Anda di halaman 1dari 32

CHAPTER REPORT ORIGINS OF PERSONALITY TESTING TEORI DAN PENGUKURAN KEPRIBADIAN Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata

Kuliah Pengukuran Psikologis Semester Ganjil Tahun Akademik 2013/2014 Dosen pengampu: Prof. Dr. H.Ahman, M.Pd

Oleh kelas A kelompok 4 : Dra.Diah Susilawati Ineu Maryani, S.Pd Irianti Agustina, S.Pd 1302261 1303135 1303079

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Identitas Buku Identitas buku yang di dalamnya terdapat bab yang dijadikan bahan laporan dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Judul Buku Pengarang Penerbit Tahun : : : : PSYCHOLOGICAL Robert J. Gregory Pearson Education Group, Inc 2004 TESTING: History, Principles, And Applications

Bab yang dilaporkan ini adalah Chapter 13: Origins of Personality, halaman 485-518. Buku ini terdiri dari 15 bab. Format menyeluruh dalam setiap bab bertujuan untuk menyajikan tujuan dari buku ini adalah pemahaman tentang karakteristik, tujuan dan efeknya serta aplikasinya secara luas pada tes psikilogi. B. Latar Belakang Pemikiran Penulis Edisi buku ini berdasar pada asumsi yang sama pada edisi sebelumnya. Adapun yang akan dibahas dalam laporan bab ini, antara lain: I. Teori dan Pengukuran Kepribadian, meliputi: I.a. Teori Psikoanalisis I.b. Teori Tipe Kepribadian I.c. Behavioral dan Sosial I.d. Konsep Kepribadian II. Teknik Proyeksi dan Hipotesis Proyeksi, meliputi: II.a. Konsep Teknik Proyeksi II.b. Teknik Asosiasi II.c. Teknik Melengkapi II.d. Teknik Membangun/Susunan/Bentuk II.e. Teknik Pernyataan/Lambang/Simbol

II.f. Paradok Proyeksi BAB II RESUME ISI: Origins of Personality, I. Teori dan Pengukuran Kepribadian Pada tes psikologi, perbedaan mendasar seringkali tergambar pada tes kemampuan dan tes kemampuan. Definisi secara luas, menguji kemampuan yang meliputi sejumlah banyak instrument untuk mengukur kecerdasan, prestasi,sikap dan fungsi dari neuro psikologikal. Pada bab 12, terdahulu, kita telah mempelajari sifat alami, konstruk, aplikasi, keandalan dan kesahihan intstrumen ini. Tes kepribadian akan mengukur satu atau lebih hal-hal berikut: ciri kepribadian, motivasi dinamis, penyesuaian pribadi, symtologi psikiatris, keterampilan sosial, karakteristik, kebiasaan. Pada bab 13 akan membicarakan teori dan pengukuran kepribadian, hal yang berbeda adalah dimana peneliti punya konsep aktualisasi teori mereka berdampak terhadap penilaian dan pengujian randangan kepribadian. Meskipun kepribadian sulit untuk didefinisikan, tetapi kita dapat menemukan 2 inti konsep sekalipun masih samar-samar. Pertama, setiap orang konsisten terhadap hal hal tertentu, tapi kita punya ciri terpadu dari pola aksi yang timbul berulang kali. Kedua, bahwa masing-masing individu berprilaku sangat luas, perbedaan tingkah laku terdapat pada setiap individu. Untuk menambah pemahaman tentang kepribadian, psikologi juga berusaha mengukurnya, terdapat ratusan tes kepribadian. Kita akan menelaah sejarah dan mendiskusikan pendekatan terbaru. Bagaimana konsep tentang kepribadian? Untuk mengukur kepribadian, kita harus mencari alat ukur. Walaupun ada perbedaan mendasar antara tes kemampuan dan tes kepribadian.Tes kemampuan intelektual berdasarkan karakteristiknya tergantung pada dihilangkan untuk dapat mengungkap dimensi

kepribadian. Banyak penelitian yang mengungkap korelasi positif antara kepribadian dengan inteligensi. I.a. Teori Psikoanalisis Teori psikoanalitis dikemukakan oleh Sigmund Freud (1985-1939). Adaptasi teori dilakukan dengan beberapa kali revisi. Asal Mula Teori Kepribadian Freud memulai karir profesionalnya sebagai neurologist, tetapi kemudian mengkhususkan pada penanganan histeria.Freud kemudian mengembangkan satu teori umum berdasarkan fungsi psikologi, yang mendasari konsep Ketidaksadaran.Dia menyatakan bahwa alam bawah sadar merupakan pengendali insting dan merupakan alam pikiran dan keinginan yang tidak dapat diterima alam sadarnya.Freud membantah teori motivasi pribadi sebagian besar dipengaruhi oleh alam sadar. Freud juga mengemukakan teori tentang mimpi, dia menyatakan bahwa alam bawah sadar merupakan tiang penyokong dari test psikologis awal abad ke 20. Struktur Pikiran Pandangan Freud pada struktur pikiran dari mekanismen pertahanan diri juga mempengaruhi tes psikologis dan penilaian (new introductory on Psychoanalysis, Freud, 1933). Freud membagi alam pikiran menjadi 3 bagian, yaitu: Id, Ego, SuperEgo. Id merupakan bagian dari kepribadian kita, Freud menyebutnya sebagai :kekacauan, kawah terdalam emosi, karena Id sepenuhnya tidak disadari. Berdasarkan analisanya, Freud menyimpulkan bhawa Id merupakan keinginan instingtif seperti, makan, minum, hasrat seksual dan menghindari rasa sakit.Id hanya punya satu tujuan untuk memenuhi kepuasan yang untuk memenuhi keinginannnya dengan Prinsip Kesenangan.Prinsip kesenangan merupakan dorongan pemenuhan kepuasan tanpa mengindahkan nilai, baik atau buruk,moralitas. Id juga tidak dapat berlogika dan tidak berkonsep waktu.

Jika kepribadian kita hanya memiliki Id, maka kita akan hancur, namun ada kehadiran dimensi lain yaitu Ego, atau Alam Sadar.Kehadiran ego adalah jembatan antara Id dan kenyataan. Ego merupakan jembatan antara Id dan kenyataan.Ego merupakan bagian dari Id dan melayanai keinginan Id, tetapi ego menengahi antara hasrat dan perilaku yang ditunda dalam alam pikiran. Dengan demikian, ego sebagian besar disadari akan mengarah kepada kenyataan.Prinsipnya: Nyata dan Penyelamatan diri.Ego juga berlawanan dengan SuperEgo, komponen kepribadian bermula pada lima tahun pertama kehidupan manusia.SuperEgo bersinonim dengan hati nurani dan merupakan standar kebenaran dalam masyarakat, benar atau salah yang diajarkan kepada kita dari orang tua kita. SuperEgo sebagiannya disadari, tetapi sebagian besarnya tidak disadari. Fungsi dari SuperEgo adalah untuk menahan Id, dan Ego.Ego harus memilih moral yang dapat diterima atau akan menderita dihukum oleh rasa bersalah.Hal ini menjelaskan mengapa kita merasa bersalah melakukan perilaku tidak bermoral/bermaksiat.Bagian dari SuperEgo adalah Ego Ideal yang merupakan arahan dan aspirasi kita. Ego mengukur sendiri ego idealnya dalam menuntut kesempurnaan. Peran Mekanisme Pertahanan Diri Ego memiliki tugas yang sulit, berperan sebagai mediator dan melayani 3 tirani: Id, SuperEgo dan Kenyaataan dari luar.Hal yang sepertinya mustahil, tapi ego punya seperangkat alat yang dapat bekerja yang dissebut dengan Mekenisme Pertahanan Diri. Mekanisme Pertahanan Diri terdiri dari beberapa hal, tetapi semuanya dapat digolongkan ke dalam tiga karakteristik yang sama.Pertama, tujuan khususnya adalah membantu ego untuk mengurangi ketakutan, dengan memberikan signal pada ego.Menurut Freud ketakutan merupakan signal yang disampaikan ego untuk membentuk satu atau dua mekanisme pertahanan diri. Kedua, mekanisme pertahanan diri adalah menggunakan alam bawah sadar. Dengan demikian, sekalipun mekanisme pertahanan diri

