Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

Imunisasi

Disusun oleh Mohd Asrul B. Che Rahim

Pembimbing : dr.Arya Agustino Purba , Sp. A

KEPANITERAN KLINIK ILMU PENYAKIT ANAK UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA RS IMANUEL, BANDAR LAMPUNG PERIODE 2013

Daftar Isi Pendahuluan..................................................................................................................2 Pengertian Imunisasi.................................................................................................3 Imunisasi Dasar..................................................................................................................4 Manfaat Imunisasi.............................................................................................................5 Reaksi Antigen-Antibodi.............................................................................................5 Tujuan Imunisasi...................................................................................................6 Sasaran Program Imunisasi...................................................................................7 Jenis Imunisasi......................................................................................................8 Jenis-Jenis Imunisasi Dalam Program Pengembangan Imunisasi.............................13 Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi...........................................................16 Imunisasi Wajib...................................................................................................18 Imunisasi Anjuran...............................................................................................29 Jadwal Imunisasi Anak..........................................................................................30

BAB I PENDAHULUAN

Vaksinasi atau lazim disebut imunisasi merupakan suatu ciptaan yang sangat berhasil di dunia kedokteran. Satu usaha kesehatan yang paling efektif dan efisien dibandingkan dengan upaya kesehatan lainnya. Pada tahun 1974 cakupan imunisasi baru mencapai 5% dan setelah dilaksanakannya imunisasi global yang disebut dengan extended program on immunization (EPI) cakupan terus meningkat dan hampir setiap tahun minimal sekitar 3 juta anak dapat terhindar dari kematian dan sekitar 75000 anak terhindar dari kecacatan. Namun demikian, masih ada satu dari empat orang anak yang belum mendapatkan vaksinasi dan dua juta anak meninggal setiap tahunnya kerana penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Di masa depan harapan akan hilangnya penyakit polio, campak dan lain-lainnya di dunia adalah sesuatu yang tidak mustahil sehingga setiap anak dapat tumbuh kembang secara optimal. Perbaikan gizi anak disertai penyetan linkungan tidak cukup untuk mencegah tertularnya kuman pada anak oleh kuman, virus maupun parasit. Vaksinasi dapat menekan penyakit yang endemik dam erat hubungannya dengan linkungan hidup. Kekebalan atau imunitas tubuh terhadap penyakit adalah tujuan utama dari pemberian vaksinasi. Pada hakekatnya kekebalan tubuh dapat dimiliki secara pasif maupun buatan. Imun pasif yang didapatkan secara alami adalah kekebalan yang didapatkan transplasental,yaitu antibodi diberikan oleh ibu kandungnya secara pasif melalui plasenta kepada janin dikandungannya.Sedangkan imun pasif buatan adalah pemberian antibodi yang sudah disiapkan dan dimasukkan ke dalam tubuh anak.

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun,kebal atau resisten. Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia. Kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi serangan kuman tertentu,namun kebal atau resisten terhadap suatu penyakit belum tentu kebal terhadap penyakit lain. Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari kuman atau virus yang menjadi penyebab penyakit,namun telah dilemahkan atau dimatikan,namu diambil sebagian, atau mungkin tiruan dari kuman penyebab penyakit, yang secara sengaja diamasukkan ke dalam tubuh seseorang atau kelompok orang dengan tujuan meransang timbulnya zat antipenyakit tertentu pada orang-orang tersebut. Vaksinasi, merupakan tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan dengan antigen yang berasal mikroorganisme pathogen. Antigen yang diberikan telah dibuat demikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit namun mampu mengaktivasi limfosit menghasilkan antibody dan sel memori.Cara ini menirukan infeksi alamiah yang tidak menimbulkan sakit namun cukup memberi kekebalan. Tujuannya adalah memberikan infeksi ringan yang tidak berbahaya namun cukup untuk menyiapkan respon imun sehingga apabila terjangkit penyakit yang sesungguhnya di kemudian hari anak tidak menjadi sakit kerana tubuh dengan cepat membentuk antibody dan mematikan antigen/penyakit tersebut. Demikian pula vaksinasi mempunyai pelbagai keuntungan yaitu :

Pertahanan tubuh yang terbentuk akan dibawa seumur hidupnya. Vaksinasi adalah cost effective kerana murah dan efektif Vaksinasi tidak berbahaya. Reaksi yang serius sangat jarang timbul,jauh lebih jarang dari pada komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alami.

Imunisasi Dasar Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal pada bayi yang baru lahir sampai usia satu tahun untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan.Secara khusus, antigen merupakan bagian protein kuman atau racun yang jika masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh harus memiliki zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh manusia disebut antibody. Zat anti terhadap racun kuman disebut antitoksin.Dalam keadaan tersebut, jika tubuh terinfeksi maka tubuh akan membentuk antibody untuk melawan bibit penyakit yang menyebabkan terinfeksi. Tetapi antibody tersebut bersifat spesifik yang hanya bekerja untuk bibit penyakit tertentu yang masuk ke dalam tubuh dan tidak terhadap bibit penyakit lainnya.

