pelanggan dan pendekatan proses

Perkembangan ISO 9001 ISO 9001:1997 Quality Assuance ISO 9001 : 1994 Quality System Quality Assurance ISO 9001: 2000 -> Quality Assurance & Customer Satisfaction

DEFINISI
ISO 9001: 2000 adalah suatu standar internasional untuk sistem manajemen mutu (SMM) S M M a d a l a h s i s t e m m e n a j e m e n u n t u k mengarahkan Badan Usaha Jasa Konsultasi dalam hal mutu Suatu Sistem Manajemen Mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek praktek standar untuk manajemen sistem yang menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang/jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu, yang ditentukan oleh pelanggan dan organisasi

ISO 9000 VERSI 2000


Mencakup beberapa seri: ISO 9000:2000; Quality Management System (QMS) Fundamental and Vocabulary ISO 9001:2000; QMS Requirements ISO 9004 :2000, QMS-Guidance for performance improvement ISO 19011 ; Guidance for auditing management system

PRINSIP DASAR ISO 9001:2000 Pendekatan Proses Pendekatan Sistem Prinsip PDCA Perbaikan yang berkesinambungan

Model Sistem Manajemen Mutu berdasarkan proses

Ada 5 bagian utama:


Sistem Manajemen Mutu Tanggung jawab manajemen Manajemen Sumber daya manusia Realisasi Produk Analisis, pengukuran dan perbaikan

PRINSIP PRINSIP MANAJEMEN MUTU DALAM ISO 9000:2000 SNI 19 -9001-2001 Kepmen :362/KPTS/M/2004

PRINSIP 1 Orientasi pada pelanggan/pengguna produk


Organisasi tergantung pada pelanggan /pengguna produk mereka. Karena itu, manajemen organisasi harus memahami kebutuhan pelanggan /pengguna produk sekarang dan akan datang, harus memenuhi kebutuhan pengguna produk dan giat berusaha melebihi ekspektasi pengguna produk.
Manfaat-manfaat pokok apabila organisasi menerapkan prinsip fokus pengguna produk ini, adalah : Meningkatkan penerimaan dan pangsa pasar, yang diperoleh melalui tanggapan-tanggapan yang cepat dan fleksibel terhadap kesempatan pasar. Meningkatkan efektivitas penggunaan sumber-sumber daya organisasi menuju peningkatan kepuasan pengguna produk. Meningkatkan loyalitas pelanggan yang akan memimpin pada percepatan perkembangan bisnis melalui pengulangan transaksitransaksi.
Pelaporan Kinerja Proyek Menyusun Laporan Status Menyusun presentasi

Penerapan prinsip fokus pelanggan akan membawa organisasi menuju Pencarian kembali dan pemaahaman kebutuhan serta ekspektasi pelanggan/pengguna produk . Jaminan bahwa tujuan-tujuan organisasi terkait langsung dengan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan/pengguna produk. Penciptaan komunikasi tentang kebutuhan dan ekspektasi pelanggan/ pengguna produk ke seluruh anggota organisasi. Pengukuran kepuasan pelanggan /pengguna produk dan tindakan-tindakan pada hasil-hasil. Pengelolaan sistematik berkaitan dengan hubungan pelanggan/pengguna produk. Jaminan suatu pendekatan berimbang antara memuaskan pelanggan/pengguna produk dan pihakpihak lain yang berkepentingan

PRINSIP 2 KEPEMIMPINAN Pemimpin organisasi menetapkan kesatuan tujuan dan arah dari organisasi. Mereka harus menciptakan dan memelihara lingkungan internal agar orang-orang dapat menjadi terlibat secara penuh dalam mencapai tujuantujuan organisasi. Manfaat-manfaat pokok apabila organisasi menerapkan prinsip kepemimpinan ini, adalah: Orang-orang akan memahami dan termotivasi menuju saran dan tujuan organisasi. Aktivitas-aktivitas akan dievaluasi, disesuaikan dan diterapkan dalam satu kesatuan cara. Meminimumkan kesalahan komunikasi di antara tingkattingkat dalam organisasi.

Penerapan prinsip kepemimpinan akan membawa organisasi menuju : P e r t i m b a n g a n k e b u t u h a n d a r i s e m u a p i h a k y a n g berkepentingan (stakcholders), termasuk pelanggan, Penetapan suatu visi yang jelas dari organisasi untuk masa mendatang. Penetapan sasaran dan target yang menantang. Penciptaan dan pemeliharaan nilai-nilai bersama, keadilan dan etika, pada semua tingkat dalam organisasi. Penciptaan kepercayaan dan menghilangkan ketakutan. Penyiapan orang-orang dengan sumber-sumber daya yang diperlukan, pelatihan dan kebebasan bertindak dengan tanggung jawab dan akuntabilitas. Penciptaan inspirasi, mendukung dan menghargai kontribusi orang-orang dalam organisasi.

PRINSIP 3 KETERLIBATAN ORANG ORANG


Orang pada semua tingkat merupakan faktor yang sangat penting dari suatu organisasi dan keterlibatan mereka secara penuh akan memungkinkan kemampuan mereka digunakan untuk manfaat organisasi Manfaat-manfaat pokok apabila organisasi menerapkan prinsip keterlibatan orang ini, adalah: Orang-orang dalam organisasi menjadi termotivasi, memberikan komitmen dan terlibat. Menumbuhkembangkan inovasi dan kreativitas dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Orang-orang menjadi bertanggung jawab terhadap kinerja mereka. Orang-orang menjadi giat berpartisipasi dalam peningkatan terus menerus.

Penerapan prinsip keterlibatan orang akan membawa organisasi menuju: Orang-orang akan memenuhi tentang pentingnya kontribusi dan peranan mereka dalam organisasi. Orang-orang akan mampu mengidentifikasi kendalakendala yang menghambat kinerja mereka. Orang-orang akan bertanggung jawab terhadap masalah yang dihadapi beserta solusi terhadap masalah itu. Orang-orang akan mampu mengevaluasi kinerja mereka dibandingkan terhadap sasaran dan tujuan pribadi. Orang-orang akan secara aktif mencari kesempatankesempatan untu meningkatkan kompetensi, pengetahuan dan pengalaman mereka. Orang-orang akan secara bebas menyumbangkan pengetahuan dan pengalaman mereka. Orang-orang akan secara terbuka mendiskusikan masalah-masalah dan isu-isu yang berkembang.

PRINSIP KE 4 PENDEKATAN PROSES Suatu hasil yang diinginkan akan tercapai secara lebih efesien, apabila aktivitas dan sumber-sumber daya yang berkaitan dikelola sebagai suatu proses. Suatu proses dapat didefinisikan sebagai integrasi sekuensial dari orang, material, metode, mesin, dan peralatan, dalam suatu lingkungan guna menghasilkan nilai tambah output bagi pelanggan/ pengguna produk. Suatu proses menkonversikan input terukur ke dalam output terstruktur melalui sejumlah langkah sekuensial yang terorganisasi.

Manfaat-manfaat pokok apabila organisasi menerapkan prinsip pendekatan proses ini, adalah: Biaya menjadi lebih rendah dan waktu siklus (cycle times) menjadi lebih pendek, melalui efektivitas penggunaan sumber-sumber daya. Hasil-hasil menjadi meningkat, konsisten dan dapat diperkirakan (predictable). Kesempatan peningkatan menjadi prioritas dan terfokus.

