Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH DERET TAK HINGGA, UJI KEKONVERGENAN DERET, DERET TAYLOR DAN DERET MACLAURIN

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah: KalkulusLanjut 1 Dosen Pengampu: Dra. Emi PujiastutiM.Pd

DisusunOleh: Kelompok 9 1. NovianaPramudiyanti 2. JenyRahmawati 3. Adi Tri Arifin 4. SantiNoviyanti 5. DevySeptianaIrawati 4101409071 4101409079 4101409087 4101409076 4101409131

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2010 1
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Pemahaman tentang definisi, teorema, dan konsep-konsep mengenai Deret tak hingga, Uji kekonvergenan deret, Deret Taylor, dan Deret Maclaurin sangat penting untuk dipelajari. Beserta dengan operasi dari deret-deret tersebut. Karena materi ini merupakan pengantar untuk materi Kalkukus Lanjut 2 yang akan kita pelajari selanjutnya.

B.

RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana konsep deret tak hingga? 2. Bagaimana konsep uji kekonvergenan deret? 3. Bagaimana konsep deret Taylor dan deret Maclaurin? 4. Bagaimana deret Maclaurin yang penting? 5. Bagaimana operasi terhadap deret-deret di atas?

C.

TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan makalah ini adalah unutk memenuhi tugas mata kuliah Kalkulus Lanjut 1 serta sebagai bahan pembelajaran dan referensi.

2
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

BAB II
DERET TAK HINGGA, UJI KEKONVERGENAN DERET, DERET TAYLOR, DAN DERET MACLAURIN

A. PENGANTAR a) Deret Berhingga Dan Deret Tak Hingga Dari setiap barisan bilangan dapat di buat suatu barisan baru dengan menjumlahkan suku-sukunya secara parsial. Misalnya pada barisan dengan suku-suku
a1 , a2 , a3 , a4 dapat dibentuk jumlah parsial berikut.

Jumlah satu suku pertama adalah S1 a1 Jumlah dua suku pertama adalah S 2 a1 a2 Jumlah tiga suku pertama adalah S3 a1 a2 a3 Jumlah empat suku pertama adalah S 4 a1 a2 a3 a4 Pada umumnya, sebuah deret berhingga dinyatakan dalam bentuk:
a1 a2 a3 a4 an , dimana an adalah bilangan atau fungsi yang diberikan oleh

rumus. Sedangkan sebuah deret tak hingga dapat dinyatakan dalam bentuk:
a1 a2 a3 a4 an Tiga titik pada akhir bentuk di atas mempunyai arti

bahwa deret tersebut tidak akan pernah berhenti. Kita dapat menuliskan deret pada bentuk yang lebih pendek dengan menggunakan bentuk penjumlahan berikut dengan rumus untuk suku ke n. Contohnya adalah sebagai berikut: a). 1 2 3 4 n n 2
2 2 2 2 2 n 1

(dibaca: jumlah dari n2 dari n = 1 sampai )


x x2
x3 (1) n1 x n (1) n 1 x n 2 (n 1)! n 1 ( n 1)!

b).

(dibaca: jumlah dari

(1) n 1 x n dari n = 1 sampai ) (n 1)!

3
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

b) Deret Pangkat Hingga saat ini kita telah mempelajari deret-deret konstanta yang berbentuk Un, dengan Un sebuah bilangan. Sekarang kita akan mempelajari deret fungsi suatu deret yang berbentuk Un (x). suatu contoh deret adalah:

=1

sin sin sin 4 sin 3 = + + + 2 1 4 9

Ada banyak deret, namun pada bagian ini kita akan menjelaskan sebuah deret di mana suku ke n adalah perkalian konstanta a dengan xn atau perkalian konstanta a dengan (x - a)n. Hal ini disebut dengan deret pangkat, karena suku-sukunya adalah perkalian pangkat dari x atau (x - a). Dari definisi di atas, deret pangkat dapat dinyatakan dalam bentuk:

a
n 0

x n a0 a1 x a 2 x 2 a3 x 3

Atau

a
n 0

( x a) n a0 a1 ( x a) a2 ( x a) 2 a3 ( x a) 3

dimana an adalah konstanta. Berikut adalah beberapa contoh deret pangkat: a). b). c).

