Anda di halaman 1dari 10

ABSES

Abses adalah rongga yang berisi nanah. Tanda utamanya dari suatu abses adalah fluktuasi, meskipun tidak selalu terdeteksi. Rasa hangat yang terlokalisir, bengkak dan nyeri tekan langsung pada rongga abses adalah tanda yang khas juga. (Eliastam, Michael.1998 : 183) Terapinya memerlukan insisi dan drainase cairan purulen. Antibiotik dapat sebagai tambahan tapi bukan terapi primer. (Schwartz .2000 : 49) Abses disebabkan oleh flora bacterial campuran yang berkisar sekitar 2,5 spesies bakteri 1,6 diantaranya merupakanbakteri anaerob sementara 0,9 lainnya adalah bakteri aerob atau fakultatif. Bakteri komensal dari tempat-tempat disekitarnya merupakan penyebab abses yang biasa ditemukan sehingga spesies bakteri dalam abses secara tipikal merupakan spesies yang ditemukan dalam flora normal. (Richard N.mitchell.2008 : 230)

Abses Ginjal

a) b) c) d)

Abses ginjal bisa disebabkan oleh bakteri yang berasal dari suatu infeksi yang terbawa ke ginjal melalui aliran darah atau akibat suatu infeksi saluran kemih yang terbawa ke ginjal dan menyebar ke dalam jaringan ginjal. Abses di permukaan ginjal (abses perinefrik) hampir selalu disebabkan oleh pecahnya suatu abses di dalam ginjal, yang menyebarkan infeksi ke permukaan dan jaringan di sekitarnya. Gejala dari abses ginjal adalah: Demam, menggigil. Nyeri di punggung sebelah bawah. Nyeri ketika berkemih. Air kemih mengandung darah (kadang-kadang).

Abses Perinefrik (Abses perirenal)

Abses perinefrik adalah abses renal yang meluas kedalam jaringan lemak disekitar ginjal. Ini dapat diakibatkan oleh infeksi ginjal, seperti pielonefritis atau dapat terjadi secara hematogen ( menyebar melalui aliran darah ) yang berasal dari bagian mana saja di tubuh. Organisme penyebab mencangkup Staphylococcus, proteus dan E.coli. kadang-kadang

infeksi menyebar dari area yang berdekatan, seperti divertikulatis atau apendisitis. (Smeltzer. 2001 : 1437) Abses perinefrik sering terjadi akibat penyebaran hematogen atau sekunder akibat obstruksi renal dan pada penderita diabetes lebih rentan (Pradip R. Patel.2007 :157) Abses perinefrik/pionefrosis memiliki karakteristik nyeri tekan akut, timbul tandatanda sistemik, namun abses jarang menjadi besar. (Pierce A, Grace & Neil R. Borley. 2006 : 35) Abses perinefrik terdiri atas abses diluar ginjal yang biasanya dibebabkan oleh infeksi diluar pielum. Sering disertai batu pielum. Berangsur-angsur abses menjadi besar sampai dapat diraba. Pada pemeriksaan ditemukan piuria dan pada pemeriksaan ultrasonografi dilihat ruang abses diluar ginjal. ( Sjamsuhidajat.2010 : 866) Terapi terdiri atas penyaliran, sering ginjal sudah tidak berfungsi lagi sehingga nefrektomi harus dianjurkan. ( Sjamsuhidajat.2010 : 866) Pasien abses perinefrik yang harus mendapat perhatian lebih adalah dengan nyeri sudut kostovertebra yang hebat, rigiditas otot-otot daerah panggul, massa daerah panggul atau demam tinggi, terutama jika infeksinya resisten terhadap terapi antibiotika. ( Eliastam, Michael.1998 : 165) Abses perinefrik ini biasanya mengikuti perforasi dari infeksi ginjal atau abses kedalam rongga perinefrik. Pasien datang dengan demam tinggi dan abdomen yang keras. Pada radiografi tidak terlihat adanya bayangan psoas dan tulang belakang mencembung kearah lesi. Terapi membutuhkan drainase dan antibiotika jangka panjang. (Schwartz.2000: 586)

Etiologi Beberapa agen bakteri penyebab abses perirenal, meliputi Esherichia coli, Proterus, dan Staphylococcus aureus. Beberapa bakteri gram negatif lain dapat menyebabkan infeksi ini meliputi Klebsiella, Enterobacter, Pseudomonas, Serratia, dan Citrobacter spesies. Penyebab lainnya adalah jamur, terutama Candida biasanya terjadi pada pasien dengan diabetes. Faktor predisposisi mencakup pembedahan (termasuk transplantasi ginjal) dan terapi antibiotik berkepanjangan. (Musttaqin. 2012 : 122)

