Anda di halaman 1dari 91

1

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share ....

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR DI KELAS VII A SMP NEGERI 3 PALU

SKRIPSI

Oleh HELMI STB. A 231 04 015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TADULAKO
NOPEMBER, 2008 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR DI KELAS VII A SMP NEGERI 3 PALU

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Tadulako untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan Matematika

Oleh Helmi Stb. A 231 04 015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TADULAKO Nopember, 2008
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Operasi Hitung Bentuk Aljabar di Kelas VII A SMP Negeri 3 Palu Penulis No. Stambuk : HELMI : A 231 04 015

Telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan.

Palu, Pembimbing I

Nopember 2008

Pembimbing II

Drs. Zainuddin, M.Pd Nip. 131 874 168

Drs. Ibnu Hadjar, M.Si Nip. 131 997 294

Mengetahui Ketua Jurusan Pendidikan MIPA FKIP UNTAD

4 Drs. H. Muh. Ali Hatibe, M.Si Nip. 131 477 450

HALAMAN PENGESAHAN Panitia Ujian Skripsi Program Strata Satu (S1) Universitas Tadulako, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan MIPA, Program Studi Pendidikan Matematika, setelah meneliti dan mengetahui cara pembuatan Skripsi dengan Judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Operasi Hitung Bentuk Aljabar di Kelas VII A SMP Negeri 3 Palu, yang telah dipertanggung jawabkan oleh mahasiswa atas nama: Helmi, Nomor Stambuk: A 231 04 015. Pada hari Selasa tanggal 11 bulan Nopember tahun 2008, maka atas nama panitia ujian skripsi strata satu (S1) menerima dan mengesahkan. PANITIA UJIAN No. Jabatan 1. 2. 3. 4. 5. Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Nama/NIP Drs. Muh. Hasbi NIP. 131 653 880 Drs. Baharuddin Paloloang, M.Si NIP. 131 788 827 Bakri Mallo, S.Pd, M.Si NIP. 132 262 277 Drs. Zainuddin, M.Pd NIP. 131 874 168 Drs. Ibnu Hadjar, M.Si NIP. 131 997 294 Tanda Tangan 1.... 2 3 4 5

Palu, Mengetahui Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako

Nopember 2008

Prof. H. Hasan Basri, M.A, Ph.D NIP: 130 604 544

ABSTRAK Helmi, 2008. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Operasi Hitung Bentuk Aljabar di Kelas VII A SMP Negeri 3 Palu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan P.MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako. Pembimbing (I) Drs. Zainuddin, M.Pd, Pembimbing (II) Drs. Ibnu Hadjar, M.Si Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Think-Pair-Share, Hasil Belajar, Operasi, Aljabar. Masalah penelitian ini adalah rendahnya hasil dan aktivitas belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu pada materi operasi hitung bentuk aljabar. Ada beberapa hal yang menyebabkan permasalahan tersebut, di antaranya: 1) siswa kurang aktif bertanya kepada guru, 2) kurang berinteraksi dengan siswa lain, 3) siswa sulit mengajukan pendapat, 4) kurangnya minat dan perhatian siswa terhadap kegiatan pembelajaran. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa tersebut, maka peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dalam mengajarkan materi operasi hitung bentuk aljabar. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dilaksanakan melalui lima tahap, yaitu (1) penyajian materi, (2) berpikir bersama, (3) transisi ke pasangan/tim, (4) monitoring, dan (5) berbagi jawaban. Rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar? Untuk menjawab permasalahan di atas, maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Rancangan penelitian ini mengacu pada model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari empat komponen, yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi dan 4) refleksi. Pada penelitian yang telah dilaksanakan, diperoleh hasil bahwa siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu mengalami peningkatan ketuntasan belajar klasikal mencapai 35,29% yaitu dari 50% pada siklus I menjadi 85,29% pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dalam pembelajaran matematika menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Dengan selesainya tulisan ini, tidak lepas dari bimbingan, iringan doa dan bantuan dari berbagai pihak terutama orang tua, keluarga, dosen pembina mata kuliah dan pelayanan akademik. Skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan yang tulus ikhlas dan kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan tak terhingga kepada Bapak Drs. Zainuddin, M.Pd sebagai pembimbing I dan Bapak Drs. Ibnu Hajar, M.Si sebagai pembimbing II sekaligus dosen wali yang memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini serta arahan selama penulis menempuh bangku perkuliahan di Program Studi Pendidikan Matematika. Ucapan terima kasih yang sama penulis sampaikan kepada. 1. Bapak Drs. H. Sahabuddin Mustapa, M.Si., Rektor Universitas Tadulako. 2. Bapak Prof. H. Hasan Basri, M.A, Ph.D., Dekan FKIP Universitas Tadulako.

7 3. Bapak Drs. H. Muh. Ali Hatibe, M.Si. dan Bapak Drs. Muh. Hasbi, Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Tadulako. 4. Bapak Drs. Baharuddin Paloloang, M.Si Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Tadulako. 5. Bapak Bakri Mallo, S.Pd., M.Si, Sekretaris Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Tadulako sekaligus Dosen Pembahas Skripsi. 6. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Tadulako. 7. Bapak dan Ibu Staf Pengajaran FKIP Universitas Tadulako. 8. Bapak Drs. H. Jusuf Djambolino, Kepala SMP Negeri 3 Palu beserta staf yang telah memberikan izin melaksanakan penelitian sekaligus membantu dalam memperlancar proses pengambilan data yang diperlukan pada penelitian ini. 9. Ibu Niluh Wardhani, S.Pd, guru mata pelajaran matematika kelas VII A di SMP Negeri 3 Palu, yang telah memberikan waktu, bimbingan dan saran kepada penulis 10. Sembah sujud kepada Ayah-Bundaku tercinta serta adikku yang selalu memberikan dukungan moril, materil serta tak henti-hentinya mendoakan penulis dalam menyelesaikan studi pada FKIP Universitas Tadulako Program Studi Pendidikan Matematika. 11. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika khususnya Angkatan 2004 (terima kasih untuk hari-hari yang indah bersama kalian). 12. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini.

8 Harapan penulis, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan semoga segala bantuan dan bimbingan dari semua pihak senantiasa mendapat ridho dari Allah SWT, Aamiin. Palu, Nopember 2008 Penulis DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL .. i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING . ii HALAMAN PENGESAHAN iii ABSTRAK . iv KATA PENGANTAR ... v DAFTAR ISI . vii DAFTAR GAMBAR . ix DAFTAR LAMPIRAN .. x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah . 3 C. Tujuan Penelitian .. D. Manfaat Penelitian 4 4

E. Batasan Istilah ... 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif . B. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share 6 9

C. Hasil Belajar 13 D. Tinjauan Materi ... 14

BAB III

METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian . B. Jenis dan Cara Pengumpulan Data . C. Teknik Analisis Data .. D. Prosedur Penelitian . 17 18 20 21

E. Kriteria Keberhasilan Tindakan .. 23 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian ... 1. Hasil Pra Tindakan ... 2. Hasil Pelaksanaan Tindakan . B. Pembahasan .. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .. . B. Saran-saran .... DAFTAR RUJUKAN .. LAMPIRAN-LAMPIRAN .. PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... RIWAYAT HIDUP 47 48 49 51 81 24 24 26 .. 44

10

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 3.1 Diagram Alur Desain Penelitian .... 17

11

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

Lampiran 1. Lembar Tes Awal .... 51 Lampiran 2. Daftar Perolehan Skor Siswa Pada Tes Awal . 52 Lampiran 3. Kelompok Belajar Siswa . 54 Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Siklus I) ... 56 Lampiran 5. Lembar Kerja Siswa Siklus I .. 59 Lampiran 6. Lembar Observasi Aktivitas Guru di kelas (Siklus I) . 60 Lampiran 7. Lembar Observasi Aktivitas Siswa di kelas (Siklus I) 62 Lampiran 8. Tes Individu Siklus I 64 Lampiran 9. Daftar Hasil Perolehan Skor Siswa Pada Tes Individu Siklus I 65 Lampiran 10. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Siklus II) .. 67 Lampiran 11. Lembar Kerja Siswa Siklus II . 70 Lampiran 12. Lembar Observasi Aktivitas Guru di kelas (Siklus II) 71 Lampiran 13. Lembar Observasi Aktivitas Siswa di kelas (Siklus II) .. 73 Lampiran 14. Tes Individu Siklus II . 75 Lampiran 15. Daftar Hasil Perolehan Skor Siswa Pada Tes Individu Siklus II... 76 Lampiran 16. Surat Izin Penelitian . 78

12 Lampiran 17. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian . 79 Lampiran 18. Surat Keputusan Pembimbing .. 80

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Matematika sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal-hal yang sangat sederhana sampai pada hal-hal yang sangat kompleks. Sementara itu, pada pemikiran ilmu pengetahuan dan teknologi, matematika merupakan salah satu ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lainnya, sehingga dalam perkembangan pendidikan, matematika dijadikan sebagai barometer untuk mengukur tingkat kecerdasan dan daya pikir anak. Selain itu, matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi moderen, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Marks (1988:3) berpendapat bahwa matematika berperan sangat penting dalam persiapan untuk memberi bekal agar kita dapat berfungsi secara efektif dalam zaman teknologi. Oleh karena itu matematika wajib dipelajari oleh siswa mulai dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas dan bahkan sampai perguruan tinggi. Namun, masalah yang biasanya muncul dalam dunia pendidikan matematika yaitu masih banyaknya siswa yang kurang memahami pelajaran matematika, bahkan diantara mereka ada yang kurang tertarik belajar

13 matematika. Selain itu, sebagian siswa beranggapan bahwa pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang sulit dipahami atau dimengerti. Dilain pihak matematika sebagai mata pelajaran wajib dan sebagai ilmu dasar, juga dapat dirasakan manfaat dan kegunaannya baik dalam bidang pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, materi yang dipelajari harus betul-betul dipahami. Misalnya pada materi operasi hitung bentuk aljabar pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. Pada pokok bahasan ini biasanya guru hanya menjelaskan materi disertai beberapa contoh, dengan pemantapannya melalui latihan soal sehingga konsep dasar penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar belum dikuasai siswa dengan baik. Akibatnya, sulit bagi siswa untuk mengembangkan materi-materi berikutnya dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan konsep dasar penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. Sehingga, materi ini sangat penting dipelajari karena menunjang penguasaan materi berikutnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hudojo (1988:3) bahwa mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang lalu. Setiap kegiatan pembelajaran matematika, guru sering dihadapkan pada permasalahan bahwa hasil belajar siswa kurang memuaskan. Berdasarkan hasil dialog dengan guru matematika kelas VII di SMP Negeri 3 Palu diperoleh informasi bahwa sebagian besar siswa kurang aktif di kelas yang ditunjukkan oleh beberapa hal yaitu: siswa kurang aktif bertanya kepada guru, kurang berinteraksi dengan siswa lain, siswa sulit mengajukan pendapat, serta kurangnya minat dan perhatian siswa terhadap kegiatan pembelajaran. Keadaan tersebut

14 menyebabkan sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah ataupun soal yang diberikan oleh guru. Sehingga hasil belajar yang siswa dapatkan relatif rendah. Memperhatikan hal tersebut, betapa pentingnya mencari solusi yang memungkinkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. Salah satu solusi yang digunakan sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Model tersebut memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Pembelajarannya diawali dengan pengajuan suatu pertanyaan oleh guru, selanjutnya siswa memikirkan jawabannya dalam beberapa saat, kemudian mereka membagi jawabannya dengan pasangan atau dengan anggota tim lainnya tetapi dalam bentuk pasangan dialog (Jaeng, 2008:64). Oleh karena itu, dengan menerapkan model pembelajaran tersebut siswa diharapkan dapat saling membantu dalam menyelesaikan masalah, saling menyampaikan pendapat, lebih aktif dalam berinteraksi, serta dapat meningkatkan penguasaan materi terhadap konsep operasi hitung bentuk aljabar. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Operasi Hitung Bentuk Aljabar di Kelas VII A SMP Negeri 3 Palu.