1 x
x

x x2 x3 ( x) n n 2 4 8 2 x2 x3 x4 (1) n 1 x n 2 3 4 n
x3 x5 x7 (1) n1 x 2 n1 3! 5! 7! (2n 1)! ( x 2) 2 ( x 2) 2 3 ... ( x 2) n n 1 ...

d). 1

4
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

Pendiferensialan dan Pengintegralan suku demi suku; TEOREMA Andaikan S(x) adalah jumlah sebuah deret pangkat pada sebuah selang I; Jadi:

=
=0

= 0 +1 +2 2 +3 3 +

Maka apabila x ada di dalam I, berlakulah; 1. = 2.


=0 =1

=
=1 0

1 =1

= 1 + 22 + 33 2 +

+1 =0 +1

1 1 1 = 0 + 1 2 + 2 3 + 3 4 + 2 3 4 c) Deret Berganti Tanda Deret berganti tanda (alternating series), yaitu deret yang berbentuk 1 2 + 3 4 + di mana > 0 untuk seluruh . Sebuah contoh yang penting adalah deret harmonik berganti tanda (alternating harmonic series) 1 1 1 1 + + 2 3 4 Kita telah melihat bahwa deret harmonik divergen, tetapi berikut ini kita akan melihat bahwa deret harmonik berganti tanda bersifat konvergen.

Teorema Uji Deret Berganti Tanda Misalkan 1 2 + 3 4 + Adalah deret berganti dengan > +1 > 0. Jika lim = 0, maka deret tersebut konvergen. Di samping itu, kesalahan yang dibuat dengan menggunakan jumlah dari suku pertama untuk menghampiri jumlah dari deret tersebut tidak lebih dari +1 . 5
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

B. UJI KEKONVERGENAN DERET Dari penjelasan sebelumnya, kita dapat memperoleh jumlah n suku pertama adalah

Sn=a1+a2+a3+a4++an=
dikatakan bahwa deret takhingga ini dituliskan dengan
n=1 anjuga dikatakan n=1 an=

n k=1 ak

Jika ada suatu bilangan real S sedemikian hingga lim = maka


n=1 ankonvergen

dan mempunya jumlah S. Hal

S. Sebaliknya jika lim divergen maka deret

divergen.
=0 =0 1

Contoh: Perhatikan Deret Geometri = . Jadi deret geometri dengan rasio r=1
1

a) Jika r=1 jelas bahwa deret adalah divergen. b) Jika

< 1 berlaku lim +1 = 0 maka lim = 1 . Dengan


=0

demikian jika < 1 maka

= 1 .

c) Jika r > 1 maka lim +1 = dan jika r <-1 maka nilai lim +1 tidak ada. Dengan demikian untuk > 1,lim +1 tidak ada. Jadi jika > 1 maka
=0 divergen.

Contoh diatas merupakan bukti teorema berikut Teorema Jika x adalah bilangan real dimana > 1 maka deret geometri konvergen dan mempunyai jumlah (1 ). Deret geometri ini penting karena terkadang dapat dipakai untuk menentukan jumlah suku-suku deret lain seperti contoh-contoh berikut, 1) Penggantian x dengan x2 diperoleh: 1 + 2 + 4 + 6 + 8 + = 1 < 1. (1 2 )
1 =0

2) Untuk menghitung jumlah suku-suku dengan pangkat ganjil diperoleh dengan mengalikan setiap sukunya dengan x, sehingga: + 3 + 5 + 7 + 9 + = < 1. (1 + 2 )

6
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

3) Jika x diganti dengan x diperoleh: 1 + 2 3 + 4 = 4) Penggantian x dengan x2 diperoleh: 1 2 + 4 6 + 8 = 5) Penggantian x dengan 2x diperoleh: 1 + 4 2 + 16 4 + + 4 2 + = Semua deret yang berbentuk 1 2 < 1. (1 4 2 ) 1 < 1. (1 + 2 ) 1 < 1. (1 + )

dinamakan Deret Kuasa. Dalam hal ini

merupakan peubah sedangkan a1 , a2 , a3 , a4 masing-masing disebut koefisien dari deret kuasa tersebut. 1) Deret dengan suku-suku positif Kekonvergenan suatu deret khusus ak ditentukan dengan cara menyelidiki apakah barisan jumlah parsial Sn mempunyai limit untuk . Dalam deret khusus, seperti deret geometri, jumlah parsial Sn dapat dirumuskan sehingga limit Sn untuk mudah ditentukan. Pada umumnya rumus untuk Sn sukar dicari, sehingga perlu adanya suatu uji kekonvergenan yang tidak menggunakan jumlah parsialnya. Teorema (Uji Kedivergenan) Jika deret ak konvergen, maka lim = 0. Bukti Misalkan = 1 + 2 + 3 + + dan lim = . Karena = 1 maka lim = lim ( 1 ) = lim lim 1 = = 0. Terbukti. Teorema ini hanya digunakan untuk membuktikan kedivergenan suatu deret yakni dengan memanfaatkan kontraposisisnya yakni, jika lim 0 maka deret Teorema divergen.