Manfaat Imunisasi Untuk anak mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian. Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Untuk Negara : Memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat. Reaksi Antigen-Antibodi Proses terjadinya imunitas adalah seperti dibawah ini: Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia maka reaksinya tubuh untuk membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibody. Zat anti terhadap racun kuman disebut antitoksin.Berhasil atau tidaknya tubuh anak memusnahkan antigen atau kuman bergantung kepada jumlah zat anti yang terbentuk. Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat ialah jenis kuman virulen/ganas. Kerana itu anak akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas. Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibody/antitoksin terhadapat antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai pengalaman untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang kedua, ketiga dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti. Pembentukannya pun sangat cepat. Dalam waktu yang singkat setelah antigen atau kuman masuk ke dalam tubuh, akan dibentuk jumlah zat anti yang cukup tinggi.

Dari uraian tersebut maka hal yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi anak dapat terhindar dari ancaman penyakit ganas tanpa bantuan pengobatan. Dengan dasar reaksi antigen-antibodi ini tubuh akan memberikan reaksi perlawanan terhadap benda asing dari luar (kuman,virus,racun dan bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Akan tetapi setelah beberapa bulan/tahun jumlah zat anti dalam tubuh akam berkurang kerana dirubah oleh tubuh, sehingga imunitas tubuh pun akan menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan peransangan kembali oleh antigen artinya anak tersebut harus mendapatkan

suntikan/imunisasi ulang.

Program Pengembangan Imunisasi (PPI) Sesuai dengan program pemerintah (Departemen Kesehatan) tentang Program

Pengambangan Imunisasi (PPI), maka anak mendapatkan perlindungan terhadap 4 jenis vaksin penyakit utama yaitu penyakit TBC,difteri,tetanus, batuk rejan dan campak. Tujuan Imunisasi Pemerintah Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan angka kesakitan, kematian pada bayi, balita/ anak anak pra sekolah. Adapun tujuan program imunisasi dimaksud bertujuan sebagai berikut : Tujuan Umum yakni untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Penyakit dimaksud antara lain, Difteri, Tetanus, Pertusis(batuk rejam), Measles (campak), Polio dan Tuberculosis.

2. Tujuan Khusus, antara lain : a. Tercapainya target Universal Child Immunization (UCI), yaitu cakupan imunisasi lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di 100% desa Kelurahan pada tahun 2010. b. Tercapainya ERAPO (Eradiksi Polio), yaitu tidak adanya virus polio liar di Indonesia yang dibuktikan dengan tidak ditemukannya virus polio liar pada tahun 2008. c. Tercapainya ETN (Eliminasi Tetanus Neonatorum), artinya menurunkan kasus TN sampai tingkat 1 per 1000 kelahiran hidup dalam 1 tahun pada tahun 2008. d. Tercapainya RECAM (Reduksi Campak), artinya angka kesakitan campak turun pada tahun 2006. Sasaran Program Imunisasi Sasaran program imunisasi yang meliputi sebagai berikut : 1. Mencakup bayi usia 0-1 tahun untuk mendapatkan vaksinasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis-B. 2. Mencakup ibu hamil dan wanita usia subur dan calon pengantin (catin) untuk mendapatkan imunisasi TT. 3. Mencakup anak-anak SD (Sekolah Dasar) kelas 1, untuk mendapatkan imunisasi DPT.Mencakup anak-anak SD (Sekolah Dasar) kelas II s/d kelas VI untuk mendapatkan imunisasi TT (dimulai tahun 2001 s/d tahun 2003), anak-anak mendapatkan vaksinasi TT . SD kelas II dan kelas III

Manfaat Imunisasi Pemberian imunisasi memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Untuk anak, bermanfaat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit menular yang sering berjangkit; 2. Untuk keluarga, bermanfaat menghilangkan kecemasan serta biaya pengobatan jika anak sakit; 3. Untuk negara, bermanfaat memperbaiki derajat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara. Jenis Imunisasi Imunisasi Aktif Imunisasi aktif adalah tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama bertahuntahun.Adapun tipe vaksin yang dibuat hidup dan mati. Vaksin yang hidup mengandung bakteri atau virus (germ) yang tidak berbahaya, tetapi dapat menginfeksi tubuh dan merangsang pembentukan antibodi. Vaksin yang mati dibuat dari bakteri atau virus, atau dari bahan toksit yang dihasilkannya yang dibuat tidak berbahaya dan disebut toxoid. Imunisasi dasar yang dapat diberikan kepada anak adalah : - BCG, untuk mencegah penyakit TBC. - DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit difteri, pertusis dan tetanus. - Polio, untuk mencegah penyakit poliomilitis. - Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles).
8