dikontrol oleh ego, kita tidak menyadari perilakunya.Karakteristik dari mekanisme pertahanan diri adalah menyimpangkan antara kenyataan di dalam dan di luar dirinya.Alat pertahanan ini dapat membuat mereka mampu mengurangi ketakutan. I.b. Teori Tipe Kepribadian Teori kepribadian diawali dari ahli kedokteran Yunani Hippocrates (466-377) mengajukand teori kepribadian menjadi 4 kepribadian (Saguin=riang penuh harapan, Choleric=lekas marah, Melancholic=sedih, Phlegmatic=bersikap dingin) . Pada tahun 1940 Shelden & Stevens, mengajukan teori mendasarkan temperament. Tipe-tipe kepribadian: a. Tipe A pola perilaku coronary-Prone b. Kepribadian menurut teori Phenomenology I.c. Behavioral dan Sosial Teori ini menyimpulkan bahwa kepribadian di pengaruhi oleh proses belajar, selain itu juga kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan.Teori belajar dikemukakan oleh Albert Bandura,pada study terbarunya, Bandura menguji peran dan pengalaman belajar. I.d. Konsep Kepribadian Teori Sifat Analisis-Faktor Cattell Cattell memperbaiki metode analisa faktor sebelumnya untuk membantu mengungkap sifat dasar kepribadian. Dia merujuk pada aspek yang lebih nyata dari kepribadian sebagai sifat-sifat permukaan(surface traits) yang dapat dilihat oleh orang lain, Dia juga menemukan adanya sifat asal, yakni sumber perilaku yang stabil dan konstan. Source traits (sifat asal) adalah variable-variabel yang mendasari tingkah laku yang nampak dan dapat diketahui hanya dengan melalui teknik analisis faktor. Dari 208 pada hubungan antara pertumbuhan tubuh yang dengan

subjek analisa, ada 16 sifat asal yang akhirnya disatukan ke dalam Daftar Pertanyaan 16 Faktor Kepribadian (16PF), yaitu sebuah tes kepribadian berdasarkan sifat. Cattell berpendapat (Syamsu Yusuf, 2002: 114) , bahwa sifat asal lebih penting daripada sifat permukaan (yang nampak). Dia mengatakan bahwa sifat asal itu merupakan struktur yang dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian. Sifat-sifat asal ini, juga mempengaruhi problem perkembangan, psikosomatik, dan problem intergrasi yang dinamis. Kiranya jelas, bahwa setiap sifat mungkin merupakan hasil bekerjanya faktor-faktor lingkungan, keturunan (pembawaan) , atau kedua-duanya. Raymond B. Cattel berkeyakinan bahwa kepribadian memiliki banyak dimensi yang dapat diukur, dan teknik statistik analisis faktor dapat dipakai sebagai sarana untuk mengisolasi variable-variabel kepribadian itu. Analisis faktor merupakan prosedur untuk mengukur seperangkat korelasi antara berbagai skor hasil pengukuran, dengan tujuan memperoleh jumlah sifat yang lebih sederhana, untuk kemudian diinterpretasikan sebagai srtuktur dasar kepribadian. Menurut Cattell kepribadian adalah menetapkan hukum-hukum tentang apa yang akan dilakukan oleh orang-orang dalam berbagai situasi dan lingkungan umum maupun sosial. Jadi persoalan mengenai kepribadian adalah persoalan mengenai segala aktivitas individu , baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Teori Dimensi Sifat Eysenck Menurut Eysenck, kepribadian terdiri atas dua dimensi dasar, yaitu introvert-extravert dan emosi stabil-emosi tidak stabil. Lebih jauh, dimensi ini menggolongkan 32 sifat, di mana posisinya bergantung pada arah dan jumlah dua dimensi dasar. Teori ini disatukan ke dalam Daftar Pertanyaan Kepribadian Eysenck. Selanjutnya, Eysenck berpendapat bahwa kepribadian adalah keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkahlaku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor

utama yang mengorganisir tingkahlaku yaitu; sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament), sektor somatik (constitution). Keyakinan Eysenck terhadap kebutuhan pengukuran yang akurat menjadikannya melancarkan kritik keras terhadap teori psikoanalisis. Psikoanalisis tidak memberikan pengukuran yang akurat dan reliabel bagi konsep psikologis mereka. Hal ini diyakini Eysenck sebagai kegagalan serius. Dalam menyusun teori sifat, Eysenck mencoba menghindari masalah ini dengan menggunakan pengukuran perbedaan individu yang reliabel. Dia menekankan pada keharusan pengukuran sifat kepribadian yang memadai. Pengukuran itu merupakan keharusan untuk mendapatkan sebuah teori yang dapat diuji dan jika gagal, tidak disetujui. Pengukuran seperti ini juga diperlukan untuk mengidentifikasikan asumsi dasar-dasar biologis dari sifat. Teori kepribadian Eysenck memiliki komponen biologis dan psikometris yang kuat. Namun ia yakin kalau kecanggihan psikometris saja tidak cukup untuk mengukur struktur kepribadian manusia dan bahwa dimensi kepribadian yang melewati analisis faktor bersifat steril dan tak bermakna kecuali mereka memiliki eksistensi biologis. Inti pandangan Eysenck dalam psikologi dapat dicari sumbernya pada keyakinannya bahwa pengukuran adalah fundamental dalam segala kemajuan ilmiah, dan bahwa lapangan psikologi sebelumnya orang belum pasti tentang hal apa yang sebenarnya diukur. Eysenck yakin bahwa taksonomi atau klasifikasi tingkah laku adalah langkah pertama yang menentukan dan bahwa analisis faktor adalah alat yang paling memadai untuk mengejar tujuan ini. Kepribadian menurut Eysenck dalam (Makalah Ahmad Wahyu dkk, 2012) memiliki empat tingkatan hirarkis, mulai dari hirarki yang tinggi ke hirarki yang rendah : tipe traits habit respon spesifik. Hirarki atau mempunyai tertinggi: Tipe, persamaan kumpulan tertentu; dari trait ;Hirarki ketiga: Habitual kedua: Trait, kumpulan kegiatan, kumpulan respon yang saling berkaitan Hirarki Response, kebiasaan tingkah laku atau berfikir, kumpulan respon spesifik,

respons yang berulang-ulang terjadi kalau individu menghadapi kondisi atau situasi yang sejeniss; dan Hirarki terendah:SpesifikResponse, tingkah laku yang dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian. Pandangan Eysenck berhubungan dengan Hipocrates dan Gallen yang membagi empat tipe kepribadian dasar : a. Tinggi N dan Rendah E b. Tinggi N dan Tinggi E c. Rendah N dan Tinggi E d. Rendah N dan Rendah E : tipe Melankolis : tipe Koleris : tipe Sanguinis : tipe Plegmatis