15 A. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar? B. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. B. MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi Siswa a. Dapat membantu dalam meningkatkan hasil belajar pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. b. Meningkatkan minat belajar pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. c. Memungkinkan untuk belajar lebih aktif, berkembangnya daya kreatif, sifat ketekunan dan kecermatan dalam bekerja. 2. Bagi Guru a. Kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif, terpadu dan menyenangkan.

16 b. Dapat termotivasi untuk selalu mencoba memperbaiki strategi atau pendekatan pembelajaran yang dilakukan di kelas, sehingga mencapai tujuan yang diharapkan.

3. Bagi Sekolah Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang berarti pada SMP Negeri 3 Palu dalam usaha untuk memperbaiki proses kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan hasil belajar. 4. Bagi Peneliti Dapat memberikan pengalaman langsung dalam mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. C. BATASAN ISTILAH Untuk memperjelas beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, berikut di uraikan batasan-batasan istilah sebagai berikut: a. Pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pembelajaran dengan melibatkan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dan saling membantu menyelesaikan tugas akademik. b. Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah suatu pembelajaran yang memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak berpikir dan menjawab serta saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan masalah yang diberikan.

17 c. Hasil Belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Kemampuan siswa ini diwujudkan dalam bentuk nilai hasil tes pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. d. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah materi tentang penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah suatu metode dengan melibatkan kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama, saling memberikan atau menukar ide dan bertanggung jawab terhadap kelompok mereka disamping diri mereka sendiri. Slavin (Arif, 2003:17) Krismanto (Depdiknas, 2004b:25) menyatakan bahwa pada kegiatan ini sekelompok siswa belajar dengan porsi utamanya mendiskusikan tugas-tugas matematika, dalam arti saling membantu menyelesaikan tugas ataupun memecahkan masalah. Kegiatan kelompok kooperatif terkait dengan banyak pendekatan atau metode, seperti eksperimen, investigasi, eksplorasi dan pemecahan masalah. Menurut Posamentier (Depdiknas, 2004c:26) secara sederhana menyebutkan cooperative learning atau belajar secara kooperatif adalah penempatan beberapa siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka

18 sebuah atau beberapa tugas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika siswa bekerja dalam kelompok adalah sebagai berikut: a. setiap anggota dalam kelompok harus merasa bagian dari tim dalam pencapaian tujuan bersama. b. setiap anggota dalam kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka pecahkan adalah masalah kelompok, berhasil atau gagal akan dirasakan oleh semua anggota kelompok. c. untuk pencapaian tujuan kelompok, semua siswa harus bicara atau diskusi satu sama lain. d. harus jelas bahwa setiap kerja individu dalam kelompok mempunyai efek langsung terhadap keberhasilan kelompok. Demikian hal tersebut, bukanlah suatu cooperative environment meskipun beberapa siswa duduk bersama namun bekerja secara individu dalam menyelesaikan tugas, atau seorang anggota kelompok menyelesaikan sendiri tugas kelompoknya. Cooperative learning lebih merupakan upaya pemberdayaan teman sejawat, meningkatkan interaksi antar siswa, serta hubungan yang saling menguntungkan antar mereka. Siswa dalam kelompok akan belajar mendengar ide atau gagasan orang lain, berdiskusi setuju atau tidak setuju, menawarkan, atau menerima kritikan yang membangun, dan siswa merasa tidak terbebani ketika ternyata pekerjaannya salah. Kelman (Depdiknas, 2004c:26) menyatakan bahwa di dalam kelompok terjadi saling pengaruh secara sosial. Pertama, pengaruh itu dapat diterima seseorang karena ia memang berharap untuk menerimanya. Kedua, ia memang ingin mengadopsi atau meniru tingkah laku atau keberhasilan orang lain atau

19 kelompok tersebut karena sesuai dengan salah satu sudut pandang kelompoknya. Ketiga, karena pengaruh itu kongruen dengan sikap atau nilai yang ia miliki. Ketiganya mempengaruhi sejauh kerja kooperatif tersebut dapat dikembangkan. Sementara itu, Lowe (Depdiknas, 2004c:27) menyatakan bahwa belajar kooperatif secara nyata semakin meningkatkan pengembangan sikap sosial dan belajar dari teman sekelompoknya dalam berbagai sikap positif. Keduanya memberikan gambaran bahwa belajar kooperatif meningkatkan sikap sosial yang positif dan kemampuan kognitif yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Menurut Nur (Widyantini, 2006:4), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut. 1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. 2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama. 3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. 4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi. 5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. 6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Menurut Nur (Widyantini, 2006:4), ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut.

20 1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. 2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. 3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu. Menurut Hill dan Hill (Arif, 2003:6-7) pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa kelebihan, antara lain: 1) meningkatkan prestasi siswa; 2) memperdalam pemahaman siswa; 3) menyenangkan siswa dalam belajar; 4) mengembangkan sikap kepemimpinan siswa; 5) mengembangkan sikap positif siswa; 6) mengembangkan rasa percaya diri siswa; 7) mengembangkan rasa saling memiliki diantara sesama siswa; dan 8) mengembangkan keterampilan untuk masa depan. B. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share Think-Pair-Share menantang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu diseting seluruh kelompok dalam kelas. Dalam pembelajaran, para siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 sampai 6 orang siswa yang heterogen untuk saling bekerja sama dan saling membantu. Struktur ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

21 Di kelas biasa, guru mengajukan pertanyaan, dan hanya beberapa siswa mengangkat tangan untuk menjawab. Pada Think-Pair-Share, guru mengajukan suatu pertanyaan, siswa memikirkan jawabannya dalam beberapa saat, kemudian mereka membagi jawabannya dengan pasangan atau dengan anggota tim lainnya tetapi dalam bentuk pasangan dialog (Jaeng, 2008:64). Para siswa membagi jawaban, tidak hanya dengan teman dalam tim, tetapi juga dengan anggota dari tim lain ke seluruh kelas. Menurut Arends (Arif, 2003:26-27) langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, sebagai berikut. Langkah pertama : Think (berpikir), siswa diminta untuk berpikir secara individual terlebih dahulu beberapa saat terhadap masalah yang disajikan oleh guru. Langkah kedua : Pair (berpasangan), siswa diminta untuk membentuk pasangan atau kelompok (4 6 orang), dan mendiskusikan hasil pikirannya secara individual tadi. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau masalah dan berbagi ide jika suatu persoalan itu telah diidentifikasi (Ibrahim, 2000). Langkah ketiga : Share (saling berbagi ide), setelah tercapai kesepakatan tentang pikiran kelompok, maka salah seorang mempresentasikan hasil kesepakatan kelompoknya. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

22 Tahapan Think-Pair-Share menurut Jaeng (2008:64) meliputi: Tahap 1 : Guru menginformasikan masalah lisan atau tertulis (LKS) kepada seluruh kelas. Tahap 2 : Guru meminta kepada seluruh siswa untuk berpikir sejenak tentang cara-cara menjawab/menyelesaikan masalah yang diajukan guru. Tahap 3 : Guru meminta kepada siswa untuk saling berbagi cara-cara mengerjakan masalah menurut hasil pemikirannya kepada anggota lain. Cara berbagi ini dilakukan dalam dialog (berpasangan) dalam tim/kelompoknya. Tahap 4 : Berbagi ke seluruh kelas. Dalam hal ini dapat dilakukan sebagai berikut: (a) para siswa menulis jawabannya di papan tulis pada saat yang sama. (b) para siswa memberikan jawaban dengan cepat dan siswa lain menanggapi dengan cepat. (c) semua siswa berdiri, setelah memberikan jawabannya, siswa tersebut duduk. Setiap siswa yang memberikan jawaban sama juga ikut duduk. Proses ini dilanjutkan sampai semua siswa duduk. (d) setiap siswa berbagi jawaban dengan siswa pada kelompok lain. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dibagi atas 5 fase, yakni: 1) penyajian materi; 2) berpikir bersama; 3) transisi ke pasangan/tim; 4) monitoring; dan 5) berbagi jawaban.

23 Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe Think-PairShare antara lain: a. kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Sedangkan pasangan dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi dipasangkan dengan rendah, tinggi dengan sedang, dan sedang dengan rendah berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru dan hasil tes awal. b. Penghargaan lebih berorientasi perorangan dari pada kelompok atau pasangan. Kelebihan dari pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah sebagai berikut: 1. meningkatkan daya pikir siswa, memperoleh kedalaman tingkat pengetahuan dan menciptakan kemampuan berpikir kritis siswa. 2. meningkatkan kemampuan bekerja dan menyelesaikan masalah secara bersama. 3. mendorong siswa untuk memperhatikan pendapat orang lain. 4. menyenangkan siswa dalam belajar. 5. mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, dan 6. mengembangkan rasa percaya diri siswa. Selain memiliki beberapa kelebihan, pembelajaran kooperatif tipe ThinkPair-Share ini tentu memiliki kelemahan. Kelemahan yang ada pada pembelajaran ini tidak lepas dari kelemahan yang ada pada pembelajaran kooperatif, yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dan guru sehingga sulit mencapai target kurikulum, membutuhkan kemampuan khusus guru dalam melakukan atau menerapkan model pembelajaran kooperatif dan menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama.

