Anda di halaman 1dari 24

Bab 1 Pendahuluan 1.

1 Latar Belakang Disiplin pusat kajian Politic, Policy And Development Institute (POLLDEV Institute) memiliki relevansi yang kuat dengan disiplin pendidikan penulis, yaitu sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Politik dengan fokus metode Ilmu Politik. POLLDEV Institute merupakan sebuah lembaga advokasi dan diseminasi sosial. POLLDEV Institute memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan promosi riset-riset sosial, politik, kebijakan publik, dan pembangunan dari aspek ekonomi, hukum, good governance dan otonomi daerah. Lembaga tersebut secara independent menjunjung tinggi nilai-nilai intelektual sebagai landasan kinerja. POLLDEV Institute menyajikan hasil kerja berupa penemuaan, pengkajiaan, research dan lain-lain dengan budaya akademisi. Hasil kerja POLLDEV Institute merupakan hasil research yang dapat dipertanggung jawabkan oleh kalangan intelektual. Pada sisi lingkup kerja POLLDEV Institute melakukan riset politik, kebijakan public, pembangunan, otonomi daerah, keuangan daerah, pemberdayaan masyarakat, konsultan CSR, advokasi masyarakat, konsultasi, research ilmiah dan kajian strategis. Lingkup kerja POLLDEV Institute bekerja di lingkup lokal, nasional dan internasional. Ada pun visi lembaga tersebut adalah membangun perubahan bersama antara negara, masyarakat dan swasta. Sedangkan misi lembaga tersebut : 1) Mendorong perubahan politik, kebijakan dan pembangunan yang pro rakyat. 2) Mensinergikan proses-proses perubahan antara pemerintah, masyarakat dan swasta. 3) Menjadi fasilitator yang setara antara pemerintah, masyarakat dan swasta dalam pembangunan yang berkeadilan. Sebagai salah satu bentuk program kerja, POLLDEV Institute melakukan pengkajian Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016. Hal ini berkaitan erat dengan akan dilaksanakannya pemilihan kepala daerah di Kota Batu. Disisi yang bersamaan dengan disiplin jenjang pendidikan penulis, program kerja POLLDEV Institute relevan sebagai bentuk Praktik Kerja Nyata (PKN). Melalui mitra kerja tersebut penulis diharapkan dapat mempraktikkan materi perkuliahan yang selama ini diterima di bangku perkuliahan. Penulis pun dapat mengaplikasikan segala pengetahuannya yang berkenaan dengan kegiatan ini. Sehingga terdapat sinergi antara pengetahuan akademisi penulis dan kepentingan POLLDEV Institute untuk mensukseskan program kerja yang dilaksanakan. Berdasarkan mitra kerjasama penulis dengan POLLDEV Institute, penulis turut melakukan perencanaan penelitian Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 20122016 . Bentuk-bentuk kerja yang dilakasanakan, antara lain : turut menetapkan pemilihan metode, menetapkan lokasi dan objek penelitian, teknik menetapkan jumlah sampel, teknik penarikan sampel, menentukan definisi konseptual dan operasional, teknik pengumpulan data, analisi data, pra publikasi hasil penelitian dan publikasi Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 . Hal ini menunjukkan penulis turut aktif melaksanakan PKN dengan menjaga integritas dan kredibilitas penulis. Penulis tidak terbatas melaksanakan formalitas prosedur jenjang pendidikan. Tetapi, penulis mampu memposisikan dirinya untuk mempraktikkan ilmu

pengetahuan yang diterima dan siap mempertanggung jawabkan kinerja kepada kalangan akademik dan publik secara luas. Proses kerja sama penulis dan POLLDEV Institue ini merupakan kerjasama kelembagaan. Tidak terbatas aplikasi kemampuan teknis personal. Terdapat peran yang besar dari institusi-institusi akademik dan institusi lainnya untuk berpartisipasi mendorong pembagunan. Tidak terlepas dari sudut pandang kepentingan, arti Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 merupakan kajian penting bagi para pemangku kepentingan dan pengamat. Survei ini turut memberikan sumbangan bagi proses pembangunan dalam tempo kedepan. 1.2 Tujuan * Mengikuti perkembangan terbaru disiplin Ilmu Pengetahuan yang ditekuni penulis. * Menyelesaikan salah satu syarat tugas akademik. * Mengaplikasikan Ilmu Pengetahuan dari bangku kampus kepada publik. * Sarana memperluas jaringan penulis dengan dunia akademisi dan praktis. * Turut berpartisipasi terhadap dinamika sosial dan politik di Kota Batu. * Wahana pengembangan diri. * Turut berpartisipasi membangun ruang publik di Kota Batu. 1.3 Manfaat * Membangun budaya politik demokrasi di masyarakat. * Pengembangan Intelektual. * Mensukseskan program otonomi daerah. * Merepresentasikan kebutuhan masyarakat Kota Batu. * Menemukan karakteristik politik Kota Batu. * Referensi pembangunan Kota Batu. * Referensi kalangan elit politik. * Memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. BAB 2 Kerangka Konsep Kegiatan 2.1 Tinjuan Teoritis Demokrasi Era Baru Berakhirnya perang dingin merupakan babak baru bagi pergulatan idiologi politik di lingkup global. Pergulatan idiologi politik yang berfokus di blok barat dan blok timur diakhiri dengan dimenangkannya blok barat atas blok timur. Ketegangan idiologi yang melibatkan