Manifestasi Klinis Manifestasi yang terjadi sering akut awitan, disertai menggigil, demam, lekositosis, nyeri tumpul atau teraba massa di panggul : nyeri abdomen dan nyeri tekan sudut konstovertebral sakit berat. Penatalaksaannya dengan insisi abses, didrainase dan kultur serta sensivitas dari seluruh cairan darinase diperiksa. Terapi antimikrobial yang tepat diresepkan. Drain biasanya dimasukkan dan dibiarkan diruangan perinefrik sampai drainase signifikan keluar seluruhnya. Karena cairan drainase biasanya banyak, maka diperlukan

penggantian balutan luar dengan sering. Seperti pada penanganan abses disetiap tempat, pasien dipantau terhadap adanya sepsis, masukan dan haluaran cairan, dan respons umum terhadap penanganan. (Smeltzer. 2001 : 1438) Patofisiologi Mekanisme yang paling umum terjadi untuk abses bakteri gram-gram negatif adalah pecahnya abses kortikomedular, sementara mekanisme yang paling umum untuk pengembangan infeksi staphylococcal adalah pecahnya abses kortikal ginjal. Temuan ini sering diamati dalam hubungan dengan operasi ginjal sebelumnya seperti nephrectomy parsial atau nefrolisiasis atau paling sering, sebagai komplikasi diabetes mellitus (Bolkier, 1991). (Musttaqin. 2012 : 122) Pasien dengan penyakit ginjal polikistik yang menjalani hemodialisis mungkin sangat rentan untuk mengembangkan abses perirenal 62% dari kasus. Faktor predisposisi untuk abses perirenal meliputi neurogenik kandung kemih, refluks vesicoureteral, obstruksi kandung kemih, nekrosis papiler ginjal, TBC saluran kemih, trauma ginjal, imunosupresi, dan penyalahgunaan narkoba suntikan. Ketika pecah, infeksi abses perirenal melalui fasia gerota ke riuang pararenal, keadaan tersebut mengarah pada pembentukan abses pararenal. Abses parerenal juga dapat disebabkan oleh gangguan dari pancreas, usus, hati, kantung empedu, prostat, dan rongga pleura, dan mereka mungkin disebabkan oleh osteomielitis tulang rusuk yang berdekatan atau tulang belakang. Respons terbentuknya abses pada perineal akan memberikan manifestasi reaksi lokal yang sistemik. Reaksi lokal memberikan respons inflamasi lokal dengan adanya keluhan nyeri kostovetebral. Respons sistemik akan menimbulkan masalah peningkatan suhu tubuh, kelemahan fisik umum, serta ketidakseimbangan nutrisi dan kecemasan. (Musttaqin. 2012 : 122) Pengkajian Anamnesis Keluhan utama yang sering dikeluhkan bervariasi meliputi keluhan infeksi kulit atau infeksi saluran kemih. Infeksi bisa diikuti dalam 1-2 minggu dengan demam dan nyeri pada pinggang atau kostovertebra.( Musttaqin. 2012 :122) Keluhan nyeri daerah pingggang atau kostovertebra misalnya disertai adanya peningkatan suhu tubuh, demam, sampai menggigil. Pasien mengeluh adanya massa pada daerah pinggang disertai penurunan nafsu makan. Keluhan lainnya adalah nyeri perut, disuria, penurunan berat badan, malaise, dan gejala gastrointestinal seperti mual dan muntah. Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu penting bagi perawat untuk mengkaji apakah ada riwayat penyakit seperti adanya penyakit bisul atau karbunkel pada daerah tubuh lainnya, adanya riwayat demam sampai menggigil. Kaji apakah pasien pernah menderita penyakit diabetes mellitus. Penting untuk dikaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat kemudian dokumentasikan. Pada pengkajian psikososiokultural, adanya nyeri, benjolan pada pinggang dan pemeriksaan diagnostik yang akan dilakukan akan memberikan dampak rasa cemas pada pasien. (Musttaqin. 2012 :123)