24 Teknik belajar mengajar Berpikir-Berpasangan-Berbagi dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share) dan Spencer Kagan (Think-Pair-Square) sebagai struktur kegiatan pembelajaran gotong royong. Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, teknik Berpikir-Berpasangan-Berbagi ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. (Lie, 2004:56) C. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah mempelajari materi yang diwujudkan melalui perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti terjadi perubahan pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek yang ada pada diri individu yang sedang belajar. Ada beberapa pendapat tentang hasil belajar yang dikemukakan oleh para ahli antara lain menurut Surakhmad (1980:26) Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mempelajari materi yang diwujudkan melalui pola tingkah laku yang terlihat pada perubahan reaksi dan sikap siswa secara fisik maupun mental. Sementara Dick dan Reisen (Dahar, 1989:136) menyatakan bahwa Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran. Sejalan dengan itu (Sudjana, 1991) Hasil

25 belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Benyamin S. Bloom (Usman U, 2001:54) menyebutkan bahwa perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar meliputi 3 aspek yaitu aspek kognitif berkenaan dengan perilaku yang berhubungan dengan berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Aspek ini mempunyai enam tingkatan yaitu: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Aspek afektif berkaitan dengan nilai-nilai, sikap, apresiasi, dan penyesuaian perasaan sosial. Aspek ini mempunyai klasifikasi dari tingkat sederhana ketingkat yang lebih kompleks, yaitu: kemauan menerima, kemauan menanggapi berkeyakinan, penerapan karya, ketekunan dan ketelitian. Sedangkan aspek psikomotor berkenaan dengan hasil belajar yang berkaitan dengan keterampilan yang bersifat manual dan motorik. Aspek ini meliputi tingkatan yaitu: persepsi, kesiapan, mekanisme, respon, terbimbing, kemahiran dan adaptasi. Dari pendapat tersebut di samping dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap keberhasilan rencana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain hasil belajar adalah hasil yang diraih seseorang setelah melaksanakan kegiatan belajar atau tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa yang diwujudkan melalui perubahan pada diri siswa yang dapat diukur dengan alat ukur tertentu. D. Tinjauan Materi 1. Operasi Bentuk Aljabar

26 Operasi adalah pengerjaan hitung; penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Sedangkan aljabar merupakan bahasa simbol dari relasi. Aljabar digunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari, dengan bahasa simbol, dari relasi yang muncul, masalah-masalah dipecahkan sederhana. Bahkan untuk hal-hal tertentu ada algoritma-algoritma yang mudah diikuti dalam rangka memecahkan masalah simbolik itu yang pada saatnya nanti dikembalikan pada masalah sehari-hari (Depdiknas, 2004a:4). Jadi belajar aljabar bukan semata-mata belajar tentang masalah sehari-hari. Bentuk aljabar adalah bentuk matematika yang menggunakan tandatanda dan huruf-huruf untuk menggambarkan atau mewakili angka-angka (Sudarto, 2000:19). Operasi bentuk aljabar adalah pengerjaan hitung dalam bentuk simbol-simbol. 2. Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar a). Penjumlahan dan pengurangan suku sejenis dan tidak sejenis Dalam penjumlahan dan pengurangan, berlaku sifat-sifat berikut ini: 1. 2. ab + ac = a (b + c) atau ab ac = a (b c) atau a (b + c) = ab + ac a (b c) = ab ac

Yang disebut sifat distributif. Sifat-sifat di atas dapat digunakan untuk menjumlahkan atau mengurangkan suku-suku sejenis pada bentuk aljabar sehingga bentuknya menjadi lebih sederhana seperti contoh berikut ini. Sederhanakanlah bentuk-bentuk aljabar berikut ini. a. b. 4a + 2a 7b 9b

27 Jawab: a. 4a + 2a = (4 + 2)a = 6a b. 7b 9b = (7 9)b = -2b (Sugijono, 2002:89) b).Penjumlahan dan pengurangan dapat dilakukan pada bentuk aljabar yang sejenis. Contoh: 1 Bentuk (4x + 6) dan (2x 3) adalah sejenis sehingga (4x + 6) + (2x 3) = (4x + 2x) + (6 3) = 6x + 3 (4x + 6) (2x 3) = (4x 2x) + (6 (-3)) = 2x + 9 Contoh: 2 Bentuk (5x + 7) dan (3y + 3), mempunyai suku tunggal yang tidak sejenis yaitu 5x dan 3y sehingga 5x dan 3y tidak bisa dijumlahkan dan tidak bisa diperkurangkan. Dengan demikian 5x + 3y = 8xy (salah) 5x 3y = 2xy (salah) Yang benar (5x + 7) + (3y + 3) = 5x + 3y + 10, dalam hal ini yang bisa dijumlahkan 7 dan 3. Untuk 5x dan 3y jika dijumlahkan tidak bisa disederhanakan. (5x + 7) (3y + 3) = 5x 3y + 4, dalam hal ini yang bisa dikurangkan 7 dan 3. Untuk 5x dan 3y jika dikurangkan tidak bisa disederhanakan. (Sumardi, 2004:41)

28 Dalam penjumlahan dan pengurangan yang perlu diperhatikan adalah sifatsifat operasi aljabar untuk a, b dan c R berlaku: 1. 2. 3. Sifat komutatif : a + b = b + a Sifat asosiatif : (a + b) + c = a + (b + c) Sifat distributif : a (b + c) = ab + ac (a + b) c = ac + bc

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif menghasilkan data secara tertulis maupun lisan dari aktivitas atau perilaku subjek yang diamati pada saat proses pembelajaran berlangsung. Untuk kelancaran pelaksanaan penelitian ini, maka dalam penelitian ini peneliti dibantu oleh teman mahasiswa program studi pendidikan matematika dan guru matematika kelas VII A dalam pengumpulan data. Bagian-bagian yang ada dalam rancangan penelitian meliputi hal berikut: 1. Desain Penelitian
Keterangan:

1 = Rencana tindakan siklus I 2 = Tindakan pada I Taggart (Arikunto, 2007: 16) yang terdiri atas 4siklus komponen yaitu (1) 3 = Observasi pada siklus I 4 = Refleksi pada siklus I perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. 5 = Rencana tindakan siklus II 6 = Tindakan pada siklus II 7 = Observasi pada siklus II 8 = Refleksi pada siklus II a = Siklus I b = Siklus II

0 = Refleksi awal model Kemmis dan Mc. Desain penelitian ini mengacu kepada

29

4 a 2 7 7 8 b 6 6 b

0 1

Gambar 3.1 Diagram Alur Desain Penelitian

2. Setting dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII A SMP Negeri 3 Palu yang berlokasi di jalan Kemiri. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu yang terdaftar pada tahun ajaran 2008/2009. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan atas informasi bahwa siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu kurang memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. 3. Rencana Tindakan Pelaksanaan penelitian dilaksanakan melalui dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan tingkah laku yang ingin dicapai. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa, maka diberikan tes awal. Berdasarkan tes awal dan informasi yang diperoleh, dilaksanakan tindakan dengan prosedur: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi dalam setiap siklus. B. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 1. Jenis Data

30 Jenis data pada penelitian ini adalah data kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi, hasil wawancara, dan catatan lapangan yang akan dideskripsikan secara alami, mulai dari data sebelum tindakan (tes awal), selama tindakan (pada saat pembelajaran berlangsung) serta sesudah tindakan pembelajaran dilakukan (tes akhir setiap tindakan). Untuk melengkapi analisis data kualitatif maka digunakan data kuantitatif secara bersama-sama, tetapi dengan pendekatan kualitatif sebagai pegangan utama (Moleong, 1990:22). Data kuantitatif yang dimaksud adalah data tentang hasil belajar siswa setelah dilakukan tindakan. 2. Cara Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara : a. Tes Tertulis Pengumpulan data dengan tes dilakukan sebelum dan sesudah tindakan. Tes yang diberikan sebelum tindakan bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang pengetahuan awal siswa mengenai penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. Sedangkan tes yang diberikan sesudah tindakan bertujuan untuk memperoleh data serta memberikan gambaran tentang sejauh mana kemampuan siswa dalam menyelesaikan penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. b. Wawancara Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi tentang pemahaman siswa dalam pembelajaran materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar yang diperoleh melalui tes setiap akhir

31 tindakan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada saat wawancara tidak dibuat secara berstruktur, tetapi bersumber dari hasil pekerjaan siswa dan jawaban-jawaban yang muncul dari pertanyaan sebelumnya. Selanjutnya pada saat wawancara berlangsung, siswa dibimbing untuk melakukan perbaikan pada kesalahan yang dilakukannya.

c. Observasi Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk mendokumentasikan segala aktivitas yang dilakukan oleh subjek dalam penelitian dan peneliti (guru). Observasi ini dilakukan oleh peneliti, teman sejawat (mahasiswa pendidikan matematika) dan guru matematika di sekolah tersebut. Data diambil dengan menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa. d. Pencatatan Lapangan Pencatatan lapangan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung oleh peneliti, teman sejawat, dan guru di sekolah tersebut. Ini digunakan untuk melengkapi data tentang hal-hal yang tidak terekam melalui lembar observasi dan wawancara. C. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data. Aktivitas dalam analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman (Sugiyono, 2007:91), yaitu data reduction

32 (reduksi data), data display (penyajian data), dan conclusion drawing/verification (kesimpulan/verifikasi). 1. Data Reduction (Reduksi Data) Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, merangkum pada hal-hal yang penting. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. 2. Data Display (Penyajian data) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Data yang disajikan bersifat naratif. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan lebih mudah memahaminya dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami. 3. Conclusion Drawing / Verification ( Kesimpulan/Verifikasi) Langkah ketiga dalam analisis data adalah penarikan kesimpulan dari hasil penafsiran dan evaluasi. Penarikan kesimpulan merupakan pengungkapan akhir dari hasil tindakan. D. Prosedur Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pra tindakan dan tahap pelaksanaan tindakan. 1. Tahap Pra Tindakan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, yaitu:

33 a. Melakukan wawancara dengan guru untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. b. Menentukan subjek penelitian c. Menyiapkan tes awal d. Membentuk kelompok belajar siswa yang sifatnya heterogen (baik dari segi kemampuan matematika maupun jenis kelamin) berdasarkan pada hasil tes awal dan informasi dari guru matematika SMP Negeri 3 Palu. 2. Tahap Pelaksanaan Tindakan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini mengacu kepada model penelitian yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Taggart (Arikunto, 2007:16) yang terdiri atas 4 komponen yaitu (a) perencanaan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) observasi, dan (d) refleksi. a. Perencanaan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, yaitu: 1. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran 2. Menyiapkan tes akhir tindakan 3. Menyiapkan LKS kelompok 4. Membuat lembar observasi b. Pelaksanaan tindakan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini didasarkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat, yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. c. Observasi

34 Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini yaitu untuk mendokumentasikan segala sesuatu berkaitan dengan pemberian tindakan, yaitu perilaku subjek penelitian (siswa) dan guru (peneliti) selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan ini didokumentasikan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Lembar observasi ini dijadikan sebagai alat evaluasi untuk melaksanakan siklus selanjutnya. d. Refleksi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menganalisis hasil yang diperoleh dalam tahap observasi, sekaligus mempertimbangkan hasil respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran. E. Kriteria Keberhasilan Tindakan Tindakan dianggap berhasil apabila persentase daya serap individu 65% dan persentase ketuntasan belajar secara klasikal 85% (yang mencapai daya serap individu 65% ) Persentase daya serap secara individu = skor maksimum soal x 100 % Persentase ketuntasan belajar klasikal =
Jumlah siswa yang tuntas x100% Jumlah seluruh siswa skor yang dicapai