7
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

Andaikan 0 untuk setiap 1 maka deret jika barisan jumlah parsial Sn terbatas atas. Bukti

konvergen jika dan hanya

Andaikan barisan Sn terbatas atas. Karena = 1 + 2 + 3 + + dan 0 maka Sn adalah barisan tak turun dan terbatas atas. Akibatnya barisan Sn konvergen sehingga deret juga konvergen. konvergen berarti lim = . Karena 1

Sebaliknya apabila deret

berarti barisan Sn merupakan barisan tak turun dan terbatas atas S. Terbukti Contoh Kita akan menentukan kekonvergenan deret berlaku ! (2)1 . Akibatnya karena =
1 =1 ! 1 1 1 =1 2 1 =1 !.

Untuk setiap bilangan asli k

= 1, maka

<

1 =1 !

1 =1 2

=1

Dengan demikian barisan Sn terbatas atas dan berdasarkan teorema di atas maka deret
1 =1 !

konvergen.

2) Uji Integral Misalkan deret


=1

semua suku-sukunya tidak negative. Misalkan

terdapat fungsi turun dan kontinu f(x) untuk x1 sedemikian hingga f(k)=a k. Posisi ak dan grafik fungsi f(x) digambarkan sebagai berikut,

a1

a2 a3 a4 a5 a6 6

y=f(x) x

8
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

Kemudian a)
1

= luas daerah dibawah kurva y=f(x) di kuadran I pada interval

[1,). b) 2 + 3 + 4 + = jumlah semua luas daerah persegi panjang yang berada di bawah kurva y=f(x) pada interval [1,). c) 1 + 2 + 3 + = jumlah semua luas daerah persegi panjang (dengan batas bawah sumbu x dan batas atas ruas garis di atas kurva y=f(x)) pada interval [1,). Maka terdapat hubungan

2 + 3 + 4 + Oleh karena itu 1) Jika


1

1 + 2 + 3 +

konvergen, misalkan

= , maka2 + 3 + 4 +
=1

merupakan terbatas atas. Sehingga karena deret 2 + 3 + 4 + naik, maka deret tersebut konvergen. Akibatnya deret 2) Jika deret
=1

juga konvergen. = , maka


1

konvergen, misalkan
1

=1

terbatas atas dimana f(x) 0. Akibatnya

konvergen.

Perolehan ini secara tegas dapat dinyatakan dalam teorema berikut. Teorema Diketahui fungsi turun dan kontinu f(x) 0 untuk x 1. Misalkan f(k)=ak untuk setiap k=1,2,3, maka berlaku
1

konvergen jika dan hanya jika

=1

konvergen.

Contoh Deret-p berbentuk Jika p1 diperoleh


1 =1 .

Misalkan p bilangan positif. Ambil fungsi kontinu f(x)=x-p.

9
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

=
1 1

1 1

lim 1 1

Karena lim = 0 untuk p>1 sedangkan lim = untuk p<1 maka dapat disimpulkan bahwa deret Jika p=1diperoleh
1 =1

konvergen bila p>1 dan divergen bila p<1.

=
1 1 1 =1

1 =

Dengan demikian bila p=1 maka deret 3) Uji Banding

divergen.

Dalam uji banding, deret yang akan ditentukan kekonvergenannya dibandingkan dengan deret lain yang sudah diketahui konvergen atau divergen. Teorema Andaikan 0 dan 0 untuk semua 1. Jika ada bilangan positif M sedemikian hingga untuk setiap k, maka i. ii. Bukti Misalkan = 1 + 2 + 3 + + dan = 1 + 2 + 3 + + . Karena untuk setiap k maka . Apabila konvergen berarti barisan Tn terbatas atas, misalnya dengan batas atas K. Dengan demikian untuk setiap n, hal ini berarti Sn konvergen karena barisan Sn ini monoton naik dan terbatas atas dengan batas atas MK. Dengan demikian deret Apabila konvergen. Jika Jika konvergen maka divergen maka konvergen. divergen.

divergen berarti ==lim sehingga lim = . Hal divergen.

ini berarti Tn divergen sehingga Terbukti.