perang besar di dunia; Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Perang Dingin mulai dipertanyakan eksistensinya. Keberdaaan gelombang demokrasi dan perekonomian liberal telah menandakan era keterbukaan. Nilai-nilai idiologi tersebut tersebar di belahan dunia dan menjadi bagian dari kehidupan bangsa-bangsa. Perjalanan proses idiologi ini merupakan bentuk dari pada dialektika yang panjang. Sebagai sintesis atau hasil mutrakhir dialektika idiologi adalah adanya polarisasi idiologi. Polarisasi idiologi tersebut diantaranya adalah titik kemajuan idiologi. Idiologi yang berkembang merupaka hasil dari pada peleburan idiologi. Walau pun tidak dapat disangkal bahwa masih terdapat negara-negara yang tetap mempertahankan idiologi sosialis. Akan tetapi terdapat pula praktik-praktik liberal dalam kehidupan. Tujuannya adalah memberikan yang terbaik baik bagi kehidupan manusia, khususnya di era post-modern ini. Perkembangan idiologi yang sedemikian jauh inilah yang membawa isu-isu baru bagi perkembangan globalisasi Idiologi demokrasi dan liberal tidak dapat dipungkiri adalah hasil kerja Amerika kepada negara-negara lainnya. Amerika merupakan pihak yang memiliki peran penting untuk mempromosikan idiologi tersebut ke negara-negara berkembang, negara pasca merdeka dan kebijakan politik luar negeri. Norris pada tahun 1999 melaporkan perkembangan penganut idiologi demokrasi di level internasional. Pada tahun 1983 menunjukkan negara merdeka yang menganut sistem demokrasi melonjak menjadi 34%. Dan di tahun 1997 terdapat kenaikan menjadi 41%. Laporan serupa disampaikan pula oleh Wall Street Journal pada 25 Juni 1996. Disebutkan bahwa pada tahun 1974 terdapat 39 negara yang mempraktikkan sistem demokrasi dalam kehidupan bernegara (25% negara merdeka). Pada tahun 1996 terdapat perkembangan negara merdeka menjadi 66%[1]. Banyak ahli yang menilai peran Amerika mendorong negara lain untuk meganut idiologi demokrasi disebabkan peran politik luar negeri Amerika. Terdapat tindakan yang tepat dengan momentu munculnya isu-isu yang menjadikan perhatian internasonal. Momentum tersebut muncul sebagai isu internasional disebabkan diantaranya dengan dampak yang ditinggalkan oleh sejarah peperangan, bencana kemanusiaan, stabilitas negaranegara yang menyangkut sosial ekonomi. Hal inilah yang menjadikan amerika datang dengan memberikan bantuan kepada negara-negara yang membutuhkan. Diperkuar oleh data yang ditampilkan oleh Josep; melalui program USAI (US Agency for International Development) bantuan diberikan secara tegas diberikan kepada negara tersebut dengan syarat harus menjalankan sistem demokrasi mau pun menerapkan sistem kapitalisme[2]. Dengan demikian sistem demokrasi merupakan arus keniscayaan global. Negaranegara yang terdapat di belahan dunia tidak dapat menyangkal dengan datangnya isu-isu demokrasi untuk mempertahankan politik domentik dan politik luar negeri. Perdebatan isu yang berkembang dalam skala lokal mau pun nasional dapat dibawa kepada isu-isu internasional. Dan berkembang kembali sebuah isu internasional untuk diterapkan di skala lokal. Arus kematian perang dingin membawa hubungan internasonal ke arah keterbukaan. Terdapat peluang bagi banyak pihak untuk mempengaruhi kebijakan internasional. Nilai-nilai demokrasi yang telah menjadi sistem internasional tersebut menurut David Beetham & Kevin Boyle adalahpembuatan keputusan kolektif, persamaan hak, kompetensi memperoleh suara rakyat[3]. Rakyat mendapakan tempat yang tinggi bagi penyelenggara negara. Negara merupakan bentuk representasi rakyat.

Masyarakat Neo Liberal Perkembangan pemahaman politik masyarakat dari tahun ke tahun menunjukkan adanya perubahan yang cepat, bahkan arah perubahan yang terdapat di masyarakat di rasa cukup positif. Pada era dua puluh tahunan sebeblum tahun 2000, perkembangan masyarakat untuk memahami politik dirasa cukup tabu. Banyak masyarakat yang belum kritis dan peduli terhadap isu, kebijakan dan keberadaan partai politik. Wacana politik masih dianggap sebagai konsumsi kalangan elit. Dan seolah-olah masyarakat adalah pegikut dari pada perintah elit. Pada era reformasi ini terdapat hal yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejak terdapat keterbukaan arus teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat mulai paham arti partisipasi atau kepedulian terhadap politk. Masyarakat kini tidak lagi menjadi objek politik. Masyarakat tidak lagi sebagai alat kepentingan yang diombang-ambingkan kepentingan elit politik. Faktor yang signifikan mempengaruhi pola masyarakat tersebut adalah kehadiran tekhnologi informasi dan komunikasi yang bebas. Siapa pun dapat mengakses informasi kapan pun. Tidak terdapat batasan seseorang untuk mendapatkan dan memberikan informasi kepada masyarakat luas. Keberadaan informasi yang diakses masyarakat melalui internet dan media massa memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Kehadiran internet dan media massa memberikan banyak informasi berkaitan dengan isu politik, kebijakan dan banyak hal lainnya. Secara tidak langsung masyarakat menjadi kritis dengan mebandingkan banyaknya informasi. Informasi yang terdapat di media massa dan internet telah tersebar luas di masyarakat. Siapa pun dapat mengisi informasi. Hal demikian inilah yang menjadikan sebuah arus informasi tidak bebas nilai. Kepentingan politik yang didistribuskan kepada masyarakat tidak lepas dari adanya pro dan kontra. Pihak-pihak yang berkepentingan saling memberikan argumen dan data yang komprehensif untuk memberikan legitimasi atas suatu hal yang diperjuangkan. Perang kepentingan pun dapat disaksikan oleh masyakat luas. Adanya pro dan kontra yang terjadi di media-media secara langsung mau pun secara tidak langsung berdampak terhadap pemahaman masyarakat. Masyarakat mendapatkan pendidikan dengan menilai nilai-nilai yang relevan bagi kepentingan masyarakat. Masyarakat pun menjadi tahu hak dan kwajibannya, terlebih masyarakat yang kritis dapat mensiasati prilaku elit politik. Disinilah masyarakat berperan sebagai subjek politik. Elit politik harus merubah pola prilaku terhadap masyarakat. Kini masyarakat sadar sebagai pihak yang berperan penting terhadap pelaksanaan demokrasi. Artinya elit politik harus dapat memahami kehendak masyarakat untuk mendapatkan dukungan. Disinilah politik dipahami sebagai adanya kepentingan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Politik hadir sebagai tawar menawar permintaan dan penawaran. Peran kebebasan komunikasi turut menjadi penggerak banyak kalangan untuk berpartisipasi terhadap dinamika politik. Kini di era kebebasan masyarakat telah hadir sebagai penyeimbang kebijakan pemerintah dan kalangan eit politik. Masyarakat pun dapat menjadi pengajar pendidikan politik bagi masyarakat sendiri dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Kini telah hadir banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai bentuk masyarakat madani. LSM hadirsebagai bentuk lembaga yang independen maupun bermitra dengan lembaga negara dan lembaga lainnya. Tidak jarang, penyelengaran program pemerintah menarik LSM untuk berpatisipasi.