- Hepatitis B, untuk mencegah penyakit hepatitis. Live attenuated Vaksin live attenuated dibuat dari virus atau bakteri liar( wild) penyebab penyakit. Virus atau bakteri liar ini dilemahkan (attenuated) dilaboratorium, biasanya dengan cara pembiakan berulang-ulang. Misalnya vaksin campak yang dipakai sampai sekarang, diisolasi untuk mengubah virus campak liar menjadi virus vaksin dibutuhkan 10 dengan cara penanaman pada jaringan media pembiakan serial dari seorang anak yang menderita penyakit campak pada tahun 1954.Supaya dapat menimbulkan respon imun, vaksin live attenuated harus berkembang biak (mengadakan replikasi) di dalam tubuh resipien. Satu dosis kecil virus atau bakteri yang diberikan, yang kemudiannya mengadakan replikasi di dalam tubuh dan meningkatkan jumlahnya sampai cukup besar untuk member ransangan suatu respon imun.Apapun yang merusak organism hidup dalam botol( misalnya panas atau cahaya ) atau pengaruh luar terhadap replikasi organism dalam tubuh(antibody yang beredar) dapat menyebabkan vaksin tidak efektif.Walaupun vaksin live attenuated menyebabkan penyakit pada umumnya bersifat ringan dibanding dengan penyakit alamiah dan itu dianggap sebagai kejadian ikutan(adverse event). Respons imun tidak membedakan antara suatu infeksi dengan virus vaksin yang dilemahkan dan infeksi dengan virus liar.Vaksin virus live attenuated secara teoritis dapat merubah menjadi bentuk patogenik seperti semula, Hal ini hanya terjadi pada vaksin polio hidup.Imunitas aktif dari vaksin live attenuated tidak dapat berkembang kerana pengaruh dari antibody yang beredar. Antibodi yang masuk melalui plasenta atau transfusi dapat mempengaruhi perkembangan vaksin mikroorganisme dan menyebabkan tidak adanya respons. Vaksin campak merupakan mikroorganisme yang paling sensitive terhadap antibody yang beredar dalam tubuh. Virus vaksin polio dan rotavirus paling sedikit terkena pengaruh. Vaksin live attenuated bersifat labil dan
9

dapat mengalami kerusakan bila terkena panas atau sinar, maka harus dilakukan pengelolaan dan penyimpanan dengan baik dan hati-hati. Vaksin live attenuated yang tersedia : Berasal dari virus hidup : Vaksin campak,gondongan(parotitis)rubella,polio,rotavirus,yellow fever. Berasal dari bakteri : Vaksin BCG dan demam tifoid oral. Vaksin Inactivated Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media pembiakan, kemudian dibuat tidak aktif dengan penanaman bahan kimia(biasanya formalin). Untuk vaksin komponen organism tersebut dibuat murni dan hanya komponen-komponennya yang dimasukkan dalam vaksin(misalnya kapsul polisakarida dari kuman pneumokokus). Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis antigen dimasukkan kedalam suntikan. Vaksin ini tidak menyebabkan penyakit (walaupun pada orang dengan defisiensi imun) dan tidak dapat mengalami mutasi menjadi bentuk patogenik. Tidak seperti antigen hidup,antigen inactivated umumnya tidak dipengaruhi oleh antibody yang beredar. Vaksin inactivated dapat diberikan saat antibody berada dalam sirkulasi darah (misalnya pada bayi menyusul penerimaan antibody yang dihasilkan darah.Vaksin inactivated selalu membutuhkan dosis multiple. Pada umumnya, pada dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu atau menyiapkan system imun. Respon imun protektif baru timbul setelah dosis kedua atau ketiga. Hal ini berbeza dengan vaksin hidup yang mempunyai respon imun mirip atau sama dengan infeksi alami, respons imun terhadap vaksin inactivated sebagian besar humoral,hanya sedikit atau tak menimbulkan imunitas selular. Titer antibody terhadap antigen inactivated menurun setelah beberapa waktu. Sebagai hasilnya maka vaksin inactivated
10

membutuhkan dosis suplemen secara periodic.Pada beberapa keadaan sesuatu antigen untuk melindungi terhadap penyakit masih memerlukan vaksin seluruh sel( whole cell), namun vaksin bacterial seluruh sel bersifat paling reaktogenik dan menyebabkan paling banyak efek samping. Ini disebabkan respon terhadap komponen-komponen sel yang sebenarnya tidak diperlukan untuk perlindungan ( contoh antigen pertusis dalam vaksin DPT ). Vaksin activated yang tersedia saat ini berasal dari : Seluruh sel virus yang inactivated , contohnya influenza,polio,rabies hepatitis A Seluruh bakteri yang inactivated contoh pertusis,tifoid,kolera,lepra. Vaksin fraksional yang termasuk sub-unit contoh hepatitis B, influenza, pertusis aseluler,tifoid Vi, lyme disease. Polisakarida murni, contoh pneumokokus,meningokokus dan Haemophilus influenza tipe b Gabungan polisakarida ( Haemophillus influenza tipe b dan pneumokokus). Vaksin polisakarida Vaksin polisakarida adalah vaksin sub unit yang inactivated dengan bentuknya yang unik terdiri atas rantai panjang molekul-molekul gula yang membentuk permukaan kapsul bakteri tertentu. Vaksin polisakarida murni tersedia untuk 3 macam penyakit yaitu pneumokokus,meningokokus dan Haemophillus influenza tipe B. Respon imun terhadap vaksin polisakarida murni adalah sel T independen khusus yang berarti bahawa vaksin ini menberi stimulasi sel B tanpa bantuan T helper. Antigen sel T indepen termasuk vaksin polisakarida, tidak selalu imunogenik pada anak umur kurang dari 2 tahun. Anak kecil tidak member respons terhadap antigen polisakarida; mungkin ada hubungannya dengan keadaan yang masih imatur dari system imunnya terutama
11