Penerapan prinsip pendekatan PROSES terhadap manajemen akan membawa organisasi menuju: Pendefinisian secara sistematik dari aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan. Penetapan tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas untuk mengelola aktivitas-aktivitas pokok. Kemampuan menganalisis dan mengukur kapabilitas dari aktivitas-aktivitas pokok. Pengidentifikasian keterkaitan dari aktivitas-aktivitas pokok dalam dan diantara fungsi-fungsi organisasi. Kemampuan memfokuskan faktor-faktor seperti sumber-sumber daya, metode-metode, dan material, yang akan meningkatkan aktivitas-aktivitas pokok dari organisasi. Kemampuan mengevaluasi risiko, konsekuensi dan dampak, dari aktivitas-aktivitas pokok pada pelanggan, pemasok, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

PRINSIP KE 5 PENDEKATAN SISTEM THD MANAJEMEN. Pengidentifikasian, pemahaman dan pengelolaan, dari proses-proses yang saling berkaitan sebagai suatu sistem, akan memberikan kontribusi pada efektivitas dan efesiensi organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya Manfaat-manfaat pokok apabila organisasi menerapkan prinsip pendekatan sistem terhadap manajemen ini, adalah: Integrasi dan kesesuaian dari proses-proses yang akan paling baik mencapai hasil-hasil yang diinginkan. Kemampuan memfokuskan usaha-usaha pada prosesproses kunci. Memberikan kepercayaan kepada pihak yang berkepentingan terhadap konsistensi, efektivitas dan efesiensi dari organisasi.

Penerapan prinsip pendekatan sistem terhadap manajemen akan membawa organisasi menuju: Strukturisasi suatu sistem untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan cara yang paling efektif dan efesien. Pemahaman kesalingtergantungan di antara proses-proses dari sistem. Pendekatan struktur yang mengharmonisasikan dan mengintegrasikan proses-proses. Pemahaman yang lebih baik tentang peranan dan tanggung jawab yang diperlukan untuk mencapai tujuantujuan bersama dan oleh karena itu akan mengurangi hambatan-hambatan antar-fungsi dalam organisasi. Pemahaman kemampuan organisasi dan penetapan kendala-kendla dari sumber-sumber daya sebelum bertindak. Kemampuan menentukan target dan mendefinisikan bagaimana aktivitas-aktivitas spesifik dalam sistem harus beroperasi. P e n i n g k a t a n t e r u s - m e n e r u s d a r i s i s t e m m e l a l u i pengukuran dan evaluasi.

PRINSIP KE 6 PENINGKATAN SECARA TERUS MENERUS

Peningkatan terus-menerus dari kinerja organisasi secara keseluruhan harus menjadi tujuan tetap dari organisasi. Peningkatan terus-menerus didefinisikan sebagai suatu proses yang berfokus pada upaya terusmenerus meningkatkan efektivitas dan/atau efesiensi organisasi untuk memenuhi kebijakan dn tujuan dari organisasi itu. Peningkatan terusmen eru s membu tu h kan lan g kah - lan g kah ko n so lid asi yan g p ro g resif , men an g g ap i perkembangan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan/pengguna produk, dan akan menjamin suatu evolusi dinamik dari sistem manajeman mutu.

Manfaat-manfaat pokok apabila organisasi menerapkan prinsip peningkatan terus-menerus ini, adalah:

Meningkatkan keunggulan kinerja melalui peningkatan kemampuan organisasi. K e s e s u a i a n d a r i a k t i v i t a s - a k t i v i t a s peningkatan pada semua tingkat terhadap tujuan strategik organisasi. Fleksibilitas bereaksi secara tepat terhadap kesempatan-kesempatan yang ada.

Penerapan prinsip peningkatan terus menerus akan membawa organisasi menuju :


P e n g g u n a a n p e n d e k a t a n l i n g k u p - o r g a n i s a s i (organization-wideapproach) yang konsisten terhadap peningkatan terus-menerus dari kinerja organisasi. Pemberian pelatihan kepada orang-orang tentang metode dan alat-alat peningkatan terus-menerus. Menjadikan peningkatan terus-menerus dari produk, proses-proses dan sistem, merupakan tujuan utama dari setiap individu dalam organisasi. Penetapan sasaran, ukuran-ukuran, yang terkait dengan peningkatan terus-menerus. Pengakuan dan penghargaan terhadap peningkatanpeningkatan.

PRINSIP KE 7 PENDEKATAN FAKTUAL DALAM PEMBUAT KEPUTUSAN. Keputusan yang efektif adalah yang berdasarkan pada analisis data dan informasi untuk menghilangkan akar penyebab masalah, sehingga masalah- masalah mutu dapat terselesaikan seceara efektif dan efesien. Keputusan manajemen organisasi, seyogianya ditujukan untuk meningkatkan kinerja organisasi dan efektivitas impolementasi sistem manajemen kualitas.
Manfaat-manfaat pokok apabila organisasi menerapkan prinsip pendekatan faktual dalam pembuatan keputusan ini, adalah:
Keputusan-keputusan berdasarkan informasi yang akurat. Meningkatkan kemampuan untuk menunjukkan efektivitas dari keputusan melalui referensi terhadap catatan-catatan faktual. Meningkatkan kemampuan untuk meninjau-ulang sertamengubah opini dan keputusan-keputusan.

PRINSIP 8. HUBUNGAN PEMASOK YANG SALING MENGUNTUNGAN. Suatu organisasi dan pemasoknya adalah saling tergantung, dan suatu hubungan yang saling menguntungkan akan meningkatkan kemampuan bersama dalam menciptakan nilai tambah. Manfaat-manfaat pokok apabila organisasi menerapkan prinsip hubungan pemasok yang saling menguntungkan ini, adalah : Meningkatkan kemampuan untuk menciptakan nilai bagi kedua pihak. Meningkatkan fleksibilitas dan kecepatan bersama untuk menanggapi perubahan pasar atau kebutuhan dan ekspektasi pelanggan. Mengoptimumkan biaya dan penggunaan sumbersumber daya.

Penerapan prinsip hubungan pemasok /mitra kerja yang saling menguntungkan akan membawa organisasi menuju: Penerapan hubungan yang menyeimbangkan hasil-hasil jangka pendek dengan pertimbangan-pertimbangan jangka panjang. Pengumpulan data keahlian dan sumber-sumber daya dengan mitra kerja. Mengidentifikasi dan memilih pemasok-pemasok utama yang dapat diandalkan. Menciptakan komunikasi yang jelas dan terbuka Membagi informasi dan rencana-rencana mendatang. Menentukan pengembangan bersama dan aktivitasaktivitas peningkatan terus-menerus. Meningkatkan inspirasi, pengakuan dan penghargaan, terhadap peningkatan dan pencapaian oleh pemasok.