Hal serupa terkait pentingnya peran informasi dan komunikasi dipertegas oleh Firmanzah. Dan sebagai contoh partisipasi masyarakat adalah keberadaan Komite Independent Pemantau Pemilu (KIPP) adalah lembaga yang fokus berpartisipasi memantau pemilu[4]. Lembaga tersebut sebagai representasi masyarkat kritis terhadap penyelenggaran politik. Relasi masyarakat untuk mengkomunikasikan informasi merupakan proses bagi pendewasaan masyarakat untuk melaksanakan sistem demokrasi. Masyarakat mulai sadar posisi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terdapat pola fikir rasional untuk menentukan pilihan tindakan dalam proses politik. Politik tidak terbatas atas kepatuhan kharisma dan faktor-faktor yang bersifat memaksa. Tren poitik menuju babak baru. Menurut Francis Fukuyama dengan gagasannya yang terkenal mengatakan The End of History and The Last Man . Perang idiologi liberal dengan sosialis kini telah berakhir. Kemenangan idiologi liberal justru menjadikan batasan nilai-nilai liberal tersebut tumpang tindih dengan nilai-nilai idiologi sosialis[5]. Pilihan masyarakat tidak didasarkan fanatisme idiologi. Akan tetapi pilihan rasional. Hal inilah yang menunjukkan era masyarakat menuju neo liberal. Terdapat pemahaman yang sangat penting menurutRoger Eatwell dan Anthony Wright bahwa nilainilai kesetaraan, kebebasan, individualis dan rasional sebagai unsur-unsur kehidupan neo liberal. Serta keberadaan pasar sebagai tempat yang dianggap paling adil bagi persaingan[6]. Gagasan antara nilai-nilai yang melekat pada harga diri manusia dan sesuatu yang diperjual belikan atau disebut pasar memiliki batasan yang tipis. Selama tidak mengganggu kebasan orang lain dan berada di atas rasional, maka hal tersebut dianggap sah. Pendekatan Baru Dalam Dunia Politik Pola persaingan politik pada setiap zaman memiliki karakteristik tersendiri. Sebelumnya warna perpolitkan Indonesia didominasi oleh otoritarian. Pada masa tersebut terdapat pola elit sebagai pihak yang memegang peranan penting. Masyarakat kecil harus datang kepada elit. Dan disanalah elit sebagai pihak yang memiliki derajad tinggi untuk memberikan welas ashihnya kepada masyarakat dibawahnya. Kini era persaingan politik menunjukkan pola baru. Perpolitikan didominasi kedaulatan rakyat. Rakyat kini menjadi subjek yang menentukan dukungan politik. Era ini ditandai dengan elit politik sebagai pihak yang datang kepada masyarakat. Elit politik kini berubah menjadi pihak yang melayani dan menjual integritasnya kepada masyarakat. Persaingan politik pada era demokrasi ini memberikan posisi tawar menawar bagi elit dan masyarakat. Ketika elit datang kepada masyarakat, maka elit hadir dengan membawa program atau solusi bagi permasaahan yang berkenaan di masyarakat. Masyarakat pun merespon dan menilai penawaran elit. Tidak jarang suatu program terdiri dari banyak elit. Masyarakat kini menjadi pihak yang berharga. Dan para elit datang menjemput bola. Firmanzah kembali menegaskan bahwa revormasi adalah era marketing politik[7]. Aneka solusi dan program yang ditawarkan oleh elit politik menjadikan masyarakat memilih dengan rasional. Masyarakat menentukan gagasan yang sesuai dengan kehendak yang mereka miliki. Dan pilihan masyarakat ini berdampak kepada kekuatan elit politik.