fung sis el T. Dosis vaksin polisakarida yang diulang tidak menyebabkan respons peningkatan( booster response) Dosis ulangan vaksin protein inacticvated menyebabkan tier antibody menjadi lebih tinggi secara progresif atau meningkat. Hal ini tidak dijumpai pada antigen polisakarida. Antibodi yang dibangkitkan oleh vaksin polisakarida mempunyai aktivitas fungsional kurang dibandingkan dengan apabila dibangkitkan oleh antigen protein. Hal ini kerana antibody yang dihasilkan dalam respon terhadap vaksin polisakarida hanya mendominasi IgM dan hanya sedikit Ig G yang diproduksi. Pada tahun 1980 an telah ditemukan bahwa masalah seperti diatas dapat diatasi melalui proses yang disebut penggabungan atau konjugasi. Konjugasi mengubah respons imun dari sel T independen yang menyebabkan peningkatan sifat imunitas(immunogenicity) pada bayi dan respon peningkatan antibodi terhadap dosis vaksin ganda vaksin polisakarida. Konjugasi yang pertama adalah Haemophillus influenza type b. Suatu vaksin konjugasi lainnya ialah pneumokok. Vaksin Rekombinan Antigen vaksin dapat pula dihasilkan dengan cara teknik rekayasa genetik. Produk ini sering disebut sebagai vaksin rekombinan. Terdapat 3 jenis vaksin yang dihasilkan dengan rekayasa genetic yang saat ini telah tersedia : Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen virus hepatitis B ke dalam gen sel ragi. Sel ragi yang telah berubah ini menghasilkan antigen permukaan hepatitis B murni. Vaksin tifoid (Ty21a) adalah bakteri salmonella thypi yang secara genetic diubah sehingga tidak menyebabkan sakit

12

Tiga dari 4 virus yang berada dalam vaksin rotavirus hidup adalah rotavirus kera rhesus yang diubah secara genetic menghasilkan antigen rotavirus manusia apabila mereka mengalami replikasi. Imunisasi Pasif Imunisasi pasif adalah pemberian antibodi kepada resipien, dimaksudkan untuk memberikan imunitas secara langsung tanpa harus memproduksi sendiri zat aktif tersebut untuk kekebalan tubuhnya. Antibodi yang diberikan ditujukan untuk upaya pencegahan atau pengobatan terhadap infeksi, baik untuk infeksi bakteri maupun virus (Satgas IDAI, 2008).Imunisasi pasif dapat terjadi secara alami saat ibu hamil memberikan antibodi tertentu ke janinnya melalui plasenta, terjadi di akhir trimester pertama kehamilan dan jenis antibodi yang ditransfer melalui plasenta adalah immunoglobulin G (LgG). Transfer imunitas alami dapat terjadi dari ibu ke bayi melalui kolostrum (ASI), jenis yang ditransfer adalah immunoglobulin A (LgA). Sedangkan transfer imunitas pasif secara didapat terjadi saat seseorang menerima plasma atau serum yang mengandung antibodi tertentu untuk menunjang kekebalan tubuhnya.Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama, sebab kadar zat-zat anti yang meningkat dalam tubuh anak bukan sebagai hasil produksi tubuh sendiri, melainkan secara pasif diperoleh karena pemberian dari luar tubuh. Salah satu contoh imunisasi pasif adalah Inmunoglobulin yang dapat mencegah anak dari penyakit campak (measles). Jenis-Jenis Vaksin Imunisasi Dasar Dalam Program Imunisasi a. Vaksin BCG ( Bacillius Calmette Guerine ) Diberikan pada umur sebelum 3 bulan. Namun untuk mencapai cakupan yang lebih luas, Departemen Kesehatan Menganjurkan pemberian BCG pada umur antara 0-12 bulan.
13

b. Hepatitis B Diberikan segera setelah lahir, mengingat vaksinasi hepatitis B merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk memutuskan rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu pada bayinya. c. DPT (Dhifteri Pertusis Tetanus) Diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan ( DPT tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu ) dengan interval 4-8 minggu. d. Polio Diberikan segera setelah lahir sesuai pedoman program pengembangan imunisasi ( PPI ) sebagai tambahan untuk mendapatkan cakupan yang tinggi. e. Campak Rutin dianjurkan dalam satu dosis 0,5 ml secara sub-kutan dalam, pada umur 9 bulan. Vaksin Kombinasi / Kombo Vaksin Kombinasi adalah gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda. Misalnya vaksin kombinasi DPT/ Hb adalah gabungan antigen-antigen D-P-T dengan antigen Hb untuk mencegah penyakit difteria, pertusis, tetanus, dan Hb.

