Anda di halaman 1dari 30

PROSPEK TEPUNG BELALANG KAYU

(MELANOPLUS CINEREUS)
SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN
HEWANI BAGI KESEHATAN MASYARAKAT

D
I
S
U
S
U
N

OLEH:

DENNY CORNELIUS

XI IA 4

SMAN 2 BALIGE

TOBASA

2008/2009

1
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Hormat saya berikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah yang berjudul:“PROSPEK TEPUNG
BELALANG KAYU (MELANOPLUS CINEREUS) SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER
PROTEIN HEWANI BAGI KESEHATAN MASYARAKAT" dapat selesai. Oleh karena
itu dengankerendahan hati disampaikan terima kasih kepada:
1. Orang Tua yang memberikan dukungan kepada saya baik dalam materil maupun
moril.

2. Narasumber yang memberikan penjelasan secara jelas dan terperinci.

3. Teman – teman yang memberikan semangat yang luar biasa.

Dalam pembuatan Karya Ilmiah ini saya menemukan beberapa kendala yang berarti,
yaitu:
1. Keterbatasan waktu bereksperimen.

2. Keterbatasan sarana praktikum

3. Penentuan Persen AKG

Bapak / Ibu pembaca diharapkan dapat mempergunakan Karya Ilmiah ini untuk
menjadi dasar peningkatan kesehatan masyarakat di daerah masing – masing. Dengan
kerendahan hati saya sebagai penulis menerima kritik dan saran untuk membangun serta
memperbaiki karya tulis ini pada waktu depan.
Kiranya Karya Ilmiah yang berjudul : “PROSPEK TEPUNG BELALANG KAYU
(MELANOPLUS CINEREUS) SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN
HEWANI BAGI KESEHATAN MASYARAKAT" dapat berguna bagi para pembaca
sekalian.

Balige, 8 April 2009

Tim Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1

Daftar Isi 2

Bab I
- Latar Belakang Penulisan 3
- Rumusan Masalah 4
- Tujuan Penulisan 5
- Metode Pengumpulan Data 5
- Ruang lingkup Penelitian 5

Bab II
- Keadaan yang diinginkan 6
- Keadaan sekarang 6

BAB III
- Analisis Masalah 7
- Pembahasan Masalah 7

BAB IV
- Populasi Penelitian 19
- Sampel Penelitian 19
- Variabel 19
- Rancangan Penelitian 19
- Teknik Pengambilan Data 20
- Prosedur Penelitian 20
- Analisis Data 22

BAB V
- Deskripsi Data 24
- Hasil Penelitian 24
- Pembahasan Hasil 24

BAB VI
- Kesimpulan 26
- Saran 26

Daftar Pustaka 27 - 28

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan


Penyakit-penyakit gizi di Indonesia yang utama, tergolong ke dalam kelompok
penyakit defisiensi. Salah satu penyakit gizi tersebut adalah penyakit Kekurangan Kalori dan
Protein (KKP). Berdasarkan data dari UNICEF, penyakit busung marasmus (kekurangan
kalori) dan kwashiorkor (busung lapar akibat (kurang protein) telah mengakibatkan kematian
balita di berbagai daerah di Indonesia. Di Pulau Jawa saja terdapat 4,5 juta wanita dan 8 juta
anak-anak usia pra sekolah yang kurang gizi. Diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat
bila krisis ekonomi tidak juga berlalu (PdPersi, 2005). Manusia idealnya mendapat makanan
bergizi, yakni mengandung hidrat arang, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Bahan
makanan bergizi tersebut yang sering menjadi masalah adalah protein. Selain harganya mahal,
banyak orang tidak tahu seberapa banyak yang dibutuhkan dan apa saja sumber-sumber
protein.
Protein, berasal dari bahasa Yunani proteios, yang berarti "barisan pertama". Kata
yang diciptakan oleh Johns J. Berzelius pada tahun 1938 untuk menekankan pentingnya
golongan ini (Stryer, Lubert, 2000:17). Sebagai zat pembangun, protein merupakan bahan
pembentuk jaringan-jaringan baru yang selalu terjadi dalam tubuh. Pada masa pertumbuhan
proses pembentukan jaringan terjadi secara besar-besaran, pada masa kehamilan proteinlah
yang membentuk jaringan janin dan pertumbuhan embrio. Protein juga mengganti jaringan
tubuh yang rusak dan yang perlu dirombak. Fungsi utama protein bagi tubuh ialah untuk
membentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Kekurangan protein
dalam waktu lama dapat mengganggu berbagai proses dalam tubuh dan menurunkan daya
tahan tubuh terhadap penyakit (Winarno, 2002:50).
Jumlah konsumsi protein bagi setiap orang berbeda, tergantung pada umur, berat
badan, jenis kelamin, dan mutu protein. Pada waktu mengandung, menyusui, serta waktu
pertumbuhan anak, protein yang diperlukan harus juga diperhitungkan bersama kebutuhan
protein untuk pertumbuhan jaringan janin, produksi susu, dan produksi jaringan baru pada
masa pertumbuhan anak. Kebutuhan protein pada laki-laki dewasa sekitar 0,57 g/kg berat
badan per hari dan pada wanita dewasa adalah 0,54 g/kg berat badan per hari. Jumlah tersebut
diharapkan sudah cukup untuk memenuhi keperluan menjaga keseimbangan nitrogen dalam
tubuh, dengan syarat protein yang dikonsumsi mempunyai mutuyang tinggi (Winarno:
2002:71). Menurut PdPersi (2005), protein yang banyak diketahui dan dikonsumsi orang
selama ini adalah protein hewani. Protein yang berasal dari hewan ialah daging, ikan, ayam,
telur, dan susu. Protein ini disebut protein lengkap, karena memiliki semua asam amino
esensial. Selain itu, protein juga dapat ditemukan pada padi-padian, biji-bijian dan kacang-
kacangan. Tetapi karena protein jenis ini (nabati) tidak lengkap, maka dalam

4
mengkonsumsinya harus dikombinasikan agar bisa saling melengkapi. Perbedaan
kelengkapan itu mengakibatkan ia hanya mampu memelihara jaringan tubuh, sedangkan
protein hewani mampu memelihara jaringan tubuh dan menjamin pertumbuhannya. Protein
hewani sangat penting bagi tubuh dan tidak dapat digantikan seratus persen oleh protein
nabati.
Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan alternatif penganekaragaman sumber
bahan pangan dari bahan makanan lokal yang mempunyai nilai proteintinggi terutama protein
hewani. Penganekaragaman sumber bahan pangan berprotein yang sudah dikembangkan di
Indonesia adalah pembuatan tepung dari udang. Udang kering mengandung protein 62,4
persen tiap 100 gram. Sedangkan penganekaragaman sumber protein yang sudah
dikembangkan di luar negeri, salah satunya ialah pemanfaatan belalang, baik sebagai lauk
maupun sebagai makanan ringan. Di Indonesia terutama di Kabupaten Gunung Kidul,
belalang yang sudah biasa dikonsumsi oleh masyarakat adalah belalang kayu. Belalang
dikonsumsi masyarakat selain karena mudah didapat atau ada di setiap saat, beraroma khas,
mengandung protein yang tinggi yaitu 62,2 persen tiap 100 gramnya, juga tidak menimbulkan
efek yang beracun atau berbahaya (Sutrisno Kusworo, 2002).
Tepung merupakan salah satu bentuk alternatif produk setengah jadi yang dianjurkan,
karena lebih tahan disimpan, mudah dicampur (dibuat komposit), diperkaya zat gizi
(difortifikasi), dibentuk, dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang
serba praktis (Winarno, 2000 dalam Widowati, 2003). Pembuatan tepung belalang diharapkan
dapat meningkatkan nilai gizi khususnya protein hewani pada berbagai produk makanan
olahan tepung.
Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin mengadakan penelitian dengan judul
"Prospek Tepung Belalang Kayu (Melanoplus cinereus) sebagai Alternatif Sumber Protein
bagi Kesehatan Masyarakat ".