Menganalisa keberadaan elit menawarkan sesuatu kepada masyarakat menunjukkan adanya pola marketing. Politik pada era ini dianggap sebagaimana pasar. Tidak dapat disangkal dengan derasnya arus kapitalisme menjadikan politik pun sebagai sesuatu yang diperdagangkan. Para elit politik bersaing mendapatkan simpati masyarakat dengan memenuhi kebutuhan masyarakat. Disini para elit politik dapat dipahami sebagai produsen yang memproduksi, disisi yang berbeda masyarakat adalah konsumen yang menjatuhkan pilihannya kepada produk yang menarik. Proses politik dalam hal ini adanya keniscayaan bagi produsen untuk fleksibel mengolah diri secara maksimal untuk mendapatkan dukungan. Terlebih pencitraan sosok menjadi hal yang sangat penting. Disebutkan oleh Akhmad Danial Adalah menarik bahwa gaya kampaye yang memainkan citra serta pelibatan konsultan profesional sudah terjadi di Indonesia pada tahu 1980-an.[8] Para elit politik yang terdiri dari partai, bakal calon dan tim poitik harus bekerja keras untuk menggali segala potensi yang dibutuhkan masyarakat. Termasuk dalam mengangkat isu sosial, budaya, politik, ekonomi, permasalah lokal, nasional dan banyak hal yang perlu diperjuangkan. Ada pun alternatif yang dapat digunakan untuk memahami pola keinginan masyarakat adalah melakukan penelitian untuk mendapatkan data yang akurat. Sehingga sebuah isu dan program-program yang dibawa oleh elit menangkap substansi dan kehendak masyarakat. Penelitian tersebut beragam berbentuknya; dapat dilakukan survei, Fokus Group Discustion, observasi dan lain sebagainya. Penelitian tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan jasa tenaga profesional mau pun menggunakan tim yang telah disiapkan elit politik. Hal yang perlu diperhatikan adalah hasil penelitian merupakan daya tawar kepada masyarakat. Tanpa adanya daya tarik yang tinggi, tawaran elit politik memiliki peluang yang tinggi untuk dialihkan kepada saingan politik. Disinilah peran konsultan profesional dibutuhkan. Pendekatan politik menunjukkan dekatnyanya nilai-nilai idiologi neo liberal. Akan tetapi hal yang harus digaris bawahi adalah rasional pertimbangan masyarakat. Masyarakat berfikir untuk menentukan dukungannya kepada isu kebijakan publik yang diusung kandidat. Dan para politisi harus mampu mengikuti ketentuan yang berlaku. 2.2 Fokus Penelitian Perkembangan demokrasi yang telah mencapai 66 % pada tahun 1996, menunjukkan perkembangan masyarakat internasional ke sistem tunggal. Hal ini tidak lepas dipengaruhi oleh faktor peran Amerika memenangkan perang dingin. Nilai-nilai demokrasi yang menjadi dasar dalam penyelenggaraannya tersebut adalah pembuatan keputusan kolektif, persamaan hak, kompetensi memperoleh suara rakyat. Demokrasi di Indonesia tidak lepas dari keberadaan idiologi neo liberal, terdiri dari nilai-nilai nilai-nilai kesetaraan, kebebasan, individualis dan rasional. Tidak terlepas dari itu pasar dianggap sebagai tempat yang netral bagi perkepentingan pihak mana pun. Kemampuan individu untuk berkompetensi adalah suatu hal yang dihargai dan dianggap adil. Perkembangan nilai-nilai kebebasan tersebut turut dipengaruhi oleh keberadaan informasi dan komunikasi di yang bebas diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian masyarakat telah terdidik kritis secara tidak langsung. Sistem demokrasi yang didukung perkembangan nilai-nilai idiologi neo liberal di Indonesia berdampak kepada peran pemilih (masyarakat) sebagai pihak yang menentukan dukungan politiknya. Para politikus harus mampu mendapatkan simpati. Hal demikianlah

yang menjadikan terjadinya konsep marketing politik. Yaitu para elit (produser) harus mampu hadir menyuguhkan kepentingan masyarakat (konsumen). Pelaksanaan pesta demokrasi yang dilakukan di Kota Batu , Jawa Timur tetap tidak lepas dari marketing politik. Kandidat yang tampil dalam Pemilihan Kepala Daerah Kota Batu 2012 (pilkada) harus mampu mendapatkan simpati masyarakat. Berdasarkan pertimbangan tersebut, POLLDEV Institute melaksanakan Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 . Melalui survei tersebut peneliti mencari sesuatu hal yang mampu dijual kandidat kepada masyarakat. Ada pun kriteria figur Walikota Batu yang diharapkan adalah Kriteria Utama yang Perlu Dimiliki oleh Figur Calon WaliKota Batu. Sifat-Sifat Figur Calon WaliKota Batu yang Di kehendaki masyarakat. Bahan Pertimbangan Memilih Figur Calon Walikota Batu 2012-2016 Prioritas Masalah yang Perlu Diatasi oleh WaliKota Batu Periode 2012-2016 Kecenderungan Memilih Bakal Calon Walikota Batu 2012-2016 Preferensi Terhadap Pemilihan Walikota Batu 2012-2016 Preferensi Calon Walikota Batu Popularitas Bakal Calon Walikota Batu 2012-2016 Keyakinan Pada Kemampuan Calon WaliKota Menyelesaikan Prioritas Masalah di Kota Batu Selama Masa Kepemimpinan 2012-2016 Alasan Tidak Memilih dalam Pilkada Kota Batu Tahun 2012 Melakukan cross cuting preferensi (Berdasar voter share dibanding kandidat lain dan kecenderungan perilaku memilih (voting)) Pilihan Pemilu Legislatif (DPRD) 2009 dan Preferensi Bakal Calon Walikota Batu 2012-2016 2.3 Metode Pelaksanaan Kegiatan I. Metode Penelitian Pelaksanaan Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 menggunakan survai. Penelitian survai adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok [9]. Pendekatan pada peneltian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian tersebut menekankan pada hasil data statistik. II. Lokasi & Objek Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di Kota Batu Jawa Timur. Objek penelitian adalah masyarakat Kota Batu yang memiliki hak memilih dalam Pemilihan Kepala Daerah Kota Batu 2012. III. Teknik Penetapan Jumlah Sampel Berdasarkan hasil rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009[10] terdapat 142.700 pemilih tetap yang menjadi populasi dalam penelitian ini. Populasi berada di 3 kecamatan, terdiri dari 24 desa/kelurahan di Kota Batu. Ada pun jumlah sapel adalah 402 responden degan tingkat kepercayaan 94%. IV. Teknik Penarikan Sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah random. Pengambilan sampel dengan random menurut Sofian Effendi adalah pengambilan sampling yang telah tersusun pengeompokan populasinya[11]. Artinya populasi dapat dibagi menurut suatu karakteistik. V. Definisi Konseptual Penelitian yang dilakukan oleh POLLDEV Institute memiliki judul Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 . Berdasarkan definisi konseptual memiliki maksud : Survai adalah penelitian (kuantitatif) yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok [12] Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan atau dukungan masyrakat kepada elit politik untuk maju dalam pemilihan kepala daerah. Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 adalah politisi yang berpotensi mendaftarkan diri di pemilihan kepala daerah Kota Batu sebagai Calon Walikota Batu tahun 2012-2016. VI. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 mengumpulkan data kuesioner dengan jenis pertanyaan tertutup. Peneliti membawa kuesioner dan melakukan wawancara kepada sampel. Dalam proses pelaksanaan wawancara, peneliti lapangan tidak menunjukkan pertanyaan kuesioner. VII. Teknik Pengolahan Data Setelah data lapngan diperoleh , maka data diolah untuk dapat disajikan dan dianalisa. Melalui peneitian ini penulis bersama POLLDEV Institute melakukan pengolahan data melalui empat tahap : Menentukan variabel yang akan digunakan dalam tabulasi dalam bentuk kode angka. Melakukan tabulasi langsung. Melakukan Editing yaitu melakukan pengecekan validitas data. Melakuka coding. IIX. Analisis Data Mengkorelasikan variabel-variabel statistik antara yang satu dengan lainnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui kriteria figur Walikota Batu yang diharapkan. Sebagai tujuan penelitian Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 . IX. Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan dilaksanakan mulai tanggal 5 Juni samapi 10 Juli 2011 di Kota Batu. Bab3