Penghapusan beberapa suku pertama dari suatu deret tidak mempengaruhi kekonvergenan deret tersebut. Sehingga teorema di atas juga berlaku untuk nN. 10
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

Contoh Perhatikan deret


=1 2 2 1.

Untuk setiap k berlaku 2 2 1 2 maka 2 2 1

=1

=1

1 1 = 2 2

=1

1 juga divergen.

Karena Deret Harmonik

1 =1

divergen maka

=1 2 2 1

Teorema (Uji Banding limit) Andaikan 0 dan 0 untuk semua 1 dan lim = L.

i.

Jika 0<L< maka konvergen jika dan hanya jika Atau dengan kata lain divergen jika dan hanya jika divergen konvergen konvergen, maka konvergen

ii.

Jika L=0 dan

Teorema diatas mengatakan bahwa apabila L berupa suatu bilangan real maka kedua deret bersama-sama konvergen atau divergen. Bukti Karena lim = L berarti untuk setiap = 2 dapat ditentukan bilangan bulat

positif N sedemikian hingga untuk setiap k>N berlaku 3 < < < 2 2 2 Akibatnya 2 Dengan demikian i. Jika konvergen maka 2

<

<

3 2

konvergen sehingga

konvergen. 11

Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

ii.

Jika

konvergen maka

3 2

konvergen sehingga

konvergen.

Terbukti. Contoh Kita akan melihat kekonvergenan yang konvergen. Karena L=lim = lim 2 + = 1 (0 < < )

1 2

dengan memakai Deret Teleskopis

1 2 +

Maka deret

1 2

juga konvergen.

Teorema berikut dinamakan Uji Hasil Bagi Mutlak yang sangat penting dan sangat luas pemakaiannya. Pembuktian teorema tersebut menggunakan lemma berikuy. Lemma Jika Bukti Ambil = + . Karena 0 dan konvergen. Selanjutnya = sehingga = konvergen. Terbukti. konvergen maka konvergen maka juga konvergen.

Teorema (Uji Hasil Bagi Mutlak) Misalkan deret i. ii. iii. semua sukunya tak nol dan lim konvergen. divergen. mungkin konvergen dan mungkin
+1

Jika < 1, maka deret Jika > 1, maka deret

Tetapi jika = 1, maka deret

divergen. Artinya pengujian dengan cara ini gagal. Bukti

12
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

i.

Misalkan < 1. Ambil = lim


+1

+1 2

dalam hal ini 0 < < 1. Karena

= maka dapat dipilih bilangan asli N sedemikian hingga


+1

untuk setiap berlaku

< . Akibatnya

+1 < , +2 < +1 < 2 , +3 < 3 ,, + < , Selanjutnya


=
= =0

+ <
=0

=
=0

Karena 0<r<1 maka deret geometri


=

=0

konvergen akibatnya deret

konvergen. = 1 + 2 + 3 + + 1 + konvergen.
+1 =

Dengan demikian deret


=1

konvergen

dan

akibatnya
ii.

Misalkan > 1. Karena lim

> 1 maka dapat dipilih bilangan asli N


+1

sedemikian hingga untuk setiap berlaku

> 1. Selanjutnya

+1 > , +2 > +1 > , +3 > , Jadi untuk setiap maka berlaku > > 0. Berarti lim 0 (>aN atau tidak ada)sehingga deret iii. Deret Harmonik
1 =1

divergen. konvergen sedangkan keduanya

divergen dan deret-p

1 2

mempunyai nilai = 1. Contoh Perhatikan deret = lim


+1 3 =1 ! .

Kemudian
3 +1

= lim

3 !

= lim

3 +1

= 0(<1)

Dengan demikian deret tersebut konvergen. C. DERET TAYLOR Diketahui sebuah fungsi misalnya sin atau 2 . Dapatkah fungsi itu digambarkan sebagai suatu deret pangkat dari x atau, lebih umum dari x - a? 13
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

Jadi adakah bilangan-bilangan 0 + 1 + 2 ( )2 + 3 pada sebuah selang disekitar x = a Andaikan penggambaran yang demikian mungkin. Maka menurut teorema sebelumnya tentang pendeferensialan deret-deret, kita peroleh berturut-turut: = 1 + 22 + 33 ( )2 + 44 = 2! 2 + 3! 3 ( ) + 4 3 4
2 3 3

= 3! 3 + 4! 4 + 5 4 3 5 ( )2 + Apabila kita substitusikan x = a dan menghitung cn kita peroleh; 0 = () 1 = () 2 = 3 = Sehingga = () 2! () 3!