1.2 Rumusan Masalah


Tepung penambah protein yang sudah dikembangkan di masyarakat umumnya terbuat
dari udang. Penulis mencoba membuat tepung dari belalang, yang belum pernah ada di
masyarakat. Oleh karena itu dirumuskan suatu permasalahan yaitu adakah perbedaan antara
kadar protein tepung belalang kayu dan tepung udang windu?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara
kadar protein tepung belalang kayu dan tepung udang windu.

5
1.4 Metode Pengumpulan Data

1.4.1 Kadar Protein Tepung Belalang Kayu


Kadar ialah jumlah hasil pengukuran dipersentase mengenai gejala tertentu yang
terdapat pada populasi tertentu di keadaan dan jangka waktu tertentu (Tim Penyusun Kamus
Besar Bahasa Indonesia, 2001:488). Menurut Deman (1997:103) protein merupakan polimer
dari sekitar 21 asam amino yang berlainan disambungkan dengan ikatan peptida. Tepung ialah
barang yang lumat-lumat (karena ditumbuk, digiling, dan sebagainya); serbuk yang lumat
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:124).
Tepung belalang adalah tepung yang dibuat dari belalang, belalang yang dimaksud di
sini ialah belalang kayu (Melanoplus cinereus). Kadar protein tepung belalang kayu ialah
persentase massa protein yang terdapat pada tepung belalang kayu.

1.4.4 Kadar Protein Tepung Udang Windu


Menurut Prahesti (1997) dalam Elvy Syukriyati Muchtar (2000:29) tepung
udang adalah tepung yang dibuat dari udang yang sudah dibersihkan dari kulit dan
sungutnya kemudian dicuci bersih, ditiriskan, direbus, dan dikeringkan sampai kering
kemudian digiling dan diayak sampai halus.
Kadar protein tepung udang windu ialah prosentase massa protein yang terdapat pada
tepung udang windu.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup dari penelitian terhadap tepung belalang adalah untuk menambah
pengetahuan saya sebagai penulis dan memberikan solusi atas penyakit gizi buruk yang
diderita banyak warga kurang mampu. Karena tepung belalang mengandung gizi yang cukup
tinggi dan hampir menyamai kandungan gizi dari tepung udang. Dalam penelitian ini saya
akan memaparkan kegunaan tepung belalang ini pada kehidupan sehari – hari. Berikut
kegunaannya:
Kegunaan Bagi Masyarakat
1) Memanfaatkan belalang kayu sebagai bahan pembuatan tepung, mengingat
kandungan gizi dalam belalang cukup tinggi.

2) Sebagai alternatif pemenuhan protein hewani terutama bagi golongan


ekonomi lemah.

3) Memberi informasi kepada masyarakat mengenai pembuatan tepung dari


belalang kayu.

6
BAB II
KEADAAN YANG DIINGINKAN DAN KEADAAN SEKARANG

2.1 Keadaan yang Dinginkan


Jika melihat kesehatan masyarakat sekarang yang masih dibawah normal. Saya
mengharapkan banyak masyarakat yang menerapkan ilmu dari makalah ini, karena saya
berpengharapan masyarakat Indonesia dapat hidup sehat dan terlepas dari masalah penyakit
gizi buruk yang menimpa Negara ini.

2.2 Keadaan Sekarang


Keadaan sekarang banyak warga yang masuk Rumah Sakit untuk mendapat
perawatan secara intensif hal ini hanya berlaku bagi keadaan masyarakat yang mau
mengambil sebuah resiko terlilit hutang yang besar, karena biaya untuk pengobatan Rumah
Sakit. Namun bagaimana bagi masyarakat yang tidak mau mengambil resiko biaya yang
tinggi? Inilah yang saya coba untuk memperbaiki cara pandang yang mengatakan bahwa
hidup untuk sehat itu mahal melalui Karya Ilmiah yang berjudul : “PROSPEK TEPUNG
BELALANG KAYU (MELANOPLUS CINEREUS) SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER
PROTEIN HEWANI BAGI KESEHATAN MASYARAKAT".

7
BAB III
ANALISIS MASALAH DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Masalah

Masalah kesehatan pada masyarakat Indonesia saat ini adalah masalah yang
kompleks karena berhubungan dari berbagai aspek kehidupan yang berperan penting, yaitu
ekonomi masyarakat dan kesadaran akan kesehatan. Maka dari masalah yang ada tersebut
saya berinisiatif untuk melakukan eksperimen ini yang pertama kali saya membaca artikel
tepung Belalang pada suatu situs internet. Didalam makalah ini saya memaparkan secara jelas
tentang tepung belalang ini.

B. Pembahasan Masalah

3.1 Protein
3.1.1 Struktur Protein
Menurut Deman (1997:103) protein merupakan polimer dari sekitar 21 asam amino
yang berlainan disambungkan dengan ikatan peptida. Molekul protein merupakan rantai
panjang yang tersusun oleh matarantai asam-asam amino.
Asam amino adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus karboksil (-COOH)
dan satu atau lebih gugus amino (-NH2) yang salah satunya terletak pada atom C tepat di
sebelah gugus karboksil. Asam-asam amino yang berbeda-beda bersambung melalui ikatan
peptida yaitu ikatan antara gugus karboksil satu asam amino dengan gugus amino dari asam
amino yang disampingnya. Apabila protein murni dianalisis unsur-unsur penyusunnya, maka
akan dapat dilihat penyusun protein sebagai berikut: C = 50 – 55%; O = 20 – 25%; N = 15 –
18%; H = 5 – 7%; S = 0,4 – 2,5%; P = sedikit; Fe = sedikit; Cu = sedikit (Slamet Sudarmadji,
dkk, 1996:121).
Menurut Winarno (2002:65-67) struktur protein dapat dibagi menjadi beberapa
bentuk yaitu:
1) Struktur Primer
Susunan linier asam amino dalam protein merupakan struktur primer. Susunan
tersebut merupakan suatu rangkaian unik dari asam amino yang menentukan sifat dasar dari
berbagai protein, dan secara umum menentukan bentuk struktur sekunder dan tersier.