Hasil kegiatan 3.1 Gambaran Umum Berdasarkan kegiatan adanya Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 20122016 , terjalin hubungan mitra kerja antara POLLDEV Institute dengan penulis. Hal ini dimasudkan secara mendalam untuk mempraktikkan materi perkuliahan yang diterima di kampus dan menyelesaikan tugas belajar Praktik Kerja Nyata (PKN) bagi kepentingan penulis. Sedangkan bagi POLLDEV Institute hubungan mitra kerja tersebut dimaksudkan untuk mensukseskan program kerja POLLDEV Institute. Keterlibatan penulis turut dalam Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 adalah turut berpartisipasi dn membantu POLLDEV Institute . Ada pun partisipasi penulis mencakup: perencanaan penelitian, turun kelapangan melaksanakan survei, pengolahan data untuk disajikan, persiapan publikasi dan publikasi hasil survai. 3.2 Deskripsi Kegiatan Tanggal 5 Juni 2011 Penulis berserta staf POLLDEV Institute melaksanakan rapat persiapan Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 . Pada rapat tersebut dibahas penetapan program kerja. Ada pun isi program kerja tersebut mencakup: Tanggal Kegiatan

5 Juni a. Rapat kordinasi Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2011 2012-2016 b. Menentukan metode penelitian c. Menentukan lokasi & objek penelitian. d. menetapkan teknik penarikan sempel e. Penetapan teknik pengumpulan data f. Menentukan teknik pengolahan data. g. Menentukan analisis data h. Membuat program kerja 6-9 Juni 2011 Menentukan jumlah populasi dan sampel 10-12 Juni 2011

a. Menentukan surveier yang akan turun ke lapangan. b. Membuat angket survei

13-21 Juni 2011

Survei ke lapangan

22 Juni2Juli 2011 Mengolah data 3 Juli 2011 Rapat monitoring 4-7 Juli 2011 a. Penyajian data untuk publikasi b. Mengirimkan undangan kepada stakeholder perpolitikan Kota Batu 8-9 Juli 2011 Mempersiapkan publiasi 10 Juli 20011 Publikasi Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 Tanggal 6 9 Juni 2011 Penulis membantu staf POLLDEV Institute menentukan jumlah populasi dan sampel penelitian. POLLDEV Institute telah memiliki Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Umum Presiden & Wakil Presiden Tahun 2009. Terdapat jumlah masing-masing DPT di masing-masing Kecamatan dan Kelurahan/Desa. Selama tiga hari, penulis bersama staf POLLDEV Institute menentukan daftar pemilih tetap yang menjadi calon reponden. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menentukan jumlah sampel pada masingmasing kelurahan. Hal ini dipengaruhi setiap kelurahan memiliki jumlah DPT yang berbeda. Setelah menentukan sampel, staf POLLDEV Institute bersama penulis menentukan responden yang akan didatangi. Pertimbangan lainnya yang menajadi alasan responden dipilih adalah perbedaan identitas tempat tinggal di RW dan RT. Maka dihasilkan daftar responden beserta alamat lengkapnya. Dan daftar responden tersebut akan diwawancarai. Tanggal 10 Juni 2011 Penulis beserta staf POLLDEV Institute menentukan daftar surveier yang akan turun kelapangan. Tim yang turun kelapangan tediri dari staf POLLDEV Institute beserta mahasiswa yang magang. Ada pula mahasiswa yang turut berpartisipasi membantu pelaksanaan survei. Tanggal 11 Juni 2011 Penulis mengikuti pelatihan surveir. Ada pun pelajaran yang didapatkan : Mencari alamat reponden (mencari kecamatan, kelurahan, RW, RT, Jalan, nomer rumah). Bila

