Anda di halaman 1dari 5

Dalam mempelajari teori-teori CSR ada banyak literatur tentang pendekatan teori CSR.

Klonoski (1991) menyatakan ada 3 pendekatan mengenai CSR. Pendekatan pertama ialah perusahaan hanya artefak legal dan tanggung jawab memaksimalkan keuntungan ialah harus mengikuti ketentuan hukum yang berlaku. Yang kedua teori dimana membela moral seorang dan menitikberatkan aka ide agen moral. Yang terakhir Teori ketiga berdasarkan pemikiran bahwa dimensi sosial relevan terhadap perusahaan, akar dari teori ini adalah teori-teori politik dan teori-teori etik. Tak hanya itu Windsor dalam pendekatannya membagi tiga bagian. Yang pertama Ethical responsibility theory yang merepresentasikan kebijakan pengendalian diri perusahaan, memperhatikan kepentingan pihak lain dan kebijakan memperluas hak publik untuk memperkuat hak-hak. Yang kedua adalah tanggung jawab ekonomi yang bersifat minimal terhadap kebijakan publik dan yang terakhir adalah corporate citizenship. Namun dalam tulisan Mele hanya diklasifikasikan 4 bagian yaitu Corporate Social Performance, Shareholder Value Theory, Stakeholder Theory dan Corporate Citizenship Theory dalam usaha merangkum dan memberi pendekatan yang komprehensif dari pemikir pemikir di atas.

Corporate Social Performance

Secara garis besar, Corporate Social Performance bisa diartikan bahwa bisnis mempunyai tanggung jawab sosial diluar daripada tanggung jawab legal dan ekonomi. Dengan kata lain, Corporate Social Performance adalah aksi filantropis yang bermaksud menciptakan hasil yang baik bagi masyarakat dan meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkan perusahaan. Untuk bisa lebih mengerti apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawab dalam pendekatan teori Corporate Social Performance, beberapa penulis menekankan bahwa tanggung jawab yang dimaksud ialah pentingnya suatu perusahaan memperhatikan ekspektasi masyarakat terkait kehadiran perusahaan tersebut. Terkait ekspektasi tersebut, Harold R. Bowen memulai pertanyaan awal yaitu apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawab suatu perusahaan terhadap masyarakat? Dalam tulisannya ia menjelaskan bahwa setiap businessmen mempunyai kewajiban membangun kebijakan, menciptakan rumusan yang diinginkan dalam artian menjadi tujuan atau nilai yang dianut masyarakat. Pada tahun 1970an, yang saat itu ada protes

terhadap kapitalisme yang menyangkut masalah sosial, ada perkembangan literatur Corporate Social Performance yang patut diperhatikan bahwa social responsiveness adalah salah satu aspek yang penting dalam meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Ini menunjukkan mau tidak mau perusahaan harus proaktif dalam mengatur segala kemungkinan resiko yang ada sehingga perubahan atau masalah sosial dapat terhindarkan. Maka tak jarang ini yang disebut sebagai risk management. Terlepas dari sejarah perkembangan literatur Corporate Social Performance, salah satu teori yang lebih menampilkan teori Corporate Social Performance lebih lengkap dan komprehensif adalah model yang dipaparkan oleh Wood. Ia menjelaskan bahwa (i) prinsip csr diekspresikan dalam 3 level, institusional, organisasional dan individual (ii) proses corporate social responsiveness (iii) hasil dari perilaku perusahaan. Dalam prinsip institusional atau bisa disebut prinsip legitimasi, Wood menyampaikan alasan fondasi mengenai relasi antara kekuasaan perusahaan dengan tanggung jawab perusahaan. Wood percaya seiring dengan adanya kekuasaan, suatu perusahaan mempunyai tanggung jawab. Salah satu alasannya ialah bahwa kekuasaan perusahaan menyebabkan dampak sosial yang dirasa masyarakat. Maka karena itu formulasi kekuasaan-tanggung jawab tercipta dalam rumusan "Jumlah tangggung jawab perusahaan terefleksikan dari jumlah kekuasaan yang dipunyai perusahaan" Dengan kata lain semakin besar kekuasaan perusahaan, semakin besar juga tanggung jawabnya. Terlepas dari pada itu tujuan dari prinsip instistusional adalah menganalisis legitimasi perusahaan. Wood mengatakan bahwa masyarakatlah yang memberikan legitimasi suatu perusahaan dapat beroperasi oleh karena itu jelas bahwa suatu perusahaan mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakat.Dalam prinsip organisasional atau prinsip tanggung jawab publik dijelaskan bahwa CSR harus turut mengambil bagian dari kebijakan publik. Asumsi ini didasarkan bahwa bisni dan masyarakat adalah 2 hal yang saling bergantung sama lain oleh karena itu CSR harus peka akan pandangan masyarakat yang terefleksikan dalam kebijakan publik. Lalu Prinsip Individual menjelaskan bahwa manajer adalah aktor moral dimana ia harus mengerjakan tanggung jawab sosial. Proses corporate social responsiveness bisa dikatakan adalah kumpulan manajemen yang memperhitungkan dan mengatur hubungan antara stakeholder, baik mengatur ketergantungan antara beberapa pihak maupun strategi isu eksternal. Dan

yang terakhir hasil dari perilaku perusahaan. adalah termasuk didalamnya dampak sosial , program dan kebijakan sosial. Salah satu kelemahan teori pendekatan CSP secara keseluruhan adalah tidak mengadvokasikan motivasi moral dalam membangun legitimasi melainkan hanya menekankan kontrol bisnis dengan memberi perhatian kepada tanggung jawab publik. Tak hanya itu terliha beberapa penulis CSP kurang menekankan sisi etika dan hanya menjelaskan ekspektasi sosial yang layaknya perusahaan harus ikuti.