2) Struktur Sekunder
Bila hanya struktur primer yang ada dalam protein, maka molekul protein tersebut
akan merupakan bentuk yang sangat panjang dan tipis. Struktur tersebut memungkinkan
terjadinya banyak sekali reaksi dengan senyawa yang lain, yang kenyataannya hal tersebut
tidak terjadi di alam. Struktur protein biasanya merupakan polipeptida yang berlipat-lipat,

8
merupakan bentuk tiga dimensi dengan cabang-cabang rantai polipeptidanya tersusun saling
berdekatan. Struktur yang demikian disebut struktur sekunder

NH2
R1 – C – H
C – OH
O
NH2
R2 – C – H –
C – OH
O
Ikatan Peptida Asam Amino I

NH2
R1 – C – H
C
O
NH
R2 – C – H
C
O OH
Ikatan Peptida Asam Amino II

.
3) Struktur Tersier
Bentuk penyusunan bagian terbesar rantai cabang disebut struktur tersier,
artinya adalah susunan dari struktur sekunder yang satu dengan struktur sekunder
bentuk lain.
4) Struktur Kuartener
Struktur primer, sekunder, dan tersier umumnya hanya melibatkan satu rantai
polipeptida. Tetapi bila struktur ini melibatkan beberapa polipeptida dalam membentuk suatu
protein, maka disebut struktur kuartener. Pada umumnya ikatan – ikatan yang terjadi sampai
terbentuknya protein sama dengan ikatan-ikatan yang terjadi pada struktur tersier.
3.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sifat Protein
Menurut Gaman dan Sherrington (1994:92-93), sifat substansi protein
ditentukan oleh strukturnya, karena struktur protein sangat banyak, maka sifatnya pun
juga sangat bervarisasi. Protein dapat mengalami suatu proses denaturasi , yaitu jika struktur
sekundernya berubah tetapi struktur primernya tetap. Bentuk molekulnya mengalami
perubahan, biasanya karena terpecah atau terbentuknya ikatan-ikatan silang tanpa
mengganggu urutan asam aminonya. Proses ini biasanya tidak dapat berlangsung balik
(irreversible), sehingga tidak mungkin untuk mendapatkan kembali struktur asal protein itu.

9
Denaturasi dapat merubah sifat protein, menjadi lebih sukar larut dan makin kental. Keadaan
ini disebut koagulasi.
Koagulasi protein dipengaruhi berbagai hal, antara lain:
1) Pemanasan
Banyak protein mengkoagulasi jika dipanaskan. Misalnya, jika telur dimasak, protein
dalam bagian putih dan kuning telur mengkoagulasi. Protein
dalam putih telur mengkoagulasi lebih awal pada suhu 600C dan bagian kuning
pada suhu antara 650C dan 680C.
2) Asam
Jika susu menjadi asam, bakteri dalam susu memfermentasi laktosa, menghasilkan
asam laktat. Derajat keasaman susu menurun menyebabkan protein susu, yaitu kasein
mengkoagulasi.
3) Enzim-Enzim
Rennin yang dikenal sebagai rennet adalah enzim yang mengkoagulasi protein.
Rennet digunakan untuk membuat susu kental manis (junket) yaitu susu yang digumpalkan
atau dikoagulasikan. Rennet juga digunakan bersama-sama dengan startar bakteri untuk
membentuk dadih dalam pembuatan keju.
4) Perlakuan Mekanis
Perlakuan mekanis seperti mengocok putih telur menyebabkan terjadinya koagulasi
parsial pada protein. Ini digunakan dalam penyiapan makanan seperti dalam pembuatan
“meringue” (sejenis kembang gula dengan putih telur).
5) Penambahan Garam
Garam-garam tertentu seperti natrium klorida, dapat mengkoagulasi protein. Jika
garam ditambahkan pada air yang digunakan untuk merebus telur, putih telur tidak akan
hilang jika kulit telurnya pecah. Dalam pembuatan keju, garam sering ditambahkan pada
dadih untuk mengeraskan dan juga menekan pertumbuhan mikroorganisme.

3.1.3 Fungsi Protein


Fungsi protein menurut Stryer, Lubert (2000:17-18) dan Sunita Almatsier (2001:96-
97) ialah sebagai berikut:
1) Katalis Enzimatik
Hampir semua reaksi kimia dalam sistem biologi dikatalisis oleh makromolekul
spesifik yang disebut enzim. Enzim mempunyai daya katalitik yang besar, umumnya
meningkatkan kecepatan reaksi sampai jutaan kali. Fakta menunjukkan bahwa hampir semua
enzim yang dikenal adalah protein. Jadi protein merupakan pusat dalam menetapkan pola
transformasi kimia dalam system biologi.
2) Transport dan Penyimpanan
Berbagai molekul kecil dan ion ditransport oleh protein spesifik. Misalnya transport
oksigen dalam eritrosit oleh hemoglobin dan mioglobin suatu protein sejenis mentransport
oksigen dalam otot.

10
3) Koordinasi Gerak
Protein merupakan komponen utama dalam otot. Kontraksi otot berlangsung akibat
pergeseran dua jenis filamen protein. Contoh lain adalah pergerakan kromosom pada proses
mitosis dan gerak sperma oleh flagel.
4) Penunjang Mekanis
Ketegangan kulit dan tulang disebabkan oleh adanya kolagen yang merupakan
protein fibrosa.
5) Proteksi Imun
Antibodi merupakan protein yang sangat spesifik dan dapat mengenal serta
berkombinasi dengan benda asing seperti virus, bakteri dan sel yang berasal dari organisme
lain. Protein berperan penting untuk membedakan antara antobodi dan antigen.
6) Membangkitkan dan Menghantar Impuls Saraf
Respons sel saraf terhadap rangsang spesifik diperantarai oleh protein reseptor.
Misalnya rodopsin suatu protein yaitu antibodi terhadap cahaya yang ditemukan pada sel
batang retina. Protein reseptor yang dapat dipicu oleh molekul kecil spesifik seperti
asetilkolin, berperan dalam transmisi impuls saraf pada sinaps yang menghubungkan sel-sel
saraf.
7) Pengaturan Pertumbuhan dan Diferensiasi
Pengaturan urutan ekspersi informasi antibodi sangat penting bagi pertumbuhan yang
beraturan serta diferensiasi sel.
8) Pertumbuhan dan Pemeliharaan
Pertumbuhan dan penambahan otot hanya mungkin bila tersedia cukup campuran
asam amino yang sesuai termasuk untuk pemeliharaan dan perbaikan. Beberapa jenis jaringan
tubuh membutuhkan asam-asam amino tertentu dalam jumlah lebih besar. Rambut, kulit, dan
kuku membutuhkan lebih banyak asam amino yang mengandung sulfur. Protein kolagen
merupakan protein utama otot urat-urat dan jaringan ikat. Fibrin dan antibodi adalah protein
lain yang terdapat di dalam otot-otot.
9) Pembentukan Ikatan-Ikatan Esensial Tubuh
Hormon-hormon seperti tiroid dan insulin adalah protein, demikian pula pada
berbagai enzim. Ikatan-ikatan ini bertindak sebagai katalisator atau membantu perubahan-
perubahan biokimia yang terjadi di dalam tubuh. Hemoglobin, pigmen darah yang berwarna
merah dan berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan karbon dioksida adalah ikatan protein.
Begitu pula bahan-bahan lain yang berperan dalam penggumpalan darah.
10) Pengatur Keseimbangan Air
Cairan tubuh terdapat di dalam tiga kompartemen yaitu intraselular (di dalam sel),
ekstraselular atau interselular (di antara sel), intravaskular (di dalam pembuluh darah).
Kompartemen-kompartemen ini dipisahkan satu sama lain oleh membran sel. Distribusi
cairan di dalam kompartemen-kompartemen ini harus dijaga dalam keadaan seimbang atau
homeostasis. Keseimbangan ini diperoleh melalui antibodi kompleks yang melibatkan protein