Pemeriksaan Fisik Keadaan umum pasien lemah dan terlihat sakit berat denagn tingkat kesadran biasanya compos metis. Pada TTV sering didapatkan adanya perubahan suhu tubuh meningkat, frekuensi denyut nadi mengalami peningkatan, frekunsi meningkat sesuai dengan peningkatan suhu tubuh dan denyut nadi. Tekanan darah tidak terjadi perubahan secara signifikan kecuali adanya penyakit hipertensi renal. (Musttaqin. 2012 :124) Pemeriksaan Fisik Fokus 1. Inspeksi : Terdapat pembesaran pada daerah kostovertebral. Pada abses yang mengenai kedua ginjal sering didapatkan penurunan urine output karena terjadi penurunan dari fungsi ginjal. Pasien mungkin mengalami nyeri pada saat melakukan fleksi panggul kesisi kontralateral. 2. Palpasi : Didapatkan adanya massa pembesaran ginjal pada area konstovertebra. 3. Perkusi : perkusi pada sudut kontovertebra memberikan stimulus nyeri lokal disertai suatu penjalaran nyeri ke pinggang dan perut. (Musttaqin. 2012 :124) Pengkajian Diagnostik 1. Laboratorium : Pemerikasaan urinalisis menunjukkan adanya piuria dan hematuria, kultur urine menunjukkan kuman penyebab infeksi, sedangkan pada pemeriksaan darah terdapat leukositosis dan laju endap darah yang meningkat. 2. Radiografi : Pemeriksaan foto polos abdomen mungkin didapatkan kekaburan pada daerah pinggang, bayangan psoas menjadi kabur, terdapat bayangan gas pada jaringan lunak, skoliosis, atau bayangan opak dari suatu batu di saluran kemih. Pemeriksaan CT scan dapat menunjukkan adanya cairan pus didalam perirenal. 3. Radiografi : Pemerikasaan foto polos abdomen mungkin didapatkan kekaburan pada daerah pinggang, bayangan psoas menjadi kabur, terdapat bayangan gas pada jaringan lunak, skoliosis, atau bayangan opak dari suatu batu di saluran kemih. Pemerikasaan Ct scan dapat menunjukkan adanya cairan pus didalam parirenal. 4. Ultrasonografi : Pemeriksaan menunjukkan cairan abses. (Musttaqin. 2012 :124) Penatalaksanaan Medis 1. Drainase abses perkutan. Aspirasi drainase perkutan dengan panduan ultrasonografi memberikan manifestasi kerusakan jaringan minimal. Hasil drainase dilakukan kultur, serta sensitivitas dari seluruh cairan drainase. Keuntungan drainase perkutan meliputi : menghindari anestesi umum dan bedah, lebih diterima baik fisik maupun psikososial oleh pasien, biaya rendah, mempermudah perawat pascaprosedur, serta memperpendek hari rawat. Sementara itu, kerugiannya meliputi : infeksi jamur, pembentukan kalsifikasi, drainase buntu oleh drainase purulen, terbentuk rongga retroperitoneal, serta emfisematous dalam ginjal. 2. Terapi bedah. Pada kondsi tertentu, seperti abses fistula ginjal-enterik, mungkin memerlukan intervensi bedah segera. 3. Pemberian antimikroba yang sesuai dengan hasil uji sensivitas yang bersifat bakterisidal, dan berspektrum luas. Drain biasanya dimasukkan dan dibiarkan di ruang perirenal sampai seluruh drainase signifikan keluar seluruhnya. Seperti pada penanganan abses disetiap

tempat, pasien dipantau terhadap adanya sepsis, intake dan ouput cairan, serta respons umum terhadap penanganan dang anti balutan sesering mungkin. 4. Simtomatik, untuk menurunkan keluhan nyeri dan demam. (Musttaqin. 2012 :125) Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang sering muncul adalah : Nyeri berhubungan dengan pasca drainase abses, proses inflamasi, kontraksi otot efek sekunder adanya abses renal. Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik sekunder adanya abses renal Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake nutrisi Gangguan activity daily living (ADL) berhubungan dengan kelemahan fisik secara umum Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit, ancaman, kondisi sakit, dan perubahan kesehatan (Musttaqin. 2012 :125)

1. 2. 3. 4. 5.

