Anda di halaman 1dari 2

Penegakkan diagnosis dengan pemeriksaan mikroskopis dahak serta penguatan jejaring laboratorium mikroskopis tuberkulosis Tatalaksana pasien dengan

tuberkulosis (TB) dimulai dengan kualitas diagnosis yang baik. Saat ini pemeriksaan bakteriologi masih menjadi pilihan utama dalam metode deteksi TB. Pemeriksaan ini meliputi pewarnaan BTA pada apus sputum, kultur sputum dan tes resistensi obat. Agar setiap pemeriksaan sputum dapat memberikan hasil dengan kualitas terjamin, diperlukan jejaring laboratorium mikroskopis TB yang baik. Jadi setiap laboratorium yang terlibat harus memiliki standar biosafety yang memadai, metode modern untuk diagnosis, standar prosedur operasi yang jelas dan jaminan mutu yang sesuai. Selain itu disarankan agar setiap negara memilki labaratorium rujukan nasional bersumber daya baik. Keselamatan Biomedis laboratorium M.tuberculosis diklasifikasikan sebagai patogen risiko kelompok 3 namun penanganan spesimen yang berbeda menimbulkan risiko yang berbeda. Penilaian risiko didasarkan jumlah basil dalam spesimen, potensi basil, apakah bahan ditangani rawan untuk menghasilkan aerosol, jumlah manuver yang menghasilkan aerosol menular pada masing-masing pemeriksaan, beban kerja laboratorium, dan keadaan kesehatan umum dari pekerja laboratorium. Berdasarkan hal tersebut setiap prosedur pemeriksaan memiliki syarat fasilitas minimum dalam laboratorium. Laboratorium yang mempersiapkan apusan langsung untuk BTA mikroskop dan pengolahan sampel untuk Xpert MTB / RIF memiliki persyaratan minimum : Ventilasi memadai Laboratorium dipisahkan dari daerah lain; Akses ke laboratorium dibatasi untuk orang yang berwenang; Bangku untuk persiapan BTA dipisahkan dari bangku kerja lainnya di laboratorium. Persyaratan minimum laboratorium pengolahan sputum untuk kultur inokulasi primer, tes nitrat reduktase langsung (NRA), MODS langsung Laboratorium dipisahkan dari daerah lain Akses ke laboratorium dibatasi untuk orang yang berwenang; Lantai, dinding, langit-langit, bangku dan furniture memiliki permukaan kedap; Jendela ditutup permanen. Pasokan udara secara pasif atau mekanis tanpa resirkulasi; Sentrifuge kedap aerosol Penanganan spesimen dalam lemari keselamatan biologi yang sesuai (BSC), kelas I (EN12469/NSF49) maupun Kelas IIA2 (NSF49) maupun Kelas II (EN12469) dilengkapi dengan HEPA filter H14 BSC dirproduksi oleh produsen bersertifikat, dipasang sesuai prosedur, dirawat secara teratur dan disertifikasi kembali setidaknya setiap tahun sistem ventilasi terkontrol yang mempertahankan aliran udara satu arah dari daerah yang lebih bersih menuju kotor, dengan minimal 6 sampai 12 pertukaran udara per jam Fasilitas mikroskop yang dapat digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis TB antara lain :

1. Mikroskop cahaya konvensional Mikroskop ini digunakan untuk pemeriksaan spesimen dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen. Pemeriksaan ini mudah dan murah untuk dilakukan sehingga dapat dilakukan di berbagai level laboratorium termasuk laboratorium di fasilitas kesehatan primer maupun daerah. 2. Mikroskop fluoresen konvensional Mikroskop ini menggunakan Quartz halogen ataupun uap merkuri bertekanan tinggi sebagai sumber cahaya. Mikroskop ini dapat digunakan dengan magnifikasi yang lebih rendah dan lapang pandangan yang lebih besar. Dengan begitu setiap spesimen dapat diperiksa dalam waktu yang lebih singkat dan dengan sensitivitas 10 persen lebih tinggi dari pemeriksaan ZiehlNeelsen. Walaupun begitu, pemeriksaan ini relatif lebih mahal dan membutuhkan keterampilan tenaga medis yang lebih tinggi. Oleh karena itu WHO menyarankan penggunaan mikroskop ini di laboratorum intermediet yang menerima lebih dari 100 usap sputum setiap harinya. 3. Mikroskop Fluoresen LED Mikroskop ini menggunakan teknologi LED sebagai sumber cahaya yang membutuhkan energi lebih sedikit, dapat dioperasikan menggunakan baterai, dan lampu LED tersebut memiliki batas waktu penggunaan yang lebih panjang. Hasil pemeriksaan menggunakan mikroskop ini memiliki sensitivitas yang sebanding dengan mikroskop fluoresen konvensional.