11
dan elektrolit. Penumpukan cairan di dalam jaringan dinamakan oedema dan merupakan
tanda awal kekurangan protein.
11) Pemelihara Netralitas Tubuh
Protein tubuh bertindak sebagai buffer, yaitu bereaksi dengan asam dan basa untuk menjaga
pH pada taraf konstan. Sebagian besar jaringan tubuh berfungsi dalam keadaan pH netral atau
sedikit alkali (pH 7,35 – 7,45).
12) Sumber Energi
Sebagai sumber energi, protein ekivalen dengan karbohidrat, karena menghasilkan 4
Kal/gram protein. Namun, protein sebagai sumber energi relative lebih mahal. Baik dalam
harga maupun dalam jumlah energi yang dibutuhkan untuk metabolisme energi.

3.1.4 Kebutuhan Protein


Kebutuhan protein perorangan tergantung pada laju pertumbuhan dan berat badan.
Orang dewasa memerlukan kira-kira 1 gram protein untuk setiap kg berat badan. Selama
periode pertumbuhan lebih banyak protein diperlukan secara proporsional, misalnya untuk
anak-anak usia 5 – 6 tahun dibutuhkan kira-kira 2 gram protein untuk tiap kg berat badan.
Selama hamil dan menyusui anak, wanita memerlukan lebih banyak protein dalam susunan
makanannya, karena harus memenuhi kebutuhan bayinya di samping keperluan tubuhnya
sendiri. Sehabis sakit atau menjalani operasi, tubuh kehilangan sejumlah protein, misalnya
retaknya tulang paha menyebabkan tubuh kehilangan kira-kira 800 gram protein. Karena itu,
selama penyembuhan kandungan protein dalam susunan makanan harus dinaikkan menjadi 14
persen dari seluruh suapan energi (Gaman dan Sherrington, 1994:101).

12
Tabel 1
Angka Kecukupan Protein yang Dianjurkan (per orang per hari)
Golongan Umur Berat Badan (kg) Tinggi Badan (cm) Protein (g)
1234
Berat Badan Tinggi Badan
Umur (Kg) (Cm) Protein
0 – 6 bulan 5,5 30 12
7 – 12 bulan 8,5 45 15
1 – 3 tahun 12 56 23
4 – 6 tahun 18 62 32
7 – 9 tahun 24 62 37
Pria:
10 – 12 tahun 30 60 45
13 – 15 tahun 45 71 64
16 – 19 tahun 56 160 66
20 – 45 tahun 62 165 55
46 – 59 tahun 62 165 55
60 tahun 62 165 55
Wanita:
10 – 12 tahun 35 140 54
13 – 15 tahun 46 153 62
16 – 19 tahun 50 154 51
20 – 45 tahun 54 156 48
46 – 59 tahun 54 154 48
60 tahun 54 154 48
Hamil
Menyusui:
0 – 6 bulan 60 16
7 – 12 bulan 71 12
Sumber: Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 1998 dalam Sunita Almatsier
(2001:99)

3.1.5 Sumber Protein


Menurut Sunita Almatsier (2001:100-101) bahan makanan hewani merupakan
sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, unggas,
ikan, dan kerang. Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya, seperti tempe
dan tahu, serta kacang-kacangan lainnya.

Tabel 2

13
Bahan Makanan Sumber Protein
Kadar Protein
No. Nama Bahan Makanan (%)
1 Daging ayam 18,2
2 Daging sapi 18,8
3 Telur ayam 12,8
4 Susu sapi segar 3,2
5 Keju 22,8
6 Bandeng 20
7 Udang segar 21
8 Kerang 8
9 Beras tumbuk merah 7,9
10 Beras giling 6,8
11 Kacang hijau 22,2
12 Kedelai basah 30,2
13 Tepung terigu 8,9
14 Jagung kuning (butir) 7,9
15 Pisang ambon 1,2
16 Durian 2,5
Sumber: Daftar Komposisi Bahan Makanan 1981 dalam Anna P. (1994:82)
3.1.6 Akibat Kekurangan Protein
Kekurangan protein banyak terdapat pada masyarakat sosial ekonomi rendah.
Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan kwashiorkor pada anak-anak di
bawah lima tahun (balita). Istilah kwashiorkor pertama diperkenalkan oleh Dr. Cecily
Williams pada tahun 1933 ketika ia menemukan keadaan ini di Ghana, Afrika (Sunita
Almatsier, 2001:101).
Kwashiorkor seringkali dinyatakan sebagai busung lapar atau hongeroedem-HO.
Penderita penyakit ini sangat khas, terutama bagian perut yang buncit. Penyakit yang akhir-
akhir ini telah menghipnotis semua komponen bangsa. Seluruh media massa, baik cetak,
elektronik maupun radio telah menjadikan busung lapar ini sebagai komoditas utamanya
(Dadan Rohdiana:2005).Selama periode Januari hingga Juni 2005, sebanyak 48 anak
penderita gizi buruk meninggal dunia. Secara keseluruhan, pada 2005 ini ada 13.449 kasus
gizi buruk di Jawa Tengah (Jateng), dari kasus gizi buruk ini, yang berhasil disembuhkan baru
3.875 anak. Secara umum, kasus gizi buruk ini dialami warga hampir di setiap kabupaten dan
kota di Jawa Tengah. Kasus gizi buruk paling banyak, dialami penduduk Kabupaten
Grobogan, yakni sebanyak 892 kasus penderita, berikutnya disusul Kabupaten Blora yang
jumlahnya mencapai 859 kasus, Rembang 710 kasus, Wonogiri 622 kasus, dan Pekalongan
yang mencapai 653 kasus, yang paling sedikit di Kota Tegal 29 kasus, Kota Salatiga 39 kasus,
Kota Pemalang 6 kasus, dan Kota Magelang 73 kasus (Siswono:2005).
Tanda-tanda klinis pada penderita kwashiorkor menurut Supariasa, dkk (2002:131)
ialah sebagai berikut:

14
1) Oedem umumnya di seluruh tubuh dan terutama pada kaki.

2) Wajah membulat (moon face) dan sembab.

3) Otot-otot mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan
duduk, anak berbaring terus-menerus
.
4) Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis.

5) Anak sering menolak segala jenis makanan (anoreksia).

6) Pembesaran hati.

7) Sering disertai infeksi, anemia, dan diare.

8) Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut.

9) Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam
terkelupas.

10) Pandangan mata anak nampak sayu.

3.1.7 Akibat Kelebihan Protein


Protein yang berlebihan tidak menguntungkan tubuh. Makanan yang tinggi protein
biasanya tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan obesitas. Kelebihan protein dapat
menimbulkan masalah lain, terutama pada bayi. Kelebihan asam amino memberatkan ginjal
dan hati yang harus memetabolisme dan mengeluarkan kelebihan nitrogen. Kelebihan protein
akan menimbulkan asidosis, dehidrasi, diare, kenaikan amoniak darah, kenaikan ureum darah,
dan demam. Batas yang dianjurkan untuk konsumsi protein adalah dua kali angka kecukupan
gizi untuk protein (Sunita Almatsier, 2001:104).