14

Alasan utama pembuatan vaksin kombinasi adalah : a. Kemasan vaksin kombinasi lebih praktis dibandingkan dengan vaksin monovalen, sehingga mempermudah pemberian maka dapat lebih meningkatkan cakupan imunisasi b. Mengurangi frekwensi kunjungan ke fasilitas kesehatan sehingga mengurangi biaya pengobatan c. Mengurangi biaya pengadaan vaksin d. Memudahkan penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi yang telah ada e. Untuk mengejar imunisasi yang terlambat f. Biaya lebih murah Suhu Optimum Vaksin live attenuated Sebaiknya semua vaksin disimpan pada suhu +2 sampai 8c vaksin live attenuated lebih cepat mati , vaksin polio hanya bertahan 2 hari, vaksin BCG dan campak yang belum dilarutkan mati dalam 7 hari. vaksin hidup potensinya masih tetap baik pada suhu kurang dari 2 c sampai beku. Vaksin polio oral yang belum dibuka lebih bertahan lama. (2 tahun ) bila disimpan disuhu -25c -15c,namun hanya mampu bertahan 6 bulan pada suhu 2C - 8C

15

Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi 1 .Tuberculosis Tuberculosis yakni penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis, yang pada umumnya sering mengenai paruparu, tetapi dapat juga mengenai organ-organ lainnya, seperti selaput otak, tulang, kelenjar superfisialis dan lain-lain. Seseorang yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis tidak selalu menjadi sakit tuberculosis aktif. Beberapa minggu (2-12 minggu) setelah infeksi maka terjadi respon imunitas selular yang dapat ditunjukkan dengan uji tuberkulin. Difteri Difteri yaitu suatu penyakit akut yang bersifat toxin-mediated desease dan disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Seseorang anak dapat terinfeksi Universitas Sumatera Utaradifteria pada nasofaringnya dan kuman tersebut kemudian akan memproduksi toksin yang menghambat sintesis protein selular dan menyebabkan destruksi jaringan setempat dan terjadilah suatu selaput/ membran yang dapat menyumbat jalan nafas. Tetanus Tetanus yaitu penyakit akut, bersifat fatal, gejala klinis disebabkan oleh eksotoksin yang diproduksi bakteri Clostridium tetani yang umumnya terjadi pada anak-anak. perawatan luka, kesehatan gigi dan telinga merupakan pencegahan utama terjadinya tetanus disamping imunisasi terhadap tetanus baik aktif maupun pasif.

16

Pertusis atau Batuk Rejan Pertusis adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis, yakni bakteri batang yang bersifat gram negatif dan membutuhkan media khusus untuk isolasinya. Gejala utama pertusis timbul saat terjadinya penumpukan lendir dalam saluran nafas akibat kegagalan aliran oleh bulu getar yang lumpuh dan berakibat terjadinya batuk paroksismal. Pada serangan batuk seperti ini, pasien akan muntah dan sianosis, menjadi sangat lemas dan kejang. Demikian juga, bayi dan anak prasekolah mempunyai resiko terbesar untuk terkena pertusis termasuk komplikasinya. Pengobatannya dapat dilakukan dengan antibiotik khususnya eritromisin dan pengobatan suportif terhadap gejala batuk yang berat, sehingga dapat mengurangi penularan. Campak (Measles) Campak yaitu penyakit akut yang disebabkan oleh virus campak yang sangat menular pada anakanak, ditandai dengan gejala panas, batuk, pilek, konjungtivitis dan ditemukan spesifik enantem, diikuti dengan erupsi makulopapular yang menyeluruh. Polio Polio yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh virus poliomyelitis pada medula spinalis yang secara klasik dapat menimbulkan kelumpuhan, kesulitan bernafas dan dapat menyebabkan kematian. Gejalanya ditandai dengan menyerupai influenza, seperti demam, pusing, diare, muntah, batuk, sakit menelan, leher dan tulang belakang terasa kaku.

17

Hepatitis-B Hepatitis B yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis-B (VHB) yang dapat menyebabkan kematian, biasanya tanpa gejala, namun jika infeksi terjadi sejak dalam kandungan akan menjadi kronis, seperti pembengkakan hati, sirosis dan kanker hati, jika terinfeksi berat dapat menyebabkan kematian. Imunisasi Wajib (PPI) Imunisasi yang diwajibkan meliputi BCG,Polio,Hepatitis DTP dan campak. Vaksin BCG ( Bacille Calmette Guerin) BCG adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga mendapat hasil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas. Vaksin BCG menimbulkan sensitivitas terhadap tuberculin. Masih banyak perbedaan mengenai sensitivitas terhadap tuberculin yang terjadi berkaitan dengan imunitas yang terjadi. Vaksin BCG tidak mencegah infeksi tuberculosis tetapi mengurangi risiko terjadi tuberculosis berat seperti meningitis TB dan TB milier. Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 3 bulan. Untuk mencapai cakupan yang lebih luas DEPKES menganjurkan pemberian imunisasi BCG pada umur antara 0-12 bulan. Dosis 0,05 ml untuk bayi kurang dari satu tahun. Vaksin BCG diberikan secara intrakutan didaerah lengan kanan atas pada insersio M. deltoideus sesuai anjuran WHO. Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi tuberculosis namun dapat mencegah komplikasinya.Efektifitas vaksin untuk perlindungan penyakit hanya 40%. Sekitar 70% kasus TB berat (meningitis ) ternyata mempunyai parut BCG. Kasus dewasa dengan BTA positif di Indonesia cukup tinggi 25-36 %

