Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada balita karena ISPA. Di negara berkembang setiap tahun kira-kira 12 juta anak meninggal sebelum ulang tahunnya yang kelima dan sebagian besar terjadi sebelum tahun pertama kehidupanya. Tujuh dari sepuluh kematian itu disebabkan ISPA, terutama pnemonia.1,2 WHO memperkirakan insidensi Pneumonia di negara dengan angka kematian bayi di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15-20% per tahun pada golongan usia balita. Sebanyak 150.000 balita meninggal tiap tahun karena pneumonia (kira-kira satu orang per menit). Menurut data bahwa di Indonesia sebanyak 40-60% pengunjung di Puskesmas dan 15-30% pengunjung rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit adalah penderita ISPA.2,3 Pada tahun 2012 ISPA menduduki peringkat pertama pada 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Cempaka, Banjarmasin Tengah. Jumlah penderita pada kunjungan rawat jalan yaitu 9.559 dari 13715 atau 30,92 % dari semua kunjungan. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang. Masalah kesehatan difokuskan pada penyakit yang diderita manusia untuk dilakukan penyembuhan. Konsep pencegahan dan pemeliharaan kesehatan kurang diperhatikan oleh semua 1

pihak. Insiden dan keparahan penyakit ISPA dapat dipengaruhi oleh variable host, lingkungan dan sosialkultural.3,4 Sanitasi rumah dan lingkungan erat kaitannya dengan angka kejadian penyakit menular, terutama ISPA. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit ISPA pada balita adalah kondisi fisik rumah, kebersihan rumah, kepadatan penghuni, dan pencemaran udara dalam rumah. Selain itu juga faktor kepadatan penghuni, ventilasi, suhu, dan pencahayaan. 5,6 Perilaku merupakan sesuatu yang rumit. Perilaku tidak hanya menyangkut dimensi kultural yang berupa sistem nilai dan norma, melainkan dimensi ekonomi. Ketiganya akan berubah mengikuti perubahan-perubahan lingkungan dari masyarakat yang bersangkutan.7 Dalam upaya untuk menurunkan angka kesakitan penyakit ISPA maka kegiatan intervensi pada komponen-komponen lingkungan tertentu, harus disertai dengan kegiatan membina kebiasaan dan perilaku masyarakat dalam pemanfaatan dan pemeliharaan sarana kesehatan lingkungan dan perilaku dalam hygiene perorangan serta kebersihan lingkungan. Bila tidak demikian, maka semua intervensi terhadap komponen-komponen lingkungan pemukiman tidak akan memberi dampak seperti yang diharapkan.1 Klinik sanitasi merupakan suatu wahana masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan untuk pemberantasan penyakit dengan bimbingan, penyuluhan, dan bantuan tekhnis dari petugas puskesmas. Kegiatan klinik sanitasi ini dibagi menjadi 2 yaitu dalam dan luar ruangan, di antara keduanya kegiatan dalam 2

ruangan adalah kegiatan utama yang harus dilakukan sebelum kegiatan luar gedung. Selain itu, masih tingginya angka penyakit-penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare, penyakit kulit, kecacingan, dan sebagianya.

I.2 Permasalahan Dari uraian di atas dapat diambil suatu permasalahan yaitu bagaimana upaya pengendalian ISPA, terutama pneumonia melalui kesehatan lingkungan dalam klinik sanitasi.