responden tidak ditemukan dapat melakukan survei kepada anggota keluarga lainnya atau tetangga. Selanjutnya, tidak diperbolehkan menunjukkan angket kepada responden. Surveier tidak boleh menggiring jawaban responden pada pilihan tertentu mau pun menunjukkan opsi jawaban. Dan surveier dianjurkan memberikan catatan atas fenomena menarik di sekitar responden. Tanggal 14 Juni 2011 Penulis turun ke lapagan sebagai surveier. Penulis melakukan survei di Kelurahan Oro-Oro Ombo dengan jumlah 24 responden. Survei dilaksanakan dengan identitas RT dan RW yang berfariasi. Surve dilaksanakan mulai jam 09.00-17.00 WIB. Tanggal 15 Juni 2011 Penulis turun ke lapagan sebagai surveier. Penulis melakukan survei di Kelurahan Jun Rejo dengan jumlah 14 responden. Survei dilaksanakan dengan identitas RT dan RW yang berfariasi. Survei dilaksanakan mulai jam 09.00-13.00 WIB. Survei dilanjutkan di Kelurahan Pendem dengan jumlah 14 responden. Survei dilaksanakan dengan identitas RT dan RW yang berfariasi. Survei dilaksanakan mulai jam 13.300-17.00 WIB. Tanggal 16 Juni 2011 Penulis turun ke lapagan sebagai surveier. Penulis melakukan survei di Kelurahan Dadap Rejo dengan jumlah 14 responden. Survei dilaksanakan dengan identitas RT dan RW yang berfariasi. Survei dilaksanakan mulai jam 11.00-17.00 WIB. Tanggal 20 Juni 2011 Penulis turun ke lapagan sebagai surveier. Penulis melakukan survei di Kelurahan Pandan Rejo dengan jumlah 14 responden. Survei dilaksanakan dengan identitas RT dan RW yang berfariasi. Survei dilaksanakan mulai jam 08.00-12.00 WIB. Survei dilanjutkan di Kelurahan Bumi Aji bersama staf POLLDEV Institute dengan jumlah 14 responden. Survei dilaksanakan dengan identitas RT dan RW yang berfariasi. Survei dilaksanakan mulai jam 13.30-17.00 WIB Tanggal 21 Juni 2011 Penulis turun ke lapagan sebagai surveier bersama staf POLLDEV Institute. Penulis melakukan survei di Kelurahan Giri Purno dengan jumlah 14 responden. Survei dilaksanakan dengan identitas RT dan RW yang berfariasi. Survei dilaksanakan mulai jam 09.00-15.00 WIB. Tanggal 23 Juni 2011 Penulis membantu staf POLLDEV Institute untuk melakukan tabulasi hasil survei di beberapa kecamatan. Aktifitas yang dilakukan adalah menyalin jawaban angket ke dalam tabel komputer.

Tanggal 1 Juli 2011 Penulis membantu staf POLLDEV Institute untuk melakukan coding hasil survei di beberapa kecamatan. Aktifitas yang dilakukan adalah penulis membantu sebagian pekerjaan staf POLLDEV Institute untuk mengkorelasikan variabel statistik yang satu dengan yang lain. Tanggal 3 Juli 2011 Penulis mengikuti rapat monitoring kerja Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 . Terdapat hasil evaluasi yang menjadi perbaikan: No. 1. 2. pembentukan panitia publikasi Hasil Rapat Monitoring Peran Penulis

pengolahan dan penyajian data yang belum Diharapkan turut membantu selesai harus segera diselesaikan Penulis membantu staf POLLDEV Institute mempersiapkan publikasi gedung. Penulis membantu staf POLLDEV Institute untuk mengantarkan undangan peserta publikasi. Penulis berperan operator publikasi sebagai

Tanggal 6 Juli 2011 Penulis mengantarkan undangan tamu Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 di Kota Batu. Ada pun tamu undangan : Ketua KPUD Kota Batu, Ketua KNPI Kota Batu, Ketua NU Kota Batu, Ketua PKB Kota Batu, Ketua Muhammadiah Kota Batu, Ketua LMR-RI Kota Batu. Tanggal 7 Juli 2011 Penulis mengantarkan undangan tamu Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 di Kota Batu. Ada pun tamu undangan : Ketua Ansor Kota Batu, Ketua Sekolah Demokrasi Kota Batu, Ketua Perempuan Desa Kota Batu, Ketua Himpunan Tani Indonesia Kota Batu, Ketua Persatuan Mahasiswa Kota Batu, Ketua Partai Gokar Kota Batu, Ketua Persatuan PAN Kota Batu, Ketua PKS Kota Batu. Tanggal 9 Juli 2011 Penulis membantu staf POLLDEV Institute mempersiapkan perlengkapan Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 . Tanggal 10 Juli 2011

Penulis membantu staf POLLDEV Institute untuk memperiapkan gedung Survai Elektabilitas Calon Bakal Walikota Batu 2012-2016 . Setelah persiapn selesai, penulis berperan sebagai operator laptop. BAB IV Pembahasan Hasil Berdasarkan hasil PKN dapat diperoleh hasil akhir dipublikasikan , diantaranya : Metodologi Lokasi Survai: 3 Kecamatan dan 24 desa/ kelurahan di Kota Batu Survai dilaksanakan pada 5 juni- 10 juli 2011 Jumlah Total Responden 402 Tingkat Kepercayaan 94% Metode Penelitian Metode yang digunakan untuk menjalankan studi ini adalah metode survei. Menurut Rich dan Manheim (1981:105) survei merupakan satu metode untuk mengumpulkan data yang mana informasi didapat secara langsung dari individu perseorangan yang terpilih guna memberikan dasar untuk membuat inferensi tentang jumlah populasi yang besar Populasi dan Sampel Populasi yang menjadi dasar klaim dari survei ini disebut sebagai populasi seleksi. Yaitu,semua orang yang memiliki hak pilih dalam Pilkada Kota Batu (Roth, 2008:64). Mereka mencakup semua orang yang memiliki hak pilih yang pada saat pelaksanaan survei dapat diwawancara di rumah. Berdasar data DPT pemilu presiden pada 2009 lalu, pemilih tetap di Kota Batu berjumlah 1 42,700 pemilih. Adapun sampelnya adalah individu yang terpilih berdasar persyaratan memilih dalam pilkada. Teknik Sampling dan Penentuan Responden Sampel dalam penelitian ini adalah sejumlah responden yang ditentukan secara sampling kluster (cluster sampling).Yakni, sebagai teknik memilih sampel dari kelompokkelompok unit-unit yang kecil atau kluster . Mengingat kluster yang diambil bertingkat dari kecamatan,desa hingga rumah tangga (responden), maka lebih tepat dikatakan multistage cluster sampling Sampel berasal dari 3 kecamatan di seluruh Kota Batu. Dari 24 Desa/Kelurahan, tempat lokasi rumah tangga. Dari satu rumah tangga diambil 1 anggota keluarga berdasarkan acak setiap TPS yang memenuhi syarat sebagai calon pemilih, yaitu berumur minimal 17 tahun