ISO 9001:2000
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Ruang Lingkup Referensi Normatif Istilah dan Definisi Sistem manajemen Mutu Tanggung Jawab manajemen Manajemen Sumber daya Realisasi produk Pengukuran, analis dan Perbaikan

MANFAAT PENERAPAN ISO 9001-2000: q Pengguna produk akan menerima produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan, tersedia apabila dibutuhkan, dan dapat diandalkan dalam pemanfaatannya. q Orang-orang dalam organisasi akan memperoleh manfaat melalui peningkatan: kondisi kerja, kepuasan kerja, kesehatan dan keselamatan kerja, semangat kerja, dan jaminan kestabilan dalam bekerja. q Pemilik dan investor akan memperoleh manfaat melalui peningkatan : Return on investent (ROI), hasil-hasil operasional, pangsa pasar, dan keuntungan. q mitra kerja akan memperoleh manfaat melalui peningkatan : kestabilan, pertumbuhan kemitraan dan pemahaman bersama. q Masyarakat akan memperoleh manfaat melalui: pemenuhan persyaratan-persyaratan hukum dan peraturan, peningkatan kesehatan dan keselamatan, penurunan dampak lingkungan, peningkatan keamanan

SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2000 Merupakan Penerapan dari: Perancanaan Mutu Pengendalian Mutu Jaminan Mutu Perbaikan Mutu

LANGKAH LANGKAH PENERAPAN SMM 9001:2000 1. Komitmet Manajemen Puncak 2. Menunjuk Wakil Manajemen 3. Membentuk Tim ISO 9001:2000 4. Melakukan analisis kondisi awal 5. Tentukan ruang lingkup ISO yang akan diterapkan 6. Pelatihan pemahaman ISO bagi manajemen puncak 7. Pelatihan pembuatan dokumen sistem mutu 8. Membangun dokumen sistem mutu 9. Sosialisasi dan penerapan sistem mutu 10. Melakukan audit mutu internal 11. Melakukan perbaikan temuan hasil audit mutu internal 12. Melakukan rapat tinjauan manajemen 13. Sertifikasi

DIAGRAM ALIR PROSES IMPLEMENTASI SMM ISO Pelatihan SMM ISO 9001:2000 Dokumentasi Implementasi Audit Internal Aplikasi ke Lembaga Sertifikasi Audit External Sertifikasi

DOKUMEN SISTEM MANAJEMEN MUTU DEP PU Hirarki 1 (Pedoman Mutu).


Dokumen Sistem Manajemen Mutu (SMM) Departemen PU hirarki 1 merupakan Dokumen Sistem Manajemen Mutu tingkat Departemen Pekerjaan Umum berupa Pedoman Mutu yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 362/ KPTS/M/2004, Tentang Sistem Manajemen Mutu Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah yang isinya mencakup; 1. Kebijakan mutu konstruksi pimpinan Departemen Pekerjaan Umum, 2. Struktur organisasi yang berkaitan dengan penerapan sistem manajemen mutu konstruksi di lingkungan Departemen PU, 3. Ketentuan tentang pengembangan dan penerapan sistem manajemen mutu konstruksi pada tingkat Direktorat Jenderal dan Unit Pelaksana konstruksi di lingkungan Departemen PU, serta. 4. Batasan bagi penerapan sistem manajemen mutu konstruksi pada tingkat Direktorat Jenderal dan Unit Pelaksana konstruksi di lingkungan Departemen PU.

Hirarki 2
Manual Mutu, Prosedur Mutu, Petunjuk Pelaksanaan/Pedoman Pelaksanaan, dan Standar Instruksi Kerja merupakan Dokumen Sistem Manajemen Mutu (SMM) Departemen PU hirarki 2 atau tingkat Direktorat Jenderal Bina Marga. Manual Mutu. Manual Mutu merupakan dokumen yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga yang isinya menjelaskan kebijakan Direktorat Jenderal dalam memenuhi persayaratan sistem manajemen mutu ISO seri 9001 versi tahun 2000/ SNI 19-9001: 2001 yang garis besarnya terdiri dari:
Lingkup penerapan manajemen mutu konstruksi (apabila ada elemen sistem manajemen mutu SNI 19-9001:2001 yang tidak diterapkan, maka harus diidentifikasikan); Sasaran Mutu konstruksi pada Direktorat Jenderal Bina Marga; Struktur organisasi Direktorat Jenderal yang menerapkan sistem manajemen mutu konstruksi; Interaksi antar proses (beserta penjelasannya) dalam rangka penjaminan mutu konstruksi di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga; dan Persyaratan Rencana Mutu konstruksi secara umum yang dapat diterapkan pada setiap Unit Pelaksana (SNVT) yang berada di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Bina Marga. Dan lain lain yang dipandang perlu menurut Direktorat Jenderal Bina Marga.

Prosedur Mutu.
Prosedur mutu berisikan petunjuk pelaksanaan kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan penjaminan mutu konstruksi di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga, yang minimal mencakup: Workflow Chart ; yang menggambarkan jalur proses suatu pekerjaan atau proses suatu produksi yang terdiri dari berbagai langkah (step) kerja yang dikerjakan seorang petugas/Team/operator. Job Description; yang menjelasakan langkah kerja yang harus dikerjakan oleh setiap petugas/operator yang bersangkutan. Component; yang menjelaskan cara kerja setiap langkah yang sudah distandarisasi berupa komponen kerja. Object Material , barang, uang, dokumen yang harus dikelola. Pejabat yang membuat, memeriksa dan mengesahkan SOP; Riwayat perubahanSOP; Daftar distribusi SOP; Lingkup penerapan dari SOP; Referensi atau acuan yang digunakan dalam penyusunan SOP; Daftar lampiran berupa format Catatan Mutu/SOP yang merupakan pencatatan terhadap pelaksanaan kegiatan

Dalam rangka penerapan sistem manajemen mutu konstruksi yang mengacu kepada standar sistem manajemen mutu SNI 19-9001:2001, prosedur-prosedur mutu yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga yang berkaitan dengan system manajemen mutu minimal : Prosedur Audit Mutu Internal; Prosedur Pengendalian Dokumen dan Data; Prosedur Pengendalian Produk yang tidak Sesuai ; Prosedur Tindakan Perbaikan; dan Prosedur Tindakan Pencegahan.

Standar Operasional Prosedur (SOP).


Standar Operasional Prosesdur (SOP) berisikan petunjuk pelaksanaan dari rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan kegitan penyelenggaraan jalan (operation line) dilingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga yang minimal mencakup:
Workflow Chart ; yang menggambarkan jalur proses suatu pekerjaan atau proses suatu produksi yang terdiri dari berbagai langkah (step) kerja yang dikerjakan seorang petugas/Team/operator. Job Description; yang menjelasakan langkah kerja yang harus dikerjakan oleh setiap petugas/operator yang bersangkutan. Component; yang menjelaskan cara kerja setiap langkah yang sudah distandarisasi berupa komponen kerja. Object Material , barang, uang, dokumen yang harus dikelola. Pejabat yang membuat, memeriksa dan mengesahkan SOP; Riwayat perubahanSOP; Daftar distribusi SOP; Lingkup penerapan dari SOP; Referensi atau acuan yang digunakan dalam penyusunan SOP; Daftar lampiran berupa format Catatan Mutu/SOP yang merupakan pencatatan terhadap pelaksanaan kegiatan dari SOP yang harus dikelola;

Standar Instruksi Kerja


Standar Instruksi Kerja berisi cara kerja atau petunjuk teknis dari suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang atau lebih yang melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penjaminan mutu pelayanan atau mutu konstruksi pada semua kegiatan dalam penyelenggaraan jalan dilingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga. Standar Instruksi Kerja minimal mencakup: Mekanisme Pejabat yang membuat, memeriksa dan mengesahkan Instruksi Kerja; Riwayat perubahan lnstruksi Kerja; Daftar distribusi Instruksi Kerja; Lingkup penerapan Instruksi Kerja; Referensi atau acuan yang digunakan dalam Instruksi Kerja; Cara mengerjakan pekerjaan pada semua tahapan proses, aktivitas, atau kegiatan yang tercantum dalam prosedur mutu, SOP atau flow chart lainnya ; Daftar lampiran berupa format catatan mutu yang merupakan pencatatan dari pelaksanaan kegiatan sesuai Instruksi Kerja; Alur kerja dari aktivitas; Daftar peralatan yang dipergunakan; Daftar rincian kegiatan atau aktivitas; Daftar simak atau daftar periksa.