3.1.8 Analisis Kuantitatif Protein


Menurut Winarno (2002:76-77), salah satu cara untuk menganalisis kuantitatif protein
adalah dengan cara Kjeldahl. Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein
kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini
adalah kadar nitrogennya, dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan angka konversi
6,25 diperoleh nilai protein dalam bahan makanan itu. Angka 6,25 berasal dari angka konversi
serum albumin yang biasanya mengandung 16 persen nitrogen.

Tabel 3
Konversi dari Kadar N menjadi Kadar Protein Berbagai Macam Bahan
No. Bahan Faktor Konversi

15
1 Bir, sirup, biki-bijian, ragi, makanan ternak, 6,25
2 buah-buahan, teh, anggur 5,95
3 Beras 5,7
4 Roti, gandum, makaroni, bakmi 5,46
5 Kacang tanah 5,75
6 Kedelai 5,18
7 Kenari 6,38
8 Susu kental manis 6,38
Slamet Sudarmadji, dkk. (1997:70).

3.2 Belalang Kayu


Belalang adalah serangga yang bersayap dua lapis dan mempunyai sepasang kaki
belakang yang panjang, makanannya rumput-rumputan atau daun – daunan (Tim Penyusun
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:124).

3.2.1 Klasifikasi Belalang Kayu


Menurut Borror, Triplehorn, dan Johnson (1992:273-274) klasifikasi belalang kayu
adalah sebagai berikut:
1) Divisi : Arthropoda

2) Klass : Insecta

3) Ordo : Orthoptera

4) Subordo : Caelifera

5) Superfamili: Acridoidea

6) Famili : Acrididae

7) Subfamili : Cyrtacanthacridinae

8) Genus : Melanoplus

9) Spesies : Melanoplus cinereus.

Belalang kayu memiliki wajah tegak atau hampir demikian. Pinggir ekor mengarah
ke belakang dan bersudut di bagian tengah. Sayap panjang mencapai atau melewati abdomen.
3.2.2 Daur Hidup Belalang
Berdasarkan data dari Hasegawa (1996:4-5) belalang mengalami metamorfosis tidak
sempurna, yaitu dari telur menjadi nimpa, dan akhirnya menjadi imago atau belalang dewasa.
Telur belalang kecil, bentuknya seperti pisang, panjangnya + 0,25 cm. Telur yang berwarna
kuning atau coklat akan semakin cerah ketika nimpa tumbuh di dalamnya. Kurang lebih
seminggu, telur akan menetas. Tubuh nimpa yang sedang tumbuh dapat dilihat melalui
dinding telur. Ketika nimpa mencapai permukaan tanah, ia menunggu sampai kaki dan
antenanya mengeras. Ketika nimpa menetas, tubuhnya menyimpan makanan yang cukup

16
sampai mereka dapat mencari makanan sendiri. Nimpa makan secara terusmenerus dan
tumbuh dengan pesat. Akan tetapi, kulit luarnya yang keras (eksoskeleton) tidak ikut tumbuh,
sehingga ia harus membuang kulitnya yang lama. Di bawah kulitnya yang lama terdapat kulit
baru yang lebih besar. Pergantian kulit terjadi seminggu sekali. Nimpa bisa berganti kulit
sampai enam kali sebelum menjadi belalang dewasa (Hasegawa, 1996:6-14). Setelah berganti
kulit yang terakhir, nimpa berubah menjadi belalang dewasa. Belalang membengkokkan
abdomennya dan menarik ovipositornya yang panjang dari kulitnya yang lama. Belalang
dewasa yang baru saja muncul dari kulitnya yang lama merentangkan sayapnya dan memanjat
daun rumput kembali. Seperti nimpa, belalang dewasa juga memakan kulitnya yang lama
(Hasegawa, 1996:20).
3.2.3 Kandungan Gizi Belalang
Kandungan gizi belalang per 100 gram bagian yang dapat dimakan adalah sebagai
berikut:
Tabel 4

Kandungan Gizi Belalang per 100 g

Belalan Energi
g (Kal) Air (%) Protein Lemak Karbohidrat
Mentah 17062 26 83 85 5
Kering 4207 62 210 415 8

Sumber: Sutrisno Kusworo (2002)


3.2.4 Pemanfaatan Belalang
Berdasarkan data dari Sutrisno Koswara (2002) pemanfaatan belalang di beberapa
Negara adalah sebagai berikut di Zimbabwe, locustana atau belalang dikumpulkan sebelum
fajar tiba, di mana serangga tersebut dalam keadaan tidak aktif. Kemudian direbus dalam air
mendidih, lalu dijemur sampai kering selama satu sampai dua hari. Jika akan diolah, sayap
dan kakinya dilepaskan dan locustana kering kemudian direndam dalam air hingga air
terserap, dimasak dengan bawang merah, tomat, dan hancuran kacang tanah bumbu. Di
Etiopia, locustana ditumbuk dan direbus dengan susu, atau dikeringkan dan digiling menjadi
tepung. Tepung locustana atau belalang ini kemudian dicampur dengan minyak sayur dan
dipanggang menghasilkan makanan sejenis cake. Di banyak Negara Afrika, belalang segar
disangrai, diberi garam dan dikonsumsi sebagai snack. Produk ini tinggi kandungan
proteinnya dan mengandung lemak dalam jumlah yang cukup. Di Papua Nugini belalang dan
jangkrik juga disangrai dan digoreng.

3.3 Udang Windu

17
Udang segar terdiri dari cephalothorax yang merupakan 36-49 persen, daging 24-41
persen dan kulit abdominal 17-23 persen. Daging mengandung carotenoid yang cukup tinggi.
Udang mengandung lisin dan histidin rendah, tetapi kaya akan tirosin, triptofan, dan sistin.
3.3.1 Klasifikasi Udang Windu
Menurut IPTEKnet (2005) klasifikasi udang windu ialah sebagai berikut :
1) Klas : Crustacea (binatang berkulit keras)

2) Subklas : Malacostraca (udang-udangan tingkat tinggi)

3) Superordo : Eucarida

4) Ordo : Decapoda (binatang berkaki sepuluh)

5) Sub-ordo : Natantia (kaki digunakan untuk berenang)

6) Famili : Palaemonidae, Penaeidae

7) Genus : Panaeous

8) Spesies : Panaeous monodon.

3.3.2 Kandungan Gizi Udang


Kandungan gizi udang per 100 gram bagian yang dapat dimakan adalah sebagai
berikut:
Tabel 5

Kandungan Gizi Udang per 100 g


Energi
Udang (Kal) Air (%) Protein Lemak Karbohidrat
Segar 91 75 21 0,2 0,1
Kering 295,2 76,2 42,3 3 1,8

Sumber: Hardinsyah dan Briawan (2000:9).


3.3.3 Manfaat Udang
Beberapa manfaat udang dalam IPTEKnet (2005) adalah sebagai berikut:
1) Udang dapat diolah dengan beberapa cara, seperti beku, kering, kaleng, terasi, krupuk, dan
lain-lain.

