Anda di halaman 1dari 8

1. Mekanisme kerja kortikosteroid Kortikosteroid bekerja denga mempengaruhi kecepatan sintesis protein.

Molekul hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif. Hanya di jaringan target hormon ini bereaksi dengan reseptor protein spesifik dalam sitoplasma sel dan membentuk kompleks reseptor-steroid. Komples ini mengalami perubahan konformasi, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini yang akan menghasilkan efek fisiologik steroid.1

2. Efek samping kortikosteroid Ada dua peyebab timbulnya efek samping pada penggunaan kortikosteroid. Efek samping timbul karena penghentian pemberian secara tiba-tiba atau pemberian terusmenerus terutama dengan dosis besar.1 a. Efek akibat penghentian pemberian secara tiba-tiba. Pemberian kortikosteroid jangka lama yang dihentikan tiba-tiba dapat

menimbulkan insufisiensi adrenal akut dengan gejala demam, mialgia, artralgia, dan malaise. Insufisiensi terjadi akibat kurang berfungsinya kelenjar adrenal yang telah lama tidak memproduksi kortikosteroid endogen karena rendahnya mekanisme umpan balik oleh kortikosteroid eksogen.1 b. Efek akibat pemberian terus-menerus terutama dengan dosis besar. Trias efek samping, yaitu hiperglikemia, osteoporosis, dan hipertensi.2 1) Hiperglikemia

Kortikosteroid

menyebabkan

hiperglikemia

melalui

peningkatan

glukoneogenesis hati dan penurunan ambilan glukosa oleh jaringan perifer. Kortikosteroid juga meningkatkan resistensi insulin melalui penurunan kemampuan adiposa dan hepatosit untuk berikatan dengan insulin. Hiperglikemia terkait pemberian kortikosteroid bersifat reversibel, gula darah akan kembali normal setelah penghentian kortikosteroid.3,4 Pasien yang menerima kortikosteroid oral memiliki risiko 2,23 lebih besar untuk mengalami hiperglikemia. Selain itu, suatu meta-analisis menunjukkan bahwa diabetes ditemukan empat kali lebih sering pada kelompok yang menerima kortikosteroid di bandingkan plasebo.4 2) Osteoporosis(penurunan densitas tulang) Kortikosteroid menyebabkan penurunan kadar kalsium darah melalui penghambatan absorbsi kalsium oleh usus halus dan peningkatan ekskresi kalsium di urin. Kadar kalsium darah yang rendah menstimulasi sekresi hormon paratiroid sehingga terjadi peningkatan aktivitas osteoklas dan absorbsi tulang. Hal itu ditujukan untuk memperbaiki keseimbangan kalsium serum, namun menyebabkan penurunan densitas tulang.3 Kecepatan penurunan densitas tulang lebih tinggi pada enam bulan pertama terapi (sebesar 10%) dan menurun setelahnya (2-5% per tahun).4 Kortikosteroid juga menghambat aktivitas osteoblas dan menginduksi apoptosis osteoblas serta osteosit sehingga terjadi osteoporosis.3 3) Hipertensi Peningkatan volume plasma terjadi melalui ikatan antara kortikosteroid dengan reseptor pada sel epitel renal distal tubular. Ikatan tersebut

menyebabkan peningkatan reabsorbsi natrium dan retensi cairan sehingga volume plasma bertambah dan meningkatkan tekanan darah. Hipertensi akibat pemberian kortikosteroid bergantung pada dosis dan lama pemberian.3

3. Dosis yang menyebabkan efek samping Osteoporosis terutama terjadi pada pasien yang menerima kortikosteroid dengan dosis yang setara dengan prednison >5 mg/hari. Oleh sebab itu, pengukuran densitas tulang dianjurkan untuk pasien yang akan menerima kortikosteroid dengan dosis ekuivalen prednison > 7,5 mg/hari selama lebih dari 1-3 bulan.4

Hipertensi umumnya ditemukan pada pasien yang menerima kortikosteroid dengan dosis ekuivalen prednison >20 mg/hari.4 4. Sindrom Cushing a. Definsi Sindrom Cushing adalah suatu kondisi langka yang terjadi ketika ada kelebihan kortisol dalam tubuh. Kortisol adalah hormon yang biasanya dibuat oleh kelenjar adrenal dan diperlukan untuk kehidupan. Hal ini memungkinkan kita untuk menanggapi situasi stres seperti sakit atau cedera, dan memiliki efek pada hampir semua jaringan tubuh. Hal ini diproduksi dalam berbagai jumlah selama hari, sebagian besar di pagi hari, dengan sangat sedikit di malam hari.5 Sindrom Cushing mengacu pada kondisi yang disebabkan oleh kelebihan kortisol dalam tubuh, apapun penyebabnya. Ketika Sindrom Cushing ini disebabkan oleh tumor hipofisis, hal itu disebut penyakit Cushing.5 Sindrom Cushing lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pada laki-laki dan sering terjadi antara usia 20 dan 40.5 b. Etiologi Sindrom Cushing dapat disebabkan oleh kortisol seperti obat (disebut glukokortikoid) atau tumor. Kadang-kadang, ada tumor adrenal kelenjar (s) yang membuat terlalu banyak kortisol. Sindrom Cushing juga dapat disebabkan oleh tumor di kelenjar hipofisis (kelenjar kecil di bawah otak yang menghasilkan hormon yang pada gilirannya mengatur kelenjar hormon lain tubuh). Beberapa tumor hipofisis