( ) !

Agar rumus untuk itu berlaku juga untuk n = 0, kita artikan f(0) sebagai f(a) dan 0! = 1. Jadi koefisien-koefisien ditentukan oleh fungsi f . Hal ini membuktuikan pula bahwa fungsi suatu pangkat dalam x - a yang berbeda. Hal ini kita tuangkan dalam teorema berikut: TEOREMA KETUNGGALAN Andaikan f memenuhi uraian: = 0 + 1 + 2 ( )2 + 3 untuk semua x dalam suatu selang sekitar a, maka: 14
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9
3

() !

Jadi suatu fungsi tidak dapat digambarkan oleh dua deret pangkat dari (x a). Kita akan menguraikan polynomial yang berpusat pada x = a. Hasil yang diperoleh nantinya disebut sebagai Deret Taylor. Jika hampiran f (x) dilakukan dalam interval dengan pusat x = a, maka p(x) dipilih sedemikian sehingga = untuk k = 1 , 2 , 3 ,. Polinomial p (x) akan berbentuk = 0 + 1 ( ) + 2
2

+ + ( ) + (**)

Nilai koefisien 0 , 1 , , , dapat diperoleh dengan cara penurunan. Sehingga diperoleh: = 0 = 1, "() = 2! 2 , () = 3! 3, , ( ) () = ! , Agar = untuk k = 1,2,3,,n maka haruslah: 0 = , 1 = () " () () () , 2 = , 3 = , , = , 1! 2! 3! !

Jika hasil ini disubstitusikan ke dalam polynomial (**) didapat Deret Taylor di sekitar x = a seperti dinyatakan dalam definisi sebagai berikut. Definisi Jika fungsi f dapat diturunkan secara terus-menerus di x = a, maka Deret Taylor dari fungsi f didefinisikan sebagai berikut. = + 1!

"() 2!

3!

Seringkali ada baiknya menyatakan Deret Taylor dengan menggunakan notasi sigma sebagai berikut.

15
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

=0

= + +
1

"() 2!

+ +

Contoh Tentukan Deret Taylor untuk di sekitar x = 1 Jawab Ambil fungsi = , maka = 1 1 = 1 = 0! 1 1 = 1 = 1! 2
1

= =

2 1 = 2 = 2! 3 6 1 = 6 = 3! 4

= 1

! +1

1 = 1 !

Sehingga deret Taylornya adalah


1 !( ) =0 !

=0

1 ( 1) = 1 ( 1)2 + ( 1)3 +

D. DERET MAC LAURIN Deret Taylor dari sebuah fungsi riil atau fungsi kompleksf(x) yang terdiferensialkan takhingga dalam sebuah persekitaran sebuah bilangan riil atau kompleksa adalah deret pangkatyang dalam bentuk lebih ringkas dapat dituliskan sebagai :

=0

( )

16
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

dengan n! melambangkan faktorialn dan f (n)(a) melambangkan nilai dari turunan ke-n dari f pada titik a. Turunan kenol dari f didefinisikan sebagai f itu sendiri, dan (x a)0 dan 0! didefinisikan sebagai 1. Dalam kasus khusus di mana a = 0, deret ini disebut juga sebagai Deret Maclaurin. Ide awal dari deret MacLaurin adalah sebuah fungsi dapat dinyatakan dalam bentuk deret polinomial. Misalkan = 0 + 1 + 2 2 + 3 3 + Jika kita memasukkan nilaix=0, maka kita dapatkan 0 = 0 Kemudian kita turunkan fungsi tersebut terhadapx, maka kita dapat = 1 +22 + 33 2 +44 3 + Dan jika kita memasukkan nilaix=0, kita dapat 0 = 1 Kita turunkan fungsi tersebut sekali lagi = 22 +(2.3)3 + (3.4)4 2 + Masukkan lagi x=0 dan kita dapat 0 = 22 1 0 = 2 2 Ulangi lagi langkah yang selanjutnya, sehingga kita dapat = 1 ! , = 0

Jadi, deret MacLaurin dapat ditulis dengan = 0 + 0 2 3 + 0 + 0 + 1! 2! 3!