WOC (Web of Caution

Malpraktek Dalam Kasus Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan Ny. T usia 45 tahun dua hari yang lalu telah menjalani operasi abses perinefrik (fistula ginjal enterik) di ginjal sebelah kiri. Namun setelah dilakukan pembedahan, pasien selalu mengeluhkan nyeri yang sangat hebat di pinggang sebalah kirinya tersebut. Perawat yang menangani Ny. T hanya memberitahukan bahwa itu mungkin efek dari operasi, nanti juga hilang sendiri dan perawat tersebut tidak mengkaji data/informasi secara adekuat tehadap pasien tersebut. Rawat luka operasi sudah dilakukan sesuai jadwal, pasien juga terpasang drainase untuk memeriksa kultur cairan yang keluar, penggantian balutan luar juga sering dilakukan, kebutuhan cairan pasien pun terpenuhi sesuai advice dokter, namun

walaupun diberikan analgesik untuk meredakan nyeri, pasien masih mengeluhkan nyeri. Akhirnya dokter pun menyarankan Ny. T untuk dilakukan foto abdomen. Dari situ diketahui bahwa di tempat yang beberapa hari lalu dioperasi terdapat lembaran kasa yang tertinggal. Dokter pun menjadwalkan operasi pengeluaran benda asing tersebut. Ny. T pun terpaksa harus dioperasi kembali untuk mengeluarkan kasa yang tertinggal tersebut agar tidak membahayakan kesehatannya. Hal tersebut sudah barang tentu merupakan suatu tindakan malpraktik yang dilakukan oleh tenaga medis.
Issue dan Malpraktik Dalam Keperawatan Menurut Guwandi (1994) dalam buku Kelalaian Medik (medical negligence)mendefinisikan Malpractice is the neglect of a physician or nuse to apply that degree of skil and learning on treating and nursing a patient which is customarily applied in treating and caring for the sick or wounded similiarly in the same community. Yang dapat diartikan bahwa malpraktik adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat untuk menterapkan tingkat ketrampilan dan pengetahuannya di dalam memberikan pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka di lingkungan wilayah yang sama. Ellis dan Hartley (1998) mengungkapkan bahwa malpraktik merupakan batasan yang spesifik dari kelalaian (negligence) yang ditujukan kepada seseorang yang telah terlatih atau berpendidikan yang menunjukkan kinerjanya sesuai bidang tugas/pekejaannya. Terhadap malpraktek dalam keperawatan maka malpraktik adalah suatu batasan yang dugunakan untuk menggambarkan kelalaian perawat dalam melakukan kewajibannya.

Ada dua istilah yang sering dibicarakan secara bersamaan dalam kaitan malpraktik yaitu kelalaian dan malpratik itu sendiri. Kelalaian adalah melakukan sesuatu dibawah standar yang ditetapkan oleh aturan/hukum guna melindungi orang lain yang bertentangan dengan tindakan-tindakan yang tidak beralasan dan berisko melakukan kesalahan (Keeton, 1984 dalam Leahy dan Kizilay, 1998). Menurut Hanafiah dan Amir (1999) mengatakan bahwa kelalaian adalah sikap yang kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan melakukannya dalam situasi tersebut. Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa kelalaian lebih bersifat ketidaksengajaan, kurang teliti, kurang hati-hati, acuh tak acuh, sembrono, tidak peduli terhadap kepentingan orang lain, namun akibat yang ditimbulkan memang bukanlah menjadi tujuannya. Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya (Hanafiah & Amir, 1999). Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan bahkan merengut nyawa orang lain, maka ini dklasifikasikan sebagai kelalaian berat (culpa lata), serius dan kriminal.

Malpraktek tidaklah sama dengan kelalaian. Malpraktik sangat spesifik dan terksait dengan status profesional dari pemberi pelayanan dan standar pelayanan profesional Malpraktik adalah kegagalan seorang profesional (misalnya dokter dan perawat) melakukan sesuai dengan standar profesi yang berlaku bagi seseorang yang karena memiliki ketrampilan dan pendidikan (Vestal,K.W, 1995). Hal ini bih dipertegas oleh Ellis & Hartley (1998) bahwa malpraktik adalah suatu batasan spesifik dari kelalaian. Ini ditujukan pada kelalaian yang dilakukan oleh yang telah terlatih secara khusus atau seseorang yang berpendidikan yang ditampilkan dalam pekerjaannya. Oleh karena itu batasan malpraktik ditujukan untuk menggambarkan kelaliaian oleh perawat dalam melakukan kewjibannya sebagai tenaga keperawatan. Kelalaian memang termasuk dalam arti malpraktik, tetapi didalam malpraktik tidak selalu harus ada unsur kelalaian. Malpraktik lebih luas daripada negligence.Karena selain mencakup arti kelalaian, istilah malpraktik pun mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan dengan sengaja (criminal malpractice) dan melanggar Undang-undang. Didalam arti kesengajaan tersirat ada motifnya (guilty mind) sehingga tuntutannya dapat bersifat perdata atau pidana. Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan malpraktik adalah :
1. Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang tenaga kesehatan. 2. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan kewajibannya (negligence) 3. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan perundang-undangan. Problem solving

