Anda di halaman 1dari 3

NAMA NIM/ BP JURUSAN/ PRODI ALAMAT NO.

HP

: : : : :

RIO MASTRI 1101714/ 2011 SEJARAH/ PENDIDIKAN SEJARAH PARUPUK RAYA, BLOK B, NO. 39, TABING 085355641336

ABSOLUT MONARKI PERGURUAN TINGGI

Absolut monarki merupakan suatu bentuk sistem kerajaan yang mengakui keberadaan seorang raja sebagai pemegang kekuasaan mutlak atas kerajaannya. Sistem ini merupakan salah satu sistem yang paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Dalam sejarah Indonesia, sistem ini telah hilang bersamaan dengan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam perkembangannya di Indonesia sistem absolut monarki digantikan dengan sistem pemerintah yang demokrasi yang diterapkan hingga saat ini. Sistem pemerintahan absolut monarki yang diterapkan di Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan tidak mencakup keseluruhan wilayaah Indonesia, melainkan hanya sebagian wilayah kerajaan saja, sebagai contohnya Kerajaan Majapahit yang hanya menerapkan sistem tersebut di wilayah yang berada di bawah kekuasaannya saja. Di Sumatera yang menerapkan sistem ini salah satunya adalah Kerajaan Sriwijaya. Selain dari yang tersebut di atas masih banyak kerajaan-kerajaan lain yang menerapkan sistem ini di masing- masing wilayahnya. Itulah sedikit tentang sistem absolut monarki yang terdapat di Indonesia sebelum diakuinya Indonesia sebagai negara kesatuan oleh dunia. Kita beranjak ke persoalan edukasi di Indonesia. Di negara kita ini, edukasi sangat dijunjung tinggi oleh pemerintah, sebagai contohnya bisa dilihat dari pengalaman sejarah Indonesia pada awal masa pergerakan hingga sekarang.

Pada awal abad ke-20, Indonesia mulai memiliki kesadaran untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajahan Belanda. Inilah yang disebut sebagai masa awal pergeragakan. Peristiwa ini ditandai dengan berdirinya oraganisasi yang kita kenal sekarang ini dengan nama Budi Utomo dan hari berdirinya oraganisasi ini sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, yaitu tanggal 20 Mei. Organisasi inilah yang dipercaya hingga sekarang sebagai organisasi perintis kebangkitan bangsa Indonesia. Latarbelakang dari berdirinya organisasi ini adalah buah pemikiran dari dr. Wahidin Sudirohusodo yang ingin mendirikan sebuah organisasi yang fokus kepada usaha untuk memberikan bantuan biaya bagi pelajar Indonesia yang ingin memasuki dunia pendidikan. Seiring berjalannya waktu, pada masa Indonesia setelah kemerdekaan,pendidikan tetap mendapatkan posisi yang istimewa dalam upaya mencerdaskan bangsa. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dapat kita lihat dari kebijakan yang diambil oleh Menteri Pendidikan dalam merubah kurikulum pendidikan agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagi perguruan tinggi yang berorientasi pada pendidikan, seperti salah satunya Universitas Negeri Padang, diharuskan mengikuti perkembangan kurikulum pendidikan agar calon-calon tenaga pendidik dapat menyesuaikan sistem yang akan diterapkannya dalam proses belajar mengajar dengan kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, dosen adalah tenaga pendidik yang ditakdirkan sebagai pemegang kunci dari kesuksesan kemajuan pendidikan di Indonesia. Tugas utama dari dosen adalah mendidik para mahasiswanya agar dapat berpikir lebih maju dan merubah pola pikir mahasiswa-mahasiswanya agar dapat menganalisis sesuatu dengan lebih kritis. Saya sangat menghormati dan menghargai tugas yang dijalankan oleh para dosen. Tapi, ada sebagian kebijakan yang diterapkan oleh dosen walaupun tidak semua dosen yang menerapkannya kepada mahasiswa yang tidak dapat saya terima, dan menurut asumsi saya kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang tidak adil bagi mahasiswa. Problem inilah yang telah menginspirasi saya untuk menulis karangan ini dengan judul Absolut Monarki di Perguruan Tinggi.

Dalam tulisan ini saya akan memberikan segelintir contoh dari apa yang mungkin pernah saudara-saudara seperjuangan alami. Sebenarnya, tentang konsep absolut monarki itu hanya berlaku dalam pemerintah kerajaan, tapi di sini saya mencoba menganalisis kecenderungan sifat dosen dengan sifat para raja sebagai penganut sifat absolut yang juga dianut oleh para raja. Sifat absolut di sini dalam arti lainnya dapat dikatakan sebagai hak mutlak. Hak itu dapat berbentuk kebijakan dosen dalam menentukan pokok-pokok pembahasan disetiap pertemuan, yang telah terangkum dalam silabus yang dibagikan pada pertemuan pertama. Hak ini saya anggap wajar, bahkan diwajibkan bagi setiap dosen untuk membagikannya pada mahasiswa dan disertai dengan daftar referensi yang diperlukan. Sedangkan hak lainnya dapat dilihat dalam bentuk kebijakan yang diterapkan dosen untuk menentukan sikap terhadap mahasiswanya. Kebijakan inilah yang terkadang tidak dapat saya terima, mungkin saudara-saudara seperjuangan juga sependapat dengan saya. Dalam proses pembelajaran, sebagian dari dosen ada yang bersikap tidak adil terhadap mahasiswanya. Sebagai contoh, dalam sebuah mata kuliah, jika mahasiswa telat, dosen akan mengusirnya walaupun tidak semua dosen yang menerapkan sikap demikian tanpa mau mendengar alasan dari mahasiswa tersebut. Bagaimana jika yang telat itu adalah dosen? Contoh lainnya adalah tentang mahasiswa yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dosen berdasarkan apa yang dibacanya dari buku referensi yang disarankan dalam silabus. Ternyata jawaban itu berubah menjadi musibah bagi mahasiswa tersebut, karena dosen menolaknya secara mentah-mentah, ditambah lagi dengan kritik ketidaksetujuan dosen terhadap referensi yang dibaca oleh mahasiswa tersebut, yang lebih mengejutkan lagi adalah alasan dari ketidaksetujuan dosen itu karena ia sendiri tidak setuju dengan apa yang dijelaskan dalam referensi yang disarankannya itu. Ternyata, jawaban yang benar adalah jawaban yang tidak berdasarkan pada referensi tersebut, tetapi mengacu kepada apa yang dianggapnya benar. Contoh yang saya paparkan di atas merupakan pengalaman pribadi dan juga pengalaman dari saudara-saudara seperjuangan yang sempat menceritakan pengalamannya pada saya. Selain yang dipaparkan di atas, masih banyak contoh-contoh lain yang sengaja tidak saya tulis, karena saya merasa dua contoh di atas sudah cukup untuk mewakilinya. Maaf dari saya untuk siapa saja yang merasa tidak nyaman membaca tulisan ini.