Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH TERAPI & TERMINOLOGI MEDIK TERAPAN

Disusun Oleh :
FERA KURNIAWATI (12340178)

INKONTINENSIA URIN
DEFINISI Inkontinensia urin adalah keadaan yang sangat umum terjadi yaitu kehilangan paksa urin yang menyebabkan masalah sosial / kebersihan dan dapat dibuktikan secara obyektif PATOFISIOLOGI Sfingter uretra yang merupakan gabungan otot polos dan lurik yang terletak diantara dan diluar uretra bertanggung jawab untuk menjaga ketahanan aliran urin dari kandung kemih setiap saat sampai individu tergerak untuk buang air. Pengosongan kandung kemih normalnya terjadi bersamaan dengan penurunan resistensi uretra dan kemauan kontraksi dari otot detrusor kandung kemih. Asetilkolin yang merupakan neurotransmitter utama pada sambungan neuromuskuler di saluran kemih bawah memperantarai kontraksi kandung kemih dan kemauan untuk buang air. Reseptor kolinergik otot polos kandung kemih terutama berbagai M-2; reseptor M-3 bertanggung jawab pada kedua keadaan yaitu kontraksi pengosongan kandung kemih normal dan dan kontraksi paksa kandung kemih yang berujung pada inkontinensia urin. Karenanya, kebanyakan terapi farmakologi antimuskarinik adalah berbasis anti M-3. Inkontinensia urin dapat terjadi karena kelebihan fungsi atau kurangnya fungsi dari uretra, kandung kemih, atau kombinasi keduanya. PENURUNAN AKTIVITAS URETRA Penurunan aktivitas uretra dikenal dengan tekanan inkontinensia urin ( Stress Urinary Incontinence = SUI ) dan dicirikan terjadinya pada saat melakukan olahraga seperti berlari, mengangkat beban, batuk dan bersin. Spinkter uretra tidak mampu lagi menahan aliran urin dari kandung kemih selama melakukan aktifitas fisik. PENINGKATAN AKTIVITAS KANDUNG KEMIH Peningkatan aktivitas kandung kemih dikenal dengan dorongan inkontinensia urin ( Urge Urinary Incontinence = UUI ) yang diasosiasikan dengan peningkatan frekuensi, urgensi, dan desakan inkontinensia.

Otot detrusor menjadi lebih aktif dan mengerut dengan tidak tepat selama fase pengisian. PENINGKATAN AKTIVITAS URETRA DAN ATAU PENURUNAN AKTIVITAS KANDUNG KEMIH Peningkatan aktivitas uretra dan atau penurunan aktivitas kandung kemih dikenal dengan overflow inkontinen dan ini merupakan tipe jarang dari UI Overflow inkontinen dihasilkan ketika kapasitas kandung kemih terisi penuh tetapi tidak dapat dikosongkan menyebabkan urin bocor dari kantung kandung kemih yang membesar melalui jalan keluar normal dan sfingter. Penyebab umum peningkatan aktivitas uretra pada pria mencakup hipertropi prostat/ tumor prostat dan kanker prostat. Penyebab peningkatan aktivitas uretra pada wanita termasuk pembentukan sistosel atau sisa perbaikan bedah setelah operasi anti-inkontiensia Medikasi yang mempengaruhi saluran kemih

OBAT
Diuretik Antagonis reseptor Agonis reseptor Penyekat kanal Ca Analgesik narkotik Sedatif hipnotik Antipsikotik Antidepresan trisiklik Antikolinergik Alkohol Inhibitor ACE

EFEK
poliuria, frekuensi, urgensi relaksasi uretra, dan SUI pada wanita konstriksi uretra dan retensi urin pada pria retensi urin retensi urin dari gangguan kontraktilitas inkontinensia campuran karena delirium, immobilitas efek antikolinergik dan retensi urin efek antikolinergik, efek agonis retensi urin poliuria, frekuensi, urgensi, sedasi, delirium batuk sebagai hasil dari inhibitor ACE yang memperburuk SUI dengan menaikkan tekanan abdomen

INKONTINENSIA CAMPURAN DAN TIPE LAIN URINARI INKONTINENSIA Inkontinensia campuran termasuk kombinasi peningkatan aktivitas kandung kemih dan penurunan aktivitas uretra Inkontinensia fungsional tidak disebabkan faktor spesifik dari kandung kemih maupun uretra melainkan terjadi pada pasien dengan kondisi seperti demensia atau kognitif atau defisit mobilitas. Banyak obat umum yang digunakan juga dapat memperburuk kondisi buang air dan UI

Perbedaan kenaikan aktivitas kandung kemih dan penurunan aktivitas uretra


GEJALA Urgensi Frekuensi dengan urgensi Ngompol saat aktivitas fisik Jumlah urin yang keluar tiap episode inkontinensia Sampai ke toilet tepat waktu saat mendesak BAK Inkontinensia nokturnal Nokturia OVERACTIVE BLADDER ya ya tidak banyak tidak atau hampir tidak ya biasanya URETHRAL UNDERACTIVITY kadang jarang ya biasanya sedikit ya jarang jarang