Dalam mencegah kesalahan tersebut diatas, sebagai perawat professional jangan hanya megira-ngira dalam membuat rencana keperawatan tanpa dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Seharusnya dalam menulisan harus dengan pertimbangan yang jelas dengan berdasarkan masalah pasien. Bila dianggap perlu, lakukan modifikasi rencana berdasarkan data baru yang terkumpul. Rencana harus realistik, berdasarkan standar yang telah ditetapkan termasuk pertimbangan yang diberikan oleh pasien. Komunikasikan secara jelas baik secara lisan maupun dengan tulisan. Bekerja berdasarkan rencana dan dilakukan secara hati-hati instruksi yang ada. Setiap pendapatnya perlu divalidasi dengan teliti.
Ada pula Intervention errors, yang termasuk dalam kegagalan menginterpretasikan dan melaksanakan tindakan kolaborasi, kegagalan melakukan asuhan keperawatan secara hatihati, kegagalan mengikuti/mencatat order/perintah dari dokter atau dari supervisor. Kesalahan pada tindakan keperawatan yang sering terjadi adalah kesalahan dalam membaca perintah/order, mengidentifikasi pasien sebelum dilakukan tindakan/prosedur, memberikan obat, dan terapi pembatasan (restrictive therapy). Dari seluruh kegiatan ini yang paling berbahaya nampaknya pada tindakan pemberian obat, oleh karena itu perlunya komunikasi baik diantara anggota tim kesehatan maupun terhadap pasien dan keluarganya.

Untuk menghindari kesalahan ini, sebaiknya rumah sakit tetap melaksanakan program pendidikan berkelanjutan (Continuing Nursing Education).
Beberapa contoh kesalahan perawat :

1. Pada pasien usia lanjut, pasien mengalami disorientasi pada saat berada diruang perawatan. Perawat tidak membuat rencana keperawatan guna memonitoring dan mempertahankan keamanan pasien dengan memasang penghalang tempat tidur. Sebagai akibat disorientasi, pasien kemudian terjatuh dari tempat tidur pada waktu malam hari dan pasien mengalami patah tulang tungkai. 2. Pada pasien dengan pasca bedah disarankan untuk melakukan ambulasi. Perawat secara drastis menganjurkan pasien melakukan mobilisasi berjalan, pada hal disaat itu pasien mengalami demam, denyut nadi cepat, dan mengeluh nyeri abdomen. Perawat melakukan ambulasi pada pasien sesuai rencana keperawatan yang telah dibuat tanpa mengkaji terlebih dahulu kondisi pasien. Pasien kemudian bangun dan berjalan, pasien mengeluh pusing dan jatuh sehingga pasien mengalami trauma kepala.

Untuk mencegah hal yang bersangkutan dengan malpraktek sangat perlu bagi seorang perawat berupaya melakukan sesuatu guna mencegah terjadinya tuntutan malpraktik yaitu upaya mempertahankan standar pelayanan/asuhan yaqng berkualitas tinggi. Hal ini dilakukan dalam pekerjaan sebagai perawat yaitu meningkatkan kemampuan dalam praktik keperaweatan dan menciptakan iklim yang dapat mendorong peningkatan praktik keperawatan., yaitu :
1. Kesadaran diri (self-awareness):

Yaitu mengidentifikasi dan memahami pada diri sendiri tentang kekutan dan kelamahan dalam praktik keperawatan. Bila terindentifikasi akan kelemahan yang dimiliki maka berusahalah untuk mencari penyelesaiannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu melalui pendidikan, pengalaman langsung, atau berdiskusi dengan teman sekerja/kolega. Apabila berhubungan seorang supervisor, sebaiknya bersikap terbuka akan kelemahannnya dan jangan menerima tanggung jawab dimana perawat yang bersangkutan belum siap untuk itu. Jangan menerima suatu jabatan atau pekerjaan kalau menurut kriteria yang ada tidak dapat dipenuhi.
2. Beradaptasi terhadap tugas yang diemban