35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Hasil Pra Tindakan Penelitian dilakukan di SMP Negeri 3 Palu, pada hari kamis tanggal 28 Agustus 2008, peneliti menemui Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Palu. Dalam pertemuan tersebut, peneliti menyampaikan maksud dan tujuan peneliti untuk melakukan penelitian di kelas VII A SMP Negeri 3 Palu. Selanjutnya, Kepala Sekolah memberikan wewenang kepada guru matematika kelas VII A untuk membantu dan bekerja sama dengan peneliti selama melaksanakan penelitian. Peneliti melakukan observasi awal terhadap kondisi pembelajaran matematika di SMP Negeri 3 Palu khususnya kelas VII A. Pembelajaran

36 matematika terdiri atas 5 jam pelajaran setiap minggu. Buku ajar yang digunakan oleh guru 80% dimiliki oleh siswa di kelas VII A. Siswa yang terdaftar di kelas VII A pada semester ganjil terdiri atas 34 siswa. Selanjutnya peneliti dan guru matematika mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan persiapan dan pelaksanaan tindakan penelitian. Sebelum pelaksanaan tindakan, siswa terlebih dahulu diberikan tes awal untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada materi pengertian variabel, suku, koefisien, konstanta dan suku sejenis. Peneliti melaksanakan tes awal pada hari sabtu tanggal 30 Agustus 2008. Dari 34 siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Palu yang terdaftar tahun 2008/2009, sebanyak 33 siswa yang mengikuti tes awal, sedangkan 1 siswa berhalangan hadir dikarenakan sakit. Setelah melaksanakan tes awal, peneliti memeriksa hasil pekerjaan siswa dan menganalisis hasil tes awal siswa. Analisis hasil tes awal di peroleh daya serap klasikal mencapai 57,45 %. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tes awal siswa masih rendah. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 2. Pembentukan kelompok dan pasangan belajar didasarkan pada hasil tes awal dan informasi dari guru matematika di kelas tersebut, agar diperoleh kelompok yang heterogen, yaitu setiap kelompok terdiri atas siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah baik siswa laki-laki maupun siswa perempuan. Selanjutnya pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (lampiran 4). Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran ini adalah:

37 1. aktivitas siswa di dalam kegiatan pembelajaran, misalnya adanya siswa yang bertanya dan mengeluarkan pendapat serta motivasi dan perhatian siswa terhadap kegiatan pembelajaran sehingga semua siswa dalam kelas menjadi aktif belajar. 2. variasi guru dalam mengajar dengan memberikan penekanan penjelasan kepada siswa untuk soal-soal yang dianggap susah untuk diselesaikan. Demikian pula dalam penggunaan waktu dan langkah-langkah yang ditempuh dalam kegiatan pembelajaran.

2. Hasil Pelaksanaan Tindakan Penelitian ini terdiri dari dua siklus dan pelaksanaan tindakan pada setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun hasil pelaksanaan dari siklus I dan siklus II sebagai berikut: a. Siklus I 1) Perencanaan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menyiapkan seluruh perangkat pembelajaran meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan ajar, membentuk kelompok dan pasangan belajar yang terdiri dari 4-6 orang (lihat lampiran 3) serta instrumen penelitian yang meliputi lembar kerja siswa kelompok, tes akhir tindakan dan lembar observasi kegiatan guru dan kegiatan siswa selama pelaksanaan pembelajaran.

38 2) Pelaksanaan Tindakan. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 8 Oktober 2008 di kelas VII A SMP Negeri 3 Palu dengan materi penjumlahan bentuk aljabar. Pelaksanaan tindakan dimulai dari pukul 10.15 s.d 11.35 berlangsung selama 2 jam pelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-PairShare terdiri dari 5 fase, yaitu (1) penyajian materi, (2) berpikir bersama, (3) transisi kepasangan/tim, (4) monitoring dan (5) berbagi jawaban. Berikut ini uraian kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada setiap fase pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Sebelum masuk pada fase pertama, guru membuka pelajaran dengan salam, menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. Kemudian, guru mengoorganisasi siswa dalam kelompok dan pasangannya dan menggali pengetahuan prasyarat siswa. Dengan menggali pengetahuan prasyarat siswa, akan diketahui pengetahuan awal siswa tentang bentuk aljabar, lalu membagikan LKS pada setiap kelompok. Berikut ini petikan penyampaian peneliti kepada seluruh siswa di awal pembelajaran. Ass. War. Wab. Adik-adik sekalian, sekarang waktunya kita belajar matematika. Sudah Siapp! Perhatian adik-adik sekalian, materi kita hari ini merupakan lanjutan dari materi bentuk aljabar, yaitu Penjumlahan Bentuk Aljabar. Adapun tujuan pembelajaran yang harus kita capai adalah menyelesaikan penjumlahan bentuk aljabar. Minggu yang lalu kalian telah mempelajari bentuk aljabar.

39 Siapa diantara kalian yang masih ingat apa itu variabel, suku sejenis, koefisien, dan konstanta?, coba berikan contohnya! Fase 1. Penyajian materi Pada fase ini, guru menyajikan materi tentang penjumlahan bentuk aljabar dengan menggunakan metode tanya jawab. Pada awalnya guru memberikan sebuah contoh bentuk aljabar seperti: 2a + 3b + 6a + 10b . Kemudian guru meminta siswa untuk menyederhanakan bentuk tersebut dengan menunjuk salah seorang siswa yang mengacungkan tangan. Dengan tegas siswa tersebut menjawab 21 ab Bu!. Guru memuji keberanian siswa tersebut dan melanjutkan pertanyaan pada seluruh siswa, Ada jawaban lain? Mereka mengatakan sama saja Bu! Selanjutnya guru mengarahkan siswa untuk menyederhanakan penjumlahan bentuk aljabar tersebut dengan terlebih dahulu meminta siswa menggabungkan suku-suku sejenis lalu menjumlahnya, dan menegaskan kepada siswa bahwa suku-suku yang tidak sejenis tidak dapat dijumlahkan. Kegiatan dilanjutkan dengan memberikan beberapa contoh soal untuk dikerjakan secara bersama. Selain itu, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika ada hal yang kurang jelas. Memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar dengan baik karena pada akhir pembelajaran, guru akan memberikan tes individu yang berkaitan dengan materi yang diajarkan.

40 Fase 2. Berpikir bersama Pada fase ini, guru mengajukan masalah atau pertanyaan kepada siswa secara keseluruhan untuk dipikirkan secara individu. Ketika siswa diminta untuk memikirkan penyelesaiannya, tampak beberapa siswa kebingungan, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, karena belum pernah mengikuti pembelajaran ini. Akhirnya guru memberikan bimbingan seperlunya dengan tujuan untuk memotivasi siswa. Soal yang diberikan adalah soal yang akan dibahas oleh kelompok/pasangan kelompok. Guru memberikan waktu 5 menit untuk berpikir, kemudian dibahas secara berpasangan. Fase 3. Transisi ke pasangan/tim Pada fase ini, guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain (pasangannya) untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada fase kedua. Ketika siswa diminta untuk berpasangan, maka setiap siswa diharapkan dapat berbagi jawaban dengan pasangannya atau kelompoknya. Guru membagi soal yang diberikan kepada setiap pasangan. Setiap pasangan mendapat satu soal untuk dipertanggung jawabkan di depan kelas, hingga akhirnya siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya untuk menyelesaikan soal yang diberikan. Fase 4. Monitoring Pada fase ini, guru memantau dan mengamati aktivitas yang dilakukan siswa dalam kelompoknya. Ketika siswa aktif melaksanakan tugas dalam kelompok/pasangan mereka masing-

41 masing, di sini guru perlu berhati-hati memantau kerja siswa untuk memastikan bahwa kegiatan mereka berjalan dengan baik. Dalam hal ini, melihat keaktifan siswa dalam belajar. Pada saat guru memantau kegiatan belajar siswa, ada siswa yang bertanya. Siswa Guru Siswa : Bu! Soal bagian c ini, bagaimana cara menjumlahkan variabel yang memiliki pangkat lebih dari satu? : begini dik! Masih ingatkah kalian dengan suku-suku sejenis yang variabelnya sama dan pangkat variabelnya sama? : (sambil tersenyum), iya masih ingat Bu, sudah mengerti! Selama siswa mengerjakan soal, guru memonitoring dan memberikan bimbingan seperlunya kepada kelompok/pasangan yang mengalami kesulitan. Fase 5. Berbagi jawaban Pada fase ini, guru meminta setiap pasangan/kelompok untuk berbagi jawaban dengan seluruh siswa di kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan dan kerjakan secara bersama. Guru memanggil secara acak perwakilan dari setiap pasangan/kelompok untuk menjawab soal di depan kelas, dan siswa lain menanggapi jawaban yang ditampilkan oleh temannya. Ketika mereka tidak menemukan titik terang, maka guru meluruskan jawabannya. Setiap pasangan mendapat kesempatan untuk menjawab di depan kelas hingga seperempat pasangan telah mendapat kesempatan yang sama.

42 Selama siswa melakukan diskusi, guru yang menjadi pengatur dalam diskusi dan memberikan penghargaan dalam bentuk verbal atau gerakan tubuh. Sebelum menutup kegiatan pembelajaran, guru kemudian membimbing siswa dalam menyimpulkan materi dan memberikan penghargaan kepada setiap kelompok dalam bentuk ucapan atau katakata. Setelah itu, dilanjutkan dengan memberikan tes individu dan meminta siswa secara individu mengerjakan tes tersebut. Kemudian sebelum mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan salam, guru menyampaikan sekilas tentang materi yang akan diajarkan pada pertemuan berikutnya, serta meminta siswa untuk mulai mempelajari materi tersebut. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, dilakukan tes individu siklus I (lampiran 8). Guru meminta siswa menyelesaikan tes individu tersebut. Berikut ini petikan penyampaian guru kepada siswa sebelum menyelesaikan tes individu. Adik-adik sekalian, untuk mempermantap latihan kalian dalam menyelesaikan penjumlahan bentuk aljabar, selanjutnya ibu akan memberikan tes individu kepada kalian, untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kalian terhadap materi kita hari ini. Tapi jangan ada yang kerjasama.

3) Data Hasil Wawancara Setelah memeriksa hasil tes akhir tindakan, guru (peneliti) melakukan wawancara pada hari kamis tanggal 9 Oktober 2008

43 terhadap subjek penelitian. Peneliti tidak menggunakan pertanyaan secara terstruktur. Wawancara terfokus untuk menjawab pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: (1) apakah siswa senang dengan model pembelajaran yang digunakan, (2) kesulitan apa yang dialami oleh siswa ketika mengikuti pembelajaran, (3) apakah siswa senang menyelesaikan LKS kelompok, dan (4) apakah siswa mampu memberikan penjelasan atas langkah-langkahnya dalam menyelesaikan soal. Berdasarkan pada empat fokus pertanyaan diatas, diperoleh variasi jawaban dari subjek penelitian yang dapat dikategorikan sebagai berikut: (1) Seluruh siswa senang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, karena dapat memudahkan mereka dan aktif dalam proses pembelajaran. (2) Dalam mengerjakan latihan, subjek penelitian masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan penjumlahan bentuk aljabar. (3) Siswa senang mengerjakan LKS kelompok, karena dengan kerja kelompok siswa dapat berdiskusi dengan teman-temannya dalam satu kelompok serta nilai dari setiap kelompok bisa sama. (4) Subjek penelitian mengakui tidak mampu menjelaskan langkahlangkah yang mereka lakukan dalam menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru.