Hirarki 3 (Rencana Mutu).


Rencana Mutu, merupakan dokumen Sistem Manajemen Mutu hirarki 3 Departemen Pekerjaan Umum yang dibuat oleh Unit Pelaksana/Manajer kegiatan (Kepala Satker,Pejabat Pembuat Komitmen) disemua lini jajaran Direktorat Jenderal Bina Marga baik yang ada dipusat maupun daerah termasuk SKPD yang berisi rencana pelaksanaan kegiatan proyek, dan bagaimana cara pelaksanaan kegiatan proyek dimaksud dengan mengacu pada Manual Muu, Prosedur Mutu, SOP, Flow Chart dan Standar Instruksi Kerja yang diterbitkan oleh Wakil Manajemen Direktorat Jenderal Bina Marga atau SOP dan Standar Instruksi Kerja yang masih terbatas dilingkungan Balai (karena masih menunggu pengesahan dari Wakil Manajemen Mutu Bina Marga) dalam rangka menjamin mutu konstruksi/mutu produk dan mutu pelayanan dilingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga. Dokumen Rencana Muru proyek (RMP) digunakan sebagai panduan pelaksanaan pemantauan dan peninjauan terhadap pelaksanaan kegiatan proyek/ kegiatan rutin yang berkaitan dengan suatu produk termasuk produk pelayanan dibandingkan dengan ketentuan dan persyaratan yang telah ditetapkan sebelum perencanaan program. Rencana Mutu Proyek (Project Quality Plan).

Rencana Mutu Proyek (Project Quality Plan).


Pejabat yang membuat, memeriksa dan mengesahkan Rencana Mutu; Riwayat perubahan Rencana Mutu; Daftar distribusi Rencana Mutu; Kebijakan proyek; Informasi Proyek; Strutur Organisasi Proyek; Lingkup kegiatan Poyek; Jadwal Pelaksanaan Proyek; Daftar Peralatan Kerja; Lingkup penerapan Rencana Mutu; Bagian Alir Pelaksanaan Proyek; Daftar SOP dan Instruksi Kerja yang dipakai sesuai dengan kegiatan proyek yang dikerjakan (termasuk daftar simak). Dalam hal lingkup pekerjaan belum ada SOP atau Instruksi Kerja Standar yang diterbitkan oleh Wakil Manajemen Bina Marga maka SNVT/Balai/Direktorat dapat membuat SOP atau standar instruksi Kerja untuk penyempunaan Rencana Mutu Proyek.

Rencana Mutu Kontrak.


Rencana Mutu Kontrak (RMK) adalah dokumen sistem manajemen mutu kontruksi yang disusun oleh Penyedia Barang/Jasa untuk setiap Kontrak Pekerjaan. Dokumen Rencana Mutu Kontrak (RMK) digunakan untuk menjamin, bahwa spesifikasi teknis atau TOR yang melekat pada kontrak antara Penyedia Barang/Jasa dengan Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum yang diwakili oleh PPK. Di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum terdapat 3 jenis Rencana Mutu Kontrak, yaitu : Rencana Mutu Kontrak Jasa Pemborongan (RMK) atau Rencana Mutu yang harus dibuat oleh Penyedia Jasa Pemborongan yang disusun oleh Kontraktor untuk pekerjaan Jasa Pemborongan dalam upaya penjaminan mutu kontruksi pekerjaan yang dihasilkan oleh Pemborong tersebut. Rencana Mutu Kontrak yang berkaitan dengan Jasa Pemborongan minimal mencakup ;
Informasi pengguna dan penyedia jasa. Bagian Organisasi pelaksanaan pekerjaan termasuk organisasi Pengguna barang/Jasa dan Penyedia Barang/jasa serta Konsultan Pengawas bila ada. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab pelaksanaan pekerjaan. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan yang akan dikerjakan sesuai dengan SOP yang dimiliki oleh Penyedia Jasa. Bagian alir atau Workflow Chart kegiatan pokok. Prosedur Instruksi Kerja masing masing pekerja sesuai dengan prosedur instruksi kerja yang dimiliki oleh Penyedia Jasa. Gambar kerja (shop drawing) Daftar Bahan. Daftar Peralatan. Jadwal kegiatan & jadwal inspeksi termasuk jadwal mobilisasi bahan, peralatan utama dan personil inti. Lembar kerja. Daftar simak.

RMK Jasa Pemborongan


Rencana Mutu Kontrak Jasa Pemborongan (RMK) atau Rencana Mutu yang harus dibuat oleh Penyedia Jasa Pemborongan yang disusun oleh Kontraktor untuk pekerjaan Jasa Pemborongan dalam upaya penjaminan mutu kontruksi pekerjaan yang dihasilkan oleh Pemborong tersebut. Rencana Mutu Kontrak yang berkaitan dengan Jasa Pemborongan minimal mencakup ;
Informasi pengguna dan penyedia jasa. Bagian Organisasi pelaksanaan pekerjaan termasuk organisasi Pengguna barang/Jasa dan Penyedia Barang/jasa serta Konsultan Pengawas bila ada. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab pelaksanaan pekerjaan. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan yang akan dikerjakan sesuai dengan SOP yang dimiliki oleh Penyedia Jasa. Bagian alir atau Workflow Chart kegiatan pokok. Prosedur Instruksi Kerja masing masing pekerja sesuai dengan prosedur instruksi kerja yang dimiliki oleh Penyedia Jasa. Gambar kerja (shop drawing) Daftar Bahan. Daftar Peralatan. Jadwal kegiatan & jadwal inspeksi termasuk jadwal mobilisasi bahan, peralatan utama dan personil inti. Lembar kerja. Daftar simak.

Rencana Mutu Kontrak Jasa Konsultasi Perencanaan/Studi


Rencana Mutu Kontrak Jasa Konsultasi Perencanaan/Studi untuk pekerjaan Jasa Konsultasi Perencanaan/Studi dalam upaya penjaminan mutu desain dan mutu studi yang dihasilkan oleh Konsultan Perencana tersebut. Rencana Mutu Kontrak yang berkaitan dengan Jasa Konsultasi Perencanaan/Studi minimal mencakup; Informasi pengguna dan penyedia jasa. Bagian Organisasi pelaksanaan pekerjaan termasuk organisasi Pengguna barang/Jasa dan Penyedia Barang/jasa. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab pelaksanaan pekerjaan. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan yang akan dikerjakan sesuai dengan SOP yang dimiliki oleh Penyedia Jasa. Bagian alir atau Workflow Chart kegiatan pokok. Prosedur Instruksi Kerja masing masing pekerja sesuai dengan prosedur instruksi kerja yang dimiliki oleh Penyedia Jasa. Daftar Bahan. Daftar Peralatan. Jadwal kegiatan & tahapan pelaporan , dan mobilisasi personil. Daftar simak.