Shareholder Value Theory

Teori ini berpegang teguh kepada kepercayaan dimana satu-satunya tanggung jawab sosial perusahaan adalah memaksimalkan keuntungan perusahaan yang sejalan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Oleh karena itu yang ingin dibela disini adalah keuntungan para shareholder perusahaan maka pendekatan ini sering disebut shareholder value-oriented.

Teori ini berakar pada teori ekonomi dan erat kaitannya dengan konsep fundamentalism dari Klonoski dan economic responsibility theory dari Windsor. Pendukung utama teori ini adalah Milton Friedman, bersama istrinya ia menyatakan: Dalam suatu perekonomian hanya satu tanggung-jawab sosial perusahaan yaitu menggunakan sumberdaya dan melakukan kegiatan untuk meningkatkan profit sepanjang patuh pada aturan main yang ditetapkan, yaitu berkompetisi secara bebas dan terbuka tanpa melakukan kecurangan daan penggelapan. (Friedman dan Friedman, 1962 : 133). Menurut Mele (2008), pada umumnya teori ini searah dengan Agency Theory yang disampaikan oleh Ross (1973), Jensen dan Meckling (1976) menyebutkan bahwa pemilik perusahaan sebagai principal dan manajer sebagai agent, diperlukan mekanisme insentif agar kepentingan ekonomi agen searah dengan principal dan bertujuan untuk memaksimalkan nilai pemegang saham.

Stakeholder Theory

Teori ini merupakan versi normatif yang didasarkan pada perspektif etika. Berbeda dengan Shareholders Theory, Stakeholders Theory berpegang pada individual atau kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan atau tuntutan (klaim) kepada perusahaan. Berdasarkan perspektif ini istilah CSR mempunyai arti bahwa perusahaan mempunyai kewajiban terhadap kelompok konstituen di dalam masyarakat selain pemegang saham dan bukan hanya berkaitan dengan hukum dan hubungan serikat pekerja. Konsep stakeholders theory menurut Freeman (1984) memberikan pemikiran baru tentang strategic management, yaitu bagaimana perusahaan dapat menyusun dan mengimplementasikan arah, merupakan normative theory yang mengisyaratkan management mempunyai kewajiban moral untuk melindungi perusahaan secara keseluruhan dan berhubungan dengan pencapaian tujuan melegitimasi seluruh kepentingan stakeholders. Top management harus mengupayakan kesehatan perusahaan yang memerlukan keseimbangan dari berbagai tuntutan stakeholders. Dalam Stakeholders Theory, perusahaan harus dikelola untuk memberikan manfaat pada stakeholders yaitu pelanggan, pemilik, karyawan, dan komunitas lokal serta memelihara kemampuan hidup perusahaan. Berdasarkan teori ini, apabila dilihat lingkup CSR secara luas maka Stakeholders Theory dapat dipertimbangkan sebagai CSR Theory (Mele 2008 ).

Corporate Citizenship Theory

Teori ini berakar pada studi-studi politik. Windsor (2006) dan Klonoski (1991) menyebut teori ini sebagai salah satu pendekatan kunci. Istilah "citizen" diambil dari ilmu politik, berhubungan dengan hak dan kewajiban di dalam komunitas politik sebagai bagian dari masyarakat. Walaupun "corporate citizenship" seringkali berhubungan dengan harapan sosial tetapi juga erat kaitannya dengan perspektif etika. Perusahaan seperti juga individu merupakan bagian dan hadiah dari masyarakat yang menciptakan dan tanggungjawabnya sangat nyata sebagai entitas sosial. Menurut Caroll (1991), menjadi corporate citizen yang baik adalah secara aktif terikat pada kegiatan atau program untuk mempromosikan kesejahteraan manusia atau "nama baik" dan menjadi corporate citizen yang baik secara global berhubungan dengan tanggung- jawab

filantropi yang merefleksikan harapan masyarakat global bahwa perusahaan akan terikat pada kegiatan sosial yang tidak diharuskan oleh hukum dan secara umum diharapkan perusahaan dari segi etika. Waddock dan Smith (2000) berpendapat bahwa pada dasarnya citizenship adalah hubungan yang dikembangkan perusahaan dengan stakeholders. Menjadi good corporate global citizen pada dasarnya adalah respek kepada pihak lain, menjalin hubungan yang baik dengan stakeholders seperti menjalankan usaha dengan sebaik-baiknya.

Kesimpulan

Setelah mereview keempart teori diatas, bisa dijelaskan bahwa semuanya adalah penggambaran bagaimana perusahaan menanggapi isu CSR atau ada yang beberapa menjadi teori normatif apa yang seharusnya perusahaan lakukan terhadap masyarakat. Terlepas dairpada itu, setiap negara punya prakarsa yang berbeda-beda dalam menanggapi isu CSR. Dalam prakteknya Amerika erikat lebih condong ke arah share holder model dan Jepang serta Eropa lebih ke arah stakeholder model. Apabila kita melihat keempat teori ini sebagai teori normatif, perlu diperhatikan setiap kelemaha satu sama lain, landasan filosofis disertai analisis komprehensif mengingat setiap teori mempunyai aspek perhatian yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dengan tulisan ini diharapkan kedepannya ada pengembangan filosofis yang lebih baik dalam menjelaskan relasi anatara bisnis dan masyarakat