17
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

Tapi tidak semua fungsi bisa dinyatakan dalam bentuk tersebut, contohnya. =
1

Untuk itu, Taylor membuat deret yang lebih umum. Deret Taylor mirip dengan deret

MacLaurin, tapi angka yang dimasukkan bukan0, tapi sebuah nilai. Contoh 1 Tentukan deret maclaurin untuk sin x dan buktikan bahwa deret itu menggambarkan sin x untuk semua x. Penyelesaian = sin = cos = sin 0 = 0 0 = 1 = 0

= cos = 1
4

= sin

0 =0

Sehingga, 3 5 7 sin = + + + 3! 5! 7! Uraian deret ini akan berlaku untuk semua x asal dapat dibuktikan bahwa lim = lim +1 ( ) +1 =0 ( + 1)!
+1

sekarang | ()|

+1

= cos

= sin dan juga

| | +1 ( +1)! !

Akan tetapi lim

= 0, oleh karena itu

adalah suku ke-n sebuah deret yang

konvergen. Jadi lim () = 0 E. DERET BINOMIAL Kita mengenal Rumus Binomial, yaitu bahwa untuk p bilangan bulat positif berlaku: 18
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

1 + dengan =

=1+

2 + + + 2 1

1 2 ( +1) !

Perhatikan bahwa symbol

mempunyai arti untuk tiap bilangan riil p, asal saja k

bulat positif. Dengan ini kita dapat menyusun teorema berikut: TEOREMA DERET BINOMIAL Untuk tiap bilangan riil p dan |x| < 1 berlaku 1 + Dengan

=1+

2 3 + + + 2 3 1

seperti telah didefinisikan diatas

Bukti parsial; Andaikan = 1 + . Kemudian = 1 + = 1 + = ( 1) 1 + = 1 ( 2) 1 +


1 2 3

0 = 1 0 = 0 = ( 1) 0 = ( 1)( 2)

Diperolehlah deret MacLaurin dalam teorema. Sehingga terbukti deret Binomial di atas. DERET MACLAURIN YANG PENTING 1.
1 1

= 1 + + 2 + 3 + 4 + 1 < < 1

Bukti: Misal 1 = () Jelas = 1 0 = 1 19


Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9
1 1

1 1 2 1

0 = 1 0 = 2 0 = 6 0 = 24

() = 2 = 6

1 3 1 1 4

= 24

1 1 5

Deret MacLaurin untuk f(x) adalah: = 0 + 0 +


0 2!

2 +

0 3!

3+

0 4!

4 +
1

Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk = 1 adalah:


1 1

= 1 + 1 + 2 2! 2 + 6 3! 3 + 24 4! 4 + = 1 + + 2 2 + 6 3 + 24 4 + = 1 + + 2 + 3 + 4 +
2 6 24

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk = 1 adalah: 1 = 1 + + 2 + 3 + 4 + 1 < < 1 1

2. ln 1 + = Bukti:

2 2

3 3

4 4

5 5

1 < 1

Misal ln 1 + = () Jelas = ln 1 + 0 = 0 = (1+x) 0 = 1 = = 2


1 1 2 1 1 3 1

0 = 1 0 = 2 1 1
4

= 6 Deret MacLaurin untuk g(x) adalah:

0 = 6

20
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

= 0 + 0 +

0 2!

2 +

0 3!

3+

0 4!

4 +

Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk = ln 1 + adalah: ln 1 + = 0 + 2! 2 + 3! 3 4! 4 + = 2 2 + 6 3 24 4 + =


2 2 1 2 6 1 2 6

3 3

4 4

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk = ln 1 + adalah: 2 3 4 5 ln 1 + = + + 2 3 4 5 3. 1 = Bukti: Misal tan1 = () Jelas = tan1
1 3 3

1 < 1 1 1

5 5

7 7

9 9

0 = 0

= 1+x 2 = 1 2 + 4 6 + 8 + 0 = 1 = 2 + 4 3 6 5 + 8 7 + = 24 120 3 + 336 5 + = 24 360 3 + 1680 4 + Deret MacLaurin untuk h(x) adalah: = 0 + 0 +
0 2! 0 3!

0 = 0
0

= 2 + 12 2 30 4 + 56 6 +

= 2

0 = 0 0 = 24
0 4!

2 +

3+

4 +

Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk = tan1 adalah: tan1 = 0 + 1 + 2! 2 3! 3 + 4! 4 + = 6 3 + 120 3 + =


3 3 2 24 0 2 0 24 5!

5 +

5 5

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk = tan1 adalah: 1 = 3 5 7 9 + + 3 5 7 9


1

1 1

4. = 1 + + 2! 2 + 3! 3 + 4! 4 + Bukti: Misal = () 21
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

Jelas = = = = = Deret MacLaurin untuk k(x) adalah: = 0 + 0 +


0 2!