4) Data Hasil Observasi

44 Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama kegiatan pembelajaran berlangsung nampak bahwa siswa sangat senang dan antusias dalam belajar, siswa sangat senang bekerja secara mandiri maupun secara kelompok. Siswa aktif belajar dan berdiskusi untuk mencari informasi, baik dengan guru (peneliti) maupun dengan temantemannya yang lain. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, dilaksanakan observasi oleh pengamat adalah sebagai berikut:

a. Hasil Observasi Pengamat terhadap Aktivitas Guru Pengamatan terhadap aktivitas guru dilakukan oleh guru matematika kelas VII A SMP Negeri 3 Palu dengan menggunakan lembar observasi guru. Dari hasil observasi, secara keseluruhan peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Adapun aspek yang diobservasi terdiri atas: (1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa, (2) mengaitkan pengetahuan prasyarat dengan materi yang akan dipelajari, (3) mengoorganisasi siswa dalam kelompok, (4) membagikan LKS, (5) menyajikan materi, (6) menjelaskan hal-hal yang belum dipahami, (7) mengajukan pertanyaan atau masalah untuk dipikirkan, (8) membimbing siswa dalam menganalisis dan memikirkan masalah yang diberikan, (9) meminta siswa untuk

45 berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya, (10) membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah, (11) memonitoring siswa, (12) meminta setiap pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas, (13) membimbing siswa dalam berdiskusi, (14) membimbing siswa dalam menyimpulkan materi dan (15) memberikan tes individu. b. Hasil Observasi Pengamat terhadap Aktivitas Siswa Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat, secara keseluruhan subjek penelitian memiliki antusias yang baik dalam proses pembelajaran. Adapun aspek yang diobservasi terdiri atas: (1) memperhatikan penjelasan guru, (2) menjawab pertanyaan guru atau bertanya, (3) memahami materi yang disajikan oleh guru, (4) kesiapan dan kesungguhan siswa dalam belajar, (5) kerjasama siswa serta kemampuan menyelesaikan soal, (6) tingkat motivasi dan minat belajar, (7) kemampuan mengeluarkan pendapat, (8) keberanian mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari temannya, (9) menyimpulkan materi dan (10) menyelesaikan tes individu. Berdasarkan hasil pengamatan oleh pengamat, siswa sudah berani mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum mereka pahami serta menjawab pertanyaan yang diberikan guru tentang materi yang diberikan, tetapi masih sebagian kecil dari 34 orang siswa. Hal ini menunjukkan dalam kegiatan belajar secara

46 umum siswa telah terlibat aktif, walaupun masih ada beberapa subjek penelitian yang masih belum berani bertanya dan mengemukakan pendapatnya.

5) Refleksi Siklus I Refleksi dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan yang terjadi selama tindakan siklus I berlangsung guna merencanakan tindakan yang lebih efektif pada tindakan siklus II. Pembelajaran pada siklus I difokuskan agar siswa dapat membiasakan diri untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe ThinkPair-Share dalam upaya memahami materi bentuk aljabar. Pada akhir tindakan I, guru (peneliti) bersama dengan pengamat mendiskusikan temuan-temuan selama pelaksanaan tindakan siklus I. Berdasarkan data pengamatan diperoleh kesimpulan bahwa, guru (peneliti) telah melaksanakan rencana pembelajaran sebagaimana diharapkan. Mulai dari penjelasan tujuan pembelajaran,memotivasi siswa, menjelaskan hal-hal yang belum dipahami siswa dalam materi penjumlahan bentuk aljabar serta membimbing siswa dalam mengerjakan LKS secara berkelompok. Pengelolaan pembelajaran dengan menerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share berlangsung dengan baik, meskipun penguasaan kelas belum begitu maksimal terlihat masih ada siswa bermain sewaktu guru (peneliti) menjelaskan di papan tulis. Tetapi secara keseluruhan siswa senang belajar dengan

47 model pembelajaran tersebut, karena semua siswa terlibat langsung dan aktif dalam menyelesaikan tugas baik secara individu maupun kelompok. Dalam aktivitias kelompok siswa sudah aktif mengerjakan LKS dan bertanya kepada guru, ketika mengalami kesulitan serta siswa sudah mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan guru dan teman-temannya dalam kelompoknya dalam menyelesaikan LKS kelompok. Dari analisis hasil tes individu siswa pada siklus I, diperoleh informasi bahwa indikator keberhasilan untuk hasil belajar belum tercapai karena persentase ketuntasan belajar secara klasikal yang diperoleh sebesar 50 %. Hasil belajar subjek penelitian belum memenuhi standar ketuntasan belajar secara klasikal. Dari hasil tersebut, menunjukkan bahwa target pencapaian keberhasilan tindakan belum dipenuhi. Dengan demikian, sesuai dengan indikator keberhasilan siklus, maka dilakukan perbaikan di siklus II. Hasil refleksi di atas menunjukkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan pada siklus II antara lain: a. Siswa masih kurang perhatian pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung b. Kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pendapat baik pada guru maupun pada temannya masih kurang c. Seringnya siswa salah dalam menyelesaikan soal sehingga guru menindaklanjutinya dalam kegiatan wawancara (memberikan

48 bimbingan kepada siswa tersebut sehingga mereka mengerti akan kesalahannya) d. Kemampuan guru dalam memberikan motivasi dan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan e. Kemampuan kerja sama antar siswa belum maksimal

a. Siklus II 1) Perencanaan. Perencanaan tindakan pada siklus II ini didasarkan pada refleksi siklus I. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menyiapkan seluruh perangkat pembelajaran meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan ajar, serta instrumen penelitian yang meliputi lembar kerja siswa kelompok, tes akhir tindakan dan lembar observasi kegiatan guru dan kegiatan siswa selama pelaksanaan pembelajaran. Pada siklus II ini, guru lebih banyak memotivasi siswa supaya pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung siswa lebih aktif, lebih menekankan pada siswa untuk meningkatkan kerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas kelompok.

2) Pelaksanaan Tindakan. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 Oktober 2008 di kelas VII A SMP Negeri 3 Palu dengan materi pengurangan bentuk aljabar. Pelaksanaan tindakan dimulai dari pukul

49 07.15 s.d 08.35. Materi ini disajikan dalam 2 jam pelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share yang sama pada siklus I. Dalam penyajian materi, peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan guru mata pelajaran matematika kelas VII A SMP Negeri 3 Palu bertindak sebagai pengamat. Penyajian materi berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran (lihat lampiran 10). Sebelum masuk pada fase pertama, guru membuka pelajaran dengan salam, menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. Kemudian, guru mengoorganisasi siswa dalam kelompok dan pasangannya serta mengecek pengetahuan prasyarat untuk membangkitkan pengetahuan awal siswa tentang penjumlahan bentuk aljabar. Selanjutnya, membagikan LKS pada setiap kelompok. Fase 1. Penyajian materi Pada fase ini, guru menyajikan materi tentang pengurangan bentuk aljabar dengan menggunakan metode tanya jawab. Pada awalnya guru memberikan sebuah contoh bentuk aljabar seperti: 3a 4b 2a 2b . Kemudian guru meminta siswa untuk menyederhanakan bentuk tersebut dengan menunjuk salah seorang siswa yang mengacungkan tangan. Dengan tegas siswa tersebut menjawab a + 2b Bu!. Guru mengatakan bagus sekali! Masih ada jawaban lain? Seorang siswa yang lain menjawab a 6b Bu!. Guru memuji keberanian siswa tersebut dan melanjutkan pertanyaan pada seluruh siswa, Ada jawaban lain? Mereka mengatakan sama saja

50 Bu! Selanjutnya guru mengatakan Ya, benar! dan menegaskan kepada seluruh siswa bahwa untuk menyederhanakan pengurangan bentuk aljabar tersebut dilakukan sama saja seperti menyederhanakan penjumlahan bentuk aljabar. Kegiatan dilanjutkan dengan memberikan beberapa contoh soal untuk dikerjakan secara bersama. Selain itu, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika ada hal yang kurang jelas. Memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar dengan baik karena pada akhir pembelajaran, guru akan memberikan tes individu yang berkaitan dengan materi yang diajarkan.

Fase 2. Berpikir bersama Pada fase ini, siswa diberikan pertanyaan atau masalah untuk dipikirkan secara mandiri. Kegiatan guru disini adalah membimbing siswa jika ada yang kebingungan mencari solusinya. Fase 3. Transisi ke pasangan/tim Pada fase ini, guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain (pasangannya) untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada fase kedua. Dalam menjawab pertanyaan, siswa bekerja secara berkelompok, terlihat bahwa kerja sama yang ditunjukkan oleh siswa sudah sangat kompak dan mereka tidak ragu-ragu lagi dalam bertanya dan mengemukakan pendapatnya.

51 Fase 4. Monitoring Pada fase ini, guru memantau dan mengamati aktivitas yang dilakukan siswa dalam kelompoknya. Ketika siswa aktif melaksanakan tugas dalam kelompok/pasangan mereka masingmasing, di sini guru perlu berhati-hati memantau kerja siswa untuk memastikan bahwa kegiatan mereka berjalan dengan baik. Dalam hal ini, melihat keaktifan siswa dalam belajar. Di fase ini siswa tidak lagi bertanya kepada guru, tetapi mereka aktif bertanya kepada teman sekelompoknya. Fase 5. Berbagi jawaban Pada fase ini, guru meminta setiap pasangan/kelompok untuk berbagi jawaban dengan seluruh siswa di kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan dan kerjakan secara bersama. Guru mengarahkan siswa dalam berdiskusi, dan terlihat siswa sudah berani bertanya dan tampil di depan kelas untuk menjawab soal. Selama siswa berdiskusi, guru memberikan penghargaan dalam bentuk verbal dan gerakan tubuh. Sebelum menutup kegiatan pembelajaran, guru membimbing siswa dalam menyimpulkan materi dan langsung memberikan tes individu kemudian mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan salam.

3) Data Hasil Wawancara Setelah memeriksa hasil tes akhir tindakan, guru (peneliti) melakukan wawancara pada hari Rabu tanggal 15 Oktober 2008

52 terhadap subjek penelitian. Peneliti tidak menggunakan pertanyaan secara terstruktur. Wawancara terfokus untuk menjawab pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: (1) apakah siswa senang dengan model pembelajaran yang digunakan, (2) kesulitan apa yang dialami oleh siswa ketika mengikuti pembelajaran, (3) apakah siswa senang menyelesaikan LKS kelompok, dan (4) apakah siswa mampu memberikan penjelasan atas langkah-langkahnya dalam menyelesaikan soal. Berdasarkan pada empat fokus pertanyaan diatas, diperoleh variasi jawaban dari subjek penelitian yang dapat dikategorikan sebagai berikut: (1) seluruh siswa senang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, karena mereka berbeda dengan situasi pembelajaran yang selama mereka terima. (2) dalam mengerjakan latihan, subjek penelitian mengakui mengalami sedikit kesulitan dalam memahami pengurangan bentuk aljabar. Namun secara garis besar mereka merasa sudah dapat memahami materi tersebut. (3) siswa senang mengerjakan LKS kelompok, karena mereka mendapatkan informasi dan dapat berdiskusi dengan teman dalam kelompoknya. (4)secara keseluruhan subjek penelitian mampu menjelaskan langkah-langkah yang mereka lakukan dalam menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru walaupun belum begitu sempurna.