Rencana Mutu Kontrak Jasa Konsultasi Pengawasan


Rencana Mutu Kontrak Jasa Konsultasi Pengawasan untuk pekerjaan Jasa konsultasi pengawasan dalam upaya penjaminan mutu pekerjaan yang diawasinya. Rencana Mutu Kontrak Jasa Konsultasi Pengawasan minimal mencakup: v Informasi pengguna dan penyedia jasa. v Bagian Organisasi pelaksanaan pekerjaan termasuk organisasi Pengguna barang/Jasa dan Penyedia Barang/jasa. v Uraian Tugas dan Tanggung Jawab pelaksanaan pekerjaan. v Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan yang akan dikerjakan sesuai dengan SOP yang dimiliki oleh Penyedia Jasa. v Bagian alir atau Workflow Chart kegiatan pokok. v Prosedur Instruksi Kerja masing masing pekerja sesuai dengan prosedur instruksi kerja yang dimiliki oleh Penyedia Jasa. v Daftar Bahan. v Daftar Peralatan. v Jadwal kegiatan & tahapan pelaporan , dan mobilisasi personil. v Daftar simak.

Catatan Mutu
Catatan mutu merupakan bukti-bukti dari hasil penerapan sistem manajemen mutu konstruksi dari ketiga tingkat hirarki. Catalan Mutu diantaranya berupa:
Notulen hasil rapat evaluasi (tinjauan manajemen); Hasil audit mutu (internal clan eksternal); Data hasil pemeriksaan clan pengujian; Data tentang produk atau proses yang tidak sesuai; Daftar pegawai yang terkait dengan penjaminan mutu konstruksi di lingkungan Departemen PU; dan Data lain yang berkaitan dengan mutu konstruksi.

Daftar Simak
Merupakan media bukti diterapkanya sistem manajemen mutu; Formulir (bentuk) : merupakan media bukti diterapkannya sistem manajemen mutu; Dokumen Eksternal: dokumen yang berasal dari luar Proyek.

MANUAL MUTU
DAFTAR ISI * KEBIJAKAN MUTU DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA ** SASARAN MUTU DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA 0. PENDAHULUAN 01. Pengertian 1. RUANG LINGKUP, TUJUAN DAN SASARAN 2. ACUAN NORMATIF 3. ISTILAH DAN DEFINISI 4. SISTEM MANAJEMEN MUTU 4.1 Umum. Persyaratan Dokumentasi. Umum. Manual Mutu. Pengendalian Dokumen. Pengendalian Rekaman.

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN


Komitmen Manajemen. Fokus pada pelanggan. Kebijakan Mutu Perencanaan. Sasaran Mutu. Perencanaan Sistem Manajemen Mutu. Organisasi, Tanggung Jawab , Wewenang dan komunikasi. Organisasi Tanggung Jawab dan wewenang dalam SMM. Tugas Pokok dan Fungsi. Wakil Manajemen. Tim Peningkatan Mutu Komunikasi Internal. Tinjauan Manajemen. Umum Masukan Tinjauan Manajemen Keluaran dari Tinjauan manajemen.

6. PENGELOLAAN SUMBER DAYA


6.1 Penyediaan Sumber Daya Sumber Daya Manusia. Umum. Kompetensi, kesadaran dan pelatihan. 6.2 Prasarana. 6.3 Lingkungan Kerja

7. REALISASI PENYIAPAN DAN EVALUASI PROGRAM 7.1 Perencanaan realisasi produk.


Proses yang berkaitan dengan pelanggan.
Penetapan persyaratan yang berkaitan dengan produk. Tinjuauan persyaratan yang berkaitan dengan Produk. Komunikasi Pelanggan.

7.2 Disain dan Pengembangan.

7.3 Perencanaan Desain dan Pengembangan. Masukan Desain dan Pengembangan. Keluaran desain dan pengembangan. Tinjauan desain dan pengembangan. Verifikasi desain dan pengembangan. Validasi desain dan pengembangan. Pengendalian dan perubahan desain dan pengembangan 7.4 Pembelian/Pengadaan. Proses pembelian. Informasi Pembelian. Verifikasi produk yang dibeli. 7.5 Produksi dan penyediaan Jasa. Pengendalian produksi dan pengendalian jasa. Validasi proses produksi dan penyediaan jasa. Identifikasi dan mampu telusur. Milik pelanggan. Preservasi Produk. 7.6 Pengendalian Sarana Pemantauan dan Pengukuran.

8. PENGUKURAN, ANALISIS DAN PERBAIKAN 8.1 Umum 8.2 Pemantauan dan Pengukuran.
Kepuasan pelanggan. Audit Internal. Pemantauan pengukuran proses. Pemenatuan pengukuran produk.

8.3 Pengendalian produk yang tidak sesuai 8.4 Analisa Data 8.5 Perbaikan.
Perbaikan berkesinambungan. Tindakan perbaikan. Tindakan pencegahan.

BUKU I (MANUAL MUTU). 1. MANUAL MUTU

a. PROSEDUR AUDIT MUTU INTERNAL b. PROSEDUR PENGENDALIAN CATATAN c. d. e. f.

MUTU PROSEDUR PENGENDALIAN DOKUMEN PROSEDUR PENGENDALIAN PRODUK YANG TIDAK SESUAI (NON KONFIRMASI) PROSEDUR TINDAKAN KOREKSI/ PERBAIKAN DAN PENCEGAHAN PROSEDUR TINJAUAN MANAJEMEN

BUKU II SOP ADMINISTRASI PELAKSANAAN PROYEK (72 SOP/IK)


1. PROSEDUR PENGADAAN JASA KONSULTANSI 2. PROSEDUR PENGADAAN JASA KONSULTANSI
DENGAN CARA SELEKSI UMUM DENGAN CARA SELEKSI CARA SELEKSI CARA PENUNJUKKAN LANGSUNG 3. PROSEDUR PENGADAAN JASA KONSULTANSI DENGAN TERBATAS 4. PROSEDUR PENGADAAN JASA KONSULTANSI DENGAN LANGSUNG 5. PROSEDUR PENGADAAN BARANG 6. PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN DENGAN LANGSUNG NILAI > RP. 50 JUTA 7. PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN DENGAN LANGSUNG NILAI < RP. 50 JUTA 8. PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN DENGAN 9. PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN DENGAN LANGSUNG 10. PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN DENGAN LANGSUNG . 11. PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN DENGAN 12. PROSEDUR PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN CARA 13. PROSEDUR PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN CARA 14. PROSEDUR PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN CARA LANGSUNG

CARA PEMILIHAN CARA PEMILIHAN CARA PELELANGAN CARA PEMILIHAN CARA PENUNJUKKAN CARA PEMBORONGAN. PEMILIHAN LANGSUNG PELELANGAN PENUNJUKKAN