Ada tiga dimensi kepribadian menurut Eysenk, yaitu Ekstraversion (E), Neuroticism (N), dan Psikoticism (P). Menurutnya nuerotisme dan psikotisme itu bukan sifat patologis. Tiga dimensi itu adalah bagian normal dari struktur kepribadian. Semuanya bersifat bipolar; Ektraversion Introversion, Neuroticism - Emosional Stability, dan Psychoticism Impulse Control. Dan orang yang memiliki skor tinggi pada tiga dimensi tersebut memiliki kecenderungan melakukan kriminalitas. Semua orang berada dalam rentangan bipolar itu mengikuti kurva normal, artinya sebagian besar orang berada ditengah-tengah polarisasi. Masing-masing dimensi saling bertentangan dan merupakan tipe dari kumpulan 9 trait, jadi semuanya ada 27 trait. EKSTRAVERSION (E) Trait Ektraversion Trait Introversion sociable, lively, active, assertive, Tidak sosial, pasif, ragu, pendiam, sensation seeking, carefree, banyak pikiran, sedih, penurut, dominance, surgent, ventureso pesimis, penakut, tertutup, damai, tenang, dan terkontrol Penyebab utama perbedaan antara ekstraversion dan introversion adalah tingkat keterangsangan korteks (CAL = Cortical Arousal Level), kondisi fisiologis yang sebagian besar bersifat keturunan. CAL rendah artinya korteks tidak peka, reaksinya lemah. Sebaliknya CAL tinggi, korteks mudah terangsang untuk bereaksi.

Ektraversion CAL-nya rendah Membutuhkan

Introversion CAL-nya tinggi banyak Membutuhkan sedikit ransangan

ransangan untuk megaktifkan untuk mengaktifkan korteksnya korteksnya Suka ikut berpartisipasi dalam Menarik diri, menghindari situasi berbagai aktivitas ramai, situasi yang menyebabkan ketegangan terlalu tinggi, aktifitas yang menantang, memimpin suatu perkumpulan, keisengan. dan melakukan

NEUROTICISM (N) Trait dari neurotisisme adalah: anxious, depressed, guild feeling, low self esteem,tension, irrational, shy, moody, emotional. Dasar biologis dari neuroticism adalah kepekaan reaksi sistem syaraf otonom (ANS = Autonomic Nervous System). Orang yang kepekaan ANS-nya tinggi, pada kondisi lingkungan wajar sekalipun sudah merespon secara emosional jadi gampang mengalami gangguan neurotik. Neurotisisme dan ekstraversi bisa digabung dalam hubungan CAL dan ANS, dan dalam bentuk garis absis ordinat. Kedudukan setiap orang pada bidang dua dimensi itu tergantung kepada tingkat ekstraversi dan neurotisismenya.

Subyek Dimensi (A) Introver(B) (C) (D) Neurotik Ekstraver-

CAL ANS Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Rendah Rendah

Simptom Gangguan psikis tingkat pertama Gangguan psikis tingkat kedua Normal introvers Normal ekstravers

Neurotik Introver-Stabilita Tinggi EkstraversRendah Stabilitas

Keterangan :

adalah

orang

introvert-neurotik

(ekstrim

introvers

dan

ekstrim

neurotisisme). Orang itu cenderung memiliki simpton-simpton kecemasan, depresi, fobia, dan obsesif-kompulsif, disebut mengidap gangguan psikis tingkat pertama (disorders of the first kind). B adalah orang ekstravers-neurotik. Orang itu cenderung psikopatik, kriminal, atau mengidap gangguan psikis tingkat kedua (disorders of the second kind). C adalah orang normal yang introvers; tenang, berpikir mendalam, dapat dipercaya. D adalah orang yang normal-ekstravers; riang, responsif, senang bicara/bergaul. PSYCHOTICISM (P) Skor Psychoticism Tinggi Skor Psychoticism Rendah egosentris, dingin, tidak mudah baik hati, hangat, penuh perhaitan, menyesuaikan dan anti sosial Seperti ekstraversion dan neuroticism,psychoticism mempunyai unsur genetik yang besar. Secara keseluruhan tiga dimensi kepribadian itu 75% bersifat herediter, dan hanya 25% yang menjadi fungsi lingkungan. Dan pria memilki skor yang lebih besar dibanding wanita dalam dimensi psikotisme karena hormon progesteron pria lebih besar daripada wanita. Selain menekankan pentingnya faktor-faktor genetik, Eysenck juga mendukung terapi perilaku, atau pengobatan perilaku abnormal sesuai dengan prinsip- prinsip teori belajar. Secara logikanya, jika tingkah laku itu diperoleh dari belajar, tingkah laku itu juga bisa dihilangkan dengan belajar. Eysenck memilih model terapi tingkah laku dalam mengubah tingkah laku maladaptive. Ada empat inventori yang dipakai untuk melakukan penelitian atau untuk memahami klien. diri, impulsive, akrab, tenang, sangat sosial,empatik, kejam, agresif, curiga, psikopatik kooperatif, dan sabar

a. Maudley Personality Inventory (MPI), mengukur E dan N dan korelasi antara keduanya; b. Eysenck Personality Inventory (EPI), Alat tes ini memiliki skala kebohongan (lie-L) untuk mendeteksi kepura-puraan (faking) yang terpenting dalam tes ini yaitu untuk mengukur ekstraversi dan neurotisme secara independen dengan korelasi yang hampir nol antara E dan N. c. Eysenck Personality Questionnair (EPQ), mengukur E, N, P, (merupakan revisi dari EPI, tetapi EPI yang hanya mengukur E dan N masih tetap dipublikasikan). Memasukan skala psikotik d. Eysenck Personality Questionnair-Revised (EPQ-R) revisi dari EPQ. Mempunyai versi dewasa dan anak-anak. Model Kepribadian Lima Faktor Goldberg (1981b) menemukan beberapa ketetapan dalam penelitian sifat analisa faktornya, yang kemudian disebut dimensi Lima Besar yang terdiri atas kelabilan emosi(Neuroticism), pengalaman(Openness keterbukaan pribadi(Extraversion), sifat dapat keterbukaan toexperience),

diterima(Agreeableness), dan kehati-hatian(Conscientiousness). Dimensi ini tidak mencerminkan perspektif teoritis tertentu, tetapi merupakan hasil dari analisis bahasa alami manusia dalam menjelaskan dirinya sendiri dan orang lain. Dimensi lima besar ini disusun bukan untuk menggolongkan individu ke dalam satu kepribadian tertentu, melainkan untuk menggambarkan sifat-sifat kepribadian yang disadari oleh individu itu sendiri dalam kehidupannya sehari-hari. Big Five Dimensi atau juga disebut dengan Five Factor oleh Costa & Mc Rae dibuat berdasarkan pendekatan yang lebih sederhana. Big Five Dimensi terdiri atas lima tipe atau faktor. Terdapat beberapa istilah untuk menjelaskan kelima faktor tersebut. Namun, di sini kita akan menyebutnya dengan istilahistilah berikut: 1. Neuroticism (N) 2. Extraversion (E) 3. Openness to New Experience (O)

4. Agreeableness (A) 5. Conscientiousness (C) Untuk lebih mudah mengingatnya, istilah-istilah tersebut di atas disingkat menjadi OCEAN (Pervin, 2005). Neuroticism berlawanan dengan Emotional stability yang mencakup perasaan-perasaan negatif, seperti kecemasan, kesedihan, mudah marah, dan tegang. Openness toExperience menjelaskan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas dari aspek mental dan pengalaman hidup. Extraversion dan Agreeableness merangkum sifat-sifat interpersonal, yaitu apa yang dilakukan seseorang dengan dan kepada orang lain. Yang terakhir Conscientiousness menjelaskan perilaku pencapaian tujuan dan kemampuan mengendalikan dorongan yang diperlukan sosial (Pervin, 2005).Big Five terdiri dari 6 (enam) faset atau subfaktor. Faset-faset tersebut adala (dalam Pervin, 2005) adalah sebagai berikut: 1. Extraversion terdiri dari:

Menurut Costa & McRae

Gregariousness (suka berkumpul). Activity level (level aktivitas). Assertiveness (asertif). Excitement Seeking (mencari kesenangan). Positive Emotions (emosi yang positif). Warmth (kehangatan). Straightforwardness (berterusterang). Trust (kepercayaan). Altruism (mendahulukan kepentingan orang lain). Modesty (rendah hati). Tendermindedness (berhati lembut). Compliance (kerelaan). Self-discipline (disiplin). Dutifulness (patuh). Competence (kompetensi).