menghasilkan hormon yang disebut hormon adrenokortikotropik (ACTH), yang merangsang kelenjar adrenal dan menyebabkan mereka membuat terlalu banyak kortisol, ini disebut penyakit Cushing. Tumor produksi-ACTH juga dapat berasal di tempat lain dalam tubuh dan ini disebut sebagai tumor ektopik.5

Gambar: etiologi sindrom Cushing 6

c. Gejala klinis Gejala dan tanda yang utama dapat dilihat pada tabel dibawah ini: 5

Gejala yang paling umum pada orang dewasa adalah kenaikan berat badan (terutama di badan, dan sering tidak disertai dengan kenaikan berat badan di lengan dan kaki), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan perubahan dalam memori, suasana hati dan konsentrasi.5

Gambar: gejala klinis sindrom Cushing8

d. Diagnosis Algoritma untuk mengevaluasi pasien tersangka menderita Sindrom Cushing.7

e. Terapi Pengobatan Sindrom Cushing disesuaikan berdasarkan penyebab utama dari sindrom. Secara umum, terapi harus mengurangi sekresi kortisol normal untuk mengurangi risiko komorbiditas terkait dengan hypercortisolism. Pengobatan untuk sindrom Cushing eksogen adalah penarikan bertahap glukokortikoid.8 1) Farmakoterapi Obat-obatan yang digunakan dalam pengelolaan sindrom Cushing meliputi : a) Analog somatostatin ( misalnya, pasireotide )

b) Inhibitor steroid adrenal (misalnya, metyrapone, ketoconazole, aminoglutethimide, mifepristone ) 2) Pilihan bedah Mengangkat tumor pelakunya, jika memungkinkan. Pengobatan pilihan untuk sindrom Cushing endogen adalah reseksi bedah tumor penyebab. Terapi utama untuk penyakit Cushing adalah transsphenoidal operasi, dan terapi utama untuk tumor adrenal adalah adrenalectomy. a) Intervensi bedah lain meliputi: b) iradiasi pituitary c) adrenalectomy bilateral d) adrenalectomy sepihak e) reseksi karsinoma Pasien dengan sindrom Cushing endogen yang menjalani reseksi tumor hipofisis, adrenal, atau ektopik harus menerima dosis stres glukokortikoid dalam intraoperatif dan periode pasca operasi segera, juga dalam hal kerusakan hipofisis atau bilateral adrenalectomy, pengganti glukokortikoid seumur hidup diperlukan. Pengganti mineralokortikoid seumur hidup juga diperlukan pada pasien yang menjalani adrenalektomi bilateral. Sumber: 1. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. Jakarta: FKUI. 2007. 2. McGhee CNJ, Dean S, Meyer HD. Locally administered ocular corticosteroid: benefits and risks. Drug Safety. 2002;(1):33-55. 3. Fardet L, Kassar A, Cabane J, Flahault A. Corticosteroid-induced adverse events in adults: frequency, screening, and prevention. Drug Safety. 2007;30(10):861-81. 4. Wong GK, Poon WS, Chiu KH. Steroid-induced avascular necrosis of the hip in neurosurgical patients: epidemiological study. ANZ J Surg. 2005;75:409-10. 5. Nleman, Lynnette and Swearingen, Brooke. Chusings Syndrome and Cushings Disease Your Questions and Answered. New York: The Pituitary Society. 2013. 6. Kumar, Vinay. Cotran, Ramzi S. Robbins, Stanley L. Buku Ajar Patologi Robbins, Ed. 7, Vol. 2. Jakarta: EGC. 2012.

7. The Endrocine Society. The Diagnosis of Cushings Syndrome: An Endocrine Society Clinical Prantice Guideline. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, May 2008, 93 (5) : 1526-1540. 8. Adler, Gail. Cushing Syndrome. Diambil dari http://emedicine.medscape.com/article/
117365-overview#showall pada tanggal 7 Oktober 2013.