BUKU II SOP ADMINISTRASI PELAKSANAAN PROYEK


15. PROSEDUR SK PENUNJUKKAN PEMENANG LELANG 16. PROSEDUR SK PEMENANG PENUNJUKKAN LANGSUNG 17. PROSEDUR SK PEMENANG SELEKSI LELANG 18. PROSEDUR SK PEMENANG SELEKSI UMUM 19. PROSEDUR RAPAT PRA PELAKSANAAN PEKERJAAN (PRE CONSTRUCTION
MEETING) 20. PROSEDUR RAPAT PRA PENANDATANGAN KONTRAK (PRE AWARD MEETING) 21. PROSEDUR PENANDATANGAN KONTRAK 22. PROSEDUR PERPANJANGAN WAKTU KONTRAK (ADDENDUM) 23. PROSEDUR PENANGANAN KONTRAK KRITIS, PEMUTUSAN KONTRAK (TERMINASI) 24. PROSEDUR PEMBUATAN KONTRAK BARANG/JASA 25. PROSEDUR PEKERJAAN YANG DI SUB KONTRAKTOR 26. PROSEDUR PEMILIHAN SUB KONTRAKTOR 27. PROSEDUR PENERBITAN SURAT PERINTAH MULAI KERJA (SPMK) 28. PROSEDUR SERAH TERIMA PERTAMA PEKERJAAN (PROVISIONAL HAND OVER) 29. PROSEDUR SERAH TERIMA AKHIR PEKERJAAN (FINAL HAND OVER) 30. PROSEDUR PENYUSUNAN PROGRAM MUTU (PROJECT QUALITY PLAN) 31. PROSEDUR PEMBENTUKAN STRUKTUR ORGANISASI PROYEK 32. PROSEDUR STUDI KELAYAKAN 33. PROSEDUR PENGAWASAN PELAKSANAAN PEKERJAAN JALAN

BUKU II SOP ADMINISTRASI PELAKSANAAN PROYEK


34. PROSEDUR PEMBAYARAN UANG MUKA 35. PROSEDUR PEMBAYARAN PRESTASI PEKERJAAN 36. PROSEDUR PEMBAYARAN DENGAN ESKALASI 37. PROSEDUR REVIEW DESAIN 38. PROSEDUR REVISI DESAIN 39. PROSEDUR PEMUNGUTAN DAN PENGENAAN PAJAK 40. PROSEDUR PENGENAAN DENDA 41. PROSEDUR MOBILISASI PROYEK 42. PROSEDUR BUKU HARIAN DAN PELAPORAN 43. PROSEDUR PERUBAHAN KONTRAK, PEKERJAAN TAMBAH/KURANG DAN
PERCEPATAN WAKTU 44. PROSEDUR PENETAPAN VOLUME PERKERASAN JALAN 45. PROSEDUR TATA PERSURATAN 46. PROSEDUR PENYUSUNAN ANGGARAN DIP 47. PROSEDUR REVISI DIP 48. PROSEDUR PENYUSUNAN PROGRAM TAHUNAN 49. PROSEDUR PROGRAM JANGKA PANJANG 50. PROSEDUR PENGGUNAAN IBMS (INTER URBAN BRIDGE MANAGEMENT SYSTEM) 51. PROSEDUR PENGGUNAAN IRMS (INTER URBAN ROAD MANAGEMENT SYSTEM) 52. PROSEDUR PERENCANAAN TEKNIS JALAN RAYA 53. PROSEDUR PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN

BUKU II SOP ADMINISTRASI PELAKSANAAN PROYEK


54.PROSEDUR PERENCANAAN TEKNIS JALAN RAYA 55.PROSEDUR PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN 56.INSTRUKSI KERJA SURVAI HIDROLOGI 57.INSTRUKSI KERJA SURVAI TOPOGRAFI 58.INSTRUKSI KERJA SURVAI GEOLOGI TEKNIK 59.INSTRUKSI KERJA SURVAI LINGKUNGAN 60.INSTRUKSI KERJA SURVAI LALU LINTAS 61.PROSEDUR PENUNJUKAN PEJABAT PROYEK 62.PROSEDUR PENGGANTIAN BENDAHARAWAN 63.PROSEDUR PENGGANTIAN PINPRO-PINBAGPRO 64.PROSEDUR PEMBUATAN GAMBAR TERLAKSANA PROYEK PENANGANAN
JALAN (AS BUILT DRAWING) 65.PROSEDUR PENYIAPAN GAMBAR KERJA (SHOP DRAWING) 66.PROSEDUR USULAN PROGRAM BERBANTUAN LUAR NEGERI 67.PROSEDUR PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUR RENCANA JANGKA PANJANG 68.PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN PEKERJAAN SIPIL BANTUAN BANK DUNIA (BD) 69.PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN PEKERJAAN SIPIL BANTUAN BANK DUNIA (IBRD) 70.PROSEDUR PENGADAAN LAHAN/PEMBEBASAN TANAH

BUKU II SOP ADMINISTRASI PELAKSANAAN PROYEK


71.PROSEDUR PENGADAAN JASA PEMBORONGAN PEKERJAAN SIPIL
BANTUAN BANK DUNIA (IBRD) 72.PROSEDUR PENGADAAN LAHAN/PEMBEBASAN TANAH

BUKU III SOP PENGAWASAN (143 SOP/IK)


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.
DAFTAR SIMAK (DS) JOB MIX FORMULA (JMF) PENGAWASAN PEMBUATAN CAMPURAN ASPAL PANAS PROSEDUR JOB MIX FORMULA (JMF) PENGAWASAN PEMBUATAN CAMPURAN ASPAL PANAS INSTRUKSI KERJA (IK) PEMERIKSAAN ASPHALT MIXING PLANT (AMP) P1 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN QUARRY P1 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PASANGAN BATU DENGAN MORTAR P2.2 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PASANGAN BATU DENGAN MORTAR P2.2 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN GORONG & DRAINASE BETON P2.3 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN GORONG & DRAINASE BETON P2.3 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN DRAINASE POROUS P2.4 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN DRAINASE POROUS P2.4 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN GALIAN P3.1 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN GALIAN P3.1 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN TIMBUNAN P3.2 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN TIMBUNAN P3.2

BUKU III SOP PENGAWASAN


16.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PENYIAPAN BADAN JALAN P3.3 17.I NSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PENYIAPAN BADAN JALAN P3.3 18.D AFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN BAHU JALAN P4.2 19.I NSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN BAHU JALAN P4.2 20.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN PONDASI AGREGAT P5.1 21.I NSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN PONDASI AGREGAT
P5.1 22.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN BETON SEMEN PONDASI BAWAH P5.5 23.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN BETON SEMEN PONDASI BAWAH P5.5 24.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN PONDASI AGREGAT DENGAN CEMENT TREATED BASE (CTB) P5.6 25.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN PONDASI AGREGAT DENGAN CEMENT TREATED BASE (CTB) P5.6 26.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENCAMPURAN ASPAL PANAS P6.0 27.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENCAMPURAN ASPAL PANAS P6.0 28.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN RESAP PENGIKAT & LAPISAN PEREKAT P6.1

