Anda di halaman 1dari 2

1

PENDAHULUAN
Tumbuhan obat asli Indonesia sampai saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat dalam pengobatan berbagai jenis penyakit. Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat berdasarkan pada pengalaman dan keterampilan yang diwariskan turun-temurun. Salah satu tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional adalah biji mahoni daun kecil (Swietenia mahagoni Jacq.). Mahoni daun kecil merupakan famili Meliaceae, lazim ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung. Secara tradisional, bijinya berkhasiat sebagai obat tekanan darah tinggi, kencing manis, perangsang nafsu makan, obat rematik, demam, masuk angin, encok, dan eksim (Dalimartha 2007). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk penelusuran kandungan aktif dan bioaktivitas yang dimiliki biji mahoni. Biji mahoni mengandung senyawa bioaktif yang bersifat toksik terhadap larva udang Artemia salina Leach dan berpotensi sebagai obat (Sianturi 2001). Fraksi aktif biji mahoni dapat menghambat pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae (Putri 2004). Ekstrak metanol, heksana, dan etil asetat biji mahoni terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis (Haryanti 2002). Menurut Setiani (2009), biji mahoni juga dapat menghambat pertumbuhan sel kanker payudara T47D dengan nilai konsentrasi hambat 50% (IC50) sebesar 49.12 ppm dan mengandung senyawa alkaloid serta steroid/triterpenoid. Ekstrak metanol batang kayu famili Meliaceae mengandung terpenoid yang bersifat toksik pada ikan Oryzias latipes pada konsentrasi 5 ppm dan dapat menghambat aktivitas bakteri Gram positif pada konsentrasi 520 ppm (Mulholland et al 1998). Ekstrak etanol dari biji mahoni Afrika mengandung tetranortriterpenoid dan berpotensi sebagai insektisida (Govindachari & Kumari 1998). Shahidur et al. (2009) melaporkan bahwa ekstrak metanol biji mahoni mengandung 2 jenis senyawa limonoid, yaitu swietenolida dan 2-hidroksi-3-O-tigloilswietenolida, dan memiliki aktivitas sebagai antibakteri (Gambar 1). Ekstrak kasar metanol biji mahoni berpotensi sebagai antimikrob yang dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeroginosa, Streptococcus faecalis, dan Proteus mirabillase (Sahgal et al. 2009). Selain itu, ekstrak metanol-air (3:2) biji mahoni berpotensi menurunkan kadar gula

darah pada tikus dalam 21 hari (Debasis et al. 2010)

(a)

(b) Gambar 1 Struktur senyawa limonoid, yaitu swietenolida (a) dan 2-hidroksi-3O-tigloilswietenolida (b). Kandungan senyawa kimia biji mahoni (Gambar 2) di antaranya flavonoid, saponin, alkaloid, steroid/triterpenoid, dan tanin (Sianturi 2001; Haryanti 2002; Setiani 2009). Flavonoid diketahui mampu berperan menangkap radikal bebas atau sebagai antioksidan alami (Amic et al. 2003; Lugasi et al. 2003).

Gambar 2 Biji mahoni daun kecil. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat oksidasi molekul lain.