53 4) Data Hasil Observasi Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama kegiatan pembelajaran berlangsung nampak bahwa siswa sangat senang dan antusias dalam belajar, siswa sangat senang bekerja secara mandiri maupun secara kelompok. Siswa aktif belajar dan berdiskusi untuk mencari informasi, baik dengan guru (peneliti) maupun dengan temantemannya yang lain. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, dilaksanakan observasi oleh pengamat adalah sebagai berikut. a. Hasil Observasi Pengamat terhadap Aktivitas Guru Pengamatan terhadap aktivitas guru dilakukan oleh guru matematika kelas VII A SMP Negeri 3 Palu dengan menggunakan lembar observasi guru. Dari hasil observasi, secara keseluruhan peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Adapun aspek yang diobservasi terdiri atas: (1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa, (2) mengaitkan pengetahuan prasyarat dengan materi yang akan dipelajari, (3) mengoorganisasi siswa dalam kelompok, (4) membagikan LKS, (5) menyajikan materi, (6) menjelaskan hal-hal yang belum dipahami, (7) mengajukan pertanyaan atau masalah untuk dipikirkan, (8) membimbing siswa dalam menganalisis dan memikirkan masalah yang diberikan, (9) meminta siswa untuk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang

54 telah dipikirkannya, (10) membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah, (11) memonitoring siswa, (12) meminta setiap pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas, (13) membimbing siswa dalam berdiskusi, (14) membimbing siswa dalam menyimpulkan materi dan (15) memberikan tes individu. b. Hasil Observasi Pengamat terhadap Aktivitas Siswa Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat, secara keseluruhan subjek penelitian memiliki antusias yang baik dalam proses pembelajaran. Adapun aspek yang diobservasi terdiri atas: (1) memperhatikan penjelasan guru, (2) menjawab pertanyaan guru atau bertanya, (3) memahami materi yang disajikan oleh guru, (4) kesiapan dan kesungguhan siswa dalam belajar, (5) kerjasama siswa serta kemampuan menyelesaikan soal, (6) tingkat motivasi dan minat belajar, (7) kemampuan mengeluarkan pendapat, (8) keberanian mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari temannya, (9) menyimpulkan materi dan (10) menyelesaikan tes individu. Berdasarkan hasil pengamatan oleh pengamat, siswa sudah berani mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum mereka pahami serta menjawab pertanyaan yang diberikan guru tentang materi yang diberikan. Hal ini menunjukkan dalam kegiatan belajar secara umum siswa telah terlibat aktif, dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran sudah baik.

55

5) Refleksi Siklus II Dengan melihat data observasi aktivitas guru dan siswa saat pelaksanaan tindakan siklus II, pengamat memberi nilai lebih baik dibandingkan dengan siklus I, aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran menunjukkan peningkatan pada kerja sama, bertanya dan mengeluarkan pendapat. Demikian pula hasil belajar siswa sudah memenuhi target pencapaian ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85,29 %. Dengan demikian, tindakan siklus II telah memperbaiki atau menutupi kekurangan pada siklus I, sehingga tidak perlu ada tindakan selanjutnya, karena tindakan pada siklus II telah mendukung keberhasilan tindakan. B. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan di atas, maka peneliti memperoleh gambaran bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think-pairShare yang diterapkan dalam penelitian ini merupakan salah satu alternatif dalam upaya peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam belajar matematika di kelas. Hal ini terlihat pada perbandingan hasil belajar antara tes awal dengan tes akhir setelah siklus II ternyata terdapat beberapa perbedaan hasil belajar. Pada tes awal skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 80, skor terendah yang dicapai siswa adalah 23. Siswa yang memperoleh nilai yang memenuhi standar ketuntasan adalah 13 orang, sedangkan yang tidak memenuhi standar ketuntasan berjumlah 21 orang. Setelah diadakan tes individu siklus I, diperoleh bahwa skor/nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 100, skor yang terendah yang

56 dicapai siswa adalah 20. Siswa yang memperoleh nilai yang memenuhi standar ketuntasan adalah 17 orang, sedangkan yang tidak memenuhi standar ketuntasan berjumlah 17 orang. Namun bila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada siklus II, diperoleh bahwa skor/nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 100, skor yang terendah yang dicapai siswa adalah 62. Siswa yang memperoleh nilai yang memenuhi standar ketuntasan adalah 29 orang, sedangkan yang tidak memenuhi standar ketuntasan hanya 5 orang. Meskipun demikian, tindakan ini dianggap sudah memenuhi target pencapaian keberhasilan tindakan. Rendahnya perbedaan hasil belajar antara tes awal dengan tes individu pada tindakan siklus I dapat disebabkan oleh model pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share yang diterapkan di SMP Negeri 3 Palu baru pertama kali, sehingga baik siswa maupun peneliti masih belum baik pemahamannya tentang cara belajar dengan model tersebut, sehingga perbedaan hasil belajar yang diperoleh tidak terlalu besar. Namun bila dibandingkan dengan hasil belajar antara tes awal, tes individu siklus I dengan hasil tes individu siklus II terdapat perbedaan yang jauh lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa siswa telah memperoleh pengalaman bagaimana cara belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Selain dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa, model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share juga dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru di kelas. Berdasarkan pengamatan selama kegiatan pembelajaran di siklus I dan II, aktivitas guru pada kategori baik. Namun demikian, pada siklus II lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan

57 pada siklus II memberikan aktivitas guru yang lebih tinggi. Peningkatan terjadi terutama pada pemberian motivasi. Sedangkan pada aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran di siklus I berada pada kategori kurang, namun pada siklus II terjadi peningkatan bila dibandingkan dengan siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan pada siklus II memberikan aktivitas siswa yang lebih tinggi. Peningkatan terjadi terutama pada kerja sama siswa dan adanya siswa yang berani bertanya dan mengeluarkan pendapatnya. Pola belajar dengan kerja sama yang diterapkan dalam model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share ini, telah menimbulkan motivasi siswa terutama untuk siswa dengan tingkat kemampuan yang kurang untuk ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini karena dalam pembelajaran ini, semua siswa mendapat kesempatan yang sama dalam pembelajaran. Siswa yang lebih pandai termotivasi untuk membantu siswa lain dalam menyelesaikan tugastugas kelompok/pasangan yang ada, karena semua siswa tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tetapi juga teman sekelompoknya. Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar yang diperoleh siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar mengalami peningkatan.

58

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini, adalah: 1. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share yang dilaksanakan melalui tiga tahap, yakni berpikir, berpasangan dan berbagi jawaban merupakan model pembelajaran yang menekankan pada metode tanya jawab, diskusi, dan kerja kelompok dapat meningkatkan aktivitas yang lebih baik pada siswa maupun guru serta meningkatkan hasil belajar siswa pada materi

59 penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar di kelas VII A SMP Negeri 3 Palu. 2. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dapat membantu siswa dalam memvisualisasikan atau mengambarkan secara kongrit penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar, sehingga konsep dasar penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar lebih tertanam dalam diri siswa. 3. Hasil belajar yang diperoleh siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar menunjukkan suatu peningkatan yang signifikan. Hal ini ditunjukkan dari presentase ketuntasan belajar secara klasikal dari 50 % meningkat menjadi 85,29 %.

B. Saran-saran Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, maka peneliti mengajukan saransaran sebagai berikut. 1. Pada proses pembelajaran, guru hendaknya dapat menjadikan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-share sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Kepada guru yang mengajarkan materi matematika khususnya pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar, agar mempertimbangkan untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.

60

DAFTAR RUJUKAN

Arif, 2003. Belajar Kooperatif dengan Pendekatan Struktural untuk Pemahaman Konsep Statistika Siswa Kelas II SLTP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Tesis Tidak Dipublikasikan, Malang. Arikunto, Suharsimi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Dahar, R.Wilis. 1989. Teori-teori Belajar. Bandung : Erlangga. Depdiknas, 2004a. Matematika SMP Kelas VIII. Jakarta : Direktorat Tenaga Kependidikan. Depdiknas, 2004b. Pembelajaran Matematika I. Jakarta : Direktorat Tenaga Kependidikan. Depdiknas, 2004c. Strategi Pembelajaran Matematika. Jakarta : Direktorat Tenaga Kependidikan.

61

Hudojo, Herman. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud Dirjend Dikti P2LPTK. Ibrahim, 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Press. Jaeng, Maxinus. 2008. Model Pembelajaran Matematika Sekolah. Palu: FKIP Universitas Tadulako. Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning. Jakarta: PT. Grasindo. Marks, J.L., Hiatt, A.A. & Neufeld, E.M. 1985. Metode Pengajaran Matematika untuk Sekolah Dasar. Terjemahan oleh Bambang Sumantri, 1988. Jakarta: Erlangga. Moleong. 1990. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudarto, 2000. Kejar (Kegiatan Belajar) Matematika Pendidikan Dasar 9 Tahun untuk SLTP Kelas I Cawu I. Surakarta: Pabelan. Sudjana, Nana. 1991. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Sugijono, Cholik & Subroto. 2002. Matematika untuk SMP Kelas VII. Jakarta : Erlangga. Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : CV Alfabeta. Sumardi & Bremaniwati. 2004. Matematika untuk SMP Kelas VII. Jawa Tengah : Prestasi Agung Pratama. Surakhmad. 1980. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar. Bandung: Tarsito. Aksara. Usman, M. Uzer & Lilis Setiawati. 2001. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya. Widyantini, 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif. Yogyakarta : Depdiknas Direktorat Tenaga Kependidikan.

62

Lampiran 1 TES AWAL Mata Pelajaran Pokok Bahasan Waktu Hari / Tanggal : Matematika : Bentuk Aljabar : 1 Jam Pelajaran : Sabtu, 30 Agustus 2008

Petunjuk Soal : 1. Tulislah nama Anda pada lembar jawaban yang telah disediakan! 2. Jawablah setiap pertanyaan di bawah ini dengan jelas! Soal :

63 1. Tulislah koefisien x, y, dan z pada bentuk aljabar di bawah! a. b. 3x + 8my 2z 5ax + 10by + 3z

2. Ditentukan bentuk aljabar 3p2 + 6p + 7, tulislah koefisien p2, koefisien p dan konstantanya! 3. Tentukan suku-suku dari bentuk aljabar 5c2 + 2c + 7 ! 4. Tentukan suku-suku sejenis dari x2 + 2x 1 dan 3x2 + x + 1 ! 5. Apakah p dan q adalah koefisien-koefisien yang sejenis pada bentuk aljabar px2 + 4x + 1 dengan 2x2 + x + q ? Benar atau salah!