BUKU III SOP PENGAWASAN


29. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN RESAP 30. 31. 32. 33. 34. 35.
PENGIKAT & LAPISAN PEREKAT P6.1 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGUJIAN KEPADATAN ASPAL PANAS P6.2 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGUJIAN KEPADATAN ASPAL PANAS P6.2 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN KESIAPAN LAPANGAN PEKERJAAN CAMPURAN ASPAL PANAS P6.3 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN KESIAPAN LAPANGAN PEKERJAAN CAMPURAN ASPAL PANAS P6.3 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS P6.4 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS P6.4

BUKU III SOP PENGAWASAN


36. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PENCAMPURAN ASPAL PANAS P6.5 37. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PENCAMPURAN ASPAL PANAS P6.5 38. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN AKHIR BETON P7.1 39. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN AKHIR BETON P7.1 40. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMBUATAN BETON PRATEKAN P7.2 41. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMBUATAN BETON PRATEKAN P7.2 42. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN LAPISAN RESAP PENGIKAT & LAPISAN
PEREKAT P6.1 43. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGUJIAN KEPADATAN ASPAL PANAS P6.2 44. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGUJIAN KEPADATAN ASPAL PANAS P6.2 45. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN KESIAPAN LAPANGAN PEKERJAAN CAMPURAN ASPAL PANAS P6.3 46. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN KESIAPAN LAPANGAN PEKERJAAN CAMPURAN ASPAL PANAS P6.3 47. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS P6.4

48. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGHAMPARAN CAMPURAN ASPAL PANAS P6.4

BUKU III SOP PENGAWASAN


49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66.
INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PENCAMPURAN ASPAL PANAS P6.5 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN AKHIR BETON P7.1 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN AKHIR BETON P7.1 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMBUATAN BETON PRATEKAN P7.2 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMBUATAN BETON PRATEKAN P7.2 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMBENTUKAN BAJA TULANGAN-P7.3 INSTRUKSI KERJA (IK) DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PASANGAN BAJA STRUKTUR -P7.4 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PASANGAN BAJA STRUKTUR P7.4 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PASANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA P7.5 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PASANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA P7.5 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN TIANG PANCANG P7.6 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN TIANG PANCANG P7.6 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PONDASI SUMURAN P7.7 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PONDASI SUMURAN P7.7 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN ADUKAN SEMEN P7.8 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN ADUKAN SEMEN P7.8 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PASANGAN BATU P7.9 INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PASANGAN BATU P7.9

BUKU III SOP PENGAWASAN


67. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PABRIKASI BAJA STRUKTUR P7.10 68. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PABRIKASI BAJA STRUKTUR P7.10 69. DAFTAR SIMA EKSPANSI (EXPANSION JOINT) P7.11 70. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN SAMBUNGAN EKSPANSI (EXPANSION JOINT) P7.11 71. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PASANG PERLETAKAN (BEARING) P7.12 72. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PASANG PERLETAKAN (BEARING) P7.12 73. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN SANDARAN JEMBATAN (RAILING) P7.13 74. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN SANDARAN JEMBATAN (RAILING) P7.13 75. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PERSIAPAN PERKERASAN JALAN BETON
P7.14 76. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PERSIAPAN PERKERASAN JALAN BETON P7.14K (DS) PENGAWASAN SAMBUNGAN 77. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEMBONGKARAN STRUKTUR P7.15 78. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEMBONGKARAN STRUKTUR P7.15 79. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGECORAN PERKERASAN JALAN BETON P7.16 80. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGECORAN PERKERASAN JALAN BETON P7.16

BUKU III SOP PENGAWASAN


81. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN 82. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN 83. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN
PEKERJAAN WET LEAN CONCRETE P7.17 PEKERJAAN WET LEAN CONCRETE P7.17 PEKERJAAN SELESAI PERKERASAN JALAN BETON

P7.18 84. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN SELESAI PERKERASAN JALAN BETON P7.18 85. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PELAKSANAAN PENGECORAN BETON P7.19 86. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PELAKSANAAN PENGECORAN BETON P7.19 87. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEMERIKSAAN PERSIAPAN PENGECORAN BETON P7.20 88. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENEGANGAN SEBELUM PENGECORAN BETON PRATEKAN P7.22 89. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENEGANGAN SEBELUM PENGECORAN BETON PRATEKAN P7.22 90. DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENEGANGAN SESUDAH PENGECORAN BETON PRATEKAN P7.23 91. INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENEGANGAN SESUDAH PENGECORAN BETON PRATEKAN P7.23 92. PEMERIKSAAN PERSIAPAN PENGECORAN BETON P7.20

BUKU III SOP PENGAWASAN


93.DAFTAR
SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENEGANGAN SEBELUM PENGECORAN BETON PRATEKAN P7.22 94.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENEGANGAN SEBELUM PENGECORAN BETON PRATEKAN P7.22 95.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENEGANGAN SESUDAH PENGECORAN BETON PRATEKAN P7.23 96.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI PERKERASAN LAMA P8.1 97.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI PERKERASAN LAMA P8.1 98.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI BAHU JALAN LAMA P8.2 99.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI BAHU JALAN LAMA P8.2 100.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI JEMBATAN KAYU P8.3 101.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI JEMBATAN KAYU P8.3 102.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN MARKA JALAN P8.4 103.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN MARKA JALAN P8.4

BUKU III SOP PENGAWASAN


104.DAFTAR
SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI JEMBATAN BAJA P8.5 105.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI JEMBATAN BAJA P8.5 106.PEKERJAAN PENEGANGAN SESUDAH PENGECORAN BETON PRATEKAN P7. 107.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN KREB PRACETAK PEMISAH JALAN P8.6 108.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN KREB PRACETAK PEMISAH JALAN P8.6 109.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMASANGAN BLOK BETON (PAVING BLOCK) P8.7 110.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMASANGAN BLOK BETON (PAVING BLOCK) P8.7 111.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PAGAR PEMISAH PEDESTRIAN P8.8 112.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PAGAR PEMISAH PEDESTRIAN P8.8 113.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI JEMBATAN P8.9 114.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI JEMBATAN P8.9 115.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN HARIAN P9.1

BUKU III SOP PENGAWASAN


116.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN 117.D AFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN
PEKERJAAN HARIAN P9.1 PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN PERLENGKAPAN JALAN P10.1 118.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN PERLENGKAPAN JALAN P10.1 119.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAA PEMELIHARAAN JALAN SAMPING JEMBATAN P10.2 120.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMELIHARAAN JALAN SAMPING JEMBATAN P10.2 121.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN BAHU JALAN -P10.3 122.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN BAHU JALAN P10.3 123.DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN JEMBATAN P10.4 124.INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN JEMBATAN P10.4

125.DAFTAR

SIMAK

(DS)