0 = 0 = 1 0 = 0 = 1 0 = 0 = 1 0 = 0 = 1 0 = 0 = 1

2 +

0 3!

3+

0 4!

4 +

Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk = adalah: = 1 + + 2! 2 + 3! 3 + 4! 4 + Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk = adalah = 1 + + 5. sin = Bukti: Misal sin = () Jelas = sin = cos = sin = cos = sin Deret MacLaurin untuk l(x) adalah: = 0 + 0 +
0 2! 0 3! 3 3! 1 1 1

1 2 1 3 1 4 + + + 2! 3! 4!

5 5!

7 7!

9 9!

0 = 0 0 = 1 0 = 0 0 = 1 0 = 0
0 4!

2 +

3+

4 +

Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk = sin adalah: sin = 0 + + 2! 2 3! 3 + 4! 4 + 5! 5 + 6! 6 7! 7 + 8! 8 + 3 5 7 9 = + + 3! 5! 7! 9! Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk = sin adalah: sin = 3 5 7 9 + + 3! 5! 7! 9! 22
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9
0 1 0 1 0 1 0

6. cos = 1 Bukti:

2 2!

4 4!

6 6!

+ + 8!

Misal cos = () Jelas = cos = sin = cos = sin = cos Deret MacLaurin untuk m(x) adalah: = 0 + 0 +
0 2!

0 = 1 0 = 0 0 = 1 0 = 0 0 = 1
0 3! 0 4!

2 +

3+

4 +

Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk = cos adalah: cos = 1 + 0 2! 2 + 3! 3 + 4! 4 + 5! 5 6! 6 + =1 1 2 1 4 1 6 + + 2! 4! 6! 1 2 1 4 1 6 + + 2! 4! 6!


1 0 1 0 1

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk = cos adalah: cos = 1 7. cosh = 1 + Bukti: Fungsi sinus hiperbolikus didefinisikan sebagai: sinh = Dan Fungsi cosinus hiperbolikus didefinisikan sebagai: cosh = Misal cosh = () Jelas = cosh = sinh = cosh = sinh = cosh Deret MacLaurin untuk n(x) adalah: 23
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9
2 2!

4 4!

6 6!

+ + 8! +

+ 2 0 = 1 0 = 0 0 = 1 0 = 0 0 = 1

= 0 + 0 +

0 2!

2 +

0 3!

3+

0 4!

4 +

Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk n = cosh adalah: cosh = 1 + 0 + 2! 2 + 3! 3 + 4! 4 + 5! 5 + 6! 6 + =1+ 2 4 6 + + + 2! 4! 6! 2 4 6 8 + + ++ + 2! 4! 6! 8!


1 0 1 0 1

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk = cosh adalah: cosh = 1 +

8. sinh = + Bukti:

3 3!

5 5!

7 7!

9 9!

Fungsi sinus hiperbolikus didefinisikan sebagai: sinh = 2 Dan Fungsi cosinus hiperbolikus didefinisikan sebagai: + cosh = 2 Misal sinh = () Jelas = sinh = cosh = sinh = cosh = sinh Deret MacLaurin untuk p(x) adalah: = 0 + 0 +
0 2! 0 3!

0 = 0 0 = 1 0 = 0 0 = 1 0 = 0
0 4!

2 +

3+

4 +

Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk p = sinh adalah: sinh = 0 + 1 + 2! 2 + 3! 3 + 4! 4 + 5! 5 + 6! 6 + = + 3 5 + + 3! 5! 3 5 7 9 + + + + 3! 5! 7! 9! 24


Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9
0 1 0 1 0

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk = sinh adalah: sinh = +

9.

1 +

= 1+

2 +

3 +

4 +

1 < < 1

Telah dibuktikan pada teorema sebelumnya.

Jadi kita peroleh beberapa deret Maclaurin yang penting adalah sebagai berikut: 1.
1 1

= 1 + + 2 + 3 + 4 +
2 2

1 < < 1 1 < 1 1 1

2. ln 1 + = 3. 1 =
3 3 1

+
5 5

3 3

7 7

4 4

+
9 9 1

5 5

4. = 1 + + 2! 2 + 3! 3 + 4! 4 + 5. sin = 6. cos = 1
3 3! 2 2!

+ +

5 5! 4 4!

7 7! 6 6!

9 9!

+ + 8! + + 8! + +
9 9! 8

7. cosh = 1 + 8. sinh = + 9. 1 +

2 2! 3 3!