18

walaupun mereka telah mendapat BCG pada masa kanak-kanak. Oleh kerana itu saat ini WHO sedang mengembangkan vaksin BCG baru yang lebih efektif. Apabila BCG diberikan pada umur lebih 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberculin terlebih duhulu. Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberculin negative. Kontraindikasi BCG 1. Reaksi tuberculin > 5 mm 2. Menderita infeksi HIV atau resiko tinggi infeksi HIV, imunokompromais akibat pengobatan kortikosteroid. Obat imunosupresif,mendapat pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau system limfe, 3. Menderita gizi buruk 4. Menderita demam tinggi. 5. Menderita infeksi kulit yang luas. 6. Pernah menderita tuberculosis dan kehamilan. Rekomendasi BCG jangan diberikan pada bayi atau anak dengan imunodefisiensi misalnya HIV gizi buruk dan lain-lain.Pada bayi yang kontak erat dengan pasien TB dengan bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan INH profilaksis dulu apabila pasien kontak sudah tenang bayi dapat diberikan BCG Kejadian ikutan Pasca imunisasi Vaksinasi BCG Penyuntikan BCG secara intradermal dapat menimbulkan ulkus local superficial 3 minggu setelah penyuntikan. Ulkus tertutup krusta,akan sembuh dalam2-3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm Apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus akan timbul lebih besar, namun apabila penyuntikan terlalu dalam maka parut akan tertarik ke dalam.( retracted)
19

Limfadenitis Limfadenitis supuratif di aksila atau leher kadang-kadang dijumpai setelah penyuntikan BCG. Hal ini tergantung umur anak,dosis dan strain yang dipakai. Limfadenitis akan sembuh sendiri,jadi tidak perlu diobati. Apabila limfadenitis melekat pada kulit akan timbul fistula maka dapat dibersihkan (dilakukan drainage) dan diberikan obat anti tuberculosis oral. Pemberian obat antituberkulosis sistemik tidak efektif. BCG-it is diseminasi. BCG-itis diseminasi jarang terjadi,seringkali berhubungan dengan imunodefiensi berat. Komplikasi lainnya adalah eritema nodosum,iritis,lupur vulgaris dan osteomielitis. Komplikasi ini harus diobati dengan kombinasi obat anti tuberculosis. Hepatitis B Vaksin Hepatitis B ( Hep B) harus segera diberikan setelah lahir, mengingat vaksinasi hep B merupakan upaya yang sangat efektif untuk memutuskan rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu ke bayinya. Jadwal imunisasi hepatitis B Imunisasi hep B-1 diberikan sedini mungkin ( dalam waktu 12 jam) setelah lahir, mengingat paling tidak 3,9 % ibu hamil mengidap hepatitis B aktif dengan resiko penularan kepada bayinya sebesar 45%. Imunisasi hep B-2 diberikan setelah 1 bulan 4 minggu dari imunisasi hep B-1. Untuk mendapat respon imun optimal, interval hep B-2 dengan hep B-3 minimal 2 bulan terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hep B-3 diberikan pada umur 3-6 bulan. Bayi yang dari ibu dengan status HbsAg
20

positif maka ditambah hepatitis B immunoglobulin (HBIg) 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari. Kerana cakupan imunisasi hepatitis B ketiga di Indonesia sangat rendah apabila dibandingkan dengan DTP-3 maka untuk mengatasi hal tersebut sejak tahun 2006 imunisasi hep-B dikombinasikan dengan DTwP. Vaksin DTP (Difteria,Tetanus,Pertusis) Vaksin DTP adalah kombinasi vaksin untuk mencegah penyakit difteria, tetanus dan pertusis. Vaksin ini mengandungi toksoid difteria,toksoid tetanus dan toksoid pertusis. Toksoid difteria Antitoksin difteria pertama kali diproduksi secara komersial pada 1892. Penggunaan kuda sebagai sumber anti-toksin dimulai pada 1984.Pada mulanya antitoksin difteria ini digunakan sebagai pengobatan dan efektifitasnya sebagai pencegahan diragukan. Banyak penelitian membuktikan bahawa efikasi pemberian antitoksin untuk pengobatan difteria terutama dengan mencegah terjadinya toksisitas terhadap kardiovaskular. Untuk imunisasi primer terhadap difteria digunakan toksoid difteria yang kemudian digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis dalam bentuk vaksin DTP. Toksoid pertusis Antibodi terhadap toksin pertusis dan hemaglutinin telah ditemukan dalam serum neonates dengan konsentrasi yang sama dengan ibunya dan akan menghilang dalam 4 bulan. Namun demikian antibody ini ternyata tidak memberikan proteksi secara klinis. Vaksin pertusis adalah vaksin yang merupakan suspensi kuman B. pertusis mati. Vaksin pertusis yang dibuat menggunakan fraksi sel (aseluler ) bila dibandingkan dengan vaksin whole cell ternyata

21

memberikan reaksi local dan demam yang lebih ringan yang diduga akibat dikeluarkan komponen endotoksin dan debris dari vaksin pertusis aseluler. Kejadian ikutan pasca imunisasi DTP Reaksi local kemerahan,bengkak dan nyeri pada lokasi injeksi pada 42,9 % penerima DTP Proporsi demam ringan dengan reaksi lokal sama dan 2,2% di antaranya dapat mengalami hiperpireksia. Dari suatu penelitian ditemukan adanya kejang demam (0,06%) sesudah vaksinasi yang dihubungkan dengan demam yang terjadi. Kejadian ikutan paling serius adalah terjadinya ensefalopati akut atau reaksi anafilaksis dan terbukti disebabkan oleh pemberian vaksin pertusis. Tabel insidens kejadian ikutan pasca imunisasi pada vaksin DTwP Derajat Gejala Klinis Ringan Reaksi lokal demam > 38.5 c Iratabel,lesu, sistemik Berat Gejala Klinis Onset interval Menangis > 3jam 0-24 jam 1/5-1.000 Resipien (%) 10-50 10-50 25-55 Perdosis