PENGAWASAN

PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN

PERKERASAN P10.5

BUKU III SOP PENGAWASAN


126. INSTRUKSI 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143.
KERJA (IK) PENGAWASAN PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN PERKERASAN P10.5 DAFTAR SIMAK (DS) PENGAWASAN PEMERIKSAAN PENGAJUAN GAMBAR TERLAKSANA (AS BUILT DRAWING) INSTRUKSI KERJA (IK) PENGAWASAN PEMERIKSAAN PENGAJUAN GAMBAR TERLAKSANA (AS BUILT DRAWING) FORM PENGAWASAN PEMERIKSAAN PENGAJUAN GAMBAR TERLAKSANA (AS BUILT DRAWING) PROSEDUR PENGAJUAN PENGUKURAN DAN VALIDASI FORM PENGAJUAN PENGUKURAN DAN VALIDASI PROSEDUR PENGAWASAN PENGUJIAN KEPADATAN DENGAN SANDCONE FORM PENGAWASAN PENGUJIAN KEPADATAN DENGAN SANDCONE FORM REQUEST AGENDA DAN VALIDASI INSTRUKSI KERJA (IK) REQUEST PEMERIKSAAN KONTRAKTOR INSTRUKSI KERJA (IK) REQUEST PEMERIKSAA QUALITY ENGINEERING (QE) INSTRUKSI KERJA (IK) REQUEST PEMERIKSAAN CHIEF INSPECTOR (CI) INSTRUKSI KERJA (IK) REQUEST PEMERIKSAAN SEKRETARIS FORM REQUEST PENGAJUAN MULAI PEKERJAAN FORM REQUEST PENGAWASAN PROSEDUR REQUEST PEMERIKSAAN PENGAJUAN DAFTAR SIMAK (DS) PEMERIKSAAN PERALATAN UNIT PEMECAH BATU INSTRUKSI KERJA (IK) PEMERIKSAAN PERALATAN UNIT PEMECAH BATU

BUKU IV SOP PENYELENGGARAAN UJI MUTU (43 SOP/IK)


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.
SOP PENYELENGGARAAN UJI MUTU IK UJI PETIK IK PENGUJIAN PENETRASI (SNI 06-2456-1991) IK PENGUJIAN TITIK LEMBEK (SNI 06-2434-1991) IK PENGUJIAN DAKTILITAS (SNI 06-2432-1991) IK PENGUJIAN TITIK NYALA (FLASH POINT) (SNI 06-2433-1991) IK PENGUJIAN BERAT JENIS (SNI 06-2441-1991) IK PENGUJIAN KEHILANGAN BERAT MINYAK DAN ASPAL DENGAN CARA A (SNI 06-2440-1991) IK PENGUJIAN KADAR ASPAL (SNI 06-2438-1991) IK PENGUJIAN TENTANG ANALISA SARINGAN AGREGAT HALUS DAN KASAR (SNI 03-1968-1990) IK PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AIR AGREGAT KASAR (SNI 03-1969-1990) IK PENGUJIAN DAN PENYERAPAN BERAT JENIS AGREGAT HALUS (SNI 03-1970-1990) IK PENGUJIAN KEAUSAN AGREGAT DENGAN MESIN ABRASI LOS ANGELES (SNI 03-2417-1991) IK PENGUJIAN AGREGAT HALUS ATAU PASIR YANG MENGANDUNG BAHAN PLASTIS DENGAN CARA SETARA PASIR (SNI 03-4428-1997) IK PENGUJIAN BOBOT ISI DAN RONGGA UDARA DALAM AGREGAT (SNI 03-4804-1998) IK PENGUJIAN JUMLAH BAHAN DALAM AGREGAT YANG LOLOS SARINGAN NO : 200 (0,073 MM) (SNI 03-4142-1996) IK PENGUJIAN KELEKATAN AGREGAT TERHADAP ASPAL (SNI 03-2439-1991) IK PENGUJIAN KADAR AIR (SNI 06-2490-1991)

BUKU IV SOP PENYELENGGARAAN UJI MUTU


19. IK PENGUJIAN ANALISIS SARINGAN AGREGAT HALUS DAN KASAR (SNI 03-1968-1990) 20. IK PENGUJIAN CAMPURAN ASPAL DENGAN ALAT MARSHALL (SNI 06-2489-1991) 21. IK PENGUJIAN ANALISIS SARINGAN AGREGAT HASIL EKSTRAKSI (SNI
03-6822-2002) 22. IK PENGUJIAN KADAR ASPAL DARI CAMPURAN BERASPAL DENGAN CARA SENTRIFUS (SNI 03-6894-2002) 23. IK PENGUJIAN KADAR ASPAL DALAM CAMPURAN BERASPA DENGAN CARA EKSTRAKSI MENGGUNAKAN ALAT SOKLET (SNI 03-2640-1994) 24. IK PENGUJIAN KUAT GESER LANGSUNG TANAH TIDAK TERKONSOLIDASI TANPA DRAINASE (SNI 03-3420-1994) 25. IK PENGUJIAN KONSOLIDASI TANAH SATU DIMENSI (SNI 03-2812-1992) 26. IK PENGUJIAN BERAT JENIS TANAH (SNI 03-1964-1990) 27. IK PENGUJIAN ANALISIS UKURAN BUTIR TANAH DENGAN ALAT HIDROMETER (SNI 03-3423-1994) 28. IK PENGUJIAN BATAS CAIR DENGAN ALAT CASAGRANDE (SNI 06-1967-1990) 29. IK PENGUJIAN BATAS PLASTIS TANAH (SNI 03-1966-1990) 30. IK PENGUJIAN BERAT ISI TANAH BERBUTIR HALUS DENGAN CETAKAN BENDA UJI (SNI 03-3637-1994) 31. IK PENGUJIAN UNTUK MENDAPATKAN KEPADATAN TANAH MAKSIMUM DENGAN KADAR AIR OPTIMUM (SNI 03-2832-1992) 32. IK PENGUJIAN KUAT BEBAS TANAH KOHESIF (SNI 03-3638-1994)

BUKU IV SOP PENYELENGGARAAN UJI MUTU


33. IK PENGUJIAN KUAT BEBAS TANAH KOHESIF (SNI 03-3638-1994) 34. IK PENGUJIAN KADAR AIR TANAH (SNI 03-1965-1990) 35. IK CBR LABORATORIUM (SNI 03-1744-1989) 36. IK PENGUJIAN UNTUK MENGUKUR KUAT TEKAN BETON PADA UMUR
AWAL DAN MEMPROYEKSIKAN KEKUATAN PADA UMUR BERIKUTNYA (SNI 03-6805-2002) 37. IK PENGUJIAN SLUMP BETON (SNI 03-1972-1990) 38. IK TATA CARA PEMBUATAN RENCANA CAMPURAN BETONNORMAL (SNI 03-2834-2000) 39. IK PEMBUATAN DAN PERAWATAN BENDA UJI BETON DI LABORATORIUM (SNI 03-2493-1991) 40. IK PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON INTI PENGEBORAN (SNI 03-3403-1994) 41. IK PENGUJIAN KOTORAN ORGANIK DALAM PASIR (SNI 03-2816-1992) 42. IK PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON (SNI 03-1974-1990) 43. IK BERAT ISI BETON (SNI 03-1973-1990)

MENSINEGIKAN PEMAHAMAN POLA PIKIR DAN PEMAHAMAN PERANGKAT KETERAMPILAN

Pemahaman Pola Pikir sesuai dengan Visi Bina Marga akan merubah Tekad Insan Bina Marga Pemahaman Perangkat Keterampilan akan merubah Insan Bina Marga menjadi terampil dalam bidang / tugasnya Sinergi Tekad dan Keterampilan Insan Bina Marga akan menghasilkan Insan Bina Marga yang profesional yang pada gilirannya akan menjadi Birokrasi yang profesional.

Anda mungkin juga menyukai