2. Agreeableness terdiri dari:


3. Conscientiousness terdiri dari:


Order (teratur). Deliberation (pertimbangan). Achievement striving (pencapaian prestasi). Anxiety (kecemasan). Self-consciousness (kesadaran diri). Depression (depresi). Vulnerability (mudah tersinggung). Impulsiveness (menuruti kata hati). Angry hostility (amarah). Fantasy (khayalan). Aesthetics (keindahan). Feelings (perasaan). Ideas (ide). Actions (tindakan). Values (nilai) Model kepribadian ini telah menginspirasi beberapa skala kepribadian dan sistem penaksiran lainnya. Misalnya Inventaris Kepribadian NEO yang Direvisi(NEO-PI-R) dan Inventaris Lima Faktor NEO(NEO-FFI) hasil pengembangan Costa & McCrae. Tafsirkan Konsep Sifat

4. Neuroticism terdiri dari:


5. Openness to new experience terdiri dari:


Tantangan yang dihadapi oleh ahli teori sifat adalah adaribuansifat dalam psycchologis yang sudah lama dikenal dalamkamus bahasa Inggris . Antara lain, pada satu pembahasan awal dan berpengaruh, Allport dan Odbert (1936) mencocokan nama sifat sebanyak 18.000. Ini sungguhterlalu banyak dalam teori dari pengukuran kepribadian sehingga ahli teori mencari angka lebih kecil yang dapat dikendalikan dari sifat dasar. Baru-baru ini, tidak ada konsensus apapun pada angka dari sifat daasar. Beberapa ahli teori mengaajukan dua atau tiga faktor sifat pengesamping, sedangkan daerah kepribadian mempunyai ciri enambelas atau duapuluh dimensi. Sebagian besar besar ahli kepribadian mengemukakan bahwa ada lima faktor

(Neuroticism, Extraversin,Openness toEksperience, Agreeableness, dan Conscientiousness ). Model ini adalah baru, sehingga perlu waktu untuk mengonfirmasikan kegunaannya. Antara lain, apakah conscientiusness sesuai dengan masihmembahas sekitar dimensi dasar dari kepribadian

(Digman, 1990). Juga, kenapa Akal tidak termasuk dalam lima faktor? Pendekatan kepribadian tentang sifat secara umum, Pertama, ketidaksamaan dalam mendeskripsikan sifat perilaku atau sekadar mendeskripsikan menjadi tingkah laku (Fiske, 1986). Seorang yang mencapai kepribadian yang tinggi dikatakan menguasai sifat secara sempurna, standar yang tinggi mungkin dikatakan untuk menguasai sifat dari kesempurnaan. Tapi ketika dimaksudkan menunjukkan oleh paham tentang kesempurnaan,tanpa pola yang sangat strandar. yang alternatif

Dengan demikian, ketika kita

menyatakan bahwa jika seseorang yang perfectionis, sudah mendekati ke kepribadian yang sempurna. Bagaimana dengan perilaku masa lampaunya? Milller (1991) mengemukakan kritik dari pendekatanlima faktor, bahwa model tersebut hanya deskripsi psikologisnya. Masalah sifatadalah bersifat prediksi. Mischel (19680)dalambuku Kepribadian dan Penilaian menyatakan bahwa " teori sifathanya meramalkan konsistensi tingkah laku, hal ini tidak sesuai dengan perilaku yang secara khas diamati" Pada ulasan penelitian yang sudah ada, Mischel mencatat sifat itu menghasilkan koefisien kebenaran dengan r = .30, koefisien yang rendah untuk hubungan kepribadian.mempunyai korelasi nyata untuk subyek, korelasi dari r = .30 adalah nilai minimal pada ramalan dari perilaku individu. Peneliti sifat menjawab bahwa Mischel pengubah konsep sifat. Peneliti mencari identifikasi jenis perilaku mana yang dapat diteliti untuk diprediksi, atas dasar nilai sifat perilaku mencoba untuk mencirikan situati sebagian besar (misalnya., Mischel, Shoda, & Mendoza Denton, 2002; Muris,

Mayer, & Mer ckelbach, 1998; Wasylkiw & Fekken, 2002). Upaya ini sukses, dengan cara menaikkan kebenaran dari beberapa sifat hubungan kalimat dengan beberapa individusubstantially berada di luar tidak menyenangkan r = 30, Mischel (1968). ,Dengan menyatakan bahwa "ciri X meramalkan perilaku Y

II.

Teknik Proyeksi dan Hipotesis Proyeksi, meliputi: Kategorisasi tentang metode proyektif pada mulanya dikemukakan oleh Kurt Lawrence Frank pada tahun 1948. Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes proyektif. Orang yang dinilai akan memprediksikan dirinya melalui gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes proyektif pada dasarnya memberi peluang kepada testee (orang yang dites) untuk memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan; tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah Jika kepada subjek diberikan tugas yang menuntut penggunaan imajinasi, kita dapat menganalisis hasil fantasinya untuk mengukur cara dia merasa dan berpikir. Jika melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya, memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang kreatif. Hipotesis proyektif adalah asumsi bahwa penafsiran personal dari rangsangan bermakna ganda harus mencerminkan kebutuhan, motif, dan konflik tak sadar dari penempuh ujian. Adapun kategori tes yang menjelaskan hal ini disebut teknik proyektif. Teknik proyektif pertama kali dikembangkan oleh Galton (1879), yakni tes asosiasi kata. Prosedur ini juga diadaptasi oleh Kent & Rosanoff (1910) untuk pengujian, serta C. G. Jung dan lainnya dalam terapi. Jauh sebelum itu, Ebbinghaus menggunakan tes penyelesaian kalimat sebagai tolok ukur kecerdasan. Namun peneliti lain segera menyadari metode ini lebih baik dimasukkan ke taksiran kepribadian.