Kerangka Teori Studi ini memandang perilaku memilih sebagai pilihan memilih ( voting choice). Khususnya ditujukan pada pilihan dalam pemilu (electoral choice. Studi ini tidak hanya terbatas pada penentuan pilihan melainkan sampai pada upaya untuk mengetahui indikasi motivasi yang mendorong individu untuk menentukan pilihannya
Identitasresponden

Jenis Kelamin (%) L 50 P 50 Agama (%) Islam 98,01 Etnis Jawa 96,27 Madura 2,49 Sunda 0,50 Lainnya 0,74 Pendidikan Tidak sekolah 2,98 SD 30,38 SMP 22,88 SMA 32,83 Protestan 0,74 Katolik 1 Hindu 0,25

Status Pernikahan (%) Kawin 83,34 Tidak Kawin 16,66

Budha 0

Konghucu 0

Lainnya 0

Diploma 4,72

S1 5,97

Pasca 0,24

Informal 0

Pekerjaan Responden Pekerjaan PNS (atau CPNS) Karyawan Swasta Pengusaha besar Pengusaha kecil/menengah Sektor informal (PKL, asongan. dll) Petani (Pemilik) % 7,21 19,40 0,50 13,92 7,46 10,21

Petani (penggarap) Pelajar Mahasiswa Aktivis Kemasyarakatan Aktivis Parpol Lainnya Tidak bekerja Pendapatan Rata-rata Per Bulan Rp &~~SPECIAL_REMOVE!#~~lt; Rp 500.000/bulan Rp. 500.000 Rp 1.500.000 &~~SPECIAL_REMOVE!#~~gt; Rp 1.500.000 Rp. 3.000.000 &~~SPECIAL_REMOVE!#~~gt; Rp 3.000.000 Rp 5.000.000 &~~SPECIAL_REMOVE!#~~gt; Rp 5.000.000 Rp 10.000.000 Tidak Jawab Pilihan Pemilu Legislatif (DPRD) 2009 Parpol PDIP Partai Golkar Partai Demokrat PAN Partai Gerindra PKB Partai Hanura PKNU % 31,84 17,41 28,10 2,99 1,24 9,46 1 0,74

15,69 1,50 2,23 0,24 0 1,50 20,14

% 54,72 32,59 10,94 1,50 0,25 0

Partai Demokrasi Kasih Bangsa Lainnya Tidak Jawab Figur Calon Wali Kota Batu 2012-2016 Yang Diinginkan Kriteria Utama Yang Perlu Dimiliki Calon Wali Kota Batu Kriteria Memiliki pengalaman jabatan formal di pemerintahan Shaleh Cendikiawan Populer Dekat dengan rakyat kecil Keberhasilannya di bidang usaha Bisa merangkul semua kalangan Lainnya Tidak Jawab/Tidak Tahu Bahan Pertimbangan Memilih Calon Wali Kota Batu Bahan Pertimbangan Kemampuan memimpin Agama Rencana Programnya Ketokohan Ideologi Fatwa Ulama Isu yang diangkat Pilihan orang tua Keseimbangan politik

0,74 4,98 1,50

% 38,80 16,67 1 1,74 27,36 1,74 11,69 1 0

% 80,84 6,96 8,20 0,75 0,75 0,50 0,25 0,50 0,25

Lainnya Tidak Jawab/Tidak Tahu Priorotas Masalah Yang Perlu Diatasi WaliKota Batu 2012-2016 Prioritas Masalah Pelayanan dan jaminan kesehatan Pelayanan dan jaminan pendidikan Masalah pengangguran Transportasi umum Lingkungan hidup Ketertiban umum Kemudahan berusaha Pajak dan retribusi daerah Perlindungan kesenian tradisional Kemiskinan Lainnya Tidak Jawab/Tidak Tahu Kecendrungan Memilih Kecendrungan Memilih Kecenderungan Memilih Tidak Memilih Tidak Memiliki Kecenderunggan Memilih Bakal Calon Wali Kota Batu 2012-2016 No. Nama Abdul Majid Latar Belakang Ketua Paguyuban Modin Kota Batu

1 0

% 27,36 17,41 16,16 3 2,74 1,50 4,72 2,74 2,74 20,39 1,24 0

% 86,56 6,46 6,96

Parpol

Dewanti Rumpoko

Istri Walikota Edi Rumpoko

Belum mendaftar parpol PDIP GOLKAR PDIP Demokrat

ke

Endang Susilaning Rahayu DPRD PDI-P Didik Mahmud Cahyo Edi Purnomo Joko Lestari Budiono Mashuri Abdurrohim Rineksi Kartono Malin wibowo Edi Rumpoko Katarina Dian Dewanti Kartika Ketua Partai Golkar Kota Batu Ketua PDIP Kota Batu Ketua Demokrat Kota Batu Wakil Wali Kota Mantan Ketua DPRD Kota Batu Akademisi Mantan Polisi/advokad Wali Kota Batu Anggota DPRD Anggota DPRD

Preferensi Terhadap Pemilihan Wali Kota Batu 2012-2016 Preferensi Jawab Tidak Jawab dan/atau Tidak tahu Preferansi Calon Wali Kota Batu No 1 Abdul Majid 2 Dewanti Rumpoko 3 Endang Susilaning Rahayu 4 Didik Mahmud 5 Cahyo Edi Purnomo 6 Joko Lestari Bakal Calon Bupati Preferensi (%) 5,97 4,22 5,47 1,99 3,48 5,97 % 86,56 13,44