Lampiran 2 DAFTAR PEROLEHAN SKOR SISWA PADA TES AWAL No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Nama Siswa Ahmad Imran Aminah Buana Hardiyanti Citra Dewi Eka Novian Eko Yulianto Fahrul Arfandi Fani Rahmasari Ijmah Mushawwirah Intan Permata Irdayanti Juniawan Abdi Wijaksono Lolita Dwi Iswantoro Jumlah Skor / Nilai Perolehan 80 47 57 80 63 67 47 57 70 23 80 37 53 Ket Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas

64 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. Magfirah Fitriah Meiliani Siti Hartini Moh. Fahri Moh. Fauzan Moh. Ihsan Moh. Kurniawan Moh. Rifardi Muh. Fadli Muh. Rasyidik Nur Anggraini Nurfadillah Reski Nurul Azizah Reza Renaldi Sakinah Sasmita Anggraini Serlianti Siti Hartina Solahuddin Vera Wati Wahyudi Zaqi Fahmi 57 67 40 40 77 80 57 63 63 80 77 70 80 47 53 53 33 67 50 40 Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas

Persentase ketuntasan belajar secara klasikal =


Jumlah siswa yang tuntas x100% Jumlah seluruh siswa

13 x 100% 34

= 38,23 %

65

Lampiran 3 KELOMPOK BELAJAR SISWA JENIS (1) (2) (2) (1) (2) (2) (1) (1) (2) (2) TINGKAT

KELOMPOK

NAMA SISWA 1. Ahmad Imran

KELAMIN PEMAHAMAN L Tinggi L P P P L P L P P L L L P P P P L P L P Sedang Rendah Rendah Tinggi Sedang Rendah Rendah Tinggi Sedang Rendah Rendah Tinggi Sedang Rendah Rendah Tinggi Sedang Rendah Rendah Tinggi

KET

2. Reza Renaldi 4. Nurfadillah 1. Citra

3. Fani Rahmasari (1)

II

2. Eko Yulianto 3. Serlianti 4. Fahrul 1. Irdayanti

III

2. Meiliani 3. Wahyudi

4. Juniawan (1) 1. Moh. Kurniawan (1) IV 2. Vera Wati 3. Siti Hartina 4. Magfirah 1. Nur Anggraini V 2. Muh. Fadli 3. Sasmita 4. Sholahuddin 1. Sakinah (2) (2) (1) (1) (2) (2) (1) (1)

VI

66 2. Muh. Rasyidik (2) 3. Aminah 4. Moh. Fauzan (2) (1) L P L Sedang Rendah Rendah

1. Reski Nurul VII 2. Eka Novian 3. Lolita 4. Moh. Fahri 1. Moh Ihsan 2. Ijmah VIII 3. Buana 4. Moh. Rifardi 6. Zaqi Fahmi

(1) (2) (1) (2) (1) (2) (3) (2) (3)

P P P L L P P L P L

Tinggi Sedang Rendah Rendah Tinggi Tinggi Sedang Sedang Rendah Rendah

5. Intan Permata (1)

67

Lampiran 4 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (SIKLUS I) Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu Standar Kompetensi : : : : : SMP Negeri 3 Palu Matematika VIIA / 1 2 x 40 menit bentuk aljabar, persamaan dan

Memahami

pertidaksamaan linear satu variabel Kompetensi Dasar Indikator A. Tujuan Pembelajaran Siswa dapat menyelesaikan penjumlahan pada bentuk aljabar B. Materi Pembelajaran Bentuk aljabar C. Model/Metode Pembelajaran Model Metode : Pembelajaran kooperatif Tipe Think-Pair-Share : Ceramah, Diskusi kelompok, dan Pemberian tugas : : Melakukan operasi pada bentuk aljabar Menyelesaikan penjumlahan bentuk aljabar

D. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Guru Kegiatan Awal a. Membuka kegiatan pembelajaran b. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa a. Memperhatikan dan mendengarkan dengan baik dan seksama 10 Kegiatan Siswa Waktu

68 c. Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat siswa dengan materi yang akan dipelajari d. Mengoorganisasi siswa dalam kelompok e. Membagikan LKS b. Memperhatikan penjelasan guru c. Menjawab pertanyaan guru atau bertanya d. Bergabung dengan anggota kelompok masing-masing e. Memperhatikan isi LKS

69

Kegiatan Inti Fase 1. Penyajian Materi a. Guru menyajikan materi tentang menyelesaikan penjumlahan bentuk aljabar b. Menjelaskan hal-hal yang belum dipahami siswa dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk dipikirkan Fase 2. Berpikir Bersama Membimbing siswa dalam menganalisis Menganalisis dan memikirkan dan memikirkan masalah yang diberikan masalah secara sendiri-sendiri Fase 3. Transisi ke Pasangan/Tim a. Meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya b. Membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah ataupun soal yang diberikan Fase 4. Monitoring Memantau aktivitas siswa Fase 5. Berbagi Jawaban a. Meminta setiap pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas b. Membimbing siswa dalam berdiskusi Kegiatan Akhir a. Membimbing siswa dalam menyimpulkan materi a. Menyimpulkan materi pelajaran 20 a. Berbagi jawaban dengan siswa pada kelompok lain b. Melakukan diskusi Aktif melaksanakan tugas dalam kelompoknya b. Menjawab dan menyelesaikan masalah a. Mencari pasangannya masing-masing a. Memahami materi yang disajikan guru b. Menjawab pertanyaan yang diajukan guru dan meminta penjelasan guru mengenai hal-hal yang belum dipahami diberikan 50

c. Mengajukan pertanyaan atau masalah c. Memikirkan masalah yang

70 b. Memberikan tes individu c. Mengakhiri kegiatan pembelajaran E. Sumber Belajar Buku teks F. Penilaian Teknik : Tes b. Mengerjakan tes yang diberikan

Bentuk Instrumen : Tes tertulis Contoh Instrumen : 1. Sederhanakanlah bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 4p + 8p b. 2x2 + 5x2 2. Tentukan hasil penjumlahan bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 7x2 + 3x + (-9x2) + x b. (6y2 + 2) + (3y + 7) c. (3xy + 2x + 2) + (2xy + 4) d. (2p2 + 3p +2) + (5p2 + 2p + 5)

Lampiran 5 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS I Kelompok: .

71

Indikator: Menyelesaikan penjumlahan bentuk aljabar Petunjuk: a. Tulislah nama kelompok anda serta tanggal di bagian atas lembar jawaban. b. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan benar! Soal: Tentukan hasil penjumlahan bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 7a + 2a = ( + )a = b. (5p + 7) + (2p +5) = 7p + c. (4xy2 + 2) + (2xy2 + 1) = + d. 3p + 5q + (-5p) + 9q = 3p + () + 5q + = ( - )p + ( + )q = p + q e. (2x2 + 3x + 7) + (4x2 + 2x + 5) = 6x2 + x +

Lampiran 6 LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS GURU DI KELAS SIKLUS I

72

Nama Sekolah Mata Pelajaran Materi Nama Peneliti Hari / Tanggal

: SMP Negeri 3 Palu : Matematika : Penjumlahan Bentuk Aljabar : Helmi : Rabu, 8 Oktober 2008

Petunjuk. Berikut ini daftar pengelolaan kegiatan belajar berdasarkan pembelajaran kooperatif tipe Think-pair-Share yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Berikan penilaian anda dengan membubuhkan tanda cek ( ) pada kolom yang tersedia. No I Aspek yang Diamati KEGIATAN AWAL a. Membuka kegiatan pembelajaran b. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa c. Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat siswa dengan materi yang akan dipelajari d. Mengoorganisasi siswa dalam kelompok e. Membagikan LKS II KEGIATAN INTI Fase 1. Penyajian Materi a. Guru menyajikan materi tentang menyelesaikan penjumlahan bentuk aljabar b. Menjelaskan hal-hal yang belum dipahami siswa dan mengajukan beberapa pertanyaan c. Mengajukan pertanyaan atau masalah untuk dipikirkan Fase 2. Berpikir Bersama Membimbing siswa dalam menganalisis dan memikirkan masalah yang diberikan Fase 3. Transisi ke Pasangan/Tim a. Meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya b. Membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah 1 Penilaian 2 3 4

73 ataupun soal yang diberikan Fase 4. Monitoring Memantau aktivitas siswa Fase 5. Berbagi Jawaban a. Meminta setiap pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas b. Membimbing siswa dalam berdiskusi

III

KEGIATAN AKHIR a. Membimbing siswa dalam menyimpulkan materi b. Memberikan tes individu c. Mengakhiri kegiatan pembelajaran PENGELOLAAN WAKTU PENGAMATAN SUASANA KELAS Siswa antusias Guru antusias

Keterangan: 1 = Tidak baik 2 = Kurang baik 3 = Cukup baik 4 = Baik Pengamat

Niluh Wardhani, S.Pd NIP. 132064604

Lampiran 7

74 LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS SISWA DI KELAS SIKLUS I Nama Sekolah Mata Pelajaran Materi Nama Peneliti Hari / Tanggal : SMP Negeri 3 Palu : Matematika : Penjumlahan Bentuk Aljabar : Helmi : Rabu, 8 Oktober 2008

Petunjuk. Berilah tanda cek ( ) pada kolom yang tersedia sesuai dengan pendapat anda.

No I

Aspek yang Diamati KEGIATAN AWAL a. Memperhatikan penjelasan guru b. Menjawab pertanyaan guru atau bertanya KEGIATAN INTI a. Memahami materi yang disajikan guru b. Kesiapan dan kesungguhan siswa dalam belajar c. Kerjasama yang ditunjukkan oleh siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada serta mampu menyelesaikan soal atau masalah d. Tingkat motivasi dan minat belajar e. Kemampuan mengeluarkan pendapat f. Keberanian mengajukan pertanyaan serta berani menjawab pertanyaan-pertanyaan dari temannya.