II.a. Konsep Teknik Proyeksi

II.b. Teknik Asosiasi Jenis yang termasuk tes proyektif adalah: 1. Tes Rorschach Tes yang dikembangkan oleh seorang dokter psikiatrik Swiss, Hermann Rorschach, pada tahun 1920 an, terdiri atas sepuluh kartu yang masingmasing menampilkan bercak tinta yang agak kompleks. Sebagian bercak itu berwarna; sebagian lagi hitam putih. Kartu-kartu tersebut

diperlihatkan kepada mereka yang mengalami percobaan dalam urutan yang sama. Mereka ditugaskan untuk menceritakan hal apa yang dilihatnya tergambar dalam noda-noda tinta itu. Meskipun noda-noda itu secara objektif sama bagi semua peserta, jawaban yang mereka berikan berbeda satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mereka yang mengalami percobaan itu memproyeksikan sesuatu dalam noda-noda itu. Analisis dari sifat jawaban yang diberikan peserta itu memberikan petunjuk mengenai susunan kepribadiannya. Rorschach mempublikasikan tes noda tintanya yang terkenal. Hal-hal ini & usaha lainnya menjadi landasan untuk tes proyektif modern. Lindzey membagi teknik proyektif ke dalam lima kategori, yaitu: (1)asosiasi noda tinta atau kata; (2) menyusun cerita; (3) menyelesaikan kalimat atau cerita; (4) menyusun/memilih gambar atau pilihan lisan, dan (5) ekspresi gambar atau bermain. Adapun jenis-jenis respons yang dianggap sebagai dasar klasifikasi adalah: a. Asosiasi (association) Teknik asosiatif menuntut subjek untuk berespons terhadap stimulus dengan kata, image, atau ide yang pertama kali muncul sesegera mungkin setelah stimulus diberikan. Contoh teknik yang termasuk ke dalam kategori ini adalah tes asosiasi kata dan tes Rorschach. b. Konstruksi (construction) Teknik ini memberikan tuntutan yang lebih kompleks kepada subjek. Subjek diharapkan membuat atau membuat lebih (make up) sesuatu, atau menciptakan.Contoh tes yang termasuk kategori ini adalah TAT, CAT, Blacky, dan Make a PictureStory. c. Melengkapi (completion) Teknik ini merupakan penjelasan diri (self-explanatory). Dalam tes ini, subjek diberi suatu produk yang tidak lengkap yang harus ia lengkapi.Karena stimulus dalam teknik ini lebih terstruktur, maka kebebasan subjeContoh tes yang termasuk

kategori ini adalah Picture Frustration Study, The Story Completion, dan Sentence Completion. d. Memilih dan mengurutkan (choice and ordering) Teknik ini sangat erat kaitannya dengan metode psikometrik. Karena respons yang dituntut relatif terbatas dan sederhana, maka teknik ini tergolong paling kurang dalam memberikan kebebasan dan spontanitas bagi subjek untuk berespons. Contoh: Kahn Test of SymbolArrangement e. Ekspresi (expression) Jika dibandingkan dengan kategorisasi dari Frank, teknik ini sesuai dengan kategori katartik, dimana subjek diberi peluang tidak hanya untuk melakukan proyeksi tapi juga ekspresi diri. Menurut Lindzey, metode ini menjembatani diagnostik dan terapeutik, bagi semua yang berperan aktif dalam praktik terapeutik. Lindzey juga mengatakan bahwa metode ini berbeda dari metode lain dengan menekankan pada gaya atau cara proses konstruktif dilakukan. Selain itu, juga lebih menekankan pada proses daripada produk. Contoh: Free Art Expression. Pengaturan tes ini dilakukan dalam dua sesi, yaitu sesi asosiasi bebas di mana penguji akan menunjukan pola noda dan menanyakan, Bentuk apakah ini? Dan penempuh ujian diharapkan dapat memberikan lebih dari satu respon per kartu; dan sesi penyelidikan di mana penguji akan menanyakan pertanyaan untuk menjelaskan lokasi tepat pola noda dan aspeknya, seperti bentuk atau warna. Wayne H. Holtzman mengembangkan teknik noda tinta baru untuk mengatasi keterbatasan tes Rorschach dengan mempermudah prosedur pengaturan dan penilaian. Dalam teknik ini, penempuh ujian dibatasi memberikan hanya satu respon per kartu, namun diperlihatkan 45 kartu. Tiap respon diikuti dengan sebuah pertanyaan rangkap dua: Di mana pandangan nampak di pola noda, dan bagaimana pola noda mempengaruhi pandangan?

Seluruh respon dinilai untuk 22 variabel penilaian yang diturunkan dari sistem penilaian Rorschach. 2. Tes Apersepsi Tematik (Thematic Apperception Test/TAT) Tes apersepsi tematik atau Thematic Apperception Test (TAT), dikembangkan di Harvard University oleh Hendry Murray pada tahun 1930-an. TAT mempergunakan suatu seri gambar-gambar. Sebagian adalah reproduksi lukisan-lukisan, sebagian lagi kelihatan sebagai ilustrasi buku atau majalah. Para peserta diminta mengarang sebuah cerita mengenai tiap-tiap gambar yang diperlihatkan kepadanya. Mereka diminta membuat sebuah cerita mengenai latar belakang dari kejadian yang menghasilkan adegan pada setiap gambar, mengenai pikiran dan perasaan yang dialami oleh orang-orang didalam gambar itu, dan bagaimana episode itu akan berakhir. Dalam menganalisis respon terhadap kartu TAT, ahli psikologi melihat tema yang berulang yang bisa mengungkapkan kebutuhan, motif, atau karakteristik cara seseorang melakukan hubungan antarpribadinya. 3. Teknik Inkblot menurut Holtzman Wayne H. Holtzman mengemukakan teori dasaryang melandasi rorschach techniques ini adalah adanya hubungan antara pengamatan (persepsi) dengan kepribadian. Cara-cara individu menyusun ink blots tersebut menurut pengamatannya mencerminkan aspek-aspek mendasar dari fungsi-fungsi psikologisnya. Dikatakan bahwa ink blot ini cocok dijadikan sebagai stimulus mengingat bentuknya yang ambiguous atau tidak tersusun, sehingga gambar-gambar tersebut tidak akan menimbulkan respons-respons khusus yang dipelajari, akan tetapi memberikan kebebasan pada kemungkinan timbulnya respons yang beraneka ragam. Kemudian apabila yang bersangkutan ditanya mengenai apa yang dilihat dalam blot-blot tersebut haruslah dijawab secara pribadi, dalam bentuk yang tidak dipelajari. Oleh karena itu tidak ada jawaban yang salah atau jawaban yang betul. Pengamatannya

dipilih dan disusun dalam istilah-istilah projective need, pengalamanpengalaman dan pola respons sehari-hari sebagaimana yang tampak pada blot-blot tersebut. II.c. Teknik Melengkapi Sentences Completion Test (SCT) Didefinisikan (Robert J. Gregory, 2004:547): in a sentence completion test, the respondent is pre-sented with a series of stems consisting of the first few words of a sentence, and the task is to provide an ending. SCT berbentuk kalimat-kalimat tidak sempurna yang harus dilengkapi oleh testee sehingga menjadi kalimat yang utuh. Kalimat-kalimat tidak sempurna (incomplete sentences) dapat merangsang seseorang untuk memproyeksikan keadaan atau isi psikisnya sesuai dengan rangsang yang terdapat atau berkaitan dengan isi kalimat tersebut (aufferderungs character). Tes ini biasanya digunakan untuk orang dewasa dan bertujuan untuk mengetahui individu adjustment dan struktur kepribadian. Contoh: Directions: Finish these sentences to indicate how you feel. 1. My best characteristic is ____________________________ ' 2. My mother __________________ : ________________ : 3. My father __________ ; ________________ . _______ '. 4. My greatest fear is _______ " _______________________ 5. The best thing about my mother was _________________ 6. The best thing about my father was ____________________ : 7. I am proudest about _______________ : Asumsi dari teknik ini adalah bahwa harapan, keinginan, ketakutan, dan 8. I only wish my mother had - ______________________ sikap 9. seseorang dapat cara dia kalimatnya. I only wish mytercermin father haddalam __________ -menyelesaikan _______ Tes penyelesaian kalimat ini dianggap menjadi salah satu teknik proyeksi paling valid untuk tujuan diagnosis dan penelitian. Pada umumnya, tes menyelesaikan kalimat disusun untuk kasus klinis atau penelitian kepribadian tertentu. Menurut Diah Widiawati (online, 2013), teknik proyeksi verbal yang dimiliki oleh SCT ini disebut juga Word Association Method, dimana teknik ini memiliki asumsi tertentu dalam penyusunannya, yaitu :