(inconsoleble crying) Kejang Hypotonic hyperresponsive 0-2 hari 0-24 jam 1/1750-12500 1/1000-33000

22

Reaksi anafilaktik Ensefalopati

1 jam 1-2 hari

1/50000 1/50000

Kontraindikasi : Saat ini didapatkan dua hal yang diyakini sebagai kontraindikasi mutlak terhadap pemberian vaksin pertusis baik whole cell maupun aseluler, yaitu Riwayat anafilaksis pada pemberian vaksin sebelumnya. Ensefalopati setelah pemberian sebelumnya. Keadaan lainnya dapat dinyatakan sebagai perhatian khusus.Misalnya sebelum pemberian vaksin berikutnya bila pada pemberian pertama dijumpai riwayat hiperpireksia keadaan hipotonik-hiporesponsif dalam 24 jam,anak menangis terus menerus selama 3 jam dan riwayat kejang dalam 3 hari sesudah imunisasi DTP.

23

Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) sistemik vaksinasi DTwP dan DTaP Gejala KIPI Pembengkakan Nyeri lokal Iritabel Demam > 38.0 >40.0 Menangis > 3jam Hypotonic hyperresponsive Sianosis Kejang DTaP 90 46 300 72 0,36 0,44 0,07 0,07 DTwP 260 297 499 406 2,4 4,0 0,67 0,15 0,22

Sumber Greco, dkk N Engl J Med 1996 DTwP(whole cell pertussis) dan DTaP( acellular pertusis) Kedua vaksin DTwP dan DTaP dapat digunakan secara bersamaan dalam jadwal imunisasi. Jadwal imunisasi Imunisasi DTP primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DTP tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu. Interval terbaik diberikan 8 minggu, jadi DTP-1 diberikan pada umur 2 bulan. DTP-2 pada umur 4 bulan dan DTP-3 pada umur 6 bulan. Ulangan booster DTP selanjutnya diberikan setelah satu tahun setelah DTP-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DTP-5 pada saat masuk sekolah untuk 5 tahun.

24

Vaksinasi ulangan pada program BIAS Pada booster umur 5 tahun harus tetap diberikan vaksin dengan komponen pertusis sebaiknya diberikan DTap untuk mengurangi demam pasca imunisasi) mengingat kejadian pertusis pada dewasa muda meningkat akibat ambang proteksi telah sangat rendah sehingga dapat menjadi sumber penularan pada bayi dan anak. DT-5 diberikan pada kegiatan imunisasi di sekolah dasar( pada bulan imunisasi anak sekolah atau BIAS). Ulangan DT-6 diberikan pada 12 tahun mengingat masih dijumpai kasus difteria pada umur lebih dari 10 tahun. DTwP atau DTaP diberikan dosis 0,5 ml intramuscular. Vaksin DTP dapat diberikan secara kombinasi dengan vaksin lain yaitu DTwP/hepB,DTaP/Hib, DTwP /Hib,DTaP/IPV, DTaP/IPV/Hib sesuai jadual Tetanus toksoid. Toksoid tetanus yang dibutuhkan untuk imunisasi adalah sebesar 40 IU dalam setiap dosis tunggal dan 60 IU bila digabung bersama dengan toksoid difteria dan vaksin pertusis. Toksoid ini ada dalam kemasan preparat tunggal (TT) kombinasi dengan toksoid difteria dan atau pertussis (dT,DT,DTwP,DTaP) dan kombinasi dengan komponen lain sepertia HiB dan Hepatitis B

25

Vaksin Polio Vaksin Virus Polio Oral (Oral Polio Vaccine =OPV) Vaksin Virus Polio Oral berisi virus polio tipe 1,2,3 yang masih hidup tetapi dilemahkan. Vaksin ini digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan dosis 2 tetes oral. Virus ini kemudian menempatkan diri dalam usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun pada epitelium usus, yang menghasilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar yang datang masuk kemudian.Vaksin ini harus disimpan tertutup pada suhu 2-8c Vaksin polio inactivated ( Inactivated polio vaccine = IPV ) Vaksin polio inactivated berisi tipe 1,2,3 dibiakkan pada sel vero ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formaldehid. Vaksin ini harus disimpan tertutup pada suhu 2-8c dan tidak boleh dibekukan.Pemberian dengan dosis 0, ml dengan suntikan subkutan dalam 3 kali berturutturut dengan jarak 2 bulan antara masing-masing dosis akan memberikan imunitas jangka panjang terhadap tiga macam tipe virus polio. Rekomendasi Imunasi primer bayi dan anak Vaksin polio oral diberikan pada bayi baru lahir sebagai dosis awal.Kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai umur 2-3 bulan yang diberikan tiga dosis terpisah berturut-turut dengan interval waktu 6-8 minggu. Satu dosis sebanyak 2 tetes diberikan peroral pada umur 2-3 bulan dapat diberikan bersama waktunya suntikan vaksin DPT dan Hib. Bila OPV yang diberikan dimuntahkan dalam waktu 10 menit, maka dosis tersebut perlu diulang. Booster harus diberikan bersamaan pada saat dosis DPT diberikan sebagai penguat ; dosis berikutnya pada
26