2) Limbah pengolahan udang yang berupa jengger (daging di pangkal kepala) dapat
dimanfaatkan untuk membuat pasta udang dan hidrolisat protein.

3) Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang,
sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.

4) Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25 persen dan di negara
maju sudah dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, bioteknologi, tekstil, kertas,
pangan, dan lain-lain.

5) Chitosan yang terdapat dalam kepala udang dapat dimanfaatkan dalam


industri kain, karena tahan api dan dapat menambah kekuatan zat pewarna

18
dengan sifatnya yang tidak mudah larut dalam air.

3.4 Tepung Udang


Menurut Prahesti (1997:4) dalam Elvy Syukriyati Muchtar (2000:31) tepung udang
adalah tepung yang dibuat dari udang yang sudah dibersihkan dari kulit dan sungutnya
kemudian dicuci bersih, ditiriskan, direbus, dan dikeringkan sampai kering kemudian
ditumbuk dan diayak sampai halus. Kandungan gizi tepung udang tiap 100 g adalah sebagai
berikut air 17,28 persen, lemak 6,65 persen, protein 53,74 persen, dan serat kasar 14,67
persen.
3.4.1 Cara Pembuatan Tepung Udang
Cara pembuatan tepung udang dalam Elvy Syukriyati Muchtar (2000:31- 32) adalah
sebagai berikut:
1) Tahap Pembersihan
Pada tahap ini udang dibersihkan dengan cara memisahkan cangkang dari bagian
daging, kemudian udang dikupas dan dibuang sungutnya, yang diambil hanya bagian daging
udang. Setelah dibersihkan, udang dicuci dengan air bersih.
2) Tahap Perebusan
Udang yang sudah bersih harus direbus terlebih dahulu. Perebusan dilakukan selama
+ 10-15 menit, dengan tujuan supaya udang menjadi lunak dan mengurangi bau amis.
3) Tahap Pengeringan
Setelah direbus udang ditiriskan, kemudian dikeringkan. Pengeringan menggunakan
alat pengering berkisar antara 5-6 jam dengan suhu pengeringan 55-600C. Bila pengeringan
dengan sinar matahari lama pengeringan tergantung cuaca. Pada udara yang cerah, lama
pengeringan sekitar 1-2 hari. Pengeringan ini dilakukan untuk mengurangi kadar air dari
udang.
4) Tahap Penggilingan
Udang yang sudah kering, digiling dengan penggilingan tepung sampai halus. Tujuan
penggilingan adalah untuk menghancurkan udang sehingga mempermudah proses
selanjutnya.
5) Tahap Pengayakan
Udang yang sudah digiling, kemudian disaring atau diayak dengan menggunakan
ayakan tepung. Pengayakan untuk mendapatkan tepung udang yang halus dan bersih.
6) Tahap Penyimpanan
Tepung udang yang sudah halus perlu disimpan dengan kemasan yang dapat ditutup
rapat. Tujuannya untuk mencegah menguapnya aroma khas udang, keadaan tempat
penyimpanan tidak terlalu panas dan tidak terlalu basah.

BAB IV

19
METODE PENELITIAN
4.1 Populasi Penelitian
Menurut Notoatmodjo (2002:79) populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian
atau objek yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah tepung belalang kayu dan tepung
udang windu yang dibuat dengan cara yang sama.
4.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti
dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002:79). Sampel dalam penelitian
ini tepung belalang kayu (Melanoplus cinereus) dan tepung udang windu (Panaeneous
monodon). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah random sampling. Hal ini
berarti setiap populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel.
Besar sampel yang diambil yaitu 10 kelompok tepung belalang kayu dan 10 kelompok tepung
udang windu yang masing-masing sebanyak satu gram, hal ini dikarenakan besar sampel yang
diperlukan untuk setiap pengambilan data dengan metode Kjeldahl adalah satu gram.

4.3 Variabel

4.3.1 Variabel Bebas


Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau variabel yang diteliti
pengaruhnya. Variabel bebas dalam penelitian ini ialah jenis tepung, yaitu tepung belalang
kayu (Melanoplus cinereus) dan tepung udang windu (Panaeneous monodon).
4.3.2 Variabel Terikat
Variabel terikat ialah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat
dalam penelitian ini adalah kadar protein pada tepung belalang kayu dan tepung udang windu.
4.4 Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional untuk melihat perbedaan antara
kadar protein tepung belalang kayu dan tepung udang windu dengan pendekatan cross
sectional yaitu melakukan pengumpulan data yang menyangkut variabel bebas dan variabel
terikat pada suatu saat.
Jenis Tepung
Tepung Belalang dan Tepung Udang
Kadar Protein
Kadar Protein Tepung Belalang dan Tepung Udang

4.5 Teknik Pengambilan Data

20
Data yang diambil berupa data primer yang diperoleh dari sampel secara langsung,
yaitu kadar protein tepung belalang kayu dan kadar protein tepung udang windu yang diukur
dengan metode Kjeldahl.

4.6 Prosedur Penelitian


4.6.1 Persiapan Bahan dan Peralatan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:
1) Belalang kayu 1 kg

2) Udang windu 1 kg

3) H2SO4 pekat 25 ml

4) H2SO4 26,3% 50 ml

5) KHSO4 1 g

6) CuSO4 3 g

7) NaOH 30% 100ml

8) NaOH 0,1 N

9) Metil orange.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:


1) Baskom

2) Panci

3) Alat ukur yaitu timbangan dan jam

4) Kompor

5) Penggiling tepung yaitu blender

6) Ayakan tepung

7) Cawan

8) Timbangan analitik

9) Oven listrik

10) Pemanas Kjeldahl

11) Labu Kjeldahl berukuran 30 ml

12) Alat distilasi

13) Buret 25 ml.

4.6.2 Pembuatan Tepung Belalang dan Tepung Udang

21
Pembuatan tepung belalang kayu dan tepung udang windu dilakukan di Laboratorium
Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada
tanggal 13-16 Oktober 2005. Cara pembuatan tepung belalang kayu dan tepung udang windu
adalah sama, yaitu melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1) Tahap Pembersihan
Pada tahap ini belalang kayu dibersihkan dengan cara membuang sungut, sayap, dan
kotorannya, sedangkan udang windu dibersihkan dengan cara memisahkan cangkang dari
bagian daging, kemudian udang windu dikupas dan dibuang sungutnya, yang diambil hanya
bagian daging udang windu. Setelah dibersihkan belalang kayu dan udang windu dicuci
dengan air bersih.
2) Tahap Perebusan
Belalang kayu dan udang windu yang sudah bersih kemudian direbus. Perebusan
dilakukan selama 10 menit.
3) Tahap Pengeringan
Setelah direbus belalang kayu dan udang windu ditiriskan, kemudian dikeringkan.
Pengeringan dilakukan dengan menggunakan alat pengering oven listrik selama 6 jam dengan
suhu pengeringan 600C.
4) Tahap Penggilingan
Belalang kayu dan udang windu yang sudah kering, digiling sampai halus dengan
menggunakan blender.
5) Tahap Pengayakan
Belalang kayu dan udang windu yang sudah digiling, kemudian diayak dengan
ayakan tepung dengan ukuran 114 mash.
6) Tahap Penyimpanan
Tepung belalang kayu dan udang windu yang sudah halus disimpan dengan kemasan
plastik dan ditutup rapat.

