Anda di halaman 1dari 3

RESUME IV KU-4078 STUDIUM GENERALE

Peran BPKP dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Pembicara: Drs. Ganis Diarsyah,MM

Nama NIM Program Studi No. HP

: Bagus Setiaji Darmawan : 12110009 : Teknik Pertambangan : 08190014320

Institut Teknologi Bandung 2013

Rabu, 25 September 2013 Lembaga Kemahasiswaan ITB mengadakan stadium general ke-4 di Aula Timur ITB. Seminar kali ini mengangkat tema Peran BPKP dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia yang bekerja sama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Barat. Pada kesempatan kali ini LK menghadirkan narasumber Kepala Bidang Investigasi BPKP Jawa Barat, Drs. Ganis Diarsyah,MM. Pada awal pembahasan, Bapak Ganis Diarsyah menjelaskan bahwa pada

dasarnya BPKP berbeda dengan BPK, di mana BPKP bertugas sebagai internal auditor yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Sedangkan BPK, bertugas sebagai badan external auditor yang bertanggungjawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Beliau juga menjelaskan bahwa esensi kata-kata "pengawasan" mempunyai makna yang lebih luas dari "pemeriksaan." Fungsi Pengawasan mencakup perencanaan, pembagian dan kontrol. Pada zaman orde baru BPKP dikenal sebagai Badan Akuntan Negara yang bertugas dalam mengaudit buku kas negara. Namun, seiring berkembangnya zaman, istilah tersebut berubah menjadi BPKP. Lebih lanjut Bapak Ganis memaparkan materi mengenai tindak pidana korupsi. Beliau menyebutkan bahwa korupsi merupakan kegiatan curang untuk meraup keuntungan yang bukan hak miliknya dan dapat merugikan Negara serta menyengsarakan nasib rakyat Negara tersebut. Beliau menjelaskan bahwa tindak pidana korupsi terjadi karena empat hal, serakah (Greed), kesempatan (Opportunity), Kebutuhan (Need), dan pengungkapan (Exposure). Keempat hal tersebut adalah halhal yang sangat sering terjadi di Indonesia dan membuat negara kita mengalami peningkatan dalam kasus tindak pidana korupsi Upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam upaya pencegahan sampai pemberantasan tindak pidana korupsi antara lain dengan membuat peraturan perundangan yang tertuang dalam UU No 31 Tahun 1999 dan UU No. 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Pada saat ini lembaga yang menangani terkait dengan tindak pidana korupsi seperti KPK, BPK dan BPKP memfokuskan pada upaya pencegahannya tidak sekedar pemberantasannya saja. Untuk itu mereka berharap adanya peran serta mahasiswa dalam mendukung upaya pemberantasan korupsi.

Bentuk peran mahasiswa dalam pemberantas korupsi dapat dilakukan dengan empat cara, antara lain: 1. Melakukan kajian dan masukan konstruktif terhadap kebijakan publik yang dibuat oleh lembaga eksekutif dan legislative. 2. Melakukan pengawasan terhadap pengelolaan dana pemerintah yang terjadi di lingkungan kampus.
3. Menginisiasikan

sebuah

penelitian

ilmiah

yang

bertujuan

untuk

menciptakan sistem pengelolaan keuangan negara yang lebih reliable. 4. Mendorong pemerintah untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN Berikut ini merupakan tujuh kelompok yang termasuk dalam tindak pidana korupsi, antara lain: 1) Kerugiankeuangan Negara, 2) Suap menyuap, 3) Penggelapan dalam jabatan, 4) Pemerasan, 5) Perbuatan curang, 6) Benturan kepentingan dalam pengadaan, dan 7) Gratifikasi. Berdasarkan UU No 20 tahun 2001 pasal 2 ayat 1 disebutkan bagi siapa saja yang melakukan tindakan korupsi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Beliau menjelaskan bahwa bentuk kerugian keuangan Negara yang disebabkan oleh tindak pidana korupsi sbb: 1. Pengeluaran lebih besar daripada anggaran yang berlaku 2. Hilangnya sumber kekayaan Negara atau daerah yang seharusnya diterima 3. Hilangnya keuntungan karena yang dibayar lebih kecil 4. Hutang Negara bertambah Untuk itu langkah yang dilakukan untuk melihat penyimpangan yang terjadi adalah, identifikasipenyimpangan-penyimpangan yang ada dan periksa aturan terkait yang menjelaskan masalah tersebut (UU, PP, dll.)