a. Jika seseorang berada dalam tekanan (harus memberi respon dengan ide yang pertama kali teringat), maka biasanya orang tersebut akan memunculkan data-data signifikan, yang tidak disensor terlebih dahulu. b. Jika seseorang dihadapkan pada kalimat atau situasi yang tidak berstruktur, maka respon orang tersebut akan menunjukkan reaksireaksi dan sentimen yang sesungguhnya (memicu seseorang untuk memproyeksikan keadaan sesuai dengan yang terdapat dalam isi kalimat tersebut). c. Dalam berbicara mengenai orang lain, maka sesorang akan mengungkapkan tentang diri sendiri (yang tidak disadarinya atau yang ada dalam ketidaksadaran). Menurut Diah Widiawati (online, 2013) ada empat (4) aspek kepribadian yang diungkap dalam SSCT, yaitu : a. Hubungan Dengan Keluarga, merupakan serangkaian sikap terhadap ibu, ayah, dan anggota keluarga. Ada 12 item untuk mengungkap aspek ini, yang mencakup : (a.)Sikap terhadap ibu, (b.)Sikap terhadap ayah, dan (c.)Sikap terhadap unit keluarga, b. Masalah Seksual, merupakan sikap terhadap wanita dan hubungan antara lawan jenis. Ada 8 item untuk mengungkap aspek ini, yang mencakup : (a.)Sikap terhadap wanita, (b.)Sikap terhadap hubungan heteroseksual c. Hubungan Interpersonal, merupakan sikap terhadap kenalan, sejawat, atasan, bawahan. Ada 16 item untuk mengungkap aspek ini, yang mencakup : (a.)Sikap terhadap teman atau kenalan, (b.)Sikap terhadap teman sejawat, (c.)Sikap terhadap atasan, (d.)Sikap terhadap bawahan d. Konsep Diri, merupakan sikap terhadap perasaan takut, perasaan bersalah, tujuan, kemampuan diri sendiri, masa lalu, dan masa depan. Ada 24 item untuk mengungkap aspek ini, yang mencakup : (a.)Sikap terhadap perasaan takut, (b.)Sikap terhadap perasaan bersalah, (c.)Sikap terhadap kemampuan diri sendiri, (d.)Sikap terhadap masa lalu, (e.)

Sikap terhadap masa depan, (f.)Sikap terhadap cita-cita atau tujuan hidup.

Rotter Incomplete Sentences Blank (RISB) RISB merupakan pengembangan tes SCT yang dikelompoknya dalam 3 bentuk (Robert J. Gregory, 2004:548): consists of three similar formshigh school, college, and adulteach containing 40 sentence stems written mostly in the first person. RISB ini memiliki tiga bentuk, yaitu untuk SMA, mahasiswa, dan orang dewasa. Masing-masing bentuk terdiri dari 40 kalimat. Waktu untuk mengerjakan tes ini adalah sekitar 20 40 menit. Tes ini terdiri dari 40 item kalimat tanpa struktur. Dalam tes ini, respon atau jawaban testee menggambarkan empat kategori, yaitu 1. Omission : mendeskripsikan respon singkat atau respon penuh makna 2. Conflict response: mendeskripsikan permusuhan atau ketidakbahagiaan 3. Positive response: mendeskripsikan sikap positif atau penuh harapan 4. Neutral response: mendeskripsikan dampak pengaruh positif atau pengaruh negatif. Dalam tes ini, respon atau jawaban testee di nilai dalam tiga (3) kategori, yaitu (1) Konflik Tidak Sehat, yaitu skor -1 sampai -3 ; (2) Konflik Sehat, yaitu skor 1 sampai 3 ; (3) Respon Netral, yaitu skor 0. Dalam tes ini, ada klasifikasi rekomendasi untuk seleksi tersebut, yaitu secara psikologis siap bertugas ; secara psikologis tidak siap bertugas ; dan mengalami gangguan serius.

Ronsenzweig Picture Frustration Study (P-F Study) P-F Study merupakan tes yang menggunakan gambar untuk menstimulasi permainan fantasi yang bebas serta membangkitkan respon verbal yang rinci. P-F Study berasala dari teori frustasi dan agresi di pengarang, dengan menyajikan rangkaian kartu dengan satu orang membuat frustrasi orang lain atau meminta perhatian untuk kondisi yang membuat frustrasi.

Contoh: Respon-respon Study pada P-F

diklasifikasikan

menurut rujukan pada tipe dan arah agresi. Tipe agresi meliputi dominasi-hambatan, menekankan membuat obyek yang frustrasi,

pertahanan diri, rumusan dan perhatian pada perlindungan orang kebutuhan menerus, masalah yang membuat frustrasi. Dalam penentuan skor tes, presentase respon yang masuk dalam masingmasing kategori ini dibandingkan dengan presentase normatif yang terkait. Oleh karena lebih terbatas dalam hala cakupan, jauh lebih tersetruktur dan relatif obyektif dalam prosedur penentuan skornya. II.d. Teknik Membangun/Susunan/Bentuk THE THEMATIC APPERCEPTION TEST (TAT) Thematic Apperception Test, disingkat TAT, adalah suatu teknik proyeksi, yang digunakan untuk mengungkap dinamika kepribadian, yang menampakkan diri dalam hubungan interpersonal dan dalam apersepsi (atau interpretasi yang ada artinya) terhadap lingkungan. Dengan teknik ini frustrasi, yang berpusat dan terus pada

pemecahan konstruktif atas

seorang interpreter yang mahir dapat mengungkap dorongan-dorongan emosi, sentiment, kompleks dan konflik-konflik pribadi yang dominan. Prosedur pengumpulan data TAT dilakukan dengan jalan menyajikan serentetan gambar kepada testi. Testi diminta membuat cerita mengenai gambar-gambar yang diajikan tersebut. Dalam usaha menyusun cerita-cerita inilah komponen kepribadian memegang peranan penting, karena adanya dua kecenderungan: a. Kecenderungan bahwa orang akan menginterpretasikan sesuatu yang tidak jelas menganut pengalaman masa lalunya dan kebutuhan-kebutuhan masa kini. b. Kecenderungan orang waktu membuat cerita untuk mengambil bahan dari perbendaharaan pengalamannya dan mengekspresikan kesenangan ketidak senangan, maupun kebutuhannya, maupun scara sadar maupun tidak sadar. Murray menyarankan disajikan ke 20 kartu dalam 2 sidang (session). Sidang pertama menyajiikan seri pertama (kartu 1 10) terlebih dahulu. Selang minimal satu hari atau lebih disajikan seri kedua (kartu 11 20). Testi tidak diberi tahu bahwa akan ada penyajian sidang kedua, agar ia tidak mempersiapkan diri sebelumnya. Penyajian seluruh kartu dalam sidang tunggal, akan melelahkan testi yang produktivitas tengahan. Kelelahan dapat berakibat cerita menjadi datar dan tidak berisi. Petunjuk penyajian pada remaja dan orang dewasa (yang cukup kemampuannya) bagi sidang pertama disarankan sebagai berikut: Ini adalah tes daya khayal, yang merupakan suatu bentuk tes kecerdasan. Saya akan menyajikan beberapa gambar, satu demi satu. Tugas anda adalah membuat cerita untuk tiap-tiap gambar, buatlah cerita