4.5.1 Analisis Kadar Air


Analisis kadar air dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada tanggal 17-18 Oktober 2005. Cara
pengukuran kadar air adalah sebagai berikut: timbang bahan sebanyak 1 gr, kemudian
panaskan ke dalam oven listrik dengan suhu 1000C selama 3 jam, setelah itu timbang bahan
kembali hingga dicapai berat konstan. Setelah proses selesai dilakukan perhitungan kadar
protein dengan rumus sebagai berikut:
4.5.2 Analisis Kadar Protein
Uji kadar protein dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada tanggal 19-21 Oktober 2005. Cara
pengukuran kadar protein adalah sebagai berikut:
1) Timbang sejumlah kecil sampel 1 g, pindahkan ke dalam labu Kjeldahl 30 ml
.

22
2) Tambahkan 1 g K2SO4, 3 g CuSO4, dan 25 ml H2SO4 pekat, kemudian
dipanaskan sampai larutan berwarna jernih.

3) Tambahkan sedikit air secara perlahan-lahan, kemudian dinginkan.

4) Tambahkan 100 ml larutan NaOH 30% dan 50 ml H2SO4 26,5%, kemudian


dilakukan distilasi sampai tertampung 10 ml destilat dalam Erlenmeyer.

5) Kemudian titrasi 10 ml destilat dengan NaOH 0,1 N dan metil merah sampai
terjadi perubahan warna menjadi orange, kemudian dilakukan penetapan
blanko.

6) Setelah proses selesai dilakukan perhitungan kadar protein dengan rumus


sebagai berikut:(ml NaOH blanko – mL NaOH sampel) x 100% x 14,008 x NaOH g sampel x
1000%N =% protein = % N x faktor% Kadar Air =Kehilangan berat (gram)Berat sampel
setelah dikeringkan (gram)X 100

4.7 Instrumen Penelitian


Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data ialah alat timbangan, yaitu
timbangan elektronik merk Sartorius yang mempunyai kepekaan 0,001 dan kapasitas 200
gram.
4.8 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penelitian
Faktor-faktor yang mempengaruhi penelitian ini adalah faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap kadar protein tepung belalang kayu dan tepung udang windu, yaitu:
4.8.1 Kualitas Bahan
Kualitas bahan pembuatan tepung berpengaruh terhadap kadar protein. Kualitas
bahan yang baik akan memperoleh kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan bahan yang
berkualitas kurang baik. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah belalang kayu
yang segar atau dalam keadaan masih hidup dan udang yang juga masih dalam keadaan segar,
sehingga diharapkan kualitas bahan tidak menjadi faktor penganggu dalam penelitian ini.
4.8.2 Proses Pembuatan Tepung
Denaturasi protein dapat terjadi beberapa diantaranya karena proses pemanasan dan
perlakuan mekanik. Proses pembuatan tepung belalang kayu dan tepung udang windu melalui
tahapan tersebut. Proses pemanasan yaitu perebusan dalam air mendidih selama 10 menit dan
pengeringan dengan oven listrik selama 6 jam pada suhu 600C, kemudian perlakuan mekanik
berupa penggilingan dengan mengunakan blender dan pengayakan menggunakan ayakan
tepung dengan ukuran 114 mash. Proses pembuatan tepung dalam penelitian ini dilakukan
dengan cara yang sama, sehingga proses pembuatan tepung bukan merupakan variabel
pengganggu dalam penelitian ini.
4.9 Analisis Data
4.9.1 Uji Normalitas Data
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang akan diteliti
berdistribusi normal atau tidak. Objek penelitian yang baik adalah yang berdistribusi normal.
Uji normalitas data yang digunakan adalah uji liliefors. Untuk menerima atau menolak

23
hipotesis nol, Lo dibandingkan dengan nilai kritis L untuk taraf nyata yang dipilih.
Kriterianya adalah tolak hipotesis nol bahwa populasi berdistribusi normal jika Lo yang
diperoleh dari data pengamatan melebihi L dari daftar, dalam hal lainnya hipotesis nol
diterima (Sudjana, 1996:466-467).
4.9.2 Uji Kesamaan Dua Varians
Populasi-populasi dengan varians yang sama besar dinamakan populasi dengan
varians yang homogen. Uji kesamaan varians dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
F = Ho ditolak hanya jika F > F ½ ( v1,v2) dengan F ½ ( v1,v2) didapat daftar
distribusi F dengan peluang ½ , sedangkan derajat kebebasan v1 dan v2 masing-masing
sesuai dengan dk pembilang dan penyebut dalam rumus, dengan = taraf nyata (Sudjana,
1996:250). varians terbesar varians terkecil
4.9.3 Analisis Perbedaan Kandungan Protein
Pengujian perbedaan kandungan protein menggunakan uji t, dengan rumus sebagai
berikut:
Simpulan uji tersebut dapat ditentukan, bila t hitung lebih kecil dari tabel pada taraf
signifikansi 5% berarti pengujian signifikan sehingga hasil tersebut berarti Ha dalam
penelitian ini diterima dan Ho ditolak, bila t hitung lebih besar dari t tabel pada taraf
signifikansi 5% berarti pengujian tidak signifikan sehingga hasil tersebut berarti Ha dalam
penelitian ini ditolak dan Ho diterima (Agresti, 1999:222-223).
M1 – M2
(x1 – x1)2 + (x2 – x2)2
t = n1 + n2 – 2

24
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi Data


Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data numerik yang berupa data rasio,
yaitu kadar protein dalam persen (%). Pengukuran yang dilakukan ialah pengukuran kadar air
tepung belalang kayu dan tepung udang windu yang dilakukan dengan metode oven serta
pengukuran kadar protein tepung belalang kayu dan tepung udang yang dilakukan dengan
metode Kjeldahl. Kadar protein yang diperoleh dari pengukuran tersebut adalah kadar protein
dalam berat basah. Untuk membandingkan kadar protein antara dua sampel yang berbeda
harus dilakukan pada basis kadar air yang sama.