PRESENTASI KLINIK Sebuah riwayat medis lengkap, termasuk penilaian terhadap gejala, pemeriksaan fisik (pemeriksaan abdomen kecuali kandung kemih yang menggembung, pemeriksaan panggul pada wanita untuk mencari tanda defisiensi prolaps atau hormonal, pemeriksaan genital dan prostat pada pria), dan penilaian singkat neurologi perineum dan tangan-kaki sangat penting untuk mengklasifikasikan tipe inkontinensia dan dengan demikian dapat memastikan terapi yang sesuai. Sulit untuk mengkategorikan inkontinensia urin hanya berdasarkan gejalanya saja. Namun, pasien dengan karateristik SUI mengeluhkan kebocoran urin saat melakukan aktivitas fisik dan pasien dengan UUI mengeluhkan nokturia dan inkontinensial nokturnal. HASIL YANG DIINGINKAN Keberhasilan terapi adalah untuk menurunkan tanda klinis yang spesifik pada pasien dan gejalanya yang menyulitkan pada sebagian besar pasien. PENGOBATAN Nonfarmakologi Pengobatan nonfarmakologi (misalnya, perubahan gaya hidup, buang air terjadwal, perbaikan otot panggul) dari UI yaitu pengaturan tingkat perawatan primer Jarang operasi berperan pada awal pengobatan UI. Adanya komplikasi tambahan dari UI (kerusakankulit, infeksi), keputusan untuk melakukan pembedahan untuk mengobati gejalanya harus didasarkan pada tingkat kompromi pemilihan gaya hidup sebagai jaminan dan bahwa terapi non operasi tidak disarankan atau tidak efektif.

Farmakologi Terapi farmakologi untuk SUI, UUI dan UI campuran sebaiknya merupakan kombinasi dengan terapi nonfarmakologi SUI

Tujuan pengobatan SUI adalah untuk meningkatkan mekanisme penutupan uretra dengan stimulasi reseptor -adrenergik pada otot polos kandung kemih atas dan uretra proximal, atau meningkatkan struktur pendukung dasar epitel uretra. Estrogen Estrogen lokal dan sistemik dianggap sebagai terapi andalan SUI Efek terapi dengan estrogen merupakan variabel parameter urodinamik, seperti tekanan penutupan maksimum uretra, waktu fungsional utetra, dan rasio transmisi tekanan, telah tercatat pada uji coba terbuka dari , estradiol transdermal, krim vaginal estrogen terkonjugasi, estrogen terkonjugasi oral, uinestradiol oral, estriol oral, estrogen intramuskular, estriol vaginal suppositoria, dan estradiol oral. Hasil dari empat percobaan perbandingan plasebo terkontrol ini tidak selalu menguntungkan, tidak ditemukan efek klinis atau urodinamik yang signifikan untuk estrogen oral terhadap placebo. Agonis reseptor Sejumlah uji coba terbuka telah mendukung penggunaan berbagai agonis reseptor pada SUI, termasuk efedrin, noefenefrin, fenilpropanolamin, dan midodrine Kontraindikasi pada penggunaan agonis resepttor mencakup adanya hiperensi, takiaritmia, penyakit arteri koroner, infark miokard, korpulmonal, hipertiroid, gagal ginjal, dan glaukoma. UUI

Pilihan pertama pada terapi farmakologi untuk UUI adalah antikolinergik/ antispasmodik yang merupakan antagonis reseptor kolinergik muskarinik Oxybutinin Oxibutinin immediate release (IR) adalah obat pilihan pertama untuk UUI dan merupakan gold standar dibanding obat lain. Sekitar 25% pasien menghentikan terapi dengan oksibutinin karena efek sampingnya (mulut kering, konstipasi, gangguan pengelihatan, kebingungan, gangguan fungsi kognitif, takikardi, hipotensi ortostatik, sedasi, dan naiknya berat badan). Oksibiutinin IR sangat baik ditoleransi ketika dosis ditingkatkan secara bertahap dari tidak lebih dari 2,5mg dua kali sehari hingga 2,5mg 3 kali sehari setelah 1 bulan, kemudian