itu sedramatis mungkin. Ceritakan peristiwa apa yang terjadi sebelum kejadian tersebut ceritakan kejadian yang sedang berlangsung pada gambar tersebut, apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh para pelakunya, dan berikan akhir ceritanya. Anda katakan secara langsung saja apa yang ada dalam pikiran anda. Apakah anda sudah memahami permintaan saya? Anda dapat memamfaatkan sekitar lima menit untuk tiap-tiap gambar. Inilah gambar pertama. Sedang bagi anak-anak atau orang dewasa yang kurang cerdas dan kurang pendidikan, juga untuk orang psikotis, Murray menyarankanpetunjuk penyajian sebagai berikut: Ini adalah tes bercerita. Ada beberapa gambar yang akan saya tunjukkan. Saya kamu membuat cerita mengenai masing-masing gambar. Ceritakan apa yang terjadi sebelumnya, dan apa yang sedang terjadi sekarang. Katakan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang-orang dalam cerita itu. Dan katakan bagaimana akhir ceritanya. Buatlah ceritanya sesukamu. Sedahkah kamu mengerti maksudku? Nah ini gambar pertama. Waktu untuk mengarang cerita ada lima menit. Mari kita dengan apa yang dapat anda ceritakan. Petunjuk penyajian tidak harus tepat seperti saran Murray. Petunjuk hendaknya disesuaikan dengan umur, kecerdasan, kepribadian, dan keadaan lain-lain test. THE PICTURE PROJECTIVE TEST (PPT) Proyeksi Tes Gambar (PPT) adalah satu coba lewat-waktu lama untuk membangun satu instrumen penggunaan umum dengan ditingkatkan psychometric berkualitas (Ritzier, Sharkey, & Chudy, 1980; Sharkey & Ritzy, 1985). Pengembang dari PPT mencatat bahwa mayoritas dari TAT menggambar menggunakan satu stimulus negatif kuat "penarikan" pada storytelling. Kartu TAT dibentuk di gelap, menaungi nada dan paling adegan melukiskan orang di kunci rendah atau keadaan muram. Ini bukan kaget,

kemudian, itu tanggapan bersifat proyeksi ke TAT betul-betul channeled ke arah negatif, cerita sedih (Goldfried & Zax, 1965). Perbedaannya, PPT mempergunakan satu perangkat baru gambar mengambil dari Keluarga dari Orang esei foto diterbitkan oleh Musium dari Seni Modern (1955). Kriteria berikut dipergunakan di dalam memilih 30 gambar: a. Gambar yang harus memberikan petunjuk dari materi bersifat proyeksi penuh arti eliciting. b. Paling tetapi bukan semua gambar yang harus meliputi lebih dari satu manusia karakter. c. Setengah kesana-sini dari gambar yang harus melukiskan positif pertunjukan manusia ekspresi secara cenderung (misalnya., tersenyum, pemelukan, tarian). d. Setengah kesana-sini dari gambar yang harus melukiskan manusia di bersikap aktif, tidak hanya berdiri, duduk, atau berbaring. CHILDRENS APPERCEPTION TEST (CAT) CAT secara khusus dirancang untuk digunakan pada anak-anak berusia antara 3 dan 10 tahun. Kartu-kartu CAT mengganti manusia dengan hewan atas dasar asumsi bahwa anak-anak kecil lebih mudah melakukan proyeksi pada hewan daripada manusia. Gambar-gambar itu dirancang untuk membangkitkan fantasi yang berhubungan dengan masalah makan serta aktivitas oral, persaingan sesama saudaram hubungan orangtua dan anak, agresi, latihan buang air besar dan kecil, serta pengalaman anak lainlainnya. Penyusunan tes mempertahankan bahwa bentuk manusia tau bentuk hewan bisa lebih efektif tergantung ada usia dan ciri-ciri kepribadian anak bersangkutan. Varian lain dari tes TAT a. Adolescent Apperception Card Ini satu-satunya thematic apersepsi test mendesain terutama untuk anak remaja (12-19 tahun). Dengan 11 kartu yang relevan dengan issuea keadaan/jaman sekarang, tema meliputi: kelengangan,

parenting

style,

kekerasan

domestik,

aktivitas

geng,

dan

penyalahgunaan obat. b. Blacky Pictures Tes untuk anak usia 5th atau lebih dengan menunjukkan gambargambar binatang dan anak berpendapat atau menceritakan gambar tersebut. c. Michigan Picture Test-Revised Tes untuk anak usia 8-14th , untuk lebih pada kemampuan anak menceritakan secara reality atau logika dengan tidak menghilangkan kemampuan imajinasi mereka (kreatifitas dalam mendeskripsikan secara normatif) d. Senior Apperception Test (SAT) Tes lebih kepada mengkritik gambar yang menggambarkan situasi atau keadaan: lingkungan positif, konflik lingkungan, penundaan, keterbatasan kemampuan/ penandang cacat, masalah keluarga, ketergantungan dan ketidak asertifan/rendah diri. II.e. Teknik Pernyataan/Lambang/Simbol THE DRAW A PERSON TEST (DAP) Tes DAP termasuk tes individual. Pada tahun 1926, Goodenough mengembangkan Draw-A-Man (DAM) Test untuk memprediksi kemampuan kognitif anak yang direfleksikan dari kualitas hasil gambarnya. Asumsinya: akurasi dan detail gambar yang dihasilkan menunjukkan tingkat kematangan intelektual anak. Dalam tes ini, individu diberi pensil dan kertas untuk menggambar orang. Setelah menyelesaikan gambar pertamanya, ia diminta untuk menggambar orang dari jenis kelamin yang berlawanan atau jenis kelamin yang berbeda dari gambar pertamanya. Sementara responden menggambar, penguji memperhatikan komentarnya, urutan penggambaran bagian-bagian yang berbeda, dan rincian proseduralnya. Penggambaran ini biasanya diikuti dengan rangkaian pertanyaan antuk mendapatkan informasi tertentu tentang umur, sekolah, pekerjaan, dan fakta-fakta lain yang berhubungan dengan

karakter yang digambar. Penyelidikan ini bisa berupa permintaan pada responden untuk menyusun suatu cerita tentang tipe orang yang digambar. THE HOUSE TREE PERSON TEST (HTP) HTP merupakan tes yang meminta responden untuk melengkapi gambargambar rumah, pohon, dan orang yang terpisah. Ciri-ciri dan segi-segi gambar itu sendiri bersama dengan penelitian yang cukup ekstensif setelah tugas gambar, umumnya digunakan sebagai sumber hipotesis tentang area konflik dan keprihatinan umum. II.f. Paradok Proyeksi Bukti adalah sangat jelas bahwa kepribadian menyimpulkan ences mengambil dari proyeksi tes sering adalah tidak benar. Pada rupa dari negatif validational menemukan, praktisi kronis penerimaan dari test ini mendasari apa kita yang punya dikenal sebagai paradoks bersifat proyeksi. Bagaimana kita menjelaskan ketenaran berlanjut dari instrumen untuk yang mana bukti kebenaran ada di terbaik campuran, sering marginal, adakalanya hampa, atau bahkan dengan jelas negatif? Kita menawarkan dua keterangan untuk paradoks bersifat proyeksi. Yang pertama adalah manusia itu tergantung pada stereotip pra-keberadaan bahkan ketika menyingkapkan ke penemuan berlawanan. Berselang dasa warsa, Chapman dan Chapman (1967) dipertunjukkan fenomena ini dengan proyeksi tes, menyebutkan pengesahan sesatkan ini. Peneliti ini meminta tinggi siswa perguruan untuk mengamati beberapa gambar figur manusia serupa dengan itu memperoleh dari Test Seseorang undian (DAP). Murid adalah naif dengan hormat ke proyeksi tes dan ketahui tidak ada apapun tentang hipotesis DAP Interpretive tradisional. Masing-masing gambar ditemani oleh uraian ringkas dari dua gejala yang mana menurut dugaan tertandai sabar yang hasilkan gambar. Sebenarnya, gejala ditugaskan awurawuran untuk menggambar dan terdiri dari bit dan potongan dari cerita rakyat klinis DAP yang telah ditarik kesimpulan satu angket pos lebih awal