Tenaga keperawatan yang diberika tugas pada suatu unit perawatan dimana dia merasa kurang berpengalaman dalam merawat pasien yang ada di unit tersebut, maka sebaiknya perawat perlu mengikuti program orientasi/program adaptasi di unit tersebut. Perawat perlu berkonsultasio dengan perawat senior yang aa diunit terbut
3. Mengikuti kebijakan dan prosedur yang ditetapkan

Seorangmperawat dalam melaksanakan tugasnya harus sealu mempertimbangkan kebijakan dan prosedur yang berlaku di unit tersebut. Ikuti kebijakan dan prosedur yang berlaku secara cermat, misalnya kebijakan/prosedur yang berhubungan dengan pemberian obat pada pasien.
4. Mengevaluasi kebijakan dan prosedur yang berlaku

Ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan bersifat dinamis artinya berkembang secara terus menerus. Dalam perkembangannya, kemungkinan kebijakan dan prosedur yang ada diperlukan guna menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi. Oleh krena itu itu ada kebutuhan untuk menyeuaikan kebijakan dan

proseudr atau protokol tertentu. Untuk itu merupakan tanggung jawab perawat profesional bekerja guna mempertahankan mutu pelayanan sesuai dengan tuntutan perkembangan.
5. Pendokumentasian

Pencatatan perawat dapat dikatakan sesuatu yang unit dalam tatanan pelayanan kesehatan, karena kegiatan ini dilakukan selama 24 jam. Apa yang dicatat oleh perawat merupakan faktor yang krusial guna menghindari suatu tuntutan. Dokumentasi dalam suatu pencatatan adalah laporan tentang pengamatan yang dilakukan, keputusan yang diambil, kegiatan yang dilakukan, dan penilaian terhadap respon pasien. Oleh karena setiap kasus ditentukan adanya fakta yang mednkung suatu tuntutan, maka diperlukan pencatatan yang jelas dan relevan. Pencatatan diperlukan secara jelas, benar, dan jelas sehingga dapat dipahami. Pedoman guna mencegah terjadinya malpraktik, sebagai berikut :
1. Berikan kasih sayang kepada pasien sebagaimana anda mengasihi diri sendiri. Layani pasien dan keluarganya dengan jujur dan penuh rasa hormat. 2. Gunakan pengetahuan keperawatan untuk menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat dan laksanakan intervensi keperawatan yang diperlukan. Perawat mempunyai kewajiban untuk menyusun pengkajian dan melaksanakan pengkajian dengan benar. 3. Utamakan kepentingan pasien. Jika tim kesehatan lainnya ragu-ragu terhadap tindakan yang akan dilakukan atau kurang merespon terhadap perubahan kondisi pasien, diskusikan bersama dengan tim keperawatan guna memberikan masukan yang diperlukan bagi tim kesehatan lainnya. 4. Tanyakan saran/order yang diberikan oleh dokter jika : Perintah tidak jelas,masalah itu ditanyakan oleh pasien atau pasien menolak, tindakan yang meragukan atau tidak tepat sehubungan dengan perubahan dari kondisi kesehatan pasien. Terima perintah dengan jelas dan tertulis. 5. Tingkatkan kemampuan anda secara terus menerus, sehingga pengetahuan/kemampuan yang dimiliki senantiasa up-to-date. Ikuti perkemangan yang terbaru yang terjadi di lapangan pekerjaan dan bekerjalah berdasarkan pedoman yang berlaku. 6. Jangan melakukan tindakan dimana tindakan itu belum anda kuasai. 7. Laksanakan asuhan keperawatan berdasarkan model proses keperawatan. Hindari kekurang hati-hatian dalam memberikan asuhan keperawatan. 8. Catatlah rencana keperawatan dan respon pasien selama dalam asuhan keperawatan. Nyatakanlah secara jelas dan lengkap. Catatlah sesegera mungkin fakta yang anda observasi secara jelas. 9. Lakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya. Biasakan bekerja berdasarkan kebijakan organisasi/rumah sakit dan prosedur tindakan yang berlaku.( Vestal, K.W. 1995) 10. Pelimpahan tugas secara bijaksana, dan ketahui lingkup tugas masing-masing.

Jangan pernah menerima atau meminta orang lain menerima tanggung jawab yang tidak dapat anda tangani.

Anda mungkin juga menyukai