umur 15-19 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah.Semua calon jemaah haji dan umroh yang berumur dibawah 15 tahun harus mendapat 2 tetes OPV. Untuk orang dewasa sebagai imunisasi primer dianjurkan diberkan 3 dosis berturut-turut 2 tetes OPV dengan jarak 4-8 minggu.Semua orang dewasa seharusnya divaksinasi terhadap poliomyelitis dan tidak boleh ada yang tertinggal. Dosis penguat untuk orang dewasa tidak diperlukan kecuali mereka yang dalam resiko khusus Seperti berpergian ke daerah endemis poliomyelitis atau saat terjadi epidemi dan petugas kesihatan yang mungkin mendapat kontak dengan kasus poliomyelitis.Untuk anak

imunokompromais vaksin virus hidup dikontraindikasikan maka IPV dapat digunakan sebagai ganti.Hal ini juga dipakai untuk saudara anak tersebut d anggota keluarga yang mendapat kontak. Diberikan suntikan sebanyak 3 dosis masing-masing 0,5 ml, secara subkutan dalam atau Intramuskular dengan interval 2 bulan. Dosis penguat harus diberikan yang jadwalnya sama dengan pemberian OPV. Kejadian ikutan pasca imunisasi Kasus poliomielitis yang berkaitan dengan vaksin telah dilaporkan terjadi pada resipien Vaccine deprived polio virus atau kontak ( VAPP= vaccine assosiated polio paralytic). Diperkirakan 1 per 2.5 juta juta dosis OPV yang diberikan.Sebahagian kecil resipien mengalami gejala pusing,diare ringan dan nyeri otot

27

Kontra indikasi 1. Penyakit akut atau demam ( Suhu > 38.5c) vaksinasi harus ditunda. 2. Muntah atau diare vaksinasi harus ditunda. 3. Sedang dalam pengobatan kortikosteroid atau imunosupresif juga yang mendapat pengobatan radiasi. 4. Keganasan 5. Infeksi HIV atau anggota keluarga sebagai kontak. 6. Anggota keluarga dengan anak menderita imunosupresi jangan diberikan OPV Imunisasi Campak Terdapat 2 jenis vaksin campak : 1. Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan. 2. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (yang berada dalam larutan formalin dan dicampur dengan garam aluminium.) Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1000 TCID atau sebanyak 0,5 ml. Untuk vaksin hidup pemberian 20 TCID saja mungkin sudah memberikan hasil yang baik.Di negara berkembang dianjur kan pemberian imunisasi campak pada bayi berumur 9 bulan secara subkutan. Imunisasi campak tidak dianjurkan pada ibu hamil,anak dengan imunodefisiensi primer,Pasien TB yang tidak diobati,pasien kanker atau transplantasi organ,penderita HIV,mereka yang menerima pengobatan imunosupresi jangka lama

28

Reaksi KIPI Banyak dijumpai terjadi pada imunisasi ulang pada seseorang yang telah memiliki imunitas sebagian akibat imunisasi dengan vaksin campak dari virus yang dimatikan. Kejadian KIPI imunisasi campak teleh menurun dengan digunakkanya vaksin campak yang dilemahkan.Gejala KIPI berupa demam yang lebih dari 39.5c yang terjadi pada 5-15 % kasus,demam mulai dijumpai pada hari ke 5-6 sesudah imunisasi dan berlansung selama 2 hari.Berbeda dengan infeksi alami demam tidak tinggi,walaupun demikian peningkatan suhu tubuh tersebut dapat meransang terjadinya kejang. Ruam dapat timbul pada resipien pada hari ke 7-10 sesudah imunisasi dan berlansung selama 2-4 hari. Imunisasi Yang Dianjurkan Campak,gondong,rubella (Measles,Mumps,Rubella) Heamophilus influenza tipe B Demam tifoid Varisela Hepatitis A Rabies dan vaksin anti rabies Influenza Pneumokokus Rota virus

29

Kolera Yellow Fever Japanese encephalitis (JE) Meningokokus Human papilloma virus.

30

Referensi : 1. I.G.N Ranuh ; Program Pengembangan Imunisas, , Buku Pedoman Imunisasi Di Indonesia, Satgas Imunisasi-Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi Ke 3 2008 2. Plotkins SA, Orenstein W A ., Vaccines, Edisi ke-4 Philadelphia, WB Saunder 2004 3. CDC,The Roles of BCG vaccines in prevention and control of tuberculosis in United States.( ACEP and ACIP ). MMWR Recomm Rep 1996;45(RR-4) 4. WHO, Departmen of Communicable Diseases Surveilance and Response Hepatitis B 2002. 5. Alan R. Tumbelaka, Difteria, Pertusis, Tetanus , Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, Satgas Imunisasi-Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi Ke 3 2008 6. Hariyono Suyitno, Poliomielitis , Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, Satgas Imunisasi-Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi Ke 3 2008 7. Maldonado y, 2003 Measles, In : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. TextBook of Pediatrics 17 ed. Philidelphia. WP Saunders Company.

31