ke psikolog klinis. Antara lain, dua diantara gejala yang dipergunakan adalah ini: 1. Dicemasi tentang betapa jantan sekarang 2. Adalah curiga dengan orang lain" Kemudiannya, murid diminta untuk mempertunjukkan apa mereka yang punya belajar dengan mendeskripsikan, untuk beberapa gambar, gejala yang mereka telah mengamati dihubungkan dengan yang semacam gambar. Tentu, kenyataannya di situ adalah tidak ada belajar dipertunjukkan, sejak gejala dan gambar awur-awuran berkombinasi. Meskipun begitu, partisipan yang menjawab dalam kaitan dengan dengan stereotip dokter yang bekerja klinik populer (misalnya., mata tidak biasa menandai kecurigaan, kepala besar menyarankan satu keprihatinan dengan inteligen). Kelihatannya, stereotip com monsense digenggam oleh partisipan memuncul kokoh dan kedengkian unscathedin dari satu berlimpah dengan contoh penyangkalan. Barangkali sesuatu serupa terjadi di semua bidang dengan test bersifat proyeksi: clinicians memperhatikan kejadian pengkonfirmasi, tapi abaikan lagi banyak penemuan yang membantah harapan.

BAB III PEMBAHASAN DAN IMPLIKASI BAGI BIMBINGAN DAN KONSELING Berdasarkan hasil resume Chapter 13 tentang teori kepribadian, bahwa pembentukan kepribadian sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kepribadian juga terbentuk atas perilaku yang terus menerus dilakukan, sehingga dipandang sebagai pribadi.Teori-teori kepribadian yang dikemukakan oleh berbagai ahli, menjadi khasanah bagi keilmuan, untuk memahami lebih dalam tentang kepribadian . Freud mengemukakan bahwa kepribadian terbentuk atas kerja Id, Ego dan Superego.Hal ini menunjukkan bahwa dalam diri manusia, ada perilaku yang dilakukan di bawah alam sadar dan alam sadarnya.Superego menjadi jembatan bagi perilaku berdasarkan norma-norma yang berlaku. Hal ini mengimplikasikan bagi layanan Bimbingan dan Konseling, bahwa pelayanan bagi siswa didasarkan pada kepribadian yang dinamis. Kepribadian juga terbentuk dari proses belajar, hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan di sekolah, diharapkan menjadi proses belajar yang membentuk kepribadian.Hal ini juga mengimplikasikan hendaknya layanan Bimbingan dan Konseling memberikan layanan bimbingan belajar, yang mengarah kepada pembentukan kepribadiannya. Program-program Bimbingan dan Konseling di buat yang mengarah kepada kepribadian dengan menuntaskan tugas-tugas perkembangannya. Psikotes adalah tes yang dilakukan untuk mengukur aspek individu secara psikis. Tujuan dari dilaksanakannya tes ini adalah untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan orang secara mental dan faktor-faktor yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, gaya belajar, minat dan bakat, serta inteligensi. Tujuan dari psikotes itu sendiri adalah untuk mengukur Tingkat Kecerdasan Dasar, Bakat, Minat dan Kepribadian siswa serta Kelanjutan Studi, Mengenali kelemahan dan kelebihan masing-masing aspek psikologis pada setiap diri siswa, Mengidentifikasi metode pengembangan untuk meningkatkan potensi siswa, Menelusuri kesalahan belajar dan pengarahan selanjutnya (Bimbingan

Konseling), serta Mengukur kemajuan prestasi sekolah maupun prestasi umum siswa. Sedangkan dalam UndangUndang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan khususnya pada pasal 45 disebutkan bahwa: Kesehatan sehat Sekolah diselenggarakan didik dapat untuk belajar, meningkatkan tumbuh dan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan yang sehingga peserta berkembang secara harmonis dan optimal serta menjadi sumber daya yang berkualitas. Kondisi Kepribadian individu menggambarkan sikap,kondisi diri, dan konsep diri (Self Concept). Sehingga individu dapat menganalisa kelemahan dalam dirinya, karena kapasitas kecerdasan bukan sebagai kunci utama dalam meraih kesuksesan sesuai minat dan bakatnya. Kapasitas kecerdasan dan kondisi kepribadian merupakan aspek yang saling mendukung, menurut Daniel Goldman inti dari kunci kesuksesan hidup individu 80% ditentukan dari kecakapan emosional. Kematangan emosi, kerjasama tim, hubungan social adalah modal dasar dalam mengembangkan diri dalam lingkungan. Kecakapan dasar individu yang harus dimiliki diantaranya motivasi berprestasi, kesiapan untuk berubah, kepercayaan diri, dan kemampuan mengambil keputusan dalam menghadapi situasi yang kompleks. Sikap kerja menggambarkan bagaimana individu memiliki daya juang dalam menghadapi dan mengatasi persoalan di dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya, yang ditunjukkan dengan memiliki motivasi, sistematika kerja, kedisiplinan, dan ketahanan terhadap stres. Motivasi merupakan inti setiap individu dalam menghadapi tantangan dan dalam menjalankan aktifitas hidup yang kompleks. Selain itu, diperlukan juga sistematika dan kedisiplinan dalam menjalankannya agar diperoleh hasil yang maksimal. Ketahanan terhadap semua tekanan (pressure) sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan maupun tekanan yang muncul dalam setiap aktivitas. Pemanfaatan prikotes dalam layanan bimbingan dan konseling, membantu siswa dalam penempatan peminatan siswa sesuai dengan kemampuan intelegensi, bakat, dan minatnya. Dengan hasil psikotes siswa, diharapkan siswa mengembangkat

kemampuan sesuai potensi dan tugas-tugas perkambangan. Sehingga pemanfaat hasil psikotes sangat berperan dalam kelanjutan hidup siswa hingga pilihan kariernya. Kelebihan hasil psikotes terhadap layanan bimbingan dan konseling, meliputi: 1. Pemanfaatan instrumen psikotes Instrumen psikotes dapat dimanfaatkan oleh konselor dalam menganalisis kebutuhan siswa (needasesmen). Dengan menganalisis kebutuhan siswa, maka dapat dimanfat kan untuk: a. Menyusun perangkat/ program BK sesuai tugas perkembangan (kompetensi kecakapan hidup, nilai, dan moral peserta didik) b. Merumuskan tujuan layanan BK, termasuk pengadakan akomodasi, tindakan, sarana-prasarana c. Menentukan prioritas permasalahan siswa yang perlu diselesaikan, pemahaman kelebihan dan kelemahan siswa sehingga siswa diharapkan merasa terbantu dalam pilihan dan penempatan potensiny 2. Tercapainya 3. Kelemahan hasil psikotes terhadap layanan bimbingan dan konseling visi dan misi sekolah terkait tujuan nasional dan penyelenggaraan pendidikan berbasis IPTEK