Penggunaan antioksidan alami pada saat ini menjadi alternatif yang dipilih karena terdapat kekhawatiran terhadap efek samping antioksidan sintetik. Antioksidan alami mampu melindungi tubuh terhadap kerusakan yang disebabkan oleh spesies oksigen reaktif dan mampu menghambat penyakit degeneratif (Sunarni et al. 2007). Tanaman (buah, sayuran, tanaman herbal, dan lainnya) mengandung senyawa yang dapat menangkap molekul radikal bebas, contohnya senyawa fenolik (flavonoid, asam fenolat, kuinon, dan tanin) (Harnly et al. 2006). Khasiat biji mahoni yang mengandung flavonoid sebagai antioksidan perlu diuji secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan mengisolasi, mengidentifikasi golongan flavonoid, dan menguji aktivitas antioksidan. Selain itu, dilakukan juga analisis gugus fungsi senyawa yang terkandung dalam biji mahoni menggunakan spektrofotometer inframerah transformasi Fourier (FTIR). Potensi antioksidan penangkap radikal ditentukan menggunakan radikal 1,1-difenil2-pikrilhidrazil (DPPH). Metode uji ini dipilih karena sederhana, cepat, dan peka untuk evaluasi aktivitas antioksidan dari senyawa bahan alam (Hanani et al. 2005). Senyawa yang aktif sebagai antioksidan akan mereduksi radikal bebas DPPH menjadi difenilpikrilhidrazina (Amic et al. 2003). Uji kemurnian fraksi aktif menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) 2 dimensi dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Flavonoid yang merupakan komponen fenolik memberikan serapan pada panjang gelombang 240 dan 270 nm, dan antara 320 dan 380 nm. Pada KCKT, digunakan detektor ultraviolet (UV) atau UV-tampak (Lee 2000). Spektrofotometer FTIR merupakan cara paling sederhana dalam menentukan golongan senyawa. Spektrum FTIR dapat menunjukkan adanya beberapa gugus fungsi yang merupakan pita-pita khas yang teramati dalam spektrum senyawaan fenolik (Silverstein et al. 2005).

pekat, butil hidroksitoluena (BHT), etil asetat, NaOH 0.1 N, n-heksana, HCl 2 N, DPPH, pereaksi Mayer, Wagner, Dragendorf, dan Lieberman-Buchard. Alat-alat yang digunakan adalah peralatan kaca yang biasa digunakan di laboratorium, KLT preparatif, pelat KLT GF254, penguap putar, spektrofotometer UV-Tampak Pharmaspec 1700 Shimadzu, KCKT 20 AD.Prominance UFLC Shimadzu, dan spektrofotometer FTIR Bruker Trensor 37. Kadar Air Diagram alir penelitian ditunjukkan pada Lampiran 1. Cawan porselen dikeringkan pada suhu 105 oC selama 3 jam. Cawan kemudian didinginkan dalam eksikator dan ditimbang bobot keringnya. Sampel ditimbang sebanyak 3 g dimasukkan ke dalam cawan tersebut dan dipanaskan di dalam oven dengan suhu 105 oC selama 3 jam. Setelah itu, cawan didinginkan dalam eksikator dan ditimbang sampai bobotnya konstan. Isolasi Flavonoid (Markham 1988) Serbuk biji mahoni direndam dengan etanol 70% selama 24 jam pada suhu kamar. Ekstrak yang diperoleh disaring dan ampasnya direndam kembali dengan etanol 70% beberapa kali sampai ampas tidak berwarna kuning. Filtratnya dipekatkan dengan penguap putar. Ekstrak etanol biji mahoni dipartisi dengan n-heksana, kemudian dihidrolisis dengan HCl 2 N pada suhu 100 C selama 60 menit. Ekstrak etanol biji mahoni terhidrolisis dipartisi dengan etil asetat. Fraksi etil asetat dikumpulkan dan dipekatkan dengan penguap putar, lalu difraksionasi dengan KLT preparatif. Pemilihan eluen terbaik dilakukan dengan menggunakan pelat KLT GF254 sebagai fase diam. Eluennya ialah berbagai macam pelarut yang berbeda kepolarannya, yaitu aseton, eter, heksana, metanol, dan etil asetat. Noda pemisahan dideteksi di bawah lampu UV 254 nm. Setiap fraksi dikerok, dilarutkan dengan etanol 70%, kemudian dipekatkan dan diuji aktivitas antioksidannya. Fraksi teraktif dianalisis gugus fungsinya dengan spektrofotometer FTIR dan diuji kemurniannya menggunakan KLT 2 dimensi dan KCKT.

BAHAN DAN METODE


Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan adalah biji mahoni yang diambil dari Kebun Raya Purwodadi Jawa Timur, etanol 70%, metanol, etanol 96%, akuades, kloroform, eter, NH4OH, H2SO4 2M, FeCl3 1%, anhidrida asetat, amil alkohol, serbuk Mg, HCl pekat, CH3COONa, Na2CO3, CH3COOPb, H2SO4