Penilaian 2 3 4

II

III

KEGIATAN AKHIR a. Menyimpulkan materi

75 b. Menyelesaikan tes individu IV Suasana kelas (antusias siswa)

Keterangan: 1 = Tidak baik 2 = Kurang baik 3 = Cukup baik 4 = Baik Pengamat Dian Untari STB. A 23104017

Lampiran 8 TES INDIVIDU SIKLUS I

76

Petunjuk soal: 1. Tulislah nama Anda pada lembar jawaban yang telah disediakan! 2. Jawablah setiap pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas! Soal: 1. Sederhanakanlah bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 4p + 8p b. 2x2 + 5x2 2. Tentukan hasil penjumlahan bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 7x2 + 3x + (-9x2) + x b. (6y2 + 2) + (3y + 7) c. (3xy + 2x + 2) + (2xy + 4) d. (2p2 + 3p +2) + (5p2 + 2p + 5)

Lampiran 9 DAFTAR HASIL PEROLEHAN SKOR SISWA

77 PADA TES INDIVIDU (SIKLUS I) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. Nama Siswa Ahmad Imran Aminah Buana Hardiyanti Citra Dewi Eka Novian Eko Yulianto Fahrul Arfandi Fani Rahmasari Ijmah Mushawwirah Intan Permata Irdayanti Juniawan Abdi Wijaksono Lolita Dwi Iswantoro Magfirah Fitriah Meiliani Siti Hartini Moh. Fahri Moh. Fauzan Moh. Ihsan Moh. Kurniawan Moh. Rifardi Muh. Fadli Muh. Rasyidik Nur Anggraini Nurfadillah Reski Nurul Azizah Reza Renaldi Sakinah Sasmita Anggraini Serlianti Siti Hartina Solahuddin Vera Wati Wahyudi Zaqi Fahmi Jumlah Skor / Nilai Perolehan 70 70 40 68 20 70 40 50 50 40 50 78 90 80 52 90 90 40 100 20 88 40 80 70 80 40 20 96 40 90 76 50 Ket Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas

Persentase ketuntasan belajar secara klasikal =


Jumlah siswa yang tuntas x100% Jumlah seluruh siswa

78 =
17 x 100% 34

= 50 %

Lampiran 10 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (SIKLUS II) Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu Standar Kompetensi : : : : : SMP Negeri 3 Palu Matematika VIIA / 1 2 x 40 menit bentuk aljabar, persamaan dan

Memahami

pertidaksamaan linear satu variabel Kompetensi Dasar Indikator : : Melakukan operasi pada bentuk aljabar Menyelesaikan pengurangan bentuk aljabar

79 A. Tujuan Pembelajaran Siswa dapat menyelesaikan pengurangan pada bentuk aljabar B. Materi Pembelajaran Bentuk aljabar C. Model/Metode Pembelajaran Model Metode : Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share : Ceramah, Diskusi kelompok, dan Pemberian tugas

D. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Guru Kegiatan Awal a. Membuka kegiatan pembelajaran b. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa c. Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat siswa dengan materi yang akan dipelajari d. Mengoorganisasi siswa dalam kelompok e. Membagikan LKS Kegiatan Siswa a. Memperhatikan dan mendengarkan dengan baik dan seksama b. Memperhatikan penjelasan guru c. Menjawab pertanyaan guru atau bertanya d. Bergabung dengan anggota kelompok masing-masing e. Memperhatikan isi LKS Waktu 10

80

Kegiatan Inti Fase 1. Penyajian Materi a. Guru menyajikan materi tentang menyelesaikan pengurangan bentuk aljabar b. Menjelaskan hal-hal yang belum dipahami siswa dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk dipikirkan Fase 2. Berpikir Bersama Membimbing siswa dalam menganalisis Menganalisis dan memikirkan dan memikirkan masalah yang diberikan masalah secara sendiri-sendiri Fase 3. Transisi ke Pasangan/Tim a. Meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya b. Membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah ataupun soal yang diberikan Fase 4. Monitoring Memantau aktivitas siswa Fase 5. Berbagi Jawaban a. Meminta setiap pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas b. Membimbing siswa dalam berdiskusi Kegiatan Akhir a. Membimbing siswa dalam menyimpulkan materi a. Menyimpulkan materi pelajaran 20 a. Berbagi jawaban dengan siswa pada kelompok lain b. Melakukan diskusi Aktif melaksanakan tugas dalam kelompoknya b. Menjawab dan menyelesaikan masalah a. Mencari pasangannya masing-masing a. Memahami materi yang disajikan guru b. Menjawab pertanyaan yang diajukan guru dan meminta penjelasan guru mengenai hal-hal yang belum dipahami diberikan 50

c. Mengajukan pertanyaan atau masalah c. Memikirkan masalah yang

81 b. Memberikan tes individu c. Mengakhiri kegiatan pembelajaran E. Sumber Belajar Buku teks F. Penilaian Teknik : Tes b. Mengerjakan tes yang diberikan

Bentuk Instrumen : Tes tertulis Contoh Instrumen : 1. Sederhanakanlah bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 5a 2a b. 4q2 3q2 2. Tentukan hasil penjumlahan bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 7a 2b 3a 3b b. (6pq 3) (3pq 2) c. (3p3 2aq2 5) (p2 aq2 10) 3. Kurangkan bentuk aljabar berikut. a. 5a 3b dari 2a 8b b. 6p 3q + 3r dari p q 3

Lampiran 11 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS II Kelompok: .

82

Indikator: Menyelesaikan pengurangan bentuk aljabar Petunjuk: a. Tulislah nama kelompok anda serta tanggal di bagian atas lembar jawaban. b. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan benar! Soal: 1. Tentukan hasil pengurangan bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 9y 12y = ( - )y = b. (7p 6) (3p 2) = 4p - c. (6xy2 2y) (3y xy2) = + d. 5x2 3x 7x2 6x = 5x2 - - 3x - = ( - )x2 ( + )x = x2 + x e. (x2 x 9) (5x2 7x + 2) = -4x2 + x - 2. Kurangkan bentuk aljabar 8a 3b dari 3a 8b Penyelesaian: 3a 8b (8a 3b) = 3a 8b - + = 3a - - 8b + = a - b Lampiran 12 LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS GURU DI KELAS SIKLUS II

83

Nama Sekolah Mata Pelajaran Materi Nama Peneliti Hari / Tanggal

: SMP Negeri 3 Palu : Matematika : Pengurangan Bentuk Aljabar : Helmi : Selasa, 14 Oktober 2008

Petunjuk. Berikut ini daftar pengelolaan kegiatan belajar berdasarkan pembelajaran kooperatif tipe Think-pair-Share yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Berikan penilaian anda dengan membubuhkan tanda cek ( ) pada kolom yang tersedia. No I Aspek yang Diamati KEGIATAN AWAL a. Membuka kegiatan pembelajaran b. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa c. Mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat siswa dengan materi yang akan dipelajari d. Mengoorganisasi siswa dalam kelompok e. Membagikan LKS II KEGIATAN INTI Fase 1. Penyajian Materi a. Guru menyajikan materi tentang menyelesaikan pengurangan bentuk aljabar b. Menjelaskan hal-hal yang belum dipahami siswa dan mengajukan beberapa pertanyaan c. Mengajukan pertanyaan atau masalah untuk dipikirkan Fase 2. Berpikir Bersama Membimbing siswa dalam menganalisis dan memikirkan masalah yang diberikan Fase 3. Transisi ke Pasangan/Tim a. Meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya b. Membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah 1 Penilaian 2 3 4

84 ataupun soal yang diberikan Fase 4. Monitoring Memantau aktivitas siswa Fase 5. Berbagi Jawaban a. Meminta setiap pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas b. Membimbing siswa dalam berdiskusi

III

KEGIATAN AKHIR a. Membimbing siswa dalam menyimpulkan materi b. Memberikan tes individu c. Mengakhiri kegiatan pembelajaran PENGELOLAAN WAKTU PENGAMATAN SUASANA KELAS Siswa antusias Guru antusias

Keterangan: 1 = Tidak baik 2 = Kurang baik 3 = Cukup baik 4 = Baik Pengamat

Niluh Wardhani, S.Pd NIP. 132064604

Lampiran 13

85 LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS SISWA DI KELAS SIKLUS II Nama Sekolah Mata Pelajaran Materi Nama Peneliti Hari / Tanggal : SMP Negeri 3 Palu : Matematika : Pengurangan Bentuk Aljabar : Helmi : Selasa, 14 Oktober 2008

Petunjuk. Berilah tanda cek ( ) pada kolom yang tersedia sesuai dengan pendapat anda.

No I

Aspek yang Diamati KEGIATAN AWAL a. Memperhatikan penjelasan guru b. Menjawab pertanyaan guru atau bertanya KEGIATAN INTI a. Memahami materi yang disajikan guru b. Kesiapan dan kesungguhan siswa dalam belajar c. Kerjasama yang ditunjukkan oleh siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada serta mampu menyelesaikan soal atau masalah d. Tingkat motivasi dan minat belajar e. Kemampuan mengeluarkan pendapat f. Keberanian mengajukan pertanyaan serta berani menjawab pertanyaan-pertanyaan dari temannya.

Penilaian 2 3 4

II

III

KEGIATAN AKHIR a. Menyimpulkan materi

86 b. Menyelesaikan tes individu IV Suasana kelas (antusias siswa)

Keterangan: 1 = Tidak baik 2 = Kurang baik 3 = Cukup baik 4 = Baik Pengamat Santi STB. A 23104041

Lampiran 14 TES INDIVIDU SIKLUS II

87

Petunjuk soal: 1. Tulislah nama Anda pada lembar jawaban yang telah disediakan! 2. Jawablah setiap pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas! Soal: 1. Sederhanakanlah bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 5a 2a b. 4q2 3q2 2. Tentukan hasil pengurangan bentuk-bentuk aljabar berikut. a. 7a 2b 3a 3b b. (6pq 3) (3pq 2) c. (3p3 2aq2 5) (p2 aq2 10) 3. Kurangkan bentuk aljabar berikut. a. 5a 3b dari 2a 8b b. 6p 3q + 3r dari p q 3

Lampiran 15 DAFTAR HASIL PEROLEHAN SKOR SISWA

88 PADA TES INDIVIDU (SIKLUS II) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. Nama Siswa Ahmad Imran Aminah Buana Hardiyanti Citra Dewi Eka Novian Eko Yulianto Fahrul Arfandi Fani Rahmasari Ijmah Mushawwirah Intan Permata Irdayanti Juniawan Abdi Wijaksono Lolita Dwi Iswantoro Magfirah Fitriah Meiliani Siti Hartini Moh. Fahri Moh. Fauzan Moh. Ihsan Moh. Kurniawan Moh. Rifardi Muh. Fadli Muh. Rasyidik Nur Anggraini Nurfadillah Reski Nurul Azizah Reza Renaldi Sakinah Sasmita Anggraini Serlianti Siti Hartina Solahuddin Vera Wati Wahyudi Zaqi Fahmi Jumlah Skor / Nilai Perolehan 100 69 85 77 69 77 62 85 74 74 77 83 85 97 85 85 85 77 100 62 100 74 85 85 77 85 62 77 100 77 85 85 Ket Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

Persentase ketuntasan belajar secara klasikal =


Jumlah siswa yang tuntas x100% Jumlah seluruh siswa

89 =
29 x 100% 34

= 85,29 %

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NIM Jurusan/Program Studi Fakultas : Helmi : A 231 04 015 : Pend. MIPA/Pend. Matematika : Keguruan dan Ilmu pendidikan

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilan tulisan

90 atau pikiran orang lain. Saya akui skripsi ini adalah hasil tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini adalah hasil jiplakan maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Palu,

Nopember 2008

Yang membuat pernyataan,

Helmi A 231 04 015

RIWAYAT HIDUP

Helmi, dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1986 di Palu Provinsi Sulawesi tengah merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Syamsuddin dan Ibu Nurani. Pendidikan pertama kali di Sekolah Dasar tepatnya di SD Inpres Boyaoge selama 6 tahun dan tamat pada tahun 1998. Pendidikan berikutnya di tempuh di SLTP Negeri 5 Palu dan tamat pada tahun 2001. Kemudian pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 4 Palu dan tamat pada tahun 2004.

91 Pada tahun 2004 terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako melalui PMDK.