5.2 Hasil Penelitian

5.2.1 Uji Normalitas Data


Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang akan diteliti berdistribusi
normal atau tidak. Objek penelitian yang baik ialah yang berdistribusi normal. Uji normalitas
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji liliefors

5.3 Pembahasan Hasil


Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa kadar protein,tepung
belalang kayu dan tepung udang windu berbeda secara signifikan, yaitu p = 0,000 (p < 0,05).
Belalang kayu yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai makanan burung dan dikonsumsi
oleh masyarakat tertentu saja, ternyata mengandung protein yang lebih tinggi daripada udang
windu (tepung belalang kayu 17,922 persen dan tepung udang windu 9,846 persen). Hal ini
menunjukkan bahwa tepung belalang kayu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternative
sumber protein hewani bagi masyarakat, sebagaimana udang windu. Prospek pemanfaatan
belalang kayu sebagai sumber protein hewani terbuka luas, selain murah, belalang kayu selalu
ada di setiap musim sehingga mudah didapatkan. Tepung belalang kayu dapat dimanfaatkan
sebagaimana tepung udang, yaitu sebagai penambah protein hewani pada makanan olahan,
seperti kerupuk, snack, dan lain sebagainya. Belalang kayu mudah didapatkan di berbagai
tempat, terutama di daerah pertanian, berbeda dengan udang windu, udang windu mudah
didapatkan namun hanya di daerah perairan saja, itupun apabila dibudidayakan. Penelitian ini
hanya menguji kadar protein secara kuantitatif saja, belum sampai pada uji kualitatif.
Berdasarkan penelitian ini kadar protein tepung belalang kayu lebih tinggi daripada tepung
udang windu, namun apabila diuji secara kualitatif belum tentu menunjukkan hasil yang
sama. Uji kadar protein secara kualitatif diperlukan untuk mengetahui kualitas protein yang
terdapat pada tepung belalang kayu maupun tepung udang windu. Apabila kualitas protein
baik maka protein yang terdapat pada tepung tersebut mudah dicerna oleh tubuh, namun bila

25
kualitas protein kurang baik maka kuantitas kadar protein yang besar menjadi kurang berarti
karena sulit dicerna oleh tubuh.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan varians sampel tidak homogen, hal ini dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain ialah bahan yang diolah, peralatan yang
digunakan, proses pembuatan tepung, ataupun proses uji kadar protein. Bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah belalang kayu dalam keadaan masih hidup dan udang
windu dalam keadaan hidup dan segar juga. Bahan yang diolah dalam penelitian dalam
kualitas baik, sehingga kadar protein belalang dan udang dalam keadaan sesungguhnya.
Sedangkan peralatan yang digunakan ialah peralatan yang masih layak digunakan dan dalam
keadaan bersih. Proses pembuatan tepung dapat berpengaruh terhadap kadar protein, yang
pertama tahap pembersihan, pada tahap ini tidak berpengaruh terhadap kadar protein. Tahap
kedua ialah perebusan, pada tahap ini bahan direbus dalam air mendidih selama 10 menit,
proses ini dapat menurunkan kadar protein, karena sifat protein yang mengkoagulasi bila
dipanaskan. Tahap ketiga adalah pengeringan, tahap ini juga dapat menurunkan kadar protein
dalam tepung belalang maupun tepung udang karena proses pemanasan. Tahap keempat yaitu
penggilingan, pada proses penggilingan molekul protein dihancurkan, hal ini dapat
menurunkan kadar protein juga. Tahap kelima ialah pengayakan, pengayakan dilakukan untuk
mendapatkan tepung yang homogen kehalusannya,sehingga proses ini juga tidak berpengaruh
terhadap kadar protein.
Tahap yang terakhir adalah penyimpanan, proses ini tidak berpengaruh terhadap
kadar protein karena sampel dalam penelitian ini langsung diuji setelah proses pembuatan
tepung dilakukan. Prospek pemanfaatan belalang kayu sebagai sumber protein hewani bagi
masyarakat terbuka luas. Kebutuhan konsumsi belalang kayu bisa ditingkatkan dengan
kampanye penyadaran, sedangkan sediaan belalang kayu di alam masih sangat besar dan
biaya investasi yang diperlukan relatif kecil. Pada kondisi krisis ekonomi seperti saat ini,
mengkonsumsi belalang kayu merupakan salah satu alternatif yang baik. Persoalannya, masih
banyak warga masyarakat yang belum terbiasa melakukannya. Penduduk pada beberapa
daerah mengkonsumsi belalang kayu, namun tidak populer di daerah lain meski justru
terdapat belalang kayu di daerah tersebut. Maka perlu memasyarakatkan cara memasaknya
untuk mendapatkan cita rasa yang nikmat. Dari sudut pandang agama, mengkonsumsi
belalang bukanlah suatu hal yang diharamkan.
Konsumsi belalang kayu dapat meningkatkan asupan protein hewani yang bermanfaat
bagi kesehatan masyarakat, sehingga kasus kekurangan protein pada masyarakat terutama
masyarakat ekonomi lemah dapat dihindari.

26
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang saya ambil adalah tepung belalang dapat digunakan untuk
memenuhi asupan gizi. Tepung ini mempunyai tingkat atau kadar protein yang hampir sama
dengan kadar protein dari tepung Udang Windu yang di mana mempunyai harga lebih mahal
daripada harga tepung Belalang. Tepung Belalang ini selain murah juga mudah di temui pada
kebun rumah kita masing – masing.
B. Saran
Saya menyarankan bagi para pembaca untuk mempublikasikan hal ini kepada
masyarakat agar dapat tersosialisasi dengan baik. Sehingga masyarakat Indonesia dapat
mengutip materi ini dan berusaha untuk terlepas dari masalah kesehatan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Agresti, Alan. 1999. Statistical Methods for Social Sciences. 3th. Ed. New Jersey:
Prontice Hall Inc Upper Saddle River.
Anna Poedjiadi. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.
Borror, triplehorn, dan Johnson. 1992. Serangga. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Dadan Rohdiana. 2005. Perut Membulat, Nestapa Menerpa. Sayas, 23 Juni 2005.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605//cakrawala/penelitian.htm
Deman, M. john. 1997. Kimia Makanan. Bandung: ITB.
Elvy Syukriyati Muchtar. 2000. Substitusi Tepung Udang dalam Pembuatan
Prawn Stick dari Tepung Kasava. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
Gaman dan Sherrington. 1994. Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan
Mikro Biologi. Edisi II. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hardinsyah dan Briawan. 2000. Daftar Kandungan Zat Gizi Bahan Makanan.
Bogor: Fakultas Pertanian-IPB.
Hasegawa. 1996. Belalang. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
http://www.exhibits.pacsci.org/metamorphosis.html. Diakses 20 Desember 2005.
http://www.mun.ca/biology/scarr/Arthropoda.htm. Diakses 20 Desember 2005.
IPTEKnet. 2005. Budidaya Udang Windu. 31 Juli 2005. http://www.iptek.net.
PdPersi. 2005. Kiat Mencegah Anak Terkena Busung Lapar. 10 Juni 2005.
http://www.pdpersi.co.id.
Siswono. 2005. 48 Anak Kekurangan Gizi di Jawa Tengah Meninggal Dunia.
http://www.mediaindo.co.id/
Slamet Sudarmajdi, Bambang Haryono, dan Suhardi. 1996. Analisa Bahan
Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty yogyakarta.
Soekidjo Notoatmojo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
50
51
Stryer, Lubert. 2000. Biokimia. Volume 1. Alih bahasa: Mohamad Sodikin, dkk.
Jakarta: EGC.
Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Transito.
Sunita Almatsier. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Supariasa, Bachyar Bakri, dan Ibnu Fajar. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

28
Sutrisno Koswara. 2002. Serangga sebagai Bahan Makanan. Senin 8 April 2002.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0204/08/iptek/SERA29.htm.
Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2001. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Widowati. 2003. Prospek Tepung Sukun sebagai Produk Makanan Olahan dalam
Upaya Menunjang Diversifikasi Pangan. http://www.rudyct.tripod.com/
pps702 _71034/ papers71034.htm.
Winarno, FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
utama.

29
30