selanjutnya meningkat dengan penambahan sebesar 2,5mg/ hari tiap 1-2 bulan sampai hasil maksimal yang disarankan dicapai atau toleransi dosis tercapai. Oxibutinin extended-release (XL) dibandingkan dengan oksibutinin IR ditoleransi lebih baik dan efektif dalam mengurangi jumlah rata-rata episode UI, memulihkan pembatasan buang air, penurunan jumlah miktura perhari, dan meningkatkan volume urin tiap berkemih Manfaat maksimal dari oksibutinin XL mungkin tidak disadari hingga setelah 4 minggu pengunaan atau peningkatan dosis Tolterodine Tolterodin, antagonis kompetitif reseptor muskarinik, dapat dianggap sebagai trapi lini pertama drai UI pada pasien dengan gejala frekuensi berkemih, urgensi, atau dorongan inkontinensia. Studi terkontrol menunjukkan bahwa tolterodin lebih efektif dari pada plasebo dan seefektif Oxibutinin IR dalam menurunkan jumlah rata-rata miktura harian dan peningkatan volume rata-rata urin tiap berkemih. Namun, kebanyakan studi tidak menunjukkan penurunan dalam jumlah rata-rata episode inkontinensia tiap 24 jam dibanding dengan plasebo. Tolterodin dieliminasi sebagian besar oleh metabolisme di hati yang melibatkan sitokrom P450 (CYP 450) 2D6 dan isozim 3A4. Eliminasi Tolterodin mungkin terganggu oleh inhibitor dari 3A4 dan CYP450 termasuk fluoxetin, sertralin, fluvoxamin, antibiotik makrolida, imidazole, dan jus jeruk. Terapi lain Agen lain termasuk antidepresan trisiklik, propantelin, flavoxate, hiosiamin, dan disiklomin hidroklorida kurang efektif, tidak aman, atau tidak ada studi yang memadai. Pasien dengan UUI dan residu urin setelah buang air >100mL (atau 20% dari volume total kandung kemih) harus diterapi dengan katetersasi diri untuk buang air untuk mempertahankan volume kandung kemih <400mL. Overflow inkontinensia

Overflow inkontinensia sekunder pada hiperplasia tumor prostat jinak atau hiperplasia prostat maligan mungkin dapat digunakan untuk terapi. EVALUASI HASIL TERAPI Dalam pengobatan jangka panjang UI, gejala klinis yang diderita perlu dipantau tiap pasien. Beberapa instrumen dan penyokongnya untuk survei pada penelitian tetang inkontinensia dapat digunakan dalam pemantauan klinis. Kesembuhan total dari tanda dan gejala UI mungkin tidak dapat dilakukan, dan pasien serta praktisi perlu menetapkan tujuan nyata dari terapi.

Terapi untuk UUI sering memiliki efek samping yang mengganggu, yang perlu diperhatikan saat kunjungan praktisi kesehatan. Munculnya efek samping mungkin memerlukan penyesuaian dosis obat atau penggunaan strategi alternatif (contohnya; mengunyah permen karet, menghisap permen bebas gula, atau penggunaan saliva substitusi pada xerostomia) atau bahkan penghentian obat.

TIPE
Overaktif bladder

KELAS OBAT
antikolinergik / antispasmodik

DOSIS TERAPI
oxybutinin IR (2,5 - 5 mg 2x sehari) oxybutinin XL (5-30mg 4x sehari) tolterodin IR (1-2mg 2xsehari) tolterodin LA (2-4mg 4x sehari) propantelin (15mg + 60mg 4x sehari) saat lambung kosong

KETERANGAN
antikolinergik adalah terapi lini pertama (oksibutinin atau tolterodine lebih disukai)

antidepresan trisiklik estrogen (khusus wanita dengan uretritis dan vaginitis)

imipramin, doxepin, nortriptilin, desipramin (25-100mg hs) estrogen terkonjugasi 0,5g vaginal krim 3x seminggu selama 8 bulan. Ulangi pengobatan jika gejala berulang. Atau gunakan estradiol vaginal/ cincin (2mg-1 cincin) dan digantikan setelah 90 hari jika perlu. Jika tidak efektif, mulai terapi sistemik dengan estrogen terkonjugasi oral (0,3- 0,625mg/ hari) segera diminum setelah makan untuk menghindari mual pseudoefedrin (15-60mg 3x sehari) dengan makanan, air atau susu

TCA umumnya ditujukan pada pasien dengan indikasi tambahan (mis.depresi, neuralgia) secara garis besar efektif, efek samping yang kecil pada sediaan krim dan ovula. Progestin (medroksiprogesteron 2,5-10mg/ hari) dengan estrogen sistemik jika pasien memiliki uterus lengkap

Stress

agonis adrenergik

estrogen

(lihat atas) ; disukai penggunaan topikal

pseudoefedrin adalah terapi lini pertama untuk wanita tanpa kontraindikasi (tidak termasuk hipertensi). Fenilpropanolamin lebih disukai hingga ditarik dari peredaran US pada 2000. Menimbang alternatif lain yang kurang efektif dibandimg pseudoefedrin. Kombinasi pseudoefedrin dan estrogen hanya sedikit lebih efektif dibanding pseudoefedrin sendiri pada wanita post menopause

imipramin

25-100mg hs

imipramin merupakan terapi pilihan ketika terapi lini pertama tidak adekuat tidak boleh digunakan jika pasien menderita asma atau penyakit jantung. Hanya untuk terapi jangka pendek. Tidak pernah diberikan dalam bentuk IV atau IM karena reaksi yang mengancam kardiovaskular dan gastrointestinal

Overflow

kolinomimetik

betanekol (25-50mg 3/4x sehari) saat lambung kosong

DAFTAR PUSTAKA DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, A.G., Posey, L.M. (Eds), 2005, Pharmacotherapy a Pathophysiological Approach, 4rd ed, Appleton & Lange, Stamford