+ +
1

4 4! 5 5!

+ +

6 6! 7 7! 2

+
3

= 1+

2 +

3 +

4 +

1 < < 1

F. OPERASI DERET PANGKAT a. Perkalian Misal ; = cos Menurut pembuktian pada deret maclaurin sebelumnya, jelas bahwa: = 1 + + Dan cos = 1 1 2 1 4 1 6 + + 2! 4! 6! 2 3 4 + + + 2! 3! 4! 2 4 + + 2! 4! 1 2 1 3 1 4 + + + 2! 3! 4!

Sehingga diperoleh; cos = 1 + + 1

2 3 4 = 1 + + + + + 2! 3! 4!

25
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

2 3 4 2! 3! 4! + 4! + 3 4 = 1 + + 0 3 6
2 4

3 4 = 1 + 3 6 Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk cos adalah; cos = 1 + b. Pembagian Misal ; = tan Jelas () = tan = cos Menurut pembuktian pada deret maclaurin sebelumnya, jelas bahwa: 3 5 7 9 sin = + + 3! 5! 7! 9! Dan cos = 1 1 2 1 4 1 6 + + 2! 4! 6! 3 2 5 + 3 15
5 5! sin

3 4 + 3 6

Sehingga diperoleh + 1
2 2!

4!

3 3!

3 5 + 2! 4!

3 5 3 30 3 5 + 3 6 2 5 , 15 Jadi ekspansi deret Maclaurin untuk tan x adalah; 26


Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

tan = +

3 3

+ 15 5

c. Binomial Misal ; = 1
2

Menurut rumus binomial, bahwa: 1 + dengan =

=1+
!

2 3 + + + 2 3 1

1 2 ( +1)

Maka diperoleh: 1 +
2

= 1 + 2 +

2 3 2 2 3 4 3 + + 2! 3!

= 1 2 + 3 2 4 3 + Sehingga 1 1
2

= 1 + 2 + 3 2 + 4 3 +
2

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 1


2

adalah;

= 1 + 2 + 3 2 + 4 3 +

d. Substitusi Misal ; ( ) = tan Menurut pembuktian pada deret maclaurin sebelumnya, jelas bahwa: = 1 + + 2! 2 + 3! 3 + 4! 4 + Dan sin 3 2 tan = = + + 5 cos 3 15 Sehingga diperoleh;
tan 1 1 1

3 1 3 = 1 + + + + + + 3 2! 3 = 1 + + + 2 2! + 3 + 3 + 1 2 4 + 2! 3

1 3 + + + 3! 3

1 + 4!

3 4 + + 3! 4!

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk tan adalah;

27
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

tan

2 3 3 4 = 1 + + + + + 2 2 8

e. Metode kombinasi Misal ; 0 = 1 0 = 1 1+ 2 Menurut rumus binomial, bahwa: 1 + dengan = 1 + 2


1

=1+
!

2 3 + + + 2 3 1

1 2 ( +1)

Maka diperoleh: = 1 2 + 4 6 +

Sehingga diperoleh; = 1 + 2 1 2 + 4 6 +
0

= =

3 5 7 + + 3 5 7 0 3 5 7 + + 3 5 7

Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 1 adalah; 3 5 7 = + + 3 5 7


1

28
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

SOAL TUGAS AWAL


KELOMPOK 9 DERET TAYLOR DAN DERET MACLAURIN

1.

Tulislah definisi dari deret berikut:

a. b. c.
2.

Deret Pangkat Deret Taylor Deret Maclaurin

Tentukan ekspansi deret Taylor di sekitar fungsi berikut dan nyatakan dalam bentuk notasi sigma:

a. b.
3.

1 ;a 3 x2 f ( x) x ; a 25 f ( x)

Tentukan ekspansi deret Maclaurin untuk fungsi berikut dan nyatakan dalam bentuk notasi sigma untuk f(x) dan g(x):

a. f ( x) e x , g ( x) sin x , dan h( x) f ( x) g ( x) x 1 dt b. sin 1 x 0 1 t 2

29
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

DAFTAR PUSTAKA
Boas, Mary.L, 1983. Mathematical Methods in The Physical Sciences. Depaul University: USA Purcell. Edwin J dan Varberg. D.1987. Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 2. Erlangga: Jakarta Schaum, 1981. Calculus. McGraw-Hill International Book Company: Singapore Sugiman. 2005. Kalkulus Lanjut. UMP Press.: Malang

30
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9