7 Budiono 8 Mashuri Abdurrohim 9 Rineksi Kartono 10 Malin wibowo 11 Edi Rumpoko 12 Katarina Dian 13 Dewi Kartika 14 Tidak memiliki Kecenderunggan Memilih

11,19 3,48 1,49 0,99 35,07 6,46 0,74 6,96

Alasan Tidak Memilih Dalam Pilkada Kota Batu 2012-2016 Alasan Tidak ada calon yang sesuai dengan kriteria yang saya yakini Tidak ada calon yang memiliki sifat yang saya kehendaki CROSS CUTTING ANALISYS Preferensi (Berdasar voter share dibanding kandidat lain dan kecenderungan perilaku memilih (voting)) No 1 2 3 4 5 6 Bakal Calon Edi Rumpoko Budiono Katarina Dian Abdul Majid Joko Lestari Endang Susilaning Rahayu 35,07 11,19 6,46 5,97 5,97 5,47 Popularitas (%) % 42,30 57,70

7 8 9 10 11 12 13

Dewanti Rumpoko Cahyo Edi Purnomo Mashuri Abdurrohim Didik Mahmud Rinekso Kartono Malin Wibowo Dewi Kartika

4,22 3,48 3,48 1,99 1,49 0,99 0,74

Pilihan Pemilu Legislatif (DPRD) 2009 dan Preferensi Bakal Calon Walikota Batu 2012-2016 Bakal Calon PDIP Abdul Majid Dewanti Rumpoko Endang Susilaning Rahayu Didik Mahmud 4,43 3,54 9,74 PG 3,33 5 8,33 PD 6,45 7,52 2,15 PAN 18,18 18,18 0 Partai Politik PGr PKB 0 20 0 18,18 0 6,06 P Han PKNU 0 0 0 0 0 0 PDKB 0 0 0

0,88

6,67 1,66 10

2,15 1,07 7,52

0 0 0

0 0 0 0 0 0 0

0 0 9,09 18,18 6,06 0 0

0 25 0 25 0 0 0

0 0 33,34 33,34 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0

Cahyo Edi 8,85 Purnomo Joko Lestari 4,43 Budiono 7,97

13,34 16,12 0 6,67 3,33 0 3,23 1,07 0 0

Mashuri 3,54 Abdurrohim Rinekso Kartono Malin 1,77 1,77

2,15 0

wibowo Edi 46,02 33,34 41,93 63,64 60 Rumpoko Katarina Dian Dewi Kartika 7,07 0 8,33 6,45 0 0 2,15 0 20 0 33,34 50 3,03 3,03 0 0 33,33 0 0 33,34 66,66

Hasil Survei Popularitas Calon Walikota Batu 2012-2016 Menurut Lingkar Daerah Kota

Abdul Majid Dewanti Rumpoko Endang Susilaning Rahayu Didik Mahmud Cahyo Edi Purnomo Joko lestari Budiono Mashuri Abduurrohim Rineksi Kartono Malin Wibowo Edi Rumpoko Katarina Dian Dewi Kartika Lainnya.. Tidak Memilih
Hasil Survei Popularitas calon Wali Kota Batu 2012-2016 Lingkar Desa

15% 10% 9% 2% 2% 6% 6% 4% 1% 1% 26% 8% 2% 5% 6%

Abdul Majid Dewanti Rumpoko Endang Rahayu Susilaning

3% 3% 4%

Didik Makhmud Cahyo Edi Purnomo Joko Lestari Budiono MashuriAbdurohim Rineksi Kartono Malin Wibowo Edi Rumpoko Katarina Dian Dewi Kartika Lainnya.. Tidak Memilih

2% 4% 6% 13% 3% 2% 1% 38% 18% 1% 8% 7%

Keyakinan Pada Kemampuan Memimpin Calon Wali Kota Menyelesaikan Prioritas Masalah di Kota Batu Selama Masa Kepemimpinan 2012 2016 8 % - tidak menjawab 6 % - tidak yakin 86% - yakin [1] Norris, P. 1999. Conclusion: The Growth of Crtitical Citizen? Dalam Norris, P. (ed) Critical Citizen: Global Support for Democratic Government. New York: Oxford University Press. Hlm. 257-272.

[2] Joseph, R. 1997. Democratization in African sice 1989: Comparative and Theoretical Perspektives. Comparative Politics (29), 3, hlm.363-382.

[3] David beetham & kevin boyle. 2000. Demokrasi.: 80 Tanya Jawab. Yogyakarta: Kagnisius. 19-20

[4] Firmanzah. 2008. Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm.15-26.

[5] Fukuyama, F. 1992. The End of History an The ast Man. London: Hamish Hamilton.

[6] Eatwell, Roger dan Anthony Ali.Yogyakarta:Jendela. Hlm 159

Wright.2004.Idiologi

Politik

Kontemporer

diterjemahkan

R.M.

[7] Firmanzah, ibid. hlm. 41-44.

[8] Danial, Akhmad. 2009. Modernisasi Kampanye Politik Pasca Orde Baru. Yogyakarta: LKIS. Hlm. 126

[9] Effendi, Sofian. 2006. Metode Penelitian Survai. Jakarta:LP3ES.Hlm. 3.

[10] Mahfud. 2009. Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap Pemilihan Umum Presiden & Wakil Presiden Tahun 2009. Batu: Komisi Pemilihan Umum Kota Batu.

[11] Effendi. Ibid. hlm 165-167

[12] Effendi, Sofian. 2006. Metode Penelitian Survai. Jakarta:LP3ES.Hlm. 3.

Diposkan 30th October